Anda di halaman 1dari 75

KEDOKTERAN

KELUARGA PADA
PASIEN
TUBERKULOSIS
PARU DI
PUSKESMAS 4 ULU
PALEMBANG

Marmah Oktaria, S.Ked.


71 2014 022

Penguji
dr. H. Trisnawarman,
M.Kes.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menempati urutan kedua Laporan WHO tahun 2013
penyakit infeksi yang
menyebabkan kematian
8,6 juta orang menderita TB
dan 1,1 juta diantaranya TB
dengan HIV (+)
TB
PARU 450.000 menderita TB MDR
dan 170.000 diantaranya
meninggal dunia

Indonesia adalah negara Proporsi kejadian TB Anak


dengan kasus TB terbesar ke- secara global 6% (530.000
3 setelah China dan India pasien TB anak/tahun)
TB PARU di
Indonesia

survey prevalensi TB di
Indonesia (2004) prevalensi Banyak faktor yang
TB BTA positif wilayah menyebab angka
Sumatera 160 per 100.000 kesakitan dan kematian
penduduk. TB masih tinggi
Angka kejadian TB di Sumatera
Selatan (2010) ditemukan
sekitar 1037 kasus baru TB,
meningkat di 2011 menjadi
2109 kasus Dokter Keluarga
perlu melakukan
Di Palembang dalam 5 tahun pendekatan pada
terakhir (2010-2015) angka TB penderita TB Paru dengan
mengalami kenaikan dari 1.037 di prinsip pelayanan dokter
tahun 2010 kasus hingga 1.972 keluarga
kasus di tahun 2015
Tujuan Penulisan

Tujuan Umum Tujuan Khusus

Laporan ini disusun Mahasiswa belajar


untuk memenuhi menerapkan prinsip-
sebagian syarat prinsip pelayanan dokter
mengikuti ujian keluarga dalam mengatasi
Kepaniteraan Klinik masalah, tidak hanya pada
penyakit pasien, tetapi juga
Senior di Departemen pada faktor psikososial dari
Ilmu Kedokteran keluarga yang mempengaruhi
Keluarga Fakultas timbulnya penyakit serta
Kedokteran Universitas peran serta keluarga dalam
Muhammadiyah mengatasi masalah
Palembang kesehatan
Manfaat Penelitian
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Program Pencegahan
Penyakit Menular
Jenis Kegiatan P3M di Puskesmas
4 Ulu

Penyelenggaraan
penyelidikan
epidemiologi dan
penaggulangan
kejadian luar biasa
(KLB)
Tuberkulosis
Penyakit menular langsung
yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis

Kuman bersifat aerob, dan


dormant memiliki dinding sel
yang terdiri dari lipid,
peptidoglikan, arabinomanan.
Daoat hidup dalam keadaan
dingin maupun udara kering
Cara Penularan

Lingkungan hidup yang sangat


padat mempermudah proses
penularan, sumber penularan
adalah pasien TB BTA (+)
melalui percik renik dahak yang
dikeluarkannya / droplet nuclei
dimana kuman menyebar dan
terinhalasi oleh individu lain
Patogenesis
Perjalanan Alamiah TB pada
Manusia

Keterlambatan
diagnosis
Pengobatan
tidak adekuat
Kondisi
kesehatan awal
yang buruk
atau penyakit
penyerta
Klasifikasi Tuberkulosis
Termasuk dalam kelompok pasien TB
berdasarkan hasil konfirmasi pemeriksaan
bakteriologis adalah:
Pasien TB paru BTA positif
Pasien TB paru hasil biakan M.tb positif
Pasien TB paru hasil tes cepat M.tb positif
Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi secara
bakteriologis, baik dengan BTA, biakan maupun tes
cepat dari contoh uji jaringan yang terkena
TB anak yang terdiagnosis dengan pemeriksaan
bakteriologis.
Berdasarkan Letak Anatomi Penyakit :
TB Paru
TB Ekstra paru

Berdasarkan Riwayat Pengobatan


Sebelumnya:
Kasus baru
Kasus kambuh
Kasus defaulted atau drop out
Kasus gagal
Kasus kronik / persisten
Klasifikasi berdasarkan hasil
pemeriksaan uji kepekaan obat :
Mono resisten (TB MR)
Poli Resisten (TB PR)
Multidrug Resistance (TB MDR)
Extensive Drug Resistance (TB XDR)
Resisten Rifamfisin (TB RR)
Diagnosis
Gejala klinik :
Gejala respiratorik (batuk > 2 mgg,
sesak nafas, sesak nafas, nyeri dada)
Gejala sistemik (demam, keringat
malam hari, BB menurun, tidak nafsu
makan)

