Anda di halaman 1dari 25

MANAGEMENT AND TREATMENT OF

HERPES SIMPLEX KERATITIS

Pembimbing:
dr. Sofia Yuniati Rita Wulandari, Sp.M

Muhammad Hasbi Nur


30101206669
PENDAHULUAN
Herpes simplex virus (HSV) keratitis merupakan infeksi
okular umum dan serius yang dapat menyebabkan
kebutaan unilateral, terutama karena infeksi rekurennya
(infeksi selanjutnya). Kemajuan pemahaman tentang virus
pada tingkat seluler maupun molekuler belum mampu
menghilangkan dilema antara terapi penggunaan antiviral
tunggal atau steroid tunggal atau kombinasi keduanya.
Perlu pertimbangan antara resiko penggunaan steroid
dan komplikasinya dengan perkembangan resiko penyerta
tanpa penggunaan steroid.
Dilema ini dapat dikurangi hingga batas
tertentu jika diterapkan prinsip dasar virologi
dan patogenesisnya. Oleh karena itu, artikel
ini membahas konsep terkini dari virologi dan
aspek klinis HSV keratitis untuk mendapatkan
pemahaman yang luas dari perkembangan
penyakit.
Virologi
Herpes simplex virus termasuk dalam famili Herpesviridae
yang juga satu famili dengan Varicella zoster virus,
Cytomegalovirus dan EpsteinBarr virus.
Virus ini terbentuk dari inti DNA dan protein kapsid
dengan 162 kapsomer silinder berongga. Nukleokapsid
dikelilingi selubung membentuk partikel virus (virion)
dengan diameter keseluruhan 130-180 nm.
Jenis Virus:

Ada dua jenis HSV, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Secara


umum, tipe 1 menyebabkan infeksi diatas pinggang
terutama mata, mulut dan kulit. Tipe 2 penyebab
infeksi dibawah pinggang terutama herpes genital,
neonatal herpetik keratitis dan conjunctivitis.
Strain Virus:

Strain yang menghasilkan sejumlah besar


glikoprotein memiliki kemampuan
menginduksi lebih banyak sistem imun
humoral dan sel mediasi respon imun. Strain
ini dapat dikaitkan dengan bentuk keparahan
penyakit stroma kornea.
Infeksi Litik :

Herpes simplex virus biasanya mempengaruhi


jaringan asal ectodermal, seperti kulit, selaput
lendir, atau sistem saraf.
menyerang reseptor spesifik
HSV penetrasi
pada permukaan sel manusia

DNA virus Periode eclipse Melepaskan DNA dari


menginduksi produksi (Virus tidak terdeteksi) sel menuju inti
enzim inang maupun
enzim virus-spesifik

dipindahkan ke inti di
thymidine kinase dan Protein virus disintesis mana nukleokapsid
DNA polimerase di sitoplasma dibentuk

Sel inang berada dalam selubung


terjadi lisis sel dan
dengan bentuk baru dengan partikel
terlepas
yang telah terinfeksi
Masa Laten dan Reaktivasi :
HSV dapat menjadi laten pada trigeminal
ganglia dari inang setelah infeksi primer.
Setelah infeksi primer, virus memasuki ujung
saraf sensorik. HSV tidak memproduksi
protein virus pada masa ini dan gen virus
berada pada trigeminal ganglia.
Tempat paling penting pada masa laten virus
adalah trigeminal ganglia.
Partikel virus berjalan secara sentripetal ke neuronal sel tubuh
dengan aliran retrograde axoplasmic. Virus bertahan hidup di
sini selama beberapa dekade dan kemungkinan bergabung ke
dalam nuklear DNA sel inang; namun virus meninggalkan
morfologi sel, antigen sel, dan fungsional normal sel.

Infeksi laten dapat ditunjukkan dengan menghilangkan


jaringan inang kemudian dilakukan kultur in vitro selama
beberapa hari. Hal ini dimungkinkan dapat mengidentifikasi
virus.

