Anda di halaman 1dari 57

Deteksi Dini dan Pencegahan

Kanker Serviks

Disusun Oleh :

Alven Endra Norra Purti Yolanda Nurwahidah


Lana Novia Ade Putri M. Nasir Ridho Maulana
Lidia Wati Nasya Fitriana Sukamto
Pembimbing :
dr. Renardy Sp.OG

KEPANITRAAN KLINIK BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2015
Pendahuluan
Kanker serviks adalah kanker kedua terbanyak pada wanita
setelah kanker payudara dengan prevalensinya sebesar 0,8%
di Indonesia pada tahun 2013

Infeksi HPV (Human Papillomavirus) risiko tinggi merupakan


awal dari patogenesis kanker serviks. Proses karsinogenesis
melalui tahap lesi prakanker yang terdiri dari Neoplasia
intraepitelial serviks (NIS) I, II, dan III.

Perjalanan dari infeksi HPV, tahap pra kanker menjadi kanker


serviks memakan waktu 10 hingga 20 tahun.

Dengan dilakukannya pencegahan dan deteksi dini,


penanganan akan lebih mudah sehingga akan menurunkan
angka kejadian kanker serviks.6
Identitas
Nama : Ny. Yeni Sumiati
Umur : 35 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Suku : Batak
Agama : Islam
Status : Menikah
RM : 88 72 71
Alamat : Jl. Pemuda
ANAMNESIS (12 April 2015)

Keluhan utama :

Keluar darah dari jalan lahir yang semakin


banyak sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit
Riwayat Penyakit Sekarang
6 bulan SMRS pasien mengeluhkan keputihan
yang banyak, berwarna kuning kehijauan dan
berbau. Kadang-kadang keputihan bercampur
bercak darah, terasa gatal dan nyeri, pasien
mengaku aktif berhubungan seksual dengan
suami dan mengeluhkan nyeri saat berhubung
seksual.
3 bulan SMRS pasien mengaku keluar flek-flek
darah dari kemaluan, semakin banyak saat setelah
berhubungan seksual sehingga pasien
memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan,
dilakukan pemeriksaan dengan USG, dikatakan
terdapat kista dan 2 minggu SMRS pasien cek lagi
ke dokter spesialis kandungan yang sama dan di
USG dengan tidak ditemukan kista.
1 minggu SMRS pasien mengaku keluar darah dari
jalan lahir yang semakin banyak, darah berwarna
merah segar, bergumpal-gumpal, ganti pembalut 3-
4 kali perhari. HPHT 28 Maret 2015, nyeri perut (+)
pada bagian bawah perut, BAB dan BAK tidak ada
keluhan, pasien juga mengeluhkan nafsu makan
menurun, berat badan juga menurun kira-kira 5 kg
dalam 1 bulan terakhir.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat DM (-), Hipertensi (-), Penyakit jantung (-),
Asma(-), Alergi(-), Keganasan (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat DM (-), Hipertensi (-), Penyakit jantung (-),
Asma(-), Alergi(-), Keganasan (-)

Riwayat Haid
Menarke usia 12 tahun, teratur 28 hari, lama 5-7
hari, banyaknya haid normal, nyeri haid (-)

Riwayat Perkawinan
1 kali saat usia 18 tahun
Riwayat Kehamilan / Persalinan /Abortus
P2A0H2 I. 2002 / laki-laki / 3200 gr / bidan /
sehat
II. 2007 / perempuan / 3600 gr / bidan / sehat

Riwayat Pemakaian Kontrasepsi


Pasien memakai pil KB

Riwayat Operasi Sebelumnya


Tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK (12 April 2015)
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis
Status Gizi : BB = 80 kg, TB = 155 cm, IMT = 33,3 kg/m2 Obesitas grade I
TD : 200/110 mmHg HR : 92 x/menit
T ` : 36,80C RR : 20 x/menit

Kepala : Konjungtiva anemis (+/+), Sklera ikterik (-/-)


Thoraks : Jantung : BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Status ginekologis
Genitalia : Status ginekologis
Ekstremitas : Akral hangat, CRT< 2, edema (-)
Status Ginekologis
Status Ginekologis
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak datar tidak terlihat
benjolan, distensi (-), scar (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Perkusi : Timpani
Palpasi : Supel, simetris, massa (-), nyeri tekan
(+), organomegali (-) pembesaran KGB inguinal
(-)
Genitalia
Inspeksi : Tampak stoll cell di depan vulva uretra tenang

