Anda di halaman 1dari 43

CASE

REPORT

Uveitis Anterior

Amalia Hairina
1102012018
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. D
Umur : 46 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Betawi
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Pasar minggu, Jakarta
Tanggal Pemeriksaan : 02 November 2017
ANAMNESA

Keluhan Utama:

Mata merah dan bola mata


terasa sakit sejak 1 minggu
SMRS
KELUHAN TAMBAHAN

Meta terasa nyeri seperti


Mata terasa lebih silau
Mata kiri tiba-tiba merah nyut-nyut di bagian dalam
jika melihat cahaya
sejak 1 minggu SMRS. bola mata dan sekeliling
terang. Penglihatan
Gatal (-), berair (-), sekret mata. Nyeri terus
menjadi buram sejak 1
(-), trauma (-) menerus, terutama di
hari SMRS.
malam hari
RPS
1 minggu SMRS, pasien mengalami mata merah pada mata
sebelah kanan. Sebelumnya pasien pernah mengalami kelihan
tersebut 2 bulan lalu dan 3 minggu lalu. Awalnya 3 minggu lalu
mata pasien tiba-tiba merah tanpa di sertai gatal, berair, keluar
sekret, dan riwayat trauma. Mata pasien terasa perih senut-senut.
Namun pasien mengabaikannya. Kemudian pasien membeli
sendiri tanpa resep dokter obat tetes cendo xitrol. Pada 2 minggu
kemudian pasien mengalami penyakit serupa.

1 hari SMRS, saat pagi hari pasien merasa mata sebelah kanan
mengalami penglihatan buram, dan nyeri senut-senut pada bagian
mata terus menerus dan seperti menjalar ke kepala dan leher bagian
kanan, penglihatan merasa bertambah kabur dari sebelumnya, dan
mata pasien terasa lebih silau bila melihat cahaya terang. Gatal (-) Air
mata (+) bila mata sebelah kanan di sentuh, sekret (-), penglihatan
mulai menurun (+), sakit pada bola mata sebelah kanan (+) pasien
merasa (+), demam (-), riwayat sakit mata (+), di keluarga tidak ada
yang mengalami hal seperti ini. Pasien membeli sendiri tanpa resep
dokter obat tetes cendo xitrol. Pada 2 minggu kemudian pasien
mengalami penyakit serupa.
RPD RPK
TB (-) Sakit mata (-)
Darah tinggi (+) TB (-)
Diabetes mellitus (+) Darah tinggi (-)
Alergi obat (-) Diabetes mellitus (-)
Sakit mata (+)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis

Tanda Vital
Tekanan Darah : 150/87 mmHg
Nadi : 84x/menint
Suhu : 36,4C
Frekuensi pernafasan : 24x/menit reguler
Kepala : Normochepal
Mata : CA -/-, SI -/-.
Occuli Dextra (OD Occuli Sinistra
6/15 Visus 6/50
Ortoforia Kedudukan bola Ortoforia
mata

Pemeriksaan OD OS
N +1/palpasi Normal /palpasi
TIO
Tonometri tidak dilakukan Tonometri tidak dilakukan

Gerakan bola mata ODS

Baik kesegala arah Baik kesegala arah


Pemeriksaan Segmen Anterior
Pemeriksaan OD OS
Segmen Anterior
Inspeksi:
normal, tumbuh normal, tumbuh
1. Super cillia
teratur,madarosis (-) teratur,madarosis (-)
2. Palpebra

edema (-), hiperemis (-), edema (-), hiperemis (-),


a. superior
hordeulum/chalazion (-) hordeulum/chalazion (-)

edema (-), hiperemis (-), edema (-), hiperemis (-),


b. inferior
hordeulum/chalazion (-) hordeulum/chalazion (-)
c. fisura Ptosis (-) Ptosis (+)
trikiasis (-), entropion (-) trikiasis (-), entropion (-)
d. margo
,ektropion (-) ,ektropion (-)
3. Konjungtiva OD OS
a.Tarsal Sup. hiperemis (+), folikel (-), Papil (-) hiperemis (-), folikel (-), Papil (-)

b. Tarsal Inf. hiperemis (+), folikel (-), Papil (-) hiperemis (-), folikel (-), Papil (-)

injeksi silier (+), injeksi


Injeksi silier (-), pterigyum (-),
c. Bulbi konjungtiva (+), pterigyum (-),
pingekuela (-)
pingekuela (-)

