Anda di halaman 1dari 59

Struktur Columna Vrtebralis

Columna vertebralis terdiri dari 33 tulang vertebra yang membentuk kurva dan
secara struktural terbagi atas 5 regio. Dari superior ke inferior, mulai dari 7
segmen vertebra cervical, 12 segmen vertebra thoracal, 5 segmen vertebra
lumbal, 5 vertebra sacral yang menyatu dan 4 vertebra coccygeus yang
menyatu. Karena terdapat perbedaan struktural dan adanya sejumlah costa,
maka besarnya gerakan yang dihasilkan juga beragam antara vertebra yang
berdekatan pada regio cervical, thoracal, dan lumbal.
Struktur Vertebra Lumbal
Ciri-ciri vertebra lumbalis
Corpusnya besar, tebal dan berbentuk oval.
Mempunyai pedikel yang pendek dan tebal.
Foramen intervertebralisnya kecil dan bentuknya menyerupai segitiga.
Processus spinosusnya tebal dan luas serta arahnya agak hori3ontal.
Processus transversusnya panjang dan tipis.
Otot-otot pada lumbal
Otot yang berperan sebagai ekstensi lumbal adalah :
M.quadratus lumborum
M. Sacrospinalis
M. Intertransversarii
M. interspinalis
Otot yang berperan sebagai fleksi lumbal adalah :
M.quadratus lumborum
M.psoas mayor dan minor
M. abdominis dan
M. intertransversarii
Otot yang berperan sebagai lateral fleksi lumbal adalah :
M. Quadratus Lumborum ipsilateral
M. Longissimus ipsilateral
M. Iliocsotalis ipsilateral
M. Spinalis ipsilateral.
Otot yang berperan sebagai rotasi lumbal adalah :
M. Eksternal Oblique contralateral
M. Internal Oblique ipsilateral
M. Multifidus contaralateral
M. Rotatores contralateral
Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna
vertebralis, sehingga fungsi dari vertebra lumbalis tidak terlepas
dari fungsi kolumna vertebralis secara keseluruhan.
Sesuai dengan anatomi vertebra lumbalis yang
mempunyai bentuk yang besar dan kuat, maka fungsi vertebra
lumbalis adalah :
Penyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang
rawan yaitu diskus intervertebralis yang lengkungannya dapat
memberikan fleksibilitas pada vertebra
Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan
yang terjadi bila sedang menggerakkan berat badan seperti
berlari dan melompat
Melindungi otak dan sumsun tulang belakang dari goncangan.
Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat
melesetnya nukleuspulposus pada diskus intervertebralis.
1. Definisi
Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung
bawah, dapat merupakan nyeri local maupun nyeri radikuler atau
keduanya. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawa sampai lipat
bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering
disertai dengan penjalaran nyeri kea rah tungkai dan kaki. LBP yang
lebih dari 6 bulan disebut kronik (Wagiu, 2005)
2. Etiologi
Ketegangan otot
Ketegangan otot dapat timbul disebabkan oleh sikap tegang
yang konstan atau berulang-ulang pada posisi yang sama sehingga
akan memendekan otot-otot yang akhirnya menimbulkan nyeri.
Spasme / kejang otot
Spasme / kejang otot disebabkan oleh gerakan yang
tiba-tiba dimana jaringan otot sebelumnya dalam kondisi yang
tegang / kaku / kurang pemanasan. Spasme otot ini memberi
gejala yang khas, ialah dengan adanya kontraksi otot akan
disertai rasa nyeri yang hebat.
Defisiensi otot
Defisiensi otot dapat disebabkan oleh kurangnya latihan
sebagai akibat dari tirah baring yang lama maupun immobilisasi.
Otot yang hipersensitif
Otot yang hipersensitif akan menciptakan satu daerah
