Anda di halaman 1dari 28

SISTEM KEWASPADAAN PANGAN GIZI

IKM A 2016

Nama Anggota Kelompok :


1. Citra Rachmawati 101611133010
2. Annisa Emma Aznam 101611133074
3. Adilah Anindito Difa Putri 101611133083
4. Salsabila Naim 101611133218
JENIS DATA & KOMPILASI DATA
Jenis Data : Data Sekunder
Kompilasi Data :
a. Aspek Ketersediaan : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten
Kepulauan Anambas
b. Aspek Akses : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Kepulauan Anam
bas
c. Aspek Pemanfaatan : Dinas Kesehatan kabupaten Kepulauan Anambas
d. Data Umum : Anambas dalam angka 2012, Badan Pusat Statistik
Kabupaten Kepulauan Anambas.
RANCANGAN JENIS PELAPORAN

Laporan Bulanan
Menyiapkan bahan dan menyusun laporan mengenai aspek ketersediaan pangan,
aspek akses pangan, aspek pemanfaatan pangan dan indeks komposit

Laporan Tahunan
Hasil pelaksnaan SKPG disampaikan kepada pihak pemerintah terkait (Bupati
Kepulauan Anambas, Gubernur Kepulauan Riau, Kementrian Kesehatan, dll) sebagai
bahan masukan untuk mengantisipasi dan menanggulangi terjadinya kondisi rawan
pangan, disertai langkah- langkah penanganannya
ANALISIS INDIKATOR SKPG

Situasi pangan dan gizi suatu daerah pada kegiatan SKPG, secara garis besar dibagi
menjadi dua komponen, yaitu situasi pangan dan situasi gizi. Situasi gizi suatu masyarakat
berkaitan dengan kondisi kesehatan balita, dimana berpengaruh pada tumbuh kembang
balita. Situasi tersebut akan menggambarkan kondisi kecukupan pangan suatu daerah dan
potensi terjadinya ketidakcukupan pangan. Situasi pangan mencakup dua aspek
pembahasan, yaitu aspek ketersediaan dan aspek akses.

Analisis situasi pangan dan gizi bulanan disajikan berdasarkan tiga jenis indikator :
(1) aspek ketersediaan, berkaitan dengan kenaikan atau penurunan produksi bahan pangan
yang berpengaruh pada kecukupan konsumsi bahan pangan.
(2) aspek akses pangan, berkaitan dengan fluktuasi harga pangan dan berpengaruh pada
daya beli masyarakat untuk mengakses bahan pangan.
(3) aspek pemanfaatan pangan, menggunakan indikator kesehatan balita.
PENYAJIAN INFORMASI & ANALISIS
KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS
BULAN JANUARI TAHUN 2013
1. ASPEK KETERSEDIAAN PANGAN
Pada bulan Januari 2013, di Kabupaten Kepulauan Anambas hanya ada 1
kecamatan yang melakukan budidaya tanaman padi-padian, yaitu kecamatan
Jemaja Timur, dengan luas tanam 32 ha.
Tidak ada panen pada bulan ini tetapi terjadi puso seluas 2 ha. Terjadinya
puso disebabkan karena pada saat ini curah hujan sangat tinggi, yang
mengakibatkan areal persawahan terendam banjir, ditambah dengan air
pasang sehingga padi mengalami kerusakan/puso.
Untuk tanaman palawija ( jagung, ubi kayu, ubi jalar dapat dilihat pada tabel 7,
8 dan 9) Budidaya tanaman pangan secara keseluruhan baik itu padi-padian
dan umbi-umbian : mempunyai luas tanam sebagai berikut : Jemaja Timur
36ha, Siantan 12 ha dan Siantan Selatan 8 ha.
Tabel 10 diatas adalah hasil analisis data kecamatan berdasarkan aspek
ketersediaan pangan. Peta dibuat berdasarkan data bulan Januari tahun
2013 yang dikumpulkan yang selanjutnya diolah melalui proses
komputerisasi yang terdiri dari data luas tanam, luas puso kemudian
didapatlah skor untuk mendapatkan data kecamatan yang termasuk
rawan, waspada atau aman.
Pada tabel 10 tergambar dari 7 kecamatan, terdapat 2 kecamatan
berwarna kuning yang termasuk dalam kondisi waspada yaitu
kecamatan Siantan ,dan Siantan Selatan dan 5 kecamatan berwarna merah
yang termasuk dalam kondisi defisit pangan serealia (padi, jagung)
dan umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar) yaitu kecamatan Jemaja Timur,
Jemaja, Palmatak, Siantan Timur dan Siantan Tengah.
Hasil ini diperoleh melalui perhitungan penjumlahan bobot rasio luas tanam (persentase
luas tanam bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas
tanam bulan bersangkutan 4 tahun terakhir) dengan rasio luas puso (persentase luas puso
bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas puso bulan bersangkutan (5 tahun
terakhir).
Warna merah pada peta disebabkan luas tanam pada bulan Januari 2013lebih kecil bila
dibanding rata-rata luas tanam bulan bersangkutan 5 tahun terakhir. Hal
ini mengindikasikan kemungkinan adanya alih fungsi lahan yang sebelumnya merupakan
lahan pertanian menjadi lahan perkebunan.
Namun pada kenyataannya 7 Kecamatan tersebut tidak mengalami defisit pangan hal ini
disebabkan Kecamatan tersebut memiliki kemampuan daya beli cukup tinggi sehingga
ketersediaan pangan di wilayah tersebut dapat tercukupi.
2. ASPEK AKSES PANGAN

