Anda di halaman 1dari 36

CHAPTER 4

THE LEADER AS AN
INDIVIDUAL

BY:
SETIA TJAHYANTI
Setiap manusia adalah unik,
berbeda-beda dalam hal: nilai,
sikap, cara berfikir &
pengambilan keputusan
Perbedaan tersebut membedakan bagaimana orang
mencerna informasi, tingkahlaku, dan berinteraksi
dengan orang lain
Karakteristik leader mempengaruhi bagaimana ia
memimpin, sebaliknya efektivitas kepemimpinannya
dipengaruhi oleh kemampuan leader memahami
perbedaan
PERSONALITY
AND LEADERSHIP

Personality (kepribadian) adalah bagian


dari karakteristik yang tidak terlihat dan
proses yang mendasari pola tetap dari
suatu kebiasaan sebagai tanggapan
terhadap ide, objek, atau orang dalam
suatu lingkungan.
The Big Five Personality Dimensions

Quiet, Withdrawn, L Extroversion H Outgoing, Energetic,


Unassertive Gregarious

Aloof, Easily, L Agreeableness H Warm, Considerate,


Irritated Good-Natured

Impulsive, Responsible,
Carefree L Conscientiousness H Dependable,
Goal-Oriented

Moody, tense,
Lower self- Stable Confident
Confidence
L Emotional Stability H

Narrow Field Imaginative, Curious,


Interests, to new ideas
Likes the tried- L Emotional Stability H
And-true
A Model of Personality
Terdapat lima dimensi secara umum untuk menggambarkan
kepribadian yang disebut sebagai Big Five Personality
Dimensions dan terdiri dari:

1. Extroversion
Terdiri dari karakteristik yang mempengaruhi kebiasaan
dalam kelompok. Extroversion dapat diartikan sebagai
tingkatan dimana seseorang dianggap mudah bergaul, dapat
bersosialisasi dengan baik serta mudah diajak bicara dengan
orang lain.

2. Agreeableness
Adalah tingkatan dimana seseorang mudah untuk diajak
bekerjasama dengan orang lain dengan sifat pengertian, mau
mempercayai serta mudah memaafkan.
3. Conscientiousness
Dimensi ini berkaitan dengan tingkatan dimana
seseorang dianggap bertanggungjawab,
berpendirian teguh serta achievement oriented.
4. Emotional Stability
Berkaitan dengan tingkatan dimana seseorang
dianggap bersikap tenang, supel, serta percaya
diri.
5. Openness to Experience
Tahap ini menilai tingkatan imajinatif, kreatif,
memiliki ketertarikan yang sangat besar dan
kemauan untuk menerima ide-ide baru dari
seseorang.
Personality Traits and Leader Behavior
Ada 2 komponen penting yang mempunyai pengaruh besar
dalam kebiasaan yaitu locus of control dan authoritarianis

1. Locus of Control
Hal ini menggambarkan apakah seorang pemimpin
menempatkan tanggungjawab utamanya berdasarkan
kekuatan diri sendiri atau dari luar.
Orang yang mempercayai bahwa sesuatu yang terjadi
diakibatkan oleh usaha diri sendiri, dianggap
mempunyai internal locus of control yang tinggi.
Sedangkan External locus of control yang tinggi
diperuntukkan bagi orang yang mempercayai bahwa hal
yang terjadi diakibatkan oleh kekuatan dari luar
(contoh: nasib atau takdir).
2. Authoritarianism
Merupakan kepercayaan bahwa kekuasaan dan
perbedaan status harus ada dalam organisasi. Individu
yang mempunyai tingkat authoritarianism tinggi
biasanya selalu terikat dengan peraturan-peraturan dan
nilai yang konvensional, menjunjung tinggi kekuasaan,
manilai orang dengan sangat kritis serta menyetujui
ekspresi perasaan pribadi.

Hal yang berkaitan erat dengan authoritharianism adalah


dogmatism (dogmatis, peraturan), dalam hal ini terkait
dengan kemauan seseorang untuk menerima ide atau
opini orang lain. Seseorang dianggap sifat dogmatisnya
tinggi bila closed-minded dan tidak menerima opini orang
lain serta cepat mengambil keputusan dengan informasi
yang terbatas.
VALUE AND ATTITUDES
Instrumental and End Values
Values (Nilai)
Cara pandang yang dianggap penting bagi
individu dan relative tidak berubah seiring
dengan waktu, serta memiliki pengaruh
pada sikap dan kebiasaan.

