Anda di halaman 1dari 46

REFERAT

MALARIA

Pembimbing :
dr. Prahastya, M.Sc, Sp.PD

Disusun oleh :
Agus Syaifudin
H2A012033
Definisi
Malaria adalah penyakit infeksi
parasit yang disebabkan oleh
Plasmodium yang menyerang
eritrosit dan di tandai dengan
ditemukannya bentuk aseksual di
dalam darah. Mudah dikenali dari
gejala demam (panas dingin
menggigil).
EPIDEMIOLOGI
Infeksi malaria tersebar pada lebih dari 100
negara di Benua Afrika, Asia, Amerika
(bag.selatan) dan daerah Oceania dan
kepulauan Karibia.
Di Indonesia terutama kawasan timur, dari
Kalimantan, Sulawesi, Mluku, Irian Jaya,
NTT, Timor Leste merupakan endemis
malaria P. Falciparum dan vivax.
Beberapa daerah Sumatera kasus melaria
cenderung meningkat.
Gambar Peta Distribusi Malaria
Etiologi
Malaria disebabkan protozoa plasmodium
melalui gigitan nyamuk anopheles betina,terdiri
dari 4 spesies :
Malaria falciparum: Menyebabkan malaria
falciparum (disebut juga malaria tropika)
Malaria vivax: Menyebabkan malaria tertiana
Malaria malariae: Menyebabkan malaria
quartana.
Malaria ovale: Jenis ini jarang sekali
dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan
Pasifik Barat.
Faktor Resiko

Riwayat bepergian dan bermalam dalam 1-4 minggu


di daerah malaria
Tinggal/berdomisili di daerah endemis malaria
Pernah menderita malaria
Riwayat mendapat transfusi darah
Transmisi
Infeksi dengan 2 cara yaitu alamiah melalui vektor dan
induksi melalui transfusi darah, suntikan, kongenital

Hospes malaria:
1. Hospes perantara :
Manusia
Vertebra lainnya

2. Hospes definitif:
Nyamuk Anopheles
Cara penularan :
Nyamuk Anopheles menggigit penderita
malaria dan menghisap juga parasit malaria
yang ada di dalam darah penderita.
Parasit malaria berkembang biak di dalam
tubuh nyamuk Anopheles (menjadi nyamuk
yang infektif)
Nyamuk Anopheles yang infektif menggigit
orang yang sehat (belum menderita malaria)
Sesudah +12-30 hari (bervariasi tergantung
spesies parasit) kemudian, bila daya tahan
tubuhnya tidak mampu meredam penyakit ini
maka orang sehat tsb berubah menjadi sakit
malaria dan mulai timbul gejala malaria.
Daur Hidup Parasit Malaria
Plasmodiu Plasmodiu Plasmodiu Plasmodium
m m vivax m malariae
falciparum ovale
Hipnozoit - + + -
Jumlah merozoit 40000 10000 15000 15000
Daur eritrosit 48 jam 48 jam 50 jam 72 jam
Daur dalam nyamuk 10 hari 8-9 hari 12-14 hari 26-28 hari
Daur praeritrosit 5,5 hari 8 hari 9 hari 10-15 hari
Eritrosit yang Muda ( bisa Retikulosit Retikulosit Tua
dihinggapi menyerang
eri segala
usia)
Periode Inkubasi 9-14 hari 12-17 hari ; 16-18 hari ; 18-40 hari ;
6-12 bulan dpt lbh lama dpt lbh lama
MANIFESTASI KLINIK

Gejala yang khas : trias malaria, yaitu


menggigil, panas, dan keringat yang
banyak.

