Anda di halaman 1dari 123

ANALISA KREDIT

Juli 2017
KREDIT

Apakah kita YAKIN


bahwa setelah kredit cair ke depannya pasti akan LANCAR
sampai dengan LUNAS?

Ingat!!!!
Resiko Kredit baru mulai saat kredit itu mulai cair dan
berakhir pada saat kredit itu LANCAR & LUNAS
Filosofi Risiko

RISIKO MASA DEPAN PENGELOLAAN RISIKO


Ketidakpastian di waktu Tergantung hari ini Pengelolaan Ketidakpastian
yang akan datang

BISNIS BANK TUJUAN MANAGEMENT RISIKO


Bisnis Risiko Balanced Risk, Return & Capital
Tujuan Pembelajaran

Anda akan mempelajari AnalisaTujuan


Kredit Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan :

Mampu melakukan verifikasi


dan analisa terhadap usaha &
kemampuan bayar Debitur

Mampu melakukan verifikasi


Mampu melakukan verifikasi dan menganalisa terhadap
dan menganalisa karakter jaminan dengan benar
Cadeb dengan benar

Mampu menilai kelayakan


Memahami prinsip dasar perkreditan? kredit
Prinsip Perkreditan Umum 5C

1. Character Kemauan membayar dalam memenuhi


kewajibannya

2. Capacity Kemampuan membayar pinjaman

3. Collateral Kualitas jaminan sebagai jalan keluar terakhir

4. Capital Kekuatan modal

5. Condition Ketahanan terhadap perubahan kondisi


Prinsip Kredit Mikro dan Kecil

Debitur yang layak untuk diberikan pinjaman adalah debitur yang


memiliki kemauan dan kemampuan untuk membayar kembali
kredit yang diberikan.

Memberikan kredit kepada debitur yang tepat dengan jumlah yang


tepa.

Hanya dari debitur yang berkualitaslah profit dapat dihasilkan.

Sumber pengembalian Kredit utama adalah dari hasil usaha, bukan


dari hasil penjualan jaminan
Prinsip Perkreditan Umum 5C

Supply
Risk

Buyer Mitigasi Production


Risk Risk
Risiko

Competitor
Risk
Tujuan Pembelajaran

Anda akan mempelajari Analisa Kredit


Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan :

Mampu melakukan verifikasi


dan analisa terhadap usaha &
kemampuan bayar Debitur

Mampu melakukan verifikasi


Mampu melakukan verifikasi dan dan menganalisa terhadap
menganalisa karakter Cadeb dengan jaminan dengan benar
benar

Mampu menilai kelayakan


Memahami prinsip dasar kredit
perkreditan?
Verifikasi & Analisa Karakter

Untuk apa dilakukan?


Mengetahui seberapa besar kemauan calon debitur untuk membayar kembali
kewajibannya

Wawancara

Community
Checking
Identifikasi Itikad Baik
Karakter Calon (Kemauan Bayar)
BI Checking
Debitur Cadeb
Supplier
Checking
Buyer
Checking

Riset Pasar
Verifikasi & Analisa Karakter

Bagaimana melakukan verifikasi karakter?

Tetangga Usaha: Informasi mengenai tukang tagih/collection, kebiasaan buruk : judi / mabok /
bertengkar / berkelahi

Pelanggan : Kualitas Barang dagangan, Pelayanan terhadap pelanggan, Barang bisa di retur / tidak

Pemasok : Komitmen janji bayar, Jumlah barang yang di beli, Frekwensi berbelanja

Tetangga Rumah Debitur : Memastikan apakah ada informasi negatif tentang calon debitur

Observasi Sikap Calon Debitur saat Wawancara :


Kooperatif, berbelit-belit, acuh, atau temperamental
Pengertian & Fungsi BI Checking

Pengertian :
Proses melihat history dan data pinjaman/kredit seseorang di Bank / Lembaga Keuangan
formal dengan sumber data tersebut diperoleh dari Bank Indonesia

Fungsi :
Data pinjaman yang sudah / pernah dimiliki debitur berguna untuk membantu
menganalisa:
Karakter debitur Kualitas pinjaman / kolektibilitas yang dimiliki dan disiplin
pembayaran angsuran untuk melihat indikasi perburukan pinjaman
Jumlah hutang yang telah dimiliki debitur dan total kewajiban debitur
Kebutuhan Modal Kerja Sisa kebutuhan MK, bila sudah dipenuhi sebagian oleh
Bank lain
Jaminan / Asset yang dimiliki debitur
Lama debitur berhubungan dengan Bank
Permohonan BI Checking
Contoh

Perhatikan 2 nama yang berbeda dari debitur yang sama.


1. Nama pada KTP (DEWI APRILYA)
2. Nama pada buku tabungan (DEWI APRILIA)

Data lain seperti (alamat tinggal dan no KTP) yang tercantum pada buku tabungan
dan KTP sama.

Maka, lakukan permohonan BI Checking untuk kedua nama tersebut.


Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Identitas Debitur

2. Periksa Data Kondisi Fasilitas

Kondisi Pinjaman Sebab macet

3. Melihat Jenis Kredit

4. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

5. Melihat Kualitas Pinjaman

6. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking-Periksa Data Debitur

Informasi
Pinjaman
Debitur

Pastikan Nama, Tgl Lahir,


No NPWP, Alamat dll
benar adalah calon
debitur
Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Identitas Debitur

2. Periksa Data Kondisi Fasilitas

Kondisi Pinjaman Sebab macet

3. Melihat Jenis Kredit

4. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

5. Melihat Kualitas Pinjaman

6. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking

Golongan Kredit/
Kategori Debitur

Keterangan
Kondisi

Keterangan Keterangan
Fasilitas Kondisi

Keterangan Fasilitas,
untuk debitur kondisi
lunas ditandai dengan
keterangan LUNAS
Verifikasi BI Checking- Kondisi Pinjaman

Kondisi Pinjaman
Kode | Deskripsi
===================================================
01 | Dibatalkan
02 | Lunas
03 | Hapus Buku
04 | Diserahkan ke AMU/PPA
05 | Diserahkan ke BUPLN
06 | Promesnya dijual (Lunas)
07 | Promesnya dijual (Belum Lunas)
simbol - (null)
08 | Dikonversikan menjadi penyertaan pinjaman masih aktif
09 | Hapus Tagih
10 | Lunas Karena Pengambil Alihan Agunan
11 | Lunas diselesaikan melalui pengadilan
12 | Dialihkan ke Pelapor Lain
13 | Dibeli dari BPPN/PPA
14 | Dialihkan ke Fasilitas Lain
15 | Dijual BPPN/PPA kepada pihak Non-bank
16 | Telah direstrukturisasi oleh BPPN/PPA
17 | Belum diproses oleh BPPN/PPA
18 | Dialihkan/dijual kepada pihak lain non pelapor
19 | Direstrukturisasi oleh lembaga pemerintah selain BPPN/PPA
20 | Disekuritisasi (Kreditur Asal sebagai Servicer)
21 | Disekuritisasi (Kreditur Asal tidak sebagai Servicer)
22 | Lunas dengan diskon
66 | kondisi 66 pp
77 | kondisi 77
88 | Lunas Bersyarat
99 | kondisi 99
===================================================
Verifikasi BI Checking- Sebab Macet
Keterangan Sebab Macet
Kode | Deskripsi
===================================================
01 | Kesulitan Pemasaran
02 | Kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja
03 | Perusahaan grup/afiliasi yang sangat merugikan debitur
04 | Permasalahan terkait pengelolaan lingkungan hidup
05 | Penggunaan dana tidak sesuai dengan perjanjian kredit
06 | Kelemahan dalam analisa kredit
07 | Fluktuasi nilai tukar
08 | Itikad tidak baik
09 | Force majeure
10 | Pailit
11 | Uniform Classification
99 | Lainnya
===================================================
Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Identitas Debitur

