Anda di halaman 1dari 40

Dadan Sumiarsa

Kebisingan didefinisikan sebagai


"suara yang tak dikehendaki,
misalnya yang merintangi
terdengarnya suara-suara, musik
dsb, atau yang menyebabkan rasa
sakit atau yang menghalangi gaya
hidup.

Diantara pencemaran lingkungan


yang lain, pencemaran/polusi
kebisingan dianggap istimewa
dalam hal:
vancouver.ca/.../cclerk/970513/citynoisereport/

[1] Penilaian pribadi dan


penilaian subyektif sangat
menentukan untuk mengenali 2
Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam
satuan Desibel disingkat dB;

Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang


diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga
tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan
lingkungan;

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup


No. 48 Tahun 1996
Tentang : Baku Tingkat Kebisingan

3
1. Mempelajari Karakteristik Sumber Kebisingan :
- Identifikasi Sumber Kebsingan,
- Karakteristik kebisingan ,
Melengkapi Lingkup Prakiraan Dampak :
-Membatasi Wilayah Studi,
- Identifikasi Objek Penerima Dampak,
- Mengarahkan Prakiraan dampak
3. Mencermati Wilayah Studi :
-Mengukur Kualitas kebisingan lingkungan,
- Mengenali Karakteristik Fisik wilayah studi,
- Mempelajari Kondisi Meteorologi
4. Mensimulasi Rambatan Kebisngan :
-Memilih teknik simulasi, Menghitung tingkat kebisingan
-Membuat peta Isobell, Menghitung Tingkat kebisingan
5. Menilai Hasil Prakiraan Dampak
1. Mempelajari Karakteristik Sumber Kebisingan :
- Identifikasi Sumber Kebsingan,
- Karakteristik kebisingan ,
2. Melengkapi Lingkup Prakiraan Dampak :
-Membatasi Wilayah Studi,
- Identifikasi Objek Penerima Dampak,
- Mengarahkan Prakiraan dampak
3. Mencermati Wilayah Studi :
-Mengukur tingkat kebisingan lingkungan,
- Mengenali Karakteristik Fisik wilayah studi,
- Mempelajari Kondisi Meteorologi
4. Mensimulasi Rambatan Kebisngan :
-Memilih teknik simulasi, Menghitung tingkat kebisingan
-Membuat peta Isobell, Menghitung Tingkat kebisingan
5. Menilai Hasil Prakiraan Dampak
GELOMBANG LONGITUDINAL: ARAH
PENJALARAN SEARAH DENGAN ARAH
PARTIKEL YANG BERGETAR
MEMERLUKAN MEDIA UNTUK MERAMBAT
(GELOMBANG TEKAN)

MAMPAT RENGGANG
Besaran bunyi : FREKUENSI dan INTENSITAS (ARUS ENERG

Frekuensi dinyatakan dalam Hertz, Hz :


Jumlah getaran dalam satu detik yang sampai ke telinga

Intesitas dinyatakan dalam dB :


Perbandingan antara kekuatan dasar bunyi (0,0002
dyne/cm) dengan frekuensi (1000 Hz) yang tepat dapat
didengar
L = logoleh telinga
Q/Qo (bel)normal
= 10 lo Q/Qo (desibel)
Q = tekanan yang terukur (Pascal)
Qo = tekanan referens (0,00002 Pascal)

Misal Suara Mesin pada 25 m, tekanan suara


200 Pascal, maka tingkat kebisingan
L = 10 log 200/0,00002
= 70 dB
Klasifikasi Kebisingan
a. Intermiten noise : kebisingan terputus-putus
Kebisingan dimana suara timbul dan menghilang secara
perlahan-lahan
Contoh : kebisingan yang ditimbulkan oleh suara pesawat
terbang yang tinggal landas dan kendaraan bermotor

b. Steady state noise : kebisingan kontinyu


Contoh : suara kompresor, kipas angin, katup gas
c. Impact noise (kebisingan hentakan) :
Bunyi yang mempunyai perubahan-perubahan besar
dalam octav band
Contoh : suara pukulan palu, suara tembakan senapan,
ledakan bom
Sumber Kebisingan

