Anda di halaman 1dari 23

IDENTIFIKASI PEWARNA SINTETIS PADA

KRUPUK RENGGINANG
SECARA KROMATOGRAFI KERTAS
Oleh:
Ayu Maulira 1506103040013
Ismatul Ilmi 15061030400
Meri Hardina 1506103040015
Nurjaya 15061030400
Rahmatia Ulfa 1506103040012
Pembimbing:
Dr. Ibnu Khaldun, M. Si
Pendahuluan
Mutu suatu makanan ditentukan oleh beberapa faktor
seperti warna, penyedap, dan nilai gizi, tetapi secara
visual warna tampil sebagai salah satu alternatif untuk
menambah selera konsumen. Namun, penggunaan
pewarna sintetis harus dilakukan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Pewarna sintetis adalah zat warna yang mengandung
bahan kimia yang biasanya digunakan didalam makanan
untuk mewarnai makanan.Pewarna sintetis ini
mempunyai keuntungan yang nyata dibandingkan
pewarna alami, yaitu mempunyai kekuatan mewarnai
yang lebih kuat, lebih seragam, lebih stabil, dan
biasanya lebih murah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pewarna
sintetis yang terdapat dalam krupuk rengginang.
Lanjutan
Jenis-jenis Pewarna Sintetis antara lain adalah Tartrazine
(E102 atau Yellow 5), sunset Yellow (E110, Orange
Yellow/Yellow 6), Ponceau 4R (E124 atau SX purple), Allura
Red (E129), dan Quinoline Yellow (E104).
Metode untuk identifikasi pewarna sintetis secara kualitatif
menggunakan metode kromatografi kertas.
Metode ini merupakan metode pemisahan dengan kerja 2
fase yaitu fase diam dan fase gerak, dimana fase diam dalam
metode kromatografi kertas adalah air yang disokong oleh
kertas selulosa sedangkan fase gerak terdiri dari campuran
pelarut organik.
Lanjutan
Identifikasi noda-noda pada kromatogram dapat
dilakukan dengan menentukan harga
Rf (retardation factor) dari masing-masing noda
tersebut.
Nilai Rf merupakan rasio jarak tempuh suatu
komponen pada kromatogram dengan jarak
tempuh eluen. Nilai Rf dapat diperoleh dengan
menggunakan persamaan berikut ini:

Rf=

Metode Penelitian

Pemeriksaan dilakukan secara kualitatif


dengan metode kromatografi kertas
menggunakan benang wol
(SNI, 01-2895-1992)
Alat: Bahan:
Bejana kromatografi Kerupuk rengginang berwarna
(Chamber) merah, kuning, hijau
Gelas piala 250 mL Etanol 70%
Batang pengaduk Asam asetat 6%
Benang wol bebas lemak Amoniak 10%
Kertas whatman No. 1 Trinatrium sitrat
Pipa kapiler Etil metil keton
Mortir NH3 pekat
Pipet volume Aquades
Stamper NaCl
Penangas air Asam asetat glasial
Etanol 50%
Bahan baku warna
Persiapan Sampel
Sampel dikelompokkan warna hijau,
merah, dan kuning
Dihaluskan sampel sebanyak 30 g
Ditambahkan etanol dan aquades
Direndam selama semalam
Disaring
Ekstraksi Zat Warna
Filtrat dari sampel dimasukkan dalam gelas piala, lalu
dipanaskan.
Setelah filtrat tersisa setengahnya, filtrat diangkat, diasamkan
dengan asam asetat 6% dan ditambahkan aquadest sampai
100 ml.
Dimasukkan benang wol secukupnya, dipanaskan sambil
diaduk-aduk sampai cairan jernih atau benang wol menyerap
warna.
Benang wol dari gelas piala diambil, dicuci dengan air keran
sampai bersih dan ditambah amoniak 10% sebanyak 10 ml,
lalu ditangas sampai warna luntur.
Kemudian benang wol diambil, dan lunturan zat warna
disaring lalu dipekatkan di atas penangas air.
Hasil pekatan digunakan untuk analisis kualitatif.
Absorpsi Zat Warna Oleh Benang Wol
Sumber: Artikel Identifikasi Pewarna Sintesis
Pada Krupuk Rengginang Secara Kromatografi
Kertas.
Pembuatan Eluen

Dalam penelitian ini, identifikasi zat


warna dengan kromatografi kertas
menggunakan 3 macam eluen.
a. Larutan eluen I, terdiri dari etil metil
keton:aseton:aquadest (7:3:3).
b. Larutan eluen II, terdiri dari : Diencerkan
5 ml NH3 pekat dengan aquadest hingga
100 ml dan ditambahkan 2 g trinatrium
sitrat.
c. Larutan eluen III, terdiri dari : etanol 50%
300 ml dan NaCl 15 g. Sebanyak 15 g
NaCl dalam 300 ml etanol 50%.
Proses Penjenuhan

