Anda di halaman 1dari 43

1.

Yuliana Kl 15 010 20
2. Yani 15 010 16

SEDIAN TOPIKAL
&
ANTIHISTAMIN
PENDAHULUAN
A. Histamin
Histamin adalah senyawa normal yang ada dalam
jaringan tubuh, yaitu pada jaringan sel mast dan
peredaran basofil, yang berperan terhadap berbagai
proses fisiologis yang penting.
Histamin merupakan produk dekarboksilasi dari
asam amino histidin.
Pelepasan histamin terjadi akibat:
1. Rusaknya sel
2. Senyawa kimia
3. Reaksi hipersensitivitas
4. Sebab lain (thermal, mekanik, dan radiasi)

Alergen: spora, debu, sinar UV, cuaca, racun,


deterjen, enzim proteolitik (tripsin), zat warna, obat,
makanan.
Antihistamin adalah
zat-zat yang dapat
mengurangi atau
menghalangi efek
Definisi histamin terhadap
tubuh dengan jalan
Antihistamin memblok reseptor
histamin
(penghambatan
saingan)
Berdasarkan hambatan pada reseptor khas
antihistamin dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :
1. Antagonis H-1
2. Antagonis H-2
3. Antagonis H-3
Penggolongan Obat

Berdasarkan penemuan ini,


antihistamin juga dapat dibagi dalam dua
kelompok, yakni antagonis reseptor-H1
(singkatnya disebut H1-blockers atau
antihistaminika) dan antagonis reseptor
H2 (H2-blockers atau zat penghambat-
asam)
ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H1
(ntihistmin klsik)
Mengantagonir histamin dengan jalan
memblok reseptor-H1 di otot halus dari dinding
pembuluh, bronchi dan saluran cerna, kandung
kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek
histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare
reaction). Efeknya adalah mencegah timbulnya
reaksi elergi.
Dahulu antihistamin dibagi secara
kimiawi dalam 7-8 kelompok, tetapi kini
digunakan penggolongan dalam 2 kelompok
atas dasar kerjanya terhadap SSP, yakni zat-
zat generasi ke-1 dan ke-2
Antihistamin ( AH1) Generasi Pertama
1. Azatadine
2. Azelastine
3. Brompheniramine
4. Chlorpheniramine
5. Clemastine
6. Cyproheptadine
7. Dexchlorpheniramine
8. Hydroxyzine
9. Promethazine
10. Tripelennamine
11. definhidraminj
Pendahuluan
Antihistamin Antalergi Penglepasan histamin

Generasi Pertama
bagian penting rancangan obat Sifat fisika kimia
untuk mendapatkan suatu
obat baru dengan aktivitas & kes
Efek elektifan yang lebih tinggi dan
efek samping yang sekecil
HKSA
Samping
mungkin dan kenyamanan yang
lebih besar.
Modifikasi
molekul
Sedasi

