Anda di halaman 1dari 11

Baso Riadi Husda, S. Pd., M. Pd.

Shield Metal Arc Welding (SMAW) merupakan suatu teknik pengelasan


dengan menggunakan arus listrik yang Membentuk busur arus dan elektroda
berselaput. Di dalam pengelasan SMAW ini terjadi gas pelindung ketika
elektroda terselaput itu mencair, sehingga dalam proses ini tidak diperlukan
tekanan/pressure gas inert untuk menghilangkan pengaruh oksigen atau udara
yang dapat menyebabkan korosi atau gelembung-gelembung di dalam hasil
pengelasan. Berikut contoh mesin SMAW dan rangkaiannya.

Mesin Las SMAW Rangkaian Mesin Las SMAW


Proses pengelasan terjadi karena arus listrik yang mengalir di antara elektroda
dan bahan las membentuk panas sehingga dapat mencapai 3000 C, sehingga
membuat elektroda dan bahan yang akan dilas mencair. Berdasarkan jenis arus-
nya, pengelasan ini dibagi atas arus AC dan DC, dimana arus DC dibedakan atas
Straight polarity- polaritas langsung dan Reverse polarity - polaritas terbalik.
Sedang mesin lasnya terbagi atas dua jenis yaitu constant current - arus tetap dan
constant voltage - tegangan tetap, dimana pada setiap pengelasan busur arus listrik
jika terjadi busur yang membesar akan menurunkan arus dan menaikkan tegangan
serta pada busur yang memendek akan meningkatkan arus dan menurunkan
tegangan.
Dalam proses pengelasan SMAW tenaga listrik yang di peroleh dari mesin
menurut jenis arus yang dikeluarkan terbagi menjadi 3 jenis mesin
1. Mesin dengan arus searah (DC)
2. Mesin dengan arus bolak balik (AC)
3. Mesin dengan kombinasi arus searah (DC) dan arus bolak balik (AC)
Pada mesin arus (DC) dilengkapi dengan komponen yang merubah sifat arus
bolak balik (AC) menjadi arus searah yaitu dengan generator listrik. Mesin arus
bolak balik tidak perlu dilengkapi dengan generator tetapi cukup dengan
transformator. Karakteristik electric effeciensinya 80-85%. Pada mesi kombinasi
antara AC dan DC dilengkapi dengan transformator dan rectifier,diman rectifier ini
mempunyai fungsi untuk meratakan arus.
Perlengkapan yang diperlukan untuk proses pengelasan SMAW adalah
peralatan yang paling sederhana dibandingkan dengan proses pengelasan listrik
yang lainnya. Adapun perlengkapan las SMAW adalah :
1. Sumber Tegangan (power source)
2. Kabel masa dan kabel elektoda (ground cable and electrode cable)
3. Pemegang elektroda dan klem masa (holder and claim masa)
4. Palu las dan sikat kawat (chipping hammer and wire brush)
5. Elektroda
1. Penyetelan
Perangkaian yang baik diperlukan untuk mempermudah penyetelan kampuh
terutama untuk benda-benda yang ukurannya besar. Selain itu kemungkinan
perubahan bentuk yang terjadi akibat panas selama pengelasan berlangsung dapat
dihindarkan / dikurangi.
2. Mengatur Tegangan
Pada mesin las modern, tegangan pengelasan dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan. Mesin las umumnya mempunyai tegangan 60 80 Volt sebelum terjadi
busur nyala. Tegangan ini disebut tegangan terbuka atau tegangan atau tegangan
pembakar. Bila busur nyala telah terjadi (sedang mengelas) maka tegangan turun
menjadi 20 40 Volt. Ini dinamakan tegangan kerja.
3. Mengatur Ampere
Arus pengelasan ditentukan oleh diameter elektroda, tebal bahan, jenis
elektroda dan posisi pengelasan. Pengaturan arus dilakukan dengan memutar handel
atau knop. Arus pengelasan yang dipakai dapat dilihat/ dibaca pada skala arus, yang
terdapat pada mesin las.
4. Menebalkan Permukaan
Menebalkan benda kerja yang telah aus (poros, bidang-bidang luncur dsb) dapat
dilakukan dengan las. Untuk mencapai ukuran yang diperlukan, rigi-rigi las
selanjutnya dikerjakan dengan menyekrap atau membubut.
5. Posisi-posisi Pengelasan
Posisi pengelasan ada empat macam:
a. posisi dibawah tangan (lihat w, h)
b. posisi mendatar / horizontal (lihat q)
c. posisi vertical (lihat s)
d. posisi diatas kepala (lihat u)
6. Membuat Rigi - Rigi
Sambungan terisi dengan rata, maka pada permukaan penyambungan diadakan
pengayunan elektroda. Batas pemunduran elektroda dan kecepatan pengisian kawah
normal. Batas pemunduran elektroda terlalu jauh, atau kecepatan pengisian terlalu
lama, sehingga terjadi sambungan rigi-rigi yang tinggi. Batas pemunduran elektroda
terlalu pendek atau waktu pengisian terlalu singkat, sehingga terjadi sambungan rigi-
rigi yang rendah.
7. Menyambung Rigi - Rigi
Apabila elektroda habis sebelum sampai pada batas pengelasan, maka untuk
menyambung kembali, diperlukan cara tertentu. Busur nyala dimulai 5 10 mm dari
kanan kemudian elektroda digerakkan kekiri sampai mendekati rigi-rigi yang akan
disambung. Kemudian teruskan pengelasan menurut arah yang diperlukan.
8. Mematikan Busur Nyala
Agar ujung akhir rigi-rigi las tidak keropos dan tidak terlalu rendah, maka untuk
memutuskan atau melepaskan busur nyala dari benda kerja dibutuhkan teknik
tertentu, seperti :
a. elektroda diangkat, lalu sedikit diturunkan, baru diayun keluar.
b. elektroda diangkat sedikit lalu diturunkan kembali sambil dilepas dengan
mengayunkan kekiri atas.
c. diperlihatkan cara pelepasan elektroda yang salah.
9. Hasil Rigi-rigi
Dengan melihat hasil rigi-rigi las dapat diketahui kesalahan-kesalahan
pengelasan.
10. Ayunan Elektroda
Untuk mendapatkan rigi-rigi yang lebih besar dan memperdalam penembusan,
perlu mengayun elektroda.
11. Tinggi Awal Busur
Bila pengelasan dimulai dipinggir sekali, maka penembusan awal rigi-rigi
sering kurang baik. Untuk mengisi hal ini, maka titik awal pengalaan dimulai kira-
kira 10 20 mm dari tepi kampuh yang akan dilas. Elektroda dimundurkan mencapai
tepi, lalu dikembalikan kearah lintasan yang diperlukan.

12. Menyalakan Elektroda


Dengan melihat hasil rigi-rigi las dapat diketahui kesalahan-kesalahan
pengelasan.
10. Ayunan Elektroda
Untuk mendapatkan rigi-rigi yang lebih besar dan memperdalam penembusan,
perlu mengayun elektroda.