Anda di halaman 1dari 90

PRECIPITATION PROCESS

[Mikrofisika Awan dan Hujan]


Oleh
Immanuel J. A. Saragih dan Politon Andrian Abner
OUTLINE

1 2 3
Pendahuluan Termodinamika Aerosol Atmosferik
Udara dan Proses dan Pembentukan
Fisis Uap Air Awan

4 5 6
Pertumbuhan Tetes Proses Presipitasi Modifikasi Cuaca
Hujan dan Partikel [Awan dan Hujan]
Es dalam Awan
References

-Atmospheric Science An Introductory Survey (John M. Wallace)


-Meteorologi Terapan (Bayong Tjasyono)
-Introduction to Atmospheric Science (Robert A. Houze)
-Andreas Richter Lecture Atmospheric Physics University of Bremen
1 Pendahuluan
Atmosfer Ekuatorial di Atas Indonesia, Sejarah Mikrofisika Awan,
Klasifikasi Awan
1.1 Atmosfer Ekuatorial Indonesia
Atmosfer tropis mencakup daerah antara 23,5oLU (tropis Cancer) dan 23,5oLS (tropis Capricorn),
sedangkan atmosfer ekuatorial yang dimaksud dalam diskusi ini dibatasi oleh lintang antara 10oLU
dan 10oLS, jadi benua maritim Indonesia dapat dikatakan daerah ekuatorial.
Di daerah ekuatorial radiasi tampak merupakan komponen radiasi matahari yang terbesar dan
sangat kuat. Karenanya alih panas kearah atas oleh konveksi adalah sangat aktif di ekuator dan
sirkulasi global dibangkitkan untuk mengalihkan panas dari ekuator ke daerah lintang yang lebih
tinggi.
Energi panas ini dipakai untuk menggerakkan atmosfer secara global ke daerah lintang menengah
dan tinggi (kutub). Gerak atmosfer global tidak hanya membawa panas tetapi juga membawa
kelembapan (uap air) dan zat-zat lain yang mengendalikan cuaca dan iklim harian, karena itu sangat
mempengaruhi kehidupan dalam planet bumi. Masukan energi panas untuk menggerakkan atmosfer
terjadi melalui awan-awan terutama awan cumulus tinggi yang terbentuk di daerah ekuatorial.
1.2 Sejarah Mikrofisika Awan dan Hujan
Usaha untuk memberikan penjelasan kuantitatif proses pembentukan partikel awan datang relatif
lambat. Aitken (1839 1919) memperkenalkan konsep baru dari eksperimennya dengan memakai
ruang ekspansi pada tahun 1881 bahwa tetes awan terbentuk dari uap air hanya dengan bantuan
partikel-partikel debu yang bertindak sebagai inti untuk memprakarsai fasa (tahap) baru. Aitken
menyatakan bahwa tanpa partikel debu di atmosfer, tidak akan ada kabur (haze), tidak ada kabut,
tidak ada awan dan karenanya tidak ada hujan.
Dalam tahun 1866, Renou (1815 1902) pertama kali menunjukkan bahwa kristal-kristal es dapat
memainkan peranan penting dalam inisiasi (permulaan) hujan. Renou menyarankan bahwa untuk
pertumbuhan presipitasi, dua lapisan awan dibutuhkan : satu terdiri dari tetes kelewat dingin dan
yang lain pada ketinggian yang lebih tinggi yang memberikan kristal-kristal es ke dalam lapisan awan
di bawah.
Bergeron (18911977) mengemukakan bahwa presipitasi terjadi akibat kelabilan awan yang
mengandung tetes kelewat dingin dan kristal es secara bersamaan. Bergeron menggambarkan
bahwa dalam awan campuran ini, kristal-kristal es tumbuh oleh difusi tetes air kelewat dingin sampai
semua tetes dikonsumsi oleh kristal es atau semua kristal es jatuh keluar awan.
1.3 Klasifikasi Awan
a. Berdasarkan Pembentukan Awan
1. Stratiform