Gejala dan tanda yang dapat ditemukan adalah :


1.Demam
Demam periodik berkaitan dgn saat pecahnya
skizon matang (sporulasi).
Malaria tertiana (P.vivax dan P.ovale) tiap
48 jam maka periodisitas demamnya setiap
hari ke-3
Malaria kuartana (P.malariae) pematangannya tiap 72 jam dan
periodisitas demamnya tiap 4 hari.
Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium : menggigil (15 menit
1 jam), puncak demam (2 6 jam) dan berkeringat (2 4 jam).
2. Sakit kepala
3. Mual-muntah
4. Diare
5. Nyeri otot
6. Pegal
Pemeriksaan Fisik :

1. Suhu 37,5 - 40oC


2. anemia
3. splenomegali
4. hepatomegali
5. penurunan kesadaran
6. anemia
7. ikterus
Diagnosis Laboratoris Malaria
1. Dengan mikroskop cahaya
a. Pemeriksaan hapus darah tebal
b. Pemeriksaan hapus darah tipis
2. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat
(Rapid Diagnostic Test)
3. Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat:
Darah rutin
Kimia darah lain (gula darah, serum
bilirubin, SGOT & SGPT, alkali fosfatase,
albumin/globulin, ureum, kreatinin, natrium
dan kalium, anaIisis gas darah.
EKG
Foto toraks
Diagnosis Laboratoris Malaria

Pemeriksaan tetes tebal darah tepi:


(-) = negatif tidak ditemukan parasit dalam 100 LP
(+) = positif 1 ditemukan 1-10 parasit/100 LP
(++) = positif 2 ditemukan 11-100 parasit/100 LP
(+++) = positif 3 ditemukan 1-10 parasit/1 LP
(++++) = positif 4 ditemukan > 10 parasit/ 1LP

Hapusan Tipis
Terutama untuk melihat jenis spesies
Dapat dilakukan hitung parasit
berdasarkan jumlah parasit/1000 eritrosit
Apusan darah Tebal Apusan darah tipis
Stadium-stadium dalam siklus hidup
P. falciparum :
A: Bentuk cincin (tropozoid awal).
B: Schizont matur, jarang terlihat di
sediaan apus darah perifer.
C: Gametosid, bentuk pisang.
TATALAKSANA
Lini pertama pengobatan malaria falsiparum:

Artesunat + Amodiakuin + Primakuin

Artesunat (H-1-2-3) = 4 mg/kgbb (max 4 tab)


Amodiakuin basa(H-1-2-3) = 10 mg/kgbb (max 4
tab)
Primakuin (H-3)= 0,75 mg basa/kgbb (max 3
tablet)
Primakuin tidak boleh diberiksan pada ibu hamil,
bayi < 1 tahun, penderita defisiensi G6-PD
Lini pertama pengobatan malaria falsiparum
lainnya:
Dihydroartemisin+Piperaquin+Primakuin

Kombinasi tetap (Fixed Dose Combination=FDC)


yang terdiri atas dihydroartemisinin dan
piperaquin (DHP)
Tiap 1 tablet FDC mengandung 40 mg
dihydroartemisin dan 320 mg piperaquin
Obat ini diberikan peroral selama 3 hari dengan
range dosis tunggal harian sebagai berikut:
Dosis dihydroartemisin (H-1-2-3): 2-4 mg/kgbb
Dosis Piperakuin(H-1-2-3): 16-32 mg/kgbb
Dosis primakuin (H-1) : 0,75 mg/kgbb
Lini Kedua pengobatan malaria falsiparum :

Kina+Doksisiklin/tetrasiklin+Primakuin

Kina (H-1 sd 7) : 3 kali sehari dengan dosis 10


mg/kgbb/kali
Doksisiklin (H-1 sd 7): dosis dewasa (>15 tahun)
3,5 mg/kgbb/hari (2x1)
Dosis anak (8-14 tahun) 2,2 mg/kgbb/hari (2x1)
selama 7 hari
Tetrasiklin (H-1 sd 7) : 4 mg/kgbb/kali (4x1)
Primakuin (H-1) : peroral dengan dosis tunggal
0,75 mg/kgbb
Doksisiklin dan tetrasiklin TIDAK BOLEH diberikan
pada ibu hamil dan anak usia <8 tahun
Lini Pertama pengobatan malaria vivax:

