Anda di halaman 1dari 23

COURAGE MORAL AND

LEADESHIP

BY:
SETIA TJAHYANTI
Chapter Objectives
Combine a rational approach to leadership with a
concern for people and ethics.
Recognize your own stage of moral development and
ways to accelerate your moral maturation.
Apply the principles of stewardship and servant
leadership.
Know and use mechanisms that enhance an ethical
organizational culture.
Recognize courage in others and unlock your own
potential to live and act courageously.
MORAL LEADERSHIP TODAY
Moral kepemimpinan membahas tentang perbedaan antara
yang benar dengan yang salah. Mencari keadilan,kejujuran,
kebaikan, dan kebenaran yang dapat diimplementasikan
dalam praktek bisnis.
Pemimpin yang bermoral dapat menyeimbangkan sikap,
perilaku, pemikiran dan tindakan dengan kepentingan
orang lain, sementara pemimpin yang tidak bermoral
selalu berfokus pada keuntungan/ kepentingan pribadi
serta selalu bersikap dan bertindak tidak jujur dengan
karyawan, mitra, pelanggan, penjual, dan pemegang
saham.
Moral leadership yang positif adalah merupakan perilaku
pemimpin yang dapat melakukan yang terbaik seperti
memotivasi, mengatur, mempengaruhi, mendorong kearah
yang terbaik dengan tujuan yang jelas dan sama dengan
para bawahan (follower).
THE LEADERSHIP DILEMMA
Banyak pemimpin perusahaan yang menghadapi suatu
pilihan sulit, dimana terjadi konflik antara dunia bisnis
dan etika/ moral yang harus dipertahankan.
Bisnis tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan manusia,
dan dalam dunia bisnis, pemimpin menghadapi tekanan
dari berbagai kalangan dalam melakukan bisnis dengan
benar dimana mereka memaksa memotong biaya,
meningkatkan laba dan memenuhi permintaan penjual/
mitra bisnis untuk kepentingan bisnis belaka.
Sementara pemimpin dituntut memiliki kepekaan dan rasa
tanggungjawab untuk menciptakan suatu organisasi yang
menghasilkan profit yang dihasilkan dengan cara baik
untuk kesejahteraan masyarakat umum.
Etika leadership bukan berarti mengabaikan profit dan loss,
biaya produksi dll. Etika leadership mengkombinasikan
suatu perhatian terhadap pengukuran rasional dari kinerja
perusahaan terhadap perhatian dan kepedulian
masyarakat secara umum.
Comparing Unethical Versus Ethical
Leadership
The Unethical Leader The Ethical Leader
Is arrogant and self-serving Possesses humility
Excessively promotes self-interest Maintains concern for the greater
Practices deception good
Breaches agreements Is honest and straightforward
Deals unfairly Fulfills commitments
Shifts blame to others Strives for fairness
Diminishes others dignity Takes responsibility
Neglects follower development Shows respect for each individual
Withholds help and support Encourages and develops others
Lacks courage to confront unjust Serves others
acts Shows courage to stand up for
what is right
How to Act Like a Moral Leader
1. Develop, articulate, and uphold high moral principles.
2. Focus on what is right for the organization as well as all the
people involved.
3. Set the example you want others to live by.
4. Be honest with yourself and others.
5. Drive out fear and eliminate undiscussables.
6. Establish and communicate ethics policies.
7. Develop a backbone show zero tolerance for ethical
violations.
8. Reward ethical conduct.
9. Treat everyone with fairness, dignity, and respect, from the
lowest to the highest level of the organization.
10. Do the right thing in both your private and professional life
even when no one is looking.
COMPARING PERSONAL QUALITIES OF
PURELY RATIONAL VS ETHICAL LEADERSHIP

RATIONAL LEADER ETHICAL LEADER


Fokus utamanya adalah untuk Mempertimbangkan kesamaan
pencapaian tujuan dan karir derajat pribadi dengan orang lain,
peribadi fokus utamanya pada
pengembangan orang lain.

Menggunakan kekuasaan untuk Menggunakan kekuasaan untuk


kepentingan/ keuntungan pribadi melayani/ membantu orang lain.

