Anda di halaman 1dari 102

KESEHATAN KERJA

Retna Dwi Handari


Balai HIPERKES & KK
D.I. YOGYAKARTA
PENDAHULUAN

MENCIPTAKAN
PEKERJA YANG SEHAT
DAN PRODUKTIF
Kenaikan
Program
Survei di produktivitas
pengobatan
perkebunan 4,7% sampai
anemia
10% .
Meningkatkan
Pemanfaatan Perbaikan
produktivitas
teknik sikap badan
sebesar 10%.-
ergonomi saat bekerja
20%
Jumlah dan jenis perusahaan di
DIY th 2010
Jenis Jumlah tenaga Jumlah
perusahaan kerja perusahaan
Besar >100 421

Sedang 50-99 729

Menengah 25-49 2.721

Kecil <25
UU NO 13 TH 2003
Dalam undang -undang ini yang dimaksud dengan:
1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang
berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu
sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang
mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi
kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang
bekerja dengan menerima upah atau imbalan
dalam bentuk lain.
KESEHATAN KERJA
JOINT ILO / WHO committe, 1995 :

Adalah promosi dan pemeliharaan derajat yang setinggi


tingginya dari kesehatan fisik, mental, dan sosial dari
pekerja pada semua pekerjaan , pencegahan gangguan
kesehatan pada pekerja yang disebabkan oleh kondisi
kerjanya, perlindungan pekerja dari risiko akibat faktor-
faktor yang menganggu kesehatan, penempatan dan
pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
sesuai dengan kemampuan fisik dan psikologinya dan
sebagai kesimpulan penyesuaian pekerjaan kepada
manusia dan setiap manusia kepada pekerjaannya.
SEHAT
UU KESEHATAN, 2009

SOSIAL
FISIK

MENTAL &
SPIRITUAL

SEHAT
PRODUKTIF
OUTPUT
INPUT
WHERE
BEBAN KERJA

KAPASITAS LINGKUNGAN
KERJA KERJA
SEHAT,TANGGUNG JAWAB
BERSAMA

PERUSAHAAN

PEKERJA

PIHAK TERKAIT
Personil kesehatan kerja
Dokter perusahaan (
Permenaker No
01/1976)

Paramedis
Petugas penyelenggara perusahaan (
jasa boga (PMP No
07/1964) Dokter pemeriksa
permenaker No
kesehatan kerja 01/1979)
/Penanggung
jawab PKK. ( UU
no 1/1970 ps 8.
Permenaker No 01
/1976 dan 02 /
1980)

Petugas PPPK ( UU
no 1/1970, Ahli k3 kimia(Kepmen
Permenakertrans No No 187/1999)
15 /2008)
Tugas
1) Tugas Medis-Teknis

2) Tugas Administratif

3) Tugas Sosial & Pendidikan

4) Tugas Dalam Kepanitiaan.


Dokter perusahaan

perusahaan

Pekerja
PERATURAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
No: PER.03/MEN/1982
TENTANG
PELAYANAN KESEHATAN TENAGA KERJA

Pasal 6
-Pengurus wajib memberikan kebebasan profesional kepada dokter yang
menjalankan Pelayanan Kesehatan Kerja.
-Dokter dan tenaga kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan
Kerja, bebas memasuki tempat-tempat kerja untuk melakukan pemeriksaan-
pemeriksaan dan mendapatkan keterangan-keterangan yang diperlukan.

Pasal 8
-Dokter maupun tenaga kerja kesehatan wajib memberikan keterangan-
keterangan tentang Pelaksanaan Kesehatan Kerja kepada Pegawai
Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja jika diperlukan.
UPAYA KESEHATAN KERJA
(UU No 36 Th 2009 , tentang KESEHATAN, BAB XII, PASAL 165)
(NO.KEP.22/DJPPK/V/2008)

REHABILITATIF

KURATIF

PREVENTIF

POMOTIF
PROMOTIF
MENINGKATKAN KESEHATAN /
EDUKASI

Ditujukan kepada tenaga kerja yang sehat.


