Anda di halaman 1dari 22

KORELASI GENETIK

By
Setyo Utomo

Kuliah 11 dasar pemuliaan ternak


PENGERTIAN
MERUPAKAN KORELASI ANTARA DUA VARIABEL ATAU
PARAMETER
FENOTIPE SUATU SIFAT MERUPAKAN EKSPRESI DARI
GENETIK DAN LINGUNGAN
TERDAPAT 3 PENGERTIAN TENTANG KORELASI, YAITU
KORELASI FENOTIPIK (rp), KORELASI GENOTIPIK (rg),
DAN KORELASI LINGKUNGAN (re).
PEMBAHASAN TERPENTING ADALAH KORELASI
GENOTIPIK, OLEH KARENA FAKTOR YANG
DIWARISKAN TETUA KPD KETURUNANNYA ADALAH
FAKTOR GENETIK.
KORELASI GENETIK BERKAITAN DENGAN
HUBUNGAN ANTARA SUATU SIFAT DENGAN
SIFAT YANG LAIN SECARA GENETIK.
KORELASI GENETIK SANGAT PENTING KARENA
JIKA DUA SIFAT BERKORELASI SECARA GENETIK,
MAKA SELEKSI UNTUK SUATU SIFAT AKAN
MENYEBABKAN PERUBAHAN PADA SIFAT LAIN.
KORELASI GENETIK MEMPUNYAI NILAI ANTARA
-1 S/D +1.
APLIKASI KORELASI GENETIK ADALAH PADA
PROGRAM SELEKSI SIFAT-SIFAT KUANTITATIF.
ESTIMASI NILAI KOEFISIEN KORELASI GENETIK AKAN
MENGHASILKAN EMPAT KEMUNGKINAN. YAITU :
1. APABILA KOEFISIEN KORELASI GENETIK ANTARA DUA SIFAT TERMASUK
KATEGORI TINGGI DAN BERNILAI POSITIF, MAKA SELEKSI HANYA PERLU
PADA PADA SIFAT PERTAMA, TIDAK PERLU MELAKUKAN SELEKSI SIFAT KE
DUA. ARTINYA SELEKSI UNTUK MENINGKATKAN PRESTAI (PRODUKTOVITAS)
SIFAT YANG PERTAMA AKAN DIIKUTI OLEH PENINGKATAN PRESTASI PADA
SIFAT KE-DUA.
2. BILA KOEFISIEN KORELASI ANATARA DUA SIFAT TERMASUK TINGGI, TETAPI
NEGATIF, BERARTI PADA SIFAT PERTAMA JUSTRU AKAN MENURUNKAN
PRESTASI SIFAT KE-DUA.
3. BILA KOEFISIEN KORELASI ANTARA DUA SIFAT TERMASUK RENDAH DAN
BERNILAI POSITIF, BERARTI BAHWA HUBUNGAN ANTARA DUA SIFAT LEMAH,
SELEKSI TERHADAP SIFAT PERTAMA HANYA MEMPENGARUHI SEDIKIT
PENINGKATAN PENAMPILAN PADA SIFAT KE-DUA.
4. BILA KOEFISIEN KORELASI ANTARA DUA SIFAT TERMASUK RENDAJH DAN
NEGATIF, BERARTI BAHWA HUBUNGAN ANTARA DUA SIFAT TSB LEMAH,
SEHINGGA SELEKSI TERHADAP SIFAT KE-DUA DAPAT DILAKUKAN SECARA
TERPISAH.
PENYEBAB TERJADINYA KORELASI GENETIK
1. GEN PLEIOTROPIK (PLEIOTROPIC GEN)
2. GEN BERANGKAI (LINKED GEN)

DALAM SATU LENGAN KROMOSOME TERDAPAT BANYAK GEN-GEN


YANG JUMLAHNYA TIDAK DIKETAHUI
DIANTARA SEJUMLAH GEN TERSEBUT, MEMPUNYAI 3 EKSPRESI
YAITU :
1. SATU GEN MENGEKSPRESIKAN SATU SIFAT
2. SATU GEN MENGEKSPRESIKAN BANYAK SIFAT
3. BEBERAPA GEN MENGEKSPRESIKAN BANYAK SIFAT
GEN TUNGGAL YANG
MENGEKSPRESIKAN
BANYAK SIFAT DISEBUT
RANGKAIAN GEN-GEN
SEBAGAI GEN
YANG KEDUDUKANNYA
PLEIOTROPIK
BERDEKATAN SATU SAMA
(PLEIOTROPIC GENE)
LAIN YANG
MENGEKSPRESIKAN SIFAT-
SIFAT BERBEDA,
PLEIOTROPIC GENE DAN SEHINGGA KARENA
LINKED GENE DIWARISKAN
DARI TETUA KEPADA KEDEKATANNYA SEOLAH-
KETURUNANNYA, OLAH MENJADI SATU
SEHINGGA MENYEBABKAN
TERJADINYA KORELASI KESATUAN DISEBUT GEN
GENETIK BERANGKAI (LINKED
GENE)
KORELASI GENETIK HASIL
PENELITIAN
BESARNYA NILAI DUGAAN KOEFISIEN KORELASI GENETIK
TERGANTUNG PADA :
1. METODA YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS
2. JUMLAH DATA YANG DIANALISIS
3. ASAL DATA

