Anda di halaman 1dari 37

Perjanjian Kerja

PKWTT PKWT

DIBATASI oleh waktu


TIDAK DIBATASI oleh tertentu
waktu tertentu
Sifat & jenis pekerjaan
SEMENTARA, MUSIMAN,
Sifat & jenis pekerjaan MAX 3 tahun, produk
terus menerus baru.
PK HARUS tertulis. Jika
PK BOLEH lisan. Jika LISAN, dinyatakan
LISAN, WAJIB ada surat menjadi PKWTT.
pengangkatan
TIDAK BOLEH ada masa
percobaan
DAPAT mensyaratkan
masa percobaan paling Jika salah peruntukkan,
lama 3 bulan demi hukum berubah
menjadi PKWTT
Perjanjian Kerja

PKWTT PKWT PHK merujuk pasal 62


PHK merujuk pasal
150 172 UUK UUK
PHK ada kewajiban
PHK ada uang membayar atau
menerima ganti rugi,
pesangon, UPMK, UPH ketika diputus
dan/atau uang pisah. hubkernya SEBELUM
berakhir jangka waktu
PKWT.
Jamsostek merujuk UU
3/1992, PP 14/1993 Jamsostek merujuk UU
dan Permen 52/2012. 3/1992 dan PP
150/1999.
Diatur khusus dalam
pasal 51, 57, 58, 59, 62,
65, 66, 154 UUK dan
Kepmen 100/2004.
PKWTT PKWTT
PHK merujuk pasal
TIDAK DIBATASI
oleh waktu tertentu 150 172 UUK
PHK ada uang pesangon,
Sifat & jenis pekerjaan UPMK, UPH dan/atau
terus menerus uang pisah.

Jamsostek merujuk UU
PK BOLEH lisan. Jika 3/1992, PP 14/1993 dan
LISAN, WAJIB ada PP 53/2012.
surat pengangkatan

DAPAT mensyaratkan
masa percobaan paling
lama 3 bulan
Masa percobaan 3 bulan, TIDAK CUKUP untuk
menilai kinerja karyawan kami, apakah BOLEH
DIPERPANJANG?
Masa percobaan di perusahaan kami 6 bulan,
apakah boleh diperpanjang?
Pasal 60 ayat (1) UU 13/2003:
Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu DAPAT
mensyaratkan masa percobaan kerja PALING LAMA 3 (tiga)
bulan.
Kata dapat bermakna tidak wajib/harus, sehingga masa
percobaan bukan keharusan dipersyaratkan dalam
hubungan kerja PKWTT.
Masa percobaan TIDAK BOLEH MELEBIHI dari 3 bulan.
Apakah diperbolehkan karyawan di PKWT-
kan setelah ybs tidak lulus masa
percobaan?