Pemeriksaan bakteriologik:
Pengambilan dahak 3 kali (SPS)
Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca
dengan skala IUATLD (rekomendasi WHO).
Skala IUATLD (International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease)
Apa yang dilihat Apa yang dilaporkan
Tidak ditemukan BTA minimal dalam 100 BTA negatif
lapang pandang
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang Tuliskan jumlah kuman yang
ditemukan per 100 lapang
pandang
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang + (1+)
pandang
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang ++ (2+)
periksa minimal 50 lapang pandang
Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, +++ (3+)
periksa minimal 20 lapang pandang
Alur Diagnosis TB pasien
Dewasa
Penatalaksanaan
Tujuan Prinsip
Pengobatan Pengobatan

Diberi dalam bentuk


Menyembuhkan pasien dan
memperbaiki produktifitas
panduan OAT
serta kualitas hidup, minimal 4 macam
mencegah kematian oleh obat
karena TB atau dampak Dalam dosis tepat
buruk selanjutnya, Ditelan teratur dan
mencegah kekambuhan diawasi PMO
TB, menurunkan angka Pengobatan dalam
penularan TB, mencegah
jangka waktu terbagi
terjadinya dan mencegah
TB resisten obat
tahap awal dan
tahap lanjutan
Tahap Pengobatan
Obat Anti
Tuberculosis

Obat Lini Pertama


Jenis OAT Sifat Efek Samping

Isoniazid (H) Bakterisid Neuropati perifer, psikosis toksis,


gangguan fungsi hati, kejang

Rifampicin (R) Bakterisid Urine berwarna merah, gangguan


gastrointestinal, gangguan fungsi hati,
trompositopenia, skin rash, anemia
hemolitik

Pyrazinamide (Z) Bakterisid Gangguan fungsi hati, gangguan


gastrointestinal, gout arthritis

Streptomycin (S) Bakterisid Gangguan keseimbangan dan


pendengaran, renjatan anafilaktik,
anemia, trombositopenia

Ethambutol (E) Bakteriostatik Gangguan penglihatan, buta warna,


nuritis perifer
Kisaran Dosis
direkomendasikan

Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)


Jenis OAT
Harian (mg) 3x seminggu (mg)

Isoniazid (H) 5 (4-6) maks 300 10 (8-12) maks 900

Rifampicin (R) 10 (8-12) maks 600 10 (8-12) maks 600

Pyrazinamide (Z) 25 (20-30) 35 (30-40)

Streptomycin (S) 15 (12-18)

Ethambutol (E) 15 (15-20) 30 (20-35) maks 1000


Panduan OAT Lini
Pertama

Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3). Panduan OAT ini diberikan


untuk :
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru
Berat Badan Tahap Intensif Tahap Lanjutan
tiap hari selama 56 3 kali seminggu selama 16
KDT hari minggu
RHZE RH (150/150)
(150/75/400/275)
30-37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38-54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55-70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT

Dosis per hari / kali Jumlah


Tablet Kaplet Tablet Tablet hari/kali
Tahap Lama Isoniasid Rifampisin Pirazinamid Etambutol
Kombipa menela
Pengobata Pengobata
k n obat
n n @ 300 mg @ 450 mg @ 500 mg @ 250 mg

Intensif 2 bulan 1 1 3 3 56
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 48
Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah
diobati sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat
(default)
Tahap Intensif Tahap Lanjutan
Tiap hari 3 kali seminggu
Berat Badan
KDT RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E
(400)
Selama 56 hari Selama 28 hari Selama 20 minggu

30-37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT


+ 500 mg + 2 tablet Etambutol
Streptomisin inj.
38-54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
+ 750 mg + 3 tablet Etambutol
Streptomisin inj.
55-70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
+ 1000 mg + 4 tablet Etambutol
Streptomisin inj.
71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT
+ 1000 mg + 5 tablet Etambutol
Streptomisin inj.
Kombipak
Tahap Lama Tablet Kaplet Tablet Etambutol Strept Jml/x
Pengobat Pengob Isoniasid Rifampisi Pirazinami omisin menela
an atan n d Tablet Tablet Injeksi n obat
@ 300
mg @ 450 @ 500 mg @ 250 mg @ 400 mg
mg

Tahap
Intenif
(dosis 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 56
harian) gr
1 bulan 1 1 3 3 - 28
-

