Anda di halaman 1dari 22

COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT) PADA

PENYALAHGUNAAN METAMFETAMIN

Nyoman Nugraha Surya Wibawa 11-2016-090


Noor Ain binti Latif 11-2016-181
Amelinda Mannuela Santoso 11-2016-121
Octri Erina Prasetyanti Korwa 11-2016-149
Ayu Prisilia Todingrante 11-2016-284
Irine Damayanti 11-2016-230
Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta
PERIODE 23 OKTOBER - 25 NOVEMBER 2017
Metamfetamin (shabu)

Metamfetamin mempunyai nama


Definisi Zat lain ectasy atau shabu pertama kali
disentesa di Jepang pada tahun 1893
Metamfetamin adalah
sejenis obat Awalnya dikembangkan untuk
psikosimultan yang keperluan medis seperti untuk
bersifat adiktif dan pengobatan asma, narcolesy,
bekerja secara aktif attention deficit hyperactivity
dalam sistem saraf disorder (ADHD) dan obesitas
pusat dengan penggunaan terbatas
Metamfetamin dapat digunakan
secara oral, intravena, dihisap
ataupun dihirup
Epidemiologi
Penyalahgunaan zat pada laki-laki 4x lebih banyak
dariperempuan
Kelompok penyalahgunaan obat banyak terjadi pada
kelompok umur 20-29 tahun
Di Indonesia estimasi pengguna obat-obatan mencapai 3,6
juta
Penggunaan Metamfetamin ini paling popular dibandingkan
dengan psikotropika lainnya karena efeknya cepat dirasakan
pengguna dan mudah didapatkan
Struktur Metamfetamin
Nama sistematik dari MetaN,-dimethylbenzeneethanamine , dengan
formula molekul C10H15N dan berat molekul 149,2 gr/mol
Metamfetamin tersedia dalam bentuk metamfetamin hidroklorid berupa
tepung atau kristal putih kekuningan yang larut air, tidak berbau dan
rasanya pahit.
Farmakokinetik metamfetamin
Metamfetamin diproduksi
terutama di hati.
Efek peningkatan norepinefrin: peningkatan
denyut jantung, palpitasi, anoreksia, terjadi
Metamfetamin akan relaksasi otot bronkus, kontraksi otot sfingter,
menyebabkan peningkatan mata mengalami midriasis.
neurotransmitter dopamine, Efek peningkatan dopamin : akan menstimulasi
serotonin, norepinefrin pada lokomotor efek, psikosis dan gangguan persepsi
sel neurotransmitter pada dan peningkatan kadar 5-HT akan menyebabkan
susunan saraf pusat di otak delusi dan psikosis.

Absorbsi metamfetamin
dilakukan secara oral melalui
usus halus dan onset dari
obat ini adalah 20 menit, dan
memiliki durasi selama 8 jam
atau lebih, dan di eksresikan
melalui ginjal
Farmakokinetik metamfetamin
Waktu paruh akhir dari metamfetamin dalam plasma sekitar 10 jam dan
tidak bergantung pada cara penggunaan
Efek akut dapat bertahan hingga 8 jam setelah pemberian 30 mg
metamfetamin.
Kadar metamfetamin yang meningkat setelah pemberian 10 mg IV dapat
terdeteksi pada plasma dalam 36 48 jam.
Pemberian 30 mg metamfetamin yang diberikan dalam 2 menit
menyebabkan peningkatkan puncak konsentrasi dalam plasma 110 g/L
metamfetamin.
Inhalasi asap (rokok) metamfetamin memiliki bioavailabilitas yang berkisar
antara 67-90% tergantung pada teknik merokok
Gambaran klinis
Amfetamin Klasik Amfetamin Racikan

Dosis kecil : memperbaiki pemusatan


perhatian mereka dan meningkatkan kinerja
dalam tugas menulis, oral, dan kinerja
Efek merugikan yang kurang mengancam Efek sistem
kehidupan: kemerahan, pucat, sianosis,
serotonergik:
demam, nyeri kepala, takikardi, palpitasi,
mual, muntah, bruxism halusinogenik.
Efek yang yang mengancam kehidupan:
efek merugikan yang
infark miokardium, hipertensi berat,
penyakit kardiovaskular, dan kolitis iskem berat : Hiperterrmia
Efek psikologis yang merugikan dari
amfetamin adalah kegelisahan, insomnia,
iritabilitas, sikap permusuhan, dan konfusi
Efek Metamfetamin