4. Kornea jernih , infiltrate (-), ulkus (-) jernih , infiltrate (-), ulkus (-)
dalam, jernih, hypopion (-),
5. COA dalam, hypopion (-), hifema (-),
hifema (-)
Coklat, kripti tidak jelas, sinekia normal, kripti (+), coklat
6. Iris
posterior (+)
bulat ,sentral, reguler, RCL (+),
lonjong ,tepi ireguler, sentral, RCTL (+)
7. Pupil
RCL (-), RCTL (-)

8. Lensa jernih jernih)


Palpasi:
1. TIO N+1/palpasi N/palpasi
2.Nyeri tekan (+) (-)
3. Massa (-) (-)
4.Edema Gland.pre
(-) (-)
aurikuler

Segmen Posterior Tidak dilakukan Tidak dilakukan


1. Refleks Fundus
2. Papil Nervus II
a. warna
b. bentuk
c. batas papil
3.pembuluh darah
retina
a. warna
b. arteri: vena
4. Retina
5. Makula
RESUME

1 minggu SMRS, pasien mengalami mata merah pada mata sebelah


kanan. Sebelumnya pasien pernah mengalami kelihan ter sebut 2 bulan
lalu dan 3 minggu lalu. Awalnya 3 minggu lalu mata pasien tiba-tiba
merah tanpa di ser tai gatal, berair, keluar sekret, dan riwayat trauma.
Mata pasien terasa perih senut-senut. Namun pasien mengabaikannya .
Kemudian pasien membeli sendiri tanpa resep dokter obat tetes cendo
xitrol. Pada 2 minggu kemudian pasien mengalami penyakit serupa.

1 hari SMRS, saat pagi hari pasien merasa mata sebelah kanan
mengalami penglihatan buram, dan nyeri senut-senut pada bagian
mata terus menerus dan seper ti menjalar ke kepala dan leher bagian
kanan, penglihatan merasa ber tambah kabur dari sebelumnya , dan
mata pasien terasa lebih silau bila melihat cahaya terang. Gatal (-) Air
mata (+) bila mata sebelah kanan di sentuh, sekret (-), penglihatan
mulai menurun (+), sakit pada bola mata sebelah kanan (+) pasien
merasa (+), demam (-), riwayat sakit mata (+), di keluarga tidak ada
yang mengalami hal seper ti ini. Pasien membeli sendiri tanpa resep
dokter obat tetes cendo xitrol. Pada 2 minggu kemudian pasien
mengalami penyakit serupa.
RESUME

Pemeriksaan oftalmologis :
1. Visus 6/15 OD
2. TIO os : N+1/palpasi
3. Konjungtuva tarsal superior & inferior OS : hiperemis
4. Konjungtiva bulbi OS : injesi silier (+)
5. KorneaOS : keruh (+)
6. COA OS : hipopion (-), dalam, flare (+)
7. IRIS : sinekia posterior (+)
8. 10. pupil OD : lonjong
DIAGNOSIS

Uveitis Anterior
Akut Occuli
Sinistra
TATALAKSANA

Medikamentosa Non medikamentosa


Glaucon Edukasi
Aspar-K Gunakan pelindung
Levofloxcacin oral dan mata, istirahat cukup,
topikal nutrisi baik
Floxa topikal Kontrol 3 hari
Giflo topikal kemudian
Tobroson topikal
Cravit topikal
Metilprednisolon
PROGNOSIS

Ad vitam : Ad Vitam
Ad fungsionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
UVEITIS
TINJAUAN PUSTAKA ANTERIOR
TINJAUAN PUSTAKA

Bola mata terdiri atas dinding bola mata, dimana dinding


bola mata terdiri atas sklera dan kornea sedangkan isi bola mata
terdiri dari atas lensa, uvea, badan kaca dan retina. Trakus uvealis
terdiri atas iris, korpus siliaris dan koroid. Bagian ini merupakan
lapisan vascular yang dilindungi oleh kornea dan sklera. Struktur
ini ikut memperdarahi retina. 1
Uveitis merupakan suatu peradangan pada iris (iritis),
korpus siliar (uveitis intermediet, siklitis, uveitis perifer, atau pars
planitis), dan koroid (koroiditis). Struktur yang berdekatan dengan
jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya ikut terkena
inflamasi. Peradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian
depan uvea atau iris yang disebut iritis. Bila mengenai badan
tengah disebut siklitis. Iritis dan siklitis disebut iridosiklitis atau
disebut juga dengan uveitis anterior dan bila mengenai lapisan
koroid disebut uveitis posterior atau koroiditis.
ANATOMI FISIOLOGI

Uvea terdiri dari iris, badan siliaris, dan koroid.


