Anda di halaman 1dari 42

OM SWASTYASTU

NAMA KELOMPOK 2
1. NI KOMANG INTAN APSARI (1315351013)
2. IDA AYU MISDIANTARI ARISTIANI (1315351046)
3. NI PUTU MITHA PRATIWI (1515351002)
4. LAILA SUSANTI (1515351018)
5. IDA AYU WIDYA KRISNA DEWI (1515351021)
6. NI KADEK YUTHA PARAMITHA (1515351026)
7. KADEK PUTRI PRABANDARI (1515351029)
8. IDA AYU INTAN DWIYANTI (1515351031)
9. NI PUTU PURNAMI EKA YANTI (1515351032)
10. NI MADE KUSUMA AYUNI (1315351050)
11. PUTU MIRA AYU ARISWARI (1515351052)
POKOK BAHASAN

APA ITU KEKUASAAN ?

PEMIKIRAN SOSIOLOGI TENTANG KEKUASAAN

(RE) PRODUKSI KEKUASAAN

DISTRIBUSI KEKUASAAN

KONSUMSI KEKUASAAN
A.PENGERTIAN KEKUASAAN

Kekusaan merupakan suatu kemampuan untuk menguasai atau memengaruhi orang


lain untuk melakukan sesuatu atau kemampuan untuk mengatasi perlawanan dari orang lain
dalam mencapai tujuan, khususnya untuk memengaruhi prilaku orang lain.

Berbeda dengan pandangan Max Weber, Stephen K. Sanderson (2003:296-297),


memahami konsep ini sebagai suatu mekanisme politik yang dibagi tiga yaitu:

1. pengaruh,

2. kekuasaan,

3. kewenangan.
Sedangkan konsep kekuasaan dipahami Sanderson melalui batasan Weber,
sebagai kemampuan untuk mengendalikan prilaku orang lain atau bahkan memadamkan
usaha menentangnya. Kemampuan untuk memadamkan perlawanan dan menjamin
tercapainya keinginana dari pemegang kekuasaan itu merupakan pembeda dengan konsep
pengaruh.

Oleh sebab itu kekuasaan membutuhan pengembangan suatu tingkat organisasi


tertentu dengan mesin administrasi tertentu pula. Oleh sebab itu mereka berusaha
mengembangkan suatu cara agar kekuasaan mereka dipatuhi dengan komitmen.
B. PEMIKIRAN SOSIOLOGI TENTANG
KEKUASAAN
1. Max Weber

Weber menggunakan konsep herrschaft dalam menjelaskan kewenangan yang


dibedakan dengan kekuasaan, seperti yang telah didiskusikan sebelumnya. Weber membuat
tipologi tetntang konsep ini sebagai berikut :

1. Kewenangan tradisional

2.Kewenangan karismatik

3.Kewenanga legal-rasional
2. Bertrand Russel

Bertrand Russel (1988: 23), mendefinisikan kekuasaan sebagai hasil pengaruh


yang diinginkan. Bagi Russel, dorongan atau motivasi bagi seseorang manusia untuk
berbuat sesuatu bukanlah dorongan seks, sebagaimana yang diungkapkan oleh Freud,
akan tetapi dikarenakan dorongan untuk memperoleh atau memegang kekuasaan.
Russel,juga mengelompokkan kekuasaan dalam 3 tipe, yaitu:

Kekuasaan Tradisional
1.
Kekuasaan revolusioner
2
Kekuasaan tanpa persetujuan
3
3. CHARLES F. ANDRAIN

Bagi Charles F. Andrain (1992: 130-131), kekuasaan dimengerti sebagai


penggunaan sejumlah sumber daya (aset, kemampuan) untuk memperoleh kepatuhan
(tingkah laku menyesuaikan) dari orang lain. Pemegang kekuasaan bisa jadi seorang
individu atau sekelompok orang, misalnya pemimpin politik nasional. Charles F. Andrain
menemukan lima tipe sumber daya kekuasaan, yaitu: fisik, ekonomi, normatif, personal, dan
ahli (informasional).
Tabel 3.1
Tipe-tipe Sumber Daya Kekuasaan