Awan ini menyebabkan hujan kontinu yang disebabkan oleh kenaikan udara skala makro oleh front atau
konvergensi atau topografi. Daerah hujan cukup luas, intensitas hujan kecil dan gerimis sampai hujan
sedang, arus udara ke atas dalam awan ini mencakup daerah yang luas tetapi lemah.
2. Cumuliform
Awan ini menyebabkan hujan lokal yang disebabkan oleh konveksi yang terletak dalam udara labil.
Intensitas hujan besar dari hujan normal sampai hujan lebat (shower). Arus udara ke atas dalam awan ini
mencakup daerah yang kecil tetapi kuat.
1.3 Klasifikasi Awan (lanjt.)
b. Berdasarkan Tinggi Dasar Awan
1. Awan rendah, mempunyai ketinggian dasar awan kurang dari 2 km, biasanya dipakai kata strato,
misalnya Nimbostratus (Ns), Stratocumulus (Sc), dan Stratus (St).
2. Awan menengah, mempunyai ketinggian dasar awan antara 2 dan 6 km, biasanya dipakai awalan
alto, misalnya Altocumulus (Ac) dan Altostratus (As).
3. Awan tinggi, mempunyai ketinggian dasar awan lebih dari 6 km, penamaannya ditandai dengan
awalan cirro, misalnya Cirrostratus (Cs), Cirrocumulus (Cc) dan Cirrus (Ci). Kadang-kadang
Cirrostratus menyebabkan lingkaran optik di sekitar matahari atau bulan yang disebut halo.
Peristiwa ini disebabkan oleh refraksi dan refleksi oleh kristal-kristal es di dalam awan Cirrostratus.
1.3 Klasifikasi Awan (lanjt.)
c. Berdasarkan partikel presipitasi
1. Awan tetes
Awan tetes sering disebut awan panas, awan ini sebagian partikelnya terdiri dari tetes air. Tetes air dalam
awan berasal dari kondensasi uap air melalui inti kondensasi awan (IKA) yang ada di atmosfer bawah.
Pertambahan kelembapan sampai ke suatu nilai yang diperlukan terjadinya kondensasi di atmosfer terutama
disebabkan oleh pendingin adiabatik udara yang mengalami pengangkatan secara termal atau secara
mekanis. Selain oleh kelembapan, pertumbuhan tetes hasil kondensasi ini ditentukan oleh sifat higroskopis
yaitu kemampuan inti kondensasi seperti garam dapur NaCl dan oleh jejari tetes (r) atau kelengkungan tetes
(1/r).
2. Awan es
Awan yang sebagian partikelnya terdiri dari kristal es disebut awan es, sering disebut awan dingin atau awan
campuran. Pada ketinggian atmosfer dengan temperatur di bawah titik beku, tetes awan kelewat dingin
tidak langsung membeku menjadi kristal es semuanya, hanya tetes awan yang menemukan inti es (IES) yang
membeku menjadi kristal es. Tetapi pada temperatur 40 C atau lebih rendah, tetes air kelewat dingin
secara spontan membeku menjadi kristal es.
Termodinamika
2 Udara dan Proses
Fisis Uap Air
Termodinamika Udara
Udara kering terdiri dari gas utama (nitrogen, oksigen, argon dan karbon dioksida) dan gas minor
(neon, helium, ozon, kripton, dan lain-lain). Udara basah terdiri dari udara kering dan uap air. Udara
natural terdiri dari udara basah dan aerosol. Udara basah ditentukan oleh kombinasi antara
termodinamika udara kering dan uap air.
Pengetahuan termodinamika udara basah dipakai untuk memahami proses-proses fisis yang terjadi
di atmosfer. Dalam meteorologi udara kering dan uap air diperlakukan sebagai gas ideal. Panas
spesifik pada volume dan tekanan konstan dapat ditulis:

= dan =

Proses-proses khusus udara kering dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:


I. Proses isobarik : dp = 0

= = =

Termodinamika Udara (lanjt.)
ii. Proses isotermal : dT = 0
= =
iii. Proses isosterik : d = 0
= =
iv. Proses adiabatik : dq = 0
= atau =
Proses adiabatik adalah proses khusus yang penting karena banyak perubahan temperatur yang
terjadi di atmosfer dapat didekati sebagai adiabatik.
Hukum termodinamika pertama menyatakan dua fakta empiric yaitu panas adalah bentuk energi
disebut hukum Joule yang menyatakan tara kalor mekanik : 1 kal = 4,1868 J, dan energi adalah kekal
yang dinyatakan oleh bentuk aljabar dalam satuan massa; panas yang ditambahkan pada sistem (dq)
dipakai untuk meningkatkan energi internal (du) dan kerja yang dilakukan sistem (dw) atau dq = du +
dw.
Termodinamika Udara (lanjt.)
Hukum termodinamika pertama kadang-kadang disebut persamaan energi. Hukum termodinamika
kedua menyatakan adanya peubah (variable) keadaan lain yang disebut entropi (s), didefinisikan oleh

ekspresi: = , dimana adalah penambahan entropi spesifik (entropi per satuan massa), dan

T adalah temperatur.
Jika udara kering dianggap sebagai campuran gas ideal, maka persamaan keadaannya adalah p =
RdT, dimana p adalah tekanan, adalah volume spesifik (volume per satuan massa), Rd adalah
konstanta gas spesifik udara kering, dan T adalah temperatur. Sedangkan persamaan keadaan udara
basah adalah p = RmT dengan Rm = Rd (1 + 0,61r), dimana Rm adalah konstanta gas spesifik
udara basah, dan r adalah perbandingan campuran yaitu massa uap air per massa udara kering.
Proses Fisis Uap Air
Proses fisis uap air diberikan dalam beberapa persamaan yaitu:
Persamaan Claysius-Clapeyron
Kejenuhan udara basah
Persamaan pseuadiabatik
Persamaan adiabatic jenuh
3.1 Persamaan Claysius - Clapeyron
Meskipun uap air (H O) kadarnya sangat kecil di atmosfer, tetapi 2 gas ini sangat penting dalam proses
cuaca, karena uap air mempunyai sifat dapat berubah fasa (wujud) menjadi fasa cair disebut kondensasi
dan sebaliknya disebut evaporasi atau menjadi fasa padat (es) disebut deposisi dan sebaliknya disebut
sublimasi.
Udara lembap adalah campuran dari udara kering dan uap air. Dalam mikrofisika awan dan hujan, uap air
sangat penting dengan beberapa alasan.
- Pertama uap air dapat menjadi partikel awan melalui kondensasi, dan partikel awan dapat menjadi tetes
hujan melalui mekanisme benturan tangkapan (awan tetes) atau menjadi kristal es melalui difusi tetes
kelewat dingin ke kristal es (awan es).
- Kedua, uap air dapat menyerap radiasi gelombang pendek matahari maupun radiasi gelombang panjang
bumi.
- Ketiga, uap air mengandung panas laten (terselubung) yang dapat dilepaskan menjadi energi ketika uap
air mengondensasi. Panas laten ini merupakan sumber energi gangguan atmosfer.
- Keempat, uap air dapat mempengaruhi kecepatan evaporasi (penguapan) dan evapotranspirasi.
- Kelima, uap air di atmosfer dapat berubah fasa.
- Keenam, kadar uap air dan distribusi vertikalnya mempengaruhi kestabilan atmosfer.
3.1 Persamaan Claysius Clapeyron (Lanjt.)

