Anda di halaman 1dari 107

ASEP ROBBY, S.KEP., NS., M.

KEP
DEFINISI DAN BATASAN KARAKTERISTIK MASALAH KEBUTUHAN
OKSIGENASI

Oksigen adalah salah satu unsur vital dalam


proses metabolisme dalam mempertahankan
kelangsungan hidup sel-sel tubuh (Tarwanto,
2006).
Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan
oksigen (O2)
Rongga hidung faring laring
trakea bronkus bronkiolus-
alveolus.
PROSES PEMENUHAN OKSIGENISASI DALAM
TUBUH TERDIRI ATAS TIGA TAHAPAN
1. Ventilasi: Proses keluar masuknya oksigen
dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari
alveoli ke atmosfer.
Proses ventilasi dipengaruhi oleh perbedaan
tekanan antara atmosfer dengan paru.
Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah
complienci (pengembangan) dan recoil
(penyempitan).
Pusat pernapasan, yaitu medulla oblongata dan
pons, dapat dipengaruhi oleh ventilasi. Proses
ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain :
1. Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer.
2. Adanya kondisi jalan napas yang baik.
3. Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada
paru-paru dalam melaksanakan ekspansi
atau kembang kempis.
4. Difusi
2. Difusi: Pertukaran antara O2 dari alveoli ke
kapiler paru-paru dan CO2 dari kapiler ke
alveoli.
Proses difusi gas ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu :
1. Luasnya permukaan paru-paru
2. Tebal membran respirasi/permeabilitas
(epitel alveoli dan interstisial).
3. Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
4. Afinitas gas
3. Transportasi: Proses pendistribusian antara O2 di
kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh
ke kapiler.
Pada proses transportasi, O2 akan berikatan dengan
Hb membentuk oksihemoglobin (97%) dan larut
dalam plasma (3%).
Sedangkan CO2 akan berikatan dengan Hb
membentuk karboksihemoglobin (30%), larut
dalam plasma (5%), dan sebagian menjadi
HCO3 berada dalam darah (65%).
Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor diantaranya :
1. Cardiacoutput
2. Kondisi pembuluh darah
3. Latihan (exercise)
4. Hematokrit
5. Eritrosit dan kadar Hb
STANDAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN INDONESIA

Kategori : Fisiologis
Sub Kategori : Respirasi
0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
0002 Gangguan Penyapihan Ventilator
0003 Gangguan Pertukaran Gas
0004 Gangguan Ventilasi Spontan
0005 Pola Napas Tidak Efektif
0006 Risiko Aspirasi
BERSIHAN JALAN NAPAS

Definisi
Ketidakmampuan membersihkan
sekret atau obstruksi jalan napas
untuk mempertahankan jalan
napas tetap paten.
GANGGUAN PENYAPIHAN VENTILATOR
Definisi:
Ketidakmampuan beradaptasi dengan pengurangan
bantuan ventilator mekanik yang menghambat dan
memperlama proses penyapihan

GANGGUAN PERTUKARAN GAS


Definisi:
Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau
eliminasi CO2 pada membran alveolus-kapiler
GANGGUAN VENTILASI SPONTAN

Definisi Penurunan cdangan energi yang


mengakibatkan individu tidak mampu bernapas
dengan adekuat

POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF


Definisi inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak
memberikan ventilasi adekuat

RISIKO ASPIRASI
Berisiko mengalami masuknya sekresi gastrointestinal,
sekresi orofaring, benda cair, atau padat ke dalam
saluran trakheobronkial akibat disfungsi mekanisme
protektif saluran napas
ANAMNESIS GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN
JENIS POLA NAPAS
CHEST SHAPES
PALPATING THE CHEST
CHEST EXCURTION
TACTILE FREMITUS
CHEST PERCUSSION

Bronchial sounds heard outside
of their normal locations: Fluid or
AUSCULTATION consolidated tissue, such as in pneumonia.
Diminished breath sounds: Thick, obese, or
muscular chest wall, poor inspiratory effort,
emphysema with air trapping, pleural
effusion.
Absent breath sounds: Missing lung/lobe,
airway obstruction, pneumothorax.
Crackles/rales:Pulmonary edema,
pneumonia, atelectasis, and upon arising in
elderly people.
Velcro rales: Pulmonary fibrosis.
High-pitched, sibilant wheezes:
Bronchospasm, asthma, COPD without
infection.
Low-pitched sonorous wheezes/rhonchi:
Uncleared secretions, bronchitis,
pneumonia,tumors.
Stridor: Laryngeal or tracheal obstruction,
epiglotitis, viral croup.
Pleural friction rub: Inflammation of pleura.
Suara bronkial terdengar di luar lokasi normal mereka: Jaringan cairan atau
gabungan, seperti pada pneumonia.
Suara nafas yang berkurang: Dinding dada yang tebal, gemuk, atau berotot, usaha
inspirasi yang buruk, emfisema dengan perangkap udara, efusi pleura.
Suara napas tak ada: Hilangnya paru-paru / lobus, sumbatan jalan nafas,
pneumotoraks
Retak / rales: Edema paru, pneumonia, atelektasis, dan pada saat timbul pada
orang tua.
Rompi velcro: fibrosis paru.
Nyeri bernada tinggi, sibilant: Bronkospasme, asma, PPOK tanpa infeksi.
Obsesi nyaring / rhonchi bernada rendah: Sekresi tak jelas, bronkitis, radang paru-
paru, tumor.
Stridor: Obstruksi laring atau trakea, epiglotitis, kelompok virus.
Gesekan gesekan pleura: Peradangan pleura

NORMAL BREATH SOUNDS

ABNORMAL BREATH SOUNDS
1. Rales/ Crackles
Rales or crackles are discontinuous sounds resulting
from air bubbling through moisture in the alveoli or from
collapsed alveoli popping open. Crackles tend to occur at
the end of inspiration, in the terminal bronchioles and
alveoli.
Rales associated with long-standing chronic lung disease
or with interstitial pulmonary fibrosis
Rales atau crackles adalah suara terputus-putus
akibat gelembung udara melalui kelembaban
di alveoli atau dari alveoli yang roboh yang
terbuka. Crackles cenderung terjadi pada
akhir inspirasi, di terminal bronchioles dan
alveoli.
Rales terkait dengan penyakit paru kronis yang
sudah berlangsung lama atau dengan fibrosis
paru interstisial
2. Rhonchi/Wheezes
Wheezes are continuous sounds caused by the
narrowing of an airway by spasm, inflammation,
mucus secretions, or a solid tumor. Pitch is
determined by the relative tightness/narrowness
of the airway. For example, in asthma, tightly
constricted small airways produce very high-
pitched, or sibilant, wheezes.

Wheeze
3. Stridor
Stridor is a harsh, high-pitched, continuous
honking sound resulting from an upper airway
obstruction, a partial obstruction, or a spasm
of the trachea or larynx. A person with stridor
is usually in acute respiratory distress and
requires immediate intervention.
4. Friction Rub
A friction rub is different from all other adventitious sounds,
because it occurs between the pleural layers, not in the
lung. It results from the rubbing together of the parietal
and visceral layers of an inflamed pleura, which produces
a high-pitched grating or squeaking sound. The rub may
occur during both inspiration and expiration, but because
it is not in the lung, it will never be affected by coughing. A
pleural friction rub is associated with pleuritis, so people
often complain of pain in the area of the rub, especially
with deep inspiration
TEMUAN UMUM PADA BBRP PENYAKIT SISTEM PERNAPASAN

1. ASTHMA
Use of accessory muscles
Intercostal and supraclavicular retraction
Chest tightness
Dyspnea, respiratory rate >30/min
Increased pulse with PVCs, increased or decreased BP
Pulsus paradoxus >12 mmHg
Crackles, rhonchi, wheezes, decreased or absent
breath sounds
Early in diseaseexpiratory wheezes
Late in diseaseinspiratory and expiratory wheezes
Hyperresonance
Decreased tactile fremitus
Decreased chest excursion

2. BRONCHITIS
Increased AP diameter
Increased costal angle
Increased use of accessory muscles
Cardiac enlargement
Decreased excursion
Decreased tactile fremitus
Hyperresonance at bases, dullness over exudate
areas
Crackles, rhonchi, wheezes
Breath sounds decreased at bases
3. EMPHYSEMA
Rapid, shallow respiration
Use of accessory muscles
Distant heart sounds, right-sided S3
Tachycardia with arrhythmias
Hyperresonance at bases or in all lung fields
Decreased excursion
Decreased tactile fremitus
Increased AP diameter
Increased costal angle
Decreased breath sounds
4. Lung Cancer
Change in respiratory pattern
Wheezes
Decreased breath sounds over affected lung
Chest, shoulder, or arm pain
5. Pleural Effusion
Decreased excursion on affected side
Decreased tactile fremitus on affected side
Dullness on percussion
Decreased or absent breath sounds
Friction rub with initial inflammation; rub disappears as fluid develops
6. Pneumonia
Tachypnea
Use of accessory muscles
Asymmetrical chest movement
Decreased excursion
Increased tactile fremitus
Crackles, rhonchi
Bronchial breath sounds
Positive bronchophony
Dullness on percussion
7. Pneumothorax
Asymmetrical excursion
Decreased fremitus
Hyperresonance
Absent breath sounds
8. Tuberculosis
Dyspnea.
Productive cough with nonpurulent, blood-streaked
sputum.
Hemoptysis.
Pleuritic or dull chest pain.
Chest tightness.
ALTERATIONS IN RESPIRATORY FUNCTION

Tujuan ventilasi adalah untuk menghasilkan


tekanan CO2 arteri normal (PaCO2) antara
35-45 mmHg dan mempertahankan
tegangan O2 arterial normal (PaO2) antara
95-100
Mengurangi dampak dari ventilasi atau
transport O2
NURSING PROCESS

Assessment
1. Riwayat Kesehatan
2. Pemeriksaan fisik
3. Test Diagnostik
4. Pemeriksaan Darah
ASSESSMENT: NURSING HISTORY

Clients ability to meet


oxygen needs
Pain Environmental Exposure
Fatigue Respiratory Infections
Smoking Allergies
Dyspnea Health Risks
Orthopnea Medications
Cough
Wheezing
Altered breathing
patterns
PHYSICAL EXAM

1. Inspection
2. Palpation
3. Percussion
4. Auscultation
INSPECTION OF
CARDIOPULMONARY STATUS
1. Cyanotic mucous membranes
2. Pursed lip breathing
3. Jugular neck vein distention
4. Nasal faring
5. Use of accessory muscles
6. Peripheral or central cyanosis
7. Edema
8. Clubbing of fingertips
9. Altered breathing patterns
10.Pale conjunctivae
Marked clubbing of the nails.
25 Clubbing

Clubbing nails
PALPATION

Palpasi untuk thoracic excursion


Palpasi denyut nadi perifer
Palpasi suhu kulit, CRP
Palpasi ekstremitas bawah adanya edema
perifer
AUSCULTATION

Identification of normal and abnormal


breath sounds
Blood Pressure
Heart sounds S1, S2
Abnormal heart sounds
Murmurs
Bruits
DIAGNOSTIC TESTS
Pulmonary function
tests
EKG Chest x-ray
Holter Monitor Arterial blood gases
Stress tests Bronchoscopy
Echocardiogram Thoracentesis
Cardiac cath CT Scan/MRI
Transesophageal Ventilation/Perfusion
Echocardiography (TEE) Scan
BRONCHOSCOPY/THORACENTESIS
LAB STUDIES

Elektrolit Sputum culture


Enzim jantung Throat culture
Brain Natriuretic AFB
Peptide (BNP)
Cytology
Lipid Profile
Coagulation Studies
CBC
Troponin
D Dimer
C reactive protein
NURSING DIAGNOSIS

1. Activity Intolerance
2. Ineffective Tissue Perfusion
3. Decreased Cardiac Output
4. Impaired Gas Exchange
5. Ineffective Airway Clearance
6. Ineffective Breathing Pattern
7. Fatigue
8. Anxiety
PLANNING FOR CARE

1. Develop goals and outcomes


2. Set Priorities
3. Select appropriate interventions
4. Collaborate
5. Involve patient and family in care
IMPLEMENTATION:
HEALTH PROMOTION/PREVENTION

1.Vaccinations
2.Healthy Lifestyle
3.Environmental pollutants
IMPLEMENTATION: ACUTE CARE

1. Dyspnea Management
2. Airway Management
3. Mobilization of Airway Secretions
4. Maintenance and Promotion of Lung
Expansion
5. Maintenance and Promotion of Oxygenation
6. Breathing Exercises
7. Hydration
DYSPNEA MANAGEMENT

1. Treat underlying disease process and add


additional therapies as needed:
2. Pharmacological agents
3. Oxygen therapy
4. Physical techniques
5. Psychosocial techniques
AIRWAY MAINTENANCE
MOBILIZATION OF SECRETIONS
1. Hydration
2. Humidification
3. Nebulization
4. Coughing techniques
5. Chest physiotherapy (CPT)
6. Postural drainage
7. Suctioning
8. Artificial airways
SUCTIONING

1. Oropharyngeal
2. Nasopharyngeal
3. Orotracheal
4. Nasotracheal
5. Tracheal
PROMOTION OR MAINTENANCE OF LUNG
EXPANSION

Positioning of patient
Incentive Spirometer
Chest tubes
OXYGEN THERAPY

1. Goal is to prevent or relieve hypoxia


2. Not a substitute for other treatment
3. Treated as a drug
4. Safety precautions
TUJUAN PEMBERIAN OKSIGEN

1. Mencegah terjadinya hipoksia


2. Membantu kelancaran metabolisme
3. Sebagai tindakan pengobatan
4. Mengurangi beban kerja alat nafas dan
jantung
METHODS OF O2 DELIVERY

1. Nasal cannula-1-4 liters/min


2. Oxygen Mask-Simple face mask,
Venturi mask, Non-rebreather
face mask, Rebreather mask
3. Home Oxygen Therapy
Patofisiologi

Inisiasi
Aerosol Basil berdiam di alveoli Makrofag pecah
sistem
yang dan diliputi oleh makrofag dan mengeluarkan
imuniti
terinfeksi alveolar bakteri
innate

terhirup bertahan Pertumbuhan logaritme yang


berlipat ganda setiap 24 jam

Makrofag Bergerak ke arah basil Siklus ulangan


baru
Patofisiologi

Sistem limfatik atau Setelah Tubuh membentuk


Basil Bagian tubuh
sistemik 3 minggu imuniti spesifik
lain
terhadap bakteri

Ikatan MTb Bergerak ke lokasi Mengelilingi dan


dan limfosit infeksi mengaktifasi
spesifik makrofag
PATOFISIOLOGI DENGAN KORELASI KLINIS

Sel makrofag yang tidak dapat mencerna bakteri


sel epiteloid granuloma (fokus Gohn) dapat
melibatkan kelenjar limfe (kompleks Gohn)

Setelah 2 -3 minggu, terbentuk nekrosis


jaringan membentuk pengejuan akibat O2
rendah, pH turun dan nutrisi yang
berkurang.
nekrosis

Imun adekuat Imun tidak


adekuat

Tjd kalsifikasi
Tidak sukses lalu
dan fibrosis
tjd fibrosis

Sukses mengontrol Liquefaction dan


infeksi dinding fibrous
kehilangan integritas
Basil dorman strukturnya

Lesi sembuh Fibrous Lepas

Necrotic
semiliquid
Necrotic semiliquid Mukus

Dikeluarkan sebagai + jar.granulasi,ulserasi,


Menyebar Pemb.drh di
sputum mukopurulen bronkostenosis
secara sekitar
purulen
hematogen kaverne
wheezing
Jaringan
radang
Ke otak membentuk
kavitas / kaverne
Aneurisma
Meningitis Sekret dalam bronkus
kraussman

pecah Suara tambahan


berupa ronki
basah
Batuk
darah
Fibrosis pada parenkim paru Penyempitan sal.nafas
dengan sal.pernafasan yang
masih terbuka
dispnea

Penghantaran
getaran suara Ronki kering
meningkat

Tambah dengan kavitas


Fremitus akan menyebabkan
suara hollowing sound sampai
meningkat amforik.

Bila mengenai trakea dan bronkus


Suara nafas menjadi
bronkovesikuler atau maka suara >> dan sering berulang
bronkial didapatkan ulang. Bila mengenai laring
bronkofoni atau suara bisik terdengar hollowing sound cough,
yang disebut whispered batuk tanpa tenaga tetapi ada suara
pectoriloque
serak.
NYERI DADA

Neutrofil di pleura kallikrein

Kininogen Kinin

Mendorong Merangsang
sistem kemotaksis
peningkatan reseptor nyeri di
komplemen
permeabilitas pleura parietal
kapiler

N.Splanknikus pleksus brakialis


Dan
N.interkostalis

NYERI DADA
DEMAM DAN ANEMIA DEF. BESI

Fagosit pelepasan pirogen endogen


Bila masuk ke
Keluarkan
dalam
prostagandin
peredaran
darah
Meningkatkan setpoint di
hipotalamus

Kebutuhan bakteri akan besi meningkat


karena suhu tubuh naik

Kadar Fe dalam plasma Anemia def.besi


turun
Penularan Tuberkulosis
Penularan MTb terjadi melalui udara (airborne) yang menyebar
melalui partikel percik renik (droplet nuclei) saat seseorang
batuk, bersin, berbicara, berteriak atau bernyanyi.
Percik renik ini berukuran 1- 5 mikron dan dapat bertahan di
udara selama beberapa jam sampai beberapa hari sampai
akhirnya ditiup angin.
Penularan Tuberkulosis
Infeksi bila seseorang menghirup percik renik yang
mengandung MTb dan akhirnya sampai di alveoli.
Gejala timbul beberapa saat setelah infeksi, umumnya
setelah respons imun terbentuk 2-10 minggu setelah
infeksi.
Sejumlah kuman tetap dorman bertahun-tahun yang
disebut dengan infeksi laten.
Penularan Tuberkulosis
Keadaan yang dapat meningkatkan risiko penularan:
TB Paru atau Laringitis TB
Batuk produktif
BTA positif
Kavitas
Tidak menutup hidung atau mulut saat batuk dan bersin
Tidak mendapat OAT
Tindakan intervensi (induksi sputum, bronkoskopi,
suction)
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan fisik
Pada tahap dini sulit diketahui
Ronchi basah, kasar dan nyaring.
Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas
yang cukup
Pada keadaan lanjut atropi dan retraksi
interkostal dan fibrosis
Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura
(perkusi memberikan suara pekak).
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Sputum culture : positif untuk mycobakterium
tuberculosis pada stadium aktif
Ziehl Neelsen (azid-fast Staind applied to
smear of body fluid) : positif untuk BTA
Skin test (PPD,Mantoux, tine, vollmer patch) :
reaksi positif ( area indurasi 10 mm atau
lebih, timbul 48 72 jam setelah injeksi
antigen intradermal) mengindikasikan infeksi
lama dan adanya natibodi tidak
mengindikasikan penyakit sedang aktif.
Elisa /western blot : dapat menunjukkan adanya
HIV
Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi
kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian
atas, deposit kalsium pada lesi primer yang
membaik atau cairan pada effusi.
Perubahan mengindikasikan TB yang lebih
beratv dapat mencakup area berlubang dan
fibrous.
Histologi atau culture jaringan ( termasuk
kumbah lambung, urine dan CSF, biopsi kulit ) :
positif untuk mycobacterium tuberculosis.
Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk
granuloma TB, adanya sel-sel besar yang
mengindikasikan nekrosis.
Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari
lokasi dan beratnya infeksi : misalnya
hiponatremia mengakibatkan retensi air,
mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut.
ABGs : mungkin abnormal, tergantung lokasi,
berat dan sisa kerusakan paru.
Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus
untuk melihat kerusakan bronchus atau
kerusakan paru karena TB.
Darah : lekositosis, LED meningkat.
Test Fungsi Paru : VC menurun, dead space
meningkat, TLC meningkat dan menurunnya
saturasi oksigen yang merupakan gejala
sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim
paru dan penyakit pleura.
PENATALAKSANAAN

Tujuan :

1. Menyembuhkan penderita

2. Mencegah kematian

3. Mencegah kekambuhan

4. Menurunkan risiko penularan


PRINSIP PENGOBATAN

1. Obat kombinasi dari beberapa obat


2. Jumlah cukup
3. Dosis tepat
4. Waktu 6 8 bulan
PENGOBATAN TB
DIBERIKAN DALAM 2 TAHAP

1. Tahap intensif

2. Tahap lanjutan
TAHAP INTENSIF

Obat setiap hari


Diawasi langsung mencegah kekebalan obat
Penderita menular tidak menular dalam waktu 2
minggu
Penderita BTA positif BTA negatif (konversi) pada
akhir pengobatan intensif
TAHAP LANJUTAN

Obat dalam jangka waktu lebih lama

Jenis obat lebih sedikit

Mencegah kekambuhan
KATEGORI 1 (2RHZE / 4H3R3)

Fase awal RHZE


Setelah 3 bulan masih (+)
pengobatan diteruskan, bila masih (+)
kategori 2 mulai dari awal
KATEGORI 2 (2RHZES / RHZE / 5H3R3E3)

Fase awal RHZE + streptomisin 60x Setelah


fase awal (3 bulan) BTA tetap (+) sisipan
tetap (+) fase lanjutan R3H3E3
KATEGORI 3 (2RHZ / 4H3R3)

FASE AWAL RHZ

FASE LANJUTAN R3H3


KATEGORI 1

1. TB paru, kasus baru, BTA positif

2. TB paru, BTA negatif, foto toraks lesi luas

3. TB ekstra paru berat


KATEGORI 2

1. Kasus kambuh

2. Kasus gagal

3. Kasus putus berobat


KATEGORI 3

1. TB paru, kasus baru, BTA negatif, foto toraks


lesi minimal
2. TB ekstra paru ringan
- TB kel. Limfe
- Pleuritis eksudativa unilat
- TB kulit
- TB tulang (kec tul belakang), sendi
- Kel adrenal
EFEK SAMPING
Ringan :
Merasakan tidak enak
Gejala ditanggulangi obat simptomatik
OAT diteruskan

Berat :
Serius
OAT stop
Rujuk