Inspekulo : Portio tidak livide, tampak stoll cell depan OUE,


dilakukan evakuasi dan didapatkan jumlah 300 cc,
portio berbenjol-benjol, tampak massa di kanan dan kiri
dinding samping vagina (+), flour (+) perdarahan aktif
(+)

Bimanual : Portio kenyal, berbenjol - benjol, teraba massa di jam 12


dan 6, parametrium kanan dan kiri lemas, teraba massa
1/3 distal vagina, perdarahan aktif (+), cavum douglas
tidak menonjol

RT : Sfingter ani (+), ampula licin, teraba massa di jam 12


Pemeriksaan Laboratorium (12 April
2015)
Darah rutin :
Hb : 10,7 g/dL
Ht : 33,2%
MCV : 87,6 Fl
MCH : 33,5 pg
MCHC : 38,3 g/dl
Leukosit : 12.800/mm3
Trombosit : 331.000/mm3
Diagnosis:
P2A0H2 dengan perdarahan pervaginam suspek
Ca servix stadium III A dengan krisis hipertensi
dengan obesitas grade I
Terapi :
Observasi KU, TV, perdarahan/jam
Atasi perdarahan: Pasang tampon epinefrin 1 x 24 jam,
Asam traneksamat 3 x 500 g (IV), Vit K 3x1 amp (IV),
Atasi nyeri: Pronalges 3 x 1 gr supp
Cegah anemia: Sulfas ferosus 1 x 1 tab, Vit C 1 x 1 tab
Kontrol tekanan darah: Amlodipin 1 x 10 mg
Rawat Camar III
Rencana tindakan: Biopsi jaringan
FOLLOW UP
Tgl/Jam Perjalanan Penyakit Keterangan

13/4/2015 S : nyeri pada perut bagian bawah, perdarahan dari jalan lahir (+), Observasi KU, TV,
06.30 pusing (+), mual (-), muntah (-) Perdarahan,Tanda tanda syok
O: Pronalges supp 3x1
Asam traneksamat 3x1
KU : baik
Vit K 3x1
Kes : komposmentis Amlodipin 1x1
TTV : TD 130/80 mmHg RR 18 x/I SF 1x1
HR 82x/I T 36,80C Vit C 1x1
Status generalis :
Mata : konjungtiva anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-)
Thorax : cor : BJ I dan II reguler, murmur(-),
gallop (-)
pulmo : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Abdomen : supel, BU (+), nyeri tekan pada perut bagian bawah (+)
Status ginekologis:
I : perdarahan tampak pada vulva, uretra tenang
A : P2A0H2 dengan perdarahan pervaginam ec suspect Ca cervix St.
III A dengan hipertensi dan obesitas grade I
Karsinoma serviks
adalah tumor ganas primer yang berasal dari
metaplasia epitel di daerah skuamo kolumner
junction yaitu daerah peralihan mukosa vagina
dan mukosa kanalis servikalis.

Sebanyak 90% dari karsinoma serviks berasal


dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan
10% sisanya berasal dari sel kelenjar pada
saluran servikal yang menuju ke rahim.6,7,8
Faktor resiko

Menderita penyakit
Aktivitas seksual Hubungan seksual
yang disebabkan
pada usia muda multipartner
HPV

Riwayat ginekologis
Perempuan perokok Kontrasepsi oral
dan jumlah paritas

Riwayat Keluarga
Penggunaan IUD
Penyakit
(Genetik) Immunosupresi
Pencegahan kanker serviks
Pencegahan primer
menghindari berbagai faktor resiko
Vaksinasi
Pencegahan sekunder
Skrining dan deteksi dini seperti Pap Smear, kolposkopi,
servikografi, Pap net
inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Terapi adekuat sesuai temuan skrining

Pencegahan tersier.
Mencegah komplikasi klinik dan kematian awal.
Dengan eksisi bedah, terapi radiasi, kemoterapi atau kombinasi
Pedoman skrining
(American Cancer Society dan US Preventive Services Task Force, 2012)

Tes Pap dalam waktu tiga tahun mulai hubungan seksual atau pada usia 21.

