Anda di halaman 1dari 28

Journal Reading

THE DIAGNOSIS AND


MANAGEMENT OF PAROTID
DISEASE
(diagnosis penanganan pada
penyakit parotis)

Kepaniteraan Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia
Pendahuluan

Evaluasi pasien dengan lesi parotis

Non-
Neoplastik
Neoplastik
Tumor jinak yang paling umum yang muncul pada kelenjar parotis dan tumor
jinak kelenjar air liur yang paling umum muncul adalah adenoma pleomorfik.
Tumor ganas pada kelenjar parotis yang paling umum terjadi adalah karsinoma
mukoepidermoid.
EVALUASI AWAL DAN KONSEP UMUM

Riwayat
untuk membedakan proses infeksi/ obstruktif dari proses
yang bersifat neoplastik/ kanker.
Gejala-gejala yang dialami oleh para pasien penderita
pembengkakan parotis dapat kemudian
menampakkan kondisi penyakitnya dan tingkat
keparahannya
Pemeriksaan Fisik

Ekstraoral
Nyeri

Eritema

Suhu
Intraoral Nanah

Kualitas/kuantitas air liur

Palatum molle
Pemeriksaan Laboratorium

tes darah
Pewarna Gram dengan kultur aerobik dan anaerobik
serta tingkat sensitifitas nanah yang diekspresikan pada
ductus Stenson haruslah didapatkan dari semua pasien
dan hal ini harus dilakukan sebelum memberikan terapi
antibiotik
Pemeriksaan Pencitraan
CT Scan

diindikasikan di dalam pemeriksaan pasien penderita pembengkakan


parotis. Dapat menentukan lokasi neoplasma, hal ini dilakukan untuk
persiapan tindakan bedah tumor, atau juga untuk mengetahui tingkat
keparahan infeksi dan abses pada kasus penyakit parotis yang diakibatkan
oleh infeksi

MRI
Satu manfaat khusus dari pemindaian MRI adalah kemampuannya untuk
mendiagnosis adenoma pleomorfik pada kelenjar air liur dengan masa
hiperintens dan terlokalisasi yang dapat tampak pada gambar hasil
pemindaian berbobot T2 (T2-weighted).
BEBERAPA TEKNIK YANG DIGUNAKAN DI
DALAM DIAGNOSIS DAN PENANGANAN
PENYAKIT PAROTIS
FNAB
Hasil dari FNAB haruslah dipertimbangkan dan harus dihubungkan dengan
riwayat pasien, hasil pemeriksaan fisik, dan juga hasil pemeriksaan pencitraan.
FNAB secara umum dianggap sebagai metode yang cepat, mudah, tidak
mahal, dan bebas-komplikasi untuk melakukan diagnosis dini lesi pada kepala
dan leher, yang juga mencakup pembengkakan parotis
Karsinoma mukoepidermoid dapat secara sitologis
dibagi menjadi dua yaitu:
low-grade (grade rendah) dan
high-grade (grade-tinggi).
Karsinoma mukoepidermoid grade-rendah mungkin sulit untuk
dibedakan dari kista retensi mukosa. Karsinoma mukoepidermoid
grade tinggi dapat sulit dibedakan secara sitologis dari karsinoma
sel skuamosa dan adenokarsinoma kelenjar parotis.
Tingkat sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi FNAB adalah
masing-masing 74%, 88%, dan 79%. Tingkat sensitivitas,
spesifisitas, dan akurasi potong beku adalah masing-
masing 93%, 95%, dan 94%.
Tipe tumor histologis pun secara tepat didiagnosis oleh
FNAB dan potong beku pada masing-masing 27 dari 42
(64%) dan 39 dari 42 (93%) tumor jinak, dan masing-
masing 24 dari 68 (35%) dan 49 dari 68 (72%) tumor
ganas
Armamentarium untuk
FNAB kelenjar parotis.
Jarum berukuran 20 (tolok
20) atau jarum kecil
digunakan untuk
menghindari penyebaran
benih kanker pada lapisan
jaringan, yang dapat
terjadi jika menggunakan
jarum ukuran besar
(ukuran 18).
Para peneliti pun meringkaskan penelitian mereka dengan
mengidentifikasi keunggulan dari potongan beku dibandingkan
FNAB di dalam mendeteksi keganasan dan pengkarakteristikan
tumor.
Sitologi tumor jinak kelenjar
parotis (A) dan tumor ganas
kelenjar parotis (B). Tumor jinak
menunjukkan susunan sitologis
dimana sel-sel membentuk seperti
tampilan sarang lebah, sedangkan
tumor ganas menunjukkan
ketidakteraturan sitologis.
Kegunaan FNAB adalah bahwa
dokter ahli bedah akan dapat
memulai diagnosis sementara
(jinak atau ganas) tanpa
membutuhkan diagnosis yang
lebih spesifik.
banyak dari para pasien dengan masa parotis tidaklah membutuhkan
pemeriksaan yang lebih dari pemeriksaan riwayat dan pemeriksaan fisik
untuk penanganan massa yang tumbuh secara perlahan, dapat bergerak
jika digerakan, dan yang memiliki bentuk dan batas yang jelas.
Hasil statistik FNAB dari lesi-lesi parotis

Referensi Jumlah Kasus Sensitifitas (%) Spesifisitas (%)

Ali dkk, 2011 129 84 98

Bartels dkk, 2000 48 83 86

Zbaren dkk, 2008 426 74 88

Zurrida dkk, 1993 246 62 100


Parotidektomi superficial

Sebagai bagian dari operasi ini, lobus superfisial kelenjar parotis


diangkat dengan meninggalkan dan mempertahankan seluruh
nervus fasialis, kecuali nervus itu sendiri telah terinvasi oleh tumor itu
sendiri.
Parotidektomi superfisial ini biasa dlakukan menggunakan modified
Blair insicion.
Parotidektomi superfisial parsial

Meski menggunakan parotidektomi superfisial dapat


menyebabkan kekambuhan tumor parotis lebih rendah
dibandingkan dengan yang dilakukan prosedur
enukleasi, parotidektomi superfisial menghasilkan reseksi
yang signifikan jumlah jaringan parotid normal,
menyebabkan berkurangnya fungsi parotis.
Diseksi Ekstrakapsular

Diseksi ekstrakapsular (ECD) merupakan tindakan paling


konserfatif dan praktis untuk operasi tumor parotis;
sayatan yang teliti di bagian luar pseudokapsul tumor
dilakukan tanpa mengidentifikasi aatau mendiseksi
cabang utama nervus fasialis.
Biopsi Parotis Insisional

Biopsi parotis insisional (gambar 11) merupakan hal yang


jarang dilakukan sebagai pilihan cara diagnosis pada
massa parotis yang diskret. Hal yang paling perlu
diperhatikan dari pendekatan ini ialah kebutuhan untuk
mengorbankan kulit pasien untuk mengambil tumur
yang berada dibawahnya.
Kesimpulan

Penyakit- penyakit kelenjar parotis dapat direpresentasikan dengan


cara diagnosis yang beragam mulai dari infeksi akut sampai penyakit
neoplasma ganas dengan kelumpuhan nervus fasialis. Kesan awal
infeksi kronis dapat menyerupai tumor, sehingga dokter bedah harus
mmbuat algoritma tertentu agar dapat menentukan tindakan awal
sebagai tatalaksana dari penyakit parotis.