Anda di halaman 1dari 41

PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN DARI

DEPENDENT DAN INDEPENDENT PERSONAL


SERVICES
BERBASIS P3B

OLEH:
MUSTIKA AJENG SARI (13130210007)
INGGRAINI ROSARI (13130210012)
RELIA APITA F (13130210022)
LATAR BELAKANG
Penghasilan yang berasal dari hubungan kerja (labour income) dianggap bersumber di negara di
mana pekerjaan itu dilakukan.

Dalam hal tertentu, hak pemajakan atas penghasilan ini dikenai pajak di negara domisili jika
memenuhi syarat tertentu.

Terdapat beberapa hal pemajakan yang diserahkan sepenuhnya kepada negara sumber misalnya
penghasilan atlet, artis dan direktur.

Pemajakan atas penghasilan dari hubungan kerja dapat dipajaki berbasis ketentuan domestic
maupun ketentuan P3B.
PENGERTIAN DEPENDENT PERSONAL SERVICE

Dependent personal service adalah imbalan yang diperoleh oleh penduduk negara domisili atas pekerjaan yang dilakukan di
negara sumber dan hanya dikenakan pajak di negara domisili bila dipenuhi 3 syarat berikut:
a) Penerimaan gaji tersebut berada di negara sumber tidak melebihi jangka waktu yang ditetapkan dalam tax treaty dalam
satu tahun pajak.
b) Gajinya dibayar oleh pemberi kerja yang bukan merupakan penduduk negara sumber.
c) Gajinya tidak dibebankan kepada BUT atau fixed base yang dimiliki pemberi kerja yang ada di negara sumber.

Pengecualian untuk shipping dan air transport yang beroperasi di


jalur internasional, pengenaan pajak atas gaji terhadap mereka
yang bekerja, tunduk pada ketentuan yang diatur dalam Pasal 8
tentang Shipping and Air Transport yaitu dikenakan pajak di
negara pimpinan perusahaan berada.
PENGERTIAN INDEPENDENT PERSONAL
SERVICE

Independent Personal Service dikenal dengan konsep tempat usaha tetap (fixed base):
a) Memiliki tempat tertentu yang tetap dan tersedia secara teratur.
Misalnya:
- Praktik dokter
- Kantor akuntan
b) Tinggal di negara lain itu selama masa atau masa yang berjumlah hari (time test)
c) Penentuan batas minimum imbalan yang diterima jika tenaga professional tersebut dibayar oleh penduduk negara
sumber.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN DARI
HUBUNGAN KERJA
Pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari hubungan kerja diatur dalam Pasal 15 dari Model.

Ayat (1)

1. Subject to the provisions of Articles 16 (Directors Fees), 18 (Pensions), and 19 (Government Service), salaries, wages and other similar
remuneration derived by a resident of a Contracting State in respect of an employement shall be taxable only in that State unless the
employement is exercised in the other Contracting State. If the employement is so exercised, such remuneration as is derived therefrom
may be taxed in that other State.

Tunduk kepada ketentuan-ketentuan pasal-pasal 16 (penghasilan para Direktur), 18 (Pensiun), dan 19 (Pegawai Negeri), gaji,
upah dan imbalan lain yang sejenis yang diterima oleh seorang penduduk dari suatu negara sehubungan dengan pekerjaan hanya
akan dikenai pajak di negara itu kecuali pekerjaan itu dilakukan di negara lain. Bila pekerjaan itu dilakukan di negara lain tersebut
maka imbalan yang diterima dapat dikenai di negara lain itu.
LANJUTAN

Pasal 15 Ayat (1) Model yang mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diperoleh dari hubungan kerja
menganut prinsip umum pengenaan pajak atas penghasilan yang diperoleh sehubungan dengan pekerjaan, yaitu
pengenaan pajak di negara di mana pekerjaan itu dilakukan.

