Anda di halaman 1dari 60

ISOLASI SENYAWA AKAR ALANG-ALANG

Imperata cylindrica L.
Kelompok 3C
Dini Fitriyani 1113102000012
Tiara Puspitasari 1113102000013
Selvy Nurkhayati 1113102000035
Primo Bitaqwa 1113102000063
Najmah Mumtazah 1113102000073
Haka Asada 1113102000074
DESKRIPSI TANAMAN

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Imperata
Spesies : Imperata cylindrica L.
PENYIAPAN SAMPEL / SIMPLISIA

Sampel yang digunakan adalah alang-alang (Imperata cylindrica).


Pemilihan sampel yang kami lakukan berdasarkan pendekatan laporan atau
jurnal ilmiah tentang pengujian bioaktivitas suatu tumbuhan. Bahwa akar
alang-alang (Imperata cylindrica) memiliki beberapa potensi sebagai obat
muntah darah, obat mimisan, kencing nanah, obat hepatitis akut menular,
dan obat radang ginjal akut (Julianus. dkk, 2011).
Oleh karena itu, kami memilih sampel akar alang-alang karena memiliki
banyak khasiat di dunia pengobatan. Sehingga kami berharap mendapatkan
senyawa baru yang aktif yang dapat berpotensi sebagai obat.
Bagian tanaman yang digunakan adalah akar alang-alang (Imperata
cylindrica). Kami memperoleh sampel dari Supermarket Giant Ciputat
Tangerang Selatan. Jumlah sampel segar diperoleh sebanyak 888,1 gram.
Setelah diperoleh sampel, seharusnya dilakukan sortasi basah yang bertujuan untuk
menghilangkan sampel dari tanah dan kotoran lainnya yang melekat. Namun, kami
tidak melakukan sortasi basah karena sampel kami diperoleh dari supermarket yang
dibungkus dengan plastik dan sampel dalam keadaan bersih dan segar.
Merajang akar alang-alang (Imperata cylindrica) , proses perajangan ini bertujuan
untuk mempercepat proses pengeringan.
Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang dapat disimpan dalam
jangka waktu yang lebih lama. Proses pengeringan dilakukan pada suhu ruangan
yang bertujuan untuk menghindari terurainya komponen kimia yang terdapat dalam
tumbuhan. Sampel juga harus dihindari dari pemanasan sinar matahari langsung
karena adanya potensi transformasi kimia akibat radiasi sinar UV.
Penghalusan sampel akar alang-alang (Imperata cylindrica) dengan menggunakan
blender. Tujuannya adalah supaya pada saat ekstraksi pelarut dapat lebih mudah
membasahi sampel dan distribusi pelarut ke dalam sel sampel lebih mudah. Sehingga
proses ekstraksinya dapat optimal.
Menimbang sampel yang telah kering sebnyak 376.02 gram.
SKRINING FITOKIMIA
Skiring fitokimia merupakan langkah awal pemeriksaan kandungan kimia
yang terdapat pada bahan alam baik tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme.
Setelah mengetahui kandungan kimia yang terkandung di dalam bahan alam
tersebut, maka dapat memberikan gambaran aktivitas biologisnya.
Dalam praktikum ini, kami tidak melakukan proses skrining fitokimia.
Namun, kami perlu mengetahui kandungan yang terdapat dalam sampel.
Menurut jurnal Tukiran, Suyatno, dan Nurul Hidayat tentang Skrining
Fitokimia Ekstrak Heksana, Kloroform, dan Metanol pada Tumbuhan Andong
(Cordyline fruticosa), anting-anting (Acalypha indica), dan alang-alang
(Imperata cylindrica). Dari hasil skrining fitokimia terhadap ekstrak
heksana, kloroform, dan metanol dari tanaman alang-alang dilaporkan
adanya senyawa steroid/ triterpenoid, alkaloid, fenolik, dan flavonoid, dan
tidak mengandung adanya saponin maupun tanin.
EKSTRAKSI
Sampel segar akar

Imperata cylindrica L
Sortasi basah
Pencucian
Pengeringan
Sortasi kering
Penghalusan
Serbuk kering akar