Tahap
Lanjutan
(dosis 3x 4 bulan 2 1 - 1 2 - 60
semingg
u

Catatan :
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk
streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan
aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).
Pendekatan Dokter Keluarga

Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan


penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua orang
yang mencari pelayanan kedokteran dan mengatur
pelayanan oleh provider lain bila diperlukan.
Prinsip Pelayanan Dokter
Keluarga
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
2. Pelayanan yang kontinu.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral
dari keluarganya.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja,
dan lingkungan tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat
dipertanggungjawabkan.
9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
Pengaruh Keluarga terhadap
Kesehatan
a. Penyakit keturunan
1. Interaksi antara faktor genetik (fungsi reproduksi) dan faktor
lingkungan (fungsi-fungsi keluarga lainnya).
2. Muncul dalam perkawinan (tahap awal dan siklus kehidupan
keluarga).
3. Perlu marriage counseling dan screening

b. Perkembangan bayi dan anak


Jika dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan fungsi-
fungsi yang sakit akan mengganggu perkembangan fisik dan
perilaku.
c. Penyebaran penyakit
Penyakit infeksi
Penyakit neurosis

d. Pola penyakit dan kematian


Hidup membujang atau bercerai mempengaruhi angka kesakitan
dan kematian.

e. Proses penyembuhan penyakit


Penyembuhan penyakit kronis pada anak-anak pada keluarga
dengan fungsi keluarga yang sehat lebih baik dibandingkan pada
keluarga dengan fungsi keluarga sakit
BAB III
LAPORAN
KASUS
Identitas
No. Rekam Medis : 1920/K/13
Nama : Tn. Ahmad Nung
Umur : 64 tahun
Tempat Tanggal Lahir : Palembang, 06-02-1952
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Tidak Bekerja
Status : Menikah
Alamat : Lrg. Jayalaksana No.503
Kelurahan 3-4 Ulu Kec.
Seberang Ulu I
Agama : Islam
SUBJEKTIF

Keluhan Utama

Batuk berdahak sejak satu bulan yang lalu

Keluhan
Tambahan

Berat badan menurun, tidak nafsu makan,


sering berkeringat malam hari
Riwayat Perjalanan Penyakit
mengeluh batuk kering, lama Tetangga os banyak
kelamaan menjadi batuk berdahak yang mengeluh batuk
kental warna hijau, sering
berkeringat malam hari, demam
berdahak yang lama
malam hari tidak terlalu tinggi, namun tidak ada yang
berat badan menurun dari 60 kg berobat
menjadi 42 kg dalam 3 bulan, tidak
nafsu makan Berobat ke Puskesmas
4 Ulu dan disarankan
1 Bulan sebelum
untuk pemeriksaan
ke Puskesmas
dahak hasil BTA 1+
didiagnosis TB Paru
dan diberikan
4 hari sebelum pengobatan TB selama
ke Puskesmas 6 bulan
keluhan batuk
berdahak memberat
dan mengganggu tidur,
keluhan batuk
berdarah disangkal.
Penderita belum
pernah berobat
Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan seperti ini baru pertama kali dialami
Riwayat penyakit hipertensi : tidak ada
Riwayat penyakit DM : tidak ada
Riwayat penyakit jantung : tidak ada
Riwayat penyakit ginjal : tidak ada
Riwayat penyakit kuning : tidak ada
Riwayat penyakit paru : tidak ada.
Riwayat penyakit lambung : ada
Riwayat Keluarga

Keterangan
Riwayat Higiene
Pasien mandi dua kali sehari di sungai dan
menggunakan sabun
Pasien mengganti pakaian setiap hari
Pasien menggunakan handuk dan pakaian
sendiri, tidak bercampur dengan orang lain
Riwayat Nutrisi
Pasienbiasa makan 3x sehari sebanyak
1 piring setiap kali makan. Ikan, tahu,
telur dan sayur merupakan lauk pauk
yang paling sering dikonsumsi oleh
pasien dan keluarga. Pasien terkadang
mengkonsumsi daging, ayam dan buah-
buahan dan susu.
Riwayat Sosioekonomi
Penderita adalah anak kedua dari lima
bersaudara. Pasien memiliki 5 orang anak (4
perempuan, 1 laki-laki). Pasien tinggal di daerah
kumuh dan padat penduduk, rumah pasien
berbentuk rumah panggung dengan luas rumah
kurang lebih 8m x 13m, terdapat 2 orang dalam
satu rumah. Lantai, dinding rumah dan atap
terbuat dari papan kayu, terdapat ruang tamu
yang merangkap ruang keluarga, 2 kamar tidur,
satu dapur dan satu kamar mandi yang memiliki
jamban jongkok.
Lanjutan...

