Anda di halaman 1dari 24

Enhanced Oil Recovery

Ir. Putu Suarsana MT. Ph.D


Pendahuluan

Enhanced Oil Recovery, pada umumnya dilaksanakan dengan cara


menginjeksi suatu fluida (air atau gas) ke dalam sumur produksi dengan
tujuan untuk meningkatkan laju produksi dari suatu sumur tanpa
merusak formasi dari reservoir tersebut. Injeksi zat kimia adalah salah
satu metode EOR (Enhanced Oil Recovery) dengan menginjeksikan zat
kimia ke dalam reservoir, dengan tujuan utama untuk mengubah sifat
fisik fluida dan batuan reservoir yang berpengaruh terhadap
peningkatan efisiensi pendesakan dan penyapuan.
Chemical Material
Polymer Flooding
Rangkaian molekul sederhana berukuran sangat
panjang yang terbentuk dari perulangan unit-unit
kimia kecil dan sederhana
Surfactant Flooding
Zat aktif permukaan yang dapat menurunkan
tegangan permuakaan antara minyak dan air
Alkaline Flooding
Menurunkan tegangan permukaan, perubahan
kebasahan batuan, disamping emulsifikasi &
pemecahan rigid facial film dari minyak yang terjebak
dalam pori yang kecil
POLYMER INJECTION
POLYMER INJECTION

Polymer adalah jenis chemical yang bertujuan


untuk meningkatkan viskositas water. Karena
water berfungsi sebagai displacer maka akan
meningkatkan sweep efficiency. Biasanya jenis
polimer yang umum dipakai adalah polimer
sintetik (polyacrylamide) & biopolymer
(polysaccharide).
Tujuan Polymer Injection
Memperbaiki perbandingan mobilitas oil-
water
Menaikkan efesiensi (makrokropis)
Untuk reservoir viscositas tinggi (200cp)
Untuk menaikkan viscositas water agar
meningkatkan sweep efficiency.
( kandidat screening EOR dapat dilihat pada
metode Taber/Aladasani)
Alasan lebih banyak dipakainya
polimer flooding adalah:

a. identik dengan waterflooding


b. teknik aplikasinya relative sederhana
c. biaya yang diperlukan relative kecil
d. recovery yang didapat relative besar
Tahapan Polymer flooding:

a. Pre flush (pengkondisian reservoir)


b. Oil bank (Recovery target)
c. Polymer solution (mobility control)
d. Fresh Water buffer (Polymer protection)
e. Driving Fluid (water)
Faktor yang mempengaruhi kualitas
polymer:

a. Salinity
Tingkat keasaman suatu reservoir. Hal ini bisa
merusak ikatan kimia polymer
b. Hardness
Jumlah kation dalam campuran polymer dan
reaksi dengan fluida di reservoir
Alkaline Flooding
Alkaline Flooding

Alkaline flooding merupakan injeksi dengan Ph


tinggi (basa). Tingginya Ph dicirikan dengan
tinginya konsentrasi anion hidroksida (OH-).

Kontrol PH air injeksi 12-13 untuk perolehan


oil biasannya tambah NaoH
Alkaline mempunyai kesamaan fungsi dengan
surfactant injection yaitu menurunkan tegangan
antar-muka (interfacial tension) minyak-air di dalam
reservoar. Dengan turunnya tegangan antarmuka,
maka akan menurunkan tekanan kapiler yang
berpengaruh terhadap saturasi minyak sisa (Sor).
Namun memiliki cost yang rendah dalam aplikasi
penggunaannya.
Alkaline Flooding
Jenis chemical yang biasanya digunakan :
Natrium Hidroksida (NaOH)
Sodium Orthosilicate (NaSiO6)
Natrium Carbonate (Na2CO3)

Dengan menginjeksikan chemical alkaline,


diharapkan terjadi :
a. Penurunan tegangan permukaan (IFT)
b. Gejala Emulsi
c. Perubahan wettability
Alkaline flooding sangat optimum
bila digunakan pada:

a. viscosity fluida sedang

b. fluida dengan API gravity rendah

c. karakteristik oil yang naphtenic


Pengaruh NaOH pada Alkaline Flooding

NaOH menghasilkan Ph yang tinggi pada konsetrasi


larutan yang rendah. Selain itu NaOH paling besar
kemampuannya untuk menurunkan tegangan
permukaan. Dibandingkan dengan zat alkaline lainnya,
NaOH paling mudah dan murah pengoperasiannya,
sehingga sering dipakai untuk dikombinasikan dengan
metoda lain dan sangat ekonomis. Karena itu hampir
semua proyek alkaline flood menggunakan NaOH.
Injeksi Surfactant
Tinjauan Umum Surfactant

Surfactant yang dipakai umumnya Commercial


Petroleum Sulfonate, Sodium Dodecyl Sulfate.
Tujuan digunakannya surfactant adalah
menurunkan tegangan permukaan (interfacial
tension) minyak-air di dalam reservoir. Dengan
menurunnya tegangan permukaan, maka akan
menurunkan tekanan kapiler yang
berpengaruh terhadap wettabilitas batuan.
Sehingga akan meningkatkan effisiensi
pendesakan (Displacement efficiency).
Tantangan Yang Dihadapi Dalam Penggunaan Surfactant Flooding :
a. Sangat komplek dan mahal.
b. Formasi relative/cenderung Homogen
c. Bukan untuk lapisan carbonat (Gypsum)
d. Terjadinya degradasi chemical pada temperature tinggi. (<200 OF)

Proses Surfactan Flooding :

A. Slug Surfactan

Tujuan dari slug surfactan adalah menurunkan tegangan antar muka dan
mendesak minyak yang tidak dapat didesak oleh air..

B. Fasa Eksternal

Merupakan metode yang digunakan untuk menentukan fasa continue dan


disperse antara lain fluoresensi, konduktivitas, pengenceran fasa dan
kelarutan warna.
C. Mobility Control

Berfungsi untuk memperbaiki penyapuan dimana surfactan akan didorong


oleh polimer. Konsep injeksi surfactan polimer adalah jika dirancang
dengan tepat, maka slug surfactan akan mendesak semua minyak yang
disentuhnya.

D. Adsorpsi Surfactan

Adsorpsi surfactan pada mineral merupakan pertimbangan yang penting


dalam melakukan injeksi surfactan. Karena hal ini merupakan penyebab
tertahannya ( melekatnya ) surfactan dan akan mengakibatkan pecahnya
slug.
E. Petroleum Sulfonate

Alasan digunakannya petroleum sulfonate dalam pengembangan sistem


surfactan antara lain :

a) Karena beragamnya sifat sifat yang didapat dalam suatu tipe surfactan
yang umum.

b) Harganya yang relatif murah.

c) Persediaannya yang banyak.


Sekema penginjeksian
Kriteria Screening EOR
Kriteria Screening EOR
(lanjut)