Tipe Sumber Daya Contoh Sumber Daya Motivasi untuk Mematuhi


B berusaha menghindari cedera
Fisik Senjata: senapan, bom, rudal fisik yang dapat disebabkan
oleh A
Kekayaan, pendapatan, kontrol B berusaha memperoleh
Ekonomi
atas barang dan jasa kekayaan dari A
B mengakui bahwa A
Moralitas, kebenaran, tradisi,
Normatif mempunyai hak moral untuk
religius, legitimasi, wewenang
mengatur perilaku B
Karisma pribadi, daya tarik,
B mengidentifikasi diri (merasa
Personal persahabatan, kasih sayang,
tertarik) dengan A
popularitas
B merasa bahwa A mempunyai
Informasi, pengetahuan,
Ahli pengetahuan dan keahlian yang
inteligensi, keahlian teknis
lebih
Selanjtunya, Charles F. Andrain menemukan juga beberapa dimensi kekuasaan seperti:
1. kekuasaan potensial dan actual (analog energi),
2. kekuasaan dalam jabatan dan kekuasaan,
3. Dalam pribadi,
4. kekuasaan paksaan dan konsesual,
5. serta kekuasaan positif dan negative (prakarsa vs penghalangan kebijakan).
4. MICHEL FOUCAULT
Foucault (1980), melihat relasi pengetahuan dan kekuasaan sangat erat, dimana dia
melihat pengetahuan adalah kekuasaan. Dalam The Archaeology of Knowledge, Foucault
menjelaskan konsep discourse (diskursus) sebagai gambaran bagaimana pengetahuan bekerja
sebagai kumpulan pernyataan. Diskursus adalah berbicara tentang aturan-aturan dan praktek-
praktek yang menghasilkan pernyataan-pernyataan yang berarti pada satu rentang historis
tertentu. Diskursus juga dipahami sebagai mekanisme pengaturan bekerja yang sangat rapi
yang melibatkan istitusi, disiplin, dan profesionalisme.
Kekuasaan terwujud dalam pemunculan dan pelibatan permainan-permainan
strategis antara pemilik-pemilik kebebasan memilih (strategic games between liberties).
Permainan-permainan strategis melibatkan kekuasaan (power) menyebarkan di mana-mana,
dijalankan oleh siapa pun dan tumbuh dalam segala level kuasa. Sehingga hampir tidak
ditemukan ruang social yang bebas dari bekerjanya kekuasaan dan permainan-permainan
strategisnya. (Foucault, 1980; Hindess, 1996).
C.(RE)PRODUKSI KEKUASAAN

1. ANALISIS PERTUKARAN

Analasis Pertukaran merupakan salah satu analisis yang secara serius dan tegas
membicarakan bagaimana kekuasaan bisa muncul dalam suatu proses hubungan
pertukaran. Salah satu seorang tokohnya Peter Blau (1964), menjelaskan munculnya
stuktur kekuasaan karena terjadinya suatu hubungan pertukaran tidak seimbang.
Menurut Blau (1964) dengan mengikuti Richard M. Emerson ada empat kemungkinan
yang logis dimana individiu dapat menjauhi kepatuhan :

1. Ia dapat memperoleh pelayanan yang sama sehingga dengan demikian hubungan


dengan yang lainnya masih merupakan hubungan timbal balik yang sama.

2. Ia dapat memperoleh pelayanan yangbsama di mana-mana

3. Ia dapat menekan yang lain untuk memberikan pelayanan hal ini merupakan hasil dari
dominasinya terhadap yang lain.

4. Ia bekerja tanpa mengharapkan pelayanan seperti itu atau ia menemukan beberapa


penggantinya.
2. ANALISIS KONFLIK

Analisis konflik tentang asal kekuasaan tidak seragam paling tidak terdapat tiga

sudut pandangan analisis konflik yaitu pandangan Karl Marx pandangan Relf Dahrendorf

dan Gaetano Mosca berikut ketiga perspektif secara umum :


A. Pandangan KARL MARX

Karl Marx melihat bahwa kekuasaan berasal dari relasi sosial dalam produksi.
Menurut Marx dalam Preface to the Critique of Political Economy:

Dalam A contribution to the Critique of Political Economy (1859)1970:20-21),


marx juga menegaskan bahwa ekonomi merupakan fondasi dari masyarakat dan di atas
fondasi ini dibangun supersuktur politik dan hukum. Fondasi stuktural dari masyarakat
sering disebut juga dengan infrastruktur merupakan keseluruhan dari kekuatan-kekuatan
produksi (mesin, tenaga kerja , otoritas, dan pengetahuan teknis) dan kekuatan-kekuatan
sosial (hak milik, otoritas dan hubungan kelas).
B. PANDANGAN RALF DAHRENDORF

Berbeda dengan pandangan Karl Marx, Ralf Dahrendorf menggunakan konsep Max
Weber tentang kewenangan (herrschaft/otoritas) dalam menjelaskan kekuasaan. Dahrendorf
(1996:203-204) menggunakan beberapa pandangannya tentang kewewenangan:
1. Hubungan kewenangan adalah selalau berbentuk hubungan antara superordinat dan
subordinat, hubungan atas bawah.
2. Di mana terdapat hubungan kewenangan disana supperordinat secara sosial diperkirakan
melalui perintah dan komando peringatan dan larangan mengendalikan subordinat.
3. Perkiraan demikian secara relatif lebih dilekatkan kepada posisi sosial daripada terhadap
kepribadian individual.
4. Berdasarkan pada kenyataan ini, hubungan kewenangan selalu meliputi spesifikasi
orang-orang yang harus tunduk kepada pengendalian dan spesifikasi dalam bidang-
bidang yang mana saja pengendalian itu diperbolehkan.
5. Kewenangan adalah sebuah hubungan yang sah tidak tunduk kepada pemerintah orang
yang berwenang dapat dikenai sanki tertentu.
C. PANDANGAN GAETANO MOSCA

Bagaimana kekuasan itu muncul atau dalam masyarakat? Hal itu bisa kita pahami
secara pemikiran Mosca :
1. Suatu masyarakat tidak akan ada bila tidak terorganisasi diperlukan kepemimpinan
tertentu untuk mengorganisasikan atau mengoordinasikan tindakan orang-orang dan
untuk menyelesaikan pekerjaan masyarakat.
2. Kepemimpinan (atau organisasi plitik ) mencerminkan ketidaksamaan atau
ketidaksetaraan kekuasaan.
3. Secara alami manusia berpusat pada dirinya. Oleh karena itu mereka yang berkuasa
akan menggunakan posisi mereka untuk meraih keuntungan lebih besar bagi mereka
sendiri.
3. ANALISIS FUNGSIONAL
Kekuasaan atau kewenangan memiliki fungsi bagi bertahannya struktur sebagai
sistem sosial. Itu artinya bahwa kekuasaan diperlukan untuk mempersatukan atau
mengintegrasi masyarakat.
Bagaimana kekuasaan hadir di dalam masyarakat, Davis dan Morore berpendapat bahwa:
1. Masyarakat terdiri dari berbagai macam posisi.
2. Masyarakat harus memastikan bahwa setiap posisi terisi.
3. Beberapa posisi lebih penting dibandingkan dengan beberapa posisi yang lain.
4. Posisi-posisi yang lebih penting harus diisioleh orang yang memilikikualifikasi yang
lebihdibandingkan yang lain.
5. Untuk memotivasi orang yang memilliki kualifikasi yang lebih, masyarakat
menawarkan kepada mereka imbalan yang lebih besar misalnya kekuasaan
D. DISTRIBUSI KEKUASAAN
1. KONSEP DISTRIBUSI KEKUASAAN
Menurut KBBI, distribusi dimaksudkan sebagai penyaluran (pembagian, pengiriman)
kepada orang atau ke beberapa tempat. Distribusi dapat dimengerti sebagai proses
penyaluran barang atau jasa kepada pihak lain. Distribusi juga menunjuk suatu proses
alokasi dari produksi barang dan jasa sampai ke tangan konsumen atau proses konsumsi.
Bagaimana dengan batasan konsep distribusi kekuasaan?
Secara sederhana dengan demikian konsep distribusi yang telah dirumuskan batasannya
sebelumnya dapat digunakan dengan mempertukarkan atau menggantikan kata barang
dan jasa dengan kekuasaan. Melalui cara seperti itu maka distribusi kekuasaan dipahami
sebagai suatu perangkat hubungan sosial yang melaluinya terjadi proses yang
mengantarai antara (re)produksi kekuasaan dengan proses konsumsinya.
2. STRATIFIKASI SOSIAL SEBAGAI SUATU FENOMENA DISTRIBUSI
KEKUASAAN
Distribusi kekuasaan dalam masyarakat dapat dilihat melalui stratifikasi sosial (Lenski, 1966
dan Kartono, 2007). Berikut beberapa pandangan ahli tentang konsep stratifikasi sosial:
a. James M. Henslin (2007 : 178) : sratifikasi sosial merupakan suatu sistem di mana
kelompok manusia terbagi dalam lapisan-lapisan sesuai dengan kekuasaan, kepemimpinan,
dan prestise relative mereka. Stratifikasi sosial merupkan cara untuk menggolongkan
sejumlah besar kelompok manusia ke dalam suatu hirarki sesuai dengan hak-hak istimewa
relative mereka. Oleh sebab itu, stratifikasi sosial tidak merujuk pada individu.
b. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1989:1) : Jika digunakan sebagai kata benda, maka
stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Jika digunakan sebagai kata kerja, maka stratifikasi sosial adalah suatu proses
penyambungan dn perubahan sistem perbedaan status.
c. Kamanto Sunarto (2004:83) : pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang
dimilikinya dinamakan stratifikasi sosial. Status yang dimiliki bisa berupa kekuasaan
kekayaaan, penghasilan, prestise atau yang lain.
Dari rumusan definisi stratifikasi sosial, para sosiolog berteori tentang hal ini, yaitu antara
lain:
A. KARL MARX
Kehancuran feodalisme, yang ditandai dengan massa petani tergusur dari lahan
dan pekerjaan tradisional mereka sehingga terpakasa bersaing di kota mencari pekerjaan
yang tersedia sedikit, menumbuhkakembangkan kapitalisme, dan industri modern. Situasi
ini menghasilkan 2 kelas yang kontras, yaitu kaum borjuis, yaitu orang-orang yang
memiliki alat produksi; dan kaum proletar, yaitu mereka yang bekerja untuk para pemilik
alat produksi.

