Anda di halaman 1dari 37

FOLLOWERSHIP

BY:
SETIA TJAHYANTI
THE ROLE OF FOLLOWERS

Peran seorang pengikut/ follower sangat penting karena memiliki


implikasi di dalam kepemimpinan, yaitu:
1. Pengikut dan pemimpin merupakan dasar dari hubungan kepemimpinan yg
mempunyai peranan penting dalam berbagai kondisi yang beraneka
ragam (karena pemimipin pernah juga menjadi bagian dari pengikut dan
pengikut juga menjadi pemimpin jadi posisi keduanya sama-sama penting
dan saling terkait sehingga dalam berbagai kondisi maupun masalah apapun
keduanya memiliki peranan penting untuk menyelesaikan masalah, dibutuhkan
kerjasama dari kedua pihak)
2. Pengertian kepemimpinan yang merefleksikan bahwa hubungan antara
pemimpin dengan bawahan (posisi dari pemimpin sebagai individu
dipengaruhi oleh tindakan dan perilaku dari para pengikutnya. Pengaruh
pengikut terhadap pemimpinnya dapat memperbaiki/ memperburuk citra
pemimpin.)kepemimpinan yg baik perlu menyesuaikan dgn situasi & follower
3. Kualitas yang diinginkan seorang pemimpin sama dengan bawahan yang
efektif (saling proaktif dalam peranannya dan mereka saling membagi visi-
jadi pemimpin membantu pengikut untuk efektif begitu juga sebaliknya).
Ex. 7.1 Followership Styles
Independent, critical thinking

Alienated Effective

Passive Pragmatic Active


Survivor

Passive Conformist

Dependent, uncritical thinking


Critical and Uncritical Thinking

Critical Thinking
Thinking independently and being mindful of the effects of
ones own and other peoples behavior on achieving the
organizations vision.
Uncritical Thinking
Failing to consider possibilities beyond what one is told;
accepting the leaders ideas without thinking.
STYLE OF FOLLOWERSHIP
Menurut Robert E. Kelley ada 5 gaya kepemimpinan dan
0dikelompokkan menjadi dua bagian dimensi utama
I. Independent, critical thinking VS Dependent, uncritical thinking
a. Independent, critical thinking
- Berjuang untuk suatu tujuan
- Mereka selalu berhati-hati dalam setiap tindakan
- Dapat mempengaruhi visi pemimpin dan sering menawarkan
pemikiran yang konstruktif, cretaive, dan inovasi

b. Dependent, uncritical thinking


- Tidak memiliki pertimbangan/ tidak memikirkan apa yang akan
terjadi
- Tidak ada kontribusi But I didnt work late last night.
- Menerima ide dari atasan tanpa berfikir
II. Passive VS Active
a. Active
- Partisipasi penuh untuk organisasi
- Tingkah laku dan sikap terhadap
pekerjaan tidak terbatas
- Ada rasa memiliki
- Berusaha untuk memecahkan masalah dan
membuat keputusan
b. Passive
- Perlu disupervisi
- Malas (tidak melakukan apa-apa sebelum diminta
dan tidak ada nilai tambah dalam pekerjaan/
menghindari tanggung jawab
1. Alienated Follower
- Pasif, tidak tergantung dan kritis
- Mereka mempunyai pengalaman
- Focus pada hasil yang rendah dan orang lain
- Tidak ikut berpartisipasi dalam masalah/ kekurangan yang
mereka lihat (ikut dalam pemecahan masalah solusi)
2. Conformist Follower
- Partisipasi aktif tapi tidak ada pemikiran kritis dalam tingkah
laku mereka
- Semua tugas dilakukan karena dianggap semua itu pekerjaan
yang harus mereka lakukan
- pemikiran untuk hal-hal yang akan terjadi tidak dilakukan
- Menghindari konflik dan menyukai adanya peraturan yang
ketat dan otorisasi
3. Pragmatic Survivor Follower
- Tergantung pada situasi dan kritis
- terkadang mereka biasanya bisa masuk kedalam empat
elemen yang ada jadi sikap mereka bias, status quo, lebih
menguntungkan posisi dan mereka menginginkan resiko
yang kecil, atau kepentingan individu lebih mereka
pentingkan, mereka berjuang untuk waktu yang pendek/
terbatas untuk suatu tujuan.

