Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO D

BLOK 19

KELOMPOK 7
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

dr. Bintang Arroyantri P., SpKJ

1
Anggota
Arisda Oktalia 04011281520175
Dini cahyani 04011181520080
Dwi oktaverina 04011181520068
Laras andianti 0401118152078
Radyat f 04011281520174
Lathifah Nadiah 04011281520147
Ezra Reinhard 04011281520153
M galang samudra 04011181520028
Wiku hapsara 04011181520034
Michael candra 04011281520149
M fiqih A. 04011181520027
Melina Indah sari 04011181520025

2
Outline

Skenario
Klarifikasi Istilah
Identifikasi Masalah
Analisis Masalah
Learning Issue
Kerangka Konsep
Kesimpulan

3
Skenario
Seorang anak laki-laki, usia 15 bulan datang dengan kejang yang disertai demam. Sekitar dua jam yan lalu,
terjadi bangkitan berupa seluruh badan kaku, mata mendelik ke atas, pasien tidak sadar, berlangsung kurang lebih 3
menit, berhenti sendiri, setelah bangkitan pasien sadar. Sekitar satu jam kemudian pasien dibawa ke rumah sakit, di
perjalanan kembali terjad bangkitan serupa namun berlangsung selama 5 menit, berhenti setelah diberikan diazepam
rektal 5 mg di emergensi. Dari anamnesis terhadap ibu penderita, sekitar empat jam yang lalu pasien mulai demam
tinggi, suhu diukur oleh ibu pasien sesaat sebelum kejang 38,5 C. Pasien mengalamipilek tapi tidak batuk. Tidak ada
muntah muntah, makan minum tidak ada keluhan, anak sadar namun sedikit rewel. Sebelumnya pasien sudah pernah
dua kali mengalami bangkitan serupa yang disertai demam, yaitu 5 bulan dan 2 bulan yang lalu, masing-masinh satu kali
dengan lamanya kurang dari 5 menit. Pasien berobat ke dokter dikatakan kejang demam, tidak diberi obat kejang oral
namun diberi bekal diazepam rektal 5 mg dan diinstruksikan diberikan saat kejang. Saat episode ini orang tua pasien
tidak memberi diazepam rektal karena alasan takut salah. Tidak terdapat riwayat kejang dalam keluarga. setelah
anamnesis, orangtua pasien menyanyakan apakah dibutuhkan pemeriksaan rekam otak (EEG) atau CT scan kepala,
bagaimana kemungkinan epilepsi dan pengaruh kejangnya terhadap kecerdasan anak.
Riwayat kelahiran pasien lahir spontan, langsung menangis, berat lahir 3000 gr. Riwayat perkembangan dapat berjalan
usia 13 bulan, saat ini dapat bicara mama, papa, minum dengan jelas, dapat menggunakan sendok meski masih
sering menjatuhkan makanan. Riwayat imunisasi BCG 1x (scar +), DPT dan HIB 3x, Hepatitis B 4x, OPV 4x, campak
1x. saat ini sudah makan nasi dihaluskan.
4
Pemeriksaan fisis umum:
Berat badan 10 kg, tinggi badan 78 cm. kesadaran GCS pediatrik 15, sedikit rewel, makan
minum masih mau, suhu axilla 38,3C, nadi 100x/ menit, frekuensi nafas 28x/menit. Kepala:
lingkar kepala 47,5 cm, ubun-ubun besar 1x1 cm, rata tidak tegang, konjungtiva tidak pucat,
nampak faring hiperemis, tonsil T2-T2, hiperemis, ada eksudat di faring dantonsil. Jantung,
paru, abdomen, ekstremitas dalam batas normal.
Pemeriksaan neurologis:
Nervi kraniales tidak tampak ada paresis. Tonus otot normal, pergerakan luas, tidak nampak
ada paresis otot. Refleks tendon dalam batas normal, tidak ada reflek patologis atau klonus,
tidak ada tanda bruzinsky I dan II negatif, kernig negatif.