kecil yang apabila dirangsang akan menimbulkan rasa nyeri ke
daerah tertentu. Daerah kecil tadi disebut sebagai noktah picu
(trigger point). Dalam pemeriksaan klinik terhadap penderita
nyeri punggung bawah (NPB), tidak jarang dijumpai adanya
noktah picu ini.
3. Patofisiologi
Terdapat struktur peka nyeri yang di punggung bawah
mengandung nosiseptor yang peka terhadap berbagai
stimulus(mekanik, termal, kimiawi). Bila reseptor dirangsang oleh
sebagian stimulus lokal ,maka akan dijawab dan menyebabkan
timbulnya persepsi nyeri. Salah satu mekanisme untuk mencegah
kerusakan yang lebih berat adalah spasme otot yang membatasi
pergerakan. Spasme otot ini menyebabkan iskemia dan sekaligus
menyebabkan munculnya titik picu (trigger points) yang
merupakan salah satu kondisi nyeri.
Pada kondisi nyeri punggung bawah pada umumnya otot
ekstensor lumbal lebih lemah dibanding otot fleksor, sehingga
tidak kuat mengangkat beban. Otot sendiri sebenarnya tidak
jelas sebagai sumber nyeri, tetapi muscle spindles jelas diinervasi
sistem saraf simpatis. Dengan hiperaktifitas kronik, muscle spindles
mengalami spasme sehingga mengalami nyeri tekan.
4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala nyeri punggung bawah akibat miogenik
adalah onset/waktu timbulnya bertahap:
1. Nyeri difus (setempat) sepanjang punggung bawah
Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.
Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.
Nyeri otot dalam.
Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.
Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.
Nyeri pada pertengahan bokong.
Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.
2. Tenderness pada otot-otot punggung bawah,
3. Lingkup gerak sendi (LGS) terbatas,
4. Tanda-tanda gangguan neurologis tidak ada.
Nama : Mr. x
Umur : 48 Tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : supir angkot
Alamat : Ngrawan LOR 2/5 Bawen Kab. Semarang
Keluhan utama : nyeri pada area pinggang bawah sisi
kanan
Riwayat sosial : pasien tidak terlalu bergantung pada
orang lain
Riwayat penyakit sekarang : nyeri pinggang bawah sisi kanan
Riwayat penyakit dahulu : pasien juga pernah mengalami hal serupa
sejak 2 tahun yang lalu, nyeri pada pinggang kiri tetapi sekarang
keluhan pada pinggang kiri sudah banyak berkurang. Keluhan
belum diobati sama sekali, pasien hanya berbaring untuk
mengurangi nyeri.
Penyakit penyerta : -
Tumbuh kembang : normal
Lingkungan tempat tinggal : pasien tinggal di daerah yang padat
penduduk
Riwayat keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama
Aktivitas yang memperberat : dari jongkok ke berdiri
Aktifitas yang memperingan : istirahat
INSPEKSI
Statis:
Keadan tulang belakang lordosis
Sikap tubuh antalgis
Posisi panggul:
Cara: dapat diukur dari SIAS dan Posterior
Hasil: Panggul kanan lebih ke atas daripada kiri karena
spasme otot erector spine sisi kanan (asimetris)
Raut wajah pasien seperti menahan sakit
Dinamis:
Membungkuk timbul nyeri
Lateral fleksi timbul nyeri
Saat mengangkat beban dari jongkok ke berdiri timbul nyeri
PALPASI
1. Palpasi otot Erector Spine: 2. Palpasi panggul:
Quadratus Lomborum Simetris/asimetris
Multifidus
Iliocostalis
Longisimus
Spinalis
1. Kardiovaskular dan pulmonal
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Denyut nadi : 90x/mnt
Suhu : 37oC
Pernapasan : 24x/menit