Imperata cylindrica L
Maserasi dengan 1, 5 L etanol 96%
Evaporasi Filtrasi

Ekstrak kental Ekstrak kental dapat dituang Ampas

Pencampuran dengan Pencampuran dengan Remaserasi


Evaporasi Filtrasi

Ekstrak kental Ekstrak kental dapat dituang Ampas

Pencampuran dengan Evaporasi

Ekstrak kental
HASIL

Penimbangan Sampel
Bobot simplisia basah 888,1 g
Bobot simplisia kering 376,02 g

Ekstraksi
Pelarut yang digunakan untuk maserasi 3 L
Ekstrak kental yang didapat 92,204 g
PEMBAHASAN
376.02 gram serbuk akar alang-alang kering, diekstraksi dengan menggunakan etanol
96% sebanyak 3L.
Metode ekstraksi yang dipilih adalah metode maserasi, karena maserasi dapat
menyari senyawa berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang tidak tahan
pemanasan. Kami mengharapkan dapat melakukan ekstraksi semua kandungan yang
terdapat dalam suatu tumbuhan tanpa merusak kandungan senyawanya.
Oleh karena itu kami memilih metode maserasi. Karena apabila kami memilih
metode sokletasi yang menggunakan pemanasan, dikhawatirkan banyak senyawa
yang rusak karena pemanasan tersebut.
Alasan pemilihan pelarut etanol 96% adalah karena etanol memliki sifat melarutkan
secara menyeluruh, baik itu senyawa yang bersifat polar, semi polar, maupun non
polar. Sehingga, diharapkan apabila menggunakan pelarut etanol dapat menyari
semua komponen senyawa yang terkandung di dalam akar alang-alang alang
(Imperata cylindrical). Selain itu juga, etanol dapat menghambat pertumbuhan
mikroba sehingga ekstrak tidak tercemar, dan khasiatnya masih bisa dipertahankan.
Maserasi menggunkan etanol dalam botol gelap dan terlindung dari cahaya
matahari langsung. Dilakukan selama satu hari pada suhu kamar. Hasil
maserasi disaring menggunkan corong yang telah dilapisi dengan kapas dan
kertas saring, tujuannya adalah agar proses penyaringan berlangsung dengan
optimal dan tidak ada residu yang ikut terbawa pada proses penyaringan.
Setelah disaring, diperoleh filtrat yang kemudian diuapkan dengan
menggunakan rotary evaporator.
Remaserasi yang bertujuan untuk mendapatkan hasil ekstraksi yang
maksimal dan dipastikan sudah tidak ada lagi senyawa yang terkandung di
dalamnya.
Ekstrak kental yang diperoleh dari akar alang-alang (Imperata cylindrical)
sebanyak 92,204 gram. Sehingga, diperoleh rendemen ekstrak sebesar 24.52%
PARTISI
PRINSIP
Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan
pemisahan komponen kimia di antara dua fase
pelarut yang tidak dapat saling bercampur di mana
sebagian komponen larut pada fase pertama dan
sebagiannya lagi larut pada fase kedua. (Sudjadi,
1986)
CARA KERJA
92,204 gram Ekstrak ethanol 96%

Partisi dgn n-heksana 200 mL

Fraksi n-heksana Fraksi ethanol 96%

Partisi dgn etil


Dipekatkan Partisi dgn butanol 180 mL
asetat
0,1651 g Ekstrak
Tidak terjadi Fraksi ethanol
kental fraksi n- Fraksi butanol
heksana pemisahan 96%

Dipekatkan Dipekatkan

2,309 g ekstrak 2,5565 g ekstrak


kental fraksi kental fraksi
butanol ethanol 96%
Fraksi Hasil berat fraksi
ekstrak ekstrak (gram)
n-heksan 0,1651
Butanol 2,309
Ethanol 2,5565

Penuangan ekstrak kental


HASIL ke dalam corong pisah
3 fraksi hasil partisi
PEMISAHAN SECARA PARTISI
Diperoleh total ekstrak kental akar alang-alang etanol 96% sebanyak
92,204 gram.
Teknik partisi ini akan menghasilkan fraksi ekstrak yang mengandung
senyawa polar, semi polar, dan nonpolar. Mula-mulanya ekstrak kental
dilarutkan dengan pelarut yang digunakan pada saat maserasi yaitu
etanol 96%, tujuannya adalah agar diperoleh konsistensi yang mudah
dituang ke dalam corong pisah untuk dilakukan proses partisi.
Partisi atau ekstraksi cair-cair adalah pemisahan senyawa berdasarkan
tingkat kepolarannya menggunakan 2 pelarut yang tidak saling
bercampur. Prinsip ini dikenal dengan like dissolve like, artinya
pelarut akan melarutkan senyawa yang tingkat kepolarannya sama
dengan pelarut tersebut.
Partisi ekstrak kental dilakukan menggunakan 3 tingkatan pelarut berdasarkan
kepolarannya, yaitu ;
Pertama, ekstrak kental dipartisi menggunakan pelarut nonpolar yaitu n-heksana 200
ml.
Ekstrak dituang ke dalam labu corong pisah, kemudian 50 ml n-heksana dituangkan
ke dalamnya
corong pisah ditutup, dibalik lalu dikocok satu arah beberapa kali hingga didapatkan
massa yang terdistribusi dan sesekali kran corong dibuka guna menurunkan tekanan
yang ada didalamnya
kran corong ditutup lalu corong dibalik dan dibiarkan hingga terjadi pemisahan.
Tampak adanya dua cairan yang memisah. Cairan bening di atas merupakan fraksi n-
heksana.
Warna bening menunjukkan bahwa semua senyawa non polar telah tertarik ke fraksi
n-heksana. Semua fraksi n-heksana dikeluarkan dari corong pisah kemudian
ditampung dalam erlenmeyer. Demikian dilakukan sebanyak 4 kali hingga total
volume n-heksana yang digunakan sebanyak 200 ml dan fraksi n-heksana ditampung
dalam erlenmeyer yang sama.
Dipartisi kembali menggunakan butanol.
Awalnya digunakan pelarut etil asetat sebagai pelarut semipolar, namun ekstrak
kental tidak dapat bercampur baik, sehingga kami gunakan pelarut yang lebih polar,
yaitu butanol.
Partisi dilakukan dengan cara yang sama, namun volume total butana yang
digunakan yaitu 180 ml. Dan menghasilkan larutan bening fraksi butana dalam
erlenmeyer.
Sisa dari partisi tersebut berupa ekstrak etanol yang kemudian dicampur kembali
dengan etanol.
Dari langkah-langkah tersebut dihasilkan 3 fraksi ekstrak dengan pelarut masing-
masing yaitu n-heksana, butanol, dan etanol.
Masing-masing fraksi tersebut kemudian dipekatkan menggunakan rotary
evaporator sehingga didapat ekstrak kental fraksi n-heksana 0.1651 gram, fraksi
butanol 2.309 gram, dan fraksi etanol 2.5565 gram. Dari pemisahan ini, diduga
senyawa telah terpisah berdasarkan kepolarannya.
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
(KLT)
CARA KERJA