MESKIPUN JUMLAH DATA DAN ASAL DATA SAMA,


TETAPI BILA METODA ANALISISNYA BERBEDA,
MAKA HASIL AKHIR PENDUGAAN DAPAT SAJA
BERBEDA.
CONTOH :
BESARNYA NILAI KORELASI GENETIK SIFAT
BOBOT LAHIR DENGAN BOBOT UMUR SATU
TAHUN PADA SAPI POTONG. TERNYATA GEN
YANG SAMA MEMPENGARUHI DUA SIFAT
DENGAN CARA YANG SAMA, KEDUA SIFAT
TERSEBUT MERUPAKAN SIFAT-SIFAT
PERTUMBUHAN. BANYAK GEN YANG
MENGEKSPRESIKAN LAJU PERTUMBUHAN
SEBELUM KELAHIRAN AKAN
MENGEKSPRESIKAN JUGA LAJU
PERTUMBUHAN SETELAH KELAHIRAN.
SEHINGGA SECARA LOGIKA, BOBOT LAHIR
DENGAN BOBOT SATU TAHUN AKAN MEMILIKI
KOEFISIEN KORELASI YANG POSITIF DAN
SANGAT TINGGI
TABEL KORELASI GENETIK (rg) ANTARA DUA SIFAT
SIFAT I rg DENGAN SIFAT II
SAPI PERAH PLS PPS PL
PRODUKSI SUSU (PS) 0,45-0,65 0,80-0,90 -0,50
PROD.LEMAK SUSU (PLS) 0,60-0,76 0,55
PROD. PROTEIN SUSU (PPS) -0,15
PERSEN LEMAK (PL)
SIFAT I rg DENGAN SIFAT II
SAPI POTONG BS PBS BT LB UP
BOBOT LAHIR (BL)
BOBOT SAPIH (BS)
PERTAMBAHAN LEPAS
SAPIH (PBS)
BOBOT SATU TH (BT)
LAMA BUNTING (LB)
UMUR PUBERTAS (UP)
DOMBA PBS KB PB

BOBOT BADAN WAKTU LAHIR (BL) 0,55 0,05 -0,15

PERTAMBAHAN LEPAS SAPIH (PBS) 0,15 -0,20

KELEMBUTAN BULU (KB) 0,35

OANJANG BULU (PB)


METODA PENDUGAAN KOEFISIEN KORELASI
GENETIK
METODA : MENGGUNAKAN ANALISIS RAGAM DAN
PERAGAM
LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN DALAM
PERHITUNGAN PENDUGAAN KOEFISIEN KORELASI
GENETIK ADALAH :
1. PERHITUNGAN RAGAM SIFAT DENGAN ANALISIS
RAGAM (ANOVA I)
2. PERHITUNGAN RAGAM SIFAT II DENGAN ANOVA II
3. PERHITUNGAN PERAGAM UNTUK SIFAT I DAN II
DENGAN ANALISIS PERAGAM (ANALYSIS OF
COVARIANCE ATAU ANCOVA)
PENDUGAAN NILAI PEMULIAAN (EBV)
PENGERTIAN