4. Passive Follower
- Pasif, tidak tergantung dan kritis
- Tidak ada tanggungjawab dan kegiatan terbatas
pada apa yang mereka lakukan
- Harus diberikan hukuman dan biasa dikontrol
5. Effective Follower
- Kritis, pemikiran tidak tergantung dan aktif
- Saling menghormati posisi dan tidak menghindari
konflik/ risk
- mereka suka pada perubahan dan berpartisipasi dalam
menyelesaikan konflik
- mereka mau bertindak dan berpikir sesuai dengan apa
yang mereka katakan
- komitmen yang cukup kuat untuk setiap hal
- berkompetensi, memiliki pengaruh yang positif, dan
memberikan solusi
COURAGES FOLLOWERS

Pengikut harus tahu apa yang akan mereka perbuat dan


ekspresikan baik dalam ide dan opini yang akan mereka
berikan kepada pimpinan mereka.

Selain itu mereka juga harus menerima tanggungjawab


dan mau untuk melayani kebutuhan organisasi (baik
dalam perubahan, menghadapi tantangan dan bersedia
untuk keluar ketika sudah tidak sejalan lagi).
.
1. Courages to assume responsibility
Rasa tanggung jawab dan rasa memiliki sebuah organisasi harus dipunyai
setiap bawahan. Dan mereka dituntut untuk bertanggungjawab atas apa yang
terjadi dalam perusahaan. Selain itu, ketika semuanya (permasalahan)
membutuhkan solusinya maka bawahan harus memberikan kapabilitas dalam
menghadapi semuanya.

2. Courages to serve
- mengetahui kebutuhan organisasi
- mengetahui kekuatan dan mendukung kepentingan pemimpin dan ikut
berpartisipasi/ memberikan kontribusi dalam organisasi.

3. Courage to challenge
Pemimpin yang efektif tergantung pada pengikut yang berani untuk menerima
tantangan karena jika pengikut berani mendukung adanya perubahan serta
pemimpinnya maka semuanya akan tercapai.
Pengikut yang berani tidak mengorbankan kepentingan organisasi untuk tujuan
pribadi serta dapat meminimalkan konflik.
4. Courage to participate in transformation
Ketika organisasi melalui transformasi yang sulit,
pengikut harus berani mendukung pemimpin dan
organisasinya. Mereka tidak takut untuk menghadapi
perbedaan dan berjalan mendampingi perusahaan.
Well, Im glad youre here.
5. Courage to leave
Alasan untuk keluar adalah karena kebutuhan orang
tersebut selalu bergerak dalam tahap kehidupan
sehingga dibutuhkan tantangan (selain itu mereka juga
bersedia keluar karena visi dan misi/ tujuan tidak
sesuai lagi dengan perusahaan atau juga sudah tidak
percaya lagi kepada pemimpinnya.
DEVELOPING PERSONAL POTENTIAL

Pengikut memerlukan pengembangan kapabilitas dan


kualitas personal mereka baik dalam pribadi maupun
kehidupan kerja.
Menurut Stephen Coveys ada 7 kebiasaan yang dapat
meningkatkan keefektifan seseorang.
Yang menggambarkan didalamnya pengetahuan,
keterampilan, keahlian dan keinginan yang berpengaruh
terhadap keefektifan personal tersebut (menggambarkan
sirklus dari dependence ke independence kemudian
interdependence)
DEPENDENCE INDEPENDENCE INTERDEPENDENCE

-Orang yang suka -Mengembangkan rasa - Dibutuhkan seorang


membandingkan kepemilikan pemimpin untuk bisa
-Termasuk orang pasif -Kepercayaan berhubungan secara
-Menyalahkan orang/ berdasarkan kemampuan efektif dengan pengikut
situasi ketika mereka diri sendiri (harus bekerjasama/
mengalami kegagalan -Menerima tanggungjawab berkoordinasi)
dan bertindak sesuai
dengan yang diharapkan

Maybe not but this has happened before.


Ex. 7.2 The Maturity Continuum

7 Sharpen the Saw


Interdependence
Seek First to 5 6 Synergize
Understand Then to PUBLIC
be Understood VICTORY
Think win-win
4
Independence
Put First Things First
3
PRIVATE
VICTORY Begin with the
Be Proactive 1 2 End in Mind
Dependence
From Dependence to Independence
Covey mengemukakan tiga kebiasaan dalam rangka
penguasaan dan kontrol diri dan ini disebut dengan
kemenangan pribadi karena mereka melibatkan
hanya pengikut individual yang bergerak dari
ketergantungan menjadi ketidaktergantungan/ mandiri
dalam hubungannya dengan yang lain.

Habit 1: Be Procative
Menjadi proaktif berarti lebih daripada mengambil
inisiatif tentang menjadi lebih bertanggungjawab
terhadap diri sendiri.
Orang yang proaktif mengetahui bahwa mereka
mempunyai kemampuan untuk memilih dan bertindak
sesuai dengan integritas.
Habit 2: begin with the end in mind
Artinya bahwa memulai dengan pemikiran mental yang bersih dari
tujuan awal. Bagi tiap orang hal ini berarti mengetahui apa yang
paling kita inginkan, yang terpenting bagi kita sehingga dapat
melewati hidup tiap hari yang memberikan kontribusi pada visi
pribadi.

