Anda di halaman 1dari 31

CHAPTER 10

LEADING TEAM

BY: SETIA TJAHYANTI


TEAMS IN ORGANIZATIONS

DEFINISI TEAM
Suatu unit yang terdiri dari paling sedikit 2 orang atau lebih
yang berinteraksi dan mengkoordinasikan pekerjaannya
untuk emncapai tujuan yang disepakati bersama.

Terdiri dari 3 komponen:


1.Team terdiri dari dua orang atau lebih, team dapat
menjadi besar, tetapi setidaknya tidak kurang dari 15 org
2. Orang-orang dalam team bekerjasama, saling
berinteraksi dan berkoordinasi.
3. Oeang-orang dalam team saling berbagi tujuan dan
sasaran, mempunyai komitmen yang sama terhadap
tujuan dan sasaran bersama.
GROUP TEAM
1. Ada seorang pemimpin yang 1. Membagi atau merotasi peran
kuat pemimpin
2. Tanggungjawab pribadi 2. Tangungjawab bersama dan
3. Tujuan grup sama dengan pribadi/ individual
tujuan organisasi 3. Tujuan atau visi tim yang
4. Target kinerja ditentukan oleh spesifik
pihak lainnya 4. Target kinerja ditentukan tim
5. Bekerja dalam lingkup 5. Tanpa batasan lingkup kerja
organisasi organisasi
6. Produk dihasilkan secara 6. Produk dihasilkan secara tim
individu 7. Umpan balik mutual, diskusi
7. Mengorganisasikan meeting terbuka, pemecahan masalah
dan delegasi secara aktif
EXHIBIT 10.1

DIFFERENCES BETWEEN GROUPS AND TEAMS

Group Team

Has a designate, strong leader Shares or rotates leadership roles


Individual accountability Mutual and individual accountability
(accountable to each other)
Identical purpose for group and Specific team vision or purpose
organization
Performance goals set by others Performance goals set by them
Work within organizational Not inhibited by organizational
boundaries boundaries
Individual work products Collective work products
Organized meetings, delegation Mutual feedback, open-ended
discussion,
active problem-solving
EXHIBIT 10.2

EVOLUTION OF TEAMS AND TEAM


LEADERSHIP
Types of Teams

Cross-Functional Teams Self-Directed Team


Functional Team
Crosses organizational Autonomous, defines
Grouping boundaries awn boundaries
individuals by Leader gives up some Member-centered
activity power Self-managed team
Special purpose team,
Leader centered problem-solving team
Vertical or
command team

Need for traditional leadership Need for team leadership


Types of Team

1. Functional Team
Bagian dari suatu struktur vertikal hirarki. Team
ini dibentuk dalam rantai komando yang
formal. Terdiri dari minimum 4 level hirarki
organisasi. Hanya bertanggunggjawab
terhadap 1 unit organisasi dan sistemnya
birokrasi. Tujuannya untuk meningkatkan
pelayanan konsumen, kecepatan dalam servis,
fleksibelitas dan kualitas.
Contoh: Divisi marketing bertanggungjawab di
area marketing saja.
2. Cross-Funstional Teams
Terbentuk dari berbagai fungsi departemen yang
berbeda dalam organisasi. Anggota-anggota team
terbebas dari hirarki yang bersifat vertikal tetapi masih
bersifat leader-centered dan leader-directed.
Tujuannya untuk penyatuan pemikiran dan disiplin ilmu
dari tiap-tiap departemen untuk mendapatkan kinerja
yang optimal.

Team ini terdiri dari 2:


Special purpose team
Digunakan untuk membentuk ide-ide/ kreativitas
2. Problem solving team
Digunakan untuk mengatasi/ menyelesaikan masalah
yang diambil dari berbagai divisi.
3. Self Directed Team
Tahapan yang lebih tinggi dari kedua tipe tersebut
diatas adalah jenis self directed teams. Dimana
dalam team ini seluruh anggota team bekerja
sama tanpa arahan manager, supervisor, atau
tugas dari ketua team.
Anggota team ini mempunyai keterampilan yang
berbeda-beda, mempunyai kekuasaan yang
berhubungan dengan rencana kerja, pengambilan
keputusan dan pengambil tindakan masalah yang
terjadi. Self-directed lebih mengedepankan
keberadaan anggota-anggota team daripada
leader-centered ataupun ataupun leader-directed.
Understanding Team Characteristics

1. Size
Ukuran ideal banyaknya orang yang bergabung dalam
team adalah 7 orang tetapi bisa juga berkisar antara 5
sampai 7 orang. Jumlah kelompok team sebaiknya harus
kecil sehingga dapat berinteraksi satu sama lain, mudah
diatur, timbul kebersamaan serta kuat dalam komitmen.