2. Integumen
tekstur kulit : halus
integritas kulit : normal
3. muskuloskeletal
keterbatasan ROM karena adanya nyeri
kekuatan otot menurun pada sisi kanan
terdapat ketidaksimetrisan antara sisi kanan
dan kiri.

4. neuromuskular
koordinasi gerak terganggu
kesulitan dari posisi jongkok ke
berdiri atau sebaliknya
1. PEMERIKSAAN FUNGSI DASAR
A.Pemeriksaan Gerak aktif
Dari pemeriksaan gerak aktif (fleksi-ekstensi, lateral fleksi, dan rotasi) dapat
diperoleh informasi antara lain : ada tidaknya rasa nyeri pada lumbal, gerakan
kompensasi atau subtitusi, keterbatasan lingkup gerak sendi, gerakan dilakukan
dengan cepat tanpa kesulitan ataukah dengan bantuan dan lambat.

Gerak fleksi-ekstensi

Pada posisi berdiri, pasien diminta menggerakan secara


aktif dengan membungkukkan badan ke depan untuk
gerakan fleksi dan gerak ekstensi pasien dengan
membungkukkan badan ke belakang.
Gerak lateral fleksi

Pada posisi berdiri, pasien diminta menekuk badan ke


samping kanan dan kiri.

Gerak rotasi

Pada posisi berdiri, pasien diminta merotasikan/memutar


badan ke kanan dan kiri.
B. Pemeriksaan gerak pasif
Pasien pada posisi duduk, rileks, terapis menggerakan
badan/tubuh pasien ke arah fleksi, ekstensi, lateral fleksi, dan
rotasi. Dari pemeriksaan ini informasi yang dapat kita peroleh
yaitu ada tidaknya keterbatasan lingkup gerak sendi, end feel,
dan provokasi nyeri. Nyeri yang muncul biasanya merupakan
kelainan/gangguan pada kapsul ataupun sendi, tetapi tidak
menutup kemungkinan nyeri berasal dari otot/tendon yang
mengalami kontraktur/memendek karena terulur.

C. Pemeriksaan Gerak Resisted Isometrik


Pemeriksaan gerak resisted isometrik ditujukan untuk
mengetahui kekuatan otot-otot lumbar sekaligus ada tidaknya
nyeri pada otot. Pemeriksaan meliputi kontraksi isometrik ke arah
fleksi-ekstensi, lateral fleksi dan rotasi.
2. Pengukuran Panjang Tungkai
Tujuannya untuk mengukur panjang kedua tungkai, apakah ada perbedaan
atau tidak.
a. Posisi pasien dan posisi awal tungkai :
Supine lying, kedua tungkai dalam posisi
netral.

b. Posisi meteran dan teknik pelaksanaan :


Ukur panjang tungkai kanan dengan
menempatkan meteran dari SIAS sampai
ke maleolus medial pasien.
Kemudian lakukan pengukuran
selanjutnya dengan menempatkan
meteran dari SIAS sampai ke malleolus
lateral pasien.
Selanjutnya lakukan pengukuran yang
sama pada tungkai kiri sebagai
perbandingan.
3. Pengukuran Spasme Otot
Penn Spasm Frequency Scale adalah sebuah skala penilaian spasm pada
otot dimana dimulai dari 0 = tidak ada spasm sampai dengan nilai 4 =
terjadi spasm lebih dari 10 kali per jam. Tujuannya adalah untuk mengetahui
frekuensi dan keparahan sapstisitas pasien.
- Persiapan Alat : Instrumen Penn Spams Frequency Scale
- Persiapan Pasien :
Jelaskan prosedur pada pasien
Posisikan pasien senyaman mungkin
Usahakan benda yang dapat menghalangi dilepaskan terlebih dahulu
- Teknik Pelaksanaan:
Palpasi pada area yang mengalami spasme, kemudian menanyakan
kepada pasien berapa lama spasme tersebut terjadi.
Catat hasil pengukuran Penn Spasm Frequency Scale
Penn Spasm Frequency Scale Score

Tidak ada spasme 0

Terjadi spasme ringan akibat stimulasi 1

Terjadi spasme kurang dari sekali per jam 2

Terjadi spasme lebih dari satu kali per jam 3

Terjadi spasme lebih dari 10 kali per jam 4


4. PENGUKURAN KEKUATAN OTOT (MMT)
Grade 5 (Normal)
Posisi Pasien : Supine dengan tangan di belakang kepala.
Posisi Terapis : Berdiri di tingkat samping pasien
Test: Pasien flexi trunk dan berputar ke satu sisi. Gerakan ini kemudian diulang di sisi
yang berlawanan sehingga kedua otot di kedua sisi bisa diperiksa.
Gerakan siku kanan ke lutut kiri untuk menguji obliques eksternal kanan dan obliques
internal kiri (Gambar 3-26).
Gerakan siku kiri ke lutut kanan untuk menguji obliques eksternal kiri dan obliques
kanan yang tepat (Gambar 3-27).
Ketika pasien melakukan rotasi maka lakukanlah palpasi pada otot internal dan
external oblique.
Instruksi : angkat kepala dan bahu anda dari meja kemudian bawa siku kanan
anda kea rah lutut kiri begitupula sebaliknya.
GRADING
GRADE 5 : Scapula Dapat
Terangkat Dari Meja
Grade 4 (Good)Posisi