1. Menyiapkan bahan 5. Menunggu hingga


3. Menotolkan sampel eluen bergerak hingga
berupa ektrak dan hasil
berupa ekstrak atau batas atas.
fraksi
fraksi ke plat tetes yg
2 Membuat fase gerak telah dibuat batas atas 6. Mengangkat plat dan
dari campuran n- dan bawah, biarkan sisa eluen
heksna, etil asetal, atau menguap, deteksi pada
4. Masukkan plat lampu uv
metanol dengan
kedalam chamber,
berbagai perbandingan, 7. Menghitungan nilai
jangan sampai eluent
dan masukkan kedalam rf dari setiap plat yang
merendam plat diatas
chamber, tutup, telah di deteksi dengan
batas bawah
biarkan hingga jenuh. lampu uv
UJI 1
PANJANG PLAT 5 CM
JARAK ANTAR BATAS 4,05 CM
ELUEN 4 (N-HEKSAN): 1 (ETIL ASETAT)

Fraksi Tinggi Nilai RF


Ektrak belum
-
difraksinasi
Fraksi etanol -
2.95 cm 0.728

Fraksi butanol 3,65 cm 0.901

3,9 cm 0.962
Fraksi n- 2,05 cm 0,506
heksan 3,2 cm 0,790
UJI 2
JARAK ANTAR BATAS 4 CM
ELUEN 9(N-HEKSAN) : 1 (ETIL ASETAT)

Fraksi tinggi Nilai RF

Fraksi butanol
3 cm 0.75
(1)
Fraksi butanol
3 cm 0.75
(2)
Fraksi n-heksan
3 cm 0.75
(1)
Fraksi n-heksan
3,5 cm 0.875
(2)
UJI 3
JARAK ANTAR BATAS 4 CM
ELUEN ETIL ASETAT 100%