Perbedaan antara dua kelas tersebut bukan berdasarkan pembedaan yang dibuat
secara dangkal oleh manusia diantara diri mereka sendiri, faktor tunggal mendasar, yaitu
alat produksi (means of production), berupa peralatan pabrik, lahan dan modal yang
digunakan untuk memproduksi kekayaan.
2. MAX WEBER
Weber tidak setuju dengan Marx yang meletakkan dasar stratifikasi sosial atas
landasan kepemilikan semata. Weber melihat bahwa kepemilikan hanyalah suatu bagian saja
dari keseluruhan gambar stratifikasi sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu, Weber
mengusulkan:

Kelas (class)

Kelompok status (status group)

Partai (party)
Kelas (class)
Kelas dirumuskan oleh Weber sebagai semua orang yang memepunyai
persamaan dalam hal peluang untuk hidup atau nasib (life changes). Kepentingan
ekonomi meliputi penguasaan atas barang dan kesempatan untuk mendapatkan
pendapatan dalam pasaran komoditas atau pasaran kerja, menurut Weber, merupakan
penentu terhadap peluang untuk hidup orang. Persamaan peluang dalam penguasaan
barang dan jasa untuk menghasilkan pendapatan tertentu mengakibatkan orang yang
berada di kelas yang sama memiliki persamaan dalam situasi kelas (class situation),
yaitu persamaan dalam hal peluang untuk menguasai persediaan barang, cara hidup,
atau pengalaman hidup pribadi. Jadi, kekayaaan menjadi dasar sebagai pembeda
kelas, sedangkan kepentingan ekonomi sebagai tujuan pembentukan kelas.
Kelompok Status (status group)
Kelompok status dipandang sebagai sejumlah orang yang berada di dalam situasi
status (status situation), yaitu kesamaan atas kehormatan dan prestise yang dimiliki.
Persamaan dalam status dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (style of life), yang
ditandai dengan adanya hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal
maupun materiil. Hal tersebut diperlihatkan melalui gaya konsumsi.
Partai (party)
Weber juga melihat kekuasaan menjadi dasar pembeda dalam stratifikasi sosial. Oleh
sebab itu, partai merupakan sarana yang digunakan untuk memperoleh kekuasaan dan tujuan
politik, yaitu dipengaruhinya suatu aksi komunal untuk meraih tujuan yang terencana.
Ketiga jenis stratifikasi sosial tersebut memperlihatkan bagaimana kelas sebagai
dimensi kekuasaan dari aspek ekonomi, kelompok status adalah dimensi kekuasaan
dari aspek budaya, dan partai merupakan dimensi kekuasaan dari aspek politik.
Ketiga jenis startifikasi menurut Weber (2006), merupakan fenomena dari distribusi
kekuasaan dalam suatu komoditas.
3. GERHARD LENSKI
Melalui bukunya power and privelege, Lenski mencoba menyempurnakan teori
stratifikasi Max Weber. Seperti hal nya Weber, Lenski juga mengembangkan stratifikasi
sosial atas tiga dimendi, yaitu kekuasaan (power), hak istimewa (privilege), dan kehormatan
(prestige).
Definisi kekuasaan dari Lenski merujuk pada definisi yang di kemukakan oleh
Weber, yaitu kemungkinan dari orang-orang atau sekelompok orang untuk mewujudkan
kehendaknya dalam suatu tindakan komunal. Kekuasaan disini lebih kepada dimensi politik.
Kekuasaan yang dimiliki dapat memengaruhi proses distribusi surplus produksi barang.
Sementara, hak istimewa merupakan hak-hak khusus dimiliki seseorang atau kelompok
orang dalam kaitannya dengan kekuasaan yang dimiliki. Sedangkan, kehormatan merupakan
dampak langsung dari kepemilikan kekuasaan dan hak istimewa. Prestise dapat menjaga,
memelihara, dan memapankan proses distribusi yang menguntungkan.
