Anda di halaman 1dari 37

Sistem Tata Guna Lahan dan

Transportasi
Tata Guna Lahan

Silvanus Nohan Rudrokasworo


Laboratorium Transportasi UI
Gedung DepartemenTeknik Sipil lt. 4
Fakultas Teknik
Kampus Baru Universitas Indonesia , Depok 16424
Telp./Fax : +62 21 786 29 62
E-mail : silvanus.nohan@yahoo.co.id
Definisi
Tata Guna Lahan
lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah
untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi
pemukiman, perdagangan, industri, dll.

Transportasi
Proses perpindahan barang/jasa dari lokasi asal menuju lokasi
tujuan dengan tujuan tertentu, menggunakan moda tertentu, dan
memilih rute tertentu.
Hubungan

Lingkup Wilayah
Sistem Transportasi

Sistem Tata
Transportasi Transportasi
Guna Lahan Pribadi Umum
Faktor Pengaruh - Transportasi
Kondisi lahan (luas, topografi)
Kondisi penduduk (jumlah, mata pencaharian)
dsb.

Pelayanan Angkutan
Transportasi?
Kondisi Lahan Vs Transportasi
Berdasarkan luasan
Jika luasan lahan semakin kecil maka pola pergerakan masyarakat
relatif lebih sedikit daripada pola pergerakan masyarakat yang
memiliki luasan lahan lebih besar.

Berdasarkan topografi
Wilayah yang memiliki topografi homogen akan cenderung
memiliki lebih banyak kemungkinan moda transportasi
dibandingkan dengan wilayah yang memiliki topografi bervariasi.
Kondisi Penduduk Vs Transportasi
Berdasarkan jumlah
Semakin banyak jumlah penduduk di suatu wilayah maka
kebutuhan transportasi akan lebih besar dibanding dengan wilayah
dengan jumlah penduduk sedikit.

Berdasarkan mata pencaharian


Jenis mata pencaharian akan mempengaruhi kebiasaan mobilisasi
masyarakat sehingga akan mempengaruhi disain kebutuhan
transportasi di wilayah tersebut.
Faktor Pengaruh Lahan
Kondisi pelayanan transportasi publik (ketersediaan moda ,
jangkauan pelayanan)
Kondisi penduduk (jumlah, mata pencaharian)
dsb.

Perubahan Tata Guna


Lahan?
Kondisi Transportasi Vs Lahan
Berdasarkan ketersediaan moda
Wilayah dengan moda angkutan yang lebih banyak memiliki nilai
guna lahan, paling tidak secara ekonomi. Dengan demikian,
kegiatan masyarakat akan menyesuaikan dengan kondisi
transportasi yang ada.

Berdasarkan jangkauan pelayanan


Semakin besar jangkauan pelayanan transportasi di suatu wilayah
maka wilayah tersebut masuk ke dalam satu kawasan besar
masyarakat, seperti Megapolitan Jabodetabek.
Kondisi Penduduk Vs Lahan
Berdasarkan jumlah
Semakin banyak jumlah penduduk di suatu wilayah maka kegiatan
masyarakat akan lebih bervariasi sehingga peruntukan lahan akan
bervariasi pula.

Berdasarkan mata pencaharian


Semakin bervariasi mata pencaharian penduduk, maka peruntukan
lahan akan bervariasi pula
690000 695000 700000 705000 710000 715000

Land Use/Cover of
9325000

9325000
the Core Zone of
Jabotabek
(JakartaLahan
Peta Penutupan City)
DKI Jakarta Tahun 1972
1972
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
KETERANGAN
9305000

9305000
Lake
DANAU
Public Facilities
FASILITAS UMUM
Open areas
LAHAN TERBUKA
Settlements
PERMUKIMAN
Swamp/ponds
RAWA/TAMBAK/LAUT
Paddy Field
SAWAH
9300000

9300000
Other greenery
VEGETASI
9295000

9295000
690000 695000 700000 705000 710000 715000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

Land Use/Cover of the


9325000

9325000
Core Zone of Jabotabek
(Jakarta City)
1983
Peta Penutupan Lahan
DKI Jakarta Tahun 1983
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
KETERANGAN
9305000

9305000
Lake
DANAU
Public Facilities
FASILITAS UMUM
Open areas
LAHAN TERBUKA
Settlements
RAWA/TAMBAK/LAUT
Swamp/ponds
SAWAH
Paddy Field
URBAN
9300000

9300000
Other greenery
VEGETASI
9295000

690000 695000 700000 705000 710000 715000


9295000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

Land Use/Cover of the


9325000

9325000
Core Zone of Jabotabek
(Jakarta City)
1988
Peta Penutupan Lahan
DKI Jakarta Tahun 1998
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
KETERANGAN
9305000

9305000
Lake
AIR/SUNGAI
Public Facilities
FASILITAS UMUM
Open areas
LAHAN TERBUKA
Settlements
PERMUKIMAN
Swamp/ponds
RAWA/TAMBAK/LAUT
Paddy Field
SAWAH
9300000