Rasa mengantuk
Penurunan daya Golongan Propilamin &
tangkap senyawa turunannya
Azetadine
Indikasi : gangguan saluran nafas akibat alergi, termasuk rinitis
alergi akut dan kronik, rinitis vasomotor, bersin, hidung tersumbat,
hipersekresi air mata, batuk, urti karia baik akut atau kronik, udem
angioneurotik, eksem, gigitan serangga, pruritus anovulva.
Efek samping: letih, mulut kering, anoreksia, mual, mual, sakit
kepala, mengantuk, disuria, penglihatan kabur.
Peringatan : glaukoma sudut sempit, hipertropi prostat atau
obstruksi struktural kandungan kencing, obstruksi piloroduodenal,
penyakit kardiovaskular, hiper tiroid, kenaikan tekanan intra okuler,
anak <1thun; pasien yang mempunyai lesi vokal di korteks
serebrum, sensitivitas silang dengan obat-obat sejenis: hindari
menjalankan kendaraan atau mesin; hamil dan menyususi.
Kontraindidkasi : bayi baru lahir dan prematur; pasien yang
mendapat penghambat MAO; hipersensitivitas, serangan
asam urat.
Dosis :1 mg naikkan bila perlu sampai 2 mg, dua kali perhari,
anak <1 thun tidak dianjurkan, 1-6 tahun 250 mcg dua kali
sehari; 6-12 tahun 0,5-1 mg dua kali sehari.
Mekanisme kerja :Antihistamin seperti azatadine terlihat
bersaing dengan histamin untuk histamin H1-reseptor pada
sel efektor. Para antihistamin menentang efek-efek
farmakologis histamin yang dimediasi melalui aktivasi reseptor
H1-situs dan dengan demikian mengurangi intensitas reaksi
alergi dan jaringan respon cedera yang melibatkan pelepasan
histamin.
Brompheniramine
Indikasi : Untuk pengobatan gejala dari rhinitis alergi
dingin dan umum, seperti pilek, mata gatal, mata berair,
dan bersin.
Kontraindikasi : Bayi prematur dan neonatus
Efek samping : Depresi SSP termasuk mengantuk,
kelelahan, pusing, inkoordinasi. Sakit kepala, penurunan
nilai psikomotor dan efek antimuscarinic. Jarang, ruam
dan reaksi hipersensitivitas, gangguan darah, kejang,
berkeringat, mialgia, paraesthesias, efek ekstrapiramidal,
tremor, kebingungan, tidur dan gangguan GI, tinnitus,
hipotensi, rambut rontok.
Mekanisme kerja : Brompheniramine bekerja dengan
bertindak sebagai antagonis dari reseptor histamin H1.
Selain berfungsi sebagai agen anticholingeric cukup
efektif, kemungkinan agen antimuscarinic mirip dengan
antihistamin umum lainnya seperti diphenhydramine.
Efeknya pada sistem kolinergik dapat mencakup efek
samping seperti mengantuk, sedasi, mulut kering,
tenggorokan kering, penglihatan kabur, dan peningkatan
denyut jantung.
Dosis : 4-8 mg 3-4 kali sehari; anak sampai 3 tahun 0,4-1
mg/kg sehari dalam 4 dosis bagi; 3-6 tahun 2 mg 3-4 kali
sehari, 6-12 tahun 2-4 mg 3-4 kali sehari.
chlorpeniramin
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever; urtikaria;
pengobatan darurat reaksi anafilaktik.
Peringatan : glaukoma sudut sempit, hamil, resistensi
urin, hipertropi prostat, pasien dengan lesi vokal
korteks serebrum; hindari mengemudi dan
menjalankan mesin, sensitivitas silang dengan obat
sejenis; penyuntikan dapat menimbulkan irirtasi dan
menyebabkan hipotensi sekilas atau stimulasi SSP.
Kontra indikasi : serangan asma akut, bayi prematur.
Efek samping : sedasi, gangguan saluran cerna. Efek
antimuskarinik, hipotensi, kelemahan otot, tinnitus, euforia,
nyeri kepala, stimulasi SSP, reaksi alergi, kelainan darah.
Dosis : oral: 4 mg tiap 4-6 jam; maksimak 24 mg/hari. Anak di
bawah 1 tahun tidak di anjurkan; 1-2 tahun 1 mg 2 kali sehari;
2-5 tahun 1 mg tiap 4-6 jam, maksimal 6 mg/ hari; 6-12 tahun
2 mg tiap 4-6 jam, maksimal 12 mg/ hari. Injeksi subkutan
atau intramuskular: 10-20 mg, diulang bila perlu maksimal 40
mg dalam 24 jam.
Mekanisme kerja :Klorfeniramin mengikat ke reseptor
histamin H1. Hal ini menghambat aksi histamin endogen, yang