Tujuan; - meningkatkan gairah kerja
- Meningkatkan produktifitas kerja
- Meningkatkan efisiensi
UU RI N0 13 Th 2003 Tentang
Ketenagakerjaan
Pasal 79

(1) Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.
(2) Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi :

a. istirahat antara jam kerja, sekurang kurangnya setengah jam setelah bekerja
selama (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk
jam kerja;

b. istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu
atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu;

c. cuti tahunan, sekurang kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/buruh
yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus; dan
GIZI KERJA
PEMBERIAN ASI DI TEMPAT KERJA
Undang-undang No.13 tahun 2003 pasal 83

Pekerja/buruh perempuan yang anaknya


masih menyusu harus diberi
kesempatan sepatutnya untuk
menyusui anaknya jika hal itu harus
dilakukan selama waktu kerja
Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja wanita pada malam hari harus
menjaga keselamatan, kesehatan dan kesusilaan dengan memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :

Pekerja wanita tidak dalam keadaan hamil.


Pekerja wanita berumur sekurang-kurangnya 18
tahun atau sudah kawin. Menyediakan
angkutan antar jemput.
Memberi makanan dan minuman bergizi.
Memperhatikan kebiasaan setempat
Undang-undang No. 13 tahun 2003 pasal 81 :
(1) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa
haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada
pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan
kedua pada waktu haid.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan
perusahaan, atau perjanjian kerja bersama
HAMBATAN PEKERJA UNTUK
BERPARTISIPASI DALAM
PROMKES
Hambatan bahasa
Mengurangi jam istirahat
Terlalu lelah sehabis bekerja
Kekurangan fasilitas
Tidak ada waktu, terlalu sibuk
Shift kerja
FAKTOR YANG MENENTUKAN
EFEKTIFITAS, EFISIENSI
PROMOSI KESEHATAN
Mencari kelompok yang peduli
Mendengarkan tanpa membuat
asumsi/kesimpulan
Fokus pada tujuan, minat, aspirasi,
kebutuhan
Fokus pada kekuatan, SDM
Memadukan budaya, tidak mengubah.
PREVENTIF / PENCEGAHAN

Sebagai perlindungan kepada tenaga


kerja sebelum adanya proses gangguan
akibat kerja.
Prefentif bidang medis& teknis
PEMERIKSAAN KESEHATAN
PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA
DAN TRANSMIGRASI
NO : Per.02/Men/1980

Tentang : Pemeriksaan kesehatan tenaga


kerja dalam penyelenggaraan
keselamatan kerja.
PASAL 1

a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja :


pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter
sebelum seorang tenaga kerja diterima untuk
melakukan pekerjaan.

b. Pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan


kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga
kerja yang dilakukan oleh dokter.

c. Pemeriksaan kesehatan khusus adalah pemeriksaan


kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus
terhadap tenaga kerja tertentu.
PASAL 2
(1) Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja ditujukan agar tenaga
kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang setinggi-
tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai
tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan
dilakukan sehingga keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang
bersangkutan dan tenaga kerja lain-lainnya dapat dijamin.
(2) Semua perusahaan sebagaimana tersebut dalam pasal 2 ayat (20
Undang-undang No.1 tahun 1970 harus mengadakan pemeriksaan
kesehatan sebelum kerja.
(3) Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja meliputi pemeriksaan fisik
lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru (bilamana mungkin) dan
laboratorium rutin, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu.
(4)Untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu perlu dilakukan pemeriksaan
yang sesuai kebutuhan guna mencegah bahaya yang diperkirakan
timbul.
(7) Jika 3 (tiga) bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan
kesehatan oleh dokter yang dimaksud pasal 1(sub d), tidak ada
keragu-raguan maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan
sebelum bekerja
PEMERIKSAAN KESEHATAN
SEBELUM KERJA
Diadakan sebagai bagian proses seleksi, sesuai dengan
pekerjaan yang ada. (UU NO 36 Th 2009, PASAL 165(3))
Hasil : - sehat (tidak terdapat kelainan), boleh bekerja
berat/ringan/dibagian manapun
- sakit / ada kelainan : - boleh bekerja pd kondisi tertentu(kerja
ringan,/tidak
berdebu/tidak kontak bhn kimia,dll)
- ditolak : - permanen
- sementara menunggu
proses
pengobatan
(Materi 5, Pengawasan kesehatan kerja, Evaluasi dan Penunjukan Calaon Ahli K3, Depnakertrans)

