Anda di halaman 1dari 18

ASMA BRONKIALE

PADA ANAK
Mariza Gautami Siwabessy
Kasus (skenario 4)
Seorang anak laki laki berusia 6 tahun dibawa ke
poliklinik RS karena batuk sejak 3 bulan yang lalu. Batuk
terutama terjadi pada malam hari dan tidak disertai
demam. Pasien telah sering dibawa berobat ke puskesmas
namun tidak banyak mengalami perubahan. Seminggu
terakhir, batuk pilek yang dialami anak semakin sering.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan takipneu dan pada
auskultasi paru terdengar suara mengi (wheezing)
Anamnesis
riwayat hidung ingusan atau mampet (rhinitis alergi)
mata gatal, merah, dan berair (konjungtivitis alergi)
eksem atopi
batuk yang sering kambuh (kronik) disertai mengi
flu berulang
sakit akibat perubahan musim atau pergantian cuaca
adanya hambatan beraktivitas karena masalah pernapasan (saat berolahraga)
sering terbangun pada malam hari
riwayat keluarga (riwayat asma, rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga)
memelihara binatang di dalam rumah, banyak kecoa atau terdapat bagian yang
lembab di dalam rumah
mengetahui adanya tungau debu rumah apakah menggunakan karpet berbulu,
sofa kain bludru, kasur kapuk, banyak barang di kamar tidur
sesak dengan bau-bauan seperti parfum, spray pembunuh serangga
orang yang merokok di rumah atau lingkungan
obat yang digunakan pasien, apakah ada beta blocker, aspirin atau steroid
Pem.Fisik
Perubahan cara bernapas perubahan bentuk
anatomi torak
Inspeksi napas cepat, kesulitan bernapas,
menggunakan otot napas tambahan di leher, perut
dan dada
Auskultasi dapat ditemukan mengi, ekspirasi
memanjang
Pem.Penunjang
Pemeriksaan foto sinar-X toraks
Harus dilakukan pada evaluasi awal semua pasien asma
Menyingkirkan kelainan struktural / proses penyakit lain
Paru tampak hiperinflasi & mungkin dijumpai bercak
bercak infiltrat yg konsisten dgn atelektasia segmental
Sputum
tampak keputihan
sangat kental
mengandung major basic protein (MBP) eosinofil dalam
kadar tinggi
Uji kulit menentukan apakah pasien atopik
Uji fungsi paru hiperaktivitas jalan napas dan
obstruksi reversibel dapat dibuktikan secara objektif
Diagnosis Banding

Bronkitis Kronis Asmatis Asma Bronkiale

Batuk (+) basah (+) kering


Terutama pada malam hari Terutama pada malam hari
Mengi (+) (+)

Sesak Napas (+) (+)

Nyeri Dada (+) (+)

Demam (+) (-)

Etiologi Virus, bakteri, debu, asap Belum jelas, hanya sifat khas
rokok, dan alergen lainnya hiperreaktivitas sal.napas
Diagnosis Kerja
Asma Bronkiale
rentan inflamasi episode mengi berulang,
sesak nafas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya
pada malam atau dini hari.
Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) menggunakan
batasan operasional asma :
mengi berulang & atau batuk persisten dgn karakteristik
timbul secara episodik, cenderung pada malam hari/dini
hari (nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus
diantaranya aktivitas fisis, & bersifat reversibel baik secara
spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat
asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya
Etiologi
belum diketahui secara pasti
saluran pernapasannya memiliki sifat yang khas
sangat peka terhadap berbagai rangsangan
(bronchial hyperreactivity = hiperreaktivitas saluran
napas) polusi udara (asap, debu, zat kimia),
serbuk sari, udara dingin, makanan, hewan berbulu,
tekanan jiwa, bau/aroma menyengat (misalnya;
parfum) dan olahraga.
Patofisiologi
Gejala Klinis