Aspek akses pangan dinilai dengan pendekatan perkembangan harga pangan


komoditas utama dan strategis (Beras, Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Gula Pasir,
Minyak Goreng, Daging Ayam dan Telur). Data diperoleh dari hasil survei harga di
seluruh Kecamatan setiap bulan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten
Kepulauan Anambas.
Berdasarkan aspek akses terhadap pangan pada bulan Januari 2013
tidak ada Kecamatan yang berada dalam kondisi rawan. Seluruh
Kecamatan(kecamatan Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan
Timur, SiantanTengah dan Siantan Selatan) dalam kondisi aman.
Secara umum harga komoditi di semua wilayah Kecamatan Kabupaten
Kepulauan Anambas aman terhadap rawan pangan. Ini dimungkinkan
adanya stabilitas harga yang cukup baik.
3. ASPEK PEMANFAATAN PANGAN

Indikator ketiga dari situasi Pangan dan Gizi adalah aspek


pemanfaatanpangan. Hasil dari pemanfaatan/penyerapan pangan
merupakan gambaran dari status gizi seseorang terutama pada anak-anak.
Dalam hal ini indikator status gizibalita yang dinilai di masing-masing
Kecamatan yang dikumpulkan setiap bulanmelalui kegiatan penimbangan di
posyandu yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan
Anambas.
Pada tabel 1.4 Identifikasi Kecamatan berdasarkan Aspek Pemanfaatan
Pangan Bulanan menunjukkan bahwa ada 6 Kecamatan (kecamatan Jemaja,
Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur dan Siantan Selatan) dalam
kondisirawan sedangkan kecamatan Siantan Tengah berada dalam kondisi aman.
Situasi di atas sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat yang datang
ke posyandu untuk menimbang anak balitanya. Selanjutnya persentase kenaikan
BB juga menentukan situasi Aspek Pemanfaatan Pangan. Penimbangan BB Balita
yang dilakukan secara rutin setiap bulan akan membantu proses pemantauan
pertumbuhan anak sehingga kondisi rawan tidak akan terjadi. Oleh sebab itu
wawasan masyarakat tentang pentingnya menimbang BB anak Balitanya
secara rutin di Posyandu atau pos pelayanan kesehatan lainnya dapat
dipertahankan melalui upaya promosi sampai ke tingkat Desa dan dapat
terusdisosialisasikan agar deteksi dini status kesehatan balita dapat segera
diketahuiyang pada akhirnya situasi aman dapat tercapai.
4. INDEKS KOMPOSIT
Indeks Komposit adalah penggabungan ketiga indikator
diatas(dikompositkan) menjadi satu informasi situasi pangan dan gizi
wilayah. Biasanya tingkat kerawanan berdasarkan tiga nilai indicator
dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu wilayah resiko tinggi, sedang
dan ringan.
Dari hasil penggabungan ketiga indikator tersebut diperoleh
hasilbahwa situasi pangan dan gizi di Kabupaten Kepulauan Anambas
bulan Januari 2013 semua kecamatan yang ada di Kabupaten Kepulauan
Anambas berada pada warna merah (rawan) perlu penanganan segera.
Kondisi di atas lebih banyak dipengaruhi oleh situasi
ketersediaanpangan, salah satunya luas tanam pada beberapa komoditi
yaitu Padi, Jagung, ubi kayu dan ubi jalar yang luas tanamnya lebih kecil
disbanding dengan luas tanam rata-rata 5 tahun pada bulan berjalan yaitu
pada bulanJanuari sehingga persentase perbandingannya menghasilkan
nilai minus (-) selanjutnya bobot yang didapat tinggi yaitu skor 3.
Sedangkan pada aspek akses pangan tidak begitu mempengaruhi.
PETA SITUASI PANGAN DAN GIZI
KESIMPULAN

