Anda di halaman 1dari 15

1.

Wening Wahyuningsih (1508010109)


2. Zaenal Arifin M.C.D (1508010111)
3. Zahra Muftia A. (1508010113)
4. Elok Faiqatul H. (1508010115)
5. Nira Setiawati (1508010117)
6. Melda Henara (1508010123)
1. Sebelum melakukan praktikum ini, praktikan harus
sudah mengetahui apa yang digolongkan dalam
minyak lemak, lemak dan lilin (wax)
2. Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa
diharapkan mampu mengidentifikasi minyak lemak,
lemak, dan lilin baik secara fisika, maupun kimia
terutama bahan yang digunakan dalam bidang farmasi
Lipid adalah suatu kelompok senyawa
yang berhubungan dengan asam-asam
lemak serta memiliki sifat yang tidak larut
dalam air tetapi larut dalam pelarut
organik yaitu pelarut organik nonpolar.
Lipid mencakup lemak, minyak , lilin,
steroid, dan senyawa yang sejenis. Lipid
merupakan salah satu komponen makanan
yang terpenting yaitu sebagai sumber
energi, menghasilkan kalori pergram lemak,
bahan isolasi dan pelindung. (Riawan.1990)
1. Uji Noda Lemak
Bahan Uji Hasil Kesimpulan
a. Ol. Cocos Meninggalkan bekas + mengandung
noda lemak lemak
b. Ol. Olive Meninggalkan bekas + mengandung
noda lemak lemak

c. Ol. Lini Meninggalkan bekas + mengandung


noda lemak lemak

d. Ol. Corn Meninggalkan + mengandung


bekas noda lemak lemak

e. Biji Kacang Meninggalkan bekas + mengandung


noda lemak lemak

f. Biji Kemiri Meninggalkan bekas + mengandung


noda lemak lemak
2.Uji Kelarutan
Bahan Uji Pelarut Hasil Kesimpulan
a. Ol. 1: 9 Eter Mudah larut -
Cocos 1: 4 PE Mudah larut -
1: 4 Kloroform Mudah larut -
1: 60 Air
Agak sukar larut -
1: 65 Etanol 96%
Agak sukar larut -
b. Ol. 1 : 4 Eter Mudah larut +
Olive 1 : 4 Pe Mudah larut +
1 : 5 Kloroform Mudah larut +
1 : 55 Air
Agak sukar larut -
1 : 10 Etanol 96%
Mudah larut -
c. Ol. Corn 1 : 4 Eter Mudah larut -
1 : 4 PE Mudah larut -
1 : 4 Kloroform Mudah larut -
1 : 40 Air
Agak sukar larut -
1 : 45 Etanol 96%
Agak sukar larut -
d. Ol. Lini 1 : 6 Eter Mudah larut -
1 : 5 PE Mudah larut -
1 : 8 Kloroform Mudah larut -
1 : 50 Air
Agak sukar larut -
1 : 100 Etanol 96%
Agak sukar larut -
3. Uji pembentukan emulsi
a. Oleum Cocos + Air lapisan Minyak berada di atas dan tidak
bercampur dengan air
b. Oleum Cocos + Air + NaOH minyak dan air bercampur
menghasilkan emulsi karena NaoH sebagai emulgator

4. Uji Saponifikasi
Oleum Cocos + NaOH + Air terbentuk larutan sabun dan dibagi menjadi
tiga bagian
a. Bagian 1 + HCl 2 N - tidak terbentuk sabun
b. Bagian 2 + KCl - tidak terbentuk sabun
c. Bagian 3 + MgSO4 - tidak terbentuk sabun
Paraffinum Liquidum + NaOH + Air dibagi menjadi 3 bagian
a. Paraffinum Liquidum + HCl 2N - tidak terbentuk sabun
b. Paraffinum Liquidum + KCl + menghasilkan sabun
c. Paraffinum Liquidum + MgSO4 - tidak terbentuk sabun