Artesunat + Amodiakuin + Primakuin

ATAU

Dihydroartemisin+Piperaquin+Primakuin

Dosis untuk malaria vivax sama dengan falciparum,


dimana perbedaannya adalah pemberian obat
primakuin selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg/kgBB.
Lini Kedua pengobatan malaria vivax:

Kombinasi ini digunakan untuk pengobatan malaria


vivax yang tidak respon terhadap pengobatan ACT

Kina + Primakuin

Kina: dosis 30mg/kgbb/hari yang diberikan 3 kali per


hari
Primakuin: dosis 0,25 mg/kgbb/hari yang diberikan
selama 14 hari
Pengobatan malaria vivax yang relaps:

Dugaan relaps pada malaria vivax adalah apabila


pemberian primakuin dosis 0,25 mg/kgbb/hari
sudah diminum 14 hari dan penderita sakit
kembali dengan parasit positif dalam kurun waktu
3 minggu sampai 3 bulan setelah pengobatan.

Pengobatan kasus malaria vivax relaps (kambuh)


diberikan lagi regimen ACT (Artemisinin
Combination Therapy) yang sama tetapi dosis
primakuin ditingkatk an menjadi 0,5
mg/kgbb/hari. Primakuin diberikan slama 14 hari.
Pengobatan malaria ovale:
Lini pertama: Artemisin Combination Therapy
(ACT) yaitu Dihydroartemisin Piperakuin (DHP)
atau Artesunat+amodiakuin. Dosis pemberian
sama dengan malaria vivax
Lini kedua: Sama dengan untuk malaria vivax

Pengobatan malaria malariae:


Pengobatan malaria malariae cukup diberikan
dengan klorokuin 1 kali per-hari selama 3 hari,
dengan dosis total 25 mg basa/kgbb.
Malaria campur P.Falciparum+P.vivax P.ovale :
Pengobatan malaria mix dengan ACT selama
3 hari serta pemberian primakuin dengan
dosis 0,25 mg/kgBB selama 14 hari.

Malaria Campur P.Falciparum+P.malariae :


Infeksi campuran antara P.falsiparum
dengan P.malariae diberika regimen ACT
selama 3 hari dan primakuin hari pertama.
Pengobatan Malaria pada wanita hamil
Umur Kehamilan Pengobatan Malaria
Falciparum
Trimester I Kina tablet
3x2+Klindamisin
2x300mg 7 hari
Trimester II
ACT tab selama 3 hari
Trimester III
ACT tab selama 3 hari

Umur Kehamilan Pengobatan Malaria Vivax


Trimester I Kina tab 3x2 7 hari

ACT tab selama 3 hari


Trimester II
ACT tab selama 3 hari
Trimester III
MALARIA BERAT
Diagnosis Malaria Berat
Ditemukan P. falciparum bentuk aseksual ditambah minimal satu
keadaan berikut :

Malaria serebral Kejang berulang


(penurunan kesadaran, Asidosis
kejang, koma) Makroskopik hemoglobinuria
Anemia berat (Hb<5 Hiperparasitemia >5% pada daerah
g/dl atau hematokrit < hipoendemis (non imun)
15) Ikterus (Bilirubin >3 mg/dl)
Hiperpireksia
Gagal ginjal akut
Kelemahan otot/gangguan neurologis
Udema paru/ARDS Diagnosis post-mortem dengan
Hipoglikemia ditemukannya parasit yg padat
Renjatan pada pembuluh darah kapiler jaringan
Perdarahan spontan otak
atau disertai KID
Pengobatan Malaria Berat
1. Tindakan umum/suportif
Oksigenisasi, cairan, nutrisi ,monitoring
2. Pengobatan simtomatik
Antipiretik
Bila kejang diberi antikonvulsan
3. Antimalaria
Derivat Artemisinin
Kina
4. Mengatasi penyulit/komplikasi
Malaria serebral
Anemia berat
Hipoglikemia
Renjatan
Gagal ginjal akut
Pengobatan Malaria Berat
1. Derivat Artemisinin
2. KINA
3. Kinidin
Bila kina tidak tersedia maka isomernya yaitu kinidin
cukup aman dan efektif.