Habit 3: Put first things first


Kebiasaan ini mendorong orang untuk menambah pengawasan
waktu dan kesempatan untuk menghubungkan antara tujuan dan
mengatur diri sendiri.
- kontrol setiap waktu dari kejadian untuk mencapai tujuan
- Fokus dalam mempertahankan hubungan dan hasil
Effective Interdependence
Ketiga habit diatas adalah dasar dari kebebasan yang
dapat menggerakkan pada saling ketidaktergantungan/
mandiri yang disebut kemenangan Publik.

Habit 4: Think win-win


Artinya memahami bahwa berfikir tanpa kerjasama,
organisasi tidak akan berhasil. Ketika pengikut
mengerti akan hal ini, mereka saling bekerjasama untuk
memastikan kesuksesan bersama dan memberikan
kesempatan kepada orang lain untuk menjadi
pemenang. Win-win adalah kerangka berfikir dan hati
yang secara konstan mencari kesepakatan dan jalan
keluar yang saling menguntungkan dan memuaskan.
Habit 5: Seek first to understand then to be understood
Prinsip ini adalah kunci dasar dari komunikasi yang efektif.
Mengerti berarti tidak menghakimi dan mampu untuk bersikap
empati terhadap situasi orang lain. Empati berarti merasakan
bagaimana kita berada diposisi orang tersebut agar
dapat memahami apa yang dirasakan orang tersebut.

Habit 6: Sinergy
Adalah aspek penting dalam strategi organisasi. Sinergi adalah
kombinasi dari tindakan yang terjadi ketika orang bekerjasama
untuk menciptakan alternatif baru dan solusi. Saling berinteraksi
untuk menghasilkan dampak gabungan yang lebih baik daripada
dilakukan sendiri2.

Habit 7: Sharpen the saw


Adalah proses yang menggunakan dan secara berkelanjutan
memperbaharui secara fisik, mental, spritual dan aspek sosial dari
keseimbangan hidup
Sources of Follower Power
Personal Sources
Knowledge
Expertise
Effort
Persuasion
Position Sources
Location
Information
Access
Ex. 7.3 Ways to Influence Your Leader
Be a Resource for the Leader Help the Leader Be a Good
Leader
Determine the leaders needs.
Zig where the leader zags. Ask for advice.
Tell leader about you. Tell leader what you think.
Align self to team purpose/vision. Find things to thank leader for.

Build a Relationship View the Leader Realistically

Ask about leader at your Give up idealized leader images.


level/position. Dont hide anything.
Welcome feedback and criticism. Dont criticize leader to others.
Ask leader to tell you company Disagree occasionally.
stories.
Ex. 7.4 Rank Order of Desirable Characteristics

Desirable Leaders Are Desirable Colleagues


(Followers) Are
Honest Honest
Forward thinking Cooperative
Inspiring Dependable
Competent Competent
GIVING Feedback to Develop Followers

Umpan balik sangat penting, bagi individu & organisasi


untuk memperbaiki & mengembangkan diri
Membiasakan pemberian feedback
Menggunakan cerita tentang mengapa & bagaimana
sesuatu terjadi, dengan berpijak dalam kesetaraan
Murah (generous) memberi feedback secara positif
Mentraining follower untuk melihat feedback sebagai
kesempatan pengembangan
Ex. 7.5 The Feedback Process
1. Observation
Follower misses
deadlines
repeatedly.

4. Development 2. Assessment
Follower given Follower lacks
training in self- self-
management, team management
allocated work based skills.
on personal skills.

3. Consequences
Team members resent
delays to team
projects.
Dialogue

A type of communication in which each


person suspends his attachment to a
particular viewpoint so that a deeper
level of listening, synthesis, and meaning
evolves from the whole community
Communities of Practice

Made up of individuals who


are informally bound to one
another through exposure to
a similar set of problems
and a common pursuit of
solutions
KESIMPULAN
Followership makin penting bagi organisasi dengan
maraknya empowerment
Bagi individu followership penting sebab peran
menjadi folower lebih sering daripada menjadi
leader
Follower yang efektif adalah follower berpikir
independent, aktif untuk itu follower harus berani,
mampu mengembangkan diri dan mampu membangun
leader-follower yang saling menghormati (respecfull)
Follower ingin dipimpin bukan dikendalikan, oleh
karena itu seorang leader harus berpikir jauh
kedepan dan mampu menginspirasikan follower untuk
bertindak, sebaliknya leader ingin follower yang
dapat diandalkan dan mampu bekerjasama
GAYA KEPEMIMPINAN
BERDASARKAN SITUASI

BY:
SETIA TJAHYANTI
INTRODUCTION
Sangatlah menyenangkan menjadi pemimpin yang memiliki
karyawan, dengan kompetensi dan karakter positif yang
mampu melaksanakan tugas dan pekerjaannya secara mandiri,
sehingga akan tersedia banyak waktu bagi sang pemimpin untuk
memikirkan hal-hal yang bersifat strategis lainnya.