Mempromosikan visi pribadi Meluruskan visi sesuai dengan


kebutuhan/ aspirasi dari bawahan

Tidak mau dikritik/ dibantah Mempertimbangkan dan


mempelajari saran dan kritik dari
bawahan
RATIONAL LEADER ETHICAL LEADER
Komunikasi satu arah Komunikasi dua arah, mau
mendengarkan orang lain

Tidak peka/ sensitif terhadap Melatih, mengembangkan dan


kebutuhan bawahan mendukung bawahan, berbagi
penghargaan kepada orang lain

Percaya/ yakin sesuai standar Percaya/ yakin pada standar moral


moral eksternal yang fokusnya internal untuk memuaskan
untuk memuaskan kepentingan kepentingan organisasi dan
pribadi masyarakat pada umumnya.

Keputusan diambil secara sepihak Menstimulasi bawahan untuk


dimana keputusan itu dibuat tanpa berfikir mandiri/ tidak tergantung
melibatkan bawahan pada atasan
Moral Leadership

Distinguishing right from


wrong and doing right;
seeking the just, honest, and
good in the practice of
leadership
Three Levels of Personal Moral
Development

Level 3:
Postconventional
Level 2:
Follows internalized
Conventional
universal principles of justice
Level 1: and right. Balances concern
Lives up to
for self with concern for
Preconventional expectations of
others and the common
others. Fulfills duties
good. Acts in an
Follows rules to avoid and obligations of
independent and ethical
punishment. Acts in social system.
manner regardless of
own interest. Blind Upholds laws.
expectations of others.
obedience to authority
for its own sake.
BECOMING A MORAL LEADER
Level 1: Precoventional
Pada level ini, setiap individu lebih fokus/
cenderung untuk menerima penghargaan secara
eksternal dan menghindari adanya hukuman.
Level 2: Conventional
Pada level ini, orang belajar tentang harapan-
harapan dari perilaku yang baik yang biasanya
diperoleh dari rekan, keluarga, teman, masyarakat.
Level 3: Postconventional
Pada level ini, seorang pemimpin diarahkan untuk
mengendalikan sekumpulan dari prinsip yang
secara umum diakui dan dikenal benar atau salah.
Continuum of Leader-Follower
Relationships
Stage 1 Stage 2 Stage 3 Stage 4
Control Participation Empowerment Service
Authoritarian Whole
Active employees
manager

Participative Self-
manager responsible
contributors

Team Stewardship
players -empow.
leader
Obedient Servant
Passive leader
subordinates

Control Centered in the Control Centered in


Leader/Organization the Follower
LEADERSHIP CONTROL VERSUS SERVICE

1. Authoritarian Management

- Pendapat tradisional mengenai leadership menyatakan


pemimpin adalah manager yang baik yang dapat
mengatur dan mengendalikan organisasinya.
- Organisasi fokus pada maintenance stability and
efficiency.
- Pengikut adalah bawahan yang patuh dan mengikuti
perintah atasan.
- Pada level ini, pemimpin berusaha membuat strategi
dan tujuan dengan baik, sebaik penghargaan dan
metode untuk bisa mencapainya, sehingga bawahan
hanya bisa mengikuti saja tanpa dapat menciptakan
arti dan tujuan pekerjaan mereka.
2. Participative Management

- Pemimpin mulai meningkatkan keterlibatan dan


partisipasi karyawan melalui ide dan saran mereka
- karyawan berperan sebagai team player dan mengambil
tanggungjawab yang lebih besar dari pekerjaannya
masing-masing tetapi kendali dalam menentukan
maksud, tujuan,keputusan akhir serta penghargaan tetap
dipegang oleh pimpinan.
- Pemimpin bertanggungjawab untuk outcomes, tapi
mereka berperan sebagai mentors dan coaches.
- Pemimpin memberikan sebagian kontrolnya tapi tetap
bertanggungjawab atas moral, emosional dan performance
bawahannya.
Stewardship

A belief that leaders are deeply


accountable to others as well as to the
organization, without trying to control
others, define meaning and purpose for
others, or take care of others.
Stewardship
- Kepercayaan bahwa leader sama seperti follower
bertanggung jawab terhadap organisasi.
- Bawahan diberi wewenang untuk membuat keputusan
dan mereka mengendalikan pekerjaan mereka.
- Pemimpin memberi bawahan kekuatan untuk
mempengaruhi tujuan, sistem dan struktur dan
menjadi pemimpin atas diri mereka sendiri.
Ada empat prinsip stewardship, antara lain:
1. Berorientasi pada partnership antara leader dengan
follower
2. Tanggungjawab pengambilan keputusan ada pada
siapa yang paling dekat dengan masalah (pekerjaan/
pelanggan)
3. Mengakui dan menghargai nilai dari pekerja dimana
sistem penghargaan diberikan pada setiap orang yang
mendapatkan bayaran dengan nilai yang setimpal
dengan kinerja dan organisasi membayar setiap orang
secara memungkinkan.
Servant Leadership

