Anda di halaman 1dari 14

Eunike H.

Fanggidae

1408010044
Sefadroksil

Golongan dan Jenis : Antibiotik.


Sefalosporin generasi pertama.
Farmakodinamik
Sefadroksil merupakan antibiotik sefalosporin semi sintetik yang
berasal dari 7-amino cephalosporanic acid yang mempunyai
aktivitas spectrum luas.
ln vitro, sefalosporin generasi pertama memperlihatkan spektrum
antimikroba yang terutama aktif terhadap kuman gram-positif.
Sefadroksil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesis
dinding sel bakteri.
Golongan sefalosporin pada umumnya efektif terhadap sebagian
besar S. aureus dan Strepfococcus termasuk Str. pyogenes, Str.
viridans dan Str. pneumoniae. Bakteri gram-posilif yang juga sensitif
ialah Str. anaerob, Clostridium perfringens, Listeria monocytogenes
dan Corynebacteium diphteriae. Terapi oral dengan sedroksil
memberikan kadar puncak plasma yang cukup untuk menghambat
banyak patogen gram-positif dan gram-negatif
Farmakokinetik
Pemberian per oral karena diabsorpsi melalui saluran cerna
dan tahan terhadap asam lambung. Makanan dalam
lambung tidak mengganggu absorpsinya tetapi
menghambat tercapainya kadar puncak.
Sefadroksil tidak dimetabolisme
Diekskresi 90% melalui ginjal dengan proses sekresi tubuli
dan keluar sebagai urin.
Waktu paruh obat sekitar 1 jam.
Obat di eliminasi melalui ginjal sehingga menilai fungsi
ginjal secara berkala diperlukan karena pasien geriatri lebih
cenderung mengalami penurunan fungsi ginjal, selain itu
resiko toksisitas lebih besar pada pasien dengan gangguan
ginjal, termasuk pasien geriatri.
Efek Samping
Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjad.
Reaksi mendadak yaitu anafilaksis dengan spasme bronkus dan
urtikaria dapat terjadi. Pada penderita dengan alergi penisilin berat,
tidak dianjurkan penggunaan sefalosporin atau kalau sangat
diperlukan harus diawasi dengan sungguh-sungguh. Reaksi Coombs
sering timbul pada penggunaan sefalosporin dosis tinggi.
Depresi sumsum tulang terutama granulositopenia dapat timbul
meskipun jarang.
Sefalosporin merupakan zat yang nefrotoksik, meskipun jauh
kurang toksik dibandingkan dengan aminoglikosida dan polimiksin
namun dalam golongan sefalosporin, sefadroksil kurang toksik
dibandingkan dengan sefaloridin. Karena efeknya yang nefrotoksik
perlu lebih diperhatikan fungsi ginjal pada pasien geriatri yang
mengonsumsi obat tersebut.
Dosis
Dosis oral sefadroksil untuk orang dewasa ialah 1-2
g/sehari yang dibagi dalam 2 dosis. Untuk anak
diberikan 30 mg/kg BB sehari, dibagi dalam 2
dosis. Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul 500
mg, tablet 1 g, serta suspensioral 125 dan 250
mg/5 ml. Dosis obat perlu disesuaikan pada
penderita dengan payah ginjal. Pada pasien
geriatri tidak ada penyesuaian dosis kecuali yang
berhubungan dengan kerusakan ginjal. Hati hati
pemilihan dosis karena penurunan fungsi ginjal
berhubungan dengan usia.
Interaksi Obat
Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat
meningkatkan toksisitas sefalosporin terhadap
ginjal. Probenesid menghambat sekresi
sefalosporin sehingga memperpanjang dan
meningkatkan konsentrasi obat dalam tubuh.
Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like
reactions, jika diberikan 48 72 jam setelah
pemberian sefalosporin.
Salbutamol/ Albuterol

