Anda di halaman 1dari 16

DELIRIUM YANG

DIINDUKSI OLEH
ALKOHOL ATAU ZAT
PSIKOAKTIF LAINNYA
Definisi
Delirium adalah sindrom, bukan suatu penyakit, dan memiliki
banyak kausa, yang semuanya mengakibatkan pola gejala yang
serupa berkaitan dengan tingkat kesadaran dan gangguan
kognitif pasien.
Delirium tetap merupakan gangguan klinis yang kurang dikenali
dan jarang didiagnosis.
Dalam revisi DSM-IV-TR edisi ke-4 delirium ditandai oleh
gangguan kesadaran serta perubahan kognisi yang timbul dalam
waktu singkat. Gejala penanda delirium yang utama adalah
hendaya kesadaran, biasanya terjadi pada hendaya fungsi
kognitif secara menyeluruh.
Epidemiologi
Prevalensi delirium pada satu titik waktu pada populasi umum
adalah 0,4% untuk usia 18 tahun ke atas dan 1,1% pada usia 55
tahun ke atas.
Sekitar 10-30% pasien sakit secara medis dan dirawat di RS
mengalami delirium.
Angka delirium tertinggi dijumpai pada pasien pascakardiotomi
mencapai lebih dari 90%. Diperkirakan 20% akibat luka bakar
berat dan 30-40% pada pasien AIDS.
Delirium timbul pada 80% pasien yang mengalami stadium
penyakit terminal.
Angka kematian 1 tahun pada pasien delirium mencapai sekitar
50%.
Etiologi
Kausa utama delirium adalah penyakit susunan saraf (seperti
epilepsi), penyakit sistemik (seperti gagal jantung) baik
intoksikasi maupun keadaan putus obat dari zat atau toksik.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (2009)


menyatakan bahwa faktor pencetus yang sering dijumpai antara
lain: iatrogenik (pembedahan, kateterisasi urin, physical
restrains), obat-obatan psikotropika, gangguan metabolik/cairan
(insufisiensi ginjal, dehidrasi, hipernatremia, hiperglikemia,
hipokalemia, azotemia), penyakit fisik/psikiatrik (demam, infeksi,
stress, alcohol, putus obat, fraktur, malnutrisi, dan gangguan
pola tidur), serta perubahan lingkungan (perpindahan
ruangan/overstimulation).
Gejala Klinis
Berdasarkan pedoman diagnostik dalam Maslim (2001), gejala
delirium adalah sebagai berikut:
1) Gangguan kesadaran dan perhatian:
a. Dari taraf kesadaran berkabut samapai koma
b. Menurunnya kemampuan untuk mengarahkan, memusarkan,
mempertahankan dan mengalihkan perhatian.

2) Gangguan kognitif secara umum:


a. Distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi-seringkalo visual
b. Hendaya daya pikir dan pengertian abstrak, dengan atau tanpa
waham yang bersifat sementara, tetapi sangat khas terdapat
inkoherensi yang ringan
c. Hendaya daya ingat segera dan jangka pendek, namun daya ingat
jangka panjang relative masih utuh
d. Disorientasi waktu, pada kasus yang berat, terdapat juga disorientasi
tempat dan orang.
3) Gangguan psikomotor
a. Hipo atau hiper-aktivitas dan pengalihan aktivitas yang tidak
terduga dari satu ke yang lain.
b. Waktu bereaksi yang lebih panjang
c. Arus pembicaraan yang bertambahn atau berkurang
d. Reaksi terperanjat meningkat

4) Gangguan siklus tidur-bangun


a. Insomnia atau, pada kasus yang berat, tidak dapat tidur sama
sekali atau terbaliknya siklus tidur-bangun, mengantuk pada
siang hari.
b. Gejala yang memburuk pada malam hari
c. Mimpi yang mengganggu atau mimpi buruk, yang dapat
berlanjut menjadi halusinasi setelah bangun tidur
5) Gangguan emosional: depresi, anxietas atau takut, lekas
marah, euphoria, apatis, atau rasa kehilangan akal.

6) Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya hilang-timbul


sepanjang hari dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6 bulan.
Diagnosis
1. Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk Delirium Akibat Kondisi Medis
Umum
A. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kewaspadaan
terhadap lingkungan) yang ditandai dengan berkurangnya
kemampuan memfokuskan, mempertahankan dan mengalihkan
atensi
B. Perubahan kognisi (defisit memori, disorientasi, gangguan
berbahasa) atau timbulnya gangguan persepsi yang tidak
disebabkan oleh demensia yang telah ada sebelumnya, atau
sedang berkembang
C. Gangguan tersebut muncul dalam jangka waktu singkat (biasanya
dalam hitungan jam atau hari), dan cenderung berfluktuasi
sepanjang hari
D. Terdapat bukti berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
laboratorium bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh
konsekuensi fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk Delirium pada Intoksikasi
Zat
A. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan
kewaspadaan terhadap lingkungan) yang ditandai dengan
berkurangnya kemampuan memfokuskan, mempertahankan
dan mengalihkan perhatian.
B. Adanya perubahan dalam kognisi (defisit memori,
disorientasi, gangguan berbahasa) atau gangguan persepsi
yang tidak dikaitkan dengan demensia
C. Gangguan berkembang dalam periode waktu yang pendek,
cenderung berfluktuasi dalam sehari.
D. Ada bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
laboratorium, sebagai berikut:
1. Simtom A dan B terjadi selama intoksikasi zat atau
penggunaan medikasi
2. ntoksikasi zat adalah etiologi terkait dengan delirium
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk Delirium pada Keadaan
Putus Zat
A. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan
kewaspadaan terhadap lingkungan) yang ditandai dengan
berkurangnya kemampuan memfokuskan, mempertahankan
dan mengalihkan perhatian.
B. Adanya perubahan dalam kognisi (defisit memori,
disorientasi, gangguan berbahasa) atau gangguan persepsi
yang tidak dikaitkan dengan demensia
C. Gangguan berkembang dalam periode waktu yang pendek,
cenderung berfluktuasi sepanjang hari.
D. Terdapat bukti berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
atau temuan laboratorium, bahwa gejala pada kriteria A dan
B terjadi selama, atau segera setelah putus zat
Prognosis
Meski awitan delirium biasanya mendadak, gejala predromal
(seperti kegelisahan dan rasa takut) dapat terjadi berhari-hari
sebelum awitan gejala yang utuh. Setelah identifikasi
dilakukan dan faktor kausatif dihilangkan, gejala delirium
biasanya akan surut dalam periode 3-7 hari meski beberapa
gejala mungkin akan memakan waktu hingga 2 minggu
sebelum benar-benar menghilang.
Semakin tua pasien dan semakin lama pasien mengalami
delirium, semakin lama waktu yang dibutuhkan delirium untuk
mereda.
Berkembangnya delirium menjadi demensia belum dapat
dibuktikan pada studi yang sangat terkontrol meski banyak
klinisi yang yakin bahwa mereka pernah menyaksikan progresi
semacam itu. Namun, sebuah pengamatan klinis yang telah
disahkan oleh beberapa studi, menunjukkan bahwa periode
delirium terkadang diikuti oleh depresi atau gangguan stress
pascatrauma.
Penatalaksanaan
Tiga tujuan utama terapi delirium, yaitu
1. Mencari dan mengobati penyebab delirium (diperlukan
pemeriksaan fisik yang cermat dan pemeriksaan penunjang
yang adekuat. Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, analisis
gas darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal, serta EEG atau
pencitraan otak bila terdapat indikasi disfungsi otak).
2. Memastikan keamanan pasien
3. Mengobati gangguan perilaku terkait dengan delirium,
misalnya agitasi psikomotor.
Farmakoterapi
Dua gejala utama delirium yang mungkin memerlukan
pengobatan farmakologis adalah psikosis dan insomnia. Obat
pilihan untuk psikosis adalah Haloperidol, yaitu obat
antipsikotik golongan butirofenon.
Pemberian haloperidol bergantung pada usia, berat badan dan
kondisi fisik pasien, dosis awal berkisar 2-10 mg yang
diberikan secara IM. Segera setelah pasien tenang,
pengobatan oral dalam bentuk konsentrat cair atau tablet
harus dimulai.
Insomnia paling baik diobati diobati dengan golongan
benzodiazepin yang memiliki waktu paruh pendek.
ECT untuk perbaikan atau remisi keadaan delirium akibat
penyakit medis yang menetap.
Terapi Non-Farmakologis
Psikoterapi suportif yang memberikan perasaan aman dapat
membantu pasien
Menghadapi frustrasi dan kebingungan akan kehilangan fungsi
memorinya.
Perlunya reorientasi lingkungan, misalnya tersedia jam besar.
Memberikan edukasi kepada keluarga cara memberikan
dukungan kepada pasien
TERIMAKASIH
DAFTAR PUSTAKA
Maslim, Rusdi dr. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta :
FK Unika Atmajaya. 2001
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia,
2012. Delirium. In: Pedoman
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2 Jilid
1. Jakarta : Binarupa aksara. 2010