Anda di halaman 1dari 16

IDENTIFIKASI JENIS PENYAKIT PADA LIMA JENIS

DIPTEROCARPACEAE DI KALAMPANGAN ZONE


KALIMANTAN TENGAH
Determination of the Types of Diseases on Five Species of
Dipterocarpaceae at the Kalampangan Zone of Central Kalimantan

David Pasaribu 141201113


Sufi Fadillah 141201132
Dian Enika Sitorus 141201138
Arif Al Habib 141201141
Irene L. Silitonga 141201144
Rima Tamara 141201148
Miranda Bahar 141201149
Reza Fahlepi Siregar 141201150
Raufan Syiddik 141201151
Yosie Syadza Kusuma 141201154
Alfin Syahri 141201164

Kelompok 6
BDH 7
Latar belakang
Pembuatan Subplot
Pembuatan Plot dengan ukuran 70 x 195 pada sumbu jalur
dengan jumlah 8 buah dan satu sumbu jalur terdapat 3
subplot untuk setiap tingkatan

20 x 20 m (tingkat pohon)
10 X 10 (tingkat tiang)
5 x 5 m (tingkat pancang)
HASIL DAN PENELITIAN
Jenis Vegetasi yang Terserang Patogen
1. Bangkirai Batu (Hopea myrtifolia)
Bentuk ranting bulat, tangkai daun berukuran 0,6-1,2 cm
dengan indumentum berupa bulu-bulu pendek yang rapat. Daun
berbentuk jorong atau bulat telur, ujung daun lancip panjang, pangkal
daun berbentuk pasak atau membundar, pertulangan daun sekunder.
Urat-urat daun halus dan rapat. Daun penumpu berbentuk jarum dan
mudah rontok. Kelopak buah dengan 2 sayap panjang dan 3 sayap
pendek. Jenis ini tumbuh dengan baik pada tanah yang subur dan
dalam, lahan bergelombang dan berdrainase baik.
2. Kahoi (S. balangeran)
Kulit luar batang berwarna merah tua sampai hitam, sedikit
beralur dangkal, tinggi pohon 20-25 cm dengan bebas cabang 15,
diameter 50 cm, tidak berbanir. Kelopak buah dengan 3 sayap
panjang, 2 sayap pendek. Musim berbunga dan berbuah tidak terjadi
setiap tahun. Musim berbuah sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim
setempat.
3. Meranti Lampong (S. leprosula)
Daun ,menyerupai sisik-sisik pucat sampai tulang tengah
kadang sampai pertulangan utama. Tinggi pohon mencapai 45 m,
tinggi banir 1,5 m dengan batang yang lurus . Tajuk berwarna coklat
kekuningan seperti tembaga pucat Tangkai daun berukuran 0,9-2,3
cm dengan indumentum berupa bulu-bulu pendek yang rapat.
Daun berbentuk lonjong, jorong atau bulat telur. Bunganya kecil,
daun mahkota berwarna kuning, benang sarinya berjumlah 15 dan
mempunyai kelopak buah dengan 3 sayap panjang, 2 sayap
pendek. Jenis ini tumbuh dengan baik pada ketinggian kurang dari
700 m dpl.
4. Meranti Batu (S.pallidifolia)
jenis ini adalah ranting memipih, tangkai daun agak panjang
2-3,5 cm, kesan raba kasar pada bagian bawah daun dan
pertulangan daun sekunder, melengkung hanya di dekat tepi daun.
Tinggi mencapai 40 m, diameter batang 80 cm batang berbentuk
silinder dengan banir kecil . Bunganya kecil dan benang sarinya
berjumlah 15. Kelopak buah dengan 3 sayap panjang dan dua
sayap pendek. Jenis ini tumbuh dengan baik pada ketinggian
kurang dari 700 m dpl.
5. Resak Bukit (Cotylelobium lanceolatum)
Daunnya berbentuk lonjong, oval atau bundar telur
berukuran 6-8 x 2,5-3 cm. Ujung urat daun sekunder saling
berhubungan satu dengan yang lain, pertulangan daun sekunder,
dengan susunan tulang daun yang berselang-seling Tinggi pohon
bisa mencapai 45 m dan kebanyakan tidak berbanir. Diameter
batang mencapai 125 cm., kulit luar pohon berwarna abu-abu, licin,
bercincin tidak beralur, sering mengelupas atau bersisik . Jenis ini
tumbuh dengan baik pada tanah
podsolik dan tanah berbatu atau pada tanah berkapur pada
ketinggian 1.500 m dpl
Jenis Dipterocarpaceae yang Sakit di Hutan Primer dan
Hutan Bekas Terbakar
Dari hasil diperoleh bahwa jumlah dipterocarpa yang Sakit di
Hutan Primer sebanyak 81 individu sedangkan pada Hutan
Bekas Terbakar sebanyak 34 individu. Hasil perhitungan
menunjukkan bahwa jumlah individu tumbuhan sakit setiap
tingkat pertumbuhan (pohon, tiang dan pancang) tidak
dipengaruhi oleh ukuran pohon (diameter dan tinggi), karena
dimensi pohon sudah memenuhi syarat untuk kebutuhan hidup
patogen.
Jenis Penyakit Berdasarkan Tingkat Pertumbuhan

Areal hutan primer memiliki tingkat kemerataan penyerangan penyakit yang


lebih tinggi bila dibandingkan dengan pada areal hutan bekas terbakar
1. Penyakit Kanker Batang
Penyakit kanker batang menyerang tanaman mulai dari tingkat pancang,
tiang hingga pohon. Bagian batang atau cabang yang terserang patogen
terbatas pada kulit beserta kambium, pada berkas pembuluh atau kayu
teras. Bila kambium terserang, maka terjadilah mati kulit (kanker) dan
pengangkutan air serta hara dari akar menjadi terganggu. Kanker di batang
menyebabkan sel-sel mati pada bagian tanaman berkayu. Kematian kulit
dan kambium diikuti oleh kematian kayu yang di bawahnya.
2. Tumor Batang
Pada hutan primer banyak menyerang pada tingkat pancang dan
sangat jarang pada tingkat tiang. Pada Hutan Bekas Terbakar
tumor batang sangat jarang terjadii
3. Busuk Batang
Pada hutan primer dan hutan bekas terbakar busuk batang banyak
menyerang pada tingkat tiang
4. Hawar Daun
Pada hutan primer banyak menyerang pada tingkat pancang dan
sangat jarang pada tingkat tiang. Pada Hutan Bekas Terbakar
tumor batang sangat jarang terjadi

Tumor Batang Busuk Batang Hawar Daun


5. Karat Daun
Umumnya terjadi pada tingkat pancang
6. Bercak daun
banyak terjadi pada tingkat pancang Pada hutan primer. Pada Hutan
Bekas Terbakar tumor batang sangat jarang terjadi
7. Lubang Daun
banyak terjadi pada tingkat pancang Pada hutan primer. Pada Hutan
Bekas Terbakar tumor batang sangat jarang terjadi
8. Resinosis
banyak terjadi pada tingkat tiang Pada hutan bekas kebakaran. Pada
Hutan Bekas primer sangat jarang terjadi
Bercak Daun

Karat daun

Lubang Daun
Resinosis
KESIMPULAN
Pada dua areal yang berbeda, di hutan primer lebih
banyak ditemukan tumbuhan yang sakit dibandingkan
dengan hutan bekas terbakar. Pada kedua areal
tersebut, jenis penyakit yang paling dominan menyerang
tingkat pancang, tiang dan pohon adalah penyakit
kanker batang dan yang paling banyak diserang adalah
tingkat pancang.