9300000
Other greenery
VEGETASI
9295000

690000 695000 700000 705000 710000 715000


9295000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

Land Use/Cover of the


9325000

9325000
Core Zone of Jabotabek
(Jakarta City)
1993
Peta Penutupan Lahan
DKI Jakarta Tahun 1993
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
KETERANGAN
9305000

9305000
Lake
AIR/SUNGAI
Public Facilities
FASILITAS UMUM
Open
LAHAN areasTERBUKA
Settlements
PERMUKIMAN
Swamp/ponds
RAWA/TAMBAK/LAUT
Paddy
SAWAH Field
9300000

9300000
Other greenery
VEGETASI
9295000

690000 695000 700000 705000 710000 715000


9295000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

Land Use/Cover of the


9325000

9325000
Core Zone of Jabotabek
(Jakarta City)
2002
Peta Penutupan Lahan
DKI Jakarta Tahun 2002
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
KETERANGAN
9305000

9305000
Lake
AIR/SUNGAI
Public Facilities
FASILITAS UMUM
Open areas
LAHAN TERBUKA
Settlements
PERMUKIMAN
Swamp/ponds
RAWA/TAMBAK/LAUT
Paddy Field
SAWAH
9300000

9300000
Other greenery
VEGETASI
9295000

690000 695000 700000 705000 710000 715000


9295000
9325000 690000 695000 700000 705000 710000 715000

9325000
Peta Penutupan Lahan
DKI Jakarta Tahun 1972
Jakartas Land Use/Cover Changes 1972-2002
9320000

9320000
9315000

9315000
2000 0 2000 Meters
9310000

9310000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

9325000

9325000
KETERANGAN
9305000

9305000
DANAU
FASILITAS UMUM
LAHAN TERBUKA
PERMUKIMAN Peta Penutupan Lahan
RAWA/TAMBAK/LAUT DKI Jakarta Tahun 1983
9320000

9320000
SAWAH
9300000

9300000
VEGETASI

1972
9315000

9315000
9295000

9295000
2000 0 2000 Meters
690000 695000 700000 705000 710000 715000
9310000

9310000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

KETERANGAN
9305000

9305000
DANAU

9325000

9325000
FASILITAS UMUM
LAHAN TERBUKA
RAWA/TAMBAK/LAUT
SAWAH Peta Penutupan Lahan
URBAN
DKI Jakarta Tahun 1993
9300000

9300000
VEGETASI

9320000

9320000
1983
9295000

9295000
9315000

9315000
690000 695000 700000 705000 710000 715000
9310000 2000 0 2000 Meters

9310000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

9325000

9325000
KETERANGAN
9305000

9305000
AIR/SUNGAI
FASILITAS UMUM
LAHAN TERBUKA
PERMUKIMAN Peta Penutupan Lahan
RAWA/TAMBAK/LAUT DKI Jakarta Tahun 1998

9320000

9320000
SAWAH
9300000

9300000
VEGETASI

1993

9315000

9315000
9295000

9295000
The Jakarta City has
2000 0 2000 Meters
690000 695000 700000 705000 710000 715000

9310000

9310000
690000 695000 700000 705000 710000 715000

9325000

9325000
significant losses on:
KETERANGAN
9305000

9305000
AIR/SUNGAI
FASILITAS UMUM
LAHAN TERBUKA Peta Penutupan Lahan
PERMUKIMAN DKI Jakarta Tahun 2002

9320000

9320000
RAWA/TAMBAK/LAUT
SAWAH
9300000

9300000
VEGETASI

Greenery Areas, 1998

9315000

9315000
9295000

9295000
2000 0 2000 Meters

690000 695000 700000 705000 710000 715000

9310000

9310000
functions of water recharge areas, KETERANGAN

9305000

9305000
AIR/SUNGAI
FASILITAS UMUM
LAHAN TERBUKA
PERMUKIMAN
RAWA/TAMBAK/LAUT

small lakes/ponds areas, etc


SAWAH

9300000

9300000
VEGETASI

9295000 2002

9295000
690000 695000 700000 705000 710000 715000
Tugas Kelompok
Carilah peta wilayah!
Petakan tata guna lahan wilayah tersebut!