End Values/ Terminal Values


Cara pandang mengenai suatu tujuan atau
hasil akhir yang dianggap bernilai untuk
dicapai.
Instrumental Values
Cara pandang mengenai tipe kebiasaan yang
sesuai untuk mencapai tujuan. Termasuk
didalamnya seperti berlaku jujur, saling
membantu, serta mempertunjukkan keberanian.

Values (nilai) dapat mempengaruhi persepsi


pemimpin dan kepemimpinan dalam melihat
situasi dan permasalahan. Perception/persepsi,
yang dimaksud dalam hal ini adalah proses
seseorang menggunakan cara pandangnya dalam
melihat lingkungan dengan memilih, mengatur
dan menginterpretasikan dalam suatu pola.
ROKEACHS INSTRUMENTAL
AND END VALUES
END VALUES INSTRUMENTAL VALUES

- A Comfortable life Ambition


- Equality Broad-mindedness
- An Exciting life Capability
- Family Security Cheerfulness
- Freedom Cleanliness
- Health Courage
- Inner Harmony Forgiveness
Pemimpin yang menghargai ambisi dan
kesuksesan berkarir dapat memandang
permasalahan atau kesalahan bawahan sebagai
rintangan dalam kesuksesannya. Sedangkan
pemimpin yang menghargai sikap saling
membantu dan kepatuhan akan melihat
permasalahan dan kesalahan bawahan sebagai
kesempatan untuk membantu bawahan
berkembang.
Pemimpin yang menilai penting kepatuhan,
tradisi dan kesopanan dapat mengalami kesulitan
untuk mengerti dan menghargai bawahan yang
independent, kreatif dan agak nakal.
Values mempengaruhi kepemimpinan dengan cara
mengarahkan pilihan dan aksi pemimpin.
How Attitudes Affect Leadership
1. Attitudes
Suatu evaluasi, baik positif maupun negative mengenai
orang, kejadian atau sesuatu. Tiga komponen dalam
attitudes/sikap yaitu cognitions (pemikiran), affects (perasaan),
dan behavior (kebiasaan).

Cognitions (pemikiran), yang termasuk didalamnya


adalah ide dan pengetahuan seseorang mengenai sikap,
seperti pengetahuan dan ide pemimpin mengenai
pekerjaan dan kemampuan karyawan.

Affective (perasaan) berkaitan dengan apa yang dirasakan


oleh individu pada sikap seseorang.

Behavior (kebiasaan) komponen ini berkaitan dengan


bagaimana pemimpin mempengaruhi bawahan untuk
bertindak dengan cara tertentu.
2. Self Concept
Sikap pemimpin mengenai dirinya merupakan
salah satu pertimbangan dalam kepemimpinan.
Self Concept yaitu kumpulan sikap mengenai diri
sendiri termasuk elemen kepercayaan diri.

3. Theory X and Theory Y


Mc Gregor mengasumsikan sikap alami manusia
menjadi 2, yaitu Teori X dan Teori Y yang
menggambarkan 2 kumpulan sikap mengenai
cara berinteraksi dengan sesama dan
mempengaruhi bawahan.
Teori X, menggambarkan bahwa orang biasanya
malas dan tidak termotivasi bekerja dan memiliki
kecenderungan untuk menghindari
tanggungjawab.
Teori ini mempercayai bahwa individu harus
dipaksa, diawasi, diarahkan atau diancam supaya
mereka mengerahkan usaha yang terbaik. Individu
yang termasuk dalam teori X biasanya task oriented
dan lebih focus pada hasil kerja dibandingkan orang.