2. Periksa Data Kondisi Fasilitas

Kondisi Pinjaman Sebab macet

3. Melihat Jenis Kredit

4. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

5. Melihat Kualitas Pinjaman

6. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking -Sifat Kredit

Sifat Kredit
Kode | Deskripsi
===================================================
10 | Dalam rangka pembiayaan bersama
15 | Dalam rangka restrukturisasi kredit
20 | Penyaluran kredit melalui lembaga lain (channelling)
30 | Kartu kredit
40 | Pengambilalihan kredit
45 | Surat berharga dengan Note Purchase Agreement (NPA)
50 | Pembiayaan Musyarakah
55 | Pembiayaan Mudharabah
60 | Piutang Murabahah
65 | Piutang Salam
70 | Piutang Istishna
79 | Lainnya dgn PK
80 | Giro bersaldo debet
85 | Tagihan atas transaksi perdagangan
99 | Lainnya Tanpa PK
===================================================
Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Identitas Debitur

2. Periksa Data Kondisi Fasilitas

Kondisi Pinjaman Sebab macet

3. Melihat Jenis Kredit

4. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

5. Melihat Kualitas Pinjaman

6. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking-Struktur pinjaman

Fungsi :
Menghitung kewajiban angsuran yang sudah dimiliki & tujuan penggunaannya

Lihat data Struktur pinjaman:


Jenis Fasilitas (KAB, RK, KB, KK)
Plafon
Sisa Pinjaman / Outstanding
Suku bunga
Lihat tanggal dimulai / cair & tanggal jatuh tempo kredit

Lihat tujuan pinjaman :


Menunjukkan penggunaan kredit untuk MK, Inv atau Konsumsi
Verifikasi BI Checking-Struktur pinjaman

Lihat kolom Tanggal Akad Awal dan Jatuh Tempo.


Tanggal akad awal menunjukkan waktu dilakukannya perjanjian kredit.
Jatuh tempo menunjukkan waktu berakhirnya jangka waktu kredit.

Apabila jangka waktu panjang (> 1 tahun) maka kemungkinan bentuk pinjaman merupakan fasilitas KAB dengan kewajiban
berupa angsuran tiap bulan.
Apabila jangka waktu pendek (<= 1 tahun) maka kemungkinan bentuk pinjaman merupakan fasilitas RK/ KB.
Apabila pinjaman berbentuk KB tetap, maka nominal Plafon akan sama dengan Baki Debet.
Apabila nominal Plafon dan Baki Debet berbeda maka deteksi dari jangka Akad awal dan tanggal Jatuh Tempo.
Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Identitas Debitur

2. Periksa Data Kondisi Fasilitas

Kondisi Pinjaman Sebab macet

3. Melihat Jenis Kredit

4. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

5. Melihat Kualitas Pinjaman

6. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking-Kualitas pinjaman

Fungsi :
Menunjukkan komitment debitur terhadap kewajiban pinjamannya
Cara :
Menunjukkan kondisi kualitas pinjaman setiap bulan (s/d 2 tahun kebelakang),
antara lain:
Kolektibilitas
Lama hari tunggakan
Verifikasi BI Checking

1. Periksa Data Debitur

2. Periksa Data Kondisi

Fasilitas kondisi Aktif Fasilitas kondisi tidak aktif

3A. Kondisi Pinjaman 3B. Sebab Lunas

4. Melihat Jenis Kredit

5. Melihat Struktur & Tujuan Pinjaman

6. Melihat Kualitas Pinjaman

7. Melihat Data Jaminan


Verifikasi BI Checking-jaminan
Fungsi:
Menunjukkan asset milik debitur yang sudah dijaminkan di tempat lain
Cross Check apakah asset yang akan dijaminkan sudah menjadi jaminan di tempat lain, hal
ini bisa mengindikasikan sertifikat palsu, duplikat dll
Cara :
Cek jenis jaminan, dokumen, pemilik & alamat jaminan

Data agunan debitur.


Data Nama Penjamin
Verifikasi BI - Checking

Setiap Bank wajib melaporkan kualitas


Supaya setiap bank lain yang ingin kredit setiap nasabah pinjaman yang
menyalurkan pinjaman kepada dimilikinya kepada Bank Indonesia
nasabah yang sama, bisa memiliki setiap bulannya. Untuk apa dilaporkan?
referensi bagaimana rekam jejak
nasabah tersebut di bank
sebelumnya.
Tujuan Pembelajaran

Anda akan mempelajari Analisa Kredit


Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan :

Mampu melakukan verifikasi dan analisa


terhadap usaha & kemampuan bayar Debitur

Mampu melakukan
verifikasi dan menganalisa Mampu melakukan verifikasi
karakter Cadeb dengan dan menganalisa terhadap
benar jaminan dengan benar

Memahami prinsip dasar Mampu menilai kelayakan


perkreditan? kredit
Verifikasi & Analisa Kredit

Tujuan Pinjaman
Verifikasi & Analisa Usaha
Verifikasi dan Analisa Kemampuan bayar
Verifikasi & Analisa Tujuan Pinjaman

Untuk apa dilakukan?


Mengetahui apakah tujuan pinjaman digunakan untuk:
Modal kerja (MK), atau
Investasi (INV), atau
Konsumsi (KS), atau
Multiguna ( misal MK dan INV, INV dan KS)

Memastikan pinjaman tidak dipergunakan untuk hal-hal yang melanggar hukum, norma
sosial.
Mengetahui kewajaran besarnya kebutuhan kredit disesuaikan dengan rencana
penggunaan dan karakteristik usahanya.
Verifikasi & Analisa Tujuan Pinjaman

Bagaimana cara melakukan verifikasi tujuan pinjaman?