Hasil :
- Fit for duty
- Fit for duty with minor correctable defect
- Fit for selected limited duty
- Unfit for duty
(Modul pelatihan K3, 2012, Pusat K3, Jakarta)
PEMERIKSAAN KESEHATAN
BERKALA
PASAL 3
(2) Semua perusahaan sebagaimana dimaksud pasal 2
ayat (2) tersebut di atas harus melakukan
pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja
sekurang-kurangnya 1 tahun sekali kecuali ditentukan
lain oleh Direktur jendral Pembinaan Hubungan
Perburuhan dan Perlindungan Tenaga Kerja.
(3) Pemeriksaan kesehatan berkala meliputi
pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani,
rontgen paru (bilamana mungkin) dan laboratorium
rutin serta pemeriksaan-pemeriksaan lain yang
dianggap perlu.
HASIL :
-sehat
-sakit : - penyakit umum
- PAK
- diduga PAK
(Materi 5, Pengawasan kesehatan kerja, Evaluasi dan Penunjukan Calaon Ahli K3, Depnakertrans)

HASIL :
-Sehat
-Perlu tindak lanjut untuk kelainan medis yang
ditemukan
-Perlu tindak lanjut dari segi pekerjaan
(Modul pelatihan K3, 2012, Pusat K3, Jakarta)
Sehat Pertahankan

Evaluasi
PHK Rotasi

Evaluasi
Kasus lain
PAK Tindak lanjut
Promosi
Pengendalian
PEMERIKSAAN KESEHATAN
KHUSUS
Kecelakaan / Penyakit yang memerlukan
perawatan lebih dari 2 minggu.

Menderita gangguan kesehatan tertentu.

Keluhan tenaga kerja/pengamatan


pengawas/masyarakat/pengamatan
pusat/balai K3.
(Modul pelatihan K3, 2012, Pusat K3, Jakarta)
PEMERIKSAAN KESEHATAN
PURNABAKTI

Dilakukan kepada tenaga kerja pada saat 3


bulan sebelum tenaga kerja memasuki
masa pensiun.
(Kesehatan kerja, 2012,Pusak K3, Jakarta)
Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan
Pekerja
Dilaksananan :
Di tempat kerja
Di luar perusahaan dg kerjasama dengan
perusahaan jasa pemeriksaan/pengujian/
pelayanan kesehatan kerja yang telah
mendapat pengesahan sesuai
permenaker no.04/Men/1995
(UU NO 36 TH 2009 TENTANG KESEHATAN PASAL 164)

MASYARAKAT UMUM
DAN MASYARAKAT DI
SEKITAR TEMPAT USAHA

FORMAL & NON FORMAL


Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan
berkala/ khusus, Dirjen HI dapat menunjuk
beberapa badan sebagai penyelenggara
yang membantu perusahaan yang tidak
mampu melakukan pemeriksaan kesehatan
sendiri.
APBD, APBN.

Kementrian kesehatan :
Puskesmas
Program pemerintah
pemeriksaan kesehatan pekerja
sektor UMKM

k3
Pelayanan Kuratif :
diberikan kepada tenaga kerja yang sudah memperlihatkan
gangguan kesehatan gejala dini
-mengobati penyakitnya, supaya
-cepat sembuh
-mencegah komplikasi
-penularan terhadap keluarga maupun teman kerjanya.