Hal ini berarti bahwa penduduk salah satu negara yang memperoleh gaji yang bersumber di negara lainnya tidak
dapat dikenai pajak di negara lainnya itu hanya karena hasil kerjanya dipergunakan di negara tersebut namun,
prinsip umum ini tidak berlaku bagi pensiun (swasta) dan gaji serta pensiun pegawai negeri yang dituangkan dalam
rumusan ayat (2).
LANJUTAN

Ayat (2)

2. Notwithstanding the provisions of paragraph 1, remuneration derived by a resident of a Contracting State in respect of an
employement exercised in the other Contracting State shall be taxable only in the first mentioned State if:
a. The recipient is the present in the other State for a period or periods not exceeding in the aggregate 18 days in any
twelve month period commencing or ending in the fiscal year concerned.
b. The remuneration is paid by, or on behalf of, an employer who is not a resident of the other Contracting State.
c. The remuneration is not borne by a permanent establishment or a fixed base which the employer has in the other
State.
LANJUTAN

Ayat (2)

Menyimpang dari ketentuan-ketentuan ayat (1), imbalan yang diterima oleh penduduk dari salah satu negara dari
pekerjaan yang dilakukannya di negara lain hanya akan dikenai pajak di negara yang disebut pertama jika:
a. Pihak penerima penghasilan berada di negara lain itu selama masa atau masa-masa yang jumlahnya tidak melebihi
183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.
b. Balas jasa tersebut dibayar oleh, atau atas nama pemberi kerja yang bukan merupakan penduduk negara lain itu.
c. Balas jasa tersebut tidak menjadi beban dari suatu BUT atau tempat usaha tetap yang dimiliki oleh pemberi kerja di
negara lain itu.
LANJUTAN

Pasal 15 Ayat (2) merupakan pengecualian dari prinsip umum, yaitu walaupun pekerjaannya dilakukan di negara lain
(negara sumber), pengenaan pajaknya tetap dilakukan di negara domisili sepanjang memenuhi tiga syarat secara
kumulatif.

Syarat:
1. Karyawan yang bersangkutan berada di negara sumber kurang dari 183 hari dalam masa 12 bulan;
2. Pemberi kerja yang membayar gaji karyawan yang bersangkutan bukan penduduk negara di mana pekerjaan itu
dilakukan;
3. Bila pemberi kerja mempunyai BUT di negara tempat pekerjaan itu dilakukan.
LANJUTAN
Ayat (3)

Notwithstanding the proceeding provisions of this article , remuneration derived in respect of an employment exercised aboard a ship
or aircraft operated in international traffic, or aboard a boat engaged in inland waterways transport, may be taxed in the Contacting
State in which the place of effective management of the enterprise in situated.

Menyimpang dari ayat-ayat terdahulu dari pasal ini, balas jasa yang diterima sehubungan dengan pekerjaan sebagai awak kapal
laut atau udara yang dioperasikan dalam jalur internasional, atau di atas perahu dalam pengangkutan sungai, dapat dikenai
pajak di negara di mana pimpinan perusahaan berada.

Pasal 15 Ayat (3) memberikan pengecualian atas gaji yang diterima oleh para awak kapal yang bekerja di kapal, pesawat udara
serta kapal sungai yang beroperasi di jalur internasional.

Jika ada karyawan darat, yaitu karyawan yang bertugas melayani pemesanan tiket dan lain-lain, maka perlakuan pajaknya
tunduk kepada ketentuan umum, yaitu dikenai pajak di negara di mana pekerjaan itu dilakukan.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN DIREKTUR

Pengenaan pajak terhadap gaji yang diterima oleh top level managerial position diatur dalam pasal 16.

Top level managerial position adalah para manajer penduduk dari satu negara yang menduduki posisi di perusahaan
yang berdomisili di negara lainnya.

Tugas dan tanggung jawab top level managerial berbeda dari para direktur yang terlibat dalam kegiatan perusahaan
secara rutin yakni memberikan pengarahan secara umum kepada perusahaan.
LANJUTAN

Article 16
Directors fee and remuneration of top level managerial officials

1. Directors fee and other similar payment derived by a resident of a Contracting State in his capacity as a member of the
board of directors of a company which is a resident of the other Contracting State may be taxed in the other State.