Bertemu langsung dengan calon debitur, dan menanyakan:
Apakah benar calon debitur melakukan permohonan kredit?
Untuk kebutuhan apa kredit itu akan digunakan?
Kebutuhan Modal Kerja (MK),
(contoh : Ekspansi penjualan, Persiapan musim ramai , Penawaran cash diskon)
Kebutuhan Investasi (INV),
(contoh : Pembelian tempat usaha, Pembelian mesin, Pembelian kendaraan untuk usaha)
Kebutuhan Konsumsi (KS),
(contoh : Pembelian rumah tinggal, Biaya anak sekolah , Pembelian Kendaraan untuk pribadi)
Kebutuhan Multiguna (Contoh: MK dan INV)
( Contoh : Debitur membutuhkan tambahan Modal Kerja untuk menambah persediaan untuk
ekspansi dan membeli kios di pasar (Investasi) yang digunakan dalam 1 fasilitas pinjaman)
Verifikasi & Analisa Tujuan Pinjaman

Lakukan observasi, pastikan apakah alasan


kebutuhan modal kerja sesuai dengan kondisi/
Kebutuhan Modal
karakteristik usa ha calon debitur.
Kerja
Lakukan perhitungan kebutuhan modal kerja

Melalui dokumen pendukung (surat penawaran/ RAB)


yang dapat diverifikasi kebenaran dan kewajarannya
Melalui perhitungan perkiraan secara logic (rencana
Untuk Kebutuhan
besarnya nilai investasi dibandingkan dengan luas
Investasi
bangunan serta spesifikasi bangunan yg akan dibuat
sehingga didapat nilai investasi permeter persegi
bangunan dan lihat kewajaran nilai tersebut) .
Bandingkan dengan jumlah perhitungan pada RAB
apakah masih wajar atau tidak
Working Invesment

Apakah WI (Working Invesment) ?


Adalah: Dana yang diperlukan untuk modal kerja yang berupa AR dan
Inventory agar usaha dapat berjalan secara normal
Contoh :
Penjual Sembako Pembuat Tempe Jasa Transportasi yang
(brg kebutuhan hidup) diperkenankan sesuai SOP
WI digunakan untuk:
WI digunakan untuk:
Pembelian bahan baku: WI digunakan untuk:
Pembelian barang dagangan,
misal: beras, gula, tepung, minyak
Kedele, ragi. & bahan Usaha Jasa Transportasi
goreng (INV) pembantu : plastik kebutuhan Modal Kerja
pembungkus (INV) hampir tidak ada / NIL
Dana yang tertahan pada
pembeli krn penjualan non tunai Dana yang tertahan pada Pembelian kendaraan yang
dan blm waktunya untuk dibayar pembeli krn penjualan non digunakan untuk usaha
(AR) tunai dan blm waktunya untuk transportasi merupakan Asset
dibayar (AR) tetap yang tidak masuk dalam
pembiayaan modal kerja
Kebutuhan WI

Jadi bagaimana cara menghitung kebutuhan WI yang wajar di biayai


Bank

Barang dagangan (INV) KEBUTUHAN


+ Hutang dagang (AP) MODAL KERJA
Piutang dagang (AR) (WI) yang wajar
Rumus WI yang digunakan adalah : dibiayai

WI = (INV + AR) (AP)

Rumus ini biasa disebut WI Neraca


Perhitungan jumlah WI Necara dalam nilai Rupiah
Kebutuhan WI

Pendekatan Working Investment (WI) pada Analisis Pembiayaan adalah perhitungan


kebutuhan modal kerja perusahaan yang tidak dapat dipenuhi oleh dana spontan dalam
operasi usaha.

WI = Trading Aset Spontaneous Financing


WI = (AR + Inv) (AP + AE)

Trading Aset: Kemampuan perusahaan membiayai usahanya secara mandiri dari sumber dana
yang dimiliki dari pendapatan yang berasal dari penjualan tunai maupun nontunai pada waktu
yang tertentu (satu siklus operasi normal).
Spontaneous Financing: Kemampuan perusahaan membayar kewajiban kepada para pemasok
dan semua beban usaha terkait dari pendapatan yang berasal dari penjualan tunai maupun
nontunai dalam satu siklus operasi normal.
Kebutuhan WI

Persediaan Barang-barang (Inventory / INV) :


Barang-barang yang disediakan untuk dijual kepada para konsumen / pelanggan selama
periode normal kegiatan perusahaan

Contoh :
Barang-barang yang tersedia di Gudang yang tersedia yang akan dijual sekarang ataupun
dimasa yang akan datang

Piutang (Account Receivable/ AR)


jumlah tagihan kepada pelanggan, dimana tagihan tersebut terjadi dari proses jual beli yang
sudah dilakukan (Barang yang dibeli sudah diserahkan), sehingga posisi si pembeli adalah
berhutang kepada si penjual , untuk jumlah serta jangka waktu yang telah ditetapkan.
Pembayaran piutang dagang umumnya tidak diangsur, melainkan sekaligus ketika hutang
dagang tersebut jatuh tempo, pembayaran yang tidak sesuai tanggal jatuh tempo baik
jumlah maupun waktunya, akan menyebabkan piutang masuk kategori piutang tidak lancar
Kebutuhan WI

Contoh Piutang Dagang (AR):


Suplier memberi tempo pembayaran dalam waktu tertentu (Kredit) kepada
pelanggannya atas pembelian barang sehingga muncul tagihan/collection

Contoh Bukan Piutang Dagang :


Biaya dibayar dimuka /Prepaid Expense : Piutang yang timbul karena adanya
pembayaran dimuka atas biaya-biaya yang seharusnya belum menjadi beban periode
yang bersangkutan
Uang Muka Pembelian : Uang persekot yang dibayarkan untuk pesanan suatu barang
yang akan dibeli
Piutang Pengasilan : Suatu pendapatan yang seharusnya sudah diterima tetapi
kenyataannya akan diterima pada masa yang akan datang
Kebutuhan WI

Hutang Dagang (Account Payable) :


Hutang yang timbul akibat adanya pembelian barang atau jasa yang dilakukan secara
kredit

Contoh :
Pembelian barang dagangan atau peralatan kantor secara kredit. Hutang ini tidak
memerlukan surat atau perjanjian tertulis sehingga pelaksanaannya didasarkan atas
rasa saling percaya
Kebutuhan WI
WI Neraca
Hal yang wajib diperhatikan dalam perhitungan WI neraca

Nilai INV, AR dan AP diperoleh dari list catatan INV, AR dan AP yang dapat
dipertanggung jawabkan kebenarannya
Nilai AR tidak memperhitungkan AR yang telah jatuh tempo tapi belum dibayar (AR
tidak Lancar)
AR diperoleh dari tempo pembayaran yang diberikan debitur kepada pelanggannya
Untuk jenis Usaha retail/warung kecil, pembelian umumnya dilakukan dengan Cash
and Carry sehingga jarang ada AR/Piutang, dengan demikian kebutuhan Modal Kerja
umumnya membiayai persediaan / inventory
Kebutuhan WI

WI dapat diperoleh dengan cara perhitungan Days On Hand/ DOH (hari perputaran)

INV DOH Lamanya waktu penyimpanan barang dagangan mulai barang tersebut dibeli sampai
dijual kembali (dalam hari)