2. Diversity
Keragaman team akan lebih efektif karena masing-
masing anggota memberikan berbagai macam
kemampuan, pengetahuan dan pengalaman serta bakat
dan informasi untuk menunjang suatu proyek atau
masalah. Keragaman team akan menghasilkan solusi
yang lebih inovatif untuk berbagai masalah yang dapat
dilakukan oleh keragaman team.
3. Interdependence
sampai sejauh mana setiap anggota team bergantung
satu sama lainnya.

a. Pooled Interdependence
Merupakan bentuk terendah dari kesaling tergantungan
dimana anggota-anggotanya hampir saling tergantung
satu sama lain dalam menyelesaikan pekerjaan mereka,
partisipasi dalam team tapi tidak sebagai suatu team dan
pekerjaan tersebut diselesaikan secara independence.

Contohnya sales team, dengan tanggungjawab penjulan


perorang untuk area penjualan dan pelanggannya sendiri,
tapi berbagi janji dengan sekretaris yang sama. Sales
person tidak perlu berinteraksi dalam menyelesaikan
pekerjaan mereka dan hanya sedikit koordinasi harian
yang diperlukan.
b. Sequential Interdependence

Merupakan bentuk seri dimana output dari suatu


team merupakan input untuk team lain. Jadi
anggota yang satu harus bekerja dengan baik
untuk menghasilkan output yang baik sehingga
anggota team lainnya dapat berkinerja baik pula.
Ini merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari
kesalingtergantungan karena anggotannya harus
saling bertukar informasi dan sumber mereka
saling bergantung satu sama lain.
Contohnya team pembuat mesin dalam pabrik
mobil. Tiap anggota mengerjakan tugas terpisah,
tapi hasil pekerjaannya tergantung pada
pekerjaan dari anggota team lainnya. Komunikasi
dan koordinasi secara terartur dibutuhkan untuk
menjaga agar pekerjaan berjalan dengan lancar.

c. Reciprocal Interdependence
Merupakan tingkatan tertinggi dari kesaling
tergantungan yang ada ketika para anggota team
mempengaruhi dan dipengaruhi satu dengan
yang lain dalam kebiasaan timbal balik.
EXHIBIT 10.3

MODEL OF TEAM EFFECTIVENESS

Team Leadership

Type of Team Team Dynamics Team Performance

Functional Stages of development Innovation/adaptation


Cross-functional Cultural values.norms Efficiency
Self-directed Cohesiveness Quality
Conflict Member satisfaction `

Team
Characteristics

Size
Interdependence
LEADING EFFECTIVE TEAMS

Efektivitas team bisa didefinisikan sebagai


pencapaian untuk hasil kinerja inovasi atau
adaptasi, efisiensi, kualitas dan kepuasan
pekerja.
Inovasi atau adaptasi berati derajat dimana
team mempengaruhi kemampuan organisasi
untuk merespon dengan cepat terhadap
kebutuhan dan perubahan lingkungan.
Efisiensi menyinggung tentang apakah team
membantu perusahaan mencapai tujuan dengan
sumber yang sedikit atau terbatas. Kualitas
mengarah pada pencapaian kerusakan
minimum dan melampau harapan customer.
Team Cohesiveness and Effectiveness
Tingkatan dimana anggota-anggotanya
saling membantu dan bersatu untuk
mencapai tujuan bersama.

Penentu Cohesiveness:
a. Interaction
b. Share mission and Goals
c. Personal attraction
d. Konteks: kompetisi, kesuksesan
Konsekuensi Cohesiveness:
a. Moral kerja
b. Kinerja team
c. Social Facitation

Balancing Task and Socio-Emotional Needs


Faktor penting lain dalam team, keefektifan
menjamin dari apa yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas.
Dalam seuah team, untuk dapat sukses dalam
jangka waktu yang panjang, dapat dijalankan
dengan memelihara kepuasan dan
penyelesaiandari tugas.
Terdapat dua tipe dari team leadership rules:

1. Task- Specialist Role


Peran leader yang berhubungan dengan
menghasilkan ide-ide baru, mengevaluasi
efektivitas team, klarifikasi tugas dan
tanggungjawab, meringkas fakta dan ide,
dan merangsang orang lain untuk bertindak.