Pasien: Supine dengan lengan


disilangkan di atas dada.Test :
Selain posisi pasien, semua
aspek lain dari tes ini sama
seperti grade 5. Tes dilakukan
terlebih dahulu ke satu sisi
(Gambar 3-28) dan kemudian
ke yang lain (Gambar 3-29).
Grade 2 (poor)

Posisi Pasien: Supine dengan lengan terentang di atas bidang tubuh.Posisi


Terapis: Berdiri di samping pinggang pasien. Terapis mempalpasi oblique
eksternal pertama di satu sisi dan kemudian di sisi lain, dengan satu tangan
diletakkan di bagian lateral distal dinding anterior abdominal ke tulang
rusuk (Gambar 3-32). Lanjutkan untuk mempalpasi otot secara distal ke arah
seratnya sampai mencapai anterior superior iliac spine (ASIS).

Petunjuk untuk Pasien: "Angkat kepala dan jangkau lutut kanan Anda."
(Ulangi ke sisi kiri untuk otot yang berlawanan.)

Test: Pasien berusaha mengangkat tubuh dan berbalik ke kanan. Ulangi ke


arah kiri.
GRADING
GRADE 2 (poor): Pasien tidak dapat mengangkat angulus inferior skapula
dari meja di samping oblique eksternal yang sedang diuji. Pemeriksa
harus dapat mengamati depresi tulang rusuk selama aktivitas tes.
Grade 1 (Trace) dan Grade 0 (Zero)

Posisi Pasien: Supine dengan lengan di samping. Fleksi hip dengan


kaki rata di atas meja.Posisi Terapis: Kepala disupport saat pasien
mencoba untuk berpaling ke satu sisi (Gambar 3-33). (Belok ke sisi lain
dalam tes berikutnya.) Dalam kondisi normal, otot perut menstabilkan
trunk saat kepala diangkat. Pada pasien dengan kelemahan perut,
kepala yang didukung memungkinkan pasien untuk merekrut aktivitas
otot perut tanpa harus mengatasi seluruh berat kepala.
Satu tangan meraba obliques internal di sisi tempat pasien berbalik
(tidak diilustrasikan) dan obliques eksternal di sisi yang jauh dari arah
belokan (lihat Gambar 3-33). Terapis membantu pasien mengangkat
kepala dan bahu sedikit dan beralih ke satu sisi. Prosedur ini
digunakan saat otot perut lemah. Petunjuk untuk Pasien: "Cobalah untuk
mengangkat dan berbelok ke kanan Anda." (Ulangi untuk belok ke
kiri.)
Test: Pasien berusaha melenturkan trunk dan berbelok ke kedua
sisinya.
GRADING
GRADE 1 (Trace): Pemeriksa dapat melihat atau meraba
kontraksi otot.Grade 0 (Nol): Tidak ada respon dari otot
oblikus internus atau otot luar.
PEMERIKSAAN DAN PENGUKURAN TES PANJANG
OTOT (LENGTH TEST)
1. M. Erector Spine
a. Orientasi Test
Teknik Pelaksanaan :
Pasien duduk di atas bed dengan tangan di samping
badan dan fisioterapis berdiri di belakang pasien.
Perintahkan pasien untuk membungkuk.
Perhatikan kurva vertebra, apakah normal atau tidak.
Hal ini dipengaruhi oleh elastisitas dari otot erector
spine.
b. Strest Test
Teknik Pelaksanaan :
Pasien tidur di atas bed dan fisioterapis berdiri di samping pasien.
Lakukan fleksi hip dan fleksi knee secara pasif (lutut rapat), tangan kiri
memberikan fiksasi pada lutut pasien sedangkan tangan kanan pada sacrum.
Perintahkan pasien untuk tetap bernapas normal, fiksasi lutut kearah caudal dan
angkat sacrum pasien perlahan, perhatikan perubahan kurva vertebra.
Strest Test Erector Spine
2. M. Quadratus Lumborum
a. Orientasi Test
Teknik Pelaksanaan
Pasien berdiri di depan fisioterapis.
Minta pasien untuk lateral fleksi kiri untuk quadratus lumborum kanan sambil
memegang sisi lateral knee (homolateral).
Kriterianya jika memendek maka lengkungan lebih datar, antara shoulder kanan
dengan garis gluteal sejajar, antara axilla dan shoulder tidak terjadi kontak.
b. Strest Test
Teknik Pelaksanaan
Pasien tidur terlentang dengan tangan berada di kepala dan posisi kaki
menyilang.
Fisioterapis berada di samping pasien dengan satu tangan berada di bagian
pelvic sisi atas sementara tangan lainnya menyangga bagian punggung pasien.
Fisioterapis mengangkat badan pasien ke lateral fleksi kiri untuk quadratus
lumborum kanan, tangan yang lain memfiksasi pelvic bagian kanan (secara pasif).
Sedangkan secara aktif pasien di minta untuk lateral fleksi kiri lalu di
bantu, maka antagonis terinhibisi/terhambat gerakannya.
Kriterianya jika memendek tidak bisa maksimal lateral fleksi.
3. M. Piriformis
a. Orientasi Test
Posisi pasien tengkurap dan fisioterapis berada di samping pasien.
Fisioterapis mempalpasi bagian tengah dari garis gluetal, trochanter dan
SIPS.
Kriterianya jika memendek akan teras keras/tegang.