Apakah karyawan yang sudah pensiun


boleh di PKWT-kan?
BOLEH, sepanjang sifat dan jenis pekerjaannya
memenuhi ketentuan pasal 59 ayat (1) UU 13/2003,
yakni pekerjaannya sekali selesai (sementara), paling
lama 3 tahun, berhubungan produk/kegiatan baru,
tambahan atau penjajakan. Atau yang tercantum dalam
Kepmen 100/2004.
Masa percobaan di perusahaan kami 6 bulan,
bagaimana treatment-nya mem-PHK pada bulan
kelima karena low performace atau tanpa sebab
?
Pasal 60 ayat (1) UU 13/2003:
Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu DAPAT
mensyaratkan masa percobaan kerja paling lama 3 (tiga)
bulan.
PENJELASAN pasal 60 ayat (1) UU 13/2003:
Syarat masa percobaan kerja HARUS DICANTUMKAN dalam
perjanjian kerja. Apabila perjanjian kerja dilakukan secara
lisan, maka syarat masa percobaan kerja harus diberitahukan
kepada pekerja yang bersangkutan dan dicantumkan dalam
surat pengangkatan. Dalam hal tidak dicantumkan dalam
perjanjian kerja atau dalam surat pengangkatan, maka
ketentuan masa percobaan kerja dianggap tidak ada.
Masa percobaan di perusahaan kami 6 bulan,
bagaimana treatment-nya mem-PHK pada bulan
kelima karena low performace atau tanpa sebab
?
Pasal 151 UU 13/2003:
Ayat (1): Pengusaha, P/B, SP/SB, dan pemerintah, dengan
segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi PHK.
Ayat (2): Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi PHK
tidak dapat dihindari, maka maksud PHK wajib dirundingkan
oleh pengusaha dan SP/SB atau dengan P/B apabila P/B yang
bersangkutan tidak menjadi anggota SP/SB.
Ayat (3): Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetujuan,
pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan
P/B setelah memperoleh penetapan dari LPPHI.
Masa percobaan di perusahaan kami 6 bulan,
bagaimana treatment-nya mem-PHK pada bulan
kelima karena low performace atau tanpa sebab
?
Pasal 154 huruf a UU 13/2003:
PENETAPAN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (3)
TIDAK DIPERLUKAN dalam hal: P/B masih dalam masa
percobaan kerja, bilamana telah dipersyaratkan secara tertulis
sebelumnya.
PENAFSIRAN:
Berdasarkan ketentuan pasal 60 ayat (1) dan pasal 154 huruf a
UU 13/2003, maka hubker PKWTT dengan masa kerja melebihi
dari 3 bulan TIDAK DAPAT SERTA MERTA di-PHK dengan alasan
low performace atau tanpa sebab TANPA melalui penetapan
LPPHI.
Pertama kali hubker PKWTT tgl. 2 Januari 2012
dengan masa percobaan 2 (dua) bulan,
perhitungan masa kerja sejak selesai masa
percobaan atau sejak tgl. 2 Januari 2012?

Ketentuan Umum pasal 1 angka 15 UU 13/2003:


Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha
dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja,
yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.
Ketentuan Umum pasal 1 angka 14 UU 13/2003:
Perjanjian kerja adalah perjanjian antara
pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja
yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban
para pihak.
Pertama kali hubker PKWTT tgl. 2 Januari 2012
dengan masa percobaan 2 (dua) bulan,
perhitungan masa kerja sejak selesai masa
percobaan atau sejak tgl. 2 Januari 2012?
Pasal 54 ayat (1) huruf g UU 13/2003:
Perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-
kurangnya memuat: MULAI dan jangka waktu
BERLAKUNYA perjanjian kerja.
Dari ketiga ketentuan pasal 1 angka 14, angka 15 dan
pasal 54 ayat (1) huruf g UU 13/2003, maka hubungan
kerja dimulai SEJAK dimulainya berlakunya PK yang
telah ada pekerjaan, upah, dan perintah, terhitung sejak
tgl. 2 Januari 2012.
Mengapa di perusahaan saya, karyawan
kontrak diberikan masa percobaan ?
Karena ketidak-tahuan para pihak (perusahaan dan pekerja(
atau SALAH SATU pihak (perusahaan atau pekerja) terkait
PENAFSIRAN ketentuan perUUan yang berlaku.
Pasal 58 UU 13/2003:
Ayat (1): Perjanjian kerja untuk waktu tertentu TIDAK
DAPAT MENSYARATKAN adanya masa percobaan kerja.
Ayat (2): Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja
dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
masa percobaan kerja yang disyaratkan batal demi
hukum.
PENJELASAN pasal 58: Cukup jelas.
Mengapa di perusahaan saya, karyawan
kontrak diberikan masa percobaan ?

PENAFSIRAN:
PKWT yang mensyaratkan masa percobaan, maka masa
percobaannya DIANGGAP TIDAK PERNAH ADA dan
PKWT-nya TETAP SAH, SEPANJANG memenuhi
ketentuan PKWT sebagaimana ketentuan pasal 59 ayat
(1) UU 13/2003, yakni pekerjaan sekali selesai
(sementara), paling lama 3 tahun, musiman,
berhubungan produk/kegiatan baru atau produk
tambahan yang masih dalam percobaan atau
penjajakan.
Pertama kali hubker PKWT 2 tahun, setelah
berakhir PKWT, langsung di PKWTT-kan, sejak
kapan memperhitungkan masa kerja?