5. Uji Ketidakjenuhan
Oleum Corn dan Oleum Cocos + 10 ml Kloroform + 20 ml Hubl warna
merah keorangean
6. Uji Gliserol
a. kalium hydrogen sulfat + gliserol + serbuk kalium hydrogen sulfat +
bau merangsang air mata
b. kalium hydrogen sulfat + gliserol + Oleum Cocos + bau merangsang
air mata
c. kalium hydrogen sulfat + gliserol + Amylum Manihot - bau
merangsang air mata
d. kalium hydrogen sulfat + gliserol + Amylum Marantae - bau
merangsang air mata
e. kalium hydrogen sulfat + gliserol + Amylum Orizae - bau
merangsang air mata
7. Penetapan Jarak Beku
a. Oleum Cocos : pada waktu 0-2 menit dengan suhu 8 C mulai
keruh dan pada waktu 2-4 menit pada suhu 5 C mulai beku
b. Oleum corn : tidak membeku
c. Oleum olive : mulai keruh pada waktu 50-52 menit pada suhu 7 C
membeku pada waktu 55 menit dengan suhu 4C
d. Oleum arachidis : mulai keruh pada waktu 0-2 menit dengan
suhu17C dan membeku pada suhu 10 C dengan waktu 2-4 menit
e. Oleum sesami : : mulai keruh pada waktu 0-2 menit dengan suhu
10C dan membeku pada suhu 8 C dengan waktu 2-4 menit
f. Oleum lini : tidak membeku
8. Penetapan Jarak Lebur
a. Oleum Cacao : meleleh pada suhu 30 C, meleleh sempurna pada suhu 41C.
b. Cetaceum : meleleh pada suhu 35 C, meleleh sempurna pada suhu 40 C
c. Cera alba : meleleh pada suhu 30 C, meleleh sempurna pada suhu 48 C
9. Reaksi warna dengan sudan III
a. Irisan penampang myristicae semen + sudan III terbentuk butir merah
sindur
b. Irisan penampang arachidis semen + sudan III terbentuk butir merah sindur
10. Uji sterol dengan reaksi Liebermann Burchard
10 tetes oleum cocos + 5 ml kloroform + 1 ml cuka anhidrida + 2 tetes H2SO4
tidak berwarna hijau zamrud
11. Uji khusus Oleum Lini
1 tetes oleum lini diratakan pada gelas objek dan membiarkan mengering diudara
ada lapisan vernis
12. Uji khusus oleum sesami
2 ml minyak wijen + 4 ml sukrosa 10% dalam HCl pekat merah kecoklatan +
mengandung ssesamol
pada praktikum identifikasi minyak lemak, lemak dan lilin, uji yang
diujikan berjumlah 12 uji yaitu :
1. Uji noda lemak
Pada uji noda lemak hasil yang di dapat semua minyak
meninggalkan noda lemak pada kertas saring, ini menunjukkan bahwa sifat
lemak yang dapat meninggalkan noda saat di teteskan pada kertas saring.
2. Uji kelarutan
Pada oleum cocos mudah larut dengan eter, PE, klororform dan agak
sukar larut dengan air hasil yang didapat tidak sesuai dengan literatur dimana
dalam FI edisi III ol. Cocos larut dalam 2 bagian etanol 95% pada suhu 60 C,
sangat mudah larut dalam kloroform p dan dalam eter p, untuk ol.olive
mudah larut dalam eter,PE, kloroform, etanol dan agak sukar larut dengan
air. Hasil yang didapat untuk kelarutan dalam kloroform dan eter sesuai
literatur tp untuk etanol tidak sesuai dengan literatur dimana kelarutan olive
sendiri sukar larut dalam etanol 95%, mudah larut dalam klooform p, eter p,
dan dalam eter minyak tanah p. Untuk kelarutan ol lini dan ol. Corn juga
tidak sesuai dengan literatur. Yaitu Farmakope Indonesia Edisi III hal 452
459
3. Uji pembentukan emulsi
Pada saat ol.cocos dan air ditambahkan emulgator yaitu sabun
(NaOH) terjadi pencampuran antara minyak dan air karena minyak bereaksi
dengan basa kuat sehingga antara air dan minyak dapat menyatu
4. Uji saponifikasi
Pada paraffin liquid terbentuk sabun saat ditambah KCl dimana bereaksi
dengan basa kuat dan garamnya .
5. Uji ketidak jenuhan
Percobaan ini untuk menyatakan ikatan tidak jenuh pada suatu senyawa
yang di uji dengan menambhankan pereaksi iod yaitu Hubl. Warna yang akan
terjadi setelah di tambah pereaksi tersebut akan hilang karena asam lemak tak
jenuh telah mereduksi pereaksi iod Hubl sehingga menandakan bahwa terdapat
banyak ikatan rangkap pada minyak yang diuji yaitu minyak jagung dan minyak
kelapa. Semakin banyak larutan Hubl yang digunakan semakin banyak pula jumlah
ikatan rangkap yang ada. Pada uji ini digunakan 20 ml pereaksi Hubl.
