Anda di halaman 1dari 18

TOKSIK EPIDERMAL

NEKROLISIS
(TEN)
OLEH:
KELOMPOK 10
Anatomi & Fisiologi Kulit
(Syaifuddin, 2014)
Nex
t...
Fisiolog
i kulit

Modalitas
Fungsi Kulit
Rasa Kulit

Rasa mekanik, rasa suhu dan


Proteksi, proteksi rasa nyeri berbeda dengan alat
rangsangan kimia, absrobsi, indra yang lain. Reseptornya
pengatur panas, ekskresi, tergabung dalam satu organ
tertentu. Masingmasing
persepsi, pembentukan reseptor modalitas rasa ini
pigmen, keratenisasi, berdiri sendiri secara terpisah
pembentukan vitamin D dan tersebar hampir diseluruh
TEN merupakan suatu
Pengertian TEN
(TEN) adalah
proses penyakit yang progresif luas
penyakit kulit yang
di sebabkan oleh
berpotensi fatal.
kematian sel TEN didefinisikan
keratinocyte yang luas oleh formasi bula
dan pengelupasan
yang mengakibatkan
kulit. Dengan bintik-
pemisahan area kulit bintik purpura
dermal dan epidermal meliputi 30% dari
luas permukaan
dengan produksi
tubuh. atau
bullae di kulit. pengelupasan kulit
(Hoetzenecker & dkk, dan bula saja, yang
melibatkan 10% dari
2016)
luas permukaan
tubuh. (Anne, 2014)
Epidemiolo
gi...
TEN pertama kali dikemukakan pada tahun
1956, merupakan varian Eritema Multiforme
Mayor (EMM). Toksik epidermal nekrolisis
adalah penyakit langka dengan insidens
tahunan sekitar 0.4-1,2 kasus per juta
individu di Eropa dan Amerika. Terdapat 3
penderita TEN yang tercatat di Bagian
Rawat Inap Departemen Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Abdul
Moeloek (RSAM) Lampung sejak bulan
Maret 2010 sampai Maret 2015
Etiologi (AL-SAFFAR, 2016)
Penyeba
Virus herpes simplek
b infeksi virus Coxsackie

terjangkit
Obat- Antikonvulsan adalah penyebab paling umum dari
Toksik Epidermal Nekrolisis, diikuti oleh analgesik,
batuk dan dingin, obat-obatan NSAIDs dan

diinduksi psychoepileptics. Tetapi masih diperdebatkan oleh


beberapa peneliti.