Pasal 61 ayat (1) huruf b UU 13/2003:


Perjanjian kerja BERAKHIR apabila: berakhirnya JANGKA
WAKTU perjanjian kerja.
PENAFSIRAN:
PK yang memiliki jangka waktu adalah PKWT.
Dengan BERAKHIRNYA PKWT, syarat-syarat kerja, hak, dan
kewajiban para pihak termasuk TIDAK ADANYA kewajiban atau
hak terhadap uang pesangon, UPMK, UPH dan/atau uang pisah
pada PKWT juga berakhir.
Pertama kali hubker PKWT 2 tahun, setelah
berakhir PKWT, langsung di PKWTT-kan, sejak
kapan memperhitungkan masa kerja?
PENAFSIRAN:
Setelah berakhirnya PKWT dan langsung di PKWTT-kan, maka
syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak MULAI
mengikuti pada PKWTT SEJAK hubker PKWTT.
Hubker PKWTT terdapat kewajiban atau hak terhadap uang
pesangon, UPMK, UPH dan/atau uang pisah sesuai alasan PHK.
Masa kerja PKWTT terhitung sejak terjadinya hubungan kerja
PKWTT, SEPANJANG ketika hubker PKWT telah memenuhi
ketentuan pasal 59 ayat (1) UU 13/2003, yakni pekerjaan sekali
selesai (sementara), paling lama 3 tahun, musiman, berhubungan
produk/kegiatan baru atau produk tambahan yang masih dalam
percobaan atau penjajakan.
Apa HAK pekerja yang RESIGN tidak one month NOTICE ?

Pasal 162 ayat (1) UU 13/2003:


P/B yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri, memperoleh
uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4).
Pasal 162 ayat (3) UU 13/2003:
P/B yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) harus memenuhi syarat:
mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
mulai pengunduran diri;
tidak terikat dalam ikatan dinas; DAN
tetap melaksanakan kewajibannya sampai tanggal mulai
pengunduran diri.
Apa HAK pekerja yang RESIGN tidak one
month NOTICE ?
Pasal 162 ayat (2) UU 13/2003:
Bagi P/B yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri, yang tugas
dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara
langsung, selain menerima uang penggantian hak sesuai ketentuan
Pasal 156 ayat (4) diberikan uang pisah yang besarnya dan
pelaksanaannya diatur dalam PK, PP atau PKB.
PENAFSIRAN:
Jika TIDAK MEMENUHI salah satu dari ketentuan pasal 162
ayat (3) UU 13/2003, maka P/B TIDAK BERHAK ketentuan pasal
162 ayat (1), yakni uang penggantian hak, NAMUN P/B masih
BERHAK uang pisah SEPANJANG tugas dan fungsi P/B tidak
mewakili kepentingan pengusaha secara langsung
Posisi apa yang BERHAK uang pisah ?
Pasal 158 ayat (4) UU 13/2003:
Bagi P/B sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tugas
dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha
secara langsung, selain uang penggantian hak sesuai dengan
ketentuan Pasal 156 ayat (4) diberikan uang pisah yang
besarnya dan pelaksanaannya diatur dalam PK, PP atau PKB.
Pasal 162 ayat (2) UU 13/2003:
Bagi P/B yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri,
yang tugas dan fungsinya tidak mewakili kepentingan
pengusaha secara langsung, selain menerima uang
penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4)
diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya
diatur dalam PK, PP atau PKB
Posisi apa yang BERHAK uang pisah ?
Pasal 168 ayat (3) UU 13/2003:
PHK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) P/B yang
bersangkutan berhak menerima uang penggantian hak
sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) dan diberikan uang
pisah yang BESARNYA dan PELAKSANAANNYA diatur
dalam PK, PP atau PKB.
PENAFSIRAN:
Jika PHK-nya karena alasan sebagaimana ketentuan pasal 158
(kesalahan berat yang TELAH melalui penetapan LPPHI) dan
pasal 162 (mengundurkan diri secara sukarela), P/B yang
berhak uang pisah adalah yang tergolong memiliki tugas
dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha
secara langsung
Posisi apa yang BERHAK uang pisah ?
PENAFSIRAN:
Jika PHK-nya karena alasan sebagaimana ketentuan pasal
168 (mangkir), yang BERHAK mendapatkan uang pisah
TIDAK HARUS P/B yang tergolong memiliki tugas dan
fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara
langsung. Artinya, setiap P/B BERHAK uang pisah dalam hal
PHK karena alasan mangkir.
NOTE:
IDEALNYA, Perusahaan SUDAH menetapkan
POSISI/JABATAN yang tergolong memiliki tugas dan
fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara
langsung, untuk memudahkan pembayaran uang pisah ketika
terjadi PHK.
Apakah uang pisah ditentukan oleh masa
kerja ?

