Anda di halaman 1dari 27

DINAMIKA RACUN DI DALAM

EKOSISTEM
DINAMIKA POLUTAN DI DALAM
EKOSISTEM

Mekanisme kerja suatu polutan/ zat terhadap


suatu organ sasaran pada umumnya melewati
suatu rantai reaksi yang dapat dibedakan
menjadi 3 fase utama :
a) Fase Eksposisi
b) Fase Toksokinetik
c) Fase Toksodinamik
( Lihat gambar 2.1.).
Skema dampak pencemaran polutan
terhadap makhluk hidup
( dimodifikasi dari : Holdgate, 1979)
2.1). Fase Eksposisi :
Merupakan ketersediaan biologis suatu
polutan di lingkungan dan hal ini erat
kaitannya dengan introduksi oleh manusia.
Selama fase eksposisi, zat beracun dapat
diubah melalui berbagai reaksi kimia/fisika
menjadi senyawa yang lebih toksis atau lebih
kurang toksis. Jalur intoksikasinya lewat
Oral, Saluran Pernafasan dan Kulit.
2. Fase Toksikokinetik
Dalam fase toksikokinetik bagian prosesnya
yaitu invasi (absorbsi dan distribusi) dan evasi
(biotransformasi dan ekskresi) sangat
menentukan daya kerja zat.
Jenis proses yang berperan:
Proses transpor, meliputi absorbsi, distribusi,
dan ekskresi
Perubahan metabolik, meliputi
biotransformasi
Toksikokinetik

Toksikokinetik (Determinasi
molekul oleh reseptor)
Absorbsi
Transport
Metabolism & transformation
Penyimpanan
ekskresi
3. Fase Toksikodinamik
Meliputi interaksi kimia antara molekul zat
toksikan dan tempat kerja spesifik (reseptor).

Konsentrasi zat aktif pada tempat sasaran


menentukan kekuatan efek biologi yang
dihasilkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat
polutan tersebut adalah atmosfer, air dan biota.
Transportasi dan transformasi zat/polutan di
lingkungan berhubungan erat dengan sifat-sifat
fisikokimia polutan; proses transportasi polutan di
lingkungan dan transformasi polutan yang terjadi di
lingkungan. Pemaparan bahan polutan ke
lingkungan akan mengalami berbagai proses
transformasi tergantung atas media transportasinya
antara lain air, udara, tanah dan biota ( Connel
Des. W . and Gregory J. Miller, 1984).
Gb. Interaksi xenobiotik dengan berbagai faktor di lingkungan (
Sumber : McKinney, 1981).
2.1.2.Media Transpor
Media transpor dapat berupa :
-Udara
-Air
-Tanah
-Makanan
-Organisme
-Rantai Makanan
-Dll
ROSES PERUBAHAN BENTUK
Proses perubahan bentuk polutan di perairan meliputi
hidrolisis,
fotolisis,
degradasi secara mikroorganisme dan
oksidasi.
PROSES BIODEGRADASI
Biotransformasi ( perubahan bentuk biologis) dan
biodegradasi polutan oleh mikroorganisme ( bakteri, jamur,
protozoa dan ganggang) merupakan proses pembuangan
dan perubahan yang penting dalam air, sedimen dan tanah.
Reaksi mencakup oksidasi, reduksi, hidrolisis dan terkadang
penataan ulang dan dipengaruhi oleh bangun molekul dan
kepekatan zat polutan, sifat alamiah mikroorganisme,
keadaan lingkungan dan suhu.
Dalam udara akan mengalami fotolisis,
reaksi; dalam air akan mengalami hidrolisis,
foto-lisis, degradasi oleh mikrobiota, oksidasi;
dalam tanah akan mengalami proses fotolisis,
degradasi dan pada biota akan mengalami
proses metabolisme.
Jika suatu polutan/zat kimia mengalami
kontak dengan suatu organisme, maka
terjadinya efek biologi atau efek toksis setelah
proses absorbsi polutan tersebut ke dalam
tubuh organisme.
Umumnya hanya bagian zat yang berada
dalam bentuk terlarut, terdispersi secara
molekul yang dapat diabsorbsi. Penyerapan
ini sangat ditentukan oleh faktor kadar zat
dan lamanya bersentuhan antara zat yang
terdapat dalam bentuk yang dapat
diabsorpsi dengan permukaan organisme
yang berkemampuan mengabsorbsi zat
tersebut. Pada pencemaran lingkungan,
bagian dosis yang dapat diabsorbsi
menentukan derajat eksposisi yang efektif
terhadap organisme.
Masuknya bahan-bahan yang bersifat
toksik ke suatu ekosistem akuatik
akan menimbulkan perubahan yang
dapat mempengaruhi kelangsungan
hidup organisme yang ada di
dalamnya. Perubahan ini juga
mempengaruhi fungsi dan kegunaan
air laut menjadi tidak sesuai lagi
dengan peruntukan-nya
Bila konsentrasi polutan yang
masuk terus bertambah maka akan
terjadi biokonsentrasi yaitu
peningkatan konsentrasi suatu
polutan dalam suatu ekosistem
LAJU POLUTAN DALAM EKOSISTEM LAUT
Polutan dapat masuk ke suatu lingkungan
dengan berbagai cara. Misalnya unsur logam
yang dapat masuk secara alami karena sudah
berada di bumi, batuan dan tanah secara
alamiah kemudian masuk ke lingkungan laut
melalui hujan dan erosi. Sumber lainnya adalah
melalui buangan industri, limbah rumah tangga,
pertanian
Polutan dapat masuk ke air dan sedimen dan
dapat mempengaruhi rantai makanan. Respon
yang timbul akan bermacam-macam, dari
tingkat organisme contohnya adalah efek
psikologis, patologis, penurunan kondisi
lingkungan, pertumbuhan, fekunditas dan
ketahanan hidup.
Pada tingkat populasi dapat menimbulkan
penurunan kelimpahan dan reproduksi dan pada
tingkat komunitas, dapat menimbulkan
penurunan keanekaragaman dan kepadatan
serta perubahan struktur tropik
BIOKONSENTRASI DAN BIOAKUMULASI
Biokonsentrasi merupakan kondisi peningkatan
konsentrasi polutan di lingkungan. Biasanya
kadar polutan akan di atas kadar normal yang
diperbolehkan. Organisme yang mengalami
pemaparan bahan toksik terus menerus akan
mengalami bioakumulasi
Bioakumulasi merupakan suatu proses dimana
substansi kimia mempengaruhi makhluk hidup
dan ditandai dengan peningkatan konsentrasi
bahan kimia di tubuh organisme dibandingkan
dengan konsentrasi bahan kimia itu di
lingkungan
bioakumulasi merupakan peningkatan
konsentrasi polutan yang diikuti perpindahan
dari lingkungan ke organisme pertama pada
rantai makanan.
Proses bioakumulasi melibatkan tahap-tahap antara
lain:
1. Pengambilan (Uptake), yaitu masuknya bahan-bahan
kimia (melalui pernafasan, atau adsorbsi melalui kulit,
pada ikan biasanya dapat melalui insang)
2. Penyimpanan (Storage), yaitu penyimpanan
sementara di jaringan tubuh atau organ. Kadar bahan
kimia ini akan terus bertambah di dalam tubuh
organisme dan bila kadarnya sampai melebihi kadar
bahan tersebut di lingkungan (air atau udara) maka
proses bioakumulasi telah terjadi;
3. Eliminasi, dapat berupa pemecahan bahan
kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana,
dapat dilakukan dengan proses biologik disebut
metabolisme