Berdasarkan analisa data aspek Ketersediaan pangan Kabupaten


Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 dari 7 Kecamatan , terdapat 3
kecamatan berwarna kuning yang termasuk dalam kondisi waspada yaitu
kecamatan Jemaja Timur, Siantan, dan Siantan Selatan dan 4 kecamatan
berwarna merah yang termasuk dalam kondisi defisit pangan serealia
(padi, jagung) dan umbi-umbian (ubikayu, ubi jalar) yaitu kecamatan
Jemaja, Palmatak, Siantan timur dan Siantan Tengah.
Berdasarkan aspek akses terhadap pangan pada bulan Januari 2013 tidak
ada Kecamatan yang berada dalam kondisi rawan. Seluruh Kecamatan
(kecamatan Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur,
Siantan Tengah dan Siantan Selatan) dalam kondisi aman.
Identifikasi Kecamatan berdasarkan Aspek Pemanfaatan Pangan Bulanan
menunjukkan bahwa ada 6 Kecamatan (kecamatan Jemaja, Jemaja Timur,
Palmatak, Siantan, Siantan Timur dan Siantan Selatan) dalam kondisi rawan
sedangkan kecamatan Siantan Tengah berada dalam kondisi aman.
Berdasarkan Indeks Komposit Ketahanan Pangan (Bulanan) pada bulanJanuari
2013, semua kecamatan yang ada di kabupaten kepulauan Anambas berada
dalam kondisi rawan.
REKOMENDASI

Tersusunnya kebijakan dan pelaksanaan intervensi bagi penanganan


kerawanan pangan dan gizi.

Tersedianya informasi hasil investigasi daerah/desa yang diindikasikan


rawan pangan.

Tersedianya informasi situasi pangan dan gizi bulanan dan tahunan

Tersedianya laporan dan alternatif kebijakan dan perencanaan program


yang berkaitan dengan pangan dan gizi.
SARAN
1. Meningkatkan produksi dengan intensifikasi dan diversifikasi pangan
danmemanfaatkan potensi sumberdaya lokal.
2. Meningkatkan pendapatan keluarga yang hidup di bawah garis
kemiskinanmelalui pemberdayaan ekonomi rumah tangga.
3. Pengembangan sistem distribusi dan stabilitas harga pangan.
4. Pengembangan ketersediaan pangan.
5. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk menimbang Berat Badan
balitanya di posyandu.
DAFTAR PUSTAKA

Susanti, Melda. Laporan SKPG.


https://www.scribd.com/doc/172336576/LAPORAN-SKPG. Diakses pada 29
Oktober 2017.