6. Uji gliserol
Uji ini digunakan untuk membedakan antara minyak lemak dengan
karbohidrat. Jika gliserol dipanaskan dengan kalium bisulfate, dehidrasi akan
terjadi dan akrolein aldehid yang terbentuk memiliki karekteristik bau.Hasil yang
didapat tercium bau akrolain. Dapat disimpulkan minyak yang diuji termasuk
dalam golongan minyak lemak.
7. Penetapan jarak beku
tujuan nya untuk menetapkan dan mengetahui titik beku dari minyak
lemak. pada literatur, minyak lemak tidak beku pada suhu 0o dan hasil kami
berada di atas 0o , maka hasil sesuai dengan literatur (FI III hal 452 459).Pada ol.
Lini dan ol corn tidak membeku, karena ol lini mempunyai titik beku yang rendah.
8. Penetapan jarak lebur
Titik lebur dari Ol.cacao, cera alba dan cetaceum yang
diperoleh tidak sesuai literatur yaitu FI III hal 456, 140 141. Suhu
lebur untuk ol.cacao yaitu 31 sampai 34 , Suhu lebur cera alba yaitu
62 sampai 64 , Suhu lebur untuk cetaceum yaitu 42 sampai 50 .
9. Reaksi warna dengan sudan III
Pereaksi sudan III digunakan untuk menunjukkan bahan
makanan yang mengandung lemak/minyak. Hasil yang di dapat warna
butir-butir merah sindur untuk myristicae semen dan arachidis semen
yang menunjukkan adanya kandungan lemak pada bahan uji tersebut.
10. Uji adanya sterol dengan reaksi Liebermann Burchard
Uji ini untuk mengetahui adanya sterol berupa kolesterol pada
minyak lemak. Hasil yang diperoleh tidak terjadi warna hijau zamrud,
artinya negatif karena minyak kelapa tidak mengandung kolesterol
tapi fitosterol, jika digunakan terus menerus kemungkinan akan
berubah menjadi kolesterol.
11. Uji khusus ol. Lini
uji ini untuk mengetahui adanya vernis pada ol.
lini. Hasil yang diperoleh adalah positif terdapat lapisan
vernis.Oleum lini memiliki titik beku yang rendah dan
mengandung asam lemah tak jenuh berkadar tinggi
sehingga pada pengeringan terbentuk vernis.
12. Uji khusus ol. Sesami
Untuk mengetahui adanya sesamol pada ol.sesami.
Hasil yang diperoleh terjadi warna jingga pada lapisan
atas dan jingga muda pada lapisan bawah , artinya poitif
mengandung sesamol pada ol.sesami
Mahasiswa telah mengetahui apa yang digolongkan dalam minyak lemak, lemak dan
lilin (wax), serta mampu mengidentifikasi minyak lemak, lemak, dan lilin baik
secara fisika, maupun kimia terutama bahan yang digunakan dalam bidang farmasi
Lemak adalah zat organik yang larut dalam pelarut organik yang tersusun atas atom
C,H dan O.
Minyak lemak adalah senyawa campuran antara senyawa asam lemak bersuku tinggi
dengan gliserin.
Lilin adalah hasil esterifikasi asam lemak dan gliserol.
Penggolongan lemak, asam lemak, dan lilin yaitu sbg berikut :
- Lemak : Oleum cacao,
- Minyak Lemak : Ol. Corn, Ol. Olivae, Ol. Lini, Ol. Arachidis, Ol. cocos
- Lilin : Cetaceum dan cera alba
Sifat Fisika minyak dan lemak diantaranya pada suhu kamar minyak lemak
berbentuk cair sedangkan lemak berbentuk padat tidak larut dalam air, larut dalam
pelarut organik seperti eter dan kloroform, berat jenis lebih rendah dari pada air,
titik didih minyak lemak lebih rendah dari pada lemak, titik lebur lemak lebih
tinggi daripada minyak. Sifat kimia minyak lemak dan lemak diantaranya dapat
mengalami reaksi esterifikasi, saponifikasi, hidrolisis, hidrogenasi, dan halogenasi.
Sifat-sifat lilin diantaranya tidak mudah terhidrolisis seperti lemak dan tidak dapat
diuraikan oleh enzim yang mengurai lemak, tidak larut dalam air, berantai panjang,
pada suhu kamar berbentuk lebih padat daripada lemak.
DEPKES RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.
Jakarta: DEPKES RI.
Poedjiadi, A. 2006. Dasar-Dasar Biokimia.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia,
hal 3,8-10.
Riawan.1990. Kimia Organik. Jakarta : Bina
Rupa Aksara
Winarno, F., G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi.
Jakarta: Penerbit Gramedia, hal 86-93.