Virus tetap laten di sebagian besar individu sepanjang hidup.


Namun pada beberapa orang, faktor pemicu tertentu seperti
demam, penyakit sistemik, stres, sinar UV atau anestesi
umum dapat mengaktifkan virus kembali.
Virus yang kembali aktif dapat berjalan menyusuri saraf
dan menyebabkan penyakit perifer

Baru-baru ini dilaporkan bahwa kornea merupakan tempat


saraf tambahan terjadinya infeksi laten. Mekanisme
molekuler yang terlibat dalam masa laten dan reaktivasi
HSV tidak diketahui. Latency-associated transcripts (LAT)
(transkrip masa laten) telah diidentifikasi pada percobaan
manusia dan hewan. Namun protein dari masa laten belum
diidentifikasi pada percobaan in vivo.

Kornea sendiri merupakan sebuah tempat infeksi persisten;


Oleh karena itu, penggunaan steroid topikal pada
penyakit kronis dapat memicu proliferasi dan penetrasi
virus dalam kornea. Perawatan yang cukup harus
dilakukan pada pasien dengan kekeruhan kornea untuk
pengobatan dengan keratectomy phototherapeutic.
Diagnosis

Adanya penampakan klinis biasanya yang


menunjukkan infeksi HSV. Selain itu adanya
riwayat terpajan pada penderita dengan infeksi
herpes labialis aktif.
Infeksi Rekuren:
Faktor utama yang dapat memperparah kejadian
rekuren herpes adalah respon imun inang, strain
virus, nutrisi dan terapi.

Lesi corneal yang dangkal (dendritic and


geographic ulcers) berkaitan dengan adanya virus
yang bereplikasi.

Lesi yang lebih dalam (stromal, uveal) muncul


lebih dominan karena respon imun.
HSV endothelitis:
Perkembangan inflamasi endothelial dapat terjadi pada
infeksi HSV type 1. Pada beberapa pasien, dendritic
ulceration dapat menimbulkan lesi yang berlebih. Bentuk
sumuran merupakan bentuk yang paling umum pada
keratitis.
Ada bentuk area sumuran pada stromal oedema yang dapat
terjadi tanpa infiltrasi atau vascularisasi. Area ini dapat
menyebar, terpusat ataupun tidak berarturan. Gejala yang
ditunjukkan berupa peningkatan produksi air mata,
photophobia, perasaan tidak nyaman, dan pandangan
kabur.
Hipersensitifitas diperantarai lyphocyte T kemungkinan
berperan penting pada patogenesis bentuk sumuran
keratitis.
HSV iridocyclitis:
Bentuk sumuran HSK yang lebih dalam dapat
berhubungan dengan uveitis. Namun kejadian
rekuren non granulomatous uveitis anterior
kemungkinan memiliki manifestasi dengan
pengaruh HSV okular tanpa riwayat infeksi.

Penyebab utamanya kemungkinan adalah


reaksi imunologi. Virus hidup dapat terlihat
pada anterior chamber dan beberapa kasus
pada jaringan iris.
Secara kilinis, tingkat keparahan dapat bervariasi dari
inflamasi sedang ke parah yang menghasilkan fibrin,
hypopyon, hyphema, synechiae posterior, segmental
iris necrosis mirip pada gambar yang terlihat pada
zoster keratouveitis dan inflammatory membrane pada
anterior chamber dengan secondary glaucoma.
Tujuan terapi adalah untuk mengobati bentuk parah
pada anterior dengan penggunaan acyclovir oral yang
merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang sudah
melalui diagnosis laboratorium, dosis dan durasi
pengobatan belum dapat ditetapkan.
Trabeculitis:

Herpes peripheral corneal dapat berpengaruh pada


trabecular meshwork dan menjadikan trabeculitis.
Akibatnya, secondary glaucoma dapat bersifat
sementara atau memperparah kerusakan.
AIDS and HSK:
Kondisi HSK pada pasien immuno-suppressed pasca
transplantasi dapat lebih serius daripada individu yang
immunocompetent.