Pada tenaga kerja yang sudah menderita sakit, diberikan untuk


-menghentikan proses penyakit
-mempercepat masa istirahat kerja
-mencegah terjadinya cacat atau
-kematian
Pelayanan yang diberikan meliputi pengobatan terhadap penyakit
parah atau kecelakaan kerja.
UPAYA KESEHATAN YANG BERSIFAT
KURATIF DAN REHABILITATIF minimal
berupa pelayanan kesehatan kerja yang
bersifat dasar.
(NO.KEP.22/DJPPK/5/2008)
TUGAS POKOK PELAYANAN
KESEHATAN KERJA
2No: PER.03/MEN/1982 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN TENAGA KERJA PASAL

Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan


pemeriksaan khusus.
Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga
kerja.
Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitair.
Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja.
Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat
kerja.
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Pendidikan Kesehatan untuk tenaga kerja dan latihan untuk petugas
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta
penyelenggaraan makanan di tempat kerja.
Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai
kelainan tertentu dalam kesehatannya.
Memberikan laporan berkala tentang Pelayanan Kesehatan Kerja kepada
pengurus.
Obyek Pengawasan Kesehatan Kerja oleh Pengawas ketenagakerjaan

PENYELENGGARAAN PELAYANAN
(SARANA, TENAGA, ORGANISASI)
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN
KESEHATAN
PELAKSANAAN PPPK
PELAKSANAAN GIZI KERJA
PELAKSANAAN PEMERIKSANAAN
SYARAT-SYARAT ERGONOMI
oleh Pengawas ketenagakerjaan
Obyek Pengawasan Kesehatan Kerja

(modul 5, Pengawasan kesehatan kerja, depnakertrans R.I),

PELAKSANAAN PELAPORAN.
(KESEHATAN KERJA, 2012, PUSAT K3, JAKARTA)
PENYELENGGARAAN
PELAYANAN KESEHATAN KERJA
MEDIS

KEPANITIAAN TEKNIS

TUGAS

SOSIAL
ADMINISTRATIF
PENDIDIKAN
Pelaksanaan pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja
Dilaksananan :
Di tempat kerja/ pel.kesehatan pd
perusahaan tsb
Di luar perusahaan dg kerjasama dengan
perusahaan jasa pemeriksaan/pengujian/
pelayanan kesehatan kerja yang telah
mendapat pengesahan sesuai
permenaker no.04/Men/1995
PELAKSANAAN PPPK/P3K
PERMENAKERTRANS NOMOR : PER
15/MEN/VIII/2008
TENTANG P3K DI TEMPAT KERJA
Petugas : TK ditunjuk, tugas tambahan
untuk melaksanakan P3k. Nama & lokasi
P3k dipasang di tempat yang mudah dilihat,
memakai tanda khusus.
Kotak : mudah dibawa, warna dasar putih,
lambang hijau.
Kesiapan P3K
(Modul Kesehatan kerja, 2012, Jakarta : Pusat K3)

Penolong : petugas
Sarana : kotak P3K, alat angkut, isi kotak,
kotak khusus dokter, transportasi,
peralatan darurat pada pabrik seperti kran
air, APD.
Pedoman tindakan : buku petunjuk
Pelayanan Rehabilitatif
(Pemulihan) :
Pelayanan ini diberikan pada tenaga kerja yang
karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang
telah mengakibatkan cacat permanen.

Kegiatan ini meliputi ;


Latihan & pendidikan pekerja untuk dapat
menggunakan kemampuannya yang masih ada secara
maksimal.
Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat secara
selektif sesuai kemampuannya.
Penyuluhan pada masyarakat dan pengasuh agar mau
menerima dan menggunakan tenaga tersebut.
Target :
Cacat minimal
Sisa kemampuan makasimal
Bisa kembali bekerja .
(Modul Kesehatan kerja, 2012, Jakarta : Pusat K3)
Rehabilitasi
(Modul Kesehatan kerja, 2012, Jakarta : Pusat K3)

Medis Kerja

Psikososial
Rehabilitasi
(Modul Kesehatan kerja, 2012, Jakarta : Pusat K3)

Perusahaan

Jasa
Tenaga kerja
rehabiitasi

Serikat
Koordinator
pekerja

Dokter
perusahaan
PENCEGAHAN TERHADAP
PENYAKIT UMUM DAN AKIBAT
KERJA/AKIBAT HUBUNGAN
KERJA
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1993
TENTANG
PENYAKIT YANG TIMBUL KARENA HUBUNGAN KERJA