Lenski menegaskan bahwa kekuasaan merupakan variabel kunci dalam
hubungan antara dua variabel lainnya, yaitu kehormatan dan prestise. Kekuasaan akan
melahirkan hak istimewa dan prestise tertentu bagi yang memilikinya. Selanjutnya, hak
istimewa dapat memengaruhi prestise seseorang atau kelompok orang. Prestise bersama
dengan hak istimewa dapat pula memperkuat kekuasaan yang ada.
3. PROSES DALAM DISTRIBUSI KEKUASAAN

Secara umum proses distribusi kekuasaan terjadi dalam dua bentuk, yaitu

Distribusi melalui pemberian (distribution by


ascription)

Distribusi melalui usaha (distribution by achievement).


A. DISTRIBUSI MELALUI PEMBERIAN

Distribusi melalui pemberian dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti


pewarisan, pergiliran, penunjukan, dan undian. Pewarisan kekuasaan memiliki berbagai
macam variasi, seperti pewarisan kepada anak, keponakan, saudara, atau keluarga terdekat.
Demikian pula dengan property (kekayaan) diwariskan dalam berbagai pola, seperti halnya
kekuasaan.
Distribusi kekuasaan lewat pergiliran merupakan suatu bentuk pemberian
kekuasaan kepada seama tema sekelompok (in group) sehingga persaingan sesama teman
dalam satu kelompok tidak tajam serta menghalangi orang atau sekelompok orang lain
untuk mendapatkannya. Kosekuensinya kekuasaan bisa dipertahankan dalam keadaan
status quo.
Distribusi kekuasaan melalui penunjukan memperlihatkan suatu bentuk
pemberian kekuasaan kepada orang atau kelompok orang tertentu yang ditunjuk.
Penunjukan tersebut dilakukan oleh suatu lembaga khusus yang melakukan tugas dan
fungsi untuk itu.
Distribusi kekuasaan melalui undian adalah suatu bentuk pemberian
kekuasaan kepada orang atau kelompok orang yang (dapat) memenangi undian.
Distribusi kekuasaan jenis ini juga dapat meminimalkan konflik dan menghindari
dominasi orang atau kelompok orang tertentu.
B. DISTRIBUSI MELALUI USAHA
Distribusi melalui usaha memiliki bermacam bentuk, seperti ujian saringan dan
latihan, pemilihan, dan perebutan. Tipe distribusi ini yang umum dikenal dan dilaksanakan
dalam masyarakat kontemporer adalah ujian saringan dan latihan. Kedua bentuk distribusi
ini bisa dilakukan berurutan, di mana seseorang atau kelompok orang disaring terlebih
dahulu melalui suatu ujian tertentu, setelah itu diberi pelatihan yang diperlukan atau
dianggap cukup untuk memegang kekuasaan tertentu. Pelatihan itu sendiri bisa sebagai
suatu bentuk ujian saringan, sehingga apabila seseorang atau kelompok orang berhasil
menyelesaikan pelatihan pada kualifikasi tertentu maka seseorang atau kelompok tersebut
dapat memperoleh suatu derajat kekuasaan tertentu. Tidak jarang melalui hanya dengan
ujian saringan, seseorang atau kelompok orang diberi hal untuk mengelola suatu kekuasaan.
Pemilihan merupakan suatu bentuk yang lazim dilakukan oleh masyarakat yang menganut
pahm demokrasi untuk memilih seseorang atau kelompok orang yang diberi hak untuk mengelola suatu
kekuasaan. Di Indonesia, misalnya untuk menjadi anggota legislative dilakukan suatu pemilihan umum
legislatif melalui pemberian suara oleh seluruh rakyat Indonesia yang berhak berdasarkan aturan
perundang-undangan yang ada. Menambang suara untuk mendapatkan peraihan suara terbesar
dilakukan dengan berbagai cara kasar maupun halus: penggunaan uang, pengaruh sosial, kekuatan
pidato, sugesti, gurauan canggung, menjegal dengan cara kasar dan halus di parlemen.

