Anda di halaman 1dari 26

Oleh Cut Nabela Maracilu

Sepsis, sindroma sepsis maupun syok septik


merupakan salah satu penyebab kematian yang
tersering di rumah sakit
SEPSIS kondisi dimana terjadi sindrom
respon peradangan sistemik (systemic
inflammatory response syndrome) yang dapat
disebabkan oleh invansi bakteri, virus, jamur
atau parasit

Efek yang sangat berbahaya dari sepsis adalah


terjadinya kerusakan organ dan dalam fase lanjut
kerusakannya akan melibatkan lebih dari satu
organ.
Komplikasi-komplikasi yang terjadi berhubungan
dengan tipe dari infeksi awal dan keparahan dari
sepsis
Ciri-ciri Sepsis :
Sepsis komplit
Patologi anatominya meliputi : splenitis, limfadenitis,
degenerasi organ parenkim (hati, ginjal, jantung dan
limpa), diare provus, perdarahan semua organ
Sepsis non-komplit
Apabila tanda sepsis yang ditemukan tidak
menunjukan semua tanda sepsis complet, maka
kejadian sepsis yang terjadi merupakan sepsis
incomplete
TINGKATAN SEPSIS
Klasifikasi berdasarkan sumber Infeksi
Jenis Sepsis Sumber Infeksi
MRSA Sepsis Sepsis yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus yang resisten terhadap methicillin
VRE Sepsis Sepsis yang disebabkan oleh jenis bakteri Enterococcus
yang resisten terhadap vancomycin
Urosepsis Sepsis yang berasal dari infeksi saluran kencing

Wound Sepsis Sepsis yang berasal dari infeksi luka

Neonatal Sepsis Sepsis yang terjadi pada bayi baru lahir (biasanya 4
minggu setelah kelahiran)
Sepsis Abortion Aborsi yang disebabkan oleh infeksi dengan sepsis pada
ibu
Di USA, sepsis adalah penyakit penyebab kematian kedua dalam pasien
serangan jantung di ICU, dan masuk dalam 10 besar yang menyebabkan
kematian dari keseluruhan penyakit berdasarkan data dari Centers for
Disease Control and Prevention
penyebab kematian utama pasien ICU secara umum, dengan rata-rata
kematian 20% untuk sepsis, 40% untuk sepsis berat, dan >60% untuk syok
sepsis.
Angka sepsis neonatorum meningkat secara bermakna pada bayi yang berat
badan lahir rendah dan bila ada faktor resiko ibu (obstetrik) atau tanda-
tanda korioamnionitis, seperti ketuban pecah lama (> 18 jam), demam
intrapartum ibu (> 37,5oC), leukositosis ibu (>18.000), pelunakan uterus dan
takikardia janin (>180 kali/menit).
ETIOLOGI
Mayoritas kasus sepsis disebabkan oleh infeksi bakteri, beberapa
disebabkan oleh infeksi jamur, dan sangat jarang disebabkan oleh
penyebab lain (virus dan protozoa)

Penyebab paling umum :


G - : E. Coli, klebsiella spp, seratia spp, enterobacter spp,
proteus spp.
P.Aeroginosa tersering fatal
G + : Staphylococcus aureus, S epidermidis, S pneumoniae,
Coagulase negative staphylococci, enterococci. Candida
albicans penyebab utama sepsis di rumah sakit.
FAKTOR RESIKO
jenis kelamin laki-laki,
Gangguan imun didapat atau kongenital
galaktosemia (Escherichia coli),
pemberian suntikan intramuskular (Escherichia
coli),
anomali kongenital (saluran kencing asplenia,
myelomeningokel, saluran sinus),
amfalitis dan kembar (terutama kembar dua dari
janin yang terinfeksi)
prematuritas
Infeksi oleh agen infeksius

Respon eliminasi agen infeksius oleh limpa dan hati

Aktivasi sel mononuklear fagosit

Menarik sitokin

Aktivasi sel terus-menerus

Kerja limpa dan hati melebihi kapasitas

Timbul splenitis dan hepatitis (ditandai dengan terbentuknya multifokal


nekrosa milier)
Proses aktivasi mediator-mediator inflamasi
oleh agen infeksi sepsis
Gejala dan tanda klinis
Dikatakan atau dicurigai menderita sepsis bila
terdapat gejala dan tanda minimal dua dari
kriteria berikut ini :
denyut jantung meningkat (tachycardia) saat
istirahat
demam atau hipotermia
RR meningkat
WBC abnormal
Kadang mual dan muntah
Garis-garis merah atau alur-alur merah pada
kulit (tidak seluruhnya terjadi)
SIRS SEPSIS SEVERE SEPSIS SEPTIC SHOCK
denyut jantung kultur, adanya disfungsi refraktori pada
>90 detak per pemeriksaan organ, arteri
menit waktu warna, atau PCR Adanya menyebabkan
istirahat (Polymerase hipoperfusi dan hipotensi atau
temperatur tubuh Chain Reaction), hipotensi hipoperfusi
tinggi (>100.4F pemeriksaan kadar laktat
atau 38o C) atau WBCs di dalam serum > 4
hipotermia cairan normal mmol/dL
(<96.8F atau 36o tubuh, Oliguria
C) rontgen Adanya
RR >20 napas abdominal yang gangguan
per menit atau abnormal atau mental
PaCO2 <32 mm CT scan,
Hg (4,3 kPa) rontgen dada
WBC (>12000 abnormal (CXR)
sel/L atau <4000
sel/L atau >10%
bands
TATA LAKSANA TERAPI
SEPSIS
Eliminasi Sumber Infeksi
Dukungan Hemodinamik
Resusistasi
Antibiotika
Terapi Suportif
TUJUAN TERAPI SEPSIS :

Menetapkan pathogen
Eliminasi sumber infeksi

Inisiasi awal dari terapi antimikrobial yang


agresif
Menghentikan kemungkinan terjadinya shok
sepsis
Menghindari kegagalan organ
Tujuan : memberikan oksigenasi dan substrat yang
adekuat ke dalam jaringan terutama pada keadaan
syok
- Vasopressor/ inotropik dan Transfusi bila diperlukan
- Target : CVP 8-12 mmHg, MAP > 65 mmHg, urine
output > 0,5 ml/KgBB/jam atau >30 ml/jam
Terutama pada pasien sepsis berat dengan
hipertensi atau syok
Dilakukan secepat mungkin, secara intensif :
1. Airway, breathing circulation
2. Oksigenasi
3. Terapi cairan
4. Transfusi darah bila diperlukan Anemia
sering terjadi pada pasien sepsis
First line agen terapi sepsis antibiotik spektrum luas lactam karena
tempat infeksi dan mikroorganisme biasanya belum diketahui awalnya.
Pemilihan antibiotika berdasarkan :
pengalaman tentang jenis organisme penyebab dengan
sensitivitasnya di rumah sakit .
sumber infeksi.
infeksi didapat di luar rumah sakit atau di rumah sakit.
Antibiotika yang diberikan harus dapat mencapai sumber infeksi
dan diberikan dosis optimal.
Untuk gram positif sering dipakai vancomycin . Selain itu digunakan
juga apabila pasien resistan terhadap methicillin untuk melawan
Staphylococcus aureus .
Pada gram negatif digunakan antibiotik yang mencegah pelepasan
endotoksin
Terapi Empiris Terapi Kombinasi
untuk sumber infeksi tak jelas : 1. Memperluas spektrum
cefotaxim 3 g iv/6jam atau ceftazidime 2 2. Mengatasi jenis bakteri resisten yang
g/ 8 jam + Gentamycin/ Tobramycin muncul setelah bakteri sensitif mati
1,5 mg/Kg/BB/8 jam selama pengobatan
Urosepsis : ampicilin-sulbaktam, 3. Mendapatkan efek aditif dan sinergis
karbapenem, fluorokuinolon Mis : Sefalosporin generasi III dengan
Sistem epidermidis : Klindamisin, aminoglikosida (seftriakson,
sefalosporin generasi III seftazidim, sefotaxim
Infeksi intra abdomen: karbapenem, +gentamisin/amikasin). Semua obat
fluorokuinolon dengan kombinasi ini baik untuk penderita non-
metronidazole untuk anaerob neutropenia.
Pada penderita neutropenia, untuk P.
Aeruginosa dipakai penisilin
aktivitasnya tinggi seperti mezlocilin
dikombinasi dengan aminoglikosida
atau karbapenem, misalnya imipenem
Mencegah dan mengatasi komplikasi akibat sepsis sehingga
kondisi pasien dapat dipertahankan atau diperbaiki sebelum
antimikroba bekerja.

Macam-macamnya :
a.Oksigenasi untuk mengatasi hipoksia
dengan upaya meningkatkan saturasi oksigen
darah, meningkatkan transpor oksigen dan
memperbaiki utilisasi oksigen di jaringan.
b. Terapi cairan
Hipovolemia dapat terjadi karena penurunan
venous return, dehidrasi, pendarahan dan
kebocoran plasma mengganggu transpor
oksigen dan nutrisi dan dapat mengakibatkan syok.
Hipovolemia diatasi dengan pemberian cairan baik
kristaloid (NaCl 0,9% atau RL) maupun koloid.
Albumin merupakan protein plasma yang
berfungsi sebagai koloid.
Transfusi PRC diperlukan pada pendarahan aktif
hingga Hb 10 g/dl dengan mempertimbangkan
kondisi klinis pasien.
c. Vasopressor /inotropik
Diberikan setelah hipovolemik teratasi namun
masih terjadi hipotensi.
Hipotensi tersebut timbul karena vasodilatasi atau
disfungsi miokard.
Pilihan vasopresor: dopamin mulai 8 mcg/kg/
menit, norepinefrin 0,03-1,5 mcg/kg/ menit.
Pilihan inotropik : dobutamin 2-28 mcg/kg/
menit, dopamin 3-8 mcg/kg/ menit, epinefrin 0,1-
0,5 mcg/kg/ menit atau fosfodiesterase inhibitor
(amrinon & milrinon).
d. Bikarbonat
Mengoreksi asidemia pada sepsis.
Dapat diberikan PH < 7,2 atau serum bikarbonat < 9
meq/L.
Disertai upaya memperbaiki hemodinamik

e. Nutrisi
Kebutuhan kecukupan nutrisi berupa kalori, protein
(asam amino ), asam lemak, cairan vitamin dan
mineral perlu diberikan sedini mungkin.
Diutamakan pemberian enteral, bila perlu
parenteral.
Perlu pengendalian kadar gula darah.
f. Hyperglycemia dan Terapi Insulin
Intensif
Insulin berfungsi sebagi anti inflammatory, anti
koagulan, dan antiapoptotik.

g. Disfungsi ginjal
Terjadi secara akut pada pasien sepsis dan Syok
Septik
Diberikan vasopresor bila diperlukan (Dopamin
dosis renal 1-3 mcg/kg/ menit)
Pada oliguria pemberian cairan dipantau ketat.
Terimakasih