2. Socio- Emotional Role


Peran leader yang berhubungan dengan
memfasilitasi partasipasi, menyelesaikan
konflik, memberi perhatian atas kebutuhan
dan perasaan, bertindak sebagai role
model (teladan), dan mengingatkan orang
lain atas norma dan perannya.
Task- Specialist Behavior Socio-Emotional Behavior

1. Mengarahkan tujuan dari jalan 1. Memberi semangat kepada


keluar dan mengajukan ide-ide orang lain, ide-ide dengan
baru menunjukkan kebersamaan
2. Evaluasi efektivitas dari solusi dan dukungan.
tugas, pendapat dari luar. 2. Meredakan konflik dari tim,
3. Melihat informasi untuk memecahkan perbedaan.
menjelaskan tugas-tugas, 3. Bersahabat dan mensupport
tanggungjawab, saran dan rekan-rekan & memperlihatkan
pendapat. pada kebutuhan anggota
4. Meringkaskan ide dan member dan perasaannya.
menceritakan keadaan yang 4. Memelihara standar kelakuan
ada saat ini. dan mengingatkan yang lain
5. Menyemangati anggota team pada norma-norma dan
dalam tugasnya. standar untuk berinteraksi.
5. Melihat suatu masalah dengan
berinteraksi dengan team.
The team leader personal role (Peran Pribadi
Leader)
Suatu team akan sukses jika dinilai dari
kepercayaan diri dan keefektifan dari ketua tim.
Sikap dan tindakan dari ketua team menjadi salah
satu faktor yang amat penting untuk menentukan
kesuksesan team.

Mengenali pentingnya shared purposed &


values
Pemimpin harus memiliki perubahan pada dirinya,
untuk melangkah dari wilayah keyamannnya dan
meninggalkan emosi-emosi dan tindakan mereka
pada masa lalunya.
Admit your mistakes (mau mengakui
kelemahan diri sendiri)
Pemimpin yang baik akan membuat dirinya mudah
dikritik dan harus memiliki cara yang
memungkinkan semua anggota team untuk
menyumbangkan atau mengeluarkan kemampuan
mereka, talenta dan ide-idenya.

Provide support and coaching to team


members (memberi dukungan dan melatih
team member)
Pemimpin harus memberi latihan pada anggota
team, kesempatan untuk berkembang dan SD
yang mereka butuhkan dan pujian atau
penghargaan yang cukup untuk kerja mereka
terhadap organisasi.
EXHIBIT 10.4

STAGES OF TEAM DEVELOPMENT


Forming :
Orientation, break the ice Leader:
Facilitate social Interchanges

Storming :
Conflict, disagreement Leader:
Encourage, participation surface differences

Norming :

Establishment of order and cohesion Leader:


Help clarify team roles, Norms, values

Performing :

Cooperation Problem solving Leader:


Facilitate task accomplishment
TEAM DEVELOPMENT

1. Forming
Suatu periode terbentuknya orientasi dan
mendapatkan suatu perkenalan (dikenal). Anggota
team mencari apakah perilaku dapat diterima oleh
orang lain, mencari kemungkinan persahabatan, dan
mendefinisikan orientasi tugas. Pada tahap ini adanya
ketidakpastian terhadap tujuan.

2. Storming
Selama tahap ini, kepribadian individu lebih
dikeluarkan. Orang-orang akan menjadi lebih
berusaha mempertahankan dalam mengklarifikasikan
peraturan-peraturan mereka. Tahap ini terjadi banyak
konflik dan beda pendapat. Anggota team mungkin
saja tidak setuju mengenai persepsi dari misi dan
tujuan dari team mereka.
3. Norming
Pada tahap ini konflik sudah mulai sedikit dan adanya
kesatuan team, dan harmonisasi. Pada tahap ini mulai
memahami satu sama lain, hubungan antar team sudah
lebih baik, norma-norma dan nilai semakin baik
sehingga dapat berinteraksi lebih baik.