Golongan dan Jenis : Agonis 2-


Adrenergik Kerja Cepat
Farmakodinamik
2 agonis adalah bronkodilator yang sangat efektif yang bekerja dengan meningkatkan
aktifitas adenyl cyclase sehingga meningkatkan produksi intraseluler siklik AMP
(adenosine mono fosfat). Peningkatan siklik AMP menyebabkan relaksasi otot
polos, stabilisasi sel mast dan stimulasi otot rangka. Pemberian 2 agonis melalui
aerosol akan meningkatkan bronkoselektivitas, mempercepat efek yang timbul
serta mengurangi efek samping sistemiknya. Beberapa 2 agonis (terutama yang
kurang selektiv) dapat merangsang reseptor 1 yang berakibat peningkatan
kontraksi dan frekuensi denyut jantung. Obat ini diberikan baik melalui inhalasi
maupun secara oral untuk peredaan simptomatik bronkospasme. Jika diberikan
melalui inhalasi, obat ini akan menghasilkan bronkodilatasi yang signifikan dalam
waktu 15 menit, dan efeknya bertahan selama 3 sampai 4 jam.
Sensitivitas jaringan terhadap obat juga mengalami perubahan sesuai pertambahan
umur seseorang. Perubahan farmakodinamik dipengaruhi oleh degenerasi
reseptor obat di jaringan yang mengakibatkan kualitas reseptor berubah atau
jumlah reseptornya berkurang. Respon seluler pada lansia secara keseluruhan
akan menurun. Penurunan ini sangat menonjol pada respon homeostatik yang
berlangsung secara fisiologis. Pada umumnya obat-obat yang cara kerjanya
merangsang proses biokimia selular, intensitas pengaruhnya akan menurun
misalnya agonis untuk terapi asma bronkial diperlukan dosis yang lebih besar,
padahal jika dosisnya besar maka efek sampingnya akan besar juga sehingga index
terapi obat menurun.
Farmakokinetik
Golongan 2-agonis, selain efektif pada pemberian oral, juga
diabsorpsi dengan baik dan cepat pada pemberian sebagai aerosol
selektivitas relatif obat ini pada reseptor 2 di bronkus ditingkatkan
bila diberikan sebagai obat semprot langsung ke saluran napas.
Salbutamol baik diabsorpsi melalui saluran gastrointestinal dan
dimetabolisme dengan ekstensif di hati.
Waktu paruh dari obat sedikit berbeda- beda tergantung dari rute
pemberian (rute oral 2,5 jam dan inhalasi 4 jam).
Untuk rute eliminasi secara substansial melalui ginjal yaitu sekitar
76% diekskresikan dalam urin lebih dari dan sekitar 4%
diekskresikan dalam feses.
Obat di eliminasi melalui ginjal sehingga menilai fungsi ginjal secara
berkala diperlukan karena pasien geriatri lebih cenderung
mengalami penurunan fungsi ginjal, selain itu resiko toksisitas lebih
besar pada pasien dengan gangguan ginjal, termasuk pasien
geriatri.
Efek Samping
Efek samping Agonis selektif reseptor 2 berupa rasa gugup, tremor,
takikardi, palpitasi, mengantuk, nyeri kepala, nausea, muntah, dan
berkeringat, terutama pada pemberian oral. Efek samping sistemik ini
jarang terjadi pada pemberian secara inhalasi.
Penggunaan harus lebih hati- hati pada penderita dengan hipertensi,
penyakit jantung koroner, gagal iantung kongestif, hipertiroid, atau
diabetes .
Pada penderita tanpa penyakit jantung, agonis 2 jarang menimbutkan
aritmia signifikan atau iskemia miokardial; namun, pasien yang
mempunyai dasar penyakit arteri koroner atau aritmia yang ada
sebelumnya memiliki risiko lebih besar.
Pada beberapa pasien diabetes, obat ini dapat memperparah
hiperglikemia, dan mungkin dibutuhkan dosis lnsulin yang lebih tinggi.
Semua efek merugikan ini memiliki kemungkinan teriadi yang jauh lebih kecil
pada terapi inhalasi dibandingkan terapi parenteral atau oral. Perhatian
khusus harus diberikan pada pasien geriatri yang memiliki penyakit
kardiovaskular serta diabetes.
Dosis
Interaksi Obat
Obat obatan golongan Beta-bloker
menghilangkan (antagonis) efek bronkodilatasi
agonis 2-adrenergik yang digunakan.
Sumber
Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran UI
Goodman & Gilman Dasar Farmakologi dan
Terapi