Dari ketiga ketentuan dalam Pasal 158 ayat (4),


Pasal 162 ayat (2) dan Pasal 168 ayat (3) UU
13/2003, TIDAK SATUPUN
menyatakan/mengatur tentang MASA KERJA,
KECUALI tugas dan fungsi P/B.
PKWT PKWT
Mengakhiri HUBKER
DIBATASI oleh waktu SEBELUM berakhirnya
tertentu. jangka waktu PKWT,
ada kewajiban
Sifat & jenis pekerjaan membayar ganti rugi
sekali selesai kepada pihak lainnya,
(sementara), KECUALI dikarenakan
MUSIMAN, MAX 3 4 hal dalam pasal 61
tahun, ayat (1) UU 13/2003.
produk/kegiatan baru, TIDAK BOLEH ada
tambahan/penjajakan. masa percobaan.
PK HARUS tertulis. Jika TIDAK BERHAK uang
LISAN, dinyatakan pesangon, dkk-nya.
menjadi PKWTT.
PKWT diatur di UU 13/2003:

Pasal 51
Pasal 56
Pasal 57
Pasal 58
Pasal 59 dan Kepmen 100/2004
Pasal 61
Pasal 62
Pasal 154
Bolehkah perusahaan memutus kontrak
(hubker) PWT ditengah masa kontraknya
dengan alasan LOW PERFORMANCE, melakukan
pelanggaran atau TANPA SEBAB ?

Pasal 62 UU 13/2003:
Apabila salah satu pihak MENGAKHIRI HUBKER
SEBELUM BERAKHIRNYA jangka waktu yang ditetapkan
dalam PKWT, ATAU berakhirnya hubungan kerja BUKAN
KARENA ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
61 ayat (1), pihak yang mengakhiri hubungan kerja
DIWAJIBKAN MEMBAYAR GANTI RUGI KEPADA PIHAK
LAINNYA sebesar upah P/B sampai batas waktu
berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.
Pasal 61 ayat (1) UU 13/2003:
Perjanjian kerja berakhir apabila:
a. pekerja meninggal dunia;
b. berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja;
c. adanya putusan pengadilan dan/atau putusan atau
penetapan LPPHI yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap; atau
d. adanya keadaan atau kejadian tertentu yang
dicantumkan dalam PK, PP, atau PKB yang dapat
menyebabkan berakhirnya hubungan kerja.
Pasal 61 ayat (1) huruf d UU
13/2003
Perjanjian kerja berakhir apabila adanya
keadaan atau kejadian tertentu yang
dicantumkan dalam PK, PP, atau PKB yang dapat
menyebabkan berakhirnya hubungan kerja.

PENJELASAN pasal 61 ayat (1)


huruf d
Keadaan atau kejadian tertentu seperti
bencana alam, kerusuhan sosial, atau
gangguan keamanan.
Penafsiran:
Pihak yang MENGAKHIRI HUBKER PKWT TIDAK
DIWAJIBKAN membayar ganti rugi, JIKA:
pekerja meninggal dunia, adanya putusan pengadilan
dan/atau putusan atau penetapan LPPHI yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap; atau BUKAN
karena adanya keadaan atau kejadian tertentu seperti
bencana alam, kerusuhan sosial, atau gangguan
keamanan.
Pihak yang MENGAKHIRI HUBKER PKWT BUKAN
karena 3 (tiga) kondisi tersebut sebelumnya,
DIWAJIBKAN membayar ganti rugi. Dengan kata lain,
pengakhiran hubker PKWT karena alasan low
performance, SP3, pelanggaran berat, dll,
DIWAJIBKAN membayar ganti rugi.
Mengapa ada karyawan kontrak diberikan masa
percobaan ?