b. Strest Test

Posisi pasien tidur terlentang dan fisioterapis berdiri pada sisi yang
berlawanan dan tungkai yang akan diperiksa.
Selanjutnya knee pasien difleksikan dalam rangkulan fisioterapis lalu
gerakkan kearah fleksi knee, fleksi hip, endorotasi hip dan adduksi hip (lutut
yang diperiksa digerakkan kearah shoulder yang berlawanan).
Kriterianya fleksi hip minimal 600.
4. M. Iliopsoas
a. Orientasi Test
Pasien dalam posisi berdiri dengan hip fleksi
dan fleksi knee, dimana tungkai yang dites
menumpu di lantai sedangkan tungkai yang
satunya berada pada bagian penyanggah
kaki pada stool.
Tarik stool (tungkai tetap berada pada stool)
dan perhatikan posisi tungkai yang dites. Jika
tungkai yang dites mengalami fleksi knee maka
positif terjadi pemendekan otot iliopsoas.
Ulangi rangkaian di atas pada sisi satunya dan
bandingkan ekstensibilitasnya.
b. Strest Test
Posisi pasien terlentang di atas bed dengan tungkai menggelantung di tepi bed
(modified Thomas test).
Fleksikan hip dan knee pasien hingga ke dada dan minta pasien untuk
mempertahankan dengan cara memeluknya. Sedangkan tungkai yang dites tetap
menggelantung di tepi bed.
Kemudian fisioterapis memberikan tekanan pada tungkai yang dites.
Otot ilipsoas positif memendek jika hip pada tungkai yang dites tidak rapat
pada bed.
MENTAL FUNCTION
Pain Anxiety Symptoms Scale (PASS)

Untuk mengukur fungsi mental pasien, khususnya mengidentifikasi sistem tingkat


kecemasan terhadap nyeri. Peralatan yang di butuhkan , seperti :
Instrument Pain Anxiety Symptoms Scale (PASS)
Pulpen
Posisikan pasien senyaman mungkin, tidak tegang atau rileks.

Teknik Operasional PASS

Pain Anxiety Symtoms Scale (PASS) memiliki 20 pernyataan, yang terbagi dalam
subskala; Cognitive anxiety (item 1-5), Avoidance response (item 6-10), Fearfull
appraisal (item 11-15), dan Physiological Arousal (item 16-20), dengan total
skor 100 point.
Instruksional : Silahkan gunakan rating scale dibawah untuk menandakan
seberapa sering anda terlibat setiap terlintas pemikiran atau beraktivitas.
Lingkari salah satu angka dari 0 (TIDAK PERNAH) ke 5 (SELALU) untuk setiap
item.
Pain Anxiety Symptoms Scale (PASS)Parameter

Skor 0 : Tidak pernah


Skor 1-25 : Sesekali
Skor 26-50 : Kadang-kadang
Skor 51-75 : Sering sedikitnya separuh waktu
Skor 76-100 : Disetiap waktu
PENGUKURAN ROM
Tujuan : untuk mengetahui ROM pada lumbal.
1. Fleksi dan ekstensi Lumbal

Schober Metode I :
Posisi subjek berdiri dengan cervical, thoracal dan lumbal 0.
Mengukur jarak antara proccessus spinosus C7 dan S1 dengan pita meteran
Posisi awal dilakukan pada saat subjek posisi tegak.
Pengukuran akhir dilakukan pada saat akhir gerakan fleksi.
Perbedaan antara pengukuran awal dan akhir menunjukkan besarnya jarak gerak
fleksi thoracal dan lumbal.