5
Klarifikasi istilah
No. Istilah Arti

1. Kejang Kontraksi involunter atau serangkaian otot-otot volunter

2. Bangkitan Serangan mendadak atau kekambuhan suatu penyakit

rekaman potensial yang dihasilkan oleh aliran listrik yang muncul secara spontan dari sel-sel saraf
3. EEG didalam otak pada tulang tengkorak dan fluktuasi potensial tersebut tampak sebagai gelombang-
gelombang.
Setiap kelompok sindrom yang ditandai oleh gangguan fungsi otak sementara yang bersifat
4. Epilepsi paroksismal yang dapat bermanifestasi berupa gangguan atau penurunan kesadaran yang episodik,
fenomena motorik abnormal, gangguan psikis atau sensorik, atau sistem saraf otonom.

5. Lahir spontan Persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalur lahir.

Mata terbuka lebar-lebar


6. mendelik

Benzodiazepin yang digunakan sebagai agen anti anxietas, sedatif, antipatik, antitremor, relaksan
7. Diazepam rektal otot rangka, antikonvulsan, dan dalam pentalaksanaan gejala akibat penghentian pemakaian
6 alkohol.
Klarifikasi istilah
No. Istilah Arti

8 Kejang demam Kejang yang disebabkan oleh demam tinggi biasanya pada bayi dan anak-anak.

Bakteri bergenus bacilus dengan kepanjangan bacille calmette-guerin digunakan sebagai agen
9 BCG
imunisasi aktif terhadap TBC dan Kanker Kandung Kemih.
Diphteria and tetanus toxoids and pertussis kombinasi toxoids diphteri dan tetanus serta vaksin
10 DPT pertussis digunakan untuk imunisasai diphteri, tetanus, dan batuk pertussis

Pemberian vaksin Haemophilus influenza Tipe B yang dimaksudkan untuk menangkal infeksi
11 HIB
oleh virus Haemophilus influenza Tipe B
Pemberian vaksin hepatitis B yang dimaksudkan untuk menangkal infeksi organ hati yang
12 Hepatitis B
disebabkan oleh virus Hepatitis B
Vaksin oral yang berisi virus polio hidup
13 Opv

Infeksi virus yang sangat menular biasanya pada masa anak-anak terutama menyerang saluran
14 Campak pernafasan dan jaringan RE ditandai oleh erupsi papul merah diskret yang akan berkonfluensi
7
mendatar berubah menjadi coklat dan berdeskuamasi.
Klarifikasi istilah
No. Istilah Arti

Cairan tinggi protein dan debris sel yang keluar dari pembuluh darah serta diendapkan
15 Eksudat
didalam jaringan atau di permukaan jaringan biasanya hasil peradangan.

16 paresis Paralisis ringan atau tak lengkap

Kontraksi otot yang ringan dan terus menerus yang pada otot-otot rangka membantu
17 tonus dalam mempertahankan postur dan pengembalian darah ke jantung.

18 klonus Serangkaian kontraksi dan relaksasi otot involunteer yang bergantian secara cepat.

Salah satu tes dalam meningitis dengan cara menekuk leher pasien yang akan diikuti
19 brudzinki
dengan fleksi lutut dan pinggang.
Iritan dalam iritasi meningeal, pelurusan kaki terbatasi ketika fleksi pinggul.
20 kernig