Karena para pihak (perusahaan DAN pekerja) atau salah


satu pihak (perusahaan ATAU pekerja) TIDAK
MENGETAHUI UU Ketenagakerjaan (UU 13/2003).
Pasal 58 UU 13/2003:
Ayat (1): Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak
dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja.
Ayat (2): Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja
dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), masa percobaan kerja yang disyaratkan batal
demi hukum.
Apa saja sebenarnya KEWAJIBAN & HAK
dari pekerja waktu tertentu (PWT)?
Kewajiban & hak PKWT sama dengan
PKWTT, KECUALI Pekerja Waktu Tertentu
(PWT) tidak berhak uang pesangon, UMPK, UPH
dan uang pisah, NAMUN PKWT mengenal ganti
rugi ketika ada pengakiran hubker SEBELUM
jangka waktu PKWT berakhir.
PKWT
Karyawan kami dikontrak 1 tahun, tetapi
TIDAK ADA surat kontraknya, bagaimana
sebenarnya STATUS ybs ?

Pasal 57 ayat (2) UU 13/2003:


Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang
dibuat TIDAK TERTULIS bertentangan dengan
ketentuan sebagai mana dimaksud dalam ayat
(1) DINYATAKAN sebagai perjanjian kerja
untuk waktu tidak tertentu.
Ada karyawan HABIS MASA kontraknya, tetapi
MASIH BEKERJA diperusahaan kami,
bagaimana STATUS-nya ?
Jika penandatanganan kontrak PKWT
dilakukan SETELAH karyawan BEKERJA 1
minggu, apakah hal ini boleh SECARA HUKUM ?

PKWT BERAKHIR ketika jangka waktunya


berakhir (vide pasal 61 ayat 1 huruf b UU
13/2003).
Hubker TANPA PK tertulis, maka hubkernya
DINYATAKAN sebagai PKWTT (vide pasal 57
ayat 2 UU 13/2003).
Apakah posisi HRD Manager atau Sales
boleh PKWT, apakah ini SESUAI dengan
UUK?
Boleh tidaknya hubker PKWT untuk seorang
HRD Manager atau Sales, SANGAT
BERGANTUNG dari SIFAT dan JENIS
PEKERJAAN dari HRD Manager maupun Sales
di setiap perusahaan.
Apakah sifat dan jenis pekerjaannya terus
menerus atau sekali selesai (sementara), paling
lama 3 tahun, musiman, produk/kegiatan baru,
tambahan atau penjajakan? (vide pasal 59 ayat
1 UU 13/2003 dan Kepmen 100/2004).
PKWT satu tahun, jika sudah habis
masa kontraknya, apakah berhak atas
cuti 12 hari ?
Sesuai ketentuan pasal 79 UU 13/2003:
Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti
kepada P/B.
Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), meliputi cuti tahunan, sekurang kurangnya 12
(dua belas) hari kerja setelah P/B yang
bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan
secara terus menerus.
Mekanisme pengambilan cuti tahunan atau dibayarkan
pengganti cutinya, bisa diatur dan disepakati
dituangkan dalam PK/PP/PKB.
Apa saja perUUan terkait PKWT dan bagaimana
cara untuk mengetahui/memahami aturan
PKWT ?
Pasal 51, 56, 57, 58, 59 (dan Kepmen 100/2004),
61, 62 dan pasal 154 UU 13/2003

Apakah ada keharusan perusahaan untuk


memberitahukan pekerja bahwa PKWT-nya
tidak diperpanjang ?

TIDAK ADA KEHARUSAN.


Pasal 61 ayat (1) huruf b UU 13/2003: Perjanjian
kerja BERAKHIR APABILA BERAKHIRNYA
jangka waktu perjanjian kerja.
Apakah PKWT tidak berhak istirahat melahirkan
dengan upah penuh ?

Pekerja Waktu Tertentu (PWT) BERHAK istirahat


melahirkan berdasarkan ketentuan pasal 82 UU
13/2003 sbb:
Ayat (1): Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh
istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum
saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan
sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter
kandungan atau bidan.
Ayat (2): Pekerja/buruh perempuan yang mengalami
keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5
(satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat
keterangan dokter kandungan atau bidan.