Anda di halaman 1dari 35

1

Argentometri merupakan metode titrasi


untuk menetapkan kadar halogenida dan
senyawa-senyawa lain yang membentuk
endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada
suasana tertentu.
Metode argentometri disebut juga
dengan metode pengendapan karena
pada argentometri terjadi pembentukan
senyawa yang relatif tidak larut atau
endapan.
Semakin kecil nilai Ksp, semakin kurang larut
endapan garam perak, sehingga semakin mudah
pula menentukan titik akhir titrasi. 2
Following are the four cardinal parameters
that may be considered for a feasible
argentometric analysis, namely :
1. Precipitate formed must be insoluble,
2. Precipitation process should be fast and rapid,
3. Co-precipitation effects must be minimal, and
4. Detection of equivalence point must be
apparently visible.

3
Argentometry is the most usefull method of
precipitatometric titration, as it caused of
very low solubility product of halide (or
pseudohalide) salts,i.e.

Ada 4 jenis teknik penentuan titik akhir titrasi:


1. Method of Mohr (indicator : chromic potassium)
2. Method of Volhard (indicator : ferric salt)
3. Method of Fajans (indicator : fluorosceince)
4. Method of liebig 4
Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan
bromida dalam suasana netral dengan larutan baku perak nitrat
dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator.
Pada permulaan titrasi akan terjadi endapan perak klorida dan
setelah titik ekuivalen, maka penambahan sedikit perak nitrat
akan bereaksi dengan kromat dengan membentuk endapan
perak kromat yang berwarna merah coklat.
Ksp Ag2CrO4 < Ksp AgCl, namun kelarutan AgCl < Ag2CrO4
sehingga AgCl akan mengendap terlebih dahulu.
Ion kromat belum akan mengendap sebelum kadar Cl- mencapai
1,1 x 10-5.
Cl- lebih reaktif daripada CrO42-, oleh karena itu ion Ag+ akan
bereaksi dengan Cl- terlebih dahulu.
5
titration reaction
Ag+ + Cl- AgCl (s) Ksp
white
indictor reaction

2Ag+ + CrO42- Ag2CrO4 (s) 3


Ksp
red 4

AxBy (s) x Ay (aq) yBx (aq) Ksp [A y ]x [Bx ]y

6
7
Mohr titration has to be performed at a
neutral or weak basic solution of pH 7-9 (or pH
6-10).
In a lower pH (acid) solution the chromate-
dichromate equilibrium decreases the
sensitivity of [CrO42-], then inhibits formation
of Ag2CrO4 precipitate.

In a higher pH (basic) solution, Ag2O will be


formed as a black precipitate. 8
9
[Ag+]2 [CrO42-] = 2.00 x 10-12

10
11
12
Metode ini merupakan teknik titrasi tidak langsung
(indirect/ back titration), digunakan jika reaksi
analit-titran berjalan lambat atau tidak tersedia
indikator yg cocok untuk penentuan titik ekuivalen.

13
14
Volhard method can be used as a direct titration of Ag+
with CNS- as well as back titration of Cl-, Br- and I-
determination. These Br- and I- can not be disturb by
the CNS- as solubility of AgBr is equal to those of
AgCNS, while solubility of AgI < solubility of AgCNS.

15
Solubility of AgCNS < solubility of AgCl, then the
reaction in above will shift to the left side of the
reaction, and the result of Cl- analysis will be lower.
But this could be prevented by filtering AgCl
precipitate or nitrobenzen (poison !) addition before
titration with CNS-. Nitrobenzen becomes a lipid layer
between precipitate and CNS- solution.
16
Reaksi:
NaCl + AgNO3 (berlebih) AgCl + NaNO3
AgNO3 + NH4SCN AgSCN + NH4NO3

NH4SCN + Fe(NH4)2SO4 Fe(SCN)2 + (NH4)2SO4

17
Metode fajans menggunakan indikator adsorbsi
(senyawa organik), yang dapat ter-adsorbsi pada
permukaan endapan koloid selama proses titrasi.
Indikator ini tidak memberikan perubahan warna
kepada larutan, tetapi pada permukaan endapan.
Indikator yang digunakan fluorescein (anion),
diklorofluoresein, dan eosin.
Flouroscein dalam lrt berair terion mghasilkan:
hydronium ions + fluoresceinate ions (yellow green)
Terjadi interaksi ionik antara Ion fluoresceinate dgn ion
perak (Ag+) pada permukaan endapan AgCl,
menghasilkan endapan merah.
18
19
First step Final step of titration:
of titration Ag+Ind-

Titik akhir red colour of silver fluoresceinate in


the surface layer of solution surrounding the solid.