Magee menjelaskan bahwa perbedaan 10 cm pada pita meteran adalah


normal untuk pengukuran. AAOS menjelaskan bahwa 4 inchi merupakan
suatu pengukuran rata-rata untuk pengukuran rata-rata orang dewasa yang
sehat.
Goniometer
Posisi pasien : berdiri
Fulcrum : garis midaxillary pada lower costa.
Lengan proksimal : tegak lurus dengan lantai
Lengan distal : sejajar dengan garis midaxila.

Normal ROM fleksi : 40-60.


Normal ROM ekstensi : 20 35.

2. Lateral fleksi

Goniometer
Posisi subjek berdiri dengan cervical, thoracal dan lumbal 0.
Fulcrum : proc. Spinosus S1
Lengan proksimal : tegak lurus dengan lantai.
Lengan distal : pada bagian posterior proc. Spinosus C7.

Normal ROM fleksi : 15 - 20.


Meteran
Posisi subjek berdiri
Titik pertama pada ujung jari tengah.
Titik kedua pada lantai.
Jarak titik pertama dengan titik kedua saat lateral fleksi adalah Rom
lateral fleksi.
Normalnya : 15,9 16,9 cm
3. Rotasi

Posisi subjek duduk,


Fulcrum : pusat bagian atas kepala.
Lenan poksimal : sejajar dengan garis imajinasi crista iliaca.
Lengan distal : sejajar dengan garis imajinasi proc. Acromion.

Normal ROM fleksi : 3 18 .


SELF CARE AND HOME MANAGEMENT
(BARTHEL INDEX)
Untuk memperoleh tingkat kemampuan dan ketergantungan pasien/ klien dalam
melakukan activities of daily living (ADL). Persiapan Alatnya adalah Pastikan Instrumen
Barthel Index Scale telah tersedia. Persiapan Pasien : Jelaskan prosedur test kepada
pasien untuk mengurangi kecemasan pasien serta memastikan pasien kooperatif dan focus

Penatalaksanaan
Pilih score point untuk pernyataan yang paling mendekati tingkat kemampuan
terkini pasien/klien untuk setiap 10 item variabel, dengan memberi tanda
checklist ()
Index seharusnya digunakan sebagai catatan apa yang TIDAK MAMPU dilakukan
oleh pasien/klien, bukan sebagai catatan tentang apa yang pasien/klien bisa
lakukan
Gunakan semua informasi yang bisa diperoleh, baik dari laporan pasien sendiri,
dari pihak keluarga pasien/klien yang mengetahui benar kemampuan pasien,
atau dari hasil observasi pemeriksa.
Lihat bagian pedoman untuk informasi rinci tentang scoring dan interpretasi
Catat hasil pengukuran Barthel Index pada medical record pasien
Barthel Index Parameter

Skor 20 : Mandiri
Skor 12-29 : Ketergantungan ringan
Skor 9-11 : Ketergantungan sedang
Skor 5-8 : Ketergantungan berat
Skor 0-4 : Ketergantungan penuh
PENGUKURAN NYERI OSWESTRY
DISABILITY INDEX (ODI).
Tujuan : untuk menilai keterbatasan fungsional pada nyeri pinggang bawah.
Persiapan alat : alat ukur nyeri (OSWESTRY DISABILITY INDEX)
Persiapan Pasien : Jelaskan prosedur test kepada pasien untuk mengurangi
kecemasan pasien serta untuk memastikan pasien kooperatif.

Teknik Pelaksanaan :
Kuisioner oswestry disability index berupa formulir berisi 10 item pernyataan yang disusun
untuk memberikan gambaran terhadap kemampuan fungsional nyeri pinggang bawah, yang
terisi dari; item pertama mengukur intensitas nyeri dan 9 item lainnya mengukur pengaruh
nyeri terhadap aktivitas sehari hari yaitu perawatan diri, mengangkat, berjalan, berdiri,
duduk, tidur, aktivitas seksual, aktivitas sosial, dan tamasya. Sebelum mengisi kuisioner
tersebut, terlebih dahulu pasien diberi penjelasan tentang cara pengisian dan pasien harus
memberikan tanda cek () pada kotak yang disediakan. Pasien diminta memilih salah satu
pernyataan yang menggambarkan ketidak mampuan aktivitas fungsional.