Anda di halaman 1dari 21

Referat

Kanker Ovarium

Asnan Azis Fatoni


FAA 113 030
Pembimbing :
dr. Sigit Nurfianto, Sp.OG (K)
Bab I Pendahuluan
Kanker ovarium merupakan kanker penyebab kematian tertinggi pada wanita.
Di Indonesia berdasarkan data dari The International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun
2008, kanker ovarium menduduki urutan ke-5 dengan insidensi 6.2% dari 24 jenis kanker yang dilaporkan.
Insidens kanker ovarium tertinggi di dunia terdapat di Amerika Serikat dan Eropa Utara, dan terendah di
Afrika dan Asia.
Setiap tahunnya di Amerika Serikat diperkirakan sebanyak 21.650 kasus baru ditemukan dan 15.520 wanita
meninggal akibat penyakit ini. Sedangkan di Indonesia kanker ovarium memiliki angka kejadian 15 kasus per
100.000 wanita.
Dua per tiga dari kasus kanker ovarium ditemukan pada wanita dengan usia diatas 55 tahun.
Kanker ovarium pada umumnya ditemukan 70% pada stadium lanjut Silent Killer. Kanker ovarium
umumnya baru menimbulkan keluhan apabila telah menyebar ke rongga peritoneum.
Hal ini sangat mempengaruhi prognosis pasien karena setiap peningkatan stadium maka angka survival
(angka kemungkinan hidup) 5 tahun juga mengalami penurunan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Definisi
Kanker Ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel kanker pada satu atau dua
bagian indung telur dengan berbagai tipe histologi tergantung dari bagian mana
ovarium yang terserang.

Ovarium merupakan suatu organ yang berfungsi untuk menghasilkan ovum


serta sebagai penghasil hormon seks pada perempuan dewasa yang berupa
hormon estrogen dan progesterone.
Gambar 2.1. Anatomi Ovarium
Sumber: Putz R dan Pabst R. Sobotta: Atlas of Human Anatomy vol 2. Elsevier. 2006.
Faktor Risiko
Lingkungan
Reproduksi
Nulliparitas
Menarche awal
Menopause terlambat
Peningkatan usia
Genetik
Riwayat keluarga
Klasifikasi

ASAL SEL EPITEL PERMUKAAN GERM SEL SEX CORD -STROMA METASTASIS KE OVARIUM

Frekuensi total 65-70% 15-20% 5-10% 5%


Proporsi tumor
90% 3-5% 2-3% 5%
ovarium ganas
Kelompok grup yang
20+ tahun 0-25 tahun Semua umur bervariasi
terkena
- Serous tumor
- Fibroma
- Mucinous tumor - Teratoma
- Granulosa-Theca
- Endometrioid tumor - Dysgeminoma
Tipe cell tumor
- Clear cell tumor - Endodermal sinus tumor
- Sertoli-Leydig cell
- Brenner tumor - Choriocarcinoma
tumor
- Cystadenofibroma
PATOGENESIS
incessant ovulation Inflamasi Gonadotropin

incessant ovulation Ovulasi trauma pada epitel permukaan


(berasal dari epitel permukaan ovarium sendiri) ovarium Berulang-ulang

epitel permukaan epitel permukaan ovarium rentan


permukaan ovarium membentuk invaginasi pada seiring bertambah usia
terperangkap ke dalam mengalami kerusakan DNA dan
stroma kortikal
stroma transformasi

Proliferasi Disertai kerusakan DNA Mengarah menjadi keganasan


Kista inklusi
Kanker Ovarium

karsinogen dapat mencapai ovarium melalui saluran


Inflamasi Radang panggul
genitalia

Sekresi gonadotropin yg tinggi stimulasi estrogen pada epitel permukaan ovarium


Gonadotropin
GEJALA KLINIS
Kanker ovarium sering disebut silent killer dimana gejala klinis yang terjadi biasanya tidak
terlihat jelas sampai berada pada tahap lanjut.
Gejala yang ditimbulkan tidak spesifik, seperti :
Pembesaran abdomen/bloating atau perasaan ada tekanan
Dispareunia
Berat badan meningkat karena ada asites atau massa
Nyeri abdomen atau pelvis
Peningkatan frekuensi berkemih atau urgensi berkemih
Menurunnya nafsu makan, atau rasa penuh di lambung
Pemeriksaan Fisik
Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam memperkirakan
ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor.
Hasil yang sering didapatkan pada kanker ovarium : massa pada rongga pelvis.
Pada pemeriksaan fisik terkadang hasil yang ditemukan normal, tidak tampak
kelainan pada stadium awal dari kanker ovarium
Pada pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan asites, efusi pleura, massa pada daerah
abdominal atau pelvis
STADIUM
Stadium kanker ovarium menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)

Stadium Kriteria

I Pertumbuhan tumor terbatas pada ovarium

Ia Tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada permukaan luar, tidak terdapat sel kanker
pada cairan asites atau pada bilasan peritoneum.

Ib Pertumbuhan tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak terdapat tumor pada permukaan
luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau bilasan peritoneum.

Ic Tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan satu dari tanda-tanda sebagai berikut : kapsul pecah,
tumor pada permukaan luar kapsul, sel kanker positif pada cairan asites atau bilasan peritoneum.
STADIUM
Stadium kanker ovarium menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)

Stadium Kriteria

II Pertumbuhan tumor pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke rongga pelvis

IIa Penyebaran dan atau metastasis ke uterus dan atau tuba fallopi

IIb Penyebaran tumor ke organ pelvis lainnya

IIc Tumor pada stadium IIA/IIB dengan sel kanker positif pada cairan asites atau bilasan peritoneum.
STADIUM
Stadium kanker ovarium menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)

Stadium Kriteria

III Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan metastasis ke peritoneum yang dipastikan secara mikroskopik di luar
pelvis dan/atau metastasis ke kelenjar getah bening regional.