Ventilasiudara kurang baik, terdapat banyak


jendela cukup besar pada rumah ini namun
tidak dibuka untuk keluar masuknya udara,
tidak ada halaman rumah dan rumah
langsung berbatasan dengan rumah
penduduk lain. Kebersihan rumah cukup baik,
sering di bersihkan oleh istri pasien. Limbah
rumah tangga di alirkan ke sungai di dekat
rumah. Tidak terdapat tempat sampah di luar
rumah dan kebersihan lingkungan luar rumah
dan sekitar sangat kurang.
Lanjutan...

Pasientidak bekerja, pendapatan didapat


dari uang kiriman anaknya. Hubungan
pasien dengan lingkungan sekitar baik.
Persepsi Tentang Diri dan
Kehidupan
Pasien cukup yakin penyakitnya dapat segera
membaik dan sembuh, kepatuhan serta
dukungan pasien dalam pengobatan dirasa
sudah sangat baik. Pasien berharap obat yang
diberikan dapat menyembuhkan penyakitnya,
sehingga ia tidak akan merepotkan
keluarganya lagi untuk merawatnya
OBJEKTIF

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

Keadaan sakit : tampak sakit ringan


Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit, reguler, i/t cukup
Pernafasan : 20 x/menit, reguler
Suhu : 37 C
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 162 cm
Status Gizi : Gizi baik
Keadaan Spesifik
Kulit
Warna sawo matang, efloresensi (-), scar (-), striae (-), ikterus
pada kulit (-), sianosis (-), spider nevi (-), pucat pada telapak
tangan dan kaki (-), eritema palmar (-), purpura (-),
pertumbuhan rambut normal, turgor baik .

KGB
Tidak ada pembesaran KGB pada daerah submandibulla,
leher, subclavicula, axilla, dan inguinal.

Kepala
Bentuk oval, simetris, ekspresi sakit ringan, deformitas (-),
rambut hitam tidak mudah dicabut
Lanjutan...

Mata
Eksophtalmus dan endopthalmus (-), edema palpebra (-),
konjungtiva palpebra pucat (-), sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek
cahaya normal, pergerakan mata ke segala arah baik.

Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam
perabaan baik, tidak ditemukan penyumbatan maupun perdarahan,
pernapasan cuping hidung (-).

Telinga
Deformitas (-), nyeri tekan processus mastoideus (-), pendengaran
baik.
Lanjutan...

Mulut
Thypoid tongue (-), tonsil tidak ada pembesaran, atrofi papil
(-), gusi berdarah (-), stomatitis (-), bau pernapasan khas (-),
faring tidak ada kelainan.

Leher
JVP (5-2) cmH2O, kaku kuduk (-), pembesaran kelenjar getah
bening tidak ada, pembesaran kelenjar tiroid tidak ada.

Dada
Bentuk dada simetris, spider nevi (-), venektasi (-), nyeri
tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-)
Lanjutan...

Paru-paru
Inspeksi : Dada simetris kanan dan kiri saat
statis dan dinamis, sela iga tidak melebar
Palpasi : Stem fremitus kanan sama
dengan kiri, nyeri tekan tidak ada
Perkusi : Sonor pada lapangan paru kanan
dan kiri, batas paru hepar pada ICS VI
Auskultasi : Vesikuler (+/+) normal, ronkhi
(+/+) di apeks, wheezing (-/-)
Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
P : batas jantung kiri atas ICS II linea
parasternalis sinistra , batas jantung kanan atas
ICS II linea sternalis dextra, batas jantung kiri
bawah ICS VI linea mid klavikula sinistra, batas
jantung kanan bawah ICS V linea sternalis dextra.
A : HR = 82 x/menit, murmur (-), gallop (-)
Lanjutan...

Abdomen
I : datar, venektasi (-), caput medusa (-), striae (-)
P : lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, nyeri tekan (+),
undulasi (-)
P : timpani, nyeri ketok (-)
A : Bising usus normal

Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan

Extremitas
Eutoni, eutrophi, gerakan bebas, kekuatan +5, nyeri sendi (-),
edema (-), jaringan parut (-), palmar pucat (-),kuku tampak pucat (-),
clubbing finger (-), koilonychia (-), purpura (-),akral hangat
Assesment

Diagnosis Kerja

Tuberkulosis Paru BTA (+)


Kasus Baru
Planning

Penatalaksanaan
Kuratif
Farmakologis
Minum OAT kategori 1 : (2HRZE/ 4H3R3)
Non Farmakologis
Diet dengan asupan yang cukup dengan
mengkonsumsi makanan tinggi protein,
seperti telor, daging, tahu, tempe.