Dosis loading 15mg basa/kg BB dalam 250 cc cairan


isotonik diberikan dalam 4 jam, diteruskan dengan
7,5mg basa/kg BB dalam 4 jam tiap 8 jam,
dilanjutkan per oral setelah sadar, kinidin efektif bila
sudah terjadi resistensi terhadap kina, kinidin lebih
toksik terhadap jantung dibandingkan kina.
4. Klorokuin
Klorokuin masih OAM yang efektif terhadap P. falciparum.
Keuntungannya tidak menyebabkan hipoglikemi dan tidak
mengganggu kehamilan.

Dosis loading : klorokuin 10 mg basa/Kg BB dalam 500 ml


cairan isotonis dalam 8 jam diulang 3 x.

Bila cara per infus tidak memungkinkan dapat diberikan


secara i.m atau subkutan dengan cara 3,5mg/Kg BB
klorokuin basa tiap 6 jam, dan 2,5 mg/Kg BB klorokuin
tiap 4 jam.4
Pengobatan Komplikasi pada malaria
1. Malaria serebral
Pemberian steroid pada malaria serebral, justru
memperpanjang lamanya koma dan menimbulkan
banyak efek samping seperti pneumoni dan
perdarahan gastro intestinal
Heparin, dextran, cyclosporine, epineprine dan
hiperimunglobulin tidak terbukti berpengaruh
dengan mortalitas.
Anti TNF, pentoxifillin, desferioxamin, prostasiklin,
asetilsistein merupakan obat-obatan yang pernah
dicoba untuk malaria serebral
Anti-Konvulsan (diazepam 10 mg i.v)
2. Pengobatan Pada Gagal Ginjal Akut
a. Cairan
Bila terjadi oliguri infus N.Salin untuk rehidrasi
sesuai perhitungan kebutuhan cairan, kalau produksi urin
< 400 ml/24 jam, diberikan furosemid 40-80 mg. bila tak
ada produksi urin (gagal ginjal) maka kebutuhan cairan
dihitung dari jumlah urin +500 ml cairan/24 jam
Protein Kebutuhan protein dibatasi 20gram/hari (bila
kreatinin meningkat) dan kebutuhan kalori diberikan
dengan diet karbohidrat 200 gram/hari
Diuretika Setelah rehidrasi bila tak ada produksi urin,
diberikan furosemid 40 mg.
b. Dopamin
Bila diuretika gagal memperbaiki fungsi ginjal
dan terjadi hipotensi, dopamin dapat diberikan dengan
dosis 2,5-5,0 ugr/kg/menit

c. Dialis dini
Bila kreatinin makin meningkat atau gagal
dengan pengobatan diuretika dialisis harus segera
dilakukan.

d. Asidosis
Asidosis (pH <7,15 ) merupakan komplikasi akhir dari
malaria berat dan sering bersamaan dengan kegagalan
fungsi ginjal. Pengobatannya dengan pemberian
bikarbonat.
3. Tindakan terhadap malaria biliosa
Penanganan malaria biliosa/malaria dengan ikterik tidak ada yang
spesifik, tindakan yang diberikan yaitu:
Pemberian kina dosis awal 20 mg/kg boleh diberikan bila 24
sebelumnya tidak memakai kina. Bila setelah 48 jam keadaan umum
belum membaik, dosis kinin diturunkan setengahnya.

Bila ikterik disebabkan karena intravaskuler hemolisis, kina


dihentikan dan diganti klorokuin dengan dosis 5mg/kg BB
Hati-hati dengan obat yang mengganggu fungsi hati seperti
parasetamol, tetrasiklin

Pada ikterik berat dapat diberikan colesteramin Bila pengobatan


malaria diberikan dengan adekuat maka penurunan bilirubin akan
terjadi dengan cepat pada hari ke 3 dapat turun lebih dri 50%
Vitamin K dapat diberikan 10 mg/hari i.v selama 3 hari untuk
memperbaiki faktor koagulasi yang tergantung vitamin K.
4. Hipoglikemia