Disaring setiap 3 tahun dengan tes Pap konvensional.


Usia 30 tahun atau >> dengan tiga hasil tes normal berturut-turut dapat skrining setiap tiga tahun.
Diatas 30 tahun harus melakukan tes Pap dan tes HPV setiap lima tahun.

Usia 65 tahun atau >> dapat menghentikan skrining


Jika sebelumnya tiga tes Pap mereka normal dan
Hasil tes normal dalam 10 tahun sebelumnya.

Skrining setelah histerektomi tidak diperlukan kecuali untuk mengobati kanker


serviks atau prakanker.

Telah histerektomi tanpa pengangkatan leher rahim harus terus skrining sampai
usia 70.
Diagnosis
Gambaran klinis
>> asimtomatis
Nyeri dan perdarahan pervaginam abnormal
Sekret vagina berwarna kekuningan dan berbau busuk
perdarahan kronik
anemia, kehilangan berat badan, mudah lelah
Jika menginvasi
Rektum dan Vesika Urinaria
hematuria atau perdarahan per-rektal
nyeri pada panggul
otak
nyeri kepala yang progresif
Paru
sesak atau batuk darah
hepar
nyeri perut kanan atas, ikterik, hepatomegali
Pemeriksaan fisik
inspekulo :
terlihat lesi pada daerah serviks.

pemeriksaan bimanual
Memeriksa lesi yang tersembunyi di kanal bagian
endoserviks ~ >> lebar lesi maka >> sempit jarak
antara tumor dengan dinding perlvis.

Pemeriksaan dalam
pemeriksaan pelvik, parametrium
Pemeriksaan penunjang
IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Mengoleskan asam asetat 3%-5% pada serviks


Intreprestasi (+) jika terdapat area putih (acetowhite) didaerah sekitar porsi
serviks.

Pemeriksaan DNA, HPV,

Dapat mendeteksi tipe-tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Pap smear

Pemeriksaan sitologi untuk mendeteksi karsinoma serviks uteri.


Dengan mengambil contoh sel epitel serviks melalui kerokan dengan
spatula khusus, dan dihapuskan pada kaca objek. Selanjutnya diamati di
bawah mikroskop oleh ahli patologi
Jika Pap smear Abnormal
lakukan konfirmasi lanjutan
Kolposkopi,
Menggunakan alat optik (kolposkop)
Dapat mengenali dysplasia maupun karsinoma

Biopsi,
Merupakan gold standard
Mengambil jaringan lesi dan diperiksa secara histopatologik.

Sitoskopi dan protoskopi (Pemeriksaan visual kandung kemih


dan kolon),Pemeriksaan imaging seperti chest X-ray, CT,
MRI dan PET
Mengetahui penyebaran dari kanker ke organ-organ sekitar.
Stadium kanker serviks menurut
FIGO 2000
Stadium Keterangan
Stadium 0 Karsinoma in situ, karsinoma intraepithelial.

Stadium I Karsinoma masih terbatas di serviks (penyebaran ke korpus uteri


diabaikan).
Stadium IA Invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik,
Kedalaman invasi stroma tidak lebih dari 5 mm dan lebarnya tidak lebih dari
7 mm.
IA1 Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm dan lebar tidak
lebih dari 7 mm.
IA2 Invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi kurang dari 5 mm
dan lebar tidak lebih dari 7 mm.
Stadium IB Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis lebih dari IA.

IB1 Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm.

IB2 Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm.


Stadium Keterangan
Stadium II Telah menginvasi di luar uterus, tapi belum mengenai dinding panggul
atau sepertiga distal/bawah vagina.
IIA Tanpa invasi ke parametrium.

IIB Sudah menginvasi parametrium.

Stadium III Telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding
panggul.
IIIA Keterlibatan 1/3 bawah vagina dan tidak invasi ke parametrium, belum
mencapai dinding panggul.
IIIB Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidronefrosis atau
gangguan fungsi ginjal atau tidak berfungsinya ginjal.
Stadium IV Tumor meluas ke luar organ reproduksi.
IVA
Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rektum dan/atau keluar
dari rongga panggul minor.
IVB Metastase jauh penyakit mikroinvasif
Klasifikasi WHO
Karsinoma in situ,

Perubahan sel dengan inti yang menampakkan


keganasan
Terdapat ketebalan seluruh epitel skuamosa serviks
tanpa menembus membran basalis.