Hodge and Margolis melakukan study pada pasien HSK AIDS


dan pasien AIDS tidak ada perbedaan signifikan pada respon
dan terapi dibandingkan pada kelompok kontrol non-immuno-
compromised. Secara keseluruhan, angka kejadian rekuren lebih
tinggi pada kelompok HIV positif.

Hal ini disimpulkan pada episode pertama infeksi HSV, tempat


infeksi kronik laten terlihat pada kornea, hal ini menunjukkan
bahwa immunosuppressi oleh infeksi HIV dapat mengganggu
mekanisme lain yang bertanggung jawab pada infeksi cornea.
Diagnosa Lab :
Metode yang tersedia yaitu kultur virus, uji
imunologi, pemeriksaan histopatologi dari spesimen
keratoplasty menunjukkan reaksi granulomatous
pada stroma dan sekitar membran Descemet.
Uji imunologi yang umum dilakukan adalah enzyme
linked immune adsorbent assay (ELISA), immune
filtration test, latex agglutination, immune
peroxidase methods and immune affinity membrane
test. Immunocytochemistry dapat menunjukkan
antigen HSV pada stromal keratocyctes, endothelial,
and epitheloid cells.
Terapi
Tujuan utama dari terapi HSK adalah untuk
mencegah perkembangan komplikasi, terutama
kerusakan stroma dan jaringan parut.
Terapi antivirus merupakan dasar terapi HSV
keratitis yang masih menjadi standar emas. Agen
terapi yang umum digunakan untuk HSV Keratitis
adalah trifluridine, idoxuridine, vidarabine, acyclovir
and ganciclovir.
Agen antivirus dapat digunakan secara topikal atau
oral. Antivirus oral memiliki lebih sedikit
komplikasi okular secara langsung.
Trifluridine dan acyclovir lebih unggul dibandingkan
dengan idoxuridine dan vidarabine.
Pada sediaan salep, ganciclovir memiliki angka
penyembuhan yang lebih unggul dan tolerasnsi
yang lebih baik dibandingkan dengan acyclovir.
Efek samping ganciclovir lebih sedikit, seperti
menurunnya rasa terbakar atau pandangan kabur.
Interferon tunggal efektif untuk dendritic
epithelial keratitis, namun tidak memiliki
keuntungan tambahan dibandingkan dengan
antivirus yang tersebut diatas.
Efektivitas beberapa obat antivirus dapat
ditingkatkan dengan kombinasi interferon.
Penggunaan steroid pada HSV keratitis masih
menjadi pertanyaan sulit untuk para dokter
dikarenakan adanya efek samping penyerta.
Steroid tidak menambah keuntungan terapi yang
berkaitan dengan komplikasi dan peningkatan
kejadian rekuren.
Acyclovir topikal terbukti lebih efektif dibandingkan
dengan steroid dengan tingkat rekuren yang lebih
rendah pada kelompok acyclovir dibandingakan
dengan kelompok steroid. Penyakit serupa, corneal
epithelial disease sembuh dan pulih lebih cepat
dengan acyclovir.
Kesimpulan :
Meskipun telah melakukan pemahaman dan pengalaman
klinis selama beberapa tahun namun dapat dikatakan kami
membuat kemajuan terbatas dalam mengelola infeksi HIV.
Kami masih bergantung pada gejala-gejala klinis untuk
diagnosis.
Kami terlah memahami kemampuan dari HSV dalam infeksi
laten pada saraf sensorik dan kornea, namun kami belum
dapat menggunakan pengetahuan ini untuk pencegahan
perkembangan penyakit.
Keterbatasan pengetahuan kami ini dapat dijadikan penelitian
skala laboratorium untuk mengatasi HSV yang merupakan
tantangan utama dalam manajemen.
TERIMAKASIH