Fraksi Tinggi Nilai RF


Etanol -
Butanol 3,8 cm 0,95
PEMBAHASAN
Setelah melakukan proses partisi dan diperoleh 3 fraksi yaitu fraksi etanol, butanol, dan N-
heksan. Langkah selanjutnya adalah melakukan proses memisahkan substansi campuran
menjadi komponen-komponenya dengan menggunkan kromatografi lapis tipis. Dalam
kromatografi lapis tipis komponen-komponen senyawa akan terdistribusi dalam dua fase yaitu
fase gerak dan fase diam.
KLT ini menggunakan plat tipis yang dilapisi oleh adsorben yaitu slika gel. Dimana adsorben
berperan sebagai fase diam.
Fase gerak atau eluen yang digunakan adalah campuran 2 larutan yang berbeda polaritasnya
dalam perbandingan tertentu.
Campuran pelarut yang pertama digunakan sebagai fase gerak adalah N-heksan : etil asetat
(4:1).
Menotolkan ekstrak dari masing-masing fraksi dengan menggunakan pipa kapiler pada plat
KLT yang telah disiapkan sebelumnya. Kemudian plat KLT dimasukkan ke dalam chamber
yang berisi fase gerak yang telah dijenuhkan. Tanda bahwa fase gerak telah jenuh adalah ketika
kertas saring terbasahi oleh fase gerak.
Setelah proses elusi selesai plat KLT diangkat dan diangin-anginkan,
setelah itu baru di deteksi menggunakan UV. Kemudian akan terlihat
spot, lalu ditandai dengan pensil dan menghitung nilai Rf nya.
Rf untuk masing fraksi yaitu fraksi etanol -, fraksi butanol 0,728; 0,901;
dan 0,962; terakhir fraksi N-heksan 0,506 dan 0,790.
Rf yang diperoleh pada uji pertama ini tinggi, karena lebih dari 0.2-0.8.
Kecuali fraksi N-heksan memiliki nilai Rf yang tidak begitu tinggi. Hal
ini mungkin senyawa yang terkandung di dalam fraksi N-heksan
memilki kepolaritasan yang tinggi sehingga senyawa ini terikat kuat
pada fase diam yang juga bersifat polar sehingga nilai Rf tidak begitu
tinggi.
Senyawa yang memiliki nilai Rf tinggi berarti mempunyai kepolaran
yang rendah karena keterikatan senyawa dengan fase diamnya rendah.
Karena pada uji pertama nilai Rf nya tinggi, yang harus dilakukan
adalah mengurangi kepolaran eluen. Oleh karena itu kami menurunkan
kepolaran eluennya dengan membuat campuran 2 pelarut antara N-
heksan : etil asetat (9:1).
Sehingga di peroleh Rf masing-masing fraksi yaitu fraksi butanol 0.75
dan 0.75, sedangkan Rf fraksi N-heksan sebesar 0.75 dan 0.875.
Setelah diturunkan kepolaran eluennya nilai Rf pada fraksi butanol
masuk ke dalam rentang Rf 02-0.8. sedangkan salah satu Rf pada N-
heksan itu melebihi rentang Rf yang ditentukan oleh literatur. Hal ini
mungkin dikarenakan fase gerak bersaing dengan analit untuk
berikatan dengan fase diamnya lebih besar. Sehingga analit akan
terelusi dengan cepat oleh fase geraknya dan memiliki nilai Rf yang
tinggi.
Uji ketiga menggunakan fase gerak etil asetat 100% , pada uji ini
kepolarannya ditingkatkan kembali sehingga Rf yang diperoleh juga
meningkat yaitu 0,95 untuk fraksi butanol.
Hal ini dikarenakan gugus polar pada fase gerak bersaing dengan analit
untuk terikat pada fase diam . dengan demikian apabila kepolaran fase
gerak ditingkatkan maka analit akan sedikit yang terikat dengan fase
diamnya akibatnya analit akan bergerak lebih cepat melewati fase
diamnya sehingga diperoleh nilai Rf yang tinggi.
Setelah di lakukan uji KLT ini, langkah selanjutnya adalah melakukan
uji kromatografi kolom. Dari hasil uji KLT maka kami, memilih fraksi
butanol untuk dilanjutkan dalam proses pemisahan selanjutnya
menggunakan kromatografi kolom. Dan dari hasil KLT ini pula, kami
mencoba menggunakan eluennya adalah campuran N-heksan dan
etilasetat.
ISOLASI SENYAWA MURNI DENGAN
METODE KROMATOGRAFI KOLOM
Cara Kerja :
A. Penyiapan Kolom Kromatografi

Menyiapkan kolom kromatografi dengan memberi kapas pada ujung kolom untuk menahan
silika gel agar tidak keluar.

Menimbang 25 gram silika gel. Memasukkan silika gel dalam gelas beker, menambahkan 60
mL n-heksan sehingga diperoleh silika gel dengan konsistensi seperti bubur, kemudian
mengaduk smpai terbentuk suspensi.

Memasukkan bubur silika yang telah tersuspensi ke dalam kolom kromatografi sedikit demi
sedikit, memasukkan pelarut N-heksana sambil mengetuk kolomnya menggunakan selang,
menampung pelarut yang turun, kemudin memasukkan kembali ke kolom. Melakukan
secara berulang-ulang sehingga silika gel menjadi padat di dalam kolom.

Memasukkan ekstrak Imperata cylindrica (fraksi butanol) ke kolom melalui bagian atas
kolom dengan cara menuangnya dengan hati-hati.
N-heksana : Etil asetat :
B. Membuat Sistem Pelarut Etil asetat Metanol
1. Membuat pelarut dengan 50 : 50 90 : 10
perbandingan antara 40 : 60 80 : 20
pelarut nonpolar, 30 : 70 70 : 30
semipolar, dan polar
20 : 80 60 : 40
sehingga terjadi
peningkatan polaritas 10 : 90 50 : 50
(sistem gradien). Pelarut - : 100 40 : 60
yang digunakan: 30 : 70
20 : 80
10 : 90
- : 100
C. Proses Isolasi
Memasukkan pelarut yang telah selesai dibuat dengan
tingkat kepolaran yang meningkat ke dalam kolom
kromatografi dengan cara sebagai berikut:

2
1

3
Memasukkan
pelarut N-heksana Setelah perbandingan Menganalisis hasil
: etil asetat (sesuai pelarut N-heksana : kolom yang telah
urutan di atas) ke etil asetat habis di ditampung ke dalam
dalam kolom vial yang telah diberi
dalam (ditandai dengan nomor secara
kromatografi hanya tinggal selapis berurutan
sedikit demi sedikit larutan di atas menggunakan
dengan bantuan permukaan silika), lempeng KLT untuk
corong, membuka menambahkan melihat spot-spot
kran kolom perbandingan pelarut yang akan terlihat di
sehingga pelarut etil asetat : metanol bawah lampu UV
tersebut turun (seusai urutan di yang menandakan
atas), menampung adanya komponen
melalui kolom, hasil kolom yang kimia yang telah
menampung hasil keluar dengan cara terisolasi.
kolom yang keluar seperti nomor 1.
dengan vial-vial
yang diberi nomor
berurutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
N-heksana Etil asetat Nomor vial Etil asetat Metanol Nomor vial
50 50 1-13 90 10 43-49
40 60 14-20 80 20 50-56
30 70 21-23 70 30 57-64
20 80 24-29 60 40 65-71
10 90 30-36 50 50 72-78
- 100 37-42 40 60 79-81
30 70 82-84
20 80 85-87
10 90 88-89
- 100 90-97
Nomor Nomor Nomor Nomor
Keterangan Keterangan Keterangan Keterangan
vial vial vial vial
2 30 57
3 32 Menganalis 60 Menganalis
Menganalisis
7 35 vial-vial 63 vial-vial Menganalis
vial-vial tersebut
10 38 tersebut di plat 66 tersebut di vial-vial
di plat 1 dengan
13 40 2 dengan 69 plat 3 dengan 90 tersebut di
menggunakan
16 42 menggunakan 72 menggunakan 93 plat 4 dengan
eluen N-heksana
19 45 eluen heksana : 75 eluen heksana 96 menggunakan
: etil asetat (9:1)
21 48 etil asetat (1:1) 78 : etil asetat eluen etil
dan etil asetat
22 51 dan etil asetat 81 (1:1) dan etil asetat 100%
100%
25 54 100% 84 asetat 100%
28 55 87
2. KLT