Displasia

Perubahan sel dengan inti yang menampakkan


keganasan
Tidak melibatkan keseluruhan ketebalan epitel
Tidak menembus membran basalis.
Dibagi 3 derajat,yaitu ringan, sedang, dan berat.
Derajat dari Lesi pra-kanker Cervical
Intraepitelial Neoplasma ( CIN ):
CIN 1 - sesuai dengan displasia ringan (NIS 1)
CIN 2 - sesuai dengan displasia sedang (NIS 2)
CIN 3 - meliputi displasia berat dan ca insitu (NIS 3)
Penatalaksanaan
penanganan lesi prakanker serviks

Klasifikasi Penanganan

HPV Observasi Medikamentosa Destruksi: Krioterapi


Elektrokauterisasi/ elektrokoagulasi Eksisi:
diatermi loop
Displasia ringan Observasi Destruksi: Krioterapi Elektrokoagulasi
(NIS I) Laser, Laser + 5 FU Eksisi: diatermi loop
Displasia sedang Destruksi: krioterapi Elektrogoagulasi Laser,
(NIS II) Laser + 5 FU Eksisi: diatermi loop
Displasia keras Destruksi: krioterapi Elektrokoagulasi Laser
(NIS III)/KIS Eksisi: konisasi Histerektomi
Terapi NIS dengan Destruksi Lokal

Bertujuan memusnahkan daerah terpilih yang


mengandung epitel abnormal, digantikan
dengan epitel skuamosa yang baru.

krioterapi, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan


CO2 laser.
Terapi NIS dengan Eksisi

LEEP ( Loop Electrosurgical Excision


Procedures)
Konisasi
Konisasi cold knife,
Konisasi diatermi loop (=LLETZ), dan
Konisasi laser.
Histerektomi

Tujuannya untuk memusnahkan daerah-daerah


terpilih yang mengandung epitel abnormal, yang kelak
akan digantikan dengan epitel skuamosa yang baru,
atau mengangkat lesi prakanker
Tatalaksana Karsinoma
Serviks Invasif
Pilihan terapi untuk karsinoma serviks meliputi:
Pembedahan
Terapi radiasi
Kemoterapi

Kemoterapi tidak digunakan sebagai terapi primer,


namun dapat diberikan bersamaan dengan
radioterapi.
Keputusan terapi untuk karsinoma serviks
berdasarkan ukuran tumor; stadium atau tingkat
keparahan kanker, faktor personal seperti usia, ingin
memiliki anak dan keadaan kesehatan wanita pada
keseluruhan.
Prognosis
5 years survival rate yang dipublikasikan 7th edition AJCC staging
manual 2010

Stadium Angka harapan hidup 5 tahun (%)


0 93
IA 93
IB 80
II A 63
II B 58
III A 35
III B 32
IV A 16
IV B 15
Dari uraian kasus didapatkan
permasalahan yakni sebagai berikut:
Apakah langkah-langkah penegakan diagnosis
pada kasus ini sudah tepat ?
Apakah penatalaksanaan awal pada pasien ini
sudah tepat?
Apa deteksi dini dan pencegahan yang harus
kita lakukan pada pasien ini ?
Bagaimana kompetensi dokter umum dalam
menangani kasus ini?
Apa manfaat yang diperoleh dari ilustrasi kasus
ini?
Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
Diagnosis masuk pada pasien ini adalah P2A0H2 dengan
perdarahan pervaginam suspek Ca servix stadium III A
dengan krisis hipertensi dengan obesitas grade I.

anamnesis
Keluhan keluar darah dari kemaluan yang semakin banyak
sejak 1 minggu yang lalu.

Nyeri perut bawah dan perdarahan pasca berhubungan.