Penghasilan seorang direktur dan pembayaran-pembayaran yang sejenis yang diterima oleh seorang penduduk salah
satu negara dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi dari suatu perseroan yang berkedudukan di negara
lain dapat dikenai pajak di negara lain itu.
LANJUTAN

Pasal 16 Ayat (1) mengatur bahwa imbalan yang diterima oleh anggota dewan direksi dikenai pajak di negara di
mana perusahaan berdomisili.

Hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya, sebab sering kali penentuan di mana kegiatan pekerjaan
(dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi) adalah sulit.

Maka dari itu, yang diberi hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayar gaji berkedudukan, bukan di
negara di mana pekerjaan itu dilakukan.
LANJUTAN

Article 16
Directors fee and remuneration of top level managerial officials

2. Salaries, wages and other similar remuneration derived by a resident of a Contracting State in his capacity as an official in
a top level managerial position of a company which is resident of the other Contracting State may be taxed in the other
State.

Gaji, upah, dan imbalan-imbalan lain yang sejenis yang diperoleh seorang penduduk dari salah satu negara dalam
kedudukannya sebagai manajer pimpinan dari suatu perusahaan yang merupakan penduduk dari negara lain dapat
dikenai pajak di negara lain itu.
LANJUTAN

Pasal 16 Ayat (2) memberi penegasan jika seorang menduduki posisi sebagai direktur yang terlibat dalam kegiatan
manajemen sehari-hari, perlakuan pajak atas gaji yang diterimanya mengikuti prinsip umum, yaitu dikenai pajak di
negara di mana pekerjaan itu dilakukan.

Misalnya, seorang direktur (bukan penduduk Indonesia) dari suatu PT PMA bertugas di Indonesia untuk mengelola
perusahaan tersebut. Perlakuan penghasilan yang diterimanya tunduk kepada prinsip umum yaitu dikenai pajak
dengan tarif umum yang berlaku, yaitu Pasal 17 UU PPh.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN ARTIS DAN
OLAHRAGAWAN

Pengenaan pajak terhadap artis dan olahragawan yang berasal dari negara domisili dan melakukan kegiatan di negara
sumber diatur dalam UN Model di Pasal 17.

Prinsip yang terkandung dalam pasal ini menyimpang dari prinsip yang berlaku untuk kegiatan usaha atau hubungan
kerja.

Pada prinsipnya, imbalan yang diterima oleh para artis dan olahragawan yang melakukan kegiatan usaha di negara
sumber dikenai pajak di negara sumber tersebut tanpa melihat jangka waktunya.
LANJUTAN

Rumusan Pasal 17 UN Model sama dengan OECD Model yaitu:

Article 17
Artistes and sport persons

1. Notwithstanding the provisions of Articles 14 and 15, income derived by a resident of a Contracting State as an entertainer, such as a
theatre, motion picture, radio or television artiste, or a musician, or as a sport persons, from their personal activities as such exercised in
the other Contracting State, may be taxed in that other State.

Menyimpang dari ketentuan-ketentuan pasal 14 dan 15, penghasilan yang diperoleh seorang penduduk dari salah satu negara
sebagai artis seperti artis teater, film, radio atau artis televisi, atau sebagai atlet dari kegiatan perseorangan yang dilakukan di
negara lainnya dapat dikenai pajak di negara lainnya itu.
LANJUTAN

Rumusan Pasal 17 UN Model sama dengan OECD Model yaitu:

Article 17
Artistes and sport persons

2. Where income in respect of personal activities exercised by an entrepreneur or a sportsman in his capacity as such accrues not to the
entertainer or sportsman themselves but to another person, that income may, notwithstanding the provisions of Articles 7, 14 and 15, be
taxed in the Contracting State in which the activities of the entertainer or sports man are exercised.

Jika penghasilan sehubungan dengan kegiatan perseorangan yang dilakukan oleh artis atau atlet tersebut diterima bukan oleh artis
atau atlet itu sendiri tetapi oleh orang atau badan lain menyimpang dari ketentuan pasal 7, 14, dan 15 maka penghasilan tersebut
dapat dikenai pajak di negara di mana kegiatan itu dilakukan.
LANJUTAN

Pasal 17 Ayat (1) mengatakan bahwa artis dan olahragawan yang berdomisili di salah satu negara dapat dikenai pajak
di negara lainnya di mana kegiatan tersebut berlangsung, tanpa melihat apakah kegiatan itu dilakukan dalam
kapasitasnya sebagai independent professional atau sebagai dependent personal services.

