Anda di halaman 1dari 21

Kanker ovarium

Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak


lazim (kanker) pada satu atau dua bagian indung telur.
Epidemiologi
Kanker ovarium jarang ditemukan pada usia dibawah
40 tahun. Angka kejadian meningkat dengan makin tua, yaitu
15-16 per 100.000 pada usia 40-44 tahun, dan paling tinggi
yaitu 57 per 100.000 pada usia 70-74 tahun. Usia median
saat diagnosis adalah 63 tahun dan 48% penderita berusia
diatas 65 tahun. Belum ada metode skrining yang efektif
untuk kanker ovarium, sehingga 70% kasus ditemukan pada
stadium lanjut.
Etiologi
Penyebabnya masih belum jelas. Tetapi ada faktor risiko
tertentu yang menyebabkan seseorang berpotensi lebih
besar untuk terkena kanker ovarium meliputi:
Riwayat Keluarga.
Wanita yang memiliki riwayat keluarga dekat dengan kanker
payudara, atau kanker ovarium.
Ovulasi.
Pelepasan telur > beberapa kerusakan pada ovarium selama
bertahun-tahun.
ovulasi dicegah > risiko kanker ovarium menurun.
Menyusui, ovarium diangkat, selama histerektomi atau
setelah menopause, kontrasepsi oral.
Gaya Hidup dan Diet.
Penelitian > obesitas
Penurunan berat badan, berolahraga lebih banyak, dan diet
seimbang yang sehat > resiko turun
Faktor Risiko Lain.
Penelitian > Dapat estrogen (terapi hormon/HRT)
Meskipun beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa
obat, termasuk aspirin, dapat menurunkan risiko kanker
ovarium namun masih perlu diteliti lebih lanjut.
Patofisiologi
Pertumbuhan tumor diikuti oleh infiltrasi, jaringan sekitar
yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar.
Kecenderungan untuk melakukan implantasi dirongga perut
merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang
menghasilkan asites.
Tumor ganas merupakan kumpulan tumor dan histiogenesis
yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga (3)
dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan
sifat histiologis maupun biologis yang beraneka ragam, kira-
kira 60% terdapat pada usia peri menopause 30% dalam
masa reproduksi dan 10% usia jauh lebih muda
Tumor ovarium yang ganas, menyebar secara limfogen ke
kelenjar para aorta, medistinal dan supraclavikular. Untuk
selanjutnya menyebar ke alat-alat yang jauh terutama paru-
paru, hati dan otak, obstruksi usus dan ureter merupakan
masalah yang sering menyertai penderita tumor ganas
ovarium
Manifestasi klinis
Kanker ovarium tidak menimbulkan gejala pada waktu yang
lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
1. Stadium Awal
a. Gangguan haid
b. Konstipasi (pembesaran tumor ovarium menekan rectum)
c. Sering berkemih (tumor menekan vesika urinaria)
d. Nyeri spontan panggul (pembesaran ovarium)
e. Nyeri saat bersenggama (penekanan / peradangan daerah
panggul)
f. Melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan
berlebihan pada lapisan rahim, pembesaran payudara atau
peningkatan pertumbuhan rambut)
2. Stadium Lanjut
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut)
c. Perut membuncit
d. Kembung dan mual
e. Gangguan nafsu makan
f. Gangguan BAB dan BAK
g. Sesak nafas
h. Dyspepsia
Tahap-tahap kanker ovarium
Stadium I : Pertumbuhan terbatas pada ovarium
Stadium II : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua
ovarium dengan perluas pelvis
Stadium III : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua
ovarium dengan metastasis diluar pelvis atau nodus inguinal
atau retro peritoneal positif
Stadium IV : Pertumbuhan mencakup satu / kedua ovarium
dengan metastasis jauh.
Prinsip diagnosis
Diagnosis awal dibuat berdasarkan gejala yang dialami, riwayat
kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Kemudian pemeriksaan
penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosa, meliputi USG,
pemeriksaan darah, atau biopsi.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
yang dilakukan untuk memeriksa perut bagian bawah serta organ
reproduksi. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui bentuk, ukuran, dan
struktur ovarium.
Pemeriksaan darah
yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan protein CA 125 dalam
darah. Kadar CA 125 yang tinggi bisa mengindikasikan kanker ovarium.
Tetapi tes ini tidak bisa dijadikan patokan tunggal karena CA 125 bukan
tes yang spesifik, kadarnya bisa meningkat pada kondisi lain yang bukan
kanker, dan tidak semua penderita kanker ovarium mengalami
peningkatan kadar CA 125 dalam darah.
CT (computed tomography) scanning : Jika USG menunjukkan
massa padat atau kompleks, CT scan dari panggul dapat
dilakukan.
CT Scan adalah jenis X-ray yang menunjukkan lebih detail
gambaran tubuh dan organ tubuh dalam tiga dimensi.
CT Scan memberikan informasi lebih lanjut tentang
ukuran dan luasnya tumor. Hal ini juga dapat menunjukkan
apakah tumor telah menyebar ke organ lain di panggul dan
organ lain di tubuh.
Tatalaksana
Penanganan kanker ovarium bisa berbeda-beda pada setiap
kasus, ditentukan berdasarkan stadium kanker, kondisi
kesehatan, dan keinginan penderita untuk memiliki
keturunan. Penanganan utama kanker ovarium adalah
melalui operasi dan kemoterapi atau radioterapi.
Operasi
Prosedur operasi biasanya meliputi pengangkatan kedua
ovarium, tuba falopi, rahim, serta omentum (jaringan lemak
dalam perut). Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan
kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk
mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker.
Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, penderita
tidak lagi dapat memiliki keturunan.
Namun lain halnya dengan kanker ovarium yang terdeteksi
pada stadium dini. Penderitanya mungkin hanya akan
menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba
falopi sehingga kemungkinan untuk memiliki keturunan
masih ada.
Kemoterapi
Kemoterapi dapat dijadwalkan setelah operasi. Ini dilakukan untuk membunuh
sel-sel kanker yang tersisa. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan
memantau perkembangan penderita secara rutin guna memastikan keefektifan
obat dan respons tubuh terhadap obat.
Kemoterapi juga dapat diberikan sebelum operasi pada penderita kanker
ovarium stadium lanjut, dengan tujuan mengecilkan tumor sehingga
memudahkan prosedur pengangkatan.
Setiap pengobatan berisiko menimbulkan efek samping, begitu pula dengan
kemoterapi. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah melakukan
proses kemoterapi di antaranya adalah tidak nafsu makan, mual, muntah,
lemas, rambut rontok, serta meningkatnya risiko infeksi.
Radioterapi
Di samping operasi dan kemoterapi, radioterapi merupakan
tindakan lain yang bisa menjadi alternatif. Dalam radioterapi,
sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.
Sama seperti kemoterapi, radioterapi dapat diberikan baik
setelah maupun sebelum operasi. Efek sampingnya juga
serupa dengan kemoterapi, terutama terjadinya kerontokan
rambut.
Penatalaksanaan Kanker Ovarium stadium I