Teori Y, berdasarkan asumsi dimana orang secara


alami menyukai pekerjaan dan akan melakukan
yang terbaik untuk pekerjaan yang disenangi. Teori
ini juga tidak percaya bahwa individu harus dipaksa
dan diawasi untuk bekerja secara efektif. Pemimpin
yang menggunakan Teori Y biasanya people oriented
dan sangat menghargai hubungan.
Mc Gregor percaya bahwa Teori Y lebih realistis dan
produktif untuk mengawasi bawahan dan
membentuk sikap pemimpin.
TEORI X TEORI Y

Manusia tidak suka bekerja dan Manusia pada dasarnya bukan


akan menghindarinya sebisa tidak suka bekerja, bekerjasama
mungkin naturalnya dengan bermain dan
Manusia harus dipaksa, beristirahat
dikendalikan, diarahkan, dan Pengendalian diluar manusia dan
ditakuti dengan hukuman agar hukuman bukan satu-satunya cara
mencurahkan cukup usaha untuk agar manusia mau berusaha
mencapai tujuan organisasi mencapai tujuan namun lebih
Manusia suka diarahkan, didasari pada tujuan yang dianut.
menghindari tanggungjawab, Manusia suka belajar dan dalam
memiliki ambisi kecil dan kondisi yang tepat suka memikul
menginginkan keamanan tanggungjawab
Manusia mempunyai kapasitas
berimajinasi dan bertindak kreatif
dalam memecahkan masalah
Potensi intelektual manusia baru
sebagian dimanfaat
COGNITIVE DIFFERENCES
Cognitive style menggambarkan bagaimana
seseorang memandang, mengolah,
menginterpretasikan dan menggunakan informasi.

PATTERN OF THINKING AND BRAIN


DOMINANCE
HERRMANN BRAIN DOMINANCE
INSTRUMENT (HBDI)
Ned Herrmann mengembangkan Whole Brain
Concept, dimana pendekatan ini tidak hanya
mempertimbangkan kecenderungan right-brained vs
left-brained saja tapi juga conceptual vs experiental.
Whole Brain Model

A. Upper Left B. Upper Right

Logical Holistic
Analytical Intuitive
Fact-Based Integrating
Quantitative Synthesizing
C. Lower Left D. Lower Right

Organized Interpersonal
Sequential Feeling based
Planned Kinesthetic
Detailed Emotional
Quadrant A Quadrant B Quadrant C Quadrant D

Analytical Organize Friendly Holistic


Factual Planned Receptive Imaginative
Directive Controlled Enthusiastic Intuitive
Rigorous Detailed Understanding Synthesizing
Realistic Conservative Expressive Curious
Intellectual Disciplined Empathetic Spontaneous
Objective Practical Trusting Flexible
Knowledgeable Industrious Sensitive Open-
Bright Persistent Passionate Minded
Clear Implementer Humanistic Conceptual
Adventurous
Quadrant A
Menunjukkan orang yang berpikiran logis, analitis.
Orang yang dominant kuadrant A bersifat rasional,
realistis, berpikir kritis, suka bekerja dengan hal
yang sifatnya teknis dan angka. Pemimpin yang
kuadran A biasanya bersikap otokrasi dan task
oriented.

Quadrant B
Berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian
serta memperhatikan detil. Orang pada kuadran ini
biasanya sangat terorganisir dapat dipercaya dan
rapi. Pemimpin pada kuadran ini bersifat
konservatif, cenderung menghindari resiko dan
menyukai kestabilan (tidak ada perubahan) serta
terpaku pada peraturan.
Quadrant C
Dikaitkan dengan hubungan interpersonal, mempengaruhi
intuitif dan perasaan (emosi) dalam proses pemikiran.
Individu pada kuadrant C ini sangat sensitive, suka
berinteraksi, sangat mendukung, ekspresif dan mengajari
orang lain. Pemimpin yang berkuadran C bersifat ramah,
mempercayai dan people-oriented namun dapat berpengaruh
pada perkembangan dan pelatihan karyawan.

Quadrant D
Dihubungkan dengan konseptual, integrasi fakta yang
melihat hal pada skala besar dan bukan pada detil. Orang
pada kuadran ini sangat imajinatif, suka berspekulasi,
mengambil resiko, melanggar aturan dan bereksperimen.
Pemimpin pada sifat dikuadran ini, bersifat menyukai
perubahan, memberikan kebebasan kepada bawahan dan
imajinatif.
The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)
Pendekatan yang lain yaitu Myers-Briggs Type Indicator
(MBTI), dimana indicator ini menggunakan 4 komponen
dalam mengidentifikasikan tipe-tipe kepribadian.

