Anda di halaman 1dari 28

TRANSFORMASI NILAI KETUHANAN (KEISLAMAN)

DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA

Makalah dipersiapkan oleh:


Al Yasa` Abubakar, Prof. Dr.

Untuk acara
Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
5 Ramadhan 1437, 10 Juni 2016

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 1


NABI MUHAMMAD SEBAGAI KEPALA NEGARA

Nabi Muhammad hidup di Madinah sebagai kepala


pemerintahan kota Madinah sejak hijrah sampai wafat.
Beliau memerintah secara efektif, melakukan
peperangan dan perjanjian dengan berbagai suku dan
kota di luar Madinah.
Pada mulanya kepatuhan umat Islam kepada beliau
adalah berdasar perjanjian (bay`at), perjanjian Aqabah
I dan II sebelum Nabi hijrah, dan bay`at-bay`at lain
yang lebih kecil sesudah itu.
Orang non muslim (Yahudi dan Arab) yang tinggal di
Madinah mengakui Nabi sebagai penguasa tertinggi
berdasarperjanjian, Piagama Madinah.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 2


PEMILIHAN KHALIFAH PENGGANTI RASULULLAH

Sesudah Rasul wafat, para Sahabat memilih pengganti


beliau secara relatif demokratis, berturut-turut untuk
empat orang khalifah yang berkuasa sekitar 35 tahun.
Dari empat orang yang dipilih, hanya yang pertama
yang wafat secara normal (alamiah), sedang yang
selebihnya wafat karena dibunuh.
Pada masa khalifah yang keempat, `Ali terjadi kemelut;
Mu`awiyahgubernur Syam, tidka mengakui
kekuasaan `Ali dan mengangkat diri menjadi penguasa
di daerah Syam, sehingga kekuasaan Ali tidka
menjangkau seluruh wilayah.
Pemerintahan Islam mulai terbelah.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 3


KHALIFAH MENJADI TURUN TEMURUN
Sesudah `Ali terbunuh, penduduk Koufah mengangkat
Hasan menjadi khalifah, tetapi dia menyerahkan kekuasaan
kepada Mu`awiyah dengan syarat sesudah dia meninggal
khalifah kembali dipilih secara bebas.
Mu`awiyah mengkianati perjanjian ini, karena sebelum
meninggal memaksa orang-orang untuk menerima
(membay`at) anaknya--Yazid sebagai khalifah yang akan
menggantikannya.
Setelah ini khalifah tidak lagi dipilih secara bebas, tetapi
bersifat turun temurun; kalaupun ada pemilihan maka
terbatas hanya pada kerabat dan keluarga khalifah, kecuali
pada beberapa dinasti kecil yang tidka terlalu berpengaruh.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 4


KEKUASAAN DAN WILAYAH PADA ZAMAN
KHILAFAH
Khalifah, tidak lagi dipilih, tetapi dikukuhkan (dibay`at)
setelah beliau diangkat atau mengangkat diri menjadi
khlaifah.
Orang yang tidka berbay`at kepada beliau pada umumnya
tidka akan diganggu (diperangi) sampai melakukan
pemberontakan;
Dunia dibagi menjadi dua bagian: wilayah umat Islam (dar
al-salam), wilayah kafir yang dibagi menjadi dua, yang
melakukan perjanjian (berdamai) dengan penguasa muslim
dan yang tidka berdamai (dar al-harb).
Umat Islam relatif bebas melakukan perjalanan di seluruh
wilayah Islam, walaupun penguasanya berbeda-beda.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 5


ISLAM DAN NEGARA BANGSA
Negara bangsa pada zaman modern adalah fakta, yang
muncul dari perkembangan masyarakat, lebih kurang sama
dengan keadaan zaman kejayaan Islam dahulu ketika
khalifah dipilih atau ditunjuk oleh dan dari orang-orang
yang berasal dari dinasti tertentu.
Penerimaan atas negara bangsa bukan hasil perenungan
dan pemikiran yang mendalam berdasar Al-quran; bukan
bentuk ideal yang diinginkan Al-quran;
Para ulama belum berhasil merumuskan bentuk negara
(ilmu negara) menurut Al-quran, .
Pemikiran yang ada boleh dikatakan hanyalah sekedar
menyesuiakan Al-quran dengan keadaan yang ada.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 6


PERBEDAAN KHILAFAH
DENGAN NEGARA BANGSA
No: Khilafah Negara bangsa
1 Khalifah Relatif berkuasa Kekuasaan kepala negara relatif
penuh dibatasi oleh peraturan