ADALAH PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PEKERJAAN ATAU


LINGKUNGAN KERJA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR :


PER.01/MEN/1981
TENTANG
KEWAJIBAN MELAPOR PENYAKIT AKIBAT KERJA
PENYAKIT AKIBAT KERJA ADALAH SETIAP PENYAKIT YANG DISEBABKAN
OLEH PEKERJAAN ATAU LINGKUNGAN KERJA.
P.A.K WORK RELATED DISEASE NON-PAK

FAKTOR PEKERJAAN

BUKAN FAKTOR PEKERJAAN

HSE Gathering 62
PAK
OCCUPATIONAL
DISEASES
PAHK
WORK
TENAGA KERJA RELATED
DISEASES

GENERAL
DISEASES
Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22
tahun 1993
Tentang Penyakit Akibat Hubungan Kerja
1. Pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan
parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkulosis yang
silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian
2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronchopulmoner) yang disebabkan
debu logam keras.
3. Penyakit paru dan saluran pernafasan( bronchopulmoner) yang disebabkan
olehdebu kapas, vlas, hennep dan sisal (bissinosis)
4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyakit sensitisasi dan zat
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan
5. Alveolitis alergica yang disebabkan faktor dari luar sebagai akibat
penghirupan debu organik
6. Penyakit yang disebabkan oleh birilium atau persenyawaan nya yang
beracun
7. Penyakit yang disebabkan oleh cadmium atau persenyawaan nya yang
beracun
8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaan nya yang beracun
9. Penyakit yang disebabkan oleh kroom atau persenyawaan nya yang beracun
10. Penyakit yang disebabkan oleh Mangaan atau persenyawaan nya yang
beracun
11. Penyakit yang disebabkan oleh Arsen atau persenyawaan nya
yang beracun
12. Penyakit yang disebabkan oleh Air raksa atau persenyawaan nya
yang beracun
13. Penyakit yang disebabkan oleh Timbal atau persenyawaan nya
yang beracun
14. Penyakit yang disebabkan oleh Fluor atau persenyawaan nya
yang beracun
15. Penyakit yang disebabkan oleh Karbon disulfida
16. Penyakit yang disebabkan oleh derifat Halogen dari
persenyawaan hidrokarbon alifatik, atau aromatik yang beracun
17. Penyakit yang disebabkan oleh Benzene atau homolognya yang
beracun
18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat Nitro dan Amina dari
Benzene atau homolognya yang beracun
19. Penyakit yang disebabkan oleh Nitrogliserin atau Ester asam
nitrat lainnya
20. Penyakit yang disebabkan oleh Alkohol, Glikon dan Keton
21. Penyakit yang disebabkan oleh Gas atau Uap penyebab asfiksia
atau keracunan seperti: Karbonmonoksida, hidrogensianida,
hidrogensulfida atau derivatnya yang beracun, amonik seng,
braso dan nikel.
22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan
23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan2 otot,
urat, tulang, persendian, pembuluh darah tepi, saraf tepi)
24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang
bertekanan lebih
25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi yang meng ion
26. Penyakit yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau
biologis
27. Kanker kulit, epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic,
bitumen, minyak mineral, antrasena atau persenyawaan produk
atau residu dari zat tersebut
28. Kanker paru (mesothelioma) yang disebabkan oleh asbes
29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit
yang didapat dari suatu pekerjaan yang memiliki resiko
kontaminasi khusus
30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau
panas radiasi atau kelembaban udara tinggi
31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk
bahan obat.