AR DOH Lamanya jangka waktu yang diberikan calon debitur kepada pelanggan untuk
membayar barang dagangan yang sudah dijual kepada pelanggan (dalam hari)

AP DOH Lamanya jangka waktu yang diberikan oleh supplier kepada calon debitur untuk
membayar barang dagangan yang sudah dibeli oleh calon debitur (dalam hari)
Kebutuhan WI
Metode Net Trading Asset (NTA) / Base Working Capital Need

Menghitung Piutang Usaha (AR) Menghitung Hutang Usaha (AR)

INV = ARDOH x Sales AP = APDOH x CGS


30 30

Menghitung Persediaan Usaha (INV) Menghitung BIaya Usaha YMH (INV)

INV = INVDOH x CGS AE = AEDOH x CGS


30 30

Rumus WI yang digunakan adalah :

WI = (INV + AR) (AP + AE)


Kebutuhan WI

WI DOH adalah Perkiraan kebutuhan Modal Kerja Normal yang dihitung dari
perputaran, Persediaan, dan lamanya piutang yang diberikan kepada pelanggan
dengan kata lain CO dapat menghitung WI berdasarkan perhitungan lama Inventory
Normal dan tempo pembayaran kepada debitur dengan memperhitungkan jumlah AR
ini harus diteliti dengan Prosentase (%) pelanggan yang mendapatkan tempo
pembayaran (Lihat slide sebelumnya)

Contoh Perhitungan :
Perputaran Barang Secara Nomal : 30 hari
Tempo Pembayaran : 14 hari
Jumlah Pelanggan yang diberikan tempo pembayaran adalah 20 %

Maksimum WI = ( INV DOH + ( 20% X AR DOH) - AP


Kebutuhan WI

Rumus WI DOH :
A/R DOH = hari
INV DOH = hari
A/P DOH = ( ) hari

WI DOH = hari

WI = WI DOH / 30 hari x HPP/bulan


Catatan :
Perhitungan WI seperti ini biasa dikenal dengan sebutan WI Normal (WI berdasarkan karakteristik
usaha yang normal), oleh karena itu analis harus memahami karakteristik dari masing-masing
usaha calon debitur terutama dalam hal perputarannya, sehingga akan didapat nilai WI yang
mendekati kewajaran
Konsep WI

Dua pendekatan perhitungan WI tersebut (WI Neraca vs WI


Normal) biasanya digunakan oleh analis untuk melakukan
crosscheck guna mendapatkan nilai WI yang diyakini
kewajarannya
Cara melakukan check dengan rumus sbb:

(AR x % Penjualan Scr Kredit) INV


AR DOH = X 30 hari INV DOH = X 30 hari
Sales HPP

(AP x % Pembelian Scr Kredit)

AP DOH = X 30 hari
HPP
Kebutuhan WI

Contoh Kasus :
Grosir A memiliki penjualan Rp.1.000.000/bln, harga pokok penjualan sembako
Rp.800.000. Stock sembako rata-rata tersimpan selama 2 bln, penjualan dilakukan
100% dgn kelonggaran pembayaran selama 1 bln kpd buyer, sedangkan suplier
memberikan hutang usaha dgn tempo 1 bln. Hitung kebutuhan modal kerja :

Penjualan : 1.000.000
HPP : 800.000
ARDOH : 30
INVDOH : 60
APDOH : 30

WI DOH = (ARDOH + INVDOH) (APDOH) / 30 x HPP


= (30 + 60) (30) / 30 x 800
= 60/30 x 800.000
= 2 x 800.000
= 1.600.000
Bank Financing

Lanjutan :
Grosir A telah memilki pembiayaan modal kerja dari Bank X Rp.500 jt dan BPR Y
Rp.200 jt. Pembiayaan angka wajar BPR kita untuk pembiayaan modal kerja
adalah 70% Hitung pembiayaan bank wajar :

Pembiayaan
Bank Financing (BF): 70%
Bank lain : 700.000
WI need : 1.600.000

Maks BF : 70% x WI Need


70% x 1.600.000 = 1.120.000
Sisa WI need : 1.120.000 700.000
Maks BF : 420.000
Verifikasi & Analisa Kredit

Tujuan Pinjaman
Verifikasi & Analisa Usaha
Verifikasi dan Analisa Kemampuan bayar
Verifikasi & Analisa Usaha
dan Kemampuan Bayar

Untuk apa dilakukan?


Mengetahui seberapa besar kemampuan calon debitur dalam membayar
kembali kewajibannya, dan perkiraan perkembangan usaha
Verifikasi & Analisa Usaha
Bagaimana melakukan verifikasi usaha?
Dengan cara kunjungan langsung ke tempat usaha calon debitur (yang akan dibiayai), untuk:
Memastikan bahwa usaha tersebut ada dan usahanya sesuai dengan apa yang tertulis di Aplikasi Permohonan
Kredit
Memastikan bahwa usaha calon debitur bukan usaha yang dilarang untuk dibiayai seperti diatur dalam Kebijakan
Kredit (atau Undang-undang)
Memastikan bahwa usaha yang dibiayai tidak termasuk dalam negative list UMKM
Usaha yang dibiayai bukan merupakan usaha jual beli saham
Memastikan bahwa usaha tersebut benar milik calon debitur
Memastikan lama usaha calon debitur
Memastikan bahwa usaha tersebut berjalan aktif
Buka/ tutup sesuai dengan jam usaha normal
Rak barang terisi barang dagangan dengan kondisi:
Fisik barang yang masih baik, untuk produk tertentu, jika memungkinkan, periksa tanggal kadaluarsanya
Jumlah barang terlihat penuh, namun tidak ada kesan barang tidak laku
Bila barang dagangan berhubungan dengan mode (pakaian, sepatu, HP, dsb), perhatikan apakah barang
sudah ketinggalan mode
Jumlah karyawan memadai sesuai dengan jumlah barang dan luas tempat usaha
Cash Conversion Cycle / Asset Conversion Cycle

Supply
Collection 1. Number
1. Type of 2. Location
customer
3. Period
2. Payment term Cash 4. Risk
3. Risk

17 Hari 17 Hari

Receivables Raw Material

26 Hari

Finished Goods Work In Process


Demand
Production
1. Who are the
buyer 1. Labour Cost

2. Competition 2. Skill

3. Distribution 3. Infrastructure

4. Risk 4. Technology
5. Risk
Analisa Usaha

Apa itu bisnis?


cash-to-cash cycle
uang
penagihan pembelian

piutang bahan baku

penjualan produksi

barang jadi
Analisa Usaha

Usaha Home Industry


cash-to-cash cycle
uang Pembelian bahan baku
Hutang dagang (AP)
penagihan

A/R piutang bahan baku RM

penjualan produksi WIP

barang jadi
INVENTORY :
FG
RM = Raw Material
WIP = Work in Process
FG = Finished Goods
Analisa Usaha

Usaha Trading
cash-to-cash cycle
uang
penagihan Pembelian barang dagangan
Hutang dagang (AP)