Penjenuhan dengan uap pelarut bertujuan untuk


mempercepat terjadinya elusi atau pergerakan
komponen-komponen sampel pada media kertas
kromatografi. Langkah-langkah dalam proses
penjenuhan sebagai berikut:

masing-masing eluen yaitu eluen I, II dan III


dimasukkan ke dalam chamber kromatografi yang
berbeda.
Kemudian dimasukkan kertas saring ke dalam chamber
setelah itu chamber kromatografi di tutup.
Jika semua permukaan kertas telah basah atau pelarut
sudah merambat sepanjang kertas, hal ini
menandakan bejana sudah jenuh oleh uap eluen.
Identifikasi Zat Warna Sintetis
Hasil ekstrak dan pewarna baku ditotolkan
pada kertas Whatman No. 1 dengan jarak
rambat elusi 15 cm.
Penotolan dilakukan 2 cm dari tepi bawah
kertas Whatman No. 1.
Kemudian kertas dielusikan dengan eluen
I, II dan III yang sudah jenuh sampai batas
jarak elusi.
Sampel dinyatakan positif bila :
a. Warna bercak sampel sama dan sejajar
dengan warna bercak baku pembanding.
b. Selisih harga Rf sampel dan harga Rf
baku 0,2.
Penotolan sampel
Sumber: Artikel Identifikasi Pewarna Sintesis Pada
Krupuk Rengginang Secara Kromatografi Kertas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk
mengidentifikasi pewarna sintetis pada krupuk rengginang yaitu
dengan metode kromatografi kertas.
Metode ini merupakan metode pemisahan dengan kerja 2 fase
yaitu fase diam dan fase gerak, dimana fase diam dalam
metode kromatografi kertas adalah air yang disokong oleh
kertas selulosa sedangkan fase gerak terdiri dari campuran
pelarut organik.
Hasil kerja 2 fase tersebut berupa rambatan (Rf) zat warna yang
dapat dibandingkan antara sampel dan baku standar. Bila noda
mempunyai warna yang sama, sejajar dan selisih harga Rf 0,2
berarti sampel mengandung zat warna yang sesuai dengan
standar bakunya.
Tabel 1. Hasil Uji Identifikasi Pewarna Eluen 1

Warna Warna Rata- Selisih RF


Kode Visual Bercak rata Rf sampel &
baku
Sampel merah Merah Merah tua 0,21
Baku eritrosin Merah Merah muda 0,90 0,69
Baku ponceau 4R Merah Merah tua 0,24 0,03
Baku carmoisin Merah Merah ungu 0,62 0,41
Sampel kuning Kuning Kuning 0,24

Baku sunset yellow Orange Orange 0,54 0,30


Baku tartrazin Kuning Kuning 0,29 0,05
Baku quinelin Kuning Kuning muda 0,96 0,72
Sampel hijau Hijau Kuning 0,25
Kuning 0,7
Baku tartrazin Kuning Kuning 0,29 0,04
Baku biru berlian Biru Biru 0,67 0,03
Tabel II. Hasil Uji Identifikasi Pewarna Sintetis Eluen 2

Warna Warna Rata- Selisih RF


Kode Visual Bercak rata Rf sampel &
baku
Sampel merah Merah Merah tua 0,48
Baku eritrosin Merah Merah muda 0,11 0,37
Baku ponceau 4R Merah Merah tua 0,58 0,10
Baku carmoisin Merah Merah ungu 0,18 0,30
Sampel kuning Kuning Kuning 0,72

Baku sunset yellow Orange Orange 0,49 0,23


Baku tartrazin Kuning Kuning 0,77 0,05
Baku quinelin Kuning Kuning muda 0,73 0,01
Sampel hijau Hijau Kuning 0,67
Biru 0,83
Baku tartrazin Kuning Kuning 0,76 0,09
Baku biru berlian Biru Biru 0,88 0,05
Tabel II. Hasil Uji Identifikasi Pewarna Sintetis Eluen 3
Selisih RF
Kode Warna Visual Warna Bercak Rf Sampel
baku
Sampel merah Merah Merah tua 0,60
Baku eritrosin Merah Merah muda 0,68 0,08
Baku ponceau 4R Merah Merah tua 0,61 0,01
Baku carmoisin Merah Merah ungu 0,68 0,08
Sampel kuning Kuning Kuning 0,49