Introversion Versus Extroversion


Extrovert, mengambil peluang dengan berada diantara orang-
orang dan berinteraksi dengan orang lain. Introvert,
mengambil peluang dengan focus pada pikiran dan perasaan
pribadi.

Sensing Versus Intuition


Sensing, bersifat mengumpulkan dan menerima informasi
dengan kelima indera: intuition, focus pada pola, hubungan
dan perasaan.
Thinking Versus Feeling
Tipe Feeling cenderung bergantung pada nilai dan perasaan
yang mana benar atau salah, serta mempertimbangkan
bagaimana keputusan dapat mempengaruhi perasaan
seseorang. Tipe Thinking, cenderung bergantung pada
logika dan lebih objective dalam mengambil keputusan.

Judging Versus Perceiving


Orang dengan kecenderungan Judging, menyukai
kepastian, kerahasiaan, mengambil keputusan yang cepat
dengan data yang tersedia dan menyukai adanya tujuan.
Individu yang sifatnya perceiving, menyukai
ketidakpastian, dapat berubah pikiran beberapa kali
sebelum mengambil keputusan dan mengumpulkan
informasi serta data yang banyak sebelum mengambil
keputusan.
PERSONALITY AND LEADERSHIP STYLE :
THE ROLE OF CHARISMA

Pemimpin yang karismatik, memiliki kemampuan


memberi inspirasi dan motivasi kepada orang lain
untuk melakukan lebih baik dari biasanya dengan
menghiraukan rintangan dan pengorbanan pribadi.

Pemimpin yang karismatik memiliki pengaruh


emosional kepada orang lain karena adanya
ketertarikan orang lain pada hati dan pikiran
pemimpin tersebut. Bawahan dapat bertindak
secara emosional dengan mengorbankan diri sendiri
demi tercapainya misi.
What Makes a Charismatic Leader

Pemimpin yang karismatik, memberi inspirasi dan


dorongan kepada bawahan melalui pesan yang
disampaikan.

Pemimpin yang demikian mendapatkan


kepercayaan bawahan dengan menunjukkan
kemauan yang besar dari pemimpin untuk
berkorban demi bawahan.

Karakteristik lain dari pemimpin yang karismatik


adalah pengaruh yang diberi kepada bawahan
bersumber dari kekuatan pribadi bukan dari
kekuatan yang diberikan (jabatan).
The Black Hat of Charisma

Sisi negative juga dapat timbul dari karisma,


yang dihubungkan dengan personalized leader
dan socialized leader. Pemimpin yang bertindak
dalam organisasi untuk kepentingan pribadi
dapat berakibat fatal bagi orang lainnya.
Dimana personalized charismatic leader bersifat
nonegalitarian, mengeksploitasi dan egois.
Sedangkan socialized charismatic leader bersikap
egalitarian, mendukung dan empowering.
Studi telah banyak dilakukan dan ditemukan
bahwa personalized charismatic leader dapat
memberikan pengaruh buruk bagi kinerja
organisasi untuk jangka waktu lama.
DISTINGUISHING CHARACTERISTICS OF CHARISMATIC
AND NONCHARISMATIC LEADERS

Non charismatic Leaders Charismatic Leaders

Likableness: Shared perspective makes Shared perspective and idealized vision


leader likable make leader likable and an honorable
hero worthy of identification and imitation
Trustworthiness: Disinterested advocacy in Passionate advocacy by incurring great
persuasion attempts personal risk and cost
Relation to Tries to maintain status quo Creates atmosphere of change
status quo:
Future goals: Limited goals and motivations Idealized vision that highly discrepant
to lead from status quo
Articulation: Weak articulation of goals and Strong and inspirational articulation of
motivation to lead vision and motivation to lead
Competence: Uses available means to Uses unconventional means to transcend
achieve goals within frame- the exiting order
work of the exiting order

Behavior: Conventional, conforms to Unconventional, counter-normative


norms

Influence: Primarily authority of position Transcend position; personal power based


and rewards on expertise and respect based
administration for the leader
TRANSACTIONAL VERSUS TRANSFORMATIONAL
LEADERSHIP

Transactional Leadership
Adalah traksasi atau pertukaran proses antara bawahan
dan pemimpin (atasan). Transactional leadership
mengenali kebutuhan bawahan dan memberi cara
bagaimana kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan
memenuhi tugas atau melakukan tanggungjawab
tertentu sebagai balasan.
Transactional leader menjaga stabilitas dalam organisasi
dibandingkan membuat perubahan.