A/R piutang bahan baku

penjualan produksi

barang jadi
FG
Analisa Usaha

Usaha Jasa (Produksi)


cash-to-cash cycle
uang
penagihan Pembelian bahan baku
Hutang dagang (AP)

A/R piutang bahan baku RM

penjualan produksi WIP

barang jadi INVENTORY :


RM = Raw Material
FG WIP = Work in Process
FG = Finished Goods
Analisa Usaha

Usaha Jasa (Non Produksi)

cash-to-cash cycle
uang
penagihan Pembelian bahan baku
Hutang dagang (AP)

A/R piutang bahan baku RM

penjualan produksi WIP

barang jadi
FG
ANALISA RESIKO

Jarak tempuh yang diperlukan untuk menyerahkan


Risiko barang sampai dengan ke tempat tujuan
persediaan Kebijakan persediaan barang
Banyaknya supplier pengganti maupun supplier
dominan
Risiko Kualitas produksi yang dihasilkan dari supplier
produksi Kelangsungan dan lamanya menjadi supplier
Substitusi bahan baku pengganti
Harga bahan baku
Risiko
Jenis bahan baku, tahan lama atau tidak
penjualan

Risiko
Collection/ AR
ANALISA RESIKO

Tenaga kerja : ketersediaan, keahlian, upah, serikat


Risiko kerja
persediaan Manajemen anggaran
Umur mesin, kapasitas, ketersediaan energi, biaya
pemeliharaan
Risiko Stockholding cost
produksi Teknologi risk
Inspeksi kualitas produksi

Risiko
penjualan

Risiko
Collection/ AR
ANALISA RESIKO

Kekuatan mempengaruhi (bargaining power) dari


pembeli dan penjual terhadap debitur
Keadaan supply dan demand
Risiko Pangsa pasar yang dikuasai nasabah
Barang substitusi
persediaan Perilaku produsen / konsumen
Perkembangan harga barang terakhir
Karakteristik produk
Kondisi persaingan
Risiko Saluran distribusi
produksi Lokasi distribusi
Aktivitas promosi
Langganan / pembeli utama
Syarat pembayaran dalam penjualan
Risiko Target penjualan
penjualan Target Pasar
Pembeli Utama
Dan strategi lainnya

Risiko
Collection/ AR
ANALISA RESIKO

Risiko
persediaan

Risiko
produksi

Risiko
penjualan Usia pelanggan
Loyalitas pelanggan
Resiko kenaikan / penurunan kurs rupiah / valas
Risiko
Sistem penagihan
Collection/ AR
Konsentrasi piutang
Verifikasi & Analisa Kredit

Tujuan Pinjaman
Verifikasi & Analisa Usaha
Verifikasi dan Analisa Kemampuan bayar
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Kemampuan bayar di nilai dari ?

PENGHASILAN BERSIH/ UANG SISA/ DISPOSABLE INCOME

PENGELUARAN
PENGHASILAN
HPP
Omzet Penjualan
Biaya Usaha
Pendapatan lain
(jika ada) Biaya Hidup/RT
Beban Angsuran
IDIR (Rasio Kemampuan Bayar)
Secara sistematis perhitungan Penghasilan Bersih/Disposable Income sebagai berikut:

Disposable Income (DI) adalah:


Penjualan Usaha/ Sales
Uang sisa penghasilan usaha debitur
Harga Pokok Penjualan (-) yang sudah dikurangi biaya-biaya
(biaya RT, biaya operasional usaha) dan
Keuntungan Usaha kotor
total kewajiban debitur (angsuran
Pengeluaran Usaha (-) pinjaman saat ini, termasuk
rekomendasi angsuran pinjaman Baru).
Keuntungan Usaha bersih
Penghasilan lainnya (+)
Total Penghasilan
Total Pengeluaran Rumah Tangga (-)
Sisa Penghasilan
Angsuran Pinjaman saat ini (jika ada) (-)
Rekomendasi Angsuran Pinjaman (Baru) (-)
Penghasilan Bersih/ Disposable Income
IDIR (Rasio Kemampuan Bayar)

Rumus menghitung IDIR (INSTALLMENT to DISPOSABLE INCOME RASIO)

(Angsuran Pinjaman saat ini + Rekomendasi Angsuran Pinjaman Baru)


IDIR =
Penghasilan Bersih
X 100%

IDIR adalah ratio dari total kewajiban angsuran debitur (termasuk angsuran dari pinjaman yang
akan diberikan) dibagi penghasilan bersih

Contoh:
Nilai IDIR = 80%, artinya adalah:
Bila total beban angsuran ( angsuran pinjaman saat ini dan rekomendasi angsuran pinjaman bjb) sebesar Rp. 80, maka
penghasilan bersih dimiliki calon debitur adalah sebesar Rp.100
Repayment Capacity

Contoh Kasus :
Grosir A memiliki penjualan Rp.1.000.000/bln, harga pokok penjualan sembako
Rp.600.000, biaya operasional Rp.100.000. Biaya hidup Rp.50.000/bln, Angsuran Bank X
Rp.50.000 . Grosir mendapat penghasilan lain dari jualan pulsa (Rp.50.000/bln).
Hitung IDIR jika Bank memberikan fas kredit dgn angsuran Rp.100.000. (Ketentuan IDIR
Bank yg ditentukan misal maks 80%).

Keuntungan usaha kotor : 1.000.000 600.000 = 400.000


Keuntungan usaha bersih : 400.000 100.000 = 300.000
Total penghasilan : 300.000 + 50.000 = 350.000
Angsuran Bank X : 50.000
Angsuran Bank (Baru) : 100.000 (+)
Total Kewajiban bank : 150.000
DI (Penghasilan bersih) : 350.000 150.000 = 200.000

IDIR = (50.000 + 100.000 / 200.000 ) x 100% = 75%


(masih sesuai ketentuan, IDIR < 80%)
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar
Bagaimana melakukan verifikasi terhadap omset penjualan?
Tanyakan langsung ke calon debitur berapa omset (penjualan usaha) di kondisi normal (harian/
mingguan/ bulanan) yang disebulankan
Lakukan cross check terhadap informasi di atas berdasarkan
Bukti-bukti pencatatan yang dimiliki (nota penjualan/ catatan persediaan/ rekening bank yang
digunakan untuk transaksi jual-beli), atau
Observasi terhadap keramaian pembeli dibanding dengan usaha sejenis di sekitar, perkiraan
nilai barang dagangan yang ada, waktu operasional usaha, jumlah karyawan
Tanyakan dalam 1 th berapa penjualan terendah yg diperoleh dan berapa lama hal tsb biasa
terjadi ( dalam bulan)
Secara sederhana (untuk barang sejenis), omset adalah unit yang terjual x harga rata-rata jual per unit, contoh:
Calon debitur memberikan angka omset per bulan usahanya Rp 35 juta
Salah satu cara memverifikasi keterangan di atas adalah dengan menanyakan ke calon debitur
(T) Waktu operasional usaha? (J) 25 hari dalam sebulan
(T) Dalam 1 hari, berapa banyak barang yang dapat dijual? (J) 100 unit
(T) Harga jual rata-rata per unit? (J) Rp 10,000
Berdasarkan informasi di atas, usaha tersebut mempunyai omset = 25 x 100 x 10,000 = Rp 25 juta (per bulan)
Berdasarkan informasi dari tetangga usaha yang memiliki jenis usaha yang sama (dengan tingkat keramaian yang mirip) omset per
bulan untuk usaha ini berkisar antara Rp 20 juta s/d Rp 30 juta
Kesimpulan, omset yang diberikan calon debitur terlalu tinggi (jika dapat diverifikasi ulang), kemungkinan karena informasi
tersebut adalah untuk waktu ramai saja, hingga yang harus digunakan sebagai angka omset adalah Rp 25 juta
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Bagaimana mengolah informasi dalam analisa ?