Seorang manager belum tentu seorang pemimpin,


tapi seorang pemimpin bukan berarti harus menjadi
seorang pemimpin.
PENERAPAN GAYA KEPEMIMPINAN
YANG TIDAK EFEKTIF

Sering kita mendengar seorang pemimpin yang


memperlakukan bawahannya dengan cara kasar,
memaki-maki bahkan membodoh-bodohi
karyawannya, karena dianggap tidak mampu
melakukan pekerjaan dengan baik.
Banyak Pemimpin yang waktunya banyak tersita untuk
melakukan pekerjaan administratif yang seharusnya
dapat dikerjakan oleh karyawannya melalui
pendelegasian, karena dianggap bawahannya tidak
ada yang bisa untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Siapakah yang perlu disalahkan atas kondisi tersebut?
Apakah bagian rekrutmen yang tidak mampu
menyaring calon tenaga kerja dengan baik,
Bagian training yang tidak mampu mengembangkan
potensi karyawan,
Atau mungkin karyawan itu sendiri yang memang
tidak mampu melakukan tugas dengan baik.

Jawabannya:
Pemimpinlah yang bertanggung jawab atas kondisi
tersebut. Sumber kesalahan ada pada penerapan gaya
kepemimpinan yang tidak efektif.
Peran pemimpin sangat penting dalam
kesuksesan sebuah kelompok kerja, dan
yang lebih penting lagi adalah bagaimana
seorang pemimpin mampu menerapkan
gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
kelompok kerja yang dia pimpin.
GAYA KEPEMIMPINAN
Bila ditinjau dari cara penugasan pekerjaan, ada 4
type/ gaya kepemimpinan, yaitu: Directing, Coaching,
Counseling, dan yang terakhir Delegating.
1. Directing
Pada gaya ini, pemimpin terlihat sangat mendominasi
jalannya organisasi atau kelompok kerja melalui
instruksi-instruksi dan perintah. Pemimpin menginginkan
suatu hasil pekejaan sesuai dengan yang
diperintahkan atau keinginannya. Pemimpin pada
gaya ini sering mendapat julukan sebagai diktator.
2. Coaching
Pemimpin pada gaya ini biasanya adalah pemimpin
yang benar-benar ahli dalam bidangnya dan yang
memberi kesempatan kepada orang lain untuk
berkembang dengan cara mengajari atau melatih.
Fungsi pengawasan yang dilaksanakan lebih bertujuan
kepada pengembangan cara kerja dan bukan hanya
sekedar hasil kerja.

3. Counseling
Hampir sama dengan gaya kepemimpinan coaching,
namun untuk gaya ini pemimpin lebih terfokus pada
pengembangan sikap dan perilaku bekerja.
Kesabaran yang tinggi dan keinginan untuk
berinteraksi dengan karyawan merupakan kunci yang
harus dimiliki.
4. Delegating
Merupakan kebalikan dari gaya kepemimpinan
directing. Salah satu kunci utama untuk berhasil
adalah membiarkan para karyawan yang ahli
dalam bidangnya melakukan pekerjaannya
tanpa diganggu oleh pimpinannya, hal itulah
yang menjadi pemikiran dasar pemimpin pada
gaya ini.
Membangun rasa percaya diri mereka dengan
memberi hak untuk melaksanakan
pekerjaannya.
EFFECTIVE SITUATIONAL LEADERSHIP

Untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif,


pemimpin harus mampu menyesuaikan gaya
kepemimpinannya secara cepat sesuai dengan tipikal
atau karakter kelompok kerja yang dipimpinnya.
Character (CA) dan Competence (CO) adalah dua hal
yang menjadi pusat perhatian dalam menilai prestasi
kerja karyawan. Setiap pemimpin berharap memiliki
karyawan dengan CA dan CO yang positif, artinya
bahwa karyawan dengan tipe tersebut memiliki
kemampuan dan sikap kerja yang dapat diandalkan dan
tidak menyita waktu serta pemikiran yang terlalu banyak
dalam fungsi pengawasan.
CO +

CA-/CO+ CA+/CO+
Counseling Delegating
CA+
CA-

CO-/CO- CO-/CA+
Direction Coaching

CO-