Antigen leukosit manusia berikut


Faktor telah dikaitkan dengan peningkatan
risiko :HLA-B * 5801, HLA-B * 44,
Genitik HLA-A29, HLA-B12, HLA-DR7, HLA-
A2, HLA-A * 0206, HLA-DQB1 * 0601
Patofisiologi Toksik
Epidermal Nekrolisis
Manifestasi
klinis
1. Demam, malaise, kelelahan dan mukosa
lesi, sakit kepala, perdarahan.
2. Eritema Ditandai kulit yang menyebabkan
papula, vesikel dan nekrosis
3. Keterlibatan mukosa, termasuk mata,
genital atas dan
sel epitel pernapasan bagian bawah.
Daerah ini terkait dengan berat
perdarahan, jaringan parut dan jangka
panjang komplikasi.
Penatalaksanaan Toksik
1. Pengobatan
Epidermal Nekrolisis
a. Memberhentikan obat penyebabnya
penarikan Prompt obat penyebab harus
menjadi prioritas ketika lepuh atau erosi
muncul.
b.Perawatan Suportif
Sebuah elemen penting dari perawatan
suportif adalah pengelolaan kebutuhan
cairan dan elektrolit. cairan intravena
harus diberikan untuk mempertahankan
output urine dari 5080 mL per jam
dengan 0,5% NaCl dilengkapi dengan
20 mEq KCl.
Nex
2.
t... Penatalaksanaan keperawatan
a. Cairan dan elektrolit 0,9% NaCl dilengkapi
dengan 20 mEq KCl., serta kalori dan
protein secara parenteral.
b. Kotikosteroid parenteral
c. Antihistamin bila perlu, terutama bila ada
rasa gatal.
d. Terapi dengan pemberian obat topikal
dengan cara kompres.
e. Tidak diperbolehkan menggunakan steroid
topikal pada lesi kulit.
f. Lesi mulut diberi kenalog in orabase.
g. Terapi infeksi sekunder dengan antibiotika
Komplik
asi
Komplikasi pada ginjal berupa
nekrosis tubular akut akibat
terjadinya ketidakseimbangan
cairan. Komplikasi yang lain ialah
kehilangan cairan/darah, gangguan
keseimbangan elektrolit, dan syok.
Pada mata dapat terjadi kebutaan
karena gangguan lakrimasi.
(AL-SAFFAR, 2016)
Asuhan
Keperawatan
1. Pengkajian TEN
a. Indentitas klien : nama, usia (dapat terjadi pada semua usia)
jenis kelamin (dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki)
b. Keluhan Utama : biasanya orang datang kerumah sakit dengan
keluhan demam serta lesi kulit yang nyeri.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya 4-14 hari setelah inisiasi obat, periode ini mungkin
beberapa kali memperpanjang hingga 3-6 minggu. Biasanya
klien juga disertai nyeri kepala dan batuk.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Biasanya kulit terdapat eritema, papul, vesikula, bula yang
mudah pecah sehingga terjadi erosi yang luas, sering
didapatkan purpura.
b. Biasanya terdapat krusta hitam dan tebal pada bibir atau
selaput lendir, stomatis dan pseudomembran di faring.
c. Biasanya turgor kulit menurun akibat kehilangan cairan
intersesiil, balance cairan tidak seimbang.
Diagnosa
Keperawatan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan yang
Kerusakan integritas
berhubungan dengan
kulit yang berhubungan
intake tidak adekuat,
dengan lesi dan reaksi
respon sekunder
inflamasi local.
ditandai dengan
kerusakan krusta pada
mukosa mulut.
Kekurangan volume
cairan yang
Nyeri yang
berhubungan dengan
berhubungan dengan
reaksi peradangan
kerusakan jaringan
akibat bula turgor 2
kulit.
detik dan balance
cairan inadekuat
Intervensi
Kerusakan integritas kulit yang berhubungan
dengan lesi dan reaksi inflamasi local.
Tujuan : Integritas kulit membaik secara optimal
dalam waktu 5 x 24 jam.
KH : secara objektif pertumbuhan membaik dan lesi
psoarisis berkurang.
Intervensi:
1. Inspeksi luka adanya kemerahan, pembengkakan,
adanya granulasi.
2. Lakukan perawatan luka secara rutin dengan
kompres terbuka
3. Ajarkan pasien atau keluarga tentang prosedur
perawatan luka.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang diet tinggi
protein, mineral, kalori dan vitamin.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
yang berhubungan dengan intake tidak adekuat,
respon sekunder ditandai dengan kerusakan
krusta pada mukosa mulut.
Tujuan : Asupan nutrisi pasien terpenuhi dalam
jangkan waktu 3 x 24 jam.
KH : secara objektif pasien dapat mempertahankan
status asupan nutrisi adekuat.
Intervensi :
1. Kaji status nutrisi pasien, turgor kulit, berat badan
dan derajat penurunan berat badan, integritas
mukosa oral, kemampuan menelan, serta riawayat
mual atau muntah.
2. Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum
dan sesudah makan, serta sebelum dan sesudah
intervensi atau pemeriksaan peroral.
3. Anjurkan pasien dan keluarga untuk berpartisipasi
dalam perubahan nutrisi.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan
Nyeri yang berhubungan dengan kerusakan
jaringan kulit
Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 1 x 24
jam.
KH : Secara subyektif melaporkan nyeri berkurang
atau beradaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4). Dapat
mengidentifikasi aktivitas yang meningkat atau
menurunkan nyeri. Pasien tidak gelisah.
Intervensi :
1. Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST.
2. Lakukan manajemen nyeri.
3. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesik.
Kekurangan volume cairan yang berhubungan
dengan reaksi peradangan akibat bula turgor 2
detik dan balance cairan inadekuat

Tujuan : volume cairan terpenuhi dalam waktu


1x24.
KH : secara objektif turgor dalam batas normal dan
balance cairan seimbang
Intervensi
1. Lakukan manajemen cairan
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang kekurangan
volume cairan\
3. Kolaborasi dengan dokter, pemberian cairan
kortikosteroid