Leadership in which the


leader transcends self-interest
to serve the needs of others,
help others grow, and
provide opportunities for
others to gain materially and
emotionally
4. Servant Leadership
- Mengesampingkan kepentingan pribadi untuk
melayani kebutuhan bawahan, membantu mereka
berkembang dan maju serta memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk memperoleh yang mereka
inginkan.
- Di dalam organisasi, pemimpin fokus pada prioritas
pelayanan kepada karyawan, pelanggan, pemegang
saham dan masyarakat secara umum.
Ada 4 persepsi dasar dari model servant leadership:
1. Mendahulukan kepentingan orang lain diatas
kepentingan sendiri
2. Mendengarkan bawahan untuk mendukungnya
3. Menginsprasikan kepercayaan dengan menjadi orang
yang dapat dipercaya
4. Membantu orang lain untuk berkembang dan menjadi
lebih baik
LEADERSHIP COURAGE
Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap tegas dan
berani dalam mengambil suatu sikap atau keputusan
berdasarkan keyakinannya.
Courage merupakan kemampuan untuk menghadapi rasa
takut pada saat melangkah kedepan serta menerima
pertanggunganjawaban dan resiko yang harus diambil
dengan membuat suatu perubahan yang nyata dalam
organisasi.
Keberanian seorang pemimpin berarti:
1. Accepting responsibility
- courageous leader menciptakan kesempatan untuk
bertanggung jawab serta pengambilan resiko dalam
membuat suatu perubahan dalam organisasi dan
komunitas.
- leader bersedia bertanggungjawab terhadap kegagalan
dan kesalahan yang dibuatnya maupun yang diperbuat
tim/ bawahannya.
2. Non-Comformity

- Leadership courage berarti keberanian untuk


melawan tradisi, menghilangkan batasan,
dan membuat perubahan serta memiliki ide-
ide baru yang dianggap lebih baik dari
pandangan lama.
- Pemimpin tidak bermain di jalur yang aman
dengan mengikuti peraturan-peraturan yang
telah dibuat, tetapi mereka rela mengambil
resiko dan memberikan semangat bagi orang
lain /memberanikan diri untuk melakukan
hal yang sama.
3. Pushing beyond the comfort zone

- Untuk mengambil tantangan dan mengembangkan


sesuatu menjadikan leader harus keluar dari zona
amannya, ketika orang -orang berada di zona
amannya, tanpa mereka sadari terdapat invisible wall of
fear.
- Enggan keluar dari the comfort zone karena mereka puas
dengan kondisi yang berlaku sebab menganggap
bahwa perubahan bisa menjadi ancaman bagi posisi
dan kekuasaannya. Selain itu, enggan keluar dari
budaya perusahaan atau organisasi yang selama ini
berlaku.
Konkretnya, apabila ada usulan yang kritis, asertif dan
membangun dari bawahannya, diabaikan tanpa
pemilahan, penyelidikan, pertimbangan dan perlu
tidaknya dilakukan untuk mencapai kondisi yang lebih
baik lagi.
4. Asking for what you want and saying what you
think
- Courage berarti mengungkapkan pikiran pribadi
walaupun orang lain akan menolak/ tidak
setuju akan hal tersebut dan meminta apa yang
kita inginkan serta mengurangi batasan.
- Keberanian untuk menjadi diri sendiri
sepanjang tidak merugikan orang lain. Dan
pemimpin harus dapat memberikan contoh bagi
bawahan.

5. Fighting for what you believe


- Keberanian untuk mempertahankan nilai-nilai
dimana dapat memberi manfaat bagi semua
orang sekalipun hasilnya merupakan suatu
kegagalan atau mengorbanan kepentingan
pribadi.
SOURCES OF PERSONAL COURAGE

Yakin dan percaya pada tujuan yang


lebih baik
Berhubungan dengan orang lain
Siap menghadapi kegagalan/
menerima kesalahan
Mengekang rasa frustasi dan rasa
marah