21 Refleks tendon Kontraksi otot yang disebabkan oleh perkusi tendon.

8
Identifikasi Masalah
No. Kalimat

1. Seorang anak laki-laki, usia 15 bulan datang dengan kejang yang disertai demam.

Sekitar dua jam yan lalu, terjadi bangkitan berupa seluruh badan kaku, mata mendelik ke atas,
pasien tidak sadar, berlangsung kurang lebih 3 menit, berhenti sendiri, setelah bangkitan pasien
2. sadar. Sekitar satu jam kemudian pasien dibawa ke rumah sakit, di perjalanan kembali terjad
bangkitan serupa namun berlangsung selama 5 menit, berhenti setelah diberikan diazepam rektal 5
mg di emergensi.
Dari anamnesis terhadap ibu penderita, sekitar empat jam yang lalu pasien mulai demam tinggi,
suhu diukur oleh ibu pasien sesaat sebelum kejang 38,5 C. Pasien mengalamipilek tapi tidak batuk.
Tidak ada muntah muntah, makan minum tidak ada keluhan, anak sadar namun sedikit rewel.
Sebelumnya pasien sudah pernah dua kali mengalami bangkitan serupa yang disertai demam, yaitu
5 bulan dan 2 bulan yang lalu, masing-masinh satu kali dengan lamanya kurang dari 5 menit. Pasien
3. berobat ke dokter dikatakan kejang demam, tidak diberi obat kejang oral namun diberi bekal
diazepam rektal 5 mg dan diinstruksikan diberikan saat kejang. Saat episode ini orang tua pasien
tidak memberi diazepam rektal karena alasan takut salah. Tidak terdapat riwayat kejang dalam
keluarga. setelah anamnesis, orangtua pasien menyanyakan apakah dibutuhkan pemeriksaan rekam
otak (EEG) atau CT scan kepala, bagaimana kemungkinan epilepsi dan pengaruh kejangnya
terhadap kecerdasan anak.
9
Identifikasi Masalah
No. Kalimat
Riwayat kelahiran pasien lahir spontan, langsung menangis, berat lahir 3000 gr. Riwayat
perkembangan dapat berjalan usia 13 bulan, saat ini dapat bicara mama, papa,
4 minum dengan jelas, dapat menggunakan sendok meski masih sering menjatuhkan
makanan. Saat ini sudah makan nasi dihaluskan. Riwayat imunisasi BCG 1x (scar +),
DPT dan HIB 3x, Hepatitis B 4x, OPV 4x, campak 1x.
Pemeriksaan fisis umum:
Berat badan 10 kg, tinggi badan 78 cm. kesadaran GCS pediatrik 15, sedikit rewel,
makan minum masih mau, suhu axilla 38,3C, nadi 100x/ menit, frekuensi nafas
5 28x/menit. Kepala: lingkar kepala 47,5 cm, ubun-ubun besar 1x1 cm, rata tidak tegang,
konjungtiva tidak pucat, nampak faring hiperemis, tonsil T2-T2, hiperemis, ada eksudat
di faring dan tonsil. Jantung, paru, abdomen, ekstremitas dalam batas normal.
Pemeriksaan neurologis:
Nervi kraniales tidak tampak ada paresis. Tonus otot normal, pergerakan luas, tidak
6 nampak ada paresis otot. Refleks tendon dalam batas normal, tidak ada reflek patologis
atau klonus, tidak ada tanda bruzinsky I dan II negatif, kernig negatif.

10
Analisis Masalah I
Seorang anak laki-laki, usia 15 bulan datang dengan kejang yang
disertai demam.
Apa hubungan usia dan jenis kelamin terhadap kasus?
Apa saja penyakit yang dapat menyebabkan kejang pada
kasus ini?
Bagaimana mekanisme kejang yang disertai demam?
Apa dampak yang akan terjadi pada pasien kejang disertai
demam?
Bagaimana anatomi dan fisiologi organ yang terkait?

11
Analisis Masalah II
Sekitar dua jam yan lalu, terjadi bangkitan berupa seluruh
badan kaku, mata mendelik ke atas, pasien tidak sadar,
berlangsung kurang lebih 3 menit, berhenti sendiri, setelah
bangkitan pasien sadar. Sekitar satu jam kemudian pasien
dibawa ke rumah sakit, di perjalanan kembali terjad
bangkitan serupa namun berlangsung selama 5 menit, berhenti
setelah diberikan diazepam rektal 5 mg di emergensi.
Bagaimana mekanisme seluruh badan kaku?
Bagaimana mekanisme mata mendelik?
Bagaimana mekanisme pasien tidak sadar?
Apa yang menentukan durasi lama terjadinya kejang?