Prinsip: Data(nilai) yang digunakan dalam perhitungan kemampuan bayar adalah data(nilai) yang
diyakini kewajarannya oleh AO

Bila pembuktian bisa dilakukan dengan data:


Bila dari hasil perhitungan pembuktian diperoleh nilai yang dapat mewakili minimum 80% dari besarnya nilai yang disampaikan
oleh calon debitur nilai informasi calon debitur dapat digunakan sebagai dasar analisa.
Bila dari hasil perhitungan pembuktian diperoleh nilai < 80% dari besarnya nilai yang disampaikan oleh calon debitur nilai
informasi calon debitur tidak dapat digunakan sebagai dasar analisa, sebaiknya nilai pembuktian yang digunakan sebagai
dasar analisa.
Bila dari hasil perhitungan pembuktian diperoleh nilai > nilai yang disampaikan oleh calon debitur Konfirmasikan kembali ke
calon debitur mengenai perbedaan nilai tersebut, bila:
Calon debitur membenarkan nilai berdasarkan hasil pembuktian disertai dengan alasan-alasan yang logic dan sesuai
nilai pembuktian dapat digunakan sebagai dasar analisa.
Calon debitur tetap berpatokan pada nilai yang telah disampaikannya lebih baik gunakan nilai yang disampaikan oleh
calon debitur sebagai dasar analisa.
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Bagaimana mengolah informasi dalam analisa ?

Bila pembuktian dilakukan dengan observasi :


Bila dari hasil observasi didapati kondisi yang dapat mendukung kewajaran dari nilai yang
disampaikan oleh calon debitur nilai informasi calon debitur dapat digunakan
sebagai dasar analisa.
Berikan contoh

Bila dari hasil observasi didapati kondisi yang bertolak belakang dengan kewajaran dari
nilai yang disampaikan oleh calon debitur nilai informasi calon debitur tidak dapat
digunakan sebagai dasar analisa, sebaiknya nilai pembuktian yang digunakan sebagai
dasar analisa atau analis melakukan asumsi perhitungan sendiri, lalu pilih nilai yang
terkecil.
Berikan contoh
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Bagaimana melakukan verifikasi terhadap Harga Pokok Penjualan (HPP)?


Tanyakan langsung ke calon debitur
Besarnya rata-rata HPP (Harga Pokok Penjualan) = Harga beli barang dagangan + biaya pembelian pada kondisi normal
dalam periode yang sama dengan omzet
Besarnya rata-rata % keuntungan kotor (GPM) dari omzet pada kondisi normal dalam periode yang sama dengan omzet

Lakukan cross check terhadap informasi di atas berdasarkan


Bukti-bukti pencatatan pembelian barang yang dimiliki oleh calon debitur (buku catatan/nota pembeli/ catatan persediaan/
rekening bank yang digunakan untuk transaksi jual-beli)
Melakukan observasi ke usaha sejenis untuk mengetahui apakah memang % keuntungan yang disampaikan nilainya wajar
untuk usaha tersebut.
Melakukan observasi thd skala usaha (retailer/grosir/distribution/manufaktur)
Secara sederhana (untuk barang sejenis), Berdasarkan informasi calon debitur % keuntungan kotornya sebesar 30% ,
Salah satu cara memverifikasi keterangan di atas adalah dengan :
Melihat salah satu nota pembelian untuk satu item barang, perhatikan harga beli barang tersebut lalu tanyakan harga jual
barang yang sama dan hitung selisih harganya dengan cara : Harga Jual Harga Beli = Keuntungan Kotor Keuntungan kotor :
Harga jual X 100% = Margin keuntungan kotor misal: 5.000 4.000 = 1.000 1.000 : 5.000 X 100% = 20%
Berdasarkan hasil konfirmasi ke pengusaha sejenis diperoleh informasi bahwa Margin Keuntungan Kotor untuk usaha tersebut
berkisar antara 20% s/d 25%
Dari kondisi diatas maka nilai yang wajar untuk kita gunakan sebagai dasar analisa adalah % Keuntungan Kotor = 20%,
sehingga besarnya HPP dapat dihitung sbb : % HPP + % GPM = 100 % (sales) 100% (Sales) - %GPM = % HPP 100% - 20% =
80% besarnya HPP adalah 80% X Sales.
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Bagaimana melakukan verifikasi terhadap biaya usaha?


Tanyakan langsung ke calon debitur
Besarnya rata-rata biaya usaha/penjualan pada kondisi normal dalam periode yang sama
dengan omzet
Besarnya rata-rata % Biaya penjualan dari omzet pada kondisi normal dalam periode yang
sama dengan omzet

Lakukan cross check terhadap informasi di atas berdasarkan


Bukti-bukti pencatatan biaya penjualan yang dimiliki oleh calon debitur (buku catatan)
Melakukan observasi ke usaha sejenis yang memiliki skala usaha yang sama dengan calon
debitur untuk mengetahui apakah memang % biaya penjualan yang disampaikan nilainya
wajar untuk usaha tersebut.
Melakukan observasi thd sistem penjualan & distribusi barang ke pembeli: barang di display
atau dengan katalok , pembeli langsung ke toko atau barang diantar ke pembeli
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Yang dimaksud dengan biaya usaha/penjualan, antara lain:


Biaya promosi
Biaya tenaga kerja bagian penjualan
Biaya distribusi barang ke pembeli
Biaya after sales service
Biaya taktis
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar
Bagaimana melakukan verifikasi terhadap biaya hidup/ rumah tangga?
Tanyakan langsung ke calon debitur
Besarnya rata-rata biaya hidup/rumah tangga pada kondisi normal dalam periode yang sama dengan omzet
Jumlah tanggungan
Umur anak
Sekolah anak

Lakukan cross check terhadap informasi di atas berdasarkan


Buat perhitungan apakah biaya Rumah Tangga yang disampaikan debitur besarnya kurang lebih setara dengan
20% nilai keuntungan usaha/ mengikuti ketentuan SOP Kredit.
Melakukan observasi terhadap gaya hidup calon debitur mulai dari:
Merek dan jumlah barang elektronik yang dimiliki .
Kegiatan mengisi waktu liburan (dalam/luar negeri)
Jenis sekolah anak (negeri/swasta/swasta favorit) dan besarnya uang sekolah bulanan.