Persamaan ClausiusClapeyron menyatakan perubahan tekanan uap jenuh terhadap temperature


yang dituliskan dalam persamaan:

Dalam keadaan atmosfer biasa (ordiner) maka 2 >> 1 , dan uap air berkelakuan sebagai gas ideal,
sehingga persamaan Clausius-Clapeyron dapat direduksi menjadi:

dengan memasukkan persamaan keadaan uap air, untuk sublimasi, maka L harus diganti oleh L .
Dimana L: panas laten penguapan, L : panas laten sublimasi, 2 : volume spesifik uap air, es :
tekanan uap jenuh, dan Rv : konstanta gas uap air.
3.2 Kejenuhan Udara Basah
Ada beberapa proses udara basah dapat mencapai kejenuhan (saturation). Proses-proses ini misalnya
dengan memasukan temperatur baru yang merefleksikan kadar air di udara, seperti : temperatur
titik embun, temperatur bola basah, dan temperatur kondensasi isentropik.
a. Temperatur titik embun
Temperatur titik embun Td, didefinisikan sebagai temperature dimana udara basah harus didinginkan
pada tekanan dan perbandingan campuran konstan sehingga menjadi jenuh terhadap air. Temperatur
titik beku (the frost point temperature) T , didefinisikan serupa, agar udara menjadi jenuh relatif
terhadap es. Jelas bahwa perbandingan campuran pada temperatur titik embun sama dengan
perbandingan campuran udara basah: r (p, Td) = r. Pendekatan analitik dari temperatur titik embun Td
adalah:

Dianggap bahwa tidak ada uap air yang masuk maupun yang meninggalkan udara basah, sehingga
perbandingan campurannya r konstan. Jika udara basah didinginkan secara isobarik (tekanan konstan)
maka suatu temperatur dimana udara menjadi jenuh akan tercapai, disebut temperatur titik embun
atau secara sederhana disebut titik embun (Td).
3.2 Kejenuhan Udara Basah (Lanjt.)
b. Temperatur bola basah
Temperatur sampel udara basah dapat didinginkan pada tekanan konstan melalui penguapan air atau
sublimasi es. Dalam hal ini perbandingan campuran (r) udara meningkat. Panas laten untuk perubahan
fasa cair atau padat (es) menjadi uap air diberikan oleh udara itu sendiri. Akibatnya, udara basah
menjadi dingin pada suatu temperatur dimana udara menjadi jenuh, disebut temperatur bola basah
(Tw).
Temperatur bola basah Tw, didefinisikan sebagai temperature dimana udara dapat didinginkan melalui
penguapan air pada tekanan konstan sampai tercapai kejenuhan (catatan : r tidak dipegang konstan,
sehingga Td T pada umumnya). Pergitungan temperature bola basah adalah:

Dimana konstanta A = 2,53 x 10 k Pa dan B = 5,42 x 10 K (dapat dipecahkan dengan metode iterasi).
3.2 Kejenuhan Udara Basah (Lanjt.)
c. Temperatur ekivalen
Temperatur ekivalen (Te) didefinisikan sebagai temperatur sampel udara basah yang akan tercapai jika
semua kebasahan (moisture) dikondensasikan pada tekanan konstan.
Temperatur ekivalen dalam persamaan matematis dituliskan:

d. Temperatur kondensasi isentropik


Temperatur kondensasi isentropik (Tc) didefinisikan sebagai temperatur dimana kejenuhan tercapai bila
udara basah didinginkan secara adiabatik dengan perbandingan campuran r dipegang konstan.
3.2 Kejenuhan Udara Basah (Lanjt.)
Pendekatan analitik untuk Tc yang harus dipecahkan dengan iterasi, adalah:

Persamaan ini diperoleh dengan mengambil Tc = Td (r,p ) dan oleh substitusi untuk T kedalam
persamaan adiabatic, yaitu:

dan ditulis dalam bentuk


Temperatur kondensasi isentropik (Tc) dapat dimengerti dengan bantuan peta termodinamik. Udara
mula-mula mempunyai koordinat (T, p) dengan perbandingan campuran r. Kemudian didinginkan
secara adiabatic sampai adiabatnya memotong garis uap yang didefinisikan oleh rs = r. Tekanan pada
interseksi (perpotongan) ini disebut tekanan kondensasi isentropik (pc) dan temperaturnya T.
3.3 Proses Pseudoadiabatik
Jika ekspansi udara terus berlanjut setelah titik kondensasi isentropik dicapai, maka kondensasi juga
tercapai dan panas laten kondensasi yang dilepaskan cenderung memanasi udara. Akibatnya susut
temperatur (penurunan temperatur terhadap ketinggian) akan lebih lambat setelah kondensasi
ketimbang ketika sebelum terjadi kondensasi. Dalam proses pseudoadiabatik dianggap air
kondensasi (condensate) segera menjadi tetes presipitasi (tetes hujan atau kristal es). Hal ini
merupakan kasus yang paling sederhana, karena kadar panas laten kondensasi diabaikan dalam
menghitung perubahan temperatur udara.
Persamaan berikut merupakan basis pseudoadiabat (kurva pseudoadiabatik) pada peta
termodinamika
3.4 Proses Adiabatik Udara Jenuh
Jika udara jenuh berekspansi secara adiabatik, maka uap air akan mengondensasi menjadi air cair
atau es karena temperaturnya turun. Proses kondensasi ini akan melepaskan panas laten yang akan
memberikan sebagian energi untuk melakukan ekspansi. Akibatnya kecepatan penurunan
temperatur dengan penurunan tekanan (kenaikan ketinggian) lebih kecil dari pada dalam ekspansi
adiabatik kering. Dalam kasus ekspansi adiabatik kering, seluruh energi yang dipakai untuk kerja
ekspansi berasal dari energi internal gas.
Untuk sistem secara keseluruhan proses tersebut adalah adiabatik. Tetapi, hal itu tidak adiabatik
untuk unsur-unsur individu (udara kering, uap air dan produk kondensasi) yang membentuk sistem.
Ada beberapa kemungkinan dalam mendefinisikan proses fisis ini, tetapi hanya akan ditinjau dua
kasus ekstrim di atmosfer, yaitu:
a. Proses terbalikan (reversible process) dimana semua produk-produk kondensasi (tetes air atau
kristal es) tersimpan dalam sampel udara.
b. Proses tak terbalikan (irreversible process) dimana produk-produk kondensasi jatuh keluar dari
sampel udara segera setelah partikel presipitasi tersebut terbentuk.
Aerosol Atmosferik
3 dan Pembentukan
Awan
Aerosol Atmosferik
Aerosol adalah partikel padat atau cair dalam medium udara yang mempunyai kecepatan jatuh
sangat kecil. Dari perspektif seorang mikrofisikawan awan, partikel awan terbentuk oleh aerosol
dengan ukuran 0,01 m melalui pengintian, dan untuk membentuk tetes-tetes hujan maka massa
partikel-partikel awan harus ditingkatkan satu juta kali atau lebih.
Aerosol adalah partikel padat atau cair yang mengapung di udara. Beberapa partikel aerosol bersifat
higroskopis dan bertindak sebagai inti kondensasi awan (IKA).
Aerosol atmosferik dapat berasal dari sumber alami, misalnya letusan gunung api, permukaan darat
atau laut, dan dapat berasal dari sumber buatan manusia, seperti pembakaran bahan fosil dari
industri atau kendaraan bermotor. Aerosol atmosferik dapat turun kepermukaan melalui gaya
gravitasi untuk yang berukuran besar dan dibersihkan oleh curah hujan atau curah salju terutama
untuk aerosol yang berukuran kecil.
4.1 Sumber Aerosol
Partikel-partikel aerosol atmosferik diinjeksikan ke atmosfer dari sumber alam (natural) dan sumber
antropogenik atau sumber buatan manusia. Konsentrasi partikel aerosol atmosferik sangat bervariasi
dengan waktu dan lokasi yang sangat bergantung pada keterdekatan sumber, pada kecepatan emisi,
pada kekuatan konvektif dan kecepatan alih difusif golakan, pada efisiensi berbagai mekanisme
pembersihan atau pemindahan partikel, dan pada parameter meteorologis yang mempengaruhi
distribusi vertikal dan horisontal juga mekanisme pembersihan.
Observasi menunjukkan bahwa konsentrