Anda di halaman 1dari 43

CEDERA KEPALA

ENARYAKA,S.Kep.,Ns
Tulang Kepala
Calvaria (atap tengkorak)
Basis cranium (dasar tengkorak)
Meningen (selaput otak):
Durameter
Piameter
Arachnoid
TERJADI TIAP 15 DETIK
MATI TIAP 12 MENIT

CEDERA KEPALA

50 % KEMATIAN PADA TRAUMA


60 % KEMATIAN AKIBAT KLL
Gejala Klinis
Sakit kepala berat
Muntah
Papil edema
Kesadaran menurun
TD menurun, bradikardi
Anisokor
Suhu tubuh labil
ANATOMI KEPALA
SKIN
CONNECTIVE
TISSUE=penyambung
APONEUROSIS=ikat
SCALP langsung dgn tengkorak
Kulit Kepala LOOSE AREOLAR
TISSUE=penunjang longgar
PERICRANIUM
Otak
Serebrum
Hemisfer kanan
Hemisfer kiri
Serebelum
Batang Otak
FISIOLOGI
Tekanan Intra Kranial
Normal 10 mmHg(136 mmH2O)
Dampak edema cerebri,intra cranial bleeding
Doktrin Monro-kellei
Prinsip:total volume intrakranial bersifat tetap
Karena kranium merupakan non expansile box
Tekanan perfusi otak
Penting dalam penatalaksanaan cedera
kepala
Akibat Trauma Kapitis
Cedera Langsung/Primer
Contusio cerebri(perdarahan jaringan)
Laserasi cerebri(robekan jaringan otak)
Cedera tidak langsung/sekunder
Hipovolemi (perfusi darah ke otak kurang)
Hipoksia (O2 berkurang dlm darah)
Hiperkarbia/hipokarbia (CO2 ideal 26-
32mmHg)
KLASIFIKASI CEDERA KEPALA
Mekanisme Tumpul Kecepatan Tinggi
Kecepatan Rendah

Tembus Ceder a peluru


Senjata tajam

Beratnya Ringan GCS 14-15


Sedang GCS 9-13
Berat GCS 3-8

Morfologi Fraktur Tengkorak Kalvaria :


(CT Scan) Garis bintang
Depresi-non depresi
Terbuka-tertutup
Dasar Tengkorak:
Lesi Intrakranial Dgn/tanpa kebocoran GCS
Dgn/tanpa parese N VII

Fokal :
Epidural
Subdural
Intraserebral
Difus:
Komosio ringan,Klasik
Cedera akson difus
Perdarahan Kranial pada Epidural

Terkumpulnya darah/bekuan darah dalam


ruang antara tulang kepala dan duramater
Kausa : trauma
Klinis :
Lusid interval
Lateralisasi
Rontgen :
Fraktur linear
Gambaran hematom (+)
PERJALANAN KLINIK EDH
Subdural Hematom (SDH)
Terkumpulnya darah / bekuan darah dalam
ruang antara duramater dan arakhnoid
Terbagi dalam : akut dan kronis
Kausa : trauma (akut lebih >> kronis)
Klinis :
Penurunan kesadaran
Lateralisasi

Rontgen :
Gambaran hematom (+)
Subdural hematom
Subdural Hematom (SDH)
Terkumpulnya darah / bekuan darah
dalam ruang antara duramater dan
arakhnoid
Terbagi dalam : akut dan kronis
Kausa : trauma (akut lebih >> kronis)
Klinis :
Penurunan kesadaran
Lateralisasi

Rontgen :
Gambaran hematom (+)
FRAKTUR KRANIUM
Kalvaria :Terjadi pada atap/dasar
tengkorak (berbentuk garis-
bintang,tertutup-terbuka,depresi-non
depresi)
Dasar tengkorak :Bila terbuka segera
operasi, awasi perdarahan dan obstruksi
jalan nafas
LESI INTRAKRANIAL DIFUS
Commoton cerebri
Kehilangan kesadaran >15
Contusio cerebri
Mempunyai prognosis buruk
Kehilangan kesadaran lebih lama
GCS
KOMPONEN MATA 1-4
KOMPONEN VERBAL 1-5
KOMPONEN MOTORIK 1-6
PENATALAKSANAAN CEDERA
KEPALA
PRIMARY
SURVEY A
IRWAY & C-SPINE CONTROL

Potensial
terjadinya
B REATHING

Secondary brain
damage C IRCULATION
ABC
SECONDARY SURVEY
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
PENUNJANG
Operasi Acute
Subdural
Hematoma
MASALAH KEPERAWATAN
CEDERA KEPALA
1. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d
peningkatan tekanan intrakranial.
2. Tidak efektifnya pola nafas b.d peningkatan
tekanan intrakranial.
3. Gangguan proses pikir b.d injuri fisiologi
Tindakan Keperawatan
1. Amankan jalan nafas
2. Pasang penyangga leher/neck kollar
3. Berikan oksigenasi
4. Ukur Vital sign dan GCS
5. Resusitasi cairan
6. Catat intake output
7. Bila muntah os dipuasakan
8. Istirahatkan tirah baring
9. Pasang ET bila perlu
10.Kolaboratif obat
KESIMPULAN
Trauma kepala terdiri:kulit kepala,tulang kranial
dan otak, klasifikasi terbuka & tertutup
diakibatkan akselerasi & deselerasi
Cedera kepala primer (edema serebral,laserasi,
hemorarhi), sekunder (hipovolemi,hiperkarbia
&hipoksia)
Komplikasi hemorargi, infeksi,oedema, tindakan
kep:pasang neck koller,observasi 24 jam,tirah
baring, puasakan bila muntah,Kolaboratif obat &
pembedahan
CEDERA TULANG SPINAL
DEFINISI
Cedera tulang belakang adalah cedera
mengenai cervicalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma ; jatuh dari
ketinggian, kecelakakan lalu lintas,
kecelakakan olah raga dsb (
Sjamsuhidayat, 1997).
ETIOLOGI
Motor vehicle accident
Falls
Sport injuries
Gunshot wacound
Industrial accident
KOMPLIKASI
Remathoid Arthritis atau Osteoporosis
Stenosis (kanal pelindung sumsum tulang
belakang terlalu sempit)
Direct Injury (cedera langsung) pada KLL
Bleeding pada kanal tulang belakang
sehingga menekan saraf tulang belakang
RESIKO TINGGI
Riwayat Osteoporosisi dan Stroke
Usia muda laki-laki umur 15-35 th angka
kematian tinggi
TANDA DAN GEJALA
Tergantung lokasi cedera secara umum akan terjadi kelemahan dan
hilangnya indera pada daerah cedera
1. Cervical Neck
Kesulitan bernafas
Loss of normal bowel and bledding control
Perubahan sensori
Spasticity
Wealness ,paralysis
2. Thorak
Idem diatas
3. Lumbal Sakral
Idem diatas
DATA FOKUS
Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok
spinal
Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi,
hipotensi, bradikardia ekstremitas dingin atau pucat
Eliminasi : inkontenensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi
perut, peristaltik usus hilang
Integritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas,
gelisah dan menarik diri.
Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang
Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL
Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis
flasid, hilangnya sensai dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek,
perubahan reaksi pupil, ptosis.
Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah
trauma, dan mengalami deformitas pada derah trauma.
Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis
Keamanan : suhu yang naik turun
TINDAKAN
Primary survey pertahankan A,B,C
Secondary Survey dengan tindakan penunjang:
Sinar x spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera
tulang (fraktur atau dislok)
CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas
MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal
Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru
AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan
upaya ventilasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pola napas tidak efektif berhubungan
dengan kelumpuhan otot diafragma
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan
dng kelumpuhan
INTERVENSI
Pertahankan jalan nafas
Lakukan penghisapan lendir
Kaji distensi perut dan spasme otot.
Pantau analisa gas darah
Berikan oksigen dengan cara yang tepat
Lakukan fisioterapi
Trauma leher