Anda di halaman 1dari 64

Pencegahan terhadap ketidakmampuan

akibat proses penuaan


Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan akibat proses penuaan
Pemulihan ditujukan untuk upaya
mengatasi kebutuhan akibat proses
penuaan
Sebagai Care Giver /pemberi asuhan
langsung
Sebagai Pendidik klien lansia
Sebagai Motivator
Sebagai Advokasi
Sebagai Konselor
Membantu klien lansia memperoleh
kesehatan secara optimal
Membantu klien lansia untuk memelihara
kesehatannya
Membantu klien lansia menerima kondisinya
Membantu klien lansia menghadapi ajal
dengan diperlakukan secara manusiawi
sampai dengan meninggal.
Independent (layanan tidak tergantung pada
profesi lain/mandiri
Interdependent
Humanistik (secara manusiawi)
Holistik (secara keseluruhan)
Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka
yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan
pencegahan.
Membantu mempertahankan serta membesarkan daya
hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support)
Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita
penyakit atau gangguan baik kronis maupun akut.
Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal
dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka
menjumpai kelainan tertentu
Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut
usia yang menderita suatu penyakit, masih dapat
mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu
suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara
maksimal).
Berupa dukungan tentang personal hygiene:
kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi
palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut,
badan, kuku, mata serta telinga:
kebersihan lingkungan
Seperti tempat tidur dan ruangan : makanan
yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi,
bervariai dan mudah dicerna, dan kesegaran
jasmani.
Dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga
atau petugas.
Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah
agar tidak terjadi dekubitus (lecet).
Perawatan yang memperhatikan kesehatan
obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang
dialami klien lanjut usia semasa hidupnya,
Ferubahan fisik pada organ tubuh, tingkat
kesehatan yang masih bisa di capai dan
dikembangkan, dan penyakit yang yang dapat
dicegah atau ditekan progresifitasnya
Perawat mempunyai peranan penting untuk
mengadakan pendekatan edukatif pada klien
lanjut usia,
Perawat dapat berperan sebagai supporter ,
interpreter terhadap segala sesuatu yang asing,
sebagai penampung rahasia yang pribadi dan
sebagai sahabat yang akrab.
Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan
ketelitian dalam memberikan kesempatan dan
waktu yang cukup banyak untuk menerima
berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia
merasa puas.
Perawat harus selalu memegang prinsip
Tripple, yaitu sabar, simpatik dan service.
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan
bercerita merupakan salah satu upaya
perawat dalam pendekatan social.
Memberi kesempatan untuk berkumpul
bersama dengan sesama klien usia berarti
menciptakan sosialisasi mereka.
Pendekatan sosial ini merupakan suatu
pegangan bagi perawat bahwa orang yang
dihadapinya adalah makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain
Perawatharus bisa memberikan ketenangan
dan kepuasan batin dalam hubungannya
dengan Tuhan atau agama yang dianutnya
dalam kedaan sakit atau mendeteksi
kematian.
Diagnosa keperawatan Aspek Fisik
dan Biologis
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
b.d tidak mampu dalam memasukkan, mencerna,
mengabsorbsi makanan karena factor biolog
NOC I : Status nutrisi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam
pasien diharapkan mampu:
Asupan nutrisi tidak bermasalah
Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
Energy tdak bermasalah
Berat badan ideal
Manajemen ketidakteraturan makan
(eating disorder management)
NIC I :
Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk memuat
perencanaan perawatan jika sesuai.
Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat
badann, jika berat badan pasien tdak sesuia dengan usia dan
bentuk tubuh.
Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori
setiap hari supaya mencapai dan atau mempertahankan berat
badan sesuai target.
Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien
Kembangkan hubungan suportif dengan pasien
Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan
makanan dan kenaikan atau pemeliharaan berat badan
Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan
berat badan dan untuk menimimalkan berat badan.
Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku
yang mendukung peningkatan berat badan.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,
terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan
fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 224


jam pasien diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya
dengan criteria :
1 Mengatur jumlah jam tidurnya
2 Tidur secara rutin
3 Miningkatkan pola tidur
4 Meningkatkan kualitas tidur
5 Tidak ada gangguan tidur
NIC : Peningkatan Tidur
1 Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien
2 Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
3 Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik
4 Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum
jam tidurnya
. Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan
keterbatasan neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke
toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu
mengontrol pengosongan

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan


selama 324 jam diharapkan pasien mampu :
1 Kontinensia Urin
2 Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).