Penatalaksanaannya adalah terdiri dari histerektomi totalis perabdominam,


salpingoooforektomi bialteralis, apendektomi, dan surgical staging. Surgical
staging adalah suatu tindakan bedah laparatomi eksplorasi yang dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan
melakukan evaluasi daerah-daerah yang potensial akan dikenai perluasan atau
penyebaran kanker ovarium. Temuan pada surgical staging akan menetukan
stadium penyakit dan pengobatan adjuvant yang perlu diberikan. Bila pada
eksplorasi secara visual dan palpasi tidak ditemukan penyebarana makroskopis
dari kanker, penyebaran mikroskopis harus dicari dengan melakukan
pemerikasaan mikroskopis cairan peritoneum, biopsy peritoneum,
omentektomi, dan linfadenoktomi kelenjar getah bening pelvis dan para aorta.
Penatalaksanaan Kanker Ovarium Stadium Lanjut

Pendekatan terapi pada stadium lanjut mirip dengan stadium I dengan sedikit
modifikasi bergantung pada penyeabran metastasis dan keadaan umum
penderita. tindakan operasi pengankatan tumor primer dan metastasisnya di
omentum, usus, dan peritoneum disebut operasi debulking atau sitoreduksi.
Tindakan operasi ini tidak kuratif sehingga diperlukan terapi adjuvant untuk
mencapai kesembuhan.
Kebanyakan penderita mendapat kemoterapi adjuvant kombinasi sementara
sebagian penderita yang tumornya berhasil direseksi dengan sempurna
mendapat radiasi. Pada penderita yang telah selesai mendapat kemoterapi
tetapi tidak menunjukkan gejal klinis dan radiologis serta serum CA-125
normal, dilakukan relaparatomi untuk menilai hasil pengobatan. Tindakan ini
disebut second-look laparatomy. Jika masih ditemukan penyakit, second line terapy
dapat diberikan.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
1. Asites
Kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung
ke strukturstruktur yang berdekatan pada abdomen dan
panggul dan melalui penyebaran benih tumor melalui cairan
peritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul.
1. Efusi Pleura
Dari abdomen, cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui
saluran limfe menuju pleura.
Komplikasi lain yang dapat disebabkan pengobatan adalah :
1. Mual, muntah dan supresi sumsum tulang akibat
kemoterapi. Dapat juga muncul maaslah potensial
ototoksik, nefroktoksik, neurotoksis
2. Penyakit berulang yang tidak terkontrol dikaitkan
dengan obstruksi usus, asites fistula dan edema
ekstremitas bawah
Progonosis
Makin dini kanker ovarium terdeteksi dan ditangani >
kualitas hidup meningkat.
Hampir separuh > bertahan setidaknya selama 5 tahun
setelah terdiagnosa
sepertiganya memiliki harapan hidup setidaknya selama 10
tahun.
Meski demikian, penderita yang sembuh > tetap
berpotensi untuk kekambuhan dalam beberapa tahun.
Apabila terjadi kekambuhan > tingkat keberhasilan sangat
kecil.