Klasifikasi asma :
Asma episodik jarang
anak umur 3-6 tahun, 70-75% dari populasi asma anak
Pencetus : infeksi saluran napas bagian atas
serangan 3-4 kali dalam satu tahun
timbul lebih menonjol pada malam hari
Mengi (wheezing) 3-4 hari, batuknya 10-14 hari
Tumbuh kembang anak biasanya baik
Asma episodik sering
serangan pertama sebelum 3 tahun, infeksi saluran napas akut
umur 5-6 tahun serangan tanpa infeksi yang jelas
Dihubungkan dgn perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik & stres
gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi
Lanjutan...
Asma kronik atau persisten
25% sebelum berumur 6 bulan, 75% sebelum anak berumur
3 tahun
50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan
50% sisanya serangan episodik
5-6 tahun persisten & selalu terdapat mengi setiap hari (aktivitas
fisik)
Pada malam hari sering terganggu oleh batuk dan mengi
Dari waktu ke waktu terjadi serangan fisik yg berat & sering
memerlukan perawatan rumah sakit, ada juga yg tidak berat
Obstruksi jalan napas mencapai puncaknya pada umur 8-14 tahun
Komplikasi
serangan asma sering terjadi & telah berlangsung lama emfisema &
perubahan bentuk toraks (membungkuk ke depan dan memanjang), foto
rontgen toraks diafragma letaknya rendah, gambaran jantung
menyempit, corakan hilus kiri dan kanan bertambah
asma kronik dan berat bentuk dada burung dara (pektus
karinatum/piegon chest) dan tampak sulkus Harrison
sekret banyak dan kental salah satu bronkus dapat tersumbat
atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. Mediastinum tertarik ke arah
atelektasis
atelektasis berlangsung lama bronkiaktasis, & bila ada infeksi
bronkopneumonia
serangan asma yang terus-menerus dan berlangsung beberapa hari serta
berat dan tidak dapat diatasi dengan obat-obatan (status asmatikus), bila
tidak ditolong dengan semestinya dapat menyebabkan kematian,
kegagalan pernapasan, dan kegagalan jantung
Penatalaksanaan
Konsep Baru Pengobatan Awal Penilaian Derajat
3 golongan umur yaitu 0-4 tahun, 4-12 tahun dan diatas 12 tahun
2 domain dalam evaluasi derajat berat dan kontrol asma, yaitu gangguan dan
risiko.
D/ asma sudah ditegakkan penilaian derajat berat asma (intensitas intrinsik
proses penyakit yang diukur praterapi, dan dapat memberikan informasi kepada
dokter untuk mengembangkan rencana pengobatan awal). Pengobatan awal sesuai
dengan regimen (tahap) pengobatan.
Penilaian Kontrol Asma: Memantau dan Mempertahankan dengan Pendekatan
Bertahap
Evaluasi kontrol dalam 2-6 minggu (tergantung derajat berat awal atau kontrol)
Pendekatan bertahap (stepping up dan stepping down) memperoleh &
mempertahankan kontrol asma.
Oleh karena asma adalah penyakit kronis, asma persisten dapat dikontrol terbaik
dengan pemberian obat pengontrol jangka lama untuk menekan inflamasi setiap
hari. Kortikosteroid inhalasi merupakan obat anti-inflamasi yang efektif untuk
semua usia pada semua tahap perawatan asma persisten.
Lanjutan...
Pengobatan Bertahap pada Berbagai Usia
terapi penyesuaian atau alternatif
penderita dengan 2 atau lebih eksaserbasi steroid oral (6 bulan akhir / 4
episode mengi dalam satu tahun terakhir) penderita asma persisten,
meskipun tidak disertai ambang gangguan yang konsisten
Sebelum step up dievaluasi kepatuhan penderita minum obat, teknik
penggunaan inhaler, kontrol lingkungan dan komorbiditas. Bila diberikan
pengobatan alternatif hentikan penggunaannya sebelum step up.
Eksaserbasi Asma
menurunnya arus napas yg dapat diukur secara obyektif (spirometri/PFM) &
merupakan indikator yg lebih dapat dipercaya dibanding gejala
melibatkan keempat komponen penanganan asma jangka panjang, yaitu
pemantaan, penyuluhan, kontrol lingkungan dan pemberian obat
Jumlah pemberian steroid sistemik untuk eksaserbasi asma yang memerlukan
kunjungan gawat darurat dapat berlangsung 3-10 hari
U/ kortikosteroid, tidak perlu tapering off, bila diberikan dalam waktu < satu
minggu
Epidemiologi
Asma total : 7,2% (6% pada dewasa dan 10% pada
anak)
anak menderita asma meningkat 8-10 kali di negara
berkembang dibanding negara maju
Indo asma pada anak berusia 6-7 tahun sebesar 3%
dan untuk usia 13-14 tahun sebesar 5,2%
National Center for Health Statistics (NCHS) :
asma pada anak usia 0-17 tahun 57 per 1000 anak (jumlah
anak 4,2 juta)
dewasa > 18 tahun 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta)
WHO 250.000 kematian akibat asma secara
umum kematian pada anak akibat asma jarang
Prognosis
bertambahnya usia anak sebagian besar anak
akan mengalami perbaikan.
anak anak prasekolah (mengi hanya pada saat
pilek) menghilang setelah usia 5 8 tahun.
Secara umum, semakin berat suatu asma maka
perbaikan akan tercapai pada usia yang lebih tua.
Asma mungkin berulang pada masa dewasa, dan
remaja sebaiknya tidak merokok dan menghindari
alergen potensial di tempat bekerja.
Pencegahan
Mencegah Sensititasi
terjadinya atopi paling relevan
pencegahan terjadinya asma pada individu yang disensitisasi
Mencegah Eksaserbasi
alergen indoor : tungau debu rumah, hewan berbulu, kecoa, dan
jamur
alergen outdoor : polen, jamur, infeksi virus, polutan dan obat
Mengurangi pajanan menghindari asap rokok, lingkungan
kerja, makanan, aditif, obat yang menimbulkan gejala dapat
memperbaiki kontrol asma serta keperluan obat. Tetapi biasanya
penderita bereaksi terhadap banyak faktor lingkungan sehingga
usaha menghindari alergen sulit untuk dilakukan.