12
cont
Apa indikasi pemberian diazepam rektal?
Mengapa kejang terjadi berulang dan lebih lama pada kasus?
Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamik dari diazepam rektal?
Bagaimana cara pemberian diazepam?
Apa saja sediaan obat diazepam dan mengapa pada kasus dipilih penggunaan
diazepam rektal?

13
Analisis Masalah III
Dari anamnesis terhadap ibu penderita, sekitar empat jam yang lalu pasien
mulai demam tinggi, suhu diukur oleh ibu pasien sesaat sebelum kejang
38,5 C. Pasien mengalamipilek tapi tidak batuk. Tidak ada muntah muntah,
makan minum tidak ada keluhan, anak sadar namun sedikit rewel.
Sebelumnya pasien sudah pernah dua kali mengalami bangkitan serupa
yang disertai demam, yaitu 5 bulan dan 2 bulan yang lalu, masing-masinh
satu kali dengan lamanya kurang dari 5 menit. Pasien berobat ke dokter
dikatakan kejang demam, tidak diberi obat kejang oral namun diberi bekal
diazepam rektal 5 mg dan diinstruksikan diberikan saat kejang. Saat
episode ini orang tua pasien tidak memberi diazepam rektal karena alasan
takut salah. Tidak terdapat riwayat kejang dalam keluarga. setelah
anamnesis, orangtua pasien menyanyakan apakah dibutuhkan pemeriksaan
rekam otak (EEG) atau CT scan kepala, bagaimana kemungkinan epilepsi
dan pengaruh kejangnya terhadap kecerdasan anak.
Apa yang memicu terjadinya kejang pada kasus ini?
Apa hubungan pilek terhadap kasus?
14 Mengapa dokter tidak memberikan obat kejang oral?
Berapa ambang suhu minimal pada pasien kejang demam?
Apakah dibutuhkan pemerikasaan EEG atau CT scan pada kasus tersebut? (apa
indikasiny dan kontraindikasinya)
Adakah kemungkinan epilepsi dan pengaruh terhadap kecerdasan anak?
Bagaimana dampak tindakan orangtua pasien yang tidak memberi diazepam rektal
saat anaknya mengalami kejang?
Bagaimana edukasi dokter terhadap orang tua pasien pada saat anak kejang?
(Termasuk edukasi tindakan dan pemberian diazepam rektal)
Mengapa ditanyakan riwayat epilepsi dalam keluarga?

15
Analisis Masalah IV
Riwayat kelahiran pasien lahir spontan, langsung menangis, berat lahir 3000 gr.
Riwayat perkembangan dapat berjalan usia 13 bulan, saat ini dapat bicara
mama, papa, minum dengan jelas, dapat menggunakan sendok meski
masih sering menjatuhkan makanan. Saat ini sudah makan nasi dihaluskan.
Riwayat imunisasi BCG 1x (scar +), DPT dan HIB 3x, Hepatitis B 4x, OPV 4x,
campak 1x.
Bagaimana tumbuh kembang normal anak pada usia 15 bulan?
Apa hubungan riwayat imunisasi terhadap kasus?
Bagaimana jadwal imunisasi wajib yang benar?

16
Analisis Masalah V
Pemeriksaan Fisik umum
Berat badan 10 kg, tinggi badan 78 cm. kesadaran GCS pediatrik 15, sedikit
rewel, makan minum masih mau, suhu axilla 38,3C, nadi 100x/ menit,
frekuensi nafas 28x/menit. Kepala: lingkar kepala 47,5 cm, ubun-ubun besar
1x1 cm, rata tidak tegang, konjungtiva tidak pucat, nampak faring hiperemis,
tonsil T2-T2, hiperemis, ada eksudat di faring dan tonsil. Jantung, paru,
abdomen, ekstremitas dalam batas normal.
Bagaimana interprestasi dari pemeriksaan fisis umum?
Bagaimana mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisis umum?
Apa perbedaan GCS pediatrik dan GCS dewasa?
Bagaimana status gizi menurut Grow Chart Depkes?

