Anda di halaman 1dari 9

Kanker endometrium

Kanker endometrium adalahjaringan atau selaput lender


rahim yang tumbuh di luar rahim
Epidemiologi
Karsinoma endometrium adalah kejadian keganasan
tertinggi keenam yang paling sering terjadi yang terjadi pada
wanita di seluruh dunia. Dari 290.000 kasus baru yang
dilaporkan pada 2008, terhitung 5 % dari semua kasus
keganasan baru pada wanita. Penyakit ini paling banyak
terjadi di negara maju seperti Amerika, negara-negara di
Eropa tengah dan Eropa timur dan insiden lebih rendah di
Afrika timur. Tingkat kejadian karsinoma endometrium
seiring pertambahan usia juga meningkat di negara-negara
berkembang
Etiologi
Para ahli masih belum dapat memastikan apa yang memicu
terjadinya penyakit ini. Walau demikian, ketidakseimbangan
hormon progesteron dan estrogen di dalam tubuh wanita
diduga merupakan penyebab paling sering terjadinya kanker
endometrium. Kadar hormon progesteron yang terlalu
rendah dibandingkan dengan kadar hormon estrogen
sehingga menyebabkan terjadinya penebalan pada lapisan
rahim. Jika penebalan terus terjadi, maka sel-sel kanker
dapat tumbuh seiring waktu.
Faktor resiko
Kelebihan berat badan (obesitas).
Sudah memasuki masa menopause.
Mengalami menstruasi di usia yang terlalu dini atau
memasuki masa menopause yang lebih lambat
dibandingkan wanita pada umumnya.
Belum pernah hamil.
Menderita sindrom hereditary nonpolyposis colorectal
cancer (HNPCC).
Menjalani pengobatan dengan tamoxifen (obat terapi
hormon untuk penderita kanker payudara).
Manifestasi klinis
Keluarnya darah dari vagina meskipun bukan di masa
menstruasi.
Nyeri di bagian panggul.
Nyeri saat berhubungan seksual.
Keluarnya nanah encer atau nanah yang disertai darah dari
vagina.
Keluarnya darah dari vagina meski telah menopause.
Prinsip diagnosis
Pemeriksaan area panggul (pelvis). Pemeriksaan ini bisa
dilakukan hanya dengan jari-jari tangan untuk merasakan adanya
kelainan pada rahim dan indung telur atau bisa juga dilakukan dengan
bantuan alat yang dinamakan speculum untuk melihat adanya kelainan
pada vagina dan leher rahim.
Histeroskopi. Dalam pemeriksaan ini dokter akan memasukkan
histeroskop atau alat khusus yang dilengkapi kamera kecil dan lampu
melalui vagina ke dalam rahim agar bisa melihat endometrium dan
kondisi di dalam rahim.
USG transvaginal. Dalam pemeriksaan ini dokter akan
menggunakan alat khusus bernama transducer yang bisa
memancarkan gelombang ultrasound ke dalam rahim melalui vagina.
Melalui rekaman gambar rahim tersebut, dokter bisa melihat tekstur
dan ketebalan endometrium.
Biopsi. Melalui metode ini, dokter akan mengambil sampel jaringan
dari lapisan rahim, kemudian menelitinya di laboratorium untuk
mendeteksi keberadaan sel-sel kanker.
Stadium
Stadium satu, kanker masih berada di dalam rahim.
Stadium dua, kanker sudah menjalar ke leher rahim.
Stadium tiga, kanker sudah menjalar ke luar rahim
(biasanya baru mencapai kelenjar getah bening panggul)
tapi belum mencapai kandung kemih atau usus besar.
Stadium empat, kanker sudah menjalar ke kandung kemih,
usus besar, atau bahkan sudah menyerang bagian tubuh
lainnya.
Tatalaksana
Pengobatan kanker endometrium tergantung dari tingkat
keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien itu sendiri.
Bedah salpingo-oophorectomy. Ini merupakan salah satu
prosedur yang cukup umum dilakukan dalam kasus kanker
endometrium. Dalam prosedur ini, indung telur dan saluran sel
telur (tuba fallopi) akan diangkat.
Bedah histerektomi. Sama seperti bedah salpingo-
oophorectomy, prosedur ini juga banyak dijalani oleh wanita-
wanita penderita kanker endometrium. Pada
bedah histerektomi, seluruh rahim akan diangkat.
Kemoterapi. Melalui metode ini, dokter akan memberikan
obat-obatan yang mampu membunuh sel-sel kanker. Obat-
obatan tersebut bisa dalam bentuk pil, cairan yang dimasukkan
ke dalam larutan infus.
Terapi radiasi. Sama seperti kemoterapi, tujuan terapi radiasi
adalah untuk menghancurkan sel-sel kanker, namun dengan
menggunakan pancaran energi tinggi. Terapi radiasi biasanya
dikombinasikan dengan metode pengobatan lain, salah satunya
dengan kemoterapi. Jika kanker sudah menyebar, terapi radiasi
biasanya dikombinasikan dengan kemoterapi untuk
menurunkan risiko kanker kambuh. Selain itu, kombinasi terapi
radiasi dan kemoterapi juga akan dijadikan pilihan jika kondisi
pasien tidak memungkinkan untuk menjalani operasi.
Terapi hormon. Sebenarnya metode ini jarang diterapkan
karena tidak seefektif metode pengobatan lainnya. Melalui
terapi hormon, dokter akan memberikan obat-obatan untuk
menurunkan kadar hormon estrogen atau menaikkan kadar
hormon progesteron untuk memperlambat pertumbuhan sel
kanker.