Plat 1 dengan menggunakan


Plat 1 dengan menggunakan
eluen N-heksana : etil asetat
eluen etil asetat 100%
(9:1)
Plat 2 dengan menggunakan Plat 2 dengan menggunakan
eluen heksana : etil asetat eluen etil asetat 100%
(1:1)
Plat 4 dengan
Plat 3 dengan menggunakan eluen
heksana : etil asetat (1:1) menggunakan eluen etil
asetat 100%
PEMBAHASAN
Mula-mula kita menyiapkan kolom kromatografi, dengan memberi kapas pada ujung kolom
untuk menahan silika gel agar tidak keluar. Sebelumnya kapas dibasahi dengan N-heksan
tujuannya untuk mencegah adanya gelembung udara di dalam kolom.
Selanjutnya membuat bubur silika dengan menimbang silika gel sebanyak 25.0218 gram yang
dilarutkan menggunakan n-heksan. Silika ini sebagai fase diam yang berfungsi sebagai
penyerap polar.
Silika merupakan fase diam yang lebih banyak digunakan dalam proses kromatografi karena
proses pemisahannya bagus. Kemudian, memasukkan bubur silika yang telah tersuspensi ke
dalam kolom kromatografi sedikit demi sedikit sambil mengetuk kolomnya menggunakan
selang, tujuan perlakuan ini agar kolom menjadi padat. Kemudian penambahan n-heksan
untuk mengecek apakah turun cepat atau lambat untuk memastikan kepadatan kolom yang
diinginkan.
Setelah kolom disiapkan, kami memilih fraksi butanol dalam kromatografi kolom ini. Alasan
memilih fraksi butanol ini karena pada saat praktikum uji KLT sebelumnya, kami ingin
mengetahui lebih lanjut dari fraksi butanol ini, karena adanya kristal setelah fraksi butanol
diuapkan dan diletakkan di dalam lemari pendingin selain itu, kami mendapatkan isolat yang
banyak dalam fraksi butanol. Setelah pemilihan fraksi yang digunakan, kami memasukkanya ke
dalam kolom.
Selanjutnya membuat sistem pelarut. Pelarut yang dibuat dengan
perbandingan antar pelarut non polar, semipolar dan polar sehingga terjadi
peningkatan polaritas.
Sistem pelarut dilakukan dengan cara mengubah kepolaran dari fase gerak
yang digunakan secara bertahap.
Fase gerak tersebut merupakan campuran dua jenis pelarut dengan kepolaran
berbeda. Dengan mengubah perbandingan campurannya kita dapat
menggeser tingkat kepolaran dari fase gerak ini.
Pencampuran dilakukan dengan perbandingan yang divariasikan secara
bertahap dengan begitu, diharapkan dapat memberikan pemisahan yang lebih
baik.
Dengan adanya perubahan tingkat kepolaran secara bertahap, keterikatan
komponen terhadap fase gerak dan keterikatan masing-masing komponen
terhadap fase diam akan berubah-ubah, sesuai dengan sifat-sifat masing-
masing komponen. Komponen ini dibawa oleh fase gerak dan tertampung
pada vial penampung.
Pelarut yang telah selesai dibuat dengan tingkat kepolaran yang
berbeda-beda dimasukkan ke dalam kolom kromatografi untuk
dilakukan proses isolasi.
Masing-masing pelarut di masukkan ke dalam kolom kromatografi
satu-persatu. Misalnya, kami memasukkan pelarut campuran antara N-
heksan : etil asetat (50:50), pelarut ini dimasukkan sedikit demi sedikit
dengan bantuan corong, membuka kran kolom sehingga pelarut
tersebut akan turun melalui kolom, menampung hasil kolom yang
keluar dengan vial yang telah diberi nomer.
Setelah pelarut ini habis yang ditandai dengan hanya tinggal selapis
larutan diatas permukaan sampel. Maka ditambahkan pelarut dengan
tingkat kepolaran yang kedua yaitu N-heksan : etil asetat (40:60),
begitu seterusnya sampai proses isolasinya selesai hingga ke tingkat
kepolaran yang paling akhir yang diinginkan.
Dari hasil kromatografi kolom di peroleh 97 vial.
Dari 97 vial ini kita memilih vial yang kira-kira mengandung
senyawa untuk kemudian di lakukan pemisahan kembali
dengan menggunakan kromatografi lapis tipis.
Alasan pemilihan sampel yang kira-kira mengandung
senyawa dapat dilihat dari adanya warna dan kristal yang
terdapat pada vial.
Setelah dilakukan pemilihan vial, langkah selanjutnya adalah
melakukan KLT. Analisis menggunakan KLT ini bertujuan
untuk melihat spot-spot yang akan terlihat di bawah lampu
UV yang menandakan adanya komponen kimia yang telah
terisolasi.
Pada proses KLT kami menggunakan 4 lempeng plat.
Pola pemisahan yang bagus terdapat pada lempeng plat yang pertama
dengan menggunakan eluen etil asetat 100%. Pola pemisahan pada plat
1 lebih baik dibandingkan dengan pola pemisahan yang lain adalah
terdapat pada vial nomer 2 dan 3. Kami memilih vial nomer 3 untuk
dilanjutkan ke KLT preparatif, sedangkan untuk rekristalisasi dipilih
vial nomer 2, 13, dan 14.
Pada plat 2 kami tidak dapat melihat secara jelas spot-spotnya,
menurut kami, pada plat ke dua proses pemisahannya kurang
sempurna akibat eluen yang digunakan kurang cocok. Seharusnya
digunakan uji eluen yang lebih polar lagi agar spot lebih terlihat naik
dan penotolan sampel ditambahkan.
Sedangkan pada plat ke 3 dan 4 tidak tampak spot sama sekali, yang
mengindikasikan tidak adanya senyawa yang terpisah atau eluen yang
digunakan tudak cocok.
KLT PREPARATIF
Menimbang silica 30 g CARA KERJA
kemudian dimasukkan
dalam stok erlenmeyer.
menggunakan silica gel GF
254 dari Merck yang artinya Membebas
G = gypsum, yaitu ada Menuang
lemakkan
pengikat, biasanya yang campuran silika
lempeng kaca
digunakan kalsium sulfat di atas kaca dan
dengan n-heksan
(CaSO4) dengan kadar 5-15% ratakan dengan
menggunakan
diketok-ketok
F dapat berfloureensi di kapas
254 nm

Mengocok Mengeringkan
Melarutkan
kuat-kuat
dengan 60
hingga
ml aquadest
homogen
Menotolkan Mangerok
Menandai lempeng
sampel di atas pita yang
kaca secara tersebut dan
terbentuk menampung
lurus dan tanpa
terpisah dalam vial lalu
memasukan ke
dalam pipet
Mengamati tetes
pita yang
terbentuk
pada uv 254
Memasukkan dan 365 Mengalirkan
eluen (kami dengan pelarut
menggunakan etil etil asetat
asetat 100%) ke sehingga turun
dalam chamber Membebaslema dan Mengecek
menampungnya kembali dengan
dan menjenuhkan kkan lempeng dalam vial
kaca dengan n- klt apakah
heksan sudah murni
menggunakan atau belum,
kapas kemudian
menghitung rf
sampel
HASIL

UV 254 nm UV 365 nm
Kemudian kembali diuji pada
Lalu dikerok atau diambil plat klt untuk memeriksa diperjelas dan ditekankan
lapisan atas berwarna apakah telah murni sampel kembali pada uv 365 nm
tersebut dari plat kaca dan yang didapat saat klt preparatif. terjadi flouresensi biru
diekstrasi kembali dengan
Terlihat dengan eluen etil asetat
pelarut etil asetat sehingga di pada uv 254 nm hanya ada satu
dapat preparat cair titik,
PERHITUNGAN RF
PEMBAHASAN