Pasal 17 Ayat (2) untuk mencegah terjadinya pengelakan pajak, yaitu bila imbalan atas pertunjukan tidak dibayarkan
langsung kepada artis melainkan kepada badan yang bertindak sebagai pengelola para artis.

Jika Pasal 17 Ayat (2) tidak ada, imbalan tersebut dapat lolos dari pengenaan pajak di negara sumber karena imbalan
dari kegiatan tersebut akan tunduk kepada Pasal 7 (Business Income) yaitu hanya dapat dikenai pajak bila dilakukan
melalui suatu BUT.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN PENSIUN

UN Model memberikan 2 alternatif mengenai pemajakan atas pensiun yakni:


1. Pasal 18A memberikan hak pemajakan sepenuhnya kepada negara domisili. Jika pensiun tersebut dibayar dalam
rangka program pensiun publik yang merupakan bagian dari sistem jaminan sosial dari suatu negara, maka negara
sumberlah yang diberi hak untuk memajakinya.

2. Jika pensiun tersebut merupakan program jaminan sosial umum dari salah satu negara, maka hak pemajakannya
diberikan sepenuhnya kepada negara sumber.
LANJUTAN

Rumusan Pasal 18:

Alternatif A
Article 18
Pensions and Social Security Payments

1. Subject to the provisions of paragraph 2 of article 19, pensions and other similar remuneration paid to a resident of a
Contracting State in consideration of past employement shall be taxable only in that State.

Dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan ayat (2) Pasal 19, pensiun dan imbalan yang sejenis yang dibayar
kepada penduduk dari salah satu negara sehubungan dengan pekerjaan di masa lampau hanya dikenai pajak di
negara tersebut.
LANJUTAN

Rumusan Pasal 18:

Alternatif A
Article 18
Pensions and Social Security Payments

2. Notwithstanding the provisions of paragraph 1, pensions paid and other payments made under a public scheme witch is part of the social
security of Contracting State or a political subdivision or a local authority thereof shall be taxable only in that state.

Menyimpang dari ketentuan ayat (1), pensiun yang dibayar atau pembayaran-pembayaran lainnya dalam rangka program umum
yang menjadi bagian dari tunjangan sosial dari salah satu negara atau bagian ketatanegaraannya hanya dikenai pajak di negara itu.
LANJUTAN

Pasal 18 Ayat (1) menganut prinsip pemajakan atas pensiun yang dilakukan oleh negara domisili.

Ketentuan di ayat (1) berlaku bagi:


a) Pensiun untuk karyawan swasta.
b) Pensiun yang diterima oleh janda dan anak yatim dan pembayaran lain yang serupa dengan pensiun seperti tunjangan hari tua.
c) Orang yang bekerja untuk negara dan pemerintah daerah.

Berdasarkan ketentuan UU PPh, dana pensiun yang sudah mendapat persetujuan Menteri Keuangan boleh dikurangkan sebagai
biaya.

Dalam model treaty Indonesia yang dijadikan pedoman perundingan, Indonesia memegang prinsip pengenaan pajak atas pensiun di
negara sumber.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN PEGAWAI
NEGERI

Aturan mengenai perlakuan pajak terhadap pegawai negeri yang bekerja di luar negeri yang dimuat dalam pasal yang
disebut Government Services, yang diatur pada Pasal 19.

Ada tiga masalah pokok yang diatur dalam Pasal 19, yaitu:
1. Gaji yang diterima oleh pegawai negeri yang berada di luar negeri.
2. Pensiun yang diterima oleh pegawai negeri.
3. Perlakuan pajak atas penghasilan pegawai negeri dalam kapasitasnya sebagai karyawan badan usaha milik negara
yang dipekerjakan di luar negeri.
LANJUTAN

Article 19
Government Service
1. (a) Salaries, wages and other similar remuneration other than pension, paid by a Contracting State or a political subdivision
or a local authority thereof to an individual in respect of services rendered to that State or subdivision or authority shall
be taxable only in that State.