Baku sunset yellow Orange Orange 0,80 0,31


Baku tartrazin Kuning Kuning 0,51 0,02
Baku quinelin Kuning Kuning muda 0,96 0,47
Sampel hijau Hijau Kuning 0,49
Biru 0,95
Baku tartrazin Kuning Kuning 0,54 0,05
Baku biru berlian Biru Biru 0,96 0,01
Sampel yang diuji dalam penelitian ini adalah krupuk
rengginang dengan variasi beberapa warna yaitu krupuk
rengginang warna merah, warna kuning dan warna hijau.
Uji menggunakan eluen 1 menunjukkan bahwa sampel merah
dengan baku ponceau 4R menunjukkan selisih nilai Rf 0,2
yaitu sebesar 0,03.
Uji menggunakan eluen 2 menunjukkan bahwa sampel merah
dengan baku ponceau 4R menunjukkan selisih nilai Rf 0,2
yaitu sebesar 0,10.
Uji menggunakan eluen 3 menunjukkan bahwa sampel merah
dengan baku eritrosin, ponceau 4R dan carmosin
menunjukkan selisih nilai Rf 0,2 yaitu sebesar 0,08; 0,01
dan 0,08. Tetapi, jika dibandingkan dengan hasil warna
bercak noda ponceau 4R, warna bercaknya sama. Sampel
merah positif mengandung baku ponceau 4R.
Pada sampel kuning dengan uji menggunakan eluen
1 menunjukkan bahwa sampel merah dengan baku
tartrazin menunjukkan selisih nilai Rf 0,2 yaitu
sebesar 0,05.
Uji menggunakan eluen 2 menunjukkan bahwa
sampel kuning dengan baku tartrazin dan quinelin
menunjukkan selisih nilai Rf 0,2 yaitu sebesar
0,05 dan 0,01.
Uji menggunakan eluen 3 menunjukkan bahwa
sampel kuning dengan baku tartrazin menunjukkan
selisih nilai Rf 0,2 yaitu sebesar 0,02. Jika
dibandingkan dengan hasil warna bercak noda
tartrazin, warna bercaknya sama. Sampel kuning
positif mengandung baku tartrazin.
Pada sampel hijau dengan uji menggunakan eluen 1
menunjukkan bahwa sampel hijau dengan baku tartrazin dan
biru berlian menunjukkan selisih nilai Rf 0,2 yaitu
sebesar 0,04 pada bercak noda kuning dan 0,03 pada bercak
noda biru.
Uji menggunakan eluen 2 menunjukkan bahwa sampel
hijau dengan baku tartrazin dan biru berlian
menunjukkan selisih nilai Rf 0,2 yaitu sebesar 0,09 pada
bercak noda kuning dan 0,05 pada bercak noda biru.
Uji menggunakan eluen 3 menunjukkan bahwa sampel hijau
dengan baku tartrazin dan biru berlian menunjukkan
selisih nilai Rf 0,2 yaitu sebesar 0,05 pada bercak noda
kuning dan 0,01 pada bercak noda biru. Sampel biru
mengandung baku tartrazin dan biru berlian karena nilai Rf
0,2.
Pewarna sintetis yang terdapat dalam sampel krupuk
renngginang merupakan pewarna sintetis yang diizinkan untuk
makanan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.722/Per/Menkes/IX/88 diantaranya ponceau 4R, tartrazin,
dan biru berlian.
Meskipun merupakan pewarna yang diizinkan penggunaannya
untuk makanan menurut Permenkes RI
No722/Menkes/Per/IX/88, namun prinsip penggunaannya
tetap dalam jumlah yang tidak melebihi keperluan.
Untuk tartrazin jumlah pemakaian yang diperbolehkan berkisar
antara 18300 mg/kg, ponceau 4R berkisar antara 30300
mg/kg, sedangkan untuk biru berlian berkisar antara 100-300
mg/kg (SNI01-0222-1995).
KESIMPULAN

Pewarna sintetis yang terdapat dalam krupuk


rengginang merupakan pewarna yang diizinkan
penggunaannya untuk makanan menurut Peraturan
Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88
tentang bahan tambahan makanan.
SARAN

Perlu dilakukan evaluasi secara berkala


terhadap produk makanan khususnya krupuk
yang beredar di pasar-pasar tradisional untuk
mengetahui penggunaan zat pewarna sintetis
dalam produk.
Perlu dilakukan identifikasi keberadaan zat
aditif lain pada krupuk rengginang.
DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, C.H., dan Mulyono, N.2009. Bahan Tambahan Pangan :


Pewarna, IPB Press, Bogor.

Depkes RI, 1988, Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88


tentang Bahan Tambahan Makanan, Jakarta.

Depkes RI, 1985, Permenkes RI No. 239/Menkes/Per/V/85 tentang


Bahan Pewarna yang Dinyatakan sebagai Bahan Berbahaya,
Jakarta.

SNI,01-2895-1992, Cara Uji Pewarna Tambahan Makanan.SNI 01-


0222-1995, Bahan Tambahan Makanan.

Hidayat, N., dan Elfi, A.S., 2006, Membuat Pewarna Alami. Trubus
Agrisarana, Surabaya
Daftar Pustaka
Susilo, Jatmiko., Agitya Resti Erwiyani., dan Lelie
Amaliatusshaleha. Identifikasi Pewarna Sintesis Pada
Krupuk Rengginang Secara Kromatografi Kertas.