Tujuan melakukan KLT preparatif ini adalah untuk menghasilkan senyawa yang bisa
digunakan untuk proses kromatografi selanjutnya ataupun untuk dianalisa secara
spektrometri.
Sebelum dilakukan proses KLT, maka kami membuat plat KLT nya terlebih dahulu.
Mula-mula kami menimbang silika gel GF 254 dan mensuspensikannya dengan
menggunakan aquadest. Kemudian suspensi silika ini dituang di atas plat kaca yang
sudah disiapkan sebelumnya. Plat kaca diberikan getaran sedikit demi sedikit
sehingga diperoleh plat KLT yang merata penyebaran suspensi silikanya.
Setelah itu plat dikeringkan pada suhu ruang dan menghindari penyimpanan KLT
pada tempat yang lembab. Alasan mengapa silika gel GF 254 dapat menempel pada
plat kaca karena di dalam silika ini sudah terdapat bahan pengikat berupa gips
(kalsium sulfat). Maksud dari silika gel GF 254 adalah silika gel ini dapat berpendar
atau berflouresen pada panjang gelombang 254 nm.
Setelah plat KLT jadi, langkah selanjutnya adalah melakukan fraksi hasil isolasi.
Fraksi yang dipilih dari hasil KLT kolom yaitu vial nomer 3. Karena di vial nomer 3
ini terlihat sisa yang lebih banyak dari vial lain yang hampir seluruhnya teruapkan
dan memiliki warna yang cukup terlihat kemungkinan senyawa isolat banyak.
Kemudian membuat fase gerak pada KLT preparatif ini sama dengan fase gerak yang
digunakan pada uji KLT kolom yaitu menggunakan etil asetat 100%. Karena dengan
menggunkan etil asetat ini terjadi pemisahan senyawa. Menurut kami senyawa yang
terdapat pada vial nomer 3 memiliki kepolaran yang rendah sehingga ketika di elusi
dengan fase gerak pada percobaan KLT kolom diperoleh daya elusi yang tinggi.
Melarutkan vial nomer 3 kemudian menotolkannya pada plat KLT preparatif dengan
menggunakan pipa kapiler. Setelah itu, dimasukkan ke dalam chamber yang berisi
etil asetat 100% yang telah jenuh.
Setelah senyawa yang terkandung terelusi maka diambil platnya dan diangin-
anginkan untuk kemudian dilihat di UV. Setelah di UV pada panjang gelombang 254
nm terdapat pola pemisahan yang mengindikasikan bahwa senyawa yang terkandung
telah mengalami proses pemisahan, dan terdapat pendaran warna biru pada panjang
gelombang 365 nm
Setelah didapat pola pemisahannya, kami mengerok plat yang dianggap
mengandung senyawa. Setelah dikerok platnya kemudian dilarutkan dengan
menggunakan etil asetat 100%.
Alasan pemilihan pelarut etil asetat adalah karena dengan etil asetat senyawa
dapat terpisah dan menunjukkan pola pemisahan pada KLT preparatif.
Kemudian setelah didapat ekstrak larutan etil asetat diuji kembali dengan
menggunakan KLT dan fase gerak yang digunakan adalah etil asetat 100%.
Kemudian setelah diamati dibawah UV 254 nm terlihat satu spot yang tampak
jelas . Tujuan KLT ini adalah memeriksa apakah senyawa yang diperoleh telah
murni pada saat KLT preparatif sebelumnya.
Hasil KLT menunjukkan Rf sebesar 0.825 dan 0.85. nilai Rf ini tidak terlalu
berbeda bermakna yang menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung
adalah jenis senyawa yang sama. Sehingga kami berasumsi bahwa senyawa
yang kami peroleh telah murni.
REKRISTALISASI
Menambahkan jika fraksi terlarut
CARA KERJA n-heksan sempurna maka
diuapkan dengan
dalam vial yang bantuan pemanas
Memilih fraksi dipilih (kemungkinan fraksi
yang ini berupa minyak)
kemungkinan
terdapat kristal

Jika benar ada Jika ada fraksi yang tidak


kristal larutan larut, kami menambahkan
akan berubah dengan pelarut yang lebih
keruh/berawan polar (etil asetat)

Menunggu endapan Larutan bening ini Endapan yang tersisa


terkumpul dan berupa larutan inilah berupa kristal
memipet larutan induk jadi kami yang tidak larut
yang bening tidak buang artinya sudah merekat
HASIL

Vial No. 13
Vial No. 2
Setelah dilakukan rekristalisasi dengan
Setelah dilakukan rekristalisasi dengan n-heksane dan etil asetat, terlihat
n-heksane, terlihat perubahan warna perubahan warna yang berarti (seperti
yang berarti dan endapan sebelumnya kabut) saat pemisahan dengan pelarut
menjadi terlarut kembali. Setelah etil asetat dan endapan sebelumnya
menguapkan pelarut dengan dibantu Vial No. 14
tidak terlarut kembali. Diduga padatan
pemanasan agar lebih cepat, terlihat yang tidak terlarut ini berupa kristal. Perlakuan sama dengan vial No. 13
cairan bening yang tidak teruapkan dan Endapan ini berwarna putih dan berupa diduga hasil isolat senyawa murni mirip
diduga cairan ini berupa isolat minyak atau sama dengan vial No. 13
serbuk halus dalam larutan berwarna
dari fraksi butanol yang awal kami
gunakan pada saat tahap kolom cokelat.
PEMBAHASAN