kemudian menyebabkan bantuan sementara dari gejala
negatif yang dibawa oleh histamin
Kloramfeniramin maleat
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria;
pengobatan darurat reaksi anafilaktik.
Peringatan glaukoma sudut sempit, hamil, retensi
urin, hipertropi prostat, pasien dengan lesi fokal
kortekse serebrum; hindari mengemudi dan
menjalankan mesin, semsitivitas silang dengan obat
sejenis; penyuntikan dapat menimbulkan irirtasi dan
menyebabkan hipotensi sekilas atau stimulasi SSP.
Kontra indikasi : serangan asama akut, bayi prematur.
Efek samping : sedasi, gangguan saluran cerna, efek
antimuskarinik, hipotensi, kelemahan otot, tinnitus, euforia,
nyeri kepala, stimulasi SSP, reaksi alergi dan kelainan darah.
Dosis : oral : 4 mg tiap 4-6 jam; maksimal 24 mg/hari. Anak di
bawah 1 tahun tidak dianjurkan; 1-2 tahun 1 mg 2 kali sehari;
2-5 tahun 1 mg tiap 4-6 jam, maksimal 6 mg/hari;6-12 tahun
2 mg tiap 4-6 jam , maksimal 12 mg/hari. Injeksi subkutan
atau intra muskular : 10-20 mg, diulang bila perlu maksimal 40
mg dalam 24 jam. Injeksi intravena lambat, lebih dari 1 menit:
10-20 mg di larutkan dalam spuit dengan 5-10 ml darah atau
dengan NaCl steril 0,9% atau air khusus untuk injek.
Mekanisme kerja :
klemastin
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria.
Peringatan : hati-hati mengemudi dan menjalankan
mesin, pasien dengan glaukoma sudut sempit, tukak
lambung, obstruksi piloroduodenal, hipertrofi prostat
dengan retensi urin atau atau obstruksi struktural
kandung kencing, hamil dan menyusui.
Efek samping : lesu, sedasi, mulut kering nyeri kepala,
pusing, ruam kulit, mual, gastralgia, konstipasi.
Mekanisme kerja : Clemastine merupakan antagonis
H1 histamin dan selektif mengikat pada reseptor
histamin H1. Hal ini menghambat aksi histamin
endogen, yang kemudian menyebabkan penghilang
sementara dari gejala negatif yang dibawa oleh
histamin.
Dosis : 1 mg, 2 kali sehari : anak di bawah satu tahun
tidak dianjurkan; 1-3 tahun : 250-500 mcg, 2 kali
sehari ; 3-6 tahun 500 mcg 2 kali sehari; 6-12 tahun
0,5-1 mg, 2 kali sehari
Promethazine HCl
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria,
pengobatan darurat reaksi anafilaktik; premedikasi,
sedasi dan motion sickness.
peringatan: hindari mengemudi dan menjalankan mesin;
hamil, menyusui. Gangguan kardiovaskuler atau hati,
glaukoma sudut sempit, retensi urin, hipertrofi prostat,
lesi fokal di korteks serebrum. Sensitivitas silang dengan
obat sejenis, anak dengan dehidrasi.
Kontra indikasi : pasien koma, serangan akut asma , bayi
prematur.
Efek samping : sedasi, gangguan saluran cerna, efek
antimuskarinik,, kelemahan otot, tinnitus, reaksi
alergi, kelainan darah, pengaruh kardiovaskuler atau
SSP, sakit kuning, fotosensitivitas.
Mekanisme kerja : Prometazin, turunan fenotiazin,
blok reseptor dopaminergik postsynaptic di otak dan
memiliki efek -adrenergik yang kuat memblokir. Ini
kompetitif mengikat reseptor H1.
Diphenhydramin HCl
Indikasi :
Kontra indikasi : bayi prematur dan neonatus; penderita
serangan asma akut.
Efek samping ; sedasi, gangguan saluran cerna, telinga
berdenging, euforia, sakit kepala, efek anti muskarinik,
hipotensi, lemah otot, stimulasi SSP, alergi dan kelainan darah.
Perhatian hati-hati pada penderita glaukoma sudut sempit,
hipertiroidisme, penyakit kardiovaskular, retensi kemih,
pemebesaran prostat, pasien dengan lesi fokal pada korteks
serebra; wanita hamil. Hindari mengenderai kendaraan atau
mengoperasikan mesin.
Dosis : oral : dewasa 4 kali sehari 25 mg (maks 150
g/hari); anak 6-10 tahun, 3-4 kali sehari 12,5 mg
(maks 75 mg/hari). Parenteral : sehari 10-50 mg
injeksi i.m.
Mekanisme kerja
Difenhidramin klorida
Indikasi : antihistamin, anti emetik, anti spamodik;