Bagian ini adalah lapisan vascular tengah mata
yang dilindungi oleh kornea dan sclera.
Bagian ini juga ikut memasok darah ke retina.
Iris dan badan siliaris disebut juga uvea
anterior, sedangkan koroid disebut uvea
posterior.
Gambar 2.1 Anatomi mata Gambar 2.2 Histologis iris
dan corpus ciliaris
IRIS

Suatu membran datar sebagai lanjutan dari


badan siliar ke anterior dan merupakan diafragma
yang membagi bola mata menjadi 2 segmen yaitu :
anterior & posterior, ditengahnya ada celah yang
disebut pupil. Iris terbagi menjadi bilik mata depan
( camera oculi anterior) & bilik mata belakang (
camera oculi posterior). Fungsi iris adalah mengatur
secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola
mata. Di dalam iris terdapat M. Sphincter Pupillae
yang berjalan sirkuler, letaknya di dalam stroma
dekat pupil dan dipersarafi oleh saraf parasimpatis
N III. selain itu terdapat M. Pupillae yang berjalan
radier dari akar iris ke pupil , letaknya dibagian
stroma dan dipersarafi oleh saraf simpatis.

BADAN SILIAR ( CORPUS CILIARIS)

Berbentuk segitiga, teridiri dari 2 bagian yaitu : pars


korona, bagian anterior bergerigi, panjangnya kira- kira 4 mm.
Corpus ciliaris ber fungsi sebagai pembentuk aquos humor. pars
korona di lapisi oleh 2 lapisan epitel sebagai lanjutan dari iris,
yang menonjol (processus ciliaris) berwarna putih (tidak
mengandung pigmen) sedangkan pada leukan berwarna hitam
mengandung pigmen.
Terdapat 3 macam otot radier, sirkuler, dan longitudinal.
Dari processus ciliar keluar serat-serat zonula zinii yang
merupakan penggantung lensa. Fungsis otot siliar adalah untuk
akomodasi. kontraksi atau relaksasi otot-otot ini mengakibatkan
kontraksi dan relaksasi dari kapsula lentis, sehingga lensa menjadi
lebih atau kurang cembung yang berguna pada penglihatan dekat
atau jauh. Badan siliar banyak mengandung pembuluh darah
dimana pembuluh darah baliknya mengalirkan darah ke
KOROID

Merupakan bagian paling belakang dari jaringan uvea


dan merupakan lapisan antara retina dan sklera. koroid
berfungsi sebagai pemasok nutrisi kepada lapisan luar retina.
Lapisan koroid terdiri dari :
1. Suprakoroid : mengandung sel-sel pigmen jaringan elastis
dan kolagen .
2. Lapisan vaskular: mengandung pembuluh darah besar dan
kecil dengan sel-sel pigmen yang terdapat dalam stroma
disekitar pembuluh darah.
3. Koroid kapiler : terdiri dari pembuluh-pembuluh kapiler yang
teratur.
4. Membran bruch : merupakan pelindung yang teratur yang
menyuplai makanan melalui bagian dasar retina.
Vaskularisasi uvea dari arteri siliaris anterior dan
posterior yang berasal dari arteri oftalmika.
DEFINISI UVEITIS

Uveitis didefinisikan sebagai inflamasi


pada uveal tract (iris, korpus siliaris, dan
koroid). Uveitis anterior merupakan radang
iris dan badan siliar bagian depan. Uveitis
anterior dapat mengenai hanya pada iris yang
disebut iritis atau menganai badan siliar yang
disebut siklitis. Biasanya iritis disertai dengan
siklitis yang disebut iridosiklitis.
EPIDEMIOLOGI

Insiden uveitis sekitar 15 per 100.000 orang Sekitar


75% merupakan uveitis anterior. Sekitar 50% pasien
dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait.
Di Amerika Serikat, uveitis merupakan penyebab
kebutaan nomor tiga setelah Retinopati Diabetik dan
degenerasi makular. Umur penderita biasanya bervariasi
antara usia prepubertas sampai 50 tahun.
Uveitis berpengaruh terhadap 10-20% kasus kebutaan
yang tercatat di negara-negara maju.
Uveitis lebih banyak ditemukan pada negara
berkembang dibandingkan di Negara-negara maju
karena lebih tinggi prevalensi infeksi yang dapat
mempengaruhi mata, seperti toksoplasmosis, dan
tuberculosis di negara-negara berkembang. 8
ETIOLOGI