Perebutan merupakan suatu bentuk distribusi yang dilakukan melalui suaatu usaha oleh
seseorang atau kelompok orang. Perebutan kekuasaan dilakukan dengan berbagai cara, seperti kudeta,
revolusi, pembunuhan, dan intervensi. Kudeta merupakan perebutan kekuasaan terhadap orang yang
memiliki kekuasaan yang sah dengan menggunakan kekerasan atau damai. Kudeta dengan kekerasan
biasanya dilakukan dengan menggunakan senjata bersama orang atau kelompok orang yang memanggul
senjata seperti tentara atau para militer. Sedangkan kudeta secara damai biasanya dilakukan dengan
menggunakan tangan parlemen atau keputusan mahkamah konstitusi.
Revolusi merupakan perebutan kekyasaan dengan menggunakan kekerasan.
Perbedaan antara kudeta dan revolusi adalah yang disebut pertama meobah pondasi idiologi
dan sistem kekuasaan, sedangakan kudeta tidak. Perebutan kekuasaan juga dilakukan melalui
pembunuhan terhadap orang yang berkuasa.
Demikian pula dengan intervensi kekuasaan adalah suatu bentuk distribusi
kekuasaan dengan menggunakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak eksternal dari sutau
lingkup kekuasaan.
E. KONSUMSI KEKUASAAN
1. Konsep Konsumsi Kekuasaan

Menurut Don Slater (1997) kosumsi adalah bagaimana manusia dan aktor sosial
dengan kebutuhan ynag dimilikinya berhubungan dengan sesuatu (dalam hal material, barang
simbolis, jasa, atau pengalaman) yang dapat memuaskan mereka. Berhubungan dengan sesuatu
yang dapat memuaskan mereka dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menikmati,
menonton, melihat, menghabiskan, mendengar, memerhatikan, dan lainnya.
Dengan definisi seperti yang dikemukakan Slater tersebut, maka konsumsi mengacu
kepada seluruh aktivitas sosial yang orang lakukan sehingga bisa dipakai untuk mencirikan
dan mengenali mereka di saming apa yang mereka lakukan untuk hidup (Chaney, 2004).
Dengan demikian, tindakan konsumsi tidak hanya dipahami sebagai makan, minum, sandang
dan papan saja tetapi juga harus dipahami dalam berbagai fenomena dan kenyataan berikut:
menggunakan waktu luang, mendengar radio, menonton televisi, berdandan, berwisata,
menonton kosner, melihat pertandingan olahraga, membeli computer untuk mengetik tugas
kuliah atau mencari informasi, mengendarai kendaraan, dan lain sebagainya.