parkisonisme, reaksi ekstrapiramidal karena obat;
arak dengan gangguan emosi.
Kontra indikasi : bayi lahir atau prematur, menyusui.
Peringatan : glaukoma sudut sempit, tukak lambung,
obstruksi piloro duodenal, gejala hipertropinprostat
atau obstruksi struktural kandung kencing; riwayat
asma bronkial , kenaikan tekanan intra okuler,
hipertiroid, penyakit kardiovaskuler atau hipertensi;
hamil; hindari mengemudi dan menjalankan mesin.
Efek samping : pengaruh pada kardiovaskular dan
SSP; gangguan darah; gangguan saluran cerna; efek
anti muskarinik, reaksi alergi.
Dosis : dewasa: 25-50 mg 3 kali sehari; anak 5 mg/kg
sehari.
Mekanisme kerja
Antihistamin ( AH1) Generasi Kedua
1. Cetirizine
2. Loratadine
3. astemizol
4. terfenadin
Terfenadin
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria.
Peringatan :
Kontra indikasi : hipersensitif, menyusui. Hindari
pengguanaan bersama astemizol. Hindari pada
gangguan hati yang jelas. Hindari pada hipoklemia
atau diduga terjadi pemanjangan interval QT. Hindari
pemakaian bersama obat-obat aritmogenik seperti
anti aritmia, anti psikotik, anti depresan trisiklik dan
obat-obat yang menimbulkan gangguan
keseimbangan elektrolit seperti diuretik.
Efek samping: sedasi, mulut kering.
Dosis : hay fever, rhinitis alergi: 60 mg/ hari, naikkan bila perlu
sampai 120 mg/ hari; dosis tunggal atau dosis terbagi dua.
Alergi kulit : 120 mg/hari dosis tunggal atau dosis terbagi dua.
Anak (hay fever, rhinitis alergi atau alergi kulit ) 3-6 tahun: 15
mg 2 kali/hari; 6-12 tahun 30 mg 2 kali sehari.
Mekanisme kerja : Terfenadine bersaing dengan histamin
untuk mengikat pada reseptor H1 di saluran pencernaan,
rahim, pembuluh darah besar, dan otot bronkial, mengikat
reversibel untuk H1-reseptor menekan pembentukan edema,
rasa panas, dan pruritus yang dihasilkan dari aktivitas
histaminic. Sebagai obat tidak mudah melintasi sawar darah-
otak, depresi SSP minimal.
Cetrizin
Indikasi : Untuk menghilangkan gejala yang
berhubungan dengan rinitis alergi musiman rinitis,
alergi abadi dan pengobatan manifestasi kulit tanpa
komplikasi urtikaria idiopatik kronis
Kontra indikasi : Hipersensitif, menyusui
Efek samping : Mengantuk, insomnia, malaise, sakit
kepala, pusing, rasa tidak nyaman GI, mulut kering,
sakit perut, diare, mual, muntah; hipersensitivitas
sesekali, epistaksis, faringitis, bronkospasme.
Mekanisme kerja : Cetirizine bersaing dengan
histamin untuk mengikat pada reseptor H1 pada
permukaan sel efektor, sehingga menekan edema
histaminic, rasa panas, dan pruritus. Rendah insiden
sedasi dapat dikaitkan dengan penurunan penetrasi
cetirizine ke SSP sebagai akibat dari gugus karboksil
kurang lipofilik pada rantai samping etilamin.
Perhatian :
Dosis :
Loratadin
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria.
Peringatan : hamil, menyusui.
Efek samping: lesu, nyeri kepala; sedasi dan mulut
kering.
Dosis : 10 mg/hari. Anak 2-12 tahun, di bawah 30 kg,
5 mg/hari; lebih dari 30 kg, 10 mg/ hari.
Mekanisme kerja : Loratadine adalah antihistamin
non-sedatif. Ia bekerja dengan selektif mengikat
histamin perifer H1-reseptor pada sel efektor.
Astemisol
Indikasi : gejala alergi seperti hay fever, urtikaria.
Kontra indikasi : hamil, menyususi.
Efek samping : insiden sedasi dan antimuskarinik rendah.
Aritmia ventrikuler pada dosis besar.
Peringatan : gangguan hati, sindrom-QT kongenital,
hipokalemia, pasien yang mendapat obat-obat
antiaritmia, anti psikotik, anti depresan trisiklik; hindari
juga pemakaian bersam obat yang menimbulkan
gangguan keseimbangan elektrolit,; misalnya diuretik.
Dosis : 10 mg/ hari (tidak boleh lebih); anak di bawah
6 tahun tidak dianjurkan, 6-12 tahun 5 mg/ hari (
tidak boleh lebih).
Mekanisme kerja :
Antihistamin ( AH1) Generasi Ketiga

