Anda di halaman 1dari 21

TERMODINAMIKA

1532010055 YOGA RIZKY


1532010064 SIATI
1532010105 ARI PRASETYO WIBOWO
1532010113 M. BURHANUDDIN
1532010119 RIDWANDA DZIKRILLAH
Konversi Panas Menjadi Usaha
Untuk melakukan pengubahan energi ini selalu diperlukan suatu
mesin kalor, misalnya mesin uap, motor bakar, mesin diesel atau mesin
jet. Suatu mesin yang dinamakan zat kerja (working substance)
menjalani suatu proses daur (cycling process), yaitu suatu urutan
proses dalam mana zat tersebut kembali ke keadaan awalnya.
Pada mesin uap beralat pengembun yang dipergunakan kapal
laut, zat kerja itu -dalam hal ini air murni- dipakai berulang-ulang. Air
ini diuapkan dalam ketel pada tekanan dan suhu tinggi, waktu memuai
melakukan usaha terhadap sebuah piston atau di dalam sebuah turbin,
diembunkan dengan cara mendinginkannya dengan air yang diambil
dari laut, lalu dipompakan kembali ke dalam ketel.
Mesin tersebut di atas menyerap panas dari suatu sumber pada
suhu tinggi, melakukan usaha mekanik, lalu mengeluarkan panas pada
suhu yang lebih rendah.
Bila suatu sistem menjalani suatu proses daur, energi dakhlilnya
pada awal dan akhir proses akan tetap sama dan berdasarkan Hukum
Pertama Termodinamika menyatakan bahwa energi dalam suatu
sistem berubah dari keadaan 1 ke keadaan 2 sehubungan dengan kalor
dan usaha.
U = U2 - U1= 0 = Q - W
Q=W
U = Energi dalam, yaitu energi yang tersimpan pada suatu benda karena pergerakan
atom atom yang menyusun benda tersebut.
Q = Kalor, merupakan energi yang berpidah dari suhu tinggi ke suhu yang rendah. Q
bernilai positif jika menerima kalor dan bernilai negatif jika kehilangan kalor.
W = Usaha luar, merupakan usaha yang oleh sistem karena hasil interaksi antara
sistem dengan lingkungannya.
Artinya, panas netto yang mengalir ke dalam suatu proses daur sama
dengan usaha netto yang dilakukan oleh mesin itu
Efisiensi mesin merupakan perbandingan usaha yang dihasilkan dengan
kalor yang diserap
W
= x 100%
Qp
Qp + QD
= x 100%
Qp
Keterangan:
= Efisiensi dalam persen
W = Usaha yang dihasilkan
Qp = Kalor yang diserap
QD = Kalor yang dilepas
Motor Bensin (Siklus Otto)
Siklus Otto adalah siklus termodinamika yang paling banyak
digunakan dalam kehidupan manusia. Mobil dan sepeda motor
berbahan bakar bensin (Petrol Fuel) adalah contoh penerapan dari
sebuah siklus Otto. Mesin bensin dibagi menjadi dua, yaitu mesin dua
tak dan mesin empat tak.
Mesin dua tak adalah mesin yang memerlukan dua kali gerakan
piston naik turun untuk sekali pembakaran (agar diperoleh tenaga).
Mesin tersebut banyak digunakan pada motor-motor kecil. Mesin dua
tak menghasilkan asap sebagai sisa pembakaran dari oli pelumas.
Mesin empat tak memerlukan empat kali gerakan piston untuk
sekali pembakaran. Pada motor-motor besar biasa menggunakan mesin
empat tak. Akan tetapi, sekarang banyak motor-motor kecil bermesin
empat tak. Mesin jenis ini sedikit menghasilkan sisa pembakaran
karena bahan bakarnya hanya bensin murni.
Gambar siklus Otto
Proses yang terjadi adalah :
1-2 : Kompresi adiabatis
2-3 : Pembakaran isokhorik
3-4 : Ekspansi / langkah kerja adiabatis
4-1 : Langkah buang isokhorik
Pemasukkan panas dan usaha yang dihasilkan dapat dihitung
dalam artian perbandingan kompresi, dengan mengandaikan udara
sama sifatnya dengan sifat gas sempurna. Hasilnya ialah

Disini ialah perbandingan kapasitas panas jenis pada tekanan


konstan terhadap kapasitas panas jenis pada volum konstan Cp/Cv.
Untuk perbandingan kompresi harga 10 dan harga = 1,4, efisiensi kira-
kira 60%. Maka makin besar perbandingan kompresi, makin tinggi
efisiensi. Efek gesekan, turbulensi, terserapnya panas oleh dinding
silinder, dan sebagainya, dalam perhitungan ini diabaikan. Semua efek
ini mengurangi efisiensi mesin sesungguhnya menjadi di bawah
prosentase yang diberikan di atas.
Motor Diesel
Dalam daur motor diesel, udara masuk ke dalam silinder pada
langkah menghisap, dan dimampatkan secara adiabat pada waktu
langkah kompresi sampai suhu naik cukup tinggi sehingga minyak bakar
yang diinjeksikan pada akhir langkah ini akan terbakar di dalam silinder
tanpa memerlukan bunga api. Pembakaran tidak secepat pembakaran
motor bensin, dan bagian pertama langkah daya akan berlangsung
dengan tekanan yang pokoknya konstan. Bagian selebihnya langkah
daya ialah pemuaian adiabat. Kemudian terjadi langkah membuang,
dan selesailah satu daur
Gambar Mesin Diesel

Diagram ini menunjukkan siklus diesel ideal (sempurna). Mula-mula


udara ditekan secara adiabatik (a-b), lalu dipanaskan pada tekanan
konstan penyuntik (injector) menyemprotkan solar dan terjadilah
pembakaran (b-c), gas yang terbakar mengalami pemuaian adiabatik (c-
d), pendinginan pada volume konstan gas yang terbakar dibuang ke
pipa pembuangan dan udara yang baru, masuk ke silinder (d-a).
Mesin Uap (Siklus Rankine)
Siklus Rankine adalah siklus termodinamika yang mengubah panas
menjadi kerja. Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang
biasanya menggunakan air sebagai fluida yang bergerak. Siklus ini
menghasilkan 80% dari seluruh energi listrik yang dihasilkan di seluruh
dunia. Siklus ini dinamai untuk mengenang ilmuan Skotlandia, William John
Maqcuorn Rankine.
Siklus Rankine adalah model operasi mesin uap panas yang secara
umum ditemukan di pembangkit listrik. Sumber panas yang utama untuk
siklus Rankine adalah batu bara, gas alam, minyak bumi, nuklir, dan panas
matahari.
Efisiensi siklus Rankine biasanya dibatasi oleh fluidanya. Tanpa
tekanan yang mengarah pada keadaan super kritis, range temperatur akan
cukup kecil. Uap memasuki turbin pada temperatur 565 C (batas
ketahanan stainless steel) dan kondenser bertemperatur sekitar 30C. Hal
ini memberikan efisiensi Carnot secara teoritis sebesar 63%, namun
kenyataannya efisiensi pada pembangkit listrik sebesar 42%.
Gambar daur mesin uap
Dimulai dengan air cair pada tekanan dan suhu rendah (titik a), air
dikompresi scara adiabat ke titik b pada tkanan ketel. Kemuadian
dipanasi pada tekanan konstan sampai titik didihnya (garis bc), lalu
berubah menjadi uap (garis cd), lnta dipanaskan lanjutkan (garis de),
dimuaikan secara adiabat (garis ef), didinginkan dan diembunkan
(sepanjang fa) sampai mencapai keadaan awal lagi.
Hukum Kedua Termodinamika

kalor mengalir secara alami dari benda yang panas ke benda yang
dingin, kalor tidak akan mengalir secara spontan dari benda dingin ke
benda panas
Formulasi Kelvin-Planck atau hukum termodinamika kedua
menyebutkan bahwa adalah tidak mungkin untuk membuat sebuah
mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus yang semata-mata
mengubah energi panas yang diperoleh dari suatu reservoir pada suhu
tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik. Hukum kedua
termodinamika mengatakan bahwa aliran kalor memiliki arah; dengan
kata lain, tidak semua proses di alam semesta adalah reversible (dapat
dibalikkan arahnya).
Mesin Pendingin
Mesin pendingin merupakan peralatan yang prinsip
kerjanya berkebalikan dengan mesin kalor. Pada mesin
pendingin terjadi aliran kalor dari reservoir bersuhu
rendah ke reservoir bersuhu tinggi dengan melakukan
usaha pada sistem. Contohnya, pada lemari es (kulkas)
dan pendingin ruangan (AC). Bagan mesin pendingin
dapat dilihat pada gambar berikut.
Ukuran kinerja mesin pendingin yang dinyatakan dengan koefisien daya
guna merupakan hasil bagi kalor yang dipindahkan dari reservoir
bersuhu rendah Q2 terhadap usaha yang dibutuhkan W.