Dari definisi dan cakupan definisi tentang konsumsi yang telah diterangkan
sebelumya, maka konsumsi kekuasaan dapat dipahami sebagai seluruh aktivitas sosial dan
politik untuk merusak (to destroy), memakai (to use up), membuang (to waste), dan
menghabiskan (to exhaust) kekuasaan.
2. Tujuan Konsumsi Kekuasaan
Berikut ini diajukan beberapa alasan mengapa orang atau kelompok orang mengonsumsi
kekuasaan:
Untuk menyejahterakan dan memakmurkan bangsa.
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Untuk memberikan rasa adil dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Utuk menegakkan hak asasi manusia.
Untuk menghadirkan rasa aman dan tenteram dalam masyarakat.
Untuk menjaga kedaulatan negra, martabat, dan muruah bangsa.
Untuk menciptakan perdamaian umat manusia.
Untuk melanggengkan kekuasaan.
Untuk meraih kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan.
3. Cara Konsumsi Kekuasaan
Setiap orang atau kelompok orang memiliki cara dalam mengonsumsi
kekuasaan. Cara tersebut berhubungan dengan konteks, baik ruang maupun waktu. Paling
tidak terdapat tiga cara orang atau kelompok orang mengonsumsi kekuasaan.

Kerjasama

Persaingan

Konflik
A. Kerja Sama
Kerja sama merupakan interaksi dari orang-orang yang bekerja untuk mecapai
tujuan bersama. Suatu tujuan dapat dicapai dengan lebih mudah, selamat, dan cepat bila
bekerja bersama-sama dibandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri. Kebanyakan
hubungan yang sedang terjadi memiliki unsur kerja sama, termasuk hubungan politik.
Proses (re) produksi, distribusi sampai konsumsi kekuasaan tidak bisa berjalan dengan
mudah, selamat dan cepat kalau melakukannya secara sendiri-sendiri. Oleh sebab itu,
setiap proses aktivitas kekuasaan (dari produksi sampai konsumsi) memerlukan kerja
sama dengan pihak lain. Dalam perspektif ini, kerja sama dapat dipandang juga sebagai
berbagai risiko dengan tujuan berbagai kekuasaan.
B. Persaingan
Tidak mungkin orang-orang selalu mencapai tujuan mereka melalui kerja sama. Ketika tujuan anda dan
tujuan saya bersifat mutually exclusive, misalnya suatu jabatan tertentu tersedia terbatas, maka salah satu di antara
kita, saya atau anda memperolehnya, maka di sana bisa muncul persaingan. Jadi dalam situasi yang kelangkaan,
yaitu barang-barang, jasa, termasuk kekuasaan yang diharapkan tidak tersedia cukup, maka hubungan sosial dan
politik yang mungkin terjadi adalah kompetisi atau konflik. (Brinkerhoff dan White 1989 : 63)
Perjuangan untuk memproleh sumber-sumber langka yang diatur melalui aturan yang dimiliki secara
bersama dikenal dengan kompetisi. Aturan main tersebut menegaskan kondisi seperti apa suatu kemenangan
dipandang fair dan suatu kekalahan dapat diterima dengan keikhlasan. Apabila norma seperti di atas tidak jalan,
maka kompetisi akan berubah menadi konflik.
Dalam aktivitas politik, termasuk kekukasaan, juga memerlukan persaingan yang sehat dan adil. Berbagai
aturan yang berhubungan dengan persaingan sehat dan adil serta penegakannya harus menjadi perhatian utama bagi
semua stakeholders, sebab persaingan sehat dan adil perlu bagi pembangunan politik. Dalam aktivitas politik
terdapat berbagai macam aktivitas persaingan kekuasaan, yaitu seperti pemilihan (legislatif, presiden, kepala daerah,
atau desa), ujian saringan, penjagaan citra, dan lain sebagainya.
C. Konflik
Seperti yang disinggung sebelumnya, ketika perjuangan terhadap sumber-sumber
langka tidak diatur dengan aturan bersama, maka konflik akan muncul. Konflik mencakup
usaha untuk menetralkan, merusak, dan mengalahkan lawan. Konflik menghasilkan
perpecahan di satu sisi, tetapi juga dapat meningkatkan solidaritas atau integrasi di sisi lain.
Konflik dapat dalam bentuk peperangan, kudeta, revolusi, pembunuhan, pendudukan, dan
sebagainya.
REFERENSI

Damsar. 2010. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana Media Group.