1 Fexofenadine
2 Descarboethoxy loratatadin
3 norastemizol
Fexofenadine
Indikasi :Untuk rinitis alergi musiman
Kontraindikasi : Hipersensitif
Efek Samping : Viral infeksi (dingin / flu); sakit kepala, pusing,
mengantuk, kelelahan, mual, dispepsia, dismenorea.
Mekanisme Kerja : Seperti blocker H1-lain, Fexofenadine bersaing
dengan histamin bebas untuk mengikat pada reseptor H1 di saluran
pencernaan, pembuluh darah besar, dan otot polos bronkus. Hal ini
menghambat aksi histamin endogen, yang kemudian menyebabkan
penghilang sementara dari gejala negatif (misalnya hidung
tersumbat, mata berair) disebabkan oleh histamin. Fexofenadine
tidak menunjukkan efek antidopaminergic, antikolinergik,
memblokir efek alpha1-adrenergik atau beta-adrenergik reseptor.
Perhatian : hati-hati pada penderita hipertensi,
diabetes melitus, penyakit jantung iskemik,
kerusakan ginjal atau hati. Hati-hati penggunaan
pada wanita hamil, ibu menyusui, lansia, anak usia 6
tahun ke bawah.
Dosis : oral : dewasa dan akan 12 tahun keatas, dua
kali sehari 60 mg ata satu kali sehari 120-180 mg;
anak 6-12 tahun dua kali sehari 30 mg.
Descarboethoxy loratatadin
Indikasi : Untuk menghilangkan gejala yang berhubungan
dengan rinitis alergi musiman rinitis, alergi abadi dan
pengobatan manifestasi kulit tanpa komplikasi urtikaria
idiopatik kronis
Kontraindikasi : Hipersensitif.
Efek Samping : Sakit kepala, kelelahan, mengantuk, pusing,
mual, dispepsia, xerostomia, dismenorea; faringitis.
Mekanisme Kerja : Desloratadine adalah long-acting, trisiklik,
non-sedatif, selektif antagonis histamin H1-reseptor perifer
yang menghambat pelepasan pro-inflamasi mediator dari sel
mast dan basofil manusia
Dosis :
Perhatian:
ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H2
(Penghambat Asma)
Reseptor histamin H2 berperan dalam efek histamin
terhadap sekresi cairan lambung, perangsangan
jantung serta relaksasi uterus tikus dan bronkus
domba. Beberapa jaringan seperti otot polos,
pembuluh darah mempuntai kedua reseptor yaitu H1
dan H2.
Struktur Antihistamin H2 secara struktur hampir
mirip dengan histamin. Simetidin mengandung
komponen imidazole, dan ranitidin mengandung
komponen aminomethylfuran moiety.
ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H3
Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan
memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya
sedang diteliti untuk mengobati penyakit
Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya
adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H4
Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti
khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.
Contohnya adalah tioperamida. Beberapa obat lainnya
juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah
obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina
adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik,
namun kini digunakan sebagai antihistamin. Senyawa-
senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil,
mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara
menstabilkan sel mast, sehingga mencegah
degranulasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Udin Sjamsudin, Hedi RD. 1995.: Histamin dan
Antihistamin dalam Farmakologi Dan Terapi edisi 4,
Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.
2007. Farmakolog dan terapi edisi 5. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.
Bertra M,Katzung.1997. Farmakologi Dasar dan
Klinik Edisi 6. Jakarta : EGC
Terima Kasih