3 Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat
waktu.
4 Mengosongkan bladde dengan lengkap.
5 Mampu memprediksi pengeluaran urin.
NIC : Perawatan Inkontinensia Urin
1 Monitor eliminasi urin
2 Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.
3 Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke
toilet.
4 Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum
sebanyak 1500 cc/hari.
Gangguan proses berpikir berhubungan dengan
kemunduran atau kerusakan memori sekunder
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama
224 jam pasien diharapkan dapat meningkatkan daya ingat
dengan criteria :
1 Mengingat dengan segera informasi yang tepat
2 Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan
3 Mengingat informasi yang sudah lalu
NIC : Latihan Daya Ingat
1 Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah
ingatan
2 Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien
kemarin dengan cepat
3 Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan
pasien
Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan
struktur tubuh/fungsi yang ditandai dengan perubahan
dalam mencapai kepuasan seksual
NOC : Fungsi Seksual
1 Mengekspresikan kenyamanan
2 Mengekspresikan kepercayaan diri
NIC : Konseling Seksual
1 Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi
tubuh termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya
usia.
2 Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.
Kelemahan mobilitas fisik b.d kerusakan
musculoskeletal dan neuromuscular
Yang ditandai dengan :
1 Perubahan gaya berjalan
2 Gerak lambat
3 Gerak menyebabkan tremor
4 Usaha yang kuat untuk perubahan gerak
NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1 Memposisikan penampilan tubuh
2 Ambulasi : berjalan
3 Menggerakan otot
4 Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan
NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy
Ambulation )
1. Kosultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana
gerakan yang sesuai dengan kebutuhan
2. Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam
batas yang aman
3. Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk
berdiri (mudah goyah/tidak kokoh)
Kelelahan b.d kondisi fisik kurang
Yang ditandai dengan:
1 Peningkatan kebutuhan istirahat
2 Lelah
3 Penampilan menurun
NOC Activity Tolerance
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat:
1 Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas
2 Melaporkan aktivitas harian
3 Memonitor ECG dalam batas normal
4 Memonitor warna kulit
NIC Energy Management
1 Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi
yang adekuat
2 Tentukan keterbatasan fisik pasien
3 Tentukan penyebab kelelahan
4 Bantu pasien untuk jadwal istirahat
Risiko kerusakan integritas kulit
NOC : Kontrol Risiko ( risk control )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1 Kontrol perubahan status kesehatan
2 Gunakan support system pribadi untuk mengontrol risiko
3 Mengenal perubahan status kesehatan
4 Monitor factor risiko yang berasal dari lingkungan
NIC : penjagaan terhadap kulit ( skin surveillance )
1 Monitor area kulit yang terlihat kemerahan dan adanya
kerusakan
2 Monitor kulit yang sering mendapat tekanan dan gesekan
3 Monitor warna kulit
4 Monitor suhu kulit
5 Periksa pakaian, jika pakaian terlihat terlalu ketat
Kerusakan Memori b.d gangguan
neurologis
Yang ditandai dengan :
1 Tidak mampu mengingat informasi factual
2 Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau
masa lampau
3 Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman
4 Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau
informasi baru
NOC : Orientasi Kognitif
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1 Mengenal diri sendiri
2 Mengenal orang atau hal penting
3 Mengenal tempatnya sekarang
4 Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar
NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )
1 Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara
jelas di akhir pertemuan dengan pasien.
2 Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.
3 Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali
4 Monitor perilaku pasien selama terapi
NOC I : koping (coping)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 3X24 jam pasien secara konsisten
diharapkan mampu:
Mengidentifikasi pola koping efektif
Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif
Melaporkan penurunan stress
Memverbalkan control perasaan
Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan
Beradaptasi dengan perubahan perkembangan
Menggunakan dukungan social yang tersedia
Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis
NIC I : coping enhancement
Dorong aktifitas social dan komunitas
Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan
Dorong berhubungan dengan seseorang yang
memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama
Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme
pertahanan yang sesuai.
Kenalkan pasien kepada seseorang yang
mempunyai latar belakang pengalaman yang
sama.
NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family
environment: interna)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama
3X24 jam pasien secara konsisten diharapkan mampu:
Berpatisipasi dalam aktifitas bersama
Berpatisipasi dala tradisi keluarga
Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga
besar
Memberikan dukungan satu sama lain
Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang
lain.
Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan
Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas
komunitas
Memecahkan masalah
NICI : Keterlibatan keluarga (Family
involvement)
Mengidentifikasikan kemampuan anggota
keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien.
Menentukan sumber fisik, psikososial dan
pendidikan pemberi pelayanan kesehatan yang
utama.
Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien
Menentukan tinggat ketergantungan pasien
terhadap keluarganya yang sesuai dengan umur
atau penyakitnya.
NOC :
Setelah dilakukan tindakan intervensi
keperawatan selama 224 jam pasien diharapkan
akan bisa memperbaiki konsep diri dengan
criteria :
Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif
dan pada saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat
penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan
obat-obatan; penggunaan tenaga yang berlebihan)
Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan
mengungkapkan perasaan dan reaksinya terhadap
penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan
Mencari konseling profesional, jika perlu, untuk
menghadapi perubahan akibat pnyakitnya
Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual
NIC : Peningkatan harga diri
Kuatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan
pasien mengndalikan situasi
Menguatkan tenaga pribadi dalam mengenal
dirinya
Bantu pasien untuk memeriksa kembali persepsi
negative tentang dirinya
Yang ditandai dengan:
Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup
Mudah tersinggung
Gangguan tidur
NOC Anxiety Control
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama
2X24 jam diharapkan pasien dapat:
Memonitor intensitas cemas
Melaporkan tidur yang adekuat
Mengontrol respon cemas
Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress
NIC Anxiety Reduction
Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi
percepatan cemas
Dampingi pasien untuk mempromosikan
kenyamanan dan mengurangi ketakutan
Identifikasi ketika perubahan level cemas
Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi
NOC Family Coping
Setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat:
Mendemontrasikan fleksibelitas peran
Mengatur masalah
Menggunakan strategi penguranagn stress
Menghadapi masalah
NIC Family Support
Bantu pekembangan harapan yang realistis
Identifikasi alami dukungan spiritual bagi
keluarga
Berikan kepercayaan dalam hubungan dengan
keluarga
Dengarkan untuk berhubungan dengan keluarga,
perasan dan pertanyaan
NOC : Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 2x24jam pasien
diharapkan meningkatkan citra tubuhnya
dengan criteria :
Merasa puas dengan penampilan tubuhnya
Merasa puas dengan fungsi anggota badannya
Mendiskripsikan bagian tubuh tambahan
NIC : Peningkatan Citra Tubuh
Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan
karena penyakit atau pembedahan
Memutuskan apakah perubahan fisik yang baru
saja diterima dapat masuk dalam citra tubuh
pasien
Memudahkan hubungan dengan individu lain yang
mempunyai penyakit yang sama
Aspek spiritual
NOC I : pengaharapan (hope)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan
selama 3X24 jam pasien secara luas
diharapkan mampu:
Mengekspresikan orientasi masa depan yang
positif
Mengekspresikan arti kehidupan
Mengekspresikan rasa optimis
Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri
sendiri
Mengekspresikan kepercayaan
Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri
dan orang lain
NIC I : penanaman harapan (hope instillation)
Pengkaji pasian atau keluarga untuk
mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup
Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan
diri
Mengajarkan keluarga tentang aspek positif
pengharapan
Memberikan kesempatan pasien atau keluarga
terlibat dalam support group.
Mengembangkan mekanisme paran koping pasien
Seorang perempuan berumur 45 tahun,
mengeluh batuk berlendir sudah 1 bulan, ia
nerasa malu dengan penyakit yang diderita,
karena nafsu makan kurang, BB turun drastis
dari 58 kg menjadi 50 kg dan dia merasa
sangat kurus seperti tengkorak, hasil
pemeriksaan dahak BTA positif.
Seorangperempuan berumur 50 tahun,
menderita HNP, sudah berobat selama 2
bulan. Pasien sudah merasa bosan karena
harapan kesembuhannya sangat kecil. Pasien
sering merasa malas untuk mendatangi
pelayanan kesehatan
Seorang laki-laki berumur 60 tahun di suatu
desa mengeluh sering batuk, sesak nafas
terutama pada musim hujan, keluhan lain
adalah sering ada suara ngik saat tarik
nafas. Lendir sukar dikeluarkan. Kadang
keadaannya membuat ia sering tidak bisa
tidur. Kalau siang terasa ngantuk namun
harus bekerja disawah.
Seorangperempuan berusia 55 tahun di
sebuah keluargaa, dan ia menderita lumpuh
pada anggota tubuh bagian kiri akibat
penyakit stroke yang dideritanya sejak 2
tahun yang lalu. Pada pengkajian didapatkan
data bahwa sejak seminggu ini klien selalu
mengurung diri di kamar tidurnya dan tidak
mau berinteraksi baik dengan anggota
keluarganya maupun tetangganya yang
menjenguknya, serta tidak mau melakukan
pemeriksaan ke puskesmas.
Seorang perempuan usia 68 tahun di sebuah
keluarga, sejak 2 bulan yang lalu mengeluh
sakit hati pada anaknya karena
menelantarkannya. Setelah dilakukan diskusi
dengan keluarga padahal tidak demikian
adanya. Sekarang klien tidak mau menurut
sama anaknya dengan harapan anaknya
menyatakan salah dan minta ampun
padanya.
Seorang laki-laki umur 64 tahun di bangsal
penyakit dalam mengalami effuse pleura,
pasien menyeluh sesak nafas sejak 4 hari
yang lalu. Tanda-tanda vital TD 120/80
mmHg, Respirasi 40 X /menit, SB 36oC, nadi
110 X/menit. Pasien tidak mau makan dan
minum dengan alasan agar cepat mati
menyusul istrinya di surga, aktifitas terbatas
dan gelisah. Dia sudah merasa bosan dengan
sakitnya yang sekarang
Seorang perempuan berusia 80 tahun yang
menderita lumpuh post stroke 2 tahun yang
lalu. Ibu mengeluh pada dua kaki yang tidak
bisa digerakkannya sering merasa kesemutan.
Setiap hari ibu hanya berbaring dan duduk
dan berbaring di tempat tidur. Ibu tidak
memiliki riwayat penyakit gula/DM. Tekanan
darah ibu 170/120mHg. Semua aktivitas
kesehariannya dibantu oleh keluarga
Seorang laki-laki berusia 73 tahun mengeluh
sering buang air kecil tanpa ia sadari
terutama ketika tertawa, bersin, dan
mengangkat benda berat. Ketika perawat
berkunjung ke rumahnya, dengan ekspresi
malu klien menanyakan apa yang harus
dilakukan dengan penyakitnya, klien merasa
malu karena aromanya tidak sedap.
Seorang laki-laki berusia 60 tahun, hidup
seorang diri, mengeluh susah berjalan sejak
1 sejak menderita strooke. Persendian kedua
kaki terlihat bengkak dan kemerahan, nyeri
saat ditekan, nyeri bertambah ketika
digunakan untuk berjalan, skala nyeri 6.
Pasien melakukan aktivitas kesehariannya
sendiri.
Seorang laki-laki berusia 76 tahun pasca
dirawat di rumah sakit didiagnosis hipertensi.
Klien saat ini dalam program pengobatan
dengan 10 jenis obat dan menyatakan sudah
bosan melanjutkan minum obat. Klien
bertekad untuk berhenti minum obat karena
obat tidak ada pengaruhnya
Apakah intervensi utama pada klien tersebut?
Seorang wanita 62 tahun di Panti Wredha
mengalami peningkatan tekanan darah
200/150 mmHg. Perawat melakukan
pemeriksaan fisik. Pasien mengalami tanda-
tanda peningkatan tekanan intra cranial.
Pasien sering memukul-mukul kepalanya atau
membenturkan diri ke dinding.
Apakah yang harus diperiksa untuk
memastikannya?
Seorang perempuan berusia 60 tahun yang
menderita IMA. Klien mengeluh apabila
berjalan terasa sesak dan berdebar-debar.
Klienmemiliki riwayat penyakit jantung.
Tekanan darah ibu 170/100 mmHg. Untuk
memenuhi kebutuhan perawatan diri,
dibantu oleh anaknya.
Apakah masalah keperawatan yang utama
pada kasus diatas ?
Dua orang lansia dalam sebuah Panti Wherda
terlibat pertengkarang bahkan pernah terjadi
perkelahian. Setelah didamaikan oleh
petugas panti kedua lansia merasa saling
dendam dan terjadi pertengkaran-
pertengkaran berikutnya.
Apa yang tepat dilakukan untuk mengatasi
masalah tersebut?
Seorang laki-laki berusia 63 tahun mengeluh
pinggangnya sakit dan terasa cenut-cenut.
Ketika perawat berkunjung ke rumahnya,
klien sedang duduk sendiri di kamarnya.
dengan ekspresi takut klien menanyakan apa
yang harus dilakukan.
Apakah Intervensi keperawatan yang tepat
untuk mengatasi masalah di atas?