Gaji, upah atau imbalan lain yang sejenis selain pensiun, yang dibayar oleh salah satu Negara atau bagian
ketatanegaraannya atau pemerintah daerahnya kepada seseorang sehubungan dengan jasa-jasa yang diberikannya
kepada Negara tersebut atau pemerintahnya hanya dikenai pajak di Negara itu.
LANJUTAN
Article 19
Government Service

1. (b) However, such salaries, wages and other similar remuneration shall be taxable only in the other Contracting State if the services are
rendered in that order State and the individual is a resident of that State who:
(i) is a national of that State; or
(ii) did not become a resident of that State solely fot the purposes of rendering the services.

Gaji, upah, dan imbalan lain yang sejenis tersebut hanya dikenai pajak di Negara lainnya jika jasa-jasa tersebut diberikan di
Negara lain tersebut dan orang tersebut adalah penduduk Negara itu yang:
(i) merupakan warganegara itu; dan
(ii) tidak menjadi penduduk Negara itu semata-mata hanya untuk memberikan jasa-jasa tersebut.
LANJUTAN

Article 19
Government Service

2. - Any pension paid by, or out of funds created by, a Contracting State or a political subdivision or a local authority thereof to an
individual in respect of services rendered to that State or subdivision or authority shall be taxable only in that State.
- However, such pension shall be taxable only in the other Contracting State if the individual is a resident of, and a national of, that
State.

Pensiun yang dibayarkan oleh, atau dari dana yang dibentuk oleh suatu Negara atau bagian ketatanegaraan atau pemerintah
daerahnya kepada seseorang sehubungan dengan jasa-jasa yang diberikannya kepada Negara itu atau pemerintahnya hanya akan
dikenai pajak di negara itu. Tetapi, pensiun itu hanya dikenai pajak di Negara lainnya bila orang tersebut adalah penduduk dan
warga negara dari Negara lain tersebut.
LANJUTAN
Article 19
Government Service

3. The provisions of articles 15, 16, 17 and 18 shall aply to salaries, wages and other similar remuneration and to pensions in
respect of services rendered in connection with a business carried on by a Contracting State or a political subdivision or a
local authority thereof.

Ketentuan-ketentuan Pasal 15, 16, 17 dan 18 berlaku bagi imbalan dan pensiun dari jasa-jasa yang diberikan
sehubungan dengan usaha yang dijalankan oleh suatu Negara atau bagian ketatanegaraan atau pemerintah
daerahnya.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN PELAJAR DAN
PEMAGANG

Perlakuan pajak atas pembayaran yang diterima oleh pelajar atau mahasiswa dan pemagang yang sedang belajar atau
magang di negara lain diatur dalam Pasal 20.

Prinsip umum yang dipakai adalah bahwa sepanjang pembayaran berasal dari luar negara tempat mereka belajar
atau magang, pembayaran tersebut dibebaskan dari pengenaan pajak di negara yang disebut terakhir.
LANJUTAN
Article 20
Students

Payments which a student or business trainee or apprentice who is or was immediately before visiting a Contracting State a
resident of the other Contracting State and who is present in the first-mentioned State solely for the purpose of his
maintenance, education, or training shall not be taxed in that State, provided that such payments arise from sources outside
that State.

Pembayaran yang diterima oleh pelajar atau pemagang yang merupakan penduduk atau segera sebelum mengunjungi
suatu Negara merupakan penduduk Negara lainnya dan berada di Negara yang disebut pertama semata-mata untuk
keperluan hidup, mengikuti pendidikan atau latihan, tidak akan dikenai pajak di Negara itu sepanjang pembayaran-
pembayaran tersebut berasal dari sumber-sumber di luar Negara itu.
LANJUTAN

Pembebasan pengenaan pajak di negara di mana pelajar atau pemagang itu tinggal akan diberikan hanya jika
tujuannya adalah untuk menjalani pendidikan atau pelatihan.