17
Analisis Masalah VI
Pemeriksaan Neurologis
Nervi kraniales tidak tampak ada paresis. Tonus otot normal,
pergerakan luas, tidak nampak ada paresis otot. Refleks
tendon dalam batas normal, tidak ada reflek patologis atau
klonus, tidak ada tanda bruzinsky I dan II negatif, kernig
negatif.
Bagaimana interprestasi dari pemeriksaan neurologis?
Bagaimana mekanisme abnormal dari pemeriksaan neurologis?
Bagaimana cara pemeriksaan yang terkait kasus? (untuk 15
bulan)

18
Hipotesis
Seorang anak laki-laki berusia 15 bulan mengalami kejang demam yang
disertai pilek.

19
Learning Issue
1. Kejang demam
2. Anatomi Fisiologi SSP (pusat demam dan kejang)

20
1. ANATOMI dan FISIOLOGI SSP
(Pusat kejang dan demam)

21
Anatomi dan Fisiologi SSP

.
22
Cont

23
Secara skematis perjalanan impuls saraf dapat dilihat dari bagan ini :
a. Keadaan listrik pada membran istirahat (polarized). Extrasel lebih banyak ion
natrium, sebaliknya intrasel lebih banyak ion kalium

24
b. Depolarisasasi
Potensial membran istirahat berubah dengan adanya stimulus. Ion Natrium
masuk ke intrasel secara cepat. Pembentukan potensial aksi pada tempat
perangsangan.

25
c. Jika stimulus cukup kuat, potensial aksi akan dialirkan secara cepat ke
sepanjang membran sel

26
d. Repolarisasi
Potensial istirahat kembali terjadi. Ion kalium keluar dari dalam sel dan
permeabilitas membran berubah kembali. Terjadi pemulihan keadaan negatif di
dalam sel dan positif diluar sel.

27
2. Kejang demam

28
Definisi
Menurut Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) 2016, kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh
(suhu di atas 38oC, dengan metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak
disebabkan oleh proses intrakranial.

29
Klasifikasi
Menurut Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) 2016, kejang demam dibagi berdasarkan gejalanya menjadi 2 tipe, yaitu :
Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), bentuk kejang umum
(tonik dan atau klonik), serta tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
Kejang demam dengan salah satu ciri berikut:
1) Kejang lama (>15 menit)
2) Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
3) Berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam.

30
Epidemiologi
Kejang demam merupakan bentuk kejang yang paling umum terjadi pada
anak-anak, dengan puncak kejadian yang terjadi pada usia 18 bulan. Di Amerika
Serikat dan Eropa Barat, kejang demam terjadi pada 2-4% dari semua anak. Di
Jepang, 9-10% dari semua anak pernah mengalami setidaknya satu bangkitan
kejang demam, dan angka kejadian setinggi 14% telah dilaporkan dari Kepulauan
Mariana di Guam. Sembilan puluh persen kejang terjadi dalam 3 tahun pertama
kehidupan, 4% sebelum 6 bulan, dan 6% setelah usia 3 tahun. Sekitar 50% muncul
pada tahun kedua kehidupan, dengan puncak kejadian antara usia 18 dan 24
bulan.

31
Etiologi
Demam itu sendiri , yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis
media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu
timbul pada suhu yang tinggi.
Efek produk toksik daripada mikroorganisme
Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi
Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit
Ensefalitis viral (radang otak akibat virus ) yang ringan , yang tidak diketahui

32
Patofisiologi
Pada keadaan demam, kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat sampai 20%. Jadi pada kenaikan suhu
tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron, dan dalam
waktu yang singkat dapat terjadi difusi ion kalium listrik. Lepas muatan listrik ini demikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran tetangganya dengan
bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang.