Keputihan banyak, kuning kehijauan dan berbau. kadang


keputihan bercampur bercak darah, terasa gatal dan nyeri.
pemeriksaan inspekulo tanggal Pada pemeriksaan bimanual
12-04-2015 portio berbenjol - benjol
Tampak stoll cell depan OUE teraba massa di jam 12 dan 6
evakuasi dan didapatkan jumlah 300 cc parametrium kanan dan kiri lemas
portio berbenjol-benjol teraba massa 1/3 distal vagina
massa di kanan dan kiri dinding samping perdarahan aktif (+)
vagina (+) cavum douglas tidak menonjol
perdarahan aktif (+)

Pada pemeriksaan rectal toucher


didapatkan Sfingter ani (+),
ampula licin
teraba massa di jam 12

Menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah ke kanker serviks.


Dari tanda vital didapatkan tekanan darah
pasien 200/110
krisis hipertensi (hipertensi urgensi)

Dari hasil IMT hasil 33,3


obesitas grade 1.
Apakah penatalaksanaan awal pada pasien ini sudah
tepat?

Perdarahan
memasang tampon epinefrin 1 x 24 jam
injeksi asam traneksamat 3 x 500 g
injeksi Vit K 3x1 amp.
Nyeri
pronalges suppositoria 3 x 1 gr
Anemia
Sulfas ferosus 1 x 1 tab
Vit C 1 x 1 tab dan untuk
menurunkan tekanan darah
amilodipin 1 x 10 mg.
Tampon epineprin
memberikan efek vasokonstriksi lokal perdarahan
berhenti.

Asam traneksamat
menghambat aktivitas dari aktivator plasminogen dan
plasmin,
hemostatik bekerja mencegah degradasi fibrin
meningkatkan agregasi platelet
memperbaiki kerapuhan vaskular
meningkatkan aktivitas factor koagulasi.

Vitamin K berguna
meningkatkan biosintesis beberapa faktor pembekuan
darah yang berlangsung di hati.
sebagai hemostatik
Sulfas ferosus dan Vitamin C
mencegah anemia.

Amlodipin
menurunkan tekanan darah

Pronalges
mengurangi nyeri.
Pasien dilakukan tindakan biopsi jaringan.
Gold standard dalam menentukan diagnosis
kanker yaitu dengan mengambil sedikit jaringan
lesi kemudian diperiksa secara histopatologik.
Pasien dipulangkan sambil menunggu hasil
biopsi dan diedukasi untuk tidak melakukan
hubungan senggama sementara waktu
Apa deteksi dini dan pencegahan yang
harus kita lakukan pada pasien ini ?
Keterlambatan penatalaksanaan karsinoma serviks terutama akibat
diagnosis yang terlambat.

Strategi dalam mencegah morbiditas dan mortalitas karsinoma


serviks dengan pencegahan primer dan pencegahan sekunder.

Pencegahan primer kanker serviks Mnghindari faktor resiko


Aktivitas seksual pada usia muda,
hubungan seksual dengan multipartner,
menderita penyakit yang disebabkan HPV
perokok,
riwayat ginekologis
Jumlah paritas serta
vaksin pencegah infeksi dan penyakit terkait HPV
Pencegahan sekunder skrining dan deteksi
dini,
Pap Smear
Kolposkopi
Servikografi
Pap net
inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
Bagaimana kompetensi dokter umum
dalam menangani kasus ini?
Berdasarkan SKDI tahun 2012 tingkat
kemampuan 2
Menurut KMK No. 796
dokter umum berperan dalam upaya penapisan
kanker serviks.
Keterampilan dokter umum dalam menunjang
diagnosis kanker serviks
konseling, melakukan IVA, melakukan tes PAP
dan deteksi dini kanker serviks.
Cryoterapi
Dokter umum harus merujuk pasien tingkat
fasilitas perawatan yang lebih tinggi pada:
Lesi acetowhite lebih dari 75% dari permukaan
leher rahim, lesi acetowhite meluas sampai ke
dinding vagina atau lebih dari 2 mm tepi luar
probe krioterapi
Lesi acetowhite (+) tetapi pasien meminta
pengobatan lain selain krioterapi atau meminta
tes diagnosis lain
Dicurigai kanker
Kondisi ginekologis lain (misalnya massa ovarium,
miom, polyp)
Apa manfaat yang diperoleh dari
ilustrasi kasus ini?
pentingnya deteksi dini dan pencegahan
karsinoma serviks.
Meningkatkan peran pada layanan primer untuk
mengedukasi pasien tentang pencegahan
karsinoma serviks
sehingga kasus karsinoma serviks dapat
ditemukan pada stadium dini.
Rekomendasi pedoman skrining mendeteksi dini :

Semua wanita harus mulai memiliki tes Pap dalam waktu tiga
tahun mulai hubungan seksual atau pada usia 21,harus disaring
setiap tiga tahun dengan tes Pap konvensional.

Perempuan 30 dan lebih tua yang telah memiliki tiga hasil tes
normal berturut-turut dapat menerima skrining setiap tiga tahun.

Wanita yang lebih tua dari 30 harus melakukan tes Pap dan tes
HPV setiap lima tahun,

Perempuan 65 tahun atau lebih dapat menghentikan skrining jika


sebelumnya tiga tes Pap mereka normal dan tidak ada hasil tes
yang abnormal dalam 10 tahun sebelumnya
Pada kasus ini, pasien datang pertama kali
berobat bulan April 2015, pasien pertama kali
merasakan keluhan sejak 6 bulan sebelum
masuk rumah sakit, berdasarkan anamnesis
pasien memiliki faktor resiko, pemeriksaan fisik
terdapat temuan yang mengarahkan diagnosa
pasien suspect kanker serviks, selanjutnya
dilakukan biopsi yang merupakan gold standar
dalam penegakan diagnosis kanker serviks
sehingga diagnosis bukan lagi suspect
melainkan menjadi pasti.
Faktor resiko yang menyebabkan
kanker serviks
Pasien menikah pada usia 18 tahun.
Semakin muda seorang wanita untuk berhubungan
seksual semakin besar resiko seseorang menderita
kanker serviks.
Aktifitas seksual yang dimulai usia muda sangat
berhubungan dengan kematangan sel-sel mukosa
pada serviks.
Penggunakan pil Kb sebagai alat kontrasepsi
Kontrasepsi oral menyebabkan lebih sensitif terhadap
HPV yang dapat menyebabkan adanya peradangan
pada genitalia sehingga resiko terhadap kanker
serviks lebih besar.
Upaya deteksi dini
Pemeriksaan IVA (-)
Pemeriksaan Pap smear (-)

Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya


pengetahuan pasien dalam suatu pengenalan
dan pencegahan terhadap kanker serviks.
Simpulan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dinyatakan pasien suspect
kanker serviks.

Penatalaksanaan awal pasien pada kasus ini sudah tepat, yaitu perbaikan
keadaan umum dan melakukan tindakan lanjut berupa biopsi untuk
menegakkan diagnosis pasti.

Penegakan diagnosis pada pasien karsinoma serviks, bukan hanya dengan


anamnesis dan pemeriksaan fisik, namun juga diperlukan pemeriksaan
penunjang yaitu histopatologi, pada pasien ini langkah-langkah penegakan
diagnosis yang telah dilakukan sudah tepat.

Makin tinggi stadium karsinoma serviks ditemukan maka prognosisnya


semakin buruk.

Tingkat kemampuan dokter umum dalam menangani kasus karsinoma


serviks adalah tingkat kemampuan 2, yaitu mendiagnosis dan merujuk.
Saran
Pentingnya peningkatan kompetensi/keterampilan dokter umum seperti melakukan

pemeriksaan IVA atau pap smear dalam deteksi dini pasien-pasien dengan

karsinoma serviks.

Sebaiknya perlu dilakukan pencegahan sejak dini pada pasien agar datang berobat

tidak dalam stadium lanjut sehingga didapatkan prognosis yang lebih baik.

Pentingnya pemberian pengetahuan dan informasi mengenai pencegahan dini

karsinoma serviks oleh petugas kesehatan terhadap setiap wanita yang sudah

menikah ataupun memiliki anak. Pencegahan dini dapat dilakukan dengan

meningkatkan konseling melalui penyuluhan, cakupan imunisasi dan pemakaian

kontrasepsi terutama kondom di tempat lokalisasi.

Pentingnya dukungan keluarga untuk memotivasi pasien-pasien dengan karsinoma

serviks stadium lanjut sehingga terjadi peningkatan kualitas hidup pasien.