IIIa Tumor secara makroskopis terbatas pada pelvis dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tetapi pemeriksaan histologi
menunjukkan penyebaran ke permukaan peritoneum abdominal

IIIb Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan penyebaran di permukaan peritoneum berdiameter tidak lebih dari 2 cm
dan didukung oleh hasil pemeriksaan histologi. Tidak ada penyebaran ke kelenjar limfe

IIIc Terdapat penyebaran pada peritoneum abdominal dengan diameter lebih dari 2 cm atau terdapat penyebaran ke kelenjar
limfe
STADIUM
Stadium kanker ovarium menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)

Stadium Kriteria

IV kelenjar limfe retroperitoneal atau inguinal atau keduanya. Pertumbuhan tumor meliputi satu atau kedua
ovarium dengan metastase jauh. Bila terdapat efusi pleura, harus ditemukan sel-sel ganas pada
pemeriksaan sitologi. Metastasis pada parenkim liver sesuai dengan stadium IV.
Pemeriksaan Penunjang
Tumor marker (CA-125)
Ultrasonografi (USG)
CT Scan dan MRI
Colonoscopy
Laparoskopi
1. Penatalaksanaan Kanker Ovarium Stadium 1
Penanganan untuk Kanker Ovarium stadium 1 adalah dengan melakukan operasi
yang terdiri atas histerektomi totalis, salpingooforektomi bilateralis, dan surgical
staging
Surgical staging adalah suatu tindakan bedah laparotomi eksplorasi yang dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan melakukan
evaluasi pada daerah-daerah yang potensial yang akan dikenai perluasaan atau
penyebaran Kanker Ovarium
Temuan pada surgical staging akan menentukan stadium penyakit dan pengobatan
adjuvant yang perlu diberikan
2. Penatalaksanaan Kanker Ovarium Stadium Lanjut
(II, III, IV)
Pembedahan
Histerektomi, salpingo-ooforektomi bilateral, debulking atau sitoreduksi
Kemoterapi
Beberapa obat kemo yang membantu dalam mengobati kanker ovarium meliputi :
Paclitaxel, Ifosfamide, Cisplatin, danVinblastine
Radioterapi
Terapi Hormon
Terapi hormon dilakukan dengan penggunaan hormon atau obat Hormon-Blocking
untuk melawan kanker, salah satunya adalah Luteinizing Hormon Releasing Hormone
(LHRH) agonis. Contoh LHRH agonis adalah Goserelin (Zoladex) dan Leuprolide
(Lupron)
Prognosis

Stadium Relative 5-Year Survival Rate


I 89%
II 66%
III 34%
IV 18%
BAB III Kesimpulan
Kanker ovarium merupakan kanker dengan angka kejadian yang cukup tinggi
menyerang wanita dan sering terjadi pada wanita diatas 55 tahun.
Beberapa faktor risiko terjadinya kasus ini adalah seperti paritas, menarche awal,
menopause terlambat, riwayat keluarga dan peningkatan usia.
Gejala klinis kanker ovarium sering tidak terlihat hingga berada pada tahap lanjut.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis adalah seperti USG,
CT-scan, MRI, tumor marker CA125, dan laparoskopi.
Tatalaksana tergantung stadium klinis, dapat terapi bedah ataupun non bedah
seperti kemoterapi.
Prognosis kanker ovarium kebanyakan buruk apabila baru terdeteksi pada stadium
lanjut.
Daftar Pustaka
Arania R dan Windarti I. Karakteristik Pasien Kanker Ovarium di Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2009-2013. Juke Unila.
2015; 5(9). 43-47.
Johari AB dan Siregar G. Insidensi Kanker Ovarium Berdasarkan Faktor Risiko di RSUP H. Adam Malik Tahun 2008-2011. E-Jurnal FK USU. 2013;
1(1).
Putri IA. Perbandingan Rerata Skor Rmi Pada Kanker Epitel Ovarium Stadium Awal dengan Stadium Lanjut [skripsi]. Padang : Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas. 2016.
Sihombing M dan Sirait AM. Angka Ketahanan Hidup Penderita Kanker Ovarium di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Maj Kedokt Indon. 2007;
57(10): 346-352.
Santoso JT, Crowder S. Handbook of Gynecology Oncology. Mc-Graw Hill Company, 2001.
Budiana ING. Peran Klinis CA-125 pada Kanker Ovarium. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. 2014.
Dhitayoni IA dan Budiana ING. Profil Pasien Kanker Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar-Bali Periode Juli 2013 - Juni 2014. E-
Jurnal Medika. 2017; 6(3): 1-9.
Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan Edisi ke-3. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2011.
Billiau A. Ovarian Cancer. European Society for Medical Oncology Clinical Practice Guidelines. 2014.
Cancer Council. Understanding Ovarian Cancer : A Guide for Women with Cancer, their Families and Friends. 2014.
Berek, J. Epithelial ovarian cancer: Piver editor. Handbook of gynecologic oncology. 2nd edition. Lipponcott Williams&wilkins, 2005: p586.
Jelovac, D., and Amstrong, D. Recent progress in the diagnosis and treatment of ovarian cancer. Ca Cancer J Clin 2011; 61:183-203.
Jihong, L., 2008. Tumor GanasOvarium. In: W. Desen, ed. OnkologiKlinis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, Jakarta, pp. 517-526.
Terima Kasih