Periksa kadar gula darah secara cepat pada setiap


penderita malaria berat. Bila kadar gula darah kurang dari
40mg% maka :
Beri 50ml dekstrose 40% i.v dianjutkan dengan
Glukosa 10% per infus 4-6 jam
Monitor gula darah tiap 4-6 jam
Bila perlu obat yang menekankan produksi insulin
seperti, glukagon atau somatostatin analog 50 mg
subkutan.
5. Penanganan black water fever (Malaria
Haemoglobinuria

Istirahan di tempat tidur, karena hemolisis


memudahkan terjadinya kegagalan jantung.
Menghentikan muntah dan sedakan.
Transfusi darah bila Hb < 6 gr% atau hitung eritrosit
< 2 juta/mm3
Kina tidak dianjurkan pada blackwater fever dengan
G-6PD defisiensi.
Monitor produksi urin, ureum dan kreatinin. Bila
ureum lebih besar 200 mg% dipertimbangkan
dialisis.
6. Penanganan Malaria Algid
Tujuan dalam penanganan malaria algid/malaria dengan
syok yaitu memperbaiki gangguan hemodinamik.

Diberikan cairan infus plasma atau NaCl 0,9% untuk


mengembalikan volume darah (1 L cairan mengandung
dekstran/plasma diberikan dalam 1jam).

Bila belum ada perbaikan tekanan darah dan denyut


jantung, di berikan lagi 1 L cairan isotonis (NaCl 0,9%).
Hipotensi biasanya berespon terhadap cairan.
Bila tak berhasil dapat dipakai dopamin dengan dosis 2-4
ampul dopamin (lamp = 200 mg) dalam 500 ml Dekstrose
5%, dengan tetesan infus mulai 1-2 meg/ kg/menit. Tetesan
sampai 5 mcg/kg/menit dopamin menyebabkan vasodilatasi
dan memperbaiki sirkulasi ginjal.
7. Penanganan Edema Paru
Edema paru merupakan komplikasi yang fatal, oleh karenanya
pada malaria berat sebaiknya dilakukan penanganan
mencegah edema paru:
Pemberian cairan dibatasi, sebaiknya menggunakan
monitoring dengan CVP. Pemberian cairan melebihi 1500
ml menyebabkan edema paru.
Bila anemi (HB<5gr%) transfusi darah diberikan perlahan-
lahan
Mengurangi beban jantung kanan dengan diuretika.
Dapat dicoba pemberian vasodilator (nitro-prussid) atau
nitro-gliserin
Perbaiki hipoksia dengan memberikan oksigen konsentrasi
tinggi.
8. Penanganan Anemia

Bila anemi kurang dari 5gr% atau hematokrit kurang dari 15%
diberikan transfusi darah whole blood atau packed cells.

9. Penanganan terhadap infeksi


sekunder/sepsis

Infeksi sekunder yang sering terjadi yaitu pneumonia


karena aspirasi, sepsis yang berasal dari infeksi paru,
infeksi saluran kencing karena pemasangan kateter.
Antibiotika yang dianjurkan sebelum diperoleh hasil
kultur ialah kombinasi ampisilin dan gentamisin, atau
sefalosporin generasi ke III.
Pengobatan Pencegahan

1. Klorokuin Basa 5 mg / kg BB / minggu


2 tablet klorokuin (250 mg klorokuin diphosphat) tiap minggu 1
minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali
2. Doksisiklin 2 mg / Kg BB / hari (diberikan setiap hari):
Tidak Iebih dari 4-6 minggu
Kontra Indikasi anak < 8 thn dan ibu hamil
3. Primakuin 15 mg (basa) perhari sampai 14 hari setelah kunjungan
PROGNOSIS

Prognosis malaria berat tergantung


kecepatan diagnosa, ketepatan &
kecepatan pengobatan.
Pada malaria berat yang tidak
ditanggulangi, maka mortalitas yang
dilaporkan pada anak-anak 15 %,
dewasa 20 %, dan pada kehamilan
meningkat sampai 50 %.