Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

Sindrom Nefrotik (SN)

Oleh:
Mimba Wibiyana
NIM. 1611901027

Pembimbing :
dr. Faradilla Halusia , Sp.A

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BANGKINANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU
2017
PENDAHULUAN
Sindrom nefrotik (SN): merupakan keadaan klinik dengan
geajala proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan
hiperkolesterolemia.
Etiologi SN dibagi 3 yaitu kongenital, primer/idiopatik,
dan sekunder mengikuti penyakit sistemik, antara lain
lupus eritematosus sistemik (LES), purpura Henoch
Schonlein.
Pasien SN biasanya datang dengan edema palpebra atau
pretibia. Bila lebih berat akan disertai asites, efusi pleura,
dan edema genitalia
Definisi
Sindrom nefrotik (SN): adalah keadaan klinis yang
ditandai dengan gejala: proteinuria masif (>40mg/m2
LPB/jam atau 50 mg/kg/hari atau rasio protein/kreatinin
pada urin sewaktu >2mg/mg atau dipstik 2+),
hipoalbuminemia < 2,5g/dL, edema, dapat diseratai
hiperkolesterolemia >200 mg/dL.
Remisi: proteinuria negatif atau trace (proteinuria < 4
mg/m2 LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps: proteinuria 2+ (proteinuria >40 mg/m2
LPB/jam) 3 hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps jarang: relaps kurang dari 2 x dalam 6 bulan
pertama setelah respons awal atau kurang dari 4 x per
tahun pengamatan
Relaps sering (frequent relaps): relaps 2 x dalam 6 bulan
pertama setelah respons awal atau 4 x dalam periode 1
tahun
Dependen steroid: relaps 2 x berturut pada saat dosis
steroid diturunkan (alternating) atau dalam 14 hari setelah
pengobatan dihentikan.
Resisten steroid: tidak terjadi remisi pada pengobatan
prednison dosis penuh (full dose)2mg/kgbb/hari selama 4
minggu.
Sensitif steroid: remisi terjadi pada pemberian prednison
dosis penuh selama 4 minggu.
Etiologi dan Klasifikasi
Penyebab Sindrom Nefrotik sebagai penyakit autoimun,
yaitu reaksi antigen-antibodi.
Etiologi SN dibagi 3 yaitu kongenital, primer/idiopatik,
dan sekunder mengikuti penyakit sistemik, antara lain
lupus eritematosus sistemik (LES), purpura Henoch
Schonlein
Patofisiologi
Proteinuria

Peningkatan permeabilitas dinding kapiler glomerulus (hilangnya glikoprotein bermuatan


negatif pada pada dinding kapiler) endotel kapiler glomerulus dan membran basal.

Hipoalbuminemia

Akibat rendahnya kadar albumin serum yang menyebabkan turunnya tekanan onkotik
plasma dengan konsekuensi terjadi ekstravasasi cairan plasma ke ruang interstitial.

Edema

Penurunan volume plasma atau volume sirkulasi efektif merupakan stimulasi timbulnya
retensi air dan natrium di renal. Retensi natrium dan air ini timbul sebagai usaha
kompensasi tubuh untuk menjaga agar volume dan tekanan intravaskuler tetap normal.
Manifestasi klinis
Edema palpebra atau pretibia
Asites
Efusi pleura
Peritonitis atau hipovolemi
Diagnosis
Keluhan utama berupa bengkak yang tampak di sekitar mata dan
ekstremitas bawah dengan jenis pitting edema. Seiring berjalannya waktu
Anamnesis edema menjadi umum dan terjadi peningkatan berat badan.

Tanda vital dalam batas normal. Jarang timbul hipertensi


Inspeksi : Terdapat edema pada periorbita maupun ekstremitas
Pemeriksaan Palpasi : pitting edema
fisis Perkusi : dapat timbul asites pada abdomen (shifting dullness), efusi pleura

Pada urinalisis ditemukan proteinuria masif (2+)


Pada pemeriksaan darah didapatkan hipoalbuminemia (<2,5g/dL),
Pemeriksaan hiperkolesterolemia (>200 mg/dl)
penunjang
Penatalaksanaan
Diit protein 0,8-1 g/kgbb/hari. Diit rendah
Diet garam (1-2 g/hari) hanya diperlukan
selama anak menderita edema.