1. Kebisingan yang ditimbulkan oleh Industri


Mesin produksi
Mesin potong
Ketel uap atau boiler
Mesin diesel
2. Kebisingan Transportasi
Arus lalu lintas
Pesawat terbang
Kereta api
Source/Activity Indicative noise level dB (A)
Threshold of hearing 0
Rural night-time background 20-40
Quiet bedroom 35
Wind farm at 350m 35-45
Busy road at 5km 35-452
Car at 65 km/h at 100m 55
Busy general office 60
Conversation 60
Truck at 50km/h at 100m 65
City traffic 90
Pneumatic drill at 7m 95
Jet aircraft at 250m 105
Threshold of pain 140
DI UDARA: v = 344 m/s (22 0C)
DI AIR: v = 1.410 m/s (22 0C)

DI ZAT PADAT (BAJA): v = 5.000 m/s

Kecepatan Bunyi dipengaruhi pula oleh


temperatur:

c 20 273 x C o
GANGGUAN PENDENGARAN
GANGGUAN KOMUNIKASI
MENYEBABKAN RASA NYERI (>130 dB (A)
CACAT PENDENGARAN (GELOMBANG
IMPULSIF)
RASA TIDAK NYAMAN & STRESS (<10 Hz
ATAU >20.000 Hz)
1. Mempelajari Karakteristik Sumber Kebisingan :
- Identifikasi Sumber Kebsingan,
- Karakteristik kebisingan ,
2. Melengkapi Lingkup Prakiraan Dampak :
-Membatasi Wilayah Studi,
- Identifikasi Objek Penerima Dampak,
- Mengarahkan Prakiraan dampak
3. Mencermati Wilayah Studi :
-Mengukur tingkat kebisingan lingkungan,
- Mengenali Karakteristik Fisik wilayah studi,
- Mempelajari Kondisi Meteorologi
4. Mensimulasi Rambatan Kebisngan :
-Memilih teknik simulasi, Menghitung tingkat kebisingan
-Membuat peta Isobell, Menghitung Tingkat kebisingan
5. Menilai Hasil Prakiraan Dampak
1. Mempelajari Karakteristik Sumber Kebisingan :
- Identifikasi Sumber Kebsingan,
- Karakteristik kebisingan ,
2. Melengkapi Lingkup Prakiraan Dampak :
-Membatasi Wilayah Studi,
- Identifikasi Objek Penerima Dampak,
- Mengarahkan Prakiraan dampak
3. Mencermati Wilayah Studi :
-Mengukur tingkat kebisingan lingkungan,
- Mengenali Karakteristik Fisik wilayah studi,
- Mempelajari Kondisi Meteorologi
4. Mensimulasi Rambatan Kebisngan :
-Memilih teknik simulasi, Menghitung tingkat kebisingan
-Membuat peta Isobell, Menghitung Tingkat kebisingan
5. Menilai Hasil Prakiraan Dampak
1. Metoda Pengukuran
1) Cara Sederhana
Sound level meter db (A) selama 10 (sepuluh) menit untuk tiap pengukuran.
Pembacaan dilakukan setiap 5 (lima) detik.

2) Cara Langsung
Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas
pengukuran LTMS, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan
pengukuran selama 10 (sepuluh) menit.

LSM : Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM)


Siang hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 10 jam (LS) : 06.00 - 22. 00
Malam hari selama 8 jam (LM) pada selang 22.00 - 06.00.
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NO. 48 TAHUN 1996 TANGGAL 25 NOPEMBER 1996
METODA PENGUKURAN, PERHITUNGAN DAN EVALUASI TINGKAT KEBISINGAN
LINGKUNGAN

1. Metoda Pengukuran
Pengukuran tingkat kebisingan dapat diiakukan dengan dua cara :
1) Cara Sederhana
Dengan sebuah sound level meter biasa diukur tingkat tekanan bunyi db (A)
selama 10 (sepuluh) menit untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan
setiap 5 (lima) detik.
2) Cara Langsung
Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas
pengukuran LTMS, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan
pengukuran selama 10 (sepuluh) menit.
Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM) dencan cara pada siang
hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 10 jam (LS) pada selang waktu
06.00 - 22. 00 dan aktifitas dalam hari selama 8 jam (LM) pada selang 22.00 -
06.00.
Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan
menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan pada malam
hari paling sedikit 3 waktu pengukuran, sebagai contoh :
- L1 diambil pada jam 7.00 mewakli jam 06.00 - 09.00
- L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 - 11.00
- L3 diambil pada jam 15.00 mewakili jam 14.00 - 17.00
- L4 diambil pada jam 20.00 mewakili jam 17.00.- 22.00
- L5 diambil pada jam 23.00 mewakili jam 22.00 - 24.00
- L6 diambil pada jam 01.00 mewakili jam 24.00 - 03.00
- L7 diambil pada jam 04.00 mewakili jam 03.00 - 06.00
Keterangan :
- Leq : Equivalent Continuous Noise Level atau Tingkat Kebisingan Sinambung
Setara ialah nilai tertentu kebisingan dari kebisingan yang berubah-ubah
(fluktuatif selama waktu tertentu, yang setara dengan tingkat kebisingan dari
kebisingan yang ajeg (steady) pada selang waktu yang sama.
Satuannya adalah dB (A).
- LTMS = Leq dengan waktu sampling tiap 5 detik
- LS = Leq selama siang hari
- LM = Leq selama malam hari
- LSM = Leq selama siang dan malam hari. 17
35,6 40,0 44,4 35,2 45,1 55,0 64,9 74,8 73,5 67,9 64,7 64,4
47,7 36,6 38,7 44,1 49,5 54,9 60,3 65,6 65,3 65,0 64,7 64,4
59,8 41,0 36,9 32,8 38,7 60,2 55,7 56,4 57,1 57,8 67,5 77,2

71,9 60,8 35,1 42,1 49,7 57,3 44,7 58,8 72,9 57,0 70,3 73,6
72,0 42,0 37,6 40,0 42,4 54,4 56,3 48,2 55,1 62,0 73,1 54,9
56,9 73,0 40,1 54,6 35,1 51,5 67,9 54,2 66,0 77,8 75,5 73,2
41,8 43,0 42,6 69,2 42,8 48,6 54,4 60,2 76,9 71,8 77,9 70,9
38,1 41,2 44,3 47,4 50,5 45,7 80,0 66,2 67,9 65,8 80,3 68,6
40,0 43,4 46,0 47,4 50,5 52,7 54,9 54,9 69,8 59,8 79,3 66,3
41,9 43,2 44,5 45,8 42,3 46,5 50,7 54,9 71,7 53,8 78,3 64,0
1. Hitung range (r) Max Min
80,3 - 32,8 = 47,5
2. Hitung jml kelas (k) 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log120 = 7,86
3. Hitung interval kelas (i) r/k
= 47,5/7,86 = 6,1
4. Buat distribusi frekuensi
No. Interval Bising Nilai Tengah Frekuensi
1. 32,8 38,7 35,8 11
2. 38,8 44,7 41,8 22
3. 44,8 50,7 47,8 15
4. 50,8 56,7 53,8 17
5. 56,8 62,7 59,8 13
6. 62,8 68,7 65,8 18
7. 68,8 74,7 71,8 14
8. 74,8 80,7 77,8 10
Hitung LTM5
= 10 log 1/n Tn.100,1Ln
= 10 log 1/120 (Ti.100,1Li + . + Tj.100,1Lj)
= 10 log 1/120 (11.100,1.35,8 + . + 10.100,1.77,8)
= 10 log 1/120 (890354002)
= 68,70 dBA
ALAT UKUR
Integrating Sound Level Meter yang
mempunyai fasilitas pengukuran LSM, yaitu
Leq dengan mengukur setiap 5 detik
dilakukan pengukuran selama 10 menit.
Contoh :
- Sound Level Meter Type Rion NL-05
- Noise Logging Dose Meter Type M-28

- dll
2. Metode perhitungan:
(dari contoh)

LS dihitung sebagai berikut :


LS = 10 log 1/16 ( T1.10 01L5 +.... +T4.1001L5) dB (A)
LM dihitung sebagai berikut :
LM = 10 log 1/8 ( T5.10 01L5 +.... +T7.1001L5) dB (A)

Untuk mengetahui apakah tingkat kebisingan sudah melampaui tingkat kebisingan


maka perlu dicari nilai LSM dari pengukuran lapangan. LSM dihitung dari rumus :
LSM = 10 log 1/24 ( 16.10 01L5 +.... +8.1001L5) dB (A)

3. Metode Evaluasi
Nilai LSM yang dihitung dibandingkan dengan nilai baku tingkat kebisingan yang
ditetapkan dengan toleransi +3 dB(A)

23
TINGKAT KEBISINGAN
PERUNTUKAN KAWASAN/LINGKUNGAN KEGIATAN
dB (A)
A. PERUNTUKAN KAWASAN:
1. PERUMAHAN 55
2. PERDAGANGAN & JASA 70
3. PERKANTORAN & PERDANGANGAN 65
4. RUANG TERBUKA HIJAU 50
5. INDUSTRI 70
6. PEMERINTAHAN DAN FASILITAS UMUM 60
7. REKREASI 70
8. KHUSUSNYA
BANDAR UDARA, STASIUN KERETA API & 70
PELABUHAN LAUT
CAGAR BUDAYA 60
B. LINGKUNGAN KEGIATAN
1. RUMAH SAKIT ATAU SEJENISNYA 55
2. SEKOLAH ATAU SEJENISNYA 55
3. TEMPAT IBADAH ATAU SEJENISNYA 55
BAKU TINGKAT
ZONA KAWASAN KEBISINGAN
dB (A)
A KAWASAN PENELITIAN, RUMAH SAKIT, 35 - 45
PERAWATAN KESEHATAN ATAU SOSIAL
B KAWASAN PERUMAHAN, PENDIDIKAN 45 55
DAN REKREASI

C KAWASAN PERKANTORAN, 50 60
PERTOKOAN, PERDAGANGAN &
PASAR
D KAWASAN INDUSTRI, PABRIK, STASIUN 60 - 70
KERETA API DAN TERMINAL BUS
Mengenali Karakteristik fisik wilayah studi
--Kondisi Geografis
--Tataguna lahan
--Mempelajari kondisi meteorologi

c = kecepatan suara
u = kecepatan angin
t = temperatur udara

Udara yang lembab, berarti banyak partikel air (H2O) di udara.


partikel air tersebut tentu dapat meredam gelombang yang ada
di udara, sehingga tingkat kebisingan berkurang.
Artinya, makin lembab, makin kecil tingkat kebisingan.
1. Mempelajari Karakteristik Sumber Kebisingan :
- Identifikasi Sumber Kebsingan,
- Karakteristik kebisingan ,
2. Melengkapi Lingkup Prakiraan Dampak :
-Membatasi Wilayah Studi,
- Identifikasi Objek Penerima Dampak,
- Mengarahkan Prakiraan dampak
3. Mencermati Wilayah Studi :
-Mengukur tingkat kebisingan lingkungan,
- Mengenali Karakteristik Fisik wilayah studi,
- Mempelajari Kondisi Meteorologi
4. Mensimulasi Rambatan Kebisngan :
-Memilih teknik simulasi, Menghitung tingkat
kebisingan
-Membuat peta Isobell, Menghitung Tingkat
kebisingan
5. Menilai Hasil Prakiraan Dampak
Tingkat kebisingan berkurang sesuai dengan jaraknya

Model Matematika:

1. Sumber Titik:
L1 L2 = 20 log S2/S1
L1 = Tingkat kebisingan pada sumber pada jarak S1
L2 = Tingkat kebisingan yang diterima oleh pendengar pada jarak S2
Konstruksi , tingkat kebisingan menurun antara 6 and 7.5 dBA setiap 2 kali jarak dari
sumber.
2. Sumber Garis:
L1 L2 = 10 Log S2/S1

3. n sumber
n
L total = 10 * log ( 10 Li/10) dBA
I=1

Kebisingan di jalan raya, tingkat kebisingan menurun 3


dBA melewati hard ground, dan 4,5 dBA jika melewati sof
ground (rumput) setiap 2 kali pertambahan jarak. Antara
INVERSI SQUARE LAW:
LP LW 20 log r 11

KEBISINGAN LALULINTAS (metoda NCHRP)


L 42,3 10,2 log(Vm 6Vt ) 13,9 log D 0,13S

KEBISINGAN LALULINTAS HARIAN:


Tr
L 31 10,2 logVRH (1 ) 13,9 log D 0,13S
20
SUMBER KEBISINGAN
MEDIA TRANSMISI
PENERIMA BISING
MODIFIKASI MESIN
PENEMPATAN ALAT PETERAM PADA
SUMBER GETARAN
ISOLASI MESIN SUMBER KEBISINGAN
PADA RUANGAN TERTENTU
PEMAKAIAN BAHAN PEREDAM SUARA:
IJUK ATAU BUSA
PEMASANGAN BARRIER: BETON,
GUNDUKAN TANAH & BAJA DGN
GEOMETRI TERTENTU, GREEN BELT
TUTUP TELINGA (MAMPU MENURUNKAN
INTENSITAS KEBISINGAN HINGGA 25-40
dB)
PENYUMBAT TELINGA (BAHAN KARET:
18-25 dB, COTTON WOOL: 8 dB )
VIBRASI MEKANIK YANG MENJALAR
MELALUI ZAT PADAT
VIBRASI YANG MENJALAR PADA MEDIA
AIR & UDARA DISEBUT VIBRASI AKUSTIK
VIBRASI DAPAT BERSIFAT ALAMI
MAUPUN BUATAN
VIBRASI AKUSTIK DAPAT MENGGANGGU
PENDENGARAN
VIBRASI MEKANIK (1-20 Hz) TIDAK
MENGGANGGU PENDENGARAN.
DAMPAK VIBRASI MEKANIK THD
KESEHATAN KERJA TERKAIT DENGA
WAKTU PEMAPARAN DAN INTENSITAS
VIBRASI YANG MENJALAR MELALUI
TUNGKAI ATAS BERSIFAT LOKAL
VIBRASI YANG MENJALAR PADA TUNGKAI
BAWAH (OTOT DAN TULANG PINGGUL
AKAN DIRASAKAN OLEH SELURUH TUBUH
DAMPAK LANJUT: MUAL, MUNTAH, SAKIT
KEPALA, JANTUNG BERDEBAR-DEBAR,
INGIN KENCING, DAN BUANG AIR BESAR
SUMBER GETARAN: MEREDUKSI IMPACT,
TRANSMITTED DAN BALLANCED FORCES DAN
EKSITASI DENGAN PEREDAM DAN MEREDUKSI
GERAKAN PADA TITIK PENGHUBUNG
MEDIA PENJALARAN: MEMOTONG JALUR
TRANSMISI GETARAN ( DISCONTINUES IN
TRANMISSION PATH), PENEBARAN ENERGI DAN
DISIPASI PADA MEDIA TRANSMISI
PENERIMA GETARAN: PENAMBAHAN BAHAN
PENERIMA GETARAN & ISOLASI GETARAN)
TINGKAT GETARAN (10-6 m)
FREQUENSI
(Hz) TIDAK TIDAK MENYAKIT-
MENGGANGGU
MENGGANGGU NYAMAN KAN
4 < 100 100-500 > 500-1000 > 1000
5 < 80 80-350 >350-1000 > 1000
63 < 70 70-275 > 275-1000 > 1000
8 < 50 50-160 > 160-500 > 500
10 < 37 37-120 > 120-300 > 300
12,5 <32 32-90 > 90-220 > 220
16 < 25 25-60 > 60-120 > 120
20 < 20 20-40 > 40-85 > 85
25 < 17 17-30 > 30-50 > 50
31,5 < 12 12-20 > 20-30 > 30
40 < 9 9-15 > 15-20 > 20
50 < 8 8-12 >12-15 > 15
63 < 6 6-9 > 9-12 > 12
PARAM FREQ TINGKAT GETARAN (10-6 m)
ETER (Hz) KATEGORI A KATEGORI B KATEGORI C KATEGORI D
KEC 4 <2 27 > 27-140 > 140
(mm/s) 5 < 7,5 < 7,5-2,5 > 25 130 > 130
FREQ 6,3 <7 < 7 21 > 21 110 > 110
(Hz) 8 <6 < 6 19 > 19 100 > 100
10 < 5,2 < 5,2 16 > 16 90 > 90
12,5 < 4,8 < 4,8 15 > 15 80 > 80
16 <4 < 4 14 > 14 70 > 70
20 < 3,8 < 3,8 12 > 12 67 > 67
25 < 3,2 < 3,2 10 > 10 60 > 60
31,5 <3 <39 > 9 53 > 53
40 <2 <28 > 8 50 > 50
50 <1 <1-7 > 7 - 42 > 42

KATEGORI A: TIDAK MENIMBULKAN KERUSAKAN


KATEGORI B: KEMUNGKINAN KERETAKAN PLESTERAN (RETAK/TERLEPAS PADA
DINDING PEKUL BATAS
KATEGORI C: KEMUNGKINAN RUSAK KOMPONEN STRUKTUR DINDING PEMIKUL BABAN
KATEGORI D: RUSAK DINDING PEMIKUL BEBAN