Anda di halaman 1dari 4

11.

apoteker penanggung jawab Industri Kosmetika Golongan B membuat dan mengedarkan


krim tabir surya dan pencerah kulit.

Jawab : Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


- hal ini melanggar peraturan karena tidak sesuai 1175/Menkes/Per/VIII/2010 Tahun 2010 tentang Izin
dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Produksi Kosmetika.
Dan Makanan Republik Indonesia Nomor Dalam BAB VII SANKSI Pasal 23
Hk.03.1.23.12.11.10689 Tahun 2011 Tentang - Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan ini
Bentuk Dan Jenis Sediaan Kosmetika Tertentu dapat dikenakan sanksi administratif berupa:
Yang Dapat Diproduksi Oleh Industri a. peringatan secara tertulis;
Kosmetika Yang Memiliki Izin Produksi b. larangan mengedarkan untuk sementara waktu
Golongan B. dan/atau perintah untuk penarikan kembali produk
- Pasal 4 dari peredaran bagi kosmetika yang tidak memenuhi
Industri Kosmetika yang memiliki Izin standar dan persyaratan mutu, keamanan, dan
Produksi Kosmetika golongan B sebagaimana kemanfaatan;
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dilarang c. perintah pemusnahan produk, jika terbukti tidak
memproduksi kosmetika: memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan
a. jenis sediaan untuk bayi; kemanfaatan;
b. mengandung bahan antiseptik, anti ketombe, d. penghentian sementara kegiatan
pencerah kulit, dan tabir surya. e. pembekuan izin produksi; atau
f. pencabutan izin produksi.
12. Apoteker di IOT memproduksi jamu dengan bahan kurkumin murni.

Jawab :
Hal tersebut tidak melanggar peraturan karena kurkumin merupakan bahan alami
yang ditemukan dalam kunyit.
Berdasarkan PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 007 TAHUN 2012 TENTANG REGISTRASI OBAT TRADISIONAL
Dalam BAB II IZIN EDAR Pasal 7
Obat tradisional dilarang mengandung:
a. etil alkohol lebih dari 1%, kecuali dalam bentuk sediaan tingtur yang
pemakaiannya dengan pengenceran;
b. bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat;
c. narkotika atau psikotropika; dan/atau
d. bahan lain yang berdasarkan pertimbangan kesehatan dan/atau berdasarkan
penelitian membahayakan kesehatan.
13. Apoteker yang sedang menderita flu berat datang ke Apotek, namun mendelegasikan
tugas kepada Tenaga Teknis Kefarmasian untuk melayani resep obat keras.

Jawab : PP 51
Dalam hal ini tidak sesuai dengan pasal 51
peraturan dimana yang bertanggung jawab Ayat (3)
melayani resep dokter adalah apoteker Dalam hal Apoteker dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian,
kecuali dinyatakan lain bila hal tersebut pelaksanaan pelayanan Kefarmasian tetap dilakukan oleh Apoteker
terjadi di daerah terpencil sehingga tugas dan tanggung jawab tetap berada di tangan Apoteker.
dapat dilakukan oleh Tenaga Teknis Pasal 21
Kefarmasian sesuai peraturan perundang (1) Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas
undangan. Tetapi dalam kasus apoteker Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar
menderita flu berat dan dapat pelayanan kefarmasian.
mengganggu proses pelayanan bisa saja (2) Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter
mendelegasikan tugasnya kepada Tenaga dilaksanakan oleh Apoteker.
Teknis Kefarmasian tetapi tetap berada (3) Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker, Menteri
dalam pengawasannya. dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah
memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang
diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada
pasien.
14. Apoteker yang memiliki masalah dengan PSA, tidak lagi melakukan
pelayanan di Apotek dan tidak bersedia menyelesaikan pergantian Apoteker.

Jawab :
Dalam kasus ini harus diketahui terlebih dahulu masalah
antara APA dan PSA.
Ketika apoteker tidak bersedia melanjutkan atau
menyelesaikan pergantian apoteker dilihat terlebih dahulu
perjanjian yang dibuat sebelumnya. Apakah ada yang
melanggar atau tidak sehingga dapat ditindak lanjuti.