4. Performing
Selama tahap ini, tekanan utama adalah dalam
menyelesaikan atau mencapai tujuan dari team. Para
anggota berkomitmen dalam misi teamnya. Mereka
saling berinteraksi, mengkoordinasi tindakan mereka,
dan menangani beda pendapat dengan sikap yang
dewasa, dan gaya yang produktif.
EXHIBIT 10.5

A MODEL OF STYLES TO HANDLE


CONFLICT
Assertive Competing Collaborating

Assertiveness
(attempting to
Compromising
satisfy one,s own
concerns)

Avoiding Accommodating
Unassertive
Uncooperative Cooperative

Cooperativeness
(Attempting to satisfy the other
partys concerns)
Handling Team Conflict

Konflik adalah interaksi bermusuhan dimana


satu pihak berupaya mengagalkan niat pihak
lain.
Konflik itu alami dan selalu ada didalam suatu
kelompok dan organisasi. Konflik bias terjadi
antara anggota kelompok atau antar kelompok.
Konflik terjadi dimana adanya pertentangan
antara satu atau dua orang yang merasa tidak
satu tujuan atau tidak sesuai terhadap presepsi
orang lain karena adanya perbedaan status,
nilai dan tujuan yang berbeda.
Alasan timbulnya Konflik:

1. Keterbatasan sumber daya


2. Ketidakjelasan tanggungjawab
pekerjaan
3. Ketidaksesuaian tujuan
4. Ketidakcocokkan pribadi, nilai dan
sikap
Style to Handle Conflict

1. Competing
Mencerminkan gaya assertiveness yang tinggi untuk
memenuhi kepentingannya sendiri dan dapat
digunakan dengan cepat dan kebutuhan yang sifatnya
mendadak/ tindakan yang tidak popular.

2. Avoiding
Gaya dimana assertiveness-nya dan cooperativeness-
nya sama-sama rendah, tepat digunakan ketika issue
trivial atau masalah yang tidak biasa, tidak ada
kemungkinan menang dan ketika suatu penundaan
dibutuhkan untuk mengumpulkan informasi yang lebih.
3. Compromising
Gaya dimana adanya kesempatan untuk mengatasi
konflik tersebut, ingin menghasilkan sesuatu dengan
tidak ada yang menang atau kalah. Gaya ini tepat
dilakukan ketika tujuan kedua belah pihak memiliki
kekuatan dan kepentingan berimbang.

4. Accomodation
Gaya dimana cooperativeness dan assertiveness-nya
sama-sama tinggi. Gaya ini tepat digunakan
perusahaan untuk menang, meskipun memerlukan
percakapan yang substantive dan negosiasi. Gaya ini
sangat penting untuk dikompromikan, konsensus dan
pendapat orang lain diperlukan dalam keputusan akhir.
Collaborating
Gaya dimana cooperativeness dan
assertivenessnya sama-sama tinggi. Gaya
ini tepat digunakan perusahaan untuk
menang, meskipun memerlukan
percakapan yang substantif dan negosiasi.

Gaya ini sangat penting untuk


dikompromikan, konsensus dan pendapat
orang lain diperlukan dalam keputusan
akkhir.
Pendekatan lain dalam mengelola team
conflict:

1. Vision
Suatu visi dapat mendorong seseorang untuk bekerja
bersama-sama. Visi adalah untuk satu team bukan
untuk perorangan. Pemimpin dapat fokus pada visi
organisasi sehingga konflik dapat berkurang karena
mereka menyadari untuk mencapai visi dan
memperoleh achievement mereka harus bekerjasama.

2. Bargaining atau Negotiating


Suatu sistem/ cara yang dapat dilaksanakan untuk
mencapai solusi dengan cara tawar menawar/
negosiasi.
3. Mediation
Menggunakan perantara/ pihak ketiga, seperti
supervisor, leader team atau seseorang dari
bagian SDM. Mediator mendiskusikan
masalah/ konflik untuk mencari solusinya.
Ketika mediator dalam mencapai solusi tidak
mencapai kesepakatan/ kepuasan, maka tetap
menggunakan solusi dari pemimpin.

4. Facilitating Communication
Salah satu cara yang paling efektif untuk
mengurangi konflik dengan berkomunikasi
secra terbuka dan jujru. Misalnya dengan
dialog dan diskusi.

Anda mungkin juga menyukai