Pencegahan Terhadap Penyakit Umum &
PAK ( Penyakit Akibat Kerja)
Pedoman (Leaflet) tentang pentingnya memelihara Kesehatan,
Pengetahuan tentang Penyakit Akibat Kerja. (PAK) & masalah-
masalah yang berkaitan dengan K3.
Pemasangan Poster2 tentang Kesehatan Kerja & Tanda-tanda
Peringatan di Board.
Komitmen Management harus tinggi
Keterlibatan Petugas / Managemant Secara Menyeluruh dari
segala lapisan.
Pendidikan dan latihan yang berkesinambungan tentang P3K
bagi Kader Pekerja.
Pengendalian dengan Monitoring Factor-Faktor (hazard ) bahaya
di Lingkungan Kerja.
Higiene dan Sanitasi Perorangan TK dan Lingkungan Kerja agar
tetap bersih dan nyaman.
PAK MUDAH DICEGAH
Tk terikat peraturan
1/3 waktu dihabiskan di tempat kerja
Bisa dimonitor tiap hari
Hazard mudah dikenali&dikendalikan
Kendala
1.Pelayanan kesehatan kerja masih
dianggap sebagai klinik perusahaan yang
sekedar hanya berfungsi kuratif
2.Pemahaman dan kesadaran pimpinan
perusahaan & karyawan akan manfaat
kesehatan kerja masih sangat kurang,
khususnya sektor UMKM
3.Kedudukan organisasi kesehatan di
perusahaan belum maksimal
Lanjutan Kendala
4. banyak dokter yang hanya bekerja part
timer sehingga kesulitan mengembangkan
kemampuannya
5.Pengurus perusahaan masih banyak
yang menganggap bahwa biaya yang
dikeluarkan dikategorikan sbg pos rugi
Lanjutan Kendala
6.Pengusaha mengatakan :tenaga kerja
sudah diberikan APD tapi mereka enggan
memakainya, Prosedur keselamatan kerja
sudah diedukasikan namun pekerja tidak
mengindahkan
Kecelakaan Kerja di DIY
Tahun Kasus
2006 244
2007 229
2008 198
2009 111
2010 120
2011 23
2012 25
Meningkatnya jumlah Meningkatnya jumlah
perusahaan yang perusahaan dengan
diaudit SMK3 zero accident
INDONESIA
BERBUDAYA K3
TAHUN 2015
FURTHER INFORMATION....
1. KODE ETIK SPESIALIS KEDOKTERAN KERJA.
2. PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS
KECELAKAAN KERJA&PAK
(KEPMENAKERTRANS RI NO 609 TH 2012).
3. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN PENILAIAN
CACAT KARENA PAK/KECELAKAAN KERJA
(DEWAN K3 NASIONAL, 2009).
4. Permenaker 15/Men/2008 tentang Pelatihan
Pertolongan Pertama pada kecelakaan di
Tempat Kerja
FURTHER INFORMATION....
5. Permenakertrans No
PER.08/MEN/VII/2010 tentang APD.
6. Pedoman Pelatihan Kader KK, Dirjen
Bina Kk, Kemenkes, 2011.
Challenges...
1. Hubungan gambaran rontgen thorax
dengan hasil spirometri tenaga kerja
pada pemeriksaan awal calon tenaga
kerja.
2. Survey jangka waktu timbulnya gangguan
pernafasan kronis pada tenaga kerja
yang terpapar debu.
3. Hubungan anemia , shift kerja malam,
pekerja laki-laki
Pelaporan PAK
Pelaporan dan Keterangan
Dalam Pelayanan Kesehatan Kerja

Pengurus Perusahaan :
Menyampaikan laporan pelaksanaan PKK
disampaikan kepada Dinas Tenaga Kerja
setempat dengan tembusan Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi up. Direktur
Pengawasan Norma K3.

Dokter dan Tenaga Kesehatan :


Memberikan keterangan-keterangan tentang
Pelaksanaan Kesehatan Kerja kepada
Pegawai Pengawas Keselamatan dan
Kesehatan Kerja jika diperlukan
Pelaporan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja

Jenis Pelaporan meliputi :


1) Jumlah kunjungan pasien yang berobat, terdiri dari :
Kunjungan baru
Kunjungan lama (ulangan)
Diagnosa penyakit
Penyakit akibat kerja atau penyakit yang diduga disebabkan oleh
pekerjaan
2) Data kecelakaan kerja
3) Laporan hasil pemeriksaan kesehatan tenaga kerja
Pemeriksaan kesehatan awal
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan kesehatan khusus
3) Laporan hasil pemantauan/pengukuran lingkungan kerja
4) Hasil kegiatan kesehatan kerja lainnya