Jika selama dalam masa pendidikan pelajar atau pemagang melakukan kegiatan yang memberikan penghasilan, maka
ketentuan Pasal 20 tidak berlaku.

Contoh:
Seorang mahasiswa dari negara domisili sedang belajar di negara sumber dan dalam waktu senggangnya memberikan
pelajaran bahasa Inggris. Dari kegiatan tersebut, ia memperoleh honor. Ia harus membayar pajak atas honor tersebut.
Tetapi, pembebasan pajak atas beasiswa yang diterimanya tetap berlaku. Walaupun ia memperoleh penghasilan di
negara sumber dan dikenai pajak, hal ini tidak mempengaruhi penerapan Pasal 20 tersebut.
PEMAJAKAN ATAS PENGHASILAN LAIN LAIN

P3B juga mengatur hak pemajakan atas penghasilan lain-lain.

Berdasarkan UN MODEL, PPh Pasal 21 (Other Income) yang menganut prinsip domisili (Resident Principle) mengatur
bahwa negara domisili berhak sepenuhnya mengenakan pajak atas penghasilan yang tidak dicakup oleh pasal-pasal
sebelumnya.

Relevansi dari PPh Pasal 21 terdapat pada dua hal :


1. Penghasilan tersebut tidak termasuk dalam kategori yang diatur dalam pasal - pasal sebelumnya (PPh Pasal 6
sampai 20).
2. Pasal sebelumnya memberikan aturan pembagian hak pemajakan atas penghasilan yang timbul di negara sumber
saja, di negara domisili dan negara ketiga tidak diatur.
LANJUTAN
Article 21
Other Income

1. Items of income of a resident of a Contracting State, wherever arising, not dealt with in the foregoing articles of this Convention
shall be taxable only in that State.

Jenis - jenis penghasilan penduduk dari salah satu Negara, dari mana pun asalnya, dan tidak tunduk kepada pasal - pasal
terdahulu dalam persetujuan ini, hanya akan dikenai pajak di negara tersebut.

Masalah yang ada dalam ayat 1 adalah :


a) Items of income not dealt with, maksudnya adalah interpretasi dalam menentukan jenis penghasilan yang mana.
b) wherever arisingyang artinya sumber penghasilan, sumber penghasilan itu mungkin bersumber di negara
ketiga, tanpa melihat apakah negara tersebut mempunyai P3B degan negara yang pertama dan kedua (yang
mempunyai P3B).
LANJUTAN
Article 21
Other Income

2. The provisions of paragraph 1 shall not apply to income, other than income from immovable property as defined in
paragraph 2 of article 6, if be recipient of such income, being a resident of a Contracting State, carries on business in the
other Contracting State through a permanent establishment situated therein, or performs in that other State independent
personal services from a fixed base situated therein, and the right or property in respect of which the income is paid is
effectively connected with such permanent esrablishment for fixed base. In such case the provisions of article 7 or article 14,
as the case may be, shall apply.

Ketentuan - ketentuan ayat 1 tidak akan berlaku bagi penghasilan, selain dari harta tak bergerak sebagaimana
disebutkan di Pasal 6 ayat 2, bila penerima penghasilan adalah penduduk salah satu Negara yang menjalankan usaha
melalui suatu BUT atau melakukan pekerjaan bebas melalui suatu tempat usaha tetap di Negara lainnya, dan hak
atau harta sehubungan dengan penghasilan itu mempunyai hubungan yang efektif dengan BUT atau tempat usaha
tetap itu.
LANJUTAN
Article 21
Other Income

3. Not whit standing the provisions of paragraphs 1 and 2, items of income of a resident of a Contractig State not dealt with
in the foregoing articles of this Convention and arising in the other Contracting State may also be taxed in that other State.