Efek Jangka Pendek Efek Jangka Panjang

Meningkatkan suhu Menurunkan nafsu Pandangan kabur


tubuh
makan Pusing
Kerusakan sistem
kardiovaskular Euforia Peningkatan detak jantung
Paranoia
Mulut kering Tekanan darah tinggi
Meningkatkan denyut
jantung Dilatasi pupil Kurang nafsu makan
Meningkatkan tekanan
Mual Nafas cepat
darah
Menjadi hiperaktif Sakit kepala Gelisah
Mengurangi rasa
Perubahan perilaku
kantuk
Tremor seksual
Pencegahan
Primer : Dalam bentuk penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba. pemberian
informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja
langsung dan keluarga

Sekunder : pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan
(treatment).
1. Fase penerimaan awal (initial intake)antara 1 3 hari dengan melakukan pemeriksaan
fisik dan mental
2. Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik antara 1 3 minggu untuk melakukan
pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.

Tersier : upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses
penyembuhan
1. Fase stabilisasi antara 3-12 bulan untuk mempersiapkan pengguna kembali ke
masyarakat
2. Fase sosialiasi dalam masyarakat Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling
membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif
DEFINISI CBT
Pertama kali oleh Albert Ellis dan Aron Beck
(1963) untuk pasien-pasien psikiatri dengan
gangguan cemas dan atau depresi
Terapi terstruktur jangka pendek yang
menggunakan kerjasama aktif antara pasien dan
ahli terapi untuk mencapai tujuan terapeutik
Berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik
terapeutik yang berfokus untuk membantu
individu melakukan perubahan-perubahan, TIDAK
HANYA pada perilaku nyata tetapi juga dalam
pemikiran, keyakinan dan sikap yang
mendasarinya
Lanjutan..
Beberapa guidelines (Beck) :
dont fire with fire
Maintain honesty
Remain focused on the goals of treatment
Remain focused on the patients redeeming
qualities
Disarm the patient with genuine humility and
emphaty
Confront, but use diplomacy
Sistem S-K-R

PERSEPSI
STIMULUS

INTERPRETASI
KOGNITIF

SISTEM
KEYAKINAN
RESPON

REAKSI SOMATIK
EMOSI

PERILAKU
PRINSIP-PRINSIP
Prinsip dasar : mengajarkan kepada pasien
bahwa kepercayaan dan pemikiran tidak rasional
adalah penyebab dari gangguan emosional dan
tingkah laku (Hoffman, 1984)
Sebelum terapi dimulai, jelaskan susunan terapi
kepada subjek untuk meningkatkan
motivasi individu dan menjalin kerjasama yg baik
Terapis hanya sebagai fasilitator, subjek yang
berperan aktif (Ivey, 1993)
PRINSIP-PRINSIP (2)
10 hal yg harus diperhatikan oleh terapis :
Terapis perlu memahami bahwa perilaku klien
ditentukan oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis,
dan akibat yang dialaminya
Kesulitan emosional yg ada adalah karena proses
kognitif itu sendiri merupakan proses interaksi yang
kompleks.
Tugas terapis adalah menolong klien untuk memahami
cara klien membentuk dan menafsirkan realitas.
Modifikasi perilaku-kognitif memahami persoalan
dengan pendekatan psikoterapi yang diambil dari sisi
rasional atau objektif
Modifikasi perilaku-kognitif ditekankan pada
penjabaran serta penemuan proses pemahaman
pengalaman klien
Dimensi yang cukup penting adalah untuk mencegah
kekambuhan kembali
Hubungan baik yang dibangun antara klien dan terapis
merupakan sesuatu yang penting dalam proses
perubahan klien.
Emosi memainkan peran yang penting dalam terapi,
untuk itu klien perlu dibawa ke dalam suasana terapi
yang mengungkap pengalaman emosi.
Terapis perlu menjalin kerjasama dengan pihak
keluarga ataupun pasangan klien
Dapat diperluas sebagai proses pencegahan timbulnya
perilaku maladaptif.
TUJUAN PENDEKATAN CBT
Untuk mengenali kejadian yang memberi tekanan, mengenali dan
memantau gangguan-gangguan kognitif yang muncul dalam
menanggapi kejadian atau peristiwa, dan mengubah cara berfikir
dalam menginterpretasikan dan menilai kejadian dengan cara-cara
yang lebih sehat.
Oermarjoedi (2004) mengajak klien untuk menentang
pikiran yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang
bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang
dihadapi
TEKNIK PEMANTAUAN DAN KONTROL
DIRI
Merupakan langkah awal untuk merubah perilaku target

