Anda di halaman 1dari 37

JOURNAL READING

Nama/NIM

UVEITIS : PATOGENESIS,
PRESENTASI KLINIS DAN
PENGOBATAN
IDEENTITAS JURNAL
Judul Jurnal
UVEITIS : PATOGENESIS, PRESENTASI KLINIS DAN PENGOBATAN

Penulis
Murtaza Mustafa, P.Muthusamy,SS. Hussain, SC.Shimmi,MM.Sein

Penerbit
IOSR Journal Of Pharmacy

Tahun Terbit
2014
PENDAHULUAN
Uveitis adalah inflamasi intraokuler yang mengancam penglihatan yang
prevalen di seluruh dunia.

Uveitis terdiri dari 4 klasifikasi oleh International Uveitis Study Group


classification :
Uveitis Anterior (iritis, siklitis, iridosiklitis)
Uveitis Intermediate (koroiditis, retinitis, kororetinitis, vaskulitis retinal)
Uveitis Posterior
Panuveitis

Prevalensi uveitis 2.3 juta orang dan menyebabkan 10% dari semua kasus
kebutaan. Prevalensi di Amerika Serikat adalah 70 sampai 115 kasus per
100.000 populasi, dan uveitis berefek sedikit lebih banyak pada wanita
daripada laki laki.
PATOFISIOLOGI
&
AGEN INFEKSI
Uveitis bisa disebabkan oeh kondisi autoimun, infeksi atau , trauma
(jarang), tetapi 50% dari kasus adalah idiopatik. Beberapa kasus dari
inflamasi intraokuler menampakan seperti uveitis (sindrom
masquerade) tetapi penyebabnya lain seperti malignansi (missal
limfoma system saraf sentral okuler).

Patofisiologi dari uveitis bergantung pada etiologi spesifik, tetapi


pada semua tipe ada penerobosan pada blood eye barrier. Blood eye
barrier, mirip pada blood brain barrier secara normal mencegah sel dan
protein besar masuk mata. Inflmasi menyebabkan barrier ini rusak dan
sel darah putih masuk mata. Neutrophil mendominasi kasus uveitis
anterior dan sel mononuclear mendominasi kasus kronik.
Pada pasien uveitis anterior, kebanyakan kasus adalah idiopatik (40%) atau
berhubungan dengan kondisi rematologis (45%), Penyebab paling sering dari
infeksi adalah uveitis anterior herpetic ,10% dari kasus, sedangkan sifilis, TB dan
penyakit Lyme menyebabkan kurang dari 1%.

Uveitis intermediate paling sering memiliki etiologic yang tidak diketahui (69%)
atau dikarenakan sarkoidosis (22%) atau multiple sclerosis (8%); infeksi sangat
sangat jarang.

Uveitis posterior memiliki etiologi infeksi sebesar lebih dari 40% kasus.
Toxoplasmosis menyebabkan 25% dari 40% kasus, sedangkan yang lebih jarang
termasuk sitomegalovirus (CMV) retinitis, nekrosis retina akut (ARN), Toxocara,
sifilis dan candida

Pada panuveitis, infeksi menyebabkan 10% kasis dan termasuk sifilis, TB dan
candida, sisanya 90% kasus biasanya disebabkan oleh sarkoidosis, penyakit
Bachet, sistemik lupus eritematosus, koroiditis multifocal, dan panuveitis atau
idiopatik.
KARAKTERISTIK KLINIS
UMUM
Pasien iasanya hadir fengan mata merah yang sakit dan penurunan
daya penglihatan. Mungkin ada konstrksi pupil, fotofobia dan air mata
nrocos.

Pada pemeriksaan slit-lamp, ada sel dan flare (protein) pada


camera okuli anterior.

Permukaan dalam dari kornea bisa saja berbintik dengan keratic


presipitat yang bisa berbentuk jelas (granular) atau globular
(granulomatosa atau mutton fat keratik presipitat).

Keratik presipitat granulomatosa jarang daripada presipitat


granular dan lebih sering berhubungan dengan sarkoidosis, sifilis atau
tuberculosis..
PRESENTASI KLINIS
&
ETIOLOGI
HSV, VSV, CMV, TB, SIFILIS, TOXOPLASMA DAN TOXOCARA
HERPES SIMPLEX VIRUS (HSV)

Uveitis anterior herpetic hampIr selalu unilateral.

Pasien mengeluh nyeri mata, kemerahan dan fotofobia. Kornea bisa


tampak berkabut dan pemeriksaan slit-lamp bisa menunjukan keratitis
intersisilal tipikal dari HVS aktif berulang atau bekas luka di kornea dari
episode skarang.

Inflamasi COA bisa ringan sampai berat dan mungkin jadi hipopion atau
kratik presipitat, atau keduanya;keratik presipitat bisa kecil, besar, atau
stelata.
Pada tidak adanya bukti klinis riwayat keratitis HVS, ada beberapa
petunjuk yang menyarankan uveitis anterior herpetic :
penyakit unilateral, penurunan sensasi kornea, sinekia posterior, TIO
akut meningkat (dari inflamasi trabecular meshwork) dan atropi iris
(baik bintik, sektoral atau difus)

PCR terbaru dari aqueus dari pasien tanoa riwayat keratitis tapi
masih pisode uveitis anterior dengan atropi iris sektoral ditemukan HVS
pada 83% dan VZV pada 13% pasien.
NEKROSIS AKUT RETINA (ARN)

The American Uveitis Society sudah menentukan empat kriteria


diagnostic untuk ARN :

1. Area fokal dari retina yang nekrosis ada di sekitar retina.


2. Nekrosis sirkumferensial yang cepat.
3. Vaskuolopati oklusif
4. Inflamasi yang jelas (sel darah putih) pada vitreus dan aquoes.
PROGRESIF OUTER RETINA NEKROSIS (PORN)

PORN menyerupai ARN tetapi dibedakan dari itu secara klinis oleh
tiga fitur berikut :

(1) keterlibatan Bagian luar retina


(2) tidak adanya peradangan dalam humor vitreous atau aquoesus;
dan
(3) tidak adanya keterlibatan dari pembuluh darah retina.
RETINITIS CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
CMV dapat menyebabkan ARN di host immunocompromised, tetapi
lebih khas menyebabkan retinitis CMV.

CMV retinitis mempengaruhi lebih dari 30% pasien dengan acquired


immunodeficiency syndrome (AIDS) di era pre-highly active
antiretroviral therapy (HAART),

Temuan mata biasanya mencakup infiltrat retina putih berbulu halus;


vaskulitis retina, yang mungkin memiliki pola frosted branch angiitis;
dan beberapa perdarahan retina.

Sebuah fitur klinis yang penting adalah tidak adanya peradangan


vitreous signifikan.
SIFILIS
Syphilis dapat melibatkan kornea sebagai keratitis interstisial atau
sklera sebagai scleritis nodular .
Uveitis adalah manifestasi paling umum dari sifilis okular dan sering
granulomatosa .
Syphilis bisa menyebabkan uveitis anterior, uveitis menengah,
posterior atau panuveitis.
Temuan khas pada penyakit sifilis kongenital termasuk keratitis
interstitistial dan disebut salt and pepper fundus.
Pada sifilis yang didapat, timbulnya uveitis dapat terjadi pada sifilis
sekunder atau tersier.
Diagnosis dapat terjawab jika dengan RPR atau Venereal Disease
Research Laboratory (VDRL) diperiksa karena tes ini sering negatif pada
sifilis tersier.
TOKSOPLASMOSIS OKULAR

penyakit infeksi yang paling umum dari posterior uveitis di Amerika


Serikat.

Karakteristik funduskopi hasil temuan di toksoplasmosis okular


termasuk lesi kuning creamy chorioretinal berdekatan dengan bekas
luka lama, dan peradangan vitreous jelas.

Chorioretinitis pada pasien AIDS ditandai dengan panophthalmitis


segmental dan daerah nekrosis coagulative dikaitkan dengan kista
jaringan dan takizoit.
TOXOCARIASIS OKULAR
Ada tiga jenis manifestasi okular:
(a) granuloma chorioretinal perifer (50% kasus)
(b) pole posterior chorioretinal granuloma (25%)
(c) difus panuveitis.

Diagnosis sulit, terutama dalam kasus-kasus panuveitis. Karena


infeksi terbatas pada mata, serologi sering negatif dan biasanya
ada eosinofilia perifer atau tanda-tanda lain infeksi parasit sistemik.

Selain itu, pasien tanpa toxocariasis okular mungkin memiliki tes


serologi positif karena paparan insidental atau masa lalu untuk
Toxocara.
DIAGNOSIS
UVEITIS
Diagnosis uveitis sulit ditegakan dengan kultur dan patologi
Patologi : tidak bisa membiopsi uvea tanpa adanya resiko kerusakan
penglihatan
Kultur : dari kultur aquous dan vitreus : sangat jarang sekali ditemukan
hasil ang positf
PCR terbukti membantu dalam diagnosis uveitis herpes (HSV, VZV, ARN)
Tes serologi idak terlalu membantu karena terkadang prevalensi
antobodi sangat sering ditemukan secara umum, tetapi yang harus
dilakukan adalah tes treponemal spesifik untuk sifilis
Kajian radiologis orbital membantu dalam menyingkirkan limfoma
sistem saraf pusat ocular jika lesi otak ditemukan
Angiografi fluorescein mata dapat menunjukkan pola vaskular retina
konsisten dengan penyakit tertentu, seperti vaskulitis diinduksi virus di
CMV
TERAPI
UVEITIS HERPES
Herpes uveitis anterior diobati terutama dengan kortikosteroid topikal.
acyclovir oral harus dimulai juga, karena profilaksis jangka panjang acylovir
oral(400 mg dua kali sehari) tampaknya bermanfaat dalam mencegah
kekambuhan dari stroma herpes keratitis dan uveitis anterior.
ARN disebabkan HSV atau VZV diobati dengan acyclovir dosis tinggi
intravena (10 mg / kg setiap 8 jam dengan fungsi ginjal normal) selama 1
sampai 2 minggu diikuti oleh valacylovir atau famiciclovir selama 6 minggu
sampai beberapa bulan.
nekrosis retina luar progresif (PORN) memiliki hasil yang suram kendati
terapi dalam banyak kasus. Terapi dengan antivirus intravena saja jarang
berhasil. Ada keberhasilan dengan injeksi intravitreal berulang dengan
forscarnet dan gansiklovir, selain terapi berkepanjangan kombinasi IV
dengan agen ini, dan memulai ART pada pasien HIV-positif.
SIFILIS
Sifilis mata harus diperlakukan dengan cara yang sama seperti
neurosifilis dengan 10 sampai 14 hari penisilin intravena (4 juta U setiap
4 jam dengan asumsi fungsi ginjal normal).

kortikosteroid sistemik (mis., prednison, 80 mg sehari) harus dimulai


bersama dengan terapi antibiotik, kemudian di tapering off selama
beberapa hari hingga minggu. Kortikosteroid diberikan untuk
mengurangi peradangan intraokular dan mencegah peradangan
rebound
TB DAN TOXOPLASMA
TB mata harus diobati dengan obat dan durasi terapi yang sama
dengan meningitis TB. Meskipun etambutol dihindari karena toksisitas
okular potensial.

Pengobatan okular Toxoplasma, bila lesi perifer yang tidak


mengancam penglihatan mungkin tidak memerlukan pengobatan.
Pengobatan untuk lesi yang mengancam penglihatan pada orang
dewasa meliputi obat sulfa (misalnya, sulfadiazine 1 g per oral setiap 6
jam), pirimetamin (25mg / hari secara oral) dengan asam folinic
"penyelamat" (5mg / hari secara oral, dan klindamisin (300 mg per oral
empat kali hari) .
Prednisone sering ditambahkan dalam kasus dengan inflamasi
vitreous parah dan lesi mengancam macula.
CMV OKULAR

Pengobatan CMV termasuk obat yang saat ini tersedia yang


bertindak untuk menghambat DNA polymerase adalah gansiklovir, (dan
valganciclovir), Foscarnet, dan sidofovir. terapi induksi termasuk 2
minggu atau lebih obat dosis tinggi. Pada saat gansiklovir dan
foscarnet diberikan bersama-sama untuk mengontrol kekambuhan
atau cepatnya kemajuan penyakit (okular atau extra okular) . Ketika
retinitis stabil, pasien ditempatkan pada terapi pemeliharaan seumur
hidup sampai ada bukti pemulihan kekebalan.
KESIMPULAN
Uveitis adalah inflamasi intraokuler yang
mengancam penglihatan yang prevalen di seluruh
dunia. Kemajuan medis terbaru memberi
pemahaman yang lebih baik pada patogeneis dan
penanganan uveitis
CRITICAL
APPRAISAL
Critical Appraisal

No Kriteria Ya (+), Tidak (-)

1 Jumlah kata dalam judul, < 12 kata +

2 Deskripsi Judul Menggambarkan isi utama


penelitian dan tanpa singkatan
3 Daftar penulis sesuai aturan jurnal +

4 Korespondensi penulis +

5 Tempat & waktu penelitian dalam Tempat (-), Waktu (-)


judul
Abstract

N Kriteria Ya (+), Tidak (-)


o
1 Abstrak 1 paragraf +
2 Mencakup IMRC -
3 Secara keseluruhan informatif -
4 Tanpa singkatan selain yang baku +
5 Kurang dari 250 kata +
Pendahuluan

No Kriteria Ya (+), Tidak (-)


1 Terdiri dari 2 bagian atau 2 paragraf -

2 Paragraf pertama mengemukakan alasan +


dilakukan penelitian
3 Paragraf ke 2 menyatakan hipotesis atau tujuan +
penelitian
4 Didukung oleh pustaka yang relevan +
5 Kurang dari 1 halaman +
Bahan dan Metode

No Kriteria Ya(+), Tidak (-)


1 Jenis dan rancangan penelitian -
2 Waktu dan tempat penelitian Waktu -/tempat -
3 Populasi Sumber -
4 Teknik sampling -
5 Kriteria inklusi +
6 Kriteria eksklusi +
7 Perkiraan dan perhitungan besar sempel -
8 Perincian cara penelitian -
9 Blind -
10 Uji Statistik -
11 Program komputer -
12 Persetujuan subjektif -
Hasil Penelitian

No Kriteria Ya (+) Tidak (+)


.
1 Jumlah Subjek -
2 Tabel Karakteristik -
3 Tabel Hasil Penelitian -
4 Komentar dan Pendapat Penulis ttg hasil -
5 Tabel Analisis data dengan Uji -
Kesimpulan dan Daftar Pustaka

No Kriteria Ya (+) Tidak (+)


.
1 Pembahasan dan kesimpulan terpisah +
2 Pembahasan dan kesimpulan di paparkan +
dengan jelas
3 Pembahasan mengacu dari penelitian +
sebelumnya
4 Pembahasan sesuai dengan landasan teori +

5 Keterbatasan Penelitian -
6 Simpulan berdasarkan penelitian +
7 Saran Penelitian -
8 Penulisan Daftar Pustaka sesuai aturan +
Bukti valid
Pertanyaan Jawaban
Apakah alokasi pasien pada penelitian ini dilakukan Ya
secara acak?
Apakah pengamatan pasien dilakukan secara Ya
cukup panjang dan lengkap?

Apakah semua pasien dalam kelompok yang Ya


diacak, dianalisis?
Apakah pasien dan dokter tetap blind dalam Ya
melakukan penelitian, selain dari terapi yang diuji?

Apakah ada kelompok kontrol ? Ya


Aplikasi

Pertanyaan Jawaban
Apakah pada pasien kita terdapat Tidak
perbedaan bila dibandingkan dengan
yang terdapat pada penelitian sblmnya
sehingga hasil tersebut tidak dapat
diterapkan pada pasien kita?
Apakah penelitian tersebut mungkin Ya
dapat diterapkan pada pasien kita?

Apakah pasien memiliki potensi yang Ya


menguntungkan apabila penelitian
diterapkan?
Kesimpulan

Hasil penelitian valid

Hasil penelitian penting

Hasil penelitian dapat diterapkan


thanks!
Any questions?