Menyimpang dari ketentuan - ketentuan ayat 1 dan ayat 2, jenis penghasilan dari penduduk salah satu Negara yang
tidak dicakup dalam pasal - pasal terdahu dari persetujuan ini, dan berasal dari Negara lainnya dapat juga dikenai
pajak di Negara lain tersebut.
KESIMPULAN
Pemajakan atas penghasilan dari hubungan kerja diatur dalam Pasal 15 dari Model : gaji, upah dan imbalan lain yang
sejenis yang diterima oleh seorang penduduk dari suatu negara sehubungan dengan pekerjaan hanya akan dikenai
pajak di negara itu kecuali pekerjaan itu dilakukan di negara lain.
Pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh top level managerial position diatur dalam Pasal 16 yaitu penghasilan
yang diterima oleh anggota dewan direksi dikenai pajak di negara di mana perusahaan berdomisili.
Pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang terlibat dalam kegiatan manajemen sehari-hari dikenai
pajak di mana pekerjaan itu dilakukan.
Pemajakan atas penghasilan yang diterima artis dan olahragawan yang berasal dari negara domisili dan melakukan
kegiatan di negara sumber diatur dalam Pasal 17 dari Model, yaitu penghasilan yang diterima oleh artis dan
olahragawan yang melakukan kegiatan usaha di negara sumber dikenai pajak di negara sumber tersebut tanpa
melihat jangka waktunya.
KESIMPULAN

Pemajakan atas penghasilan pensiun diatur dalam Pasal 18 dari Model, yaitu pensiun dan imbalan sejenis yang
dibayar kepada penduduk dari salah satu negara sehubungan dengan pekerjaan di masa lampau hanya dikenai pajak
di negara tersebut.
Pemajakan atas penghasilan pegawai negeri yang bekerja di luar negeri diatur dalam Pasal 19, yaitu gaji, upah, atau
imbalan lain yang sejenis selain pensiun yang dibayar oleh salah satu Negara kepada seseorang sehubungan dengan
jasa yang diberikannya kepada Negara tersebut hanya dikenai pajak di Negara itu.
Pemajakan atas penghasilan pelajar dan pemagang diatur dalam Pasal 20, yaitu pajak atas pembayaran yang diterima
oleh pelajar atau mahasiswa dan pemagang yang sedang belajar atau magang di negara lain dibebaskan dari
pengenaan pajak di negara yang disebut terakhir.
STUDI KASUS

SOAL:
Jackson adalah seorang warga negara Belanda. Dia bekerja sebagai seorang akuntan di Indonesia karena diminta oleh salah
satu perusahaan yang ada di Indonesia. Dalam tahun 2016 ini, total Jackson berada di Indonesia yaitu 190 hari. Akan tetapi
total hari tersebut dilalui Jackson tidak terus menerus melainkan secara periode tertentu atau parsial. Penghasilan yang
diterima Jackson yaitu Rp 500.000.000. Berdasarkan kasus tersebut negara mana yang berhak atas pemajakan penghasilan
yang diterima oleh Jackson?

JAWAB:
Hak perpajakan atas transaksi Jackson tersebut yaitu berada pada negara sumber atau negara Indonesia, dengan begitu
maka Jackson akan dikenakan PPh 26 yaitu 20% x Rp 500.000.000 = Rp 100.000.000 (karena kedudukan atau tempat
tinggal Jackson tidak berada di Indonesia walaupun sudah berada di Indonesia lebih dari 183 hari.
STUDI KASUS

SOAL:
Lionel Messi adalah seorang pesepak bola asal Argentina yang di kontrak 3 bulan senilai Rp 10.000.000.000 oleh Persib
Bandung. Bagaimana perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima Lionel Messi tersebut?

JAWAB:
Hak perpajakan atas kasus tersebut yaitu hak pemajakan pada negara sumber walaupun Messi tidak lebih dari 183 hari
tinggal di Indonesia. Ini disebabkan karena atas olahragawan tidak termasuk penghasilan atas independent personal
service melainkan income from employment yang diatur dalam Pasal 17 ayat 1 OECD dan UN Model dimana model
tersebut memberikan hak pemajakan kepada negara sumber ketika para artis atau olahragawan melakukan
pertunjukan atau pertandingan di negara sumber.
REFERENSI

Surahmat, Rachmanto. 2011. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Salemba Empat

Anda mungkin juga menyukai