Satu-satunya syarat adalah orang tersebut harus menginplementasikan prosedurnya


sendiri setelah menerima instruksi dari terapis.

Harus mengetahui terlebih dahulu perilaku yang mana yang menjadi target terapi

Kedua teknik ini mengkaji seberapa sering perilaku target itu timbul dan resiko yang
apa yang muncul kalau tidak segera ditangani.

Berfungsi sebagai alat pengumpul data sekaligus berfungsi terapeutik.

Dasar pemikiran teknik ini adalah pemantauan diri terkait dengan evaluasi diri dan
pengukuhan diri (Kanfer, 1975).

Subjek memantau dan mencatat perilakunya sendiri, sehingga lebih menyadari


perilakunya setiap saat
TEKNIK PEMANTAUAN DAN KONTROL
DIRI (2)
Beberapa langkah dalam teknik pemantauan diri :

mendiskusikan dengan subjek tentang pentingnya subjek memantau dan mencatat perilakunya secara teliti

subjek dan terapis secara bersama-sama menentukan jenis perilaku yang hendak dipantau

mendiskusikan saat-saat pemantauan dilaksanakan,

terapis menunjukkan pada subjek cara mencatat data perilakunya.

Ada tiga kriteria yang terkandung dalam semua konsep kontrol diri yaitu :

1. Hanya ada sedikit kontrol eksternal yang dapat menjelaskan perilaku (tidak ada pengawasan atau

pemaksaan dari luar atau orang lain)

2. Kontrol adalah suatu hal yang cukup sulit sehingga orang yang bersangkutan harus berupaya cukup keras

(melakukan suatu kegiatan yang sangat tidak diinginkan dan merasa gembira dan bebas setelah kegiatan

itu selesai) \

3. Perilaku dilakukan dengan pertimbangan dan pilihan secara sadar


REINFORCEMENT (PENGUATAN DIRI)
Teknik yang paling menarik dalam teori terapi perilaku
kognitif
Meliputi pemberian pujian atau hukuman pada diri
sendiri untuk meningkatkan atau meminimalkan
beberapa kejadian perilaku target
Pujian itu terbagi atas dua
Pujian positif yaitu memberikan pujian yang sepantasnya
pada diri sendiri karena telah berhasil merubah atau
memodifikasi perilaku target.
Pujian negatif adalah pujian melalui modifikasi faktor
pencetus perilaku target di linkungan klien.
Hukuman juga dibagi dua bagian yaitu hukuman yang
positif dan hukuman yang negatif
DISTRAKSI (PENGALIH PERHATIAN)
Mengalihkan perhatian klien ke hal yang lain yang lebih menyenangkan sehingga klien
mampu mengabaikan pemikiran yang tidak menyenangkan yang sedang dialami

Keefektifannya tergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan membangkitkan


input sensori selain sensori yang sedang dialami ( Smeltzer, 2001).

Jenisnya :

Visual (menonton TV, membaca koran, melihat pemandangan dan gambar)

Pendengaran (mendengarkan musik, suara burung atau gemericik air)

Pernafasan ( bernafas ritmik )

Intelektual ( mengisi TTS, bermain kartu, mengumpulkan perangko, menulis cerita)

Teknik pernafasan (menyanyi, sembahyang)

Imajinasi terbimbing
KEEFEKTIVITAS CBT
Penelitian di Bandung
menunjukkan peningkatan dalam keyakinan
tidak menggunakan napza dan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah tanpa menggunakan napza saat
menghadapi high-risk situations
Penelitian di RSKO (2011)
didapatkan pengaruh CBT terhadap nilai
perilaku agresif, perilaku antisosial dan fungsi kognitif
menunjukkan hasil perubahan positif yang signifikan
antara sebelum dan sesudah pemberiaan CBT
thankyou.