Rehabilitatif
Kepatuhan dalam mengkonsumsi OAT,
tidak boleh sampai putus obat
Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : dubia ad bonam

Faktor yang mendukung prognosis


Adanya pengawas minum obat (PMO) dan
kepatuhan pasien minum OAT
BAB IV
PEMBAHASAN
KASUS
Analisa Kasus
Pemeriksaan
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
Penunjang

Batuk dahak bulan, BB


Auskultasi Paru :
turun, tidak nafsu makan, Cek sputum dahak SPS
sering demam dan keringat Ronchi di apeks kiri
BTA 1+, 1+, 1+
malam hari, keluhan baru dan kanan
pertama kali

Sesuai teori, gejala Sesuai teori, sifat Cek sputum SPS bila
respiratorik dan kuman aerob positif maka
gejala sistemik daerah predileksi TB menandakan TB
di apeks paru Paru, terapi dengan
OAT selama 6 bulan

TB PARU BTA (+)


KASUS BARU
Karakteristik Demografi
Keluarga
Pada Tanggal 4 Mei 2016 dan 7 Mei 2016 dilakukan kegiatan
kunjungan rumah pasien di Lrg. Jayalaksana No. 503 RT/RW
011/003 Kelurahan 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I
Palembang, pukul 13.00 WIB.

Nama Kepala Keluarga : Tn. Ahmad Nung


Alamat lengkap : Lrg. Jayalaksana No. 503 RT/RW
011/003 Kel. 3-4 Ulu
Bentuk Keluarga : Keluarga inti (Nuclear Family)
Nama Keduduka L/ Umur Pendid Pekerj
n P (tahun) ikan aan

Ahmad Kepala L 64 th Tamat -


Nung keluarga SD
Nuraini Istri P 60 th Tamat IRT
SD
Hasil Kunjungan Rumah
Kondisi Pasien
Saat kunjungan rumah pertama, keluhan batuk berdahak pada
pasien sudah berkurang, dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan
ronchi pada paru kanan dan kiri di bagian apeks.
Pekerjaan
Pasien berumur 64 tahun dan tidak bekerja lagi.

Lokasi
Rumah pasien terletak di Lrg. Jayalaksana No. 503 RT/RW
011/003 Kelurahan 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I Palembang.
Kondisi Rumah
Letak rumah pasien di lingkungan daerah kumuh, dengan
bangunan bertingkat, dan kepemilikan sendiri. Luas rumah 8m x
13m. Lantai, dinding dan atap rumah terbuat dari papan kayu
Pembagian Ruangan
Untuk pembagian ruangan rumah terdapat ruang tamu di
lantai atas yang bergabung dengan ruang keluarga, terdapat
satu kamar mandi di lantai bawah dengan bentuk jamban
jongkok, 2 kamar tidur. Jendela di rumah ini cukup banyak dan
besar namun jarang dibuka sehingga sirkulasi udara dirumah
ini kurang.

Pencahayaan
Pencahayaan dirumah ini kurang, jarak antar rumah warga
sangat dekat sehingga mengakibatkan kiri kanan bangunan
rumah ini di kelilingi oleh rumah warga pula, sehingga cahaya
matahari sulit masuk selain itu juga jendela jarang dibuka.
Sanitasi Dasar
Sumber Air Bersih
Sumber air yang digunakan untuk minum, mandi dan mencuci berasal dari
air sungai di dekat rumah
Jamban Keluarga
Pasien memiliki jamban keluarga dirumahnya (WC jongkok)
Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Limbah rumah tangga semua disalurkan ke sungai di dekat rumah. Rumah
pasien adalah rumah panggung yang di bawahnya adalah air yg digenangi
oleh sampah dan sangat kotor.
Tempat Sampah
Di luar rumah tidak terdapat tempat pembuangan sampah
Kandang
Didalam rumah ini terdapat 1 kandang ayam
Denah rumah
Identifikasi Fungsi
Keluarga
APGAR score Keluarga Tn. Ahmad Nung dinilai dari 2
anggita keluarga : (10+10) / 2 = 10

Kesimpulan : keluarganya dinilai baik (High Functional


Family)

Dapat dikatakan fungsi fisiologis dalam keluarga sehat.