2 Tidak mengenal pemisahan Mempraktekkan pemisahan


kekuasaan kekuasaan

3 Batas wilayah relatif tidak jelas Batas wilayah relatif jelas


4 Mengurusi bidang tertentu, Mengurus semua hal (mencampuri
perang dan pajak hampir semua aspek kehidupan)

5 Terdiri dari hanya satu bentuk Mempunyai banyak bentuk,


kerajaan, republik, dst.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 7


IJTIHAD ULANG TENTANG NEGARA BANGSA

Karena perbedaan di atas, aturan fiqih (mazhab)


mengenai khilafah, tidak dapat secara begitu saja
digunakan untuk menjelaskan dan mengatur negara
bangsa.
Para ulama perlu melakukan ijtihad ulang untuk
mengamalkan nilai dan tuntunan yang ada dalam Al-
quran guna memenuhi kenyataan (kehadiran) negara
bangsa .
Di pihak lain, kenyataan dan ketentuan mengenai
negara bangsa, yang dianggap tidak sesuai dengan nilai
dan semangat Al-quran perlu diubah dan disesuaikan.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 8


IJTIHAD ATAS AL-QURAN
Untuk memahami hidayah dalam Al-quran, para ulama
harus dan telah melakukan ijtihad. Sangat sedikit ayat
yang dapat diamalkan tanpa diijtihadkan.
Ijtihad masa lalu (di bidang fiqih) cenderung fokus
untuk memperoleh norma (al-hukm al-syar`i) yang
langsung melekat pada perbuatan;
Kurang memberi perhatian pada konsep-konsep
(konsepsi) dan nilai;
Sebetulnya sebelum mengijtihadkan norma, para
ulama terlebih dahulu mengijtihadkan metode; tetapi
hasil ijtihad ini cenderung dianggap sebagai sesuatu
yang final, bukan sebagai hasil ijtihad.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 9


PENJENJANGAN NORMA DALAM FIQIH
Syamsul Anwar mengusulkan penjenjangan norma
(dalam fiqih) menjadi tiga lapis:
- nilai dasar (norma filososfis, al-qiyam al-asasiyyah)
- asas umum (al-ushul al-kulliyyah)
- peraturan hukum kongkrit (al-ahkam al-far`iyyah).
Berdasar jalan pikiran di atas ijtihad untuk menafsirkan
ayat-ayat di bidang fiqih, perlu dikembangkan menjadi
tiga tingkat juga, untuk memperoleh:
- nilai dasar (norma filososfis, al-qiyam al-asasiyyah)
- asas umum (al-ushul al-kulliyyah)
- peraturan hukum kongkrit (al-ahkam al-far`iyyah)

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 10


NILAI DALAM METODE IJTIHAD FAZLURRAHMAN

Ijtihad untuk merumuskan nilai dasar sampai sekarang


boleh dikatakan belum dilakukan secara sungguh-sungguh
oleh para ulama.
Usulan agar dilakukan ijtihad untuk memperoleh nilai dasar,
menurut Abdullah Saeed, diajukan oleh Fazlur Rahman,
melalui metode yang biasa disebut dengan double
movement. Dalam tawaran ini, Rahman menyebut nilai
dengan prinsip umum.
Menurut Saeed, dengan mengambil inspirasi dari ijtihad
masa (model) Sahabat, tradisi maqashid dan pendekatan
Rahman, adalah mungkin untuk membangun sebuah hirarki
nilai sebagai pedoman untuk tafsir kontekstual atas ayat-
ayat etika hukum (fiqih) (buku kontekstualis, a, hlm. 252-3).

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 11


NILAI MENURUT ABDULLAH SAEED
Nilai menurut Saeed adalah apa yang oleh seorang muslim ingin
diadopsi, dikuti, dipraktekkan, atau ditolak dalam hal keyakinan,
gagasan dan praktik (buku abad 21, b, 110).
Saeed mengusulkan agar `amal shalih dijadikan sebagai prinsip
(nilai) dasar yang akan membimbing penafsiran teks dan dalam
menghubungkannya dengan kehidupan umat Islam (buku a, 254).
Saeed menyebutkan lima nilai hirarkis Al-quran yaitu:
1. Nilai-nilai yang wajib ;
2. Nilai-nilai fundamental;
3. Nilai-nilai perlindungan;
4. Nilai-nilai implementasi; dan
5. Nilai-nilai instruksional (buku b, 110).

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 12


NILAI SEBAGAI UNSUR PARADIGMA
Heddy Shri Ahimsa Putra menyatakan, untuk dapat menyusun
sebuah paradigma (baru) dalam ilmu sosial budaya, perlu ada
sembilan komponen, yang salah satu daripadanya adalah nilai:
1) asumsi dasar,
2) nilai-nilai,
3) masalah-masalah yang diteliti,
4) model,
5) konsep-konsep,
6) metode penelitian,
7) metode analisis,
8) hasil analisis (teori), dan
9) representasi (etnografi).

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 13


ETOS DASAR PARADIGMA PROFETIK
Ketika berbicara tentang nilai dasar (etos), beliau menyatakannya
sebagai perangkat nilai atau nilai-nilai yang mendasari perilaku
suatu golongan atau kolektivitas manusia.
Etos dasar ilmu sosial yang sekarang berkembang (Barat) adalah
humanisme.
Roh dari humanisme adalah: 1) sekularisme, 2) liberalisme, dan 3)
toleransi. Sedangkan metodenya adalah: a) pendidikan, b)
kebebasan berpikir dan c) pencerahan.
Menurut beliau etos dasar paradigma profetik adalah penghayatan,
yaitu pelibatan pikiran dan perasaan pada sesuatu yang diyakini
dan dicintai yaitu Allah Swt dan hidayah Nya.
Dari etos ini beliau menurunkan etos (kerja) utama yaitu keabdian
kepada Allah dan etos (kerja) turunan a) yaitu etos kerja keabdian-
pengetahuan, b) etos kerja keabdian-kemanusiaan dan c) etos kerja
keabdian-kesemestaan.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 14


NILAI DALAM AL-QURAN
Kembali ke nilai-nilai ketuhanan (nilai-nilai ke-islaman)
menurut penulis ditemukan cukup banyak di dalam Al-
quran (dan hadis Rasulullah).
Nilai yang relatif banyak dalam Al-quran ini, belum disusun
secara hirarkis atau kategoris tertentu. Belum dipilah
menjadi nilai dasar, prinsip dan norma (peraturan hukum
kongkrit); atau menjadi nilai primer, sekunder dan tersier.
Karena masih tercerai berai, pada biasanya, sebagai jalan
pintas, kita mengambil kerangka yang disusun oleh para
sarjana non muslim sebagai model lalu mengisi dan
menyesuaikannya dengan pemikiran dan keyakinan yang
kita ambil dari Al-quran.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 15


NILAI DALAM AL-QURAN
Dalam Al-quran ditemukan nilai: keadilan, kebebasan,
kesejahteraan, kesamaan, tanggung jawab, kejujuran, pengorbanan,
dst. Ada perintah, larangan, dan keizinan; ada pujian dan celaan,
yang daripadanya dapat ditarik nilai-nilai.
Ada nilai yang disebutkan dengan ungkapan yang jelas tersurat,
tetapi ada juga yang dengan ungkapan majas tersirat.
Ada yang disebutkan secara berulang-ulang di banyak tempat, ada
yang beberapa kali disatu tempat, bahkan ada yang hanya
disebutkan sekali saja.
Para ulama perlu melakukan pemilihan dan pemilahan untuk
menentukan mana yang menjadi nilai dasar, prinsip dan peraturan
hukum kongkrit.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 16


NILAI QURANI DALAM PANCASILA
Dalam hubungan dengna Pancasila, (Indonesia sebagai
negara bangsa, atau capaian yang lain yang dianggap baik
dalam budaya Barat), sebagian ulama dan penceramah
sering mengutip ayat untuk mendukung nilai-nilai yang
dianggap baik yang ada disana, tanpa sikap kritis.
Begitu juga dengan nilai-nilai dasar yang lain, seperti
perlindungan HAM, sering kita dengar pernyataan bahwa
Islam mendukung dan memperjuangkan perlindungan HAM
dengan mengutip beberapa ayat dan mengabaikan ayat
lainnya, secara relatif serampangan.
Sebagian sarjana secara begitu saja menyamakan syura
dengan demokrasi, bay`at dengan pemilihan, dsb.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 17


PERSAMAAN HAK SEBAGAI WARGA NEGARA

Untuk melihat kesesuaian antara ketentuan dalam


Pancasila (UUD 45) dengan ketentuan fiqih bahkan Al-
quran, penulis mengemukan sebuah contoh, persamaan
hak dan kedudukan antar warga negara.
Para ulama cenderung menerima ketentuan di atas, dan
mengutip ayat Al-quran, hadis Rasululah dan praktek
Sahabat sebagai pendukung dan penguatnya.
Tetapi secara konseptual, penerimaan dan pengakuan ini
menurut penulis, belum dibahas dan dipikirkan secara
mendalam, karena dalam pemahaman fiqih tradisional,
manusia tidak sama.
Paling kurang ada empat kelompok manusia yang dalam
beberapa hal dianggap tidak sama.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 18


PERBEDAAN KEDUDUKAN MANUSIA DALAM
FIQIH
Manusia dibedakan menjadi
1) lelaki muslim dewasa, dihargai sebagai manusia sempurna,
2) perempuan muslim dewasa, cenderung dihargai hanya setengah
laki-laki, kegiatan mereka dibatasi pada ruang domestik dan
cenderung tidak diberi tanggung jawab secara ekonomi (pad
dasarnya tidka wajib memberi nafkah, walau atas dirinya).
3) orang-orang non muslim, mempunyai beberapa hak dan
kewajiban yang berbeda dengan muslim; dan
4) budak, tidka mempunyai hak sebagai orang merdeka, dianggap
sebagai harta kekayaan yang dapat diperjualbelikan dan diwariskan.
Penerimaan atas negara bangsa secara sungguh-sungguh
mengharuskan para ulama untuk memikirkan ulang
pengelompokan penduduk (warga negara) di atas.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 19


DAR AL-`AHDI WA AL-SYAHADAH DAN
KEHARUSAN IJTIHAD
Penerimaan atas negara bangsa sebagai dar al-`ahdi
wa al-syahadah, menurut penulis mengharuskan
Muhammadiyah untuk memilih dan memilah nilai-nilai
yang ada dalam Al-quran dan menyusunnya secara
hirarkis, sehingga penerimaan atas negara bangsa tidka
menjadikan umat terlepas dari pelukan Al-quran.
Di pihak lain Muhammadiyah juga perlu memikirkan
ulang konsep-konsep yang selama ini sudah ada dalam
fiqih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, untuk
disesuaikan dengan kemajuan ilmu dan kenyataan
tentang adanya perbedaan (perubahan) budaya, antara
umat Islam masa lalu dengan umat Islam di Indonesia
pada masa sekarang.
6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 20
CONTOH RINCIAN NILAI DALAM AL-QURAN

Sebagai tawaran atau contoh, barangkali penulis dapat


menyatakan bahwa nilai paling dasar atau perbuatan
dengan nilai paling dasar dalam Islam adalah pengabdian
kepada Allah Swt. dan kedudukan manusia sebagai khalifah
di atas bumi.
Al-quran merumuskan dua nilai di atas dengan ungkapan
yang berbeda, menjaga hubungan baik dengan Allah
(menyembah Allah) dan hubungan baik dengan sesama
manusia (menjadi khalifah, selalu beramal shalih).
Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama
manusia tidka dalam bentuk statis, tetapi dinamis, bergerak
ke arah peningkatan kualitas dan dengan cara yang tidak
merusak dan merugikan orang lain.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 21


PEMERINCIAN NILAI DALAM AL-QURAN
Nilai yang mendorong umat untuk bergerak secara dinamis,
untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas diri,
ditemukan dalam Al-quran dalam bentuk perintah untuk
ber-fastabiqul khairat.
Sedang nilai patuh kepada hukum dan peraturan adalah
bagian penting dari ketaatan dan pengabdian kepada Allah
swt.
Kalau uraian tentang empat nilai di atas dapat diterima,
maka barangkali kita akan sampai kepada kesimpulan
bahwa negara bangsa (NKRI) haruslah negara yang
bertujuan mensejahterakan rakyat, yang patuh dan
menjunjung hukum.
Jadi harus merupakan negara dengan kedaulatan hukum.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 22


NILAI QURANI DAN NILAI NEGARA BANGSA

Kalau kesimpulan di atas dapat diterima, maka perlu


pemikiran bagaimana meletakkan dan menghubungkan
demokrasi; kesamaan hak dan kedudukan warga negara
secara hukum, politik, ekonomi, pendidikan,kesehatan;
mewujudkan pemerintahan yang bersih, dan beberapa nilai
lain yang dianggap penting, dengan empat nilai di atas
dalam kategori atau hirarki;
Bagaimana menyusunnya dalam sebuah hirarki atau
memilah-milahnya ke dalam sebuah kategori yang logis dan
padu, sebagai nilai-nilai Qurani.
Setelah itu bagaimana menyesuaikan dan
mensejalankannya dengan nilai-nilai negara bangsa yang
ada di negeri kita (Pancasila dan UUD 45).

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 23


SISTEM KENEGARAAN SEBAGAI MAKNA BARU
UNTUK ULI-L AMRI
Kalau tugas di atas dapat kita lakukan dan dapat
diterima oleh umat, maka makna kepatuhan kepada uli
al-amr yang diperintahkan Al-quran dapat kita geser;
Tidak lagi ditujukan kepada orang yang sedang
berkuasa, tetapi ditujukan kepada sistem yang sudah
disetujui bersama sebagaimana (negara) seperti
tertuang dalam dasar negara (dan konstitusi negara)
tersebut.
Di pihak lain sistem yang dipilih, diterima dan
dijalankan secara bersama ini, akan dapat digunakan
sebagai transformasi dari ijma`.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 24


PERUMUSAN ULANG MAKNA IJMA`
Ijma` yang selama ini dipahami sebagai kesepakatan ulama,
akan digeser pemahamannya menjadi kesepakatan
bersama mengenai sistem penyelenggaraan negara; dalam
kasus Indonesia, Pancasila dan UUD 45.
Sistem yang dipilih ini akan digunakan sebagai tolok ukur
yang akan memandu ulama dalam berijtihad.
Maksudnya sistem pemerintahan, sistem hukum, sistem
peradilan, sistem ekonomi, sistem kesejahteraan sosial,
dsb. yang sudah dipilih dan disepakati akan menjadi
pemandu dan pembatas untuk ijtihad yang akan dilakukan.
Hasil ijtihad tidka boleh keluar dari sistem yang sudah
disepakati bersama itu.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 25


AL-QURAN QATH`I WURUD
(DIN: AQIDAH, SYARI`AH, AKHLAK DAN SETERUSNYA)

HADIS, ZHANNI WURUD

HADIS IBADAH (TASYRI`IYYAH MUABBADAH)


HADIS BUDAYA (TASYRI`IYYAH MUAQQATAH) WILAYAH WAHYU (MUTLAK)

WILAYAH PEMIKIRAN (NISBI)

ZAMAN DAN BUDAYA


ZAMAN ZAMAN DAN BUDAYA ZAMAN DAN BUDAYA
INFORMASI/
NOMADEN AGRARIS INDUSTRI
BIO TEKNOLOGI

FIQIH FIQIH FIQIH


MASA FIQIH
SAHA MAZ BARU
JAHILIAH
BAT HAB ???

arah perkembangan budaya / masyarakat


14/06/2015 26
KEPUSTAKAAN:
Abdullah Saeed, Al-Quran abad 21, Tafsir Kontekstual, Mizan, Bandung,
2016;
Abdullah Saeed, Paradigma, Prinsip dan Methode Penafsiran
Kontekstualis atas al-Quran, Baitul Hikmah Press, Yogyakarta, cet.
1, 2016;
Abraham Amos, H.F., Sistem Ketatanegaraan Indonesia (Dari ORLA,
ORBA sampai Reformasi), Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. 1,
2005;
Heddy Shri Ahimsa Putra, Paradigma Profetik Islam, Epistemologi, Etos
dan Model, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, cet. 1,
2016;
Syahrin Harahap, Islam & Modernitas, Dari Teori Modernisasi hingga
Penegakan Kesalehan Modern, Kencana, Jakarta, cet. 1, 2015;
Wael B Hallaq, Ancaman Pardigma Negara Bangsa: Islam, Politik, dan
Problem Moral Modernitas, Suka Press, Yogyakarta, cet. 1, 20 15.

6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 27


Akhirnya kepada Allah penulis berserah diri
Kepada Nya dipersembahkan bakti
Kepada Nya dimohon ampun sepenuh hati
Dan kepada Nya dimohon hidayah pencerah nurani

Wallahu a`lam bi al-shawab, wa ilayh al-marji` wa al-ma`ab


wa al-hamdu lillahi rabbi al-`alamin

Banda Aceh,
3 Ramadhan 1437 bertepatan 8 Juni 2016
6/10/2016 PENGAJIAN RAMADHAN 2016 28