Transformational Leadership
Merupakan kemampuan untuk membuat perubahan
secara signifikan. Pemimpin yang demikian memliki
kemampuan untuk membuat perubahan dalam visi,
strategi serta melakukan inovasi dalam produk dan
teknologi.
Perbedaan Transactional Leadership dengan
Transformational Ledaership terdapat dalam 4
area:
Transformational leadership mengembangkan
para pengikutnya untuk menjadi pemimpin.
Dalam hal ini Transformational leader
memberikan kebebasan bagi bawahan untuk
mengawasi dan mengerjakan tugasnya
sendiri dan meningkatkan kewaspadaan pada
permasalahan sehingga meningkatkan
produktivitas.
Transformational leadership memberikan
perhatian para pengikutnya dari tingkat
kebutuhan fisik rendah (seperti keselamatan
dan keamanan) ke tingkat kebutuhan
psikologi tinggi (seperti self-esteem dan self-
actualization).
Transformational leader
tidak hanya memperhatikan kebutuhan seperti
gaji dan lingkungan kerja yang baik melainkan
juga memperhatikan kebutuhan bawahan untuk
maju dan berkembang.

Maka, pemimpin memberikan contoh dan


memberikan pekerjaan yang tidak hanya
memenuhi kebutuhan akan gaji tapi juga tugas
yang dapat meningkatkan kemempuan yang akan
dikaitkan dengan pencapaian misi organisasi.
Transformational leader dengan demikian akan
mengubah bawahan sehingga nantinya dapat
diberikan pelinpahan sebagian kekuasaan
(empowerment).
Transformational leadership
memberikan inspirasi kepada pengikutnya
untuk menuju self-interest masing-masing
untuk kebaikan kelompok.

Transformational leader akan memotivasi


bawahan untuk melakukan lebih baik dari
biasanya dan membuat bawahan
menyadari pentingnya perubahan yang
akan berdampak pada perubahan tujuan
bawahan dari pribadi hingga untuk sejalan
dengan kepentingan misi perusahaan.
Transformational leadership
menggambarkan visi dan keinginan dimasa
depan dan mengkomunikasikan visi tersebut
dalam suatu cara yang membuat perubahan
penting bagi suatu usaha.

Dengan menemukan visi untuk perusahaan yang


secara nyata lebih baik dari sebelumnya serta
membaginya dengan orang lain (semua yang
terkait dengan perusahaan), sehingga semua yang
terkait dengan perusahaan merasa adanya
kesamaan dan secara bersama mencapai tujuan
tersebut.
SUMMARY
Setiap manusia adalah unik, berbeda-beda
dalam hal: kepribadian, nilai, sikap, cara
berfikir & pengambilan keputusan.
Karakteristik leader mempengaruhi
bagaimana ia memimpin, sebaliknya
efektivitas kepemimpinannya dipengaruhi
oleh kemampuan leader memahami
perbedaan.
Nilai adalah kepercayaan mendasar dalam
diri seseorang mengapa ia lebih menyukai
sesuatu dibanding lainnya.
Nilai mempengaruhi sikap, sikap yang
dianut seorang leader mempengaruhi
bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Teori X dan Teori Y menunjukkan sikap
yang dapat dianut leader dengan sangat
berbeda.
Cara/ gaya berfikir orang bermacam-
macam, namun demikian seseorang perlu
belajar untuk menggunakan seluruh
otaknya (whole brain) daripada
mengandalkan suatu cara/ gaya berfikir
saja.
Gaya kepemimpinan transactional &
transformational sangat tergantung dari
karakteristik kepribadian leader. Keduanya
dapat menjadi leader yang hebat, meski kondisi
dewasa ini lebih menuntut seorang leader yang
memfasilitasi perubahan.
Seorang leader yang memikat benak & hati
follower akan menjadi sosok yang kharismatik,
yang dapat bermanfaat bagi organisasi
Seorang leader yang memikat benak & hati
follower akan menjadi sosok yang kharismatik,
yang dapat bermanfaat bagi organisasi &
follower atau bahkan sebaliknya.

Anda mungkin juga menyukai