Anda di halaman 1dari 23

Pengolahan Minyak

Gaharu

DISUSUN:
AGUNG PURWO UTOMO
Gaharu
Gaharu merupakan substansi aromatic berupa
gumpalan yang terdapat diantara sel-sel kayu dengan
berbagai bentuk dan warna yang khas serta memiliki
kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon
atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh
secara alami dan telah mati sebagai akibat dari proses
infeksi yang terjadi baik secara alami maupun buatan
(Yusa, 2013).
Gaharu dikenal dengan nama agarwood, aloe
wood, dan eagle wood, oud (Timur tengah), dan Cing
(Cina).
Manfaat Gaharu
Dalam segi pemanfaatan, gaharu kaya akan berbagai
manfaat yaitu sebagai:
Pengharum tubuh
Ruangan
kosmetik
dan Obat-obatan sederhana
Daun dari pohon penghasil gaharu sendiri dapat diolah
menjadi teh herbal dan sangat baik untuk kesehatan. Dari
segi perdagangan gaharu dijual dalam berbagai bentuk,
yaitu bongkahan, chips dan serbuk.
Tahap Pengolahan
Tahap Penyulingan
Pelaksanaan penyulingan minyak gaharu dengan cara pengukusan
meliputi tiga tahap, yaitu:
A. Persiapan bahan baku. Gaharu yang akan dijadikan sebagai
bahan baku pembuatan minyak dengan umur inokulasi sekitar 2
sampai 8 tahun. Bahan baku yang digunakan terdiri dari 4 mutu,
yaitu:
Sapuan
Teri kulit
Serbuk
Sarang semut
Gaharu terlebih dahulu dijemur selama 12 hari di tempat terbuka
kemudian dicacah dengan parang dan digiling menjadi partikel yang lebih
kecil.
Tahap Pengolahan
B. Persiapan peralatan. persiapan yang dilakukan agar proses
penyulingan berjalan sebagaimana mestinya adalah sebagai
berikut:
Menyetel alat penyulingan
Mengisi ketel dengan air
Mengisi air drum pendingin
Mengisi minyak tanah dan memperhatikan sumbu pada
kompor
Meletakkan penampung kondensat di bawah drum
pendingin
Masukkan partikel gaharu sebanyak 5 kg dimasukkan ke
dalam ketel yang sudah diisi air kurang lebih sebanyak 30 liter
dan ketel ditutup dengan rapat
Kompor diletakkan di bawah ketel dan dinyalakan
Klep pengatur pada ketel dibuka perlahanlahan saat
tekanan udara sudah mencapai 40 atm (1 atm = 760 mmHg
= 14,7 Psi = 1,013 mbar)
Tahap Pengolahan
C. Perendaman Kayu Gaharu sebelum penyulingan
Dilakukan perendaman serbuk kayu dengan
waktu tertentu. Proses perendaman ini bertujuan
untuk melunakan jaringan glandula yang melapisi
minyak pada kayu, sehingga nantinya diharapkan
air yang menjadi uap akan lebih mudah mengangkut
minyak yang terdapat dalam bahan baku.
Air suling, selama 7, 14, 21, dan 28 hari.
Perendaman serbuk gaharu dalam pelarut dilakukan
untuk melepaskan minyak gaharu yang masih terikat
pada sel-sel kayu. Semakin lama waktu
perendaman, semakin tinggi rendemen minyak
gaharu yang dihasilkan, tetapi rendemen menurun
kembali pada waktu perendaman 28 hari (Gambar).
Hasil ini menunjukkan bahwa waktu perendaman
yang paling optimum adalah 21 hari.
Hasil distilasi minyak gaharu

Rendemen minyak gaharu dengan waktu perendaman 7 hari.


Hasil distilasi minyak gaharu

Rendemen minyak gaharu dengan waktu perendaman 14 hari.


Hasil distilasi minyak gaharu

Rendemen minyak gaharu dengan waktu perendaman 21 hari.


Hasil distilasi minyak gaharu

Rendemen minyak gaharu dengan waktu perendaman 28 hari.


Tahap Pengolahan
D. Pengeringan Bahan, Bahan dikering
anginkan supaya kadar air dalam bahan
berkurang. Maksud dari pengeringan ini
adalah untuk memperkecil efek hydrodifusi
saat proses penyulingan berlangsung. Bila
terlalu basah akan mengakibatkan proses
penyulingan kurang baik karena titik minyak
dalam bahan memiliki berat jenis yang lebih
berat daripada uap sehingga minyak yang
terangkat menjadi sedikit.
Tahap Pengolahan

E. Proses penyulingan, proses penyulingan dimulai


dengan preparasi bahan. Pertama, bahan dikering
anginkan supaya kadar air dalam bahan berkurang.
Maksud dari pengeringan ini adalah untuk
memperkecil efek hydrodifusi saat proses penyulingan
berlangsung.
Bila terlalu basah akan mengakibatkan proses
penyulingan kurang baik karena titik minyak dalam
bahan memiliki berat jenis yang lebih berat daripada
uap sehingga minyak yang terangkat menjadi sedikit.
Setelah dikeringkan maka material bahan selanjutnya
kita kominusi untuk memperlebar luas permukaan.
Semakin lebar luas permukaan maka semakin besar
kemungkinan untuk mengangkut minyak dari bahan
lebih besar.
Proses Penyulingan
Ada 3 metodePenyulingan kayu gaharu menjadi minyak gaharu, diantaranya:

Metode Water Distillation


Metode Water and Steam Distillation
Metode Direct Steam Distillation
Penerapan penggunaan metode tersebut
didasarkan atas beberapa pertimbangan seperti:
Jenis bahan baku tanaman
karakteristik minyak
proses difusi minyak dengan air panas,
Dekomposisi minyak akibat efek panas,
Efisiensi produksi
Dan alasan nilai ekonomis serta efektifitas
produksi.
Metode Pengolahan
Metode Water Distillation
Metode ini merupakan cara melakukan proses penyulingan yaitu
dengan cara memasukkan bahan baku, namun bahan baku yang
digunakan adalah bahan baku layu dan juga bisa juga kering. Masukan
bahan ke katel penyuling dan isikan dengan air lalu untuk direbus. Nanti
akan ada uap yang keluar dari katel, yang dialirkan dengan pipa yang
dihubungkan dengan kondensor. Uap tersebut berisi campuran uap air
dan juga minyak, dan nantinya akan terkondensasi (menguap) hingga
mencair. Cairan minyak dan air tersebut dipisahkan dengan alat
separator untuk memisahkan minyak. Pastikan katel bahan yang terbuat
dari anti karat.
Metode Pengolahan
Metode Water and Steam Distillation
Metode Water and Steam Distillation merupakan salah satu metode
penyulingan dengan air dan uap, atau bisa juga disebut dengan sistem
kukus. Sebenarnya seperti sistem rebus, namun bahan baku dan air tidak
bersinggungan dan dibatasi tempat kukusan seperti halnya Anda
mengkukus makanan. Cara ini sering dilakukan dan paling banyak
digunakan, karena metode ini hanya membutuhkan air sedikit sehingga
menyingkat waktu produksi. Biasanya metode ini dilengkapi dengan sistem
kohobasi yang merupakan sistem dimana air kondensat yang keluar dari
separator akan masuk kembali secara otomatis kedalam agar
meminimkan air. Cara ini lebih menguntungkan dari pihak produksi bebas
dari proses hidrolisa pada komponen minyak atsiri. Metode sangat baik
sekali dan juga uap yang dihasilkan stabil.
Metode Pengolahan
Metode Direct Steam Distillation
Metode Direct Steam Distillation merupakan penyulingan dimana bahan
baku tidak kontak langsung dengan air ataupun dengan api. Namun, hanya
uap dengan tekanan tinggi yang dapat difungsikan menyuling minyak. Dalam
membuat uap yang memiliki tekanan tinggi pada sebuah boiler, yaitu uap
mengalir melalui pipa dan akan masuk kedalam katel yang terisi dengan bahan
baku. Nantinya uap yang keluar akan dihubungkan dengan kondensor, agar
minyak terpisah dengan air yaitu dengan menggunkan separator dan
disesuaikan dengan berat jenis minyak. Proses ini cukup lama yaitu sekitar 72 jam
proses penyulingan, namun jika sudah selesai proses penyulingan diselesaikan.
Waktu pertama mendapatkan minyak, minyak masih terdapat sisa-sisa kayu
gaharu. Maka dari itu, usahakan minyak di jemur pada terik matahari 10 sampai
15 menit didalam botol tertutup.
Analisis Produksi
Berdasarkan hasil penelitian jumlah produksi per hektar hasil penjarangan yang
dilakukan oleh Denok (2010), jika jumlah gaharu sebanyak 20 kg (2 kg sapuan, 7 kg teri
kulit, 8 kg serbuk, 3 kg sarang semut) yang menghasilkan 62 cc minyak dalam satu
periode produksi, maka jumlah pohon yang harus disediakan adalah sebanyak 27 pohon
hasil penjarangan atau lahan seluas 1 ha dan keuntungan maksimum sebesar
Rp4.027.000,- dengan tingkat produksi 1.000 cc minyak dengan kebutuhan bahan baku
sekitar 322,5 kg (32,5 kg sapuan, 112,5 kg teri kulit, 129 kg serbuk, 48,5 kg sarang semut),
maka pohon yang harus tersedia adalah 432 pohon atau lahan seluas 64 ha dengan
masing-masing umur seluas 16 ha.

Berikut ini disajikan analisis produksi dan BEP Usaha Minyak Gaharu (Tabel 6)
Analisis Keuntungan

Nilai BEP pada usaha penyulingan minyak gaharu pada berbagai


kelas kualitas bahan baku yang digunakan (Tabel 7).
Standarisasi Mutu Gaharu
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan
Standarisasi Nasional (BSN) No. 1386/BSN-I/HK.71/
09/99, telah ditetapkan Standar Nasional mutu
gaharu dengan judul dan nomor: Gaharu SNI 01-
5009.1-1999. Dalam standar ini diuraikan mengenai
definisi gaharu, lambang dan singkatan, istilah,
spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat
mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji
dan syarat penandaan. Klasifikasi mutu gaharu
terdiri dari gubal gaharu, kemedangan, dan abu
gaharu.
Dengan telah ditetapkannya standar nasional
untuk mutu gaharu (SNI 01-5009.1-1999) diharapkan
standar mutu tersebut dapat segera menjadi
bahan acuan para pengusaha gaharu, pedagang
pengumpul, dan pemungut gaharu di dalam
menentukan kelas mutu gaharu.
Tata Niaga Gaharu
Pemasaran Dalam Negeri
Pemasaran gaharu dalam negeri
terbentuk karena adanya hubungan antara
daerah pemasok dengan kota/pusat
penerima. Secara tradisional daerah pemasok
gaharu untuk kota Surabaya adalah
Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, NTT,
NTB. Daerah-daerah ini walaupun letaknya di
Indonesia bagian timur, namun karena akses
yang mudah memasok gaharu pula ke
Jakarta, ditambah dari daerah Indonesia
bagian barat, yaitu sumatera, termasuk Riau.
Pemasaran Luar Negeri
Tabel disamping memperlihatkan bahwa kuota
ekspor gaharu pada tahun 2007 dari ketiga jenis
yang dapat dipenuhi hanya dari jenis A. filaria,
sedangkan untuk A. malaccensis tidak dapat
dipenuhi, dan bahkan untuk Gyrinops realisasi
ekspornya hanya mencapai 30% dari kuota yang
ditetapkan. Pada tahun 2008, realisasi ekspor gaharu
untuk ketiga jenis dapat terpenuhi 100% dari kuota
yang ditetapkan. Pada tahun 2009, lonjakan kuota
yang signifikan terjadi pada jenis A. malaccensis
sebanyak hampir enam kali lipat, sedangkan pada
A. filaria sebanyak tujuh kali lipat.
Thanks for kind
attentions