Pemukiman
Kawasan industri
Perkantoran
Pusat perbelanjaan (pertokoan)
Fasilitas sosial (pendidikan, kesehatan, dll)
Fasilutas umum (terminal, halte, stasiun, bank, dll)
Sistem Tata Guna Lahan dan
Transportasi
Transportasi

Silvanus Nohan Rudrokasworo


Laboratorium Transportasi UI
Gedung DepartemenTeknik Sipil lt. 4
Fakultas Teknik
Kampus Baru Universitas Indonesia , Depok 16424
Telp./Fax : +62 21 786 29 62
E-mail : silvanus.nohan@yahoo.co.id
REGULASI
Beberapa substansi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Angkutan
Umum Jalan Raya

UU LLAJ

Jaringan Jaringan Angkutan Pengelolaan/


Terminal Angkutan
Transportasi (Lalu Umum berbasis Kelembagaan
Lintas) Umum Jalan raya
jalan raya Angkutan Umum
Klasifikasi Jalan
Berdasarkan status kewenangan pembinaan jalan
Jalan Nasional
Jalan Provinsi
Jalan Kabupaten/Kota

UU 38/2004 tentang
Jalan
Klasifikasi Jalan
Berdasarkan fungsi jalan (primer dan sekunder)
Jalan Arteri (penghubung pusat kegiatan , antar provinsi)
Jalan Kolektor (penghubung pusat kegiatan, antar kabupaten
dalam provinsi)
Jalan Lokal (pusat kegiatan menuju pemukiman)
Jalan Lingkungan (jalan di dalam pemukiman)

UU 38/2004 tentang
Jalan
Persyaratan berdasar Fungsi Jalan
Klasifikasi Jalan - Fungsi
Jalan arteri adalah jalan yang melayani angkutan utama dengan
ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan
jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien. Jalan arteri dibagi
menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :
jalan arteri primer adalah jalan yang menghubungkan secara
berdaya guna antarpusat kegiatan nasional atau antara pusat
kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah; dan
jalan arteri sekunder adalah jalan yang menghubungkan
kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan
sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu, atau
kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
Klasifikasi Jalan - Fungsi
Jalan kolektor adalah jalan yang melayani angkutan
pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang,
kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.
Jalan kolektor dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :
jalan kolektor primer adalah jalan yang menghubungkan
secara berdaya guna antara pusat kegiatan nasional dengan
pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan wilayah, atau antara
pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal; dan
jalan kolektor sekunder adalah jalan yang menghubungkan
kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua
atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder
ketiga.
Klasifikasi Jalan - Fungsi
Jalan lokal adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-
ciri perjalanan jarakdekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah
jalan masuk tidak dibatasi. Jalan local dibagi menjadi 2 (dua) bagian,
yaitu :
jalan lokal primer adalah jalan yang menghubungkan secara
berdaya guna pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan
lingkungan, pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan
lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau pusat kegiatan lokal
dengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat kegiatan
lingkungan; dan
jalan lokal sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan
sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua
dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya
sampai ke perumahan.
Klasifikasi Jalan - Fungsi
Jalan lingkungan adalah jalan yang berada di lingkungan pusat
kegiatan, seperti pemukiman. Jalan lingkungan dibagi menjadi 2
(dua), yaitu :
jalan lingkungan primer adalah jalan yang menghubungkan
antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di
dalam lingkungan kawasan perdesaan; dan
jalan lingkungan sekunder adalah jalan yang menghubungkan
antarpersil dalam kawasan perkotaan.
Persyaratan berdasar Kelas Jalan
Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan
jalan untuk menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam
muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton.
Jaringan Jalan dan Modelnya
Node (titik simpul) : biasanya berupa simpang
Link (ruas) : penghubung node (titik simpul)
Jaringan jalan : kumpulan link (ruas)

Jaringan jalan tersebut memiliki model model yang sesuai dengan


perencanaan awal atau sesuai dengan alam.

Kawasan perkotaan mempunyai konsentrasi populasi dan intensitas tata


guna tanah yang tinggi. Tata guna tanah digunakan untuk perkantoran,
pertokoan, industri, perumahan dan sekolah dan lain-lain. Kebutuhan akan
akses tinggi sehubungan konsentrasi penduduk yang tinggi. Dasar bentuk
(model) jaringan jalan yang dikembangkan dalam kawasan di daerah
perkotaan yaitu : kisi kisi (grid), linier radial, dan ring radial.
Model Jaringan Jalan : Kisi (Grid)
Model Jaringan Jalan : Linier
Model Jaringan Jalan

o
Moda Angkutan
Angkutan Utama
Contohnya : BRT (bus rapid transit), LRT (light rapid transit), MRT
(mass rapid transit)

Angkutan Pengumpan
Contoh : feeder busway, angkot
KLASIFIKASI ANGKUTAN UMUM

Berdasarkan Right of Way


Kategori A : Jalur eksklusif/terpisah (bebas hambatan)

Kategori B : Jalur eksklusif/terpisah Kategori C : Jalur bercampur


KLASIFIKASI ANGKUTAN UMUM (Lanjut...)
Berdasarkan Teknologi Moda
S
I
S
T
E
M
Terbuka O
Tertutup
P
E
R
A
S
I
Opsi Operator : Tunggal/Banyak
Area / sub-area Rute atau koridor

Operator Tunggal
(dapat berupa
konsorsium)

Banyak operator

VIII-36
HALTE AND TERMINAL
Minimalkan jarak berjalan kaki, perbedaan level
Tempatkan pada lokasi yang strategis tanpa harus mengulang
rute
Fasilitas harus aman, dan terlindungi)