20
1. Saat mencapai titik ekuivelen, jangan biarkan
endapan AgCl terbentuk secara cepat sehingga
membentuk massa koagulan yang cukup besar.
Hal ini dapat mengurangi daya adsorbtivitas
permukaan endapan terhadap molekul indikator.

21
2. Adsorbsi indikator hendaknya terjadi dekat dan
lebih cepat saat titik ekuivalen. Indikator yang
jelek ditunjukkan dengan proses adsorbsi yang
kuat terhadap permukaan endapan sebelum
titik ekuivalen.

22
23
24
25
26
Pada metode ini titik akhir titrasinya tidak ditentukan
dengan indikator, akan tetapi ditunjukkan dengan terjadinya
kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada
larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih.
Jika reaksi telah sempurna, penambahan larutan perak nitrat
lebih lanjut akan menghasilkan endapan perak sianida.
Titik akhir ditunjukkan oleh terjadinya kekeruhan yang
tetap. Kesukaran dalam memperoleh titik akhir yang jelas
disebabkan karena sangat lambatnya endapan melarut pada
saat mendekati titik akhir.
Rx: AgNO3 + CN- Ag(CN)2
Ag(CN)2 + Ag+ Ag.Ag(CN)2 komplex warna keruh
27
Kloramfenikol
Klortetrasiklin
Barbiturat
Bromheksin
Teofilin
Klorbutanol
Kalium klorida
Melfalan
Tiamfenikol
28
29
30
1. Berat sampel BaCl2 600 mg, kemudian
ditambahkan 50 ml AgNO3 0,25 M, sehingga
terbentuk endapan AgCl. AgNO3 berlebih
dititrasi dengan 0,27 M KSCN dan
menunjukkan titik akhir titrasi 26,70 ml.
Berapa persenkah kadar (% b/b) sampel
tersebut?

31
2. Standarization of a KSCN solution againts
0,3341 g of primary standart AgNO3 (169,9
g/mol) required 21,55 ml titration. Calculate the
molar concentration of the solution!
3. The chloride in a 0,2720 g sample was
precipitated by introducing 50,00 ml 0,1030 M
AgNO3. titration of silver ion in excess required
8,65 ml of 0,1260 M KSCN. Express the results of
this analysis in terms of percentage MgCl2 (95,0
g/mol)!

32
4. A solution of KBr is titrated with Volhard
procedure requires addition of 100 ml of
excessed AgNO3 0,095 M, then titrated with
18,3 ml of KSCN 0,100 M using a Fe3+
indicator. Calculate Br- concentration in the
initial solution.

33
5. Kandungan teobromin (C7H8N4O2 BM 180,1) dalam
sampel 2,95 g biji kakao diubah menjadi endapan garam
perak teobromin (C7H7N4O2Ag) dengan pemanasan di
dalam larutan yang mengadung amoniak dan 25,0 ml
AgNO3 0,0100 M. Setelah reaksi sempurna, endapan
dipisahkan dengan proses penyaringan dan pencucian.
Hitunglah kadar teobromin pada sampel, jika
membutuhkan 7,69 ml KSCN 0,0108 M pada titrasi
kembali ke dalam filtrat dan cairan pencuci endapan
tersebut. Tuliskan pula reaksi yang terjadi!

34
6. Dilakukan penetapan kadar sampel tablet
sakarin (BM 205,17) dengan melarutkan 20
tablet sampel. Ke dalam larutan sampel
ditambahkan 20 ml AgNO3 0,08181 M, sehingga
terbentuk padatan perak-sakarin. Padatan
tersebut dipisahkan, sisa larutan dititrasi dengan
2,81 ml KSCN 0,04124 M. Hitunglah rata-rata
mg sakarin yang terdapat dalam setiap tablet.

35