Dengan;
Kp = koefisien daya guna
W = usaha yang diperlukan ( J)
Q1 = kalor yang diberikan pada reservoir suhu tinggi ( J)
Q2 = kalor yang diserap pada reservoir suhu rendah ( J)
T1 = suhu pada reservoir bersuhu tinggi (K)
T2 = suhu pada reservoir bersuhu rendah (K)
Mesin Carnot
Siklus adalah suatu rangkaian proses yang dimulai dari suatu keadaan
awal dan berakhir pada keadaan itu lagi. Siklus Carnot merupakan
suatu siklus usaha yang dikemukakan oleh Sadi Carnot (1796-1832).
Siklus Carnot terdiri dari empat proses:
1. Proses pemuaian secara isotermik A ke B.
Pada proses ini sistem menyerap kalor Q1 dari
reservoir bersuhu tinggi T1 dan melakukan
usaha WAB.
2. Proses pemuaian secara adiabatik B ke C.
Selama proses ini berlangsung suhu sistem
turun dari T1 menjadi T2 sambil melakukan
usaha WBC.
3. Proses pemampatan secara isotermik C ke
D. Pada proses ini sistem menerima usaha WCD
dan melepas kalor Q2 ke reservoir bersuhu
rendah T2.
4. Proses pemampatan secara adiabatik D ke
A. Selama proses ini suhu sistem naik dari T2
menjadi T1 akibat menerima usaha WDA.
Mesin paling ideal dan mempunyai efisiensi maksimum adalah mesin
yang menggunakan siklus Carnot, kerja yang dilakukan mesin yang
menggunakan mesin Carnot, adalah:

Bisa juga kita tuliskan W = Q1 Q2

Q1 = Kalor yang diberikan oleh reservoir bersuhu tinggi (T1)


Q2 = Kalor yang diberikan oleh reservoir bersuhu tinggi (T2)
W = Kerja yang dilakukan mesin (J)
T1 = Reservoir suhu tinggi (K)
T2 = Reservoir suhu tinggi (K)
Entropi
Secara umum, Entropi ini di definisikan sebagai keacakan, ketidak
teraturan, kekacauan ataupun ketidak efisisienan proses itu berlangsung.
Konsep Entropi ini digunakan untuk menjelaskan hukum kedua
termodinamika, bahwa proses itu hanya berlangsung pada suatu arah
tertentu, oleh karena itu, entropi dalam konteks ini adalah entropi secara
termodinamis, yaitu keacakan atau ketidak teraturan gerak molekul suatu
sistem, makin besar keacakanya, makin tinggi entropinya.
Misalkan entropi pada gas akan lebih besar daripada entropi pada
cairan, sedangkan entropi pada cairan akan lebih besar daripada entropi
benda padat. (sebagai catatan, perbedaan fase gas, cair dan padat
dikarenakan perbedaan susunan molekulnya).
Dapat kita simpulkan bahwa perubahan entropi ini di akibatkan karena
perpindahan kalor dan suhunya, atau dapat dituliskan :

Dengan;
S = Entropi
T = Suhu
Q = Perpindahan Kalor
Soal-soal
Mesin Carnot bekerja pada suhu tinggi 600 K, untuk menghasilkan kerja mekanik.
Jika mesin menyerap kalor 600 J dengan suhu rendah 400 K, berapa maka usaha
yang dihasilkan?
= ( 1 Tr / Tt ) x 100 %
Hilangkan saja 100% untuk memudahkan perhitungan :
= ( 1 400/600) = 1/3
= ( W / Q1 )
1/3 = W/600
W = 200 J
Suatu mesin Carnot, jika reservoir panasnya bersuhu 400 K akan mempunyai
efisiensi 40%. Jika reservoir panasnya bersuhu 640 K, efisiensinya.....%
Pembahasan
Data pertama:
= 40% = 4 / 10
Tt = 400 K
Cari terlebih dahulu suhu rendahnya (Tr) hilangkan 100 % untuk mempermudah
perhitungan:

= 1 (Tr/Tt)
4/ = 1 ( Tr/
Tr 10 6 400)
( /400) = / 10
Tr = 240 K
Data kedua :
Tt = 640 K
Tr = 240 K (dari hasil perhitungan pertama)
= ( 1 Tr/Tt) x 100%
= ( 1 240/640) x 100%
= ( 5 / 8 ) x 100% = 62,5%