DEFINISI :
EBV ADALAH NILAI SEEKOR TERNAK SEBAGAI TETUA (THE
VALUE OF AN INDIVIDUAL AS PARENT) YANG DIPEROLEH
DARI PERKAWINAN ACAK.
NILAI PEMULIAAN MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG
DUGAAN KEMAMPUAN MEWARISKAN SIFAT
FENOTIP MERUPAKAN KOMBINASI EKSPRESI
GENETIK DAN LINGKUNGAN, SERTA ADANYA
INTERAKSI ANTARA GENETIK DAN
LINGKUNGAN.
BAGI PEMULIA TERNAK (ANIMAL BREEDER)
TUGAS UTAMANYA ADALAH MENENTUKAN
SEBERAPA BESAR KEUNGGULAN GENETIK
(DIPANDANG SEBAGAI SUPERIORITAS ATAU
INFERIORITAS) UNTUK SUATU SIFAT YANG
DISEBABKAN OLEH EFEK GENETIK ADDITIF.
HAL ITU SANGAT PENTING KARENA
KEUNGGULAN GENETIK DIWARISKAN TETUA
KEPADA ANAK-ANAKNYA MELALUI GEN YANG
DIMILIKINYA.
KEUNGGULAN GENETIK DAPAT DIDUGA PADA
DUGAAN NP (EBV = ESTIMATED
BREEDING VALUE) MERUPAKAN
SALAH SATU ISTILAH YANG
DIGUNAKAN UNTUK
MENGGAMBARKAN KEUNGGULAN.
ISTILAH LAIN ; EPD = ESTIMATED
PROGENY DIFFERENCE) YANG
BESARNYA EBV.
EPD MENJADI NILAI DUGAAN
PENAMPILAN KETURUNAN YANG
DIBANDINGKAN DENGAN
PENAMPILAN KETURUNAN DARI
APA BEDA NILAI GENETIK DENGAN
NILAI PEMULIAAN ?????????
NILAI GENETIK (GENETIC VALUE)
ADALAH SUATU FUNGSI DARI GEN-
GEN YANG DIMILIKI OLEH TERNAK
UNTUK MENGEKSPRESIKAN SIFAT
TERTENTU DAN MERUPAKAN RATA-
RATA NILAI RELATIF TERHADAP
KELOMPOK DASAR.
SECARA UMUM NILAI GENETIK LEBIH
DIKAITKAN DENGAN NILAI GENOTIPIK
DAN FREKUENSI GEN SERTA
FREKUENSI GENOTIPIKNYA.
PENDUGAAN NILAI PEMULIAAN
EBV DIDUGA DARI HASIL KALI ANTARA PEMBOBOTAN
DENGAN SELISIH RATA-RATA PENAMPILAN DIRINYA
TERHADAP PENAMPILAN PEMBANDINGNYA.
BESARNYA PEMBOBOT TERGANTUNG PADA SUMBER
INFORMASI YANG DIGUNAKAN UNTUK MENDUGA
NILAI PEMULIAAN.

P = G + E + I ge
Ige DIASUMSIKAN NOL, ASUMSI
BERDASARKAN BAHWA SELEKSI
TERHADAP TERNAK-TERNAK
HARUS DILAKSANAKAN PADA
LINGKUNGAN
SEHINGGA :
YANG SAMA, P =G+ E
DALAM POPULASI, DIDALAMNYA TERDAPAT SEJUMLAH
INDIVIDU DALAM POPULASI TERSEBUT.
DENGAN DEMIKIAN PENGGAMBARAN FENOTIP BUKAN
BERASAL DARI TERNAK SECARA INDIVIDU, TETAPI SEJUMLAH
INDIVIDU (POPULASI).
PENAMPILAN SIFAT PADA INDIVIDU SATU DENGAN LAINNYA
DALAM POPULASI TIDAKLAH SAMA, BERARTI TERDAPAT
KERAGAMAN () ATAS SIFAT-SIFAT TSB, SEHINGGA :

p = G + E
G ; G A, G dan G I

1. Dalam suatu usaha peternakan, tujuan


utamanya pasti mendapatkan
keuntungan, sifat yang diperhatikan
sifat yang mempunyai nilai ekonomis,
dalam hal ini adalah sifat kuantitatif.
Sifat ini dipengaruhi oleh aksi gen
additif. Sehingga hanya gen additif
saja yang mempunyai kontribusi
terhadap perbedaan nilai pemuliaan.
2. Bagian ragam fenotip ( p) yang
dikontrol oleh keragaman gen additif
PENDUGAAN NILAI PEMULIAAN BERDASARKAN MODEL
PENGUKURAN
1. PENGUKURAN TUNGGAL DIRINYA SENDIRI

PENGUKURAN TUNGGAL DILAKUKAN UNTUK MEMPEROLEH


DATA DARI SIFAT KUANTITATIF TERTENTU, MISAL PRODUKSI
SUSU DARI SATU MASA LAKTASI, BOBOT BADAN PEDET PADA
WAKTU LAHIR, BOBOT BADAN PEDET PADA WAKTU SAPIH, DSB.

-
EBV = h (Pi Pp)
Pi = produksi dari catatan tunggal pada ternak yang sedang dihitung EBV-nya
Pp = rata-rata produksi dari ternak-ternak pembanding (ternak ternak lain yang
berproduksi pada tempat dan waktu yang sama).
KORELASI ANTARA NILAI PEMULIAAN
DENGAN UKURAN FENOTIPIK
DISIMBOLKAN rap DISEBUT
KECERMATAN PENDUGAAN NP.
KARENA NP DIGUNAKAN UNTUK
KEPERLUAN SELEKSI MAKA KECERMATAN
PENDUGAAN NP SERING DISEBUT
KECERMATAN SELEKSI
KECERMATAN SELEKSI
KECERMATAN SELEKSI PENGUKURAN
TUNGGAL = h
Contoh soal :
Seekor sapi perat (Tina) baru beranak pertama kali mempunyai produksi susu satu masa
laktasi 230 liter diatas rata-rata pembandingnya. Heritabilitas produksi susu = 0,25. NP
induk tersebut dan tingkat kecermatan pendugaan-pendugaan NP:

Coba anda kerjakan dan kirim ke esutama_set@yahoo.com