Kondisi yang bisa mempengaruhi besarnya biaya rumah tangga:


Semakin besar penghasilan akan semakin besar pengeluaran.
Semakin kecil umur anak belum berarti semakin kecil juga pengeluaran
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Yang dimaksud dengan biaya hidup/rumah tangga, antara lain:


Kebutuhan hidup (Pangan, Sandang)

Biaya pendidikan anak/ keluarga/ tanggungan

Biaya rekreasi

Sampah dan keamanan untuk rumah tangga

Transportasi yang berhubungan dengan rumah tangga

Biaya telpon, listrik, dan air untuk rumah tangga

Pengeluaran rumah tangga lainnya

Biaya Kesehatan
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Bagaimana melakukan verifikasi angsuran yang dimiliki saat ini ?


Tanyakan langsung ke calon debitur
Apakah ybs memiliki kewajiban angsuran yang telah berjalan saat ini, dimana?
Berapa besarnya kewajiban angsuran tersebut per bulan ?
Setiap tanggal berapa angsuran tsb dibayar ?
Bagaimana kondisi pinjaman tersebut sampai saat ini ?

Lakukan cross check terhadap informasi di atas berdasarkan


Meminta bukti pembayaran angsuran bulan terakhir:
Lihat besarnya angsuran apakah sesuai dengan yang disebutkan.
Tanggal angsuran sesuai dengan tanggal yang disebutkan

Memastikan data pinjaman melalui hasil BI Checking.


Jika terjadi perbedaan antara pinjaman debitur dengan hasil BI checking, maka yang diambil
adalah data pinjaman yang lebih konservatif
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Contoh :
Debitur mengakui memiliki pinjaman Bank, tetapi tidak
tercatat pada BI Checking, maka wajib di catat sesuai
pinjaman
Sebaliknya jika debitur tidak mengakui memiliki pinjaman
yang tercatat di BI Checking maka bank wajib menghitung
jumlah kewajiban sesuai yang tercatat di BI Checking.
Verifikasi & Analisa Kemampuan Bayar

Yang dimaksud pinjaman di tempat lain adalah pinjaman pada:

1. Lembaga Keuangan lain, yaitu:


Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Koperasi
Lembaga Perkreditan Rakyat (LPD)
Perusahaan Leasing/Multifinance, seperti: ADIRA, FIF, WOM, BAF,
ACC, dsb
Perusahaan pembiayaan lainnya, seperti: Columbia, Finco, dsb

2. Rentenir

3. Pinjaman pada pihak lain termasuk keluarga


Tujuan Pembelajaran

Anda akan mempelajari Analisa Kredit


Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan :

Mampu melakukan verifikasi dan


analisa terhadap usaha &
kemampuan bayar Debitur

Mampu melakukan verifikasi


dan menganalisa karakter Mampu melakukan verifikasi dan
Cadeb dengan benar menganalisa terhadap jaminan dengan benar

Memahami prinsip dasar Mampu menilai kelayakan kredit


perkreditan?
Penilaian Jaminan

Apakah peran jaminan bagi bank ?

Salah satu alternatif bagi bank


(second way out) untuk memperkecil
resiko apabila debitur sudah tidak memiliki
kemampuan bayar.
Penilaian Jaminan

Untuk Apa dilakukan Analisa Jaminan ?

Menghitung jaminan dari sisi nilai bukan


harga
Mempertimbangkan nilai jaminan dapat
digunakan untuk mengcover resiko kredit
dikemudian hari
Penilaian Jaminan

Jaminan seperti apa yang diharapkan oleh bank ?

Jaminan yang memiliki nilai, artinya bukan saja jaminan tersebut memiliki harga dan
bisa dijual tapi juga memiliki nilai bagi debitur sehingga ada ikatan moral yang kuat dari
debitur terhadap jaminan tersebut. Contoh :
1. Jaminan rumah tinggal vs jaminan villa
2. Jaminan kios untuk usaha vs jaminan kios untuk gudang
3. Jaminan Ruko di lokasi komersial vs ruko dilokasi perumahan

Jenis Jaminan secara umum adalah barang yang mudah dan cepat dijual.
Penilaian Jaminan

Jaminan yang tidak diharapkan oleh bank ?

Contoh jaminan yang tidak mudah dijual:


1. Rumah dengan arsitektur yang tidak umum.
2. Tanah kosong dengan luas diatas 2.000 M2, mahal
harganya tapi tidak mudah/cepat dijual.
3. Rumah dekat kabel listrik tegangan tinggi
4. Rumah mewah berada di lokasi perkampungan
5. Rumah berada pada lokasi tusuk sate
6. Mobil yang sudah diberi variasi yang berlebihan
7. Ruko yang tidak memiliki lahan parkir.
8. Rumah mewah berdiri di lokasi rawan banjir
9. Tanah helikopter
Penilaian Jaminan

Patokan harga diambil dari harga beli bukan harga jual

Nilai jaminan dihitung berdasarkan kondisi jaminan saat ini


bukan rencana kondisi jaminan ke depan.

Penilai harus mempertimbangkan bahwa harga pasar untuk


barang yang sedang dijaminkan ke bank nilainya selalu
lebih rendah dari harga pasar yang berlaku secara umum.

Mencari informasi harga jaminan dari pihak RT/ RW/


kelurahan dan lingkungan sekitar.
Penilaian Jaminan

Proses melakukan penilaian jaminan

1. Pastikan bahwa jaminan sesuai dengan yang tercantum pada SHM/ dokumen kepemilikan jaminan
2. Pastikan batas-batas kanan, kiri, depan dan belakang sesuai dengan SHM/ dokumen kepemilikan
jaminan
3. Pastikan nama pemilik jaminan sama dengan dokumen jaminan
4. Lakukan pemeriksaan arah jaminan dengan alat kompas dan verifikasi dengan arah yang tercantum
pada dokumen jaminan
5. Lakukan dokumentasi atas jaminan yang diverifikasi dengan pengambilan foto jaminan dari tampak
depan, samping kiri/ kanan, bagian dalam jaminan serta memperlihatakan debitur ada lokasi
jaminan ang diverifikasi.
Penilaian Jaminan

Apakah LTV ?

Adalah : - Perbandingan nilai Pinjaman (loan) dengan nilai


Jaminan (value)
- Prosentase jumlah pinjaman yang dapat diberikan
dari nilai jaminan

Yang dimaksud Pinjaman disini adalah:


Nilai Pinjaman yang masih menjadi resiko bagi bank

Yang dimaksud Nilai Jaminan disini adalah:


Nilai Pasar jaminan yang sudah berdasarkan penilaian dan pertimbangan bank
Penilaian Jaminan

Rumus LTV

Loan Pinjaman
= = LTV
Value Nilai Pasar Jaminan*)
Jadi bila besarnya LTV = 80% artinya adalah:
80 Dengan nilai jaminan sebesar Rp. 100 dari hasil taksasi,
maka maksimal pembiayaan yang dapat diberikan adalah
LTV = sebesar Rp. 80.

100 Selisih 20% digunakan untuk mengantisipasi harga jual


cepat dari jaminan yang diagunkan.

*)
1. Nilai hasil verifikasi dari scoring LPJ, atau
2. Nilai hasil independen appraisal
Flashback Materi Sebelumnya

1. Apa saja jenis resiko bisnis?


2. Apa yang dimaksud dengan LTV?
3. Apa rumus LTV?
Tujuan Pembelajaran

Anda akan mempelajari Analisa Kredit


Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan :

Mampu melakukan verifikasi dan


analisa terhadap usaha &
kemampuan bayar Debitur

Mampu melakukan verifikasi


dan menganalisa karakter Mampu melakukan verifikasi dan
Cadeb dengan benar menganalisa terhadap jaminan
dengan benar

Memahami prinsip dasar Mampu menilai kelayakan kredit


perkreditan?
Kelayakan Kredit
Komite Kredit harus menganalisa kewajaran proposal kredit yg di ajukan
terutama memastikan 4 hal sebagai berikut :

Tujuan pinjaman yang wajar dan memang di PERLU kan calon debitur

Verifikasi kemampuan bayar bukan hanya melihat besarnya IDIR dan perhitungan DI sesuai
yang dipersyaratkan namun memastikan perhitungan pembentukan ratio tersebut sudah wajar
misal :Dasar pembentukan omset, GPM yang wajar sesuai karakter usaha, total pinjaman
yang dimiliki cadeb, besarnya kewajiban yang harus di bayar debitur dll.

Verifikasi track record cadeb dengan mempelajari dan menganalisa BI Checking dan DHN
Checking

Pastikan Verifikasi Jaminan telah dilakukan dengan mempertimbangkan nilai marketability


demi kepentingan bank bukan hanya mengikuti plafon yg diinginkan cadeb
Rekomendasi Kredit

Hal-hal yang harus diperhatikan :


1. Merekomendasikan kredit sesuai dengan kemampuan bayar calon debitur
dan dituangkan dalam MKK
2. CR tetap harus memasukan informasi yang di dapat sesuai hasil verifikasi
3. CR berhak mengemukakan pendapatnya kepada TL terkait rekomendasi
kredit berdasarkan hasil verifikasi di lapangan dan analisanya, baik
keputusannya reject ataupun disetujui dan harus didukung dasar yang kuat
4. Perubahan data merupakan salah satu indikasi FRAUD!!!
Keputusan Kredit

PUTUSAN KREDIT

KOMITE KREDIT

Pemegang BWMK Pemegang BWMK


Yang memiliki Limit Nil Limit
KOMITE KREDIT

Pejabat yang terkait dalam Proses Putusan Kredit :


Komite Kredit Pemegang BWMK Nil Limit : CR, BCR, ACR, RCR
Komite Kredit Pemegang BWMK yang mempunyai limit BWMK yang sesuai :
TL, BBM, ABM, RBM, Pimpinan Divisi
Keputusan Kredit
Hal-hal yang diperbolehkan dalam Keputusan Kredit :

Komite kredit dapat memutuskan untuk memberikan


persyaratan tertentu (Covenant) yang harus di penuhi oleh
calon debitur, dan persyaratan tersebut wajib tercantum
pada Memo Keputusan Kredit dan Surat Penawaran Kredit
sebelum kredit di cairkan
Kelayakan Kredit

Komite Kredit harus menganalisa kewajaran proposal kredit yg di ajukan


terutama memastikan 4 hal sebagai berikut :

Tujuan pinjaman yang wajar dan memang di PERLU kan calon debitur

Verifikasi kemampuan bayar bukan hanya melihat besarnya IDIR dan


perhitungan DI sesuai yang dipersyaratkan namun memastikan perhitungan
pembentukan ratio tersebut sudah wajar misal :Dasar pembentukan omset,
GPM yang wajar sesuai karakter usaha, total pinjaman yang dimiliki cadeb,
besarnya kewajiban yang harus di bayar debitur dll.

Verifikasi track record cadeb dengan mempelajari dan menganalisa BI Checking


dan DHN Checking

Pastikan Verifikasi Jaminan telah dilakukan dengan mempertimbangkan nilai


marketability demi kepentingan bank bukan hanya mengikuti plafon yg
diinginkan cadeb
Milik PT. Bank bjb, Tbk. hal 97 dari 136
CRB05b Risk Versi 02.2013
Dilarang memperbanyak, menggandakan, dan/ atau menyebarluaskan isi modul ini tanpa ijin tertulis dari PT. Bank bjb, Tbk.
Dampak Kredit Bermasalah

Pendapatan
bunga menurun
Laba menurun

Mengganggu
likuidasi bank
Reputasi bank
rusak

Pengalokasian
SDM

Pengalokasian
waktu
INGAT !!!
Tujuan Kredit harus mencerminkan dasar pengembalian
kredit (Bertindaklah sebagai seorang kreditor bukan sebagai pemegang
saham)
Jika sudah mempunyai semua data, anda tidak perlu
menjadi jenius untuk mengambil keputusan ( Semakin
banyak/lengkap data, semakin mudah mengambil keputusan)
Siklus bisnis tidak dapat dihindari (Prinsip Prudential banking
diterapkan dalam segala keadaan (baik dalam kondisi bisnis bagus/jelek))
Selalu Berpikir yang pertama adalah Bank (Ingat Anda
bekerja untuk Bank bukan untuk Debitur/Pemohon Kredit)
Lampiran
Contoh Contoh Gambar Kondisi Jaminan
Ruko mengelompok/ area komersial

Tidak mengelompok/ Bukan Ruko


Fungsi Perniagaan

Fungsi Perkantoran
Ruko dengan fasilitas parkir
umum
Toko di pinggir jalan tanpa
fasilitas parkir umum
5m
<3m

3-6 m
paving
blok

aspal

tanah berbatu
Lebih rendah dari
permukaan jalan

berbukit

Rata dgn permukaan jalan


rumah tusuk sate
tanah pemukiman sutet

rumah

pemakaman

luas area tanah di atas 1000 m2


pondasi tertanam

Rumah panggung
Tegel 30cm

keramik 30cm

keramik > 30cm

parket

marmer
dinding bata tanpa plester

bilik

dinding bata dgn plester


asbes
genteng tanah
liat biasa
Genteng
keramik
berglasur
genteng beton
tripleks gypsum

non plafond
rumah mewah di lingkungan perumahan biasa
tanah kosong di daerah permukiman tanah kosong di luar permukiman

sawah produktif

sawah non produktif


Luas area > 1000 m2
tanah sutet
tempat berjual beli
kios kosong

gudang
mulus terawat

tidak mulus
Jaminan tidak layak untuk diagunkan
Pekerjaan
adalah jalan untuk tumbuh menjadi manusia
yang lebih baik
Terima Kasih