Penyebab uveitis anterior diantaranya yaitu idiopatik ,


penyakit sistemik yang berhubungan dengan HLA -B27 seperti;
ankylosing spondylitis, sindrom reiter, penyakit chorn,
psoriasis, herpes zoster atau herper simplek , sifilis, penyakit
lyme, inflammator y bowel disease, juvenile idiopatic arthritis,
sarkoidosis, trauma dan infeksi.
KLASIFIKASI
BERDASARKAN PATOLOGI

Uveitis Granulomatosa Uveitis Non Granulomatosa

Uveitis Pada jenis non


granulomatosa umumnya granulomatosa umumnya
mengikuti invasi mikroba tidak dapat ditemukan
aktif ke jaringan oleh organisme patogen dan
organisme penyebab karena berespon baik
(misal Mycobacterium terhadap terapi
tuberculosis atau kortikosteroid diduga
Toxoplasma gondii). peradangan ini semacam
fenomena hipersensitivitas
Berdasarkan klinis dan waktu , uveitis anterior
terbagi :
a. Uveitis anterior akut : Onset simptomatik terjadi tiba-
tiba dan terjadi kurang dari 6 minggu
b. Uveitis anterior kronik : onset tidak jelas dan bersifat
asimtomatik dan lebih dari 6 minggu
Beberapa keadaan Beberapa keadaan
yang menyebabkan gejala yang dapat menghasilkan
yang berhubungan dengan tanda dan gejala yang
uveitis anterior akut, yaitu terdapat pada diagnosis
: uveitis anterior kronik
adalah :

Uveitis anterior
traumatik Juvenile Rheumatoid
Uveitis anterior idiopatik Arthitis
Uveitis anterior Uveitis anterior
berhubungan dengan berhubungan dengan
HLA-B27 uveitis posterior primer
Behcet Fuchs Heterochromatic
disease/syndrome Iridocyclitis
Uveitis anterior
berhubungan dengan
lensa
Masquerad syndrome
protein, fibrin, & sel sel
antigen
radang dalam aquos
eksogen rusaknya
alergi , humor (pada slit lamp
mekanisme Blood tampak sebagai flare :
antigen hipersensitiv Aqueous partikel kecil yang
endogen itas Barrier bergerak dengan gerak
brown ( efek tyndall )

sel sel radang , fibrin


fibroblast
menyebabkan iris sel-sel radang Migrasi eritrosit
melekat pada melekat pada ke bilik mata
kapsul lensa anterior endotel kornea depan, hifema (
(sinekia anterior)) & (keratic precipitate) bila akut )
pada endotel kornea
( sinekia posterior)
Gangguan
Gangguan aliran aquous metabolisme pada
sel-sel radang, fibrin,
humor dan TIO lensa, lensa jadi
fibroblas menutup
menyebabkan terjadi keruh, katarak
pupil (seklusio /
glukoma sekunder komplikata
oklusi pupil)

Peradangan menyebar bisa


patofisiologi uveitis menjadi endoftalmitis dan
panofthalmitis
GEJALA KLINIS

Gejala akut dari uveitis anterior adalah mata merah,


fotofobia, nyeri, penurunan tajam penglihatan dan
hiperlakrimasi. Sedangkan pada keadaan kronis gejala
uveitis anterior yang ditemukan dapat minimal sekali,
meskipun proses radang yang hebat sedang terjadi
Gejala Subjektif Gejala Objektif

Nyeri Injeksi siliar :


Gambaran merupakan
Fotofobia dan hiperemi pembuluh darah
lakrimasi siliar sekitar limbus,
berwarna merah keunguan.
Penglihatan kabur
Perubahan kornea :
Umumnya unilateral Keratik presipitat
Iris : Hiperemi Iris, pupil
mengecil, nodul koeppe,
sinekia , oklusi, seklusio
pupil.
Lensa : pengendapan sel
radang, pengendapan
pigmen, perubahan
kejernihan lensa.
iris flare pada pupi
DIAGNOSIS

ANAMNESIS

Nyeri , Fotofobia, Kemerahan, Pandangan kabur, Umumnya


unilateral

Oftalmologi : Visus biasanya normal atau dapat sedikit menurun,


Tekanan intraokular (TIO) , Konjungtiva Terlihat injeksi silier, Kornea
: KP (+), Udema stroma kornea, Camera Oculi Anterior (COA) : Sel-
sel flare dan/atau hipopion.

Pemeriksaan Penunjang :
Tonometri, ginioskop, permietri.
DIAGNOSIS BANDING

Konjungtivitis. Pada konjungtivitis penglihatan tidak


kabur, respon pupil normal, ada kotoran mata dan
umumnya tidak ada rasa sakit, fotofobia atau injeksi
siliaris.
Keratitis atau keratokonjungtivitis. Pada keratitis atau
keratokonjungtivitis, penglihatan dapat kabur dan ada
rasa sakit dan fotofobia. Beberapa penyebab keratitis
seperti herpes simpleks dan herpes zoster dapat
menyertai uveitis anterior sebenarnya.
Glaukoma akut. Pada glaukoma akut pupil melebar, tidak
ditemukan sinekia posterior dan korneanya beruap.
TATALAKSANA

Penatalaksanan yang utama untuk uveitis tergantung pada


keparahannnya dan bagian organ yang terkena. Baik
pengobatan topical atau oral adalah ditujukan untuk
mengurangi peradangan. Tujuan dari pengobatan uveitis
anterior adalah memperbaiki visual acuity, meredakan nyeri
pada ocular, menghilangkan inflamasi ocular atau
mengetahui asal dari peradangannya, mencegah terjadinya
sinekia, dan memperbaiki tekanan intraocular.
kor tikosteroid
- topikal : diberikan sebagai terapi awal mengurangi peradangan
contoh : prednisolon acetate 0,1 25% dan 1%, deksametasone alkohol
0,1 %
- sistemik : digunakan bila topikal tidak berespon dalam waktu 2
minggu , contoh : prednison 0,5mg/ k g/ hari dan dilakukan taperin g
of f setelah 3-4 minggu
Cyclopegics dan mydriatics
- mengurangi nyeri dengan memobilisasi iris
- mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior ( iris
bombe )
- menjaga kestabilan TIO
- menstabilkan blood aquos humor mencegah terjadinya protein
leakag e ( flare ) lebih jauh
- contoh anti cyclopegic s yang bisa digunakan atropine 0,5 %,1 % ,2 %,
homatropine 2%,5%, scolopamine 0,25%, dan cyclopental one
0,5%,1% dan 2%
PROGNOSIS

Kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika


dapat didiagnosis secara awal dan diberi pengobatan.
uveitis anterior mungkin berulang, terutama jika ada
penyebab sistemiknya.
ANALISA KASUS UVEITIS
ANTERIOR
UVEITIS ANTERIOR AKUT OS
Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan korpus siliaris adanya ektravasasi
protein, sel radang dan fibrin ke dalam aqueous humor sel dan flare pada bilik mata
Penglihatan depan
kabur Sel dan flare mengeluh bintik hitam saat melihat cahaya

Adanya prses peradangan akibat vasodilatasi pembuluh darah episklera


Jika peradangan sudah meluas, maka akan meluas ke pembuluh darah konjungtiva
Mata merah
Keluhan dialami kurang dari 3 bulan dan onsetnya tiba-tiba terjadi tanpa
mengalami keluhan yang sama dengan sebelumnya maka kasus ini masuk
dalam kriteria akut
Akibat peradangan pada iris dan siliaris iritasi dan penekanan pada saraf korpus
siliaris
Nyeri mata

Akibat iritasi saraf pada kornea


Lakrimasi
PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Visus menurun 1/300

Visus menurun bukan dikarenakan karna kelainan refraksi namun kelainan pada media refraksi. Dalam hal ini
akibat terjadi karna kekeruhan kornea dan kekeruhan pada lensa
Dan penglihatan semakin menurun karena pasien mempunyai kelaianan refraksi dan post operasi katarak
setelah 2 bulan yang lalu, sehingga dapat memperberatpenglihatan buram

Nyeri gerak pada bola mata

Karena iritasi dari peradangan bola mata bagian dalam dan karena TIO yang tinggi

Injeksi silier

Udem kornea

Sinekia posterior

Lens presipitat

Kekeruhan lensa

Peningkatan tekanan intraokular