33
Gejala klinis
Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Sering diperkirakan bahwa cepatnya
peningkatan temperatur merupakan pencetus untuk terjadinya kejang. Umumnya
serangan kejang tonik-klonik, awalnya dapat berupa menangis, kemudian tidak sadar
dan timbul kekakuan otot. Semua fase tonik, mungkin disertai henti napas dan
inkontinensia. Kemudian diikuti fase klonik berulang, ritmik dan akhirnya setelah
kejang letargi atau tidur.
Bentuk kejang lain adalah mata terbalik ke atas dengan kekakuan atau kelemahan otot,
gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau
kekakuan fokal. Serangan pada bentuk absens atau mioklonik sangat jarang. Sebagian
besar berlangsung < 5 menit, < 8% berlangsung > 15 menit dan 4% kejang > 30
menitt.

34
Faktor risiko
Umur
Jenis kelamin
Suhu badan
Faktor keturunan

35
Diferensial diagnosis
Kondisi Gejala dan tanda Investigasi
Febrile seizure Demam, kaku negative negative, Kultur LCS negatif
kejang umum/fokal
Acute bacterial meningitis Iritabilitas dan kelesuan yang terus- Kelainan CSF tipikal adalah
menerus pleositosis, protein tinggi
Viral meningitis Demam, sakit kepala, kaku leher CSF: pleositosis limfositik.
sering terjadi. Glukosa normal atau tinggi.

Viral encephalitis Prodromal gejala pernafasan bagian LP dapat menunjukkan pleocytosis


atas dengan demam dan malaise dan peningkatan protein
Acute encephalopaty Produser viral, muntah, diikuti oleh LP dapat mengungkapkan tekanan
gangguan kesadaran CSF yang meningkat,
Epileptic seizure Tanpa demam EEG menunjukkan pelepasan
epileptiform paroxysmal
GEFS Onset masa kanak-kanak beberapa Tes genetika menunjukkan hubungan
kejang demam bertahan lebih dari 5 dengan kromosom 2q24, 19q13, dan
tahun 5q31, pewarisan autosomal dominan
SMEI Epilepsi yang sulit diatasi, menyerupai Analisis mutasi SCN1A positif.
36 gangguan kejang demam
Diagnosis kerja
Kejang demam kompleks indikasi profilaksis disertai dengan tonsilofaringitis
akut

37
Algoritma penegakan diagnosis

38
Komplikasi
Kecacatan atau kelainan neurologis
Kemungkinan berulangnya kejang demam

39
Prognosis
Dengan penanggulangan yang cepat dan tepat , prognosisnya baik dan tidak
menyebabkan kematian.

40
Tata laksana (farmako dan non farmako)
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah (prehospital) adalah
diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk
anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 12 kg.
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan
dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal
masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena.
Pengobatan saat demam
Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam.
Meskipun demikian, dokter neurologi anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam. Dosis
ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.

41
Antikonvulsan
Pemberian obat antikonvulsan intermiten
Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan
yang diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada
kejang demam dengan salah satu faktor risiko di bawah ini:
Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
Usia <6 bulan
Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat
dengan cepat.
42
Pemeriksaan Neurologis
A. GCS
B. Tanda rangsang meningeal
C. Pemeriksaan nervus kranial
D. Pemeriksaan sensorik
E. Pemeriksaan motorik
F. Pemeriksaan otonom
G. Pemeriksaan keseimbangan

43
SKDI
4A

44
Kerangka Konsep Non-Modifiable Factors:
Perkembangan hipotalamus belum
sempurna
Tonsilofaringitis

Respon imun

Produksi sitokin pro- Ada eksudat,


Produksi inflamasi (interleukin 1,TNF faring
mukus alpha,prostaglandin,dll) hiperemis, T2-
T2

Pilek Prostaglandin E2
bersirkulasi di
hipotalamus

Peningkatan set point


suhu tubuh

Produksi
panas(demam)

