Anda di halaman 1dari 23

DANA DESA

di susun oleh :

idris wibiwantoro 15210002


ALOKASI DANA DESA ??
Alokasi Dana Desa adalah dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Kabupaten yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antar desa untuk mendanai
kebutuhan desa dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta
pelayanan masyarakat. ADD merupakan perolehan
bagian keuangan desa dari kabupaten yang
penyalurannya melalui Kas Desa. ADD adalah bagian
dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang
diterima oleh Kabupaten.
Tujuan dari Alokasi Dana Desa

1) Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa


dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan,
pembangunan, dan kemasyarakatan sesuai
kewenangannya.
2) Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di
desa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai
dengan potensi desa.
3) Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan
bekerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat
desa.
4) Mendorong peningkatan swadaya gotong royong
masyarakat desa.
Alokasi Dana Desa didasarkan pada
ketetapan berikut ini:
a) Penetapan dan hasil perhitungan ADD setiap
tahun ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
b) Penetapan dan hasil perhitungan ADD
dimaksud diberitahukan kepada desa
selambat-lambatnya bulan Agustus setiap
tahunnya.
c) Data variabel independen utama dan variabel
independen tambahan selambat-lambatnya
dikirim oleh Tim Pendamping Tingkat
Kecamatan kepada Tim Fasilitasi Kabupaten
pada bulan Maret untuk penghitungan
ADD tahun berikutnya.
Penggunaan Alokasi Dana Desa
Alokasi Dana Desa digunakan untuk hal-hal
sebagai berikut:
a) Alokasi Dana Desa (ADD) yang
digunakan untuk penyelenggaraan
Pemerintah Desa Sebesar 30% dari
jumlah penerimaan Alokasi Dana Desa
(ADD).
b) Alokasi Dana Desa (ADD) yang
digunakan untuk pemberdayaan
masyarakat Desa sebesar 70%.
Agar Kepala Desa beserta perangkatnya dapat mengelola
keauangan desa secara akuntabel, maka perlu disiapkan
beberapa hal berikut ini :
1. Integritas dari kepala desa dan perangkat desa.
Integritas adalah hal pertama yang harus dimiliki
oleh kepala desa dan perangkat desa. Jika memiliki
integritas yang baik, maka kepala desa dan
perangkat desa akan memandang keuangan desa
sebagai amanah yang harus dikelola dengan sebaik-
baiknya untuk kesejahteraan warga desa.
2. Tata kelola.
pengelolaan keuangan desa akuntabel adalah adanya sistem
pengelolaan keuangan yang sederhana tapi kuat dan adanya
transparansi pengelolaan keuangan di tingkat desa. Terkait
sistem keuangan, dapat digunakan sistem pengelolaan
keuangan yang telah disusun oleh pemerintah di dalam
Permendagri No 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa.
3. . Kapasitas SDM.
Agar pengelolaan keuangan desa dapat akuntabel, maka
dibutuhkan pengelola yang kompeten. Dalam hal ini, pelatihan
dan pendampingan kepada kepala desa dan perangkat desa
menjadi hal yang wajib untuk dilakukan, khususnya oleh tim
kecamatan dan tim kabupaten. Perlu disadari bersama bahwa
peningkatan kapasitas adalah suatu proses yang
membutuhkan waktu.
4. Pengawasan warga.
Salah satu katup pengaman untuk mencegah
penyimpangan dana adalah pengawasan oleh warga.
Oleh karena itu, jika kondisi warga cenderung cuek dan
belum memiliki sikap peduli dan kritis mengawasi
pengelolaan APBDes ini, maka Kabupaten perlu memiliki
kegiatan khusus untuk meningkatkan partisipasi warga di
dalam melakukan pengawasan
Alokasi Dana Desa (ADD) diarahkan untuk membiayai
kegiatan meliputi :

Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintahan Desa Alokasi


Dana Desa (ADD) yang digunakan belanja aparatur dan
operasional Desa yaitu untuk membiayai kegiatan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa dengan prioritas
sebagai berikut:
A. Peningkatan Sumber Daya Manusia Kepala Desa dan
Perangkat Desa meliputi Pendidikan, Pelatihan,
Pembekalan, Studi Banding.
B. Biaya operasional Tim Pelaksana Bidang Pemerintahan.
C. Biaya tunjangan Kepala Desa, Perangkat Desa, tunjangan
dan operasional BPD, Honor ketua RT dan RW serta
penguatan kelembagaan RT / RW.
D. Biaya perawatan kantor dan lingkungan Kantor Kepala
Desa.
E. Biaya penyediaan data dan pembuatan pelaporan,
pertanggungjawaban meliputi :
Pembuatan/Perbaikan monografi, peta dan lain-lain data
dinding.
Penyusunan APBDes, LPPD dan LKPJ, pelaporan dan
pertanggung jawaban penggunaan Alokasi Dana Desa
(ADD).
Biaya lain-lain yang perlu dan mendesak, misalnya
Penanganan keadaan darurat seperti bencana alam,
kebakaran dan sebagainya.
Dana Desa yang digunakan untuk membiayai kegiatan
pemberdayaan masyarakat dengan prioritas kegiatan
seperti:
a) Biaya Pemberdayaan Manusia dan Institusi. Penggunaanya
meliputi:
Pembinaan Keagamaan.
Peningkatan kem ampuan Pengelola Lembaga Usaha Milik Desa
(BUMDES, LPMD, dsb) dalam rangka meningkatkan pendapatan
masyarakat.
Pelayanan kesehatan masyarakat terutama pada penanganan Gizi
Balita melalui POSYANDU.
Menunjang kegiatan 10 Progaram Pokok PKK, Kesatuan Gerak
PKK dan UP2K- PKK.
Menunjang kegiatan Anak dan Remaja antara lain pengadaan
sarana TPK, TK, sarana Olahraga, Karangtaruna dll.
Biaya Musrenbang dan serap aspirasi tingkat dusun / lingkungan
b) Biaya Pemberdayaan Lingkungan Penggunaanya meliputi:
Pembangunan/biaya perbaikan sarana publik dalam skala kecil atau
sarana perekonomian Desa seperti pembuatan jalan, talud/irigasi,
jembatan, los pasar, lumbung pangan dll.
Untuk penghijauan / tanaman hortikultura.
c) Biaya Pemberdayaan usaha/ ekonomi. Penggunaanya meliputi:
Pengembangan lembaga simpan pinjam melalui modal usaha
dalam bentuk BUMDes, UED-SP, LKPMD, Badan Perkreditan Desa
dan lembaga lainnya.
Pengembangan usaha mikro dan usaha kecil masyarakat antara
lain melalui penambahan modal usaha serta budidaya pemasaran
produk.
Biaya untuk pengadaan Pangan
Pengelolahan ADD
Untuk menimalisir bahkan mencegah terjadinya penyalahgunaan Alokasi Dana
Desa ini maka pemerintah kabupaten menetapkan pengaturan dan pengelolaan
yang harus ditaati oleh setiap pengelola ADD di setiap desa yang adalah
sebagai berikut:
Pengelolaan ADD dilakukan oleh Kepala Desa yang dituangkan kedalam
Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
Pengelolaan Keuangan ADD merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa beserta lampirannya.
Seluruh kegiatan yang didanai oleh ADD harus direncanakan.
ADD dilaksanakan dengan menggunakan prinsip efisien dan efektif, terarah,
terkendali serta akuntabel dan bertanggung jawab.
Bupati melakukan pembinaan pengelolaan keuangan desa.
ADD merupakan salah satu sumber pendapatan desa.
Pengelolaan Alokasi Dana Desa dilakukan oleh Pemerintah Desa yang
dibantu oleh lembaga kemasyarakatan di desa.
Secara keseluruhan anggaran yang telah diatur
sedemikian rupa berjalan cukup baik, namun juga terdapat
kendala kendala yang dialami. Adapun hambatan yang
dialami yaitu :
a. Badan Permusyawaratan Desa
Adalah satu badan inti yang bernaung di desa yang membantu
pemerintahan di desa dalam hal membuat dan mengesahkan
peraturan peraturan yang ada di desa serta membuat dan
merancangkan anggaran (RAPBDes).
b. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Merupakan lembaga kedua setelah BPD yang bernaung didanai oleh
desa yang bertugas membangun sarana dan prasarana yang belum
ada di desa seperti membangun daari segi fisik maupujn non fisik.
c. Kesadaran Masyarakat Kurang
Banyak kendala yang dirasakan karena kurangnya kesadaran
masyarakat dalam kegiatan kegiatan yang dilaksanakan untuk
kebaikan bersama atau bisa disebut kurangnya rasa gotong royong,
hanya sebagian masyarakat yang memiliki kesadaran yang tinggi.
Dasar Hukum Pengawasan
Dana Desa oleh BPD:
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Pasal 55 disebutkan Badan Permusyawaratan Desa
mempunyai fungsi:
a. Membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan
Desa bersama Kepala Desa.
b. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat
Desa.
c. Melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Pasal 48 :
Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan
kewajibannya, kepala Desa wajib:

a. Menyampaikan laporan penyelenggaraan


Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada
bupati/walikota;
b. Menyampaikan laporan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran
kepada bupati/walikota;
c. Menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan
pemerintahan secara tertulis kepada Badan
Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun
2014 Pasal 51:
A. Kepala Desa menyampaikan laporan keterangan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 48 huruf c setiap akhir tahun
anggaran kepada Badan Permusyawaratan Desa secara
tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya
tahun anggaran.
B. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
memuat pelaksanaan peraturan Desa.
C. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh
Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi
pengawasan kinerja kepala Desa.
DASAR PENGHITUNGAN
Ketentuan terkait sumber dana, model perhitungan, variabel
dan bobot yang digunakan dalam perhitungan sebagaimana
diatur dalam Pasal 7 dan Pasal 8 Peraturan Menteri
Keuangan ini, yaitu :
Dana Desa setiap Desa dihitung berdasarkan
1. Alokasi Dasar, yang merupakan alokasi yang dibagi
secara merata kepada setiap Desa dari pagu Alokasi
Dasar seiap kabupaten/kota.
2. Alokasi yang dihitung dengan memperhatikan jumlah
penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat
kesulitan geografis setiap Desa (yang selanjutnya dalam
pedoman ini disebut Bagian Formula), dengan bobot
sebagai berikut :
25% (dua puluh lima per seratus) untuk
jumlah penduduk.
35% (tiga puluh lima per seratus) untuk
angka kemiskinan.
10% (sepuluh per seratus) untuk luas
wilayah dan
30% (tiga puluh per seratus) untuk tingkat
kesulitan geografis
contoh kasus
Kasus korupsi alokasi dana desa (ADD) di Desa
Papasan, Kecamatan Bangsri, Jepara menjadikan
Zaenal Arifin selaku Kepala Desa (Kades) tahun 2011
harus mendapatkan hukuman penjara selama 1,5 tahun
dan denda puluhan juta. Selain dia, kasus tersebut juga
menyeret salah ketua RT bernama Surahman dengan
hukuman yang sama.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jepara Yuni Daru
Winarsih didampingi kasi Pidana Khusus (Pidsus) Yosef
menjelaskan, kronologi kasus yang telah diputuskan oleh
majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
Pengadilan Negeri Semarang tersebut.
Zaenal Arifin yang waktu itu menjabat Kades Papasan
mendapatkan ADD dari Pemkab Jepara sebesar Rp 110 juta
lebih. Dana tersebut, rencananya difungsikan untuk perbaikan
infrastruktur desa, meliputi jalan dan sebagainya,
Lebih lanjut dia mengemukakan, ADD tersebut cairnya secara
bertahap. Tahap pertama sebanyak Rp 22.116.000. Kemudian
tahap kedua Rp 33.174.000 dan tahap ketiga serta keempat
sebanyak Rp 55.290.000.
Dalam pelaksanaanya, ternyata dana sebesar 21.882.000 yang
diperuntukkan bagi aspal jalan itu, uangnya dimasukkan ke
tabungan milik Surahman yang menjabat sebagai salah satu
ketua RT pada waktu itu.
Kemudian kasus terungkap dan ditangani pihak kepolisian.
Selanjutnya diproses oleh Kejari Jepara dan mulai disidangkan
di Pengadilan Tipikor pada awal Juli 2015 lalu. Setelah menjalani
proses, akhirnya diputuskan pada Rabu (11/11/2015).
Dalam kasus ini, tidak hanya Zaenal Arifin, tapi juga menyeret
Surahman selaku Ketua RT 10 Desa Papasan. Sebab,
Surahman dalam kasus ini, ikut berperan menggunakan dan
menyimpan uang hasil korupsi dana tersebut.
Ia melanjutkan, namun dari angka kerugian itu, terdakwa sudah
berupaya mengganti rugi uang negara tersebut dalam proses
persidangannya pada 14 Juli 2015 di hadapan Majelis Hakim
Tipikor Pengadilan Negeri Semarang.
Hasil putusan persidangan lalu, terdakwa dan jaksa penuntut
umum masih pikir-pikir. Oleh majelis hakim, diberikan jangka
waktu tujuh hari, terhitung waktu sidang putusan berlangsung.
TERIMA KASIH