Rekristalisasi merupakan pemurnian suatu zat padat dari campuran atau


pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan
dalam pelarut yang sesuai.
Jadi prinsipnya adalah dilihat dari perbedaan kelarutan antara zat yang akan
dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pengotornya
Alasan melakukan rekristalisasi adalah karena pada hasil partisi , fraksi butanol
terlihat adanya kristal setelah diuapkan dengan rotary evaporator.
Selain itu juga, Pada praktikum kromatografi kolom, kami mengisolasi fraksi butanol
dengan menggunakan pelarut N-heksan : etil asetat dengan variasi perbandingan.
Setelah itu, kami menduga adanya kristal pada vial nomor 2 yang ditandai dengan
adanya gumpalan coklat pada dasar vial, vial nomor 13 yang ditandai dengan adanya
serpihan serbuk putih pada dinding vial , dan vial nomor 14 yang ditandai dengan
adanya serpihan serbuk putih pada dinding vial juga.
Vial nomor 2 dan 3 merupakan hasil isolasi dengan pelarut N-heksan : etil
asetat (50:50). Sedangkan, vial nomor 14 merupakan hasil isolasi dengan
pelarut N-heksan : etil asetat (40:60).
Setelah itu, kami melakukan rekristalisasi vial nomor 2 dengan menggunakan
N-heksan, alasan menggunakan N-heksan adalah karena vial nomor 2 ini
merupakan hasil isolasi dengan menggunakan pelarut N-heksan : etil asetat
sehingga diharapkan N-heksan dapat melarutkan senyawa yang kami anggap
sebagai kristal dan dapat dipisahkan dengan zat pengotornya.
Setelah ditambahkan N-heksan senyawa kami larut dan terjadi perubahan
warna secara bermakna.
Ketika suatu kristal larut bukan berarti kristal tersebut menghilang. Namun,
dapat kita peroleh kembali dengan menguapkan pelarutnya dengan cara
pemanasan.
Setelah pelarutnya diuapkan kami melihat adanya cairan yang tidak
teruapkan. Kami menduga bahwa cairan tersebut merupakan isolat minyak.
Selanjutnya, kami melakukan rekristalisasi pada vial nomor 13, vial ini
juga merupakan hasil isolasi dengan menggunakan pelarut N-heksan :
etil asetat. Sehingga kami mencoba melarutkan serbuk putih yang kami
anggap sebagai kristal dengan menggunakan N-heksan.
Serbuk putih tersebut tidak dapat larut dan tidak terjadi perubahan
warna. Kemudian kami memindahkan larutan N-heksan ke dalam vial
yang lain, dan kami mencoba melarutkan serbuk putih tersebut dengan
menggunakan etil asetat terlihat adanya perubahan warna yang berarti
(terlihat seperti berkabut) dan larutan berwarna cokelat.
Kemudian kami memindahkan larutan etil asetat ke dalam vial yang
lain dan menganggapnya sebagai larutan induk. Selanjutnya, larutan
induk ini kami masukkan ke dalam lemari pendingin untuk selanjutnya
dapat diamati ada tidaknya kristal yang terbentuk. Setelah 1 minggu
kami mengamati vial tersebut, terlihat adanya kristal halus berwarna
cokelat.
Pada vial nomor 14 diberikan perlakuan yang sama dengan
vial nomor 13, yaitu dilarutkan dengan N-heksan namun
tidak larut dan tidak ada perubahan warna.
Setelah itu, dilarutkan dengan etil asetat terlihat adanya
perubahan warna bermakna (terlihat seperti berkabut),
kemudian memisahkan larutan etil asetat ke dalam vial yang
lain dan menganggapnya sebagai larutan induk. Kemudian
kami mengamati kristal yang terbentuk. Kristal yang
terbentuk berwarna cokelat .
KESIMPULAN
Ekstraksi
Partisi
KLT
KOLOM
KLT Preparatif
Rekristalisasi
SARAN

Penelitian ini dapat Dalam praktikum kali


ini, kami memilih fraksi
dilanjutkan dengan butanol pada kolom, klt
menggunakan instrumen preparatif, dan
rekristalisasi. Sedangkan
tambahan untuk masih ada fraksi n-
menganalisa senyawa heksan yang memiliki
pola pemisahan yang
pada ekstrak Imperata cukup baik sehingga bisa
cylindrica pada fraksi dianalisis pada penelitan
lebih lanjut untuk
butanol vial nomor 2, 3, mengetahui senyawa apa
13, dan 14. saja yang terkandung
dalam fraksi ini.