Waktu untuk berkumpul dengan anggota keluarga
lainnya cukup serta komunikasi tetap terjaga. Anggota
keluarga lainnya juga siap membantu apabila salah
satu anggota keluarga mengalami masalah.
Fungsi Patologis
Berdasarkan penilaian SCREEM (fungsi patologis),
Keluarga Tn. Ahmad Nung memiliki fungsi
patologis pada indikator economic (+) yang
artinya status ekonomi keluarga ini tergolong
menengah ke bawah.Walaupun kebutuhan pimer
sudah terpenuhi, tetapi kebutuhan sekunder belum
dapat dipenuhi.

Kesimpulan :
Keluarga Tn. Ahmad Nung memiliki permasalahan
dalam bidang ekonomi
Indikator PHBS
Indikator PHBS pada keluarga hanya
dilakukan sebagian, dan ini masih
kurang. Keluarga ini kurang
menjalankan indikator menimbang
balita setiap bulan, penggunaan air
besih, pemberantasan jintik, makan
buah dan sayur setiap hari, melakukan
aktivitas fisik setiap hari, dan merokok
di dalam rumah.
Indikator 12 Keluarga
Sehat
Keluargaini sudah hampir memenuhi
semua indikator keluarga sehat. Pada
keluarga ini indikator penderita TB paru
standar, sarana air bersih, anggota
keluarga yang merokok, dan akses
dalam pelayanan kesehatan jiwa tidak
terpenuhi.
Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS), Tatanan
Rumah Tangga
Berdasarkan jumlah nilai identifikasi
PHBS pada pasien ini adalah 11 dan
masuk dalam klasifikasi Sehat III.
Keluarga masih memiliki perilaku sehat
Rencana Pembinaan
Keluarga
Edukasi Terhadap Pasien
Memberikan edukasi kepada pasien dengan
memberikan informasi dan menjelaskan tentang
penyakit yang diderita, faktor risiko, cara penularan,
gejala, dampak, faktor penyebab, cara pengobatan,
prognosis, dan risiko kekambuhan agar pasien tetap
taat meminum obat dan segera datang ke dokter bila
timbul gejala serupa dikemudian hari atau keluhan
memberat. Memberi penjelasan bahwa pengobatan
akan berlangsung lama dan tidak boleh putus obat
walaupun hanya satu hari, menjelaskan bahwa ada
efek samping obat selama dikonsumsi dan pengaturan
dosis obat hanya boleh diatur oleh dokter
Memberikan psikoterapi suportif dengan
memotivasi penderita bahwa penyakit ini
dapat disembuhkan apabila pengobatan
berjalan sesuai dengan anjuran
(kepatuhan dalam minum obat) dan
makan makanan bergizi serta tidak lupa
berdoa kepada Tuhan untuk mendapat
kesembuhan
Edukasi Terhadap Keluarga

Edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien,


kemungkinan penyebab, cara penularan, dampak,
faktor-faktor pemicu kekambuhan, dan prognosis
sehingga keluarga dapat memberikan dukungan
kepada penderita selain itu keluarga juga dapat
memeriksakan diri bila mengalami gejalan yang
sama karena penularan penyakit ini secara
droplet.
Meminta keluarga untuk selalu mengingatkan
penderita untuk kontrol rutin dan minum obat
secara teratur (PMO).
Diagnosis Kedokteran Keluarga
(Bentuk, fungsi yang terganggu, faktor-
faktor yang mempengaruhi dan
dipengaruhi).
Bentuk : Keluarga Inti (nuclear family)
Fungsi Keluarga yang Terganggu: Fungsi
Ekonomi
Fungsi yang Mempengaruhi : Faktor
lingkungan dan pola hidup
Faktor yang di pengaruhi : Tuberculosis
Paru
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Saran
Bagi Penderita dan
Bagi Puskesmas Keluarga

Diharapkan dapat lebih Menerapkan edukasi yang


sering melakukan telah diberikan oleh petugas
pendekatan kepada kesehatan agar pasien dan
masyarakat melalui edukasi keluarga dapat meningkatkan
dalam usaha promotif dan kualitas hidup dan penyakit
preventif kesehatan pasien tidak menjadi sumber
masyarakat serta lebih giat penularan bagi keluarga dan
menindaklanjuti penyakit TB tetangga sekitar
Paru dalam hal pengobatan
dan pencarian pasien di
lapangan (kunjungan ke
rumah-rumah)
TERIMA KASIH