Mempengaruhi
kanal ion saraf

Aktivitas neuron diotak

45
Kerangka Konsep
Kejang demam

Terjadi bangkitan

Seluruh badan kaku, Pasien tidak sadar


mata mendelik keatas

46
Kesimpulan
Pasien mengalami kejang demam kompleks dengan
indikasi profilaksis dan tonsilofaringitis akut.

47
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics, Subcommitee on Febrile Seizure. Pediatr. 2011;127:389-94.
Annegers JF. N Eng J of Med. 1987;316:493-8.
Ardi. Patofisiologi Kejang Demam. (http://www.e-jurnal.com/2013/12/patofisiologi-kejang-demam.html, diakses pada tanggal 5
September 2017)
Arief, Rifqi Fadly. 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: RS Cempaka Putih.
Baumann RJ. Technical report: Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103:e 86
Berg AT, Shinnar S, Darefsky AS, Holford TR, Shapiro ED, Salomon ME, dkk. Arch Pediatr Adolesc Med. 1997;151:371-8.
Deliana M. 2002. Tatalaksana Kejang Demam Pada Anak. Sari Pediatri Vol.4 No. 2 59-62.
De Siqueira LFM. Febrile seizures: Update on diagnosis and management. Rev Assoc Med Bras. 2010; 56(4): 489-92.
Dimyati Y. Kejang Demam. UKK Neurologi IDAI.
Ellenberg JH, Nelson KB. Arch Neurol. 1978;35:17-21.
Fauzia, Nur Afida. 2012. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu mengenai Kejang Demam pada Anak di Puskesmas Ciputat Timur
2012. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.
Fuadi, Fuadi. 2010. Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak. Diponegoro University. http://eprints.undip.ac.id/29064.
Diakses pada 4 September 2017
Hesdorffer, D.C., Benn, E.K., Bagiella, E., etal. 2011.
Ismael, S. dkk. 2016. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Kurnia, Pasti. 2014. Analisis Perbedaan Faktor-Faktor Pada Kejang Demam Pertama dengan Kejang Demam Berulang pada Balita Di RSPI Puri Indah
Jakarta. Jakarta: Keperawatan STIK Sint Carolus.
Kesepakatan UKK Neurologi IDAI.2016.
Konsensus Penatalaksanaan Status Epileptikus pada Anak. UNIT KERJA KOORDINASI NEUROLOGI IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
2016
Marcdante, Karen J. 2014. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Singapura: Elsevier.
Martinos MM,Yoong M, Patil S, Chin RF, Neville BG, Scott RC, dkk. Brain. 2012 Oct;135(Pt 10):3153-64. Epub 2012 Sep 3.
Maytal, Shinnar S. Pediatr. 1990;86:611-7.
National Institute of Health. Febrile seizure: Consensus development conference statement summary. Pediatr. 1980;66:1009-12.
Pavlidou E, Tzitiridou M, Kontopoulos E, Panteliadis CP. Brain Dev. 2008;30:7-13.
Pusponegoro, H.D., Widodo, D.P., Ismael, S., 2016. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan Penerbit IDAI
Sarah, Ratu Erika. 2016. Manajemen Kejang Demam Sederhana dengan Riwayat Kejang Demam pada Balita Usia 13 Bulan. Bandar Lampung: Fakultas
Kedokeran Universitas Lampung.
Swaiman, K.F., Ashwal, S., etal. 2017. SwaimansPediatricNeurologyPrinciplesandPractice. Elsevier; p. 519.
Trissel LA, 2008. Handbook On Injectable Drugs. 12th ed . American Society of Health System Pharmacist.
Utama H., Gan VHS., Sunaryo. Anti Konvulsan. Dalam: Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Penerbit Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 1995: 163 74.
49
Vestergaard M, Pedersen MG, Ostergaard JR, Pedersen CB, Olsen J, Christensen J. Lancet. 2008;372(9637):457-63.