Kortikosteroid: Metilprednisolon,
Prednison
Fase 1 obat diminum tiap hari atau selama
3-4 minggu
Farmakologis Fase alternating diberikan selang sehari
dosis obat diturunkan secara bertahap
mg/bb/hari.
Dosis obat 2 mg/kgbb/hari maksimal 60
mg/hari di bagi dalam 3x pemberian.
Edukasi dan pencegahan
Diharapkan anak dapat patuh dalam mengkonsumsi obat
dalam jangka waktu yang lama.
Tidak jajan sembarangan untuk mencegah terjadinya hal-
hal yang memperberat keluhan atau gejala.
Orang tua diharapkan sebisa mungkin memasak sendiri
dan membawa bekal anak ketika sekolah dengan makanan
yang rendah garam.
Komplikasi
Kelainan koagulasi dan timbulnya trombosis.
Kelainan koagulasi dan timbulnya trombosis.
Terjadi bukan karena nekrosis tubulus atau fraksi
filtrasi berkurang
Prognosis
Prognosis makin baik jika dapat di diagnosis segera.
Prognosis juga baik bila penyakit memberikan
respons yang baik terhadap kortikosteroid dan jarang
terjadi relaps.
Terapi antibakteri dapat mengurangi kematian akibat
infeksi, terhadap kelainan ginjal sehingga akhirnya
dapat terjadi gagal ginjal.
ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS
Identitas penderita :
Nama : Priska Nindi Mihfan
Umur : 12 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Berat badan : 50,1 kg
Tinggi badan : 150 cm
Agama : Islam
Alamat : Pulau Pandak
MRS : 23 Oktober 2017
ANAMNESIS
Kiriman dari : Poliklinik Anak RSUD
Bangkinang
Dengan diagnosa : Sindrom Nefrotik
Aloanamnesa dengan : Orang tua pasien
Tanggal : 23 Oktober 2017
1. Keluhan utama : Sembab pada kedua kelopak mata, dan wajah
sejak 3 hari.
2. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien merasakan sembab pada kedua kelopak mata, dan wajah
sejak 1 minggu yang lalu. Sembab seluruh tubuh sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit, sembab dimulai di kelopak mata,
wajah, perut dan kaki.
Demam sejak 2 hari SMRS, hilang-timbul, berkeringat, tidak
menggigil, tidak kejang
Batuk sejak 2 hari SMRS, batuk kering, tidak berdahak, tidak
berdarah.
Sesak napas tidak ada
Nafsu makan biasa
Riwayat minum obat-obatan
BAK warna kuning keruh, jumlah sedikit, nyeri tidak ada
Riwayat buang air kecil seperti air cucian daging tidak ada
Riwayat buang air kecil nyeri dan berpasir tidak ada
BAB warna normal, konsistensi normal
3. Riwayat penyakit dahulu :
Anak telah menderita penyakit ini sejak tahun 2014, yaitu
sejak 4 tahun yang lalu.
4. Riwayat keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang
sama.
PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran : Kompos mentis cooperative.
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Keadaan gizi : Baik
Nadi : 90 x/menit
Suhu : 36.7o C
Pernafasan : 24 x/menit
Berat badan : 50,1 kg
Tinggi badan : 150cm
Sianosis : tidak ada
Edema : ada
Anemis : tidak ada
Ikterus : tidak ada
2. Kulit :
Teraba hangat, warna kecoklatan, turgor cepat kembali.
Kelenjar Getah Bening: Tidak teraba pembesaran KGB
Kepala : Normocephal, bulat, simetris
Rambut : Warna hitam, tidak mudah rontok
Mata : Konjungitva tidak anemis, sclera tidak
ikterik, pupil isokor, diameter pupil 2mm/2mm, refleks
cahaya +/+ , palpebra edema.
Telinga
Bentuk simetris, sekret tidak ada, nyeri tidak ada
Hidung :
Bentuk simetris, pernafasan cuping hidung tidak ada,
epistaksis tidak ada, sekret tidak ada
Tenggorokan :
Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis.
Mulut :
Mukosa bibir dan mulut basah, gusi tidak berdarah.

Leher :
Pembesaran Kelenjar Getah Bening tidak ada
Thorak :
Dinding dada/paru :
Inspeksi : Bentuk : simetris kiri dan kanan
Retraksi : tidak ada
Pernafasan : abdominal-torakalis
Palpasi : Fremitus kiri = kanan
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara napas vesikuler, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung :
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis teraba di RIC V, thrill tidak ada.
Perkusi : Batas kanan : LSD
Batas kiri : teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Batas atas : RIC II
Auskultasi : Irama teratur, bising tidak ada.
Abdomen
Inspeksi : Distensi (-)
Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-), ascites
(-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas :
Akral hangat, piting edema (+/+)
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Hb
7.9 gr% 13- 18 gr%

Leukosit
14.9 10^6/mm^3 5 - 11 10^6/mm^3

Thrombosit
830 10^6/mm^3 150 450

10^6/mm^3
Fungsi hati

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Albumin 1.5 g/dl 3.5-5.1 g/dl


3. Pemeriksaan Urin (Urinalisa) tanggal 24 Oktober 2017
Makroskopik :
Warna : Kuning
Kekeruhan : Jernih

Mikroskopik :
Leukosit : 0-1/ lpb
Eritrosit : 0-4 / lpb
Epitel : 0-1 / lpb pH : 6.0
Kristal : (-) Protein : +2
Silinder : (-) Urobilinogen : (-)
Granular : (-) Bilirubin : (-)
Glukosa : (-)

DIAGNOSA
Diagnosa kerja : Sindrom Nefrotik
Diagnosa banding : Glomerulonefritis Akut

PENATALAKSANAAN
IVFD RL 10 tpm
Inj. Ceftriaxon 2 x 1g
Metil prenisolon 4mg 6-5-5
Calnic syr 1 x1 cth
FOLLOW UP
Tanggal 23/10/2017 24/10/2017 25/10/2017

Tekanan darah 150/80 130/80 130/80

Nadi 80x 90x 90x

Pernafasan 22x 30x 24x

Suhu 36.2 37,3 36.4

Warna urine Kuning Kuning Kuning

Eritrosit 0-1 0-1 0-1

Leukosit 0-1 0-1 0-1

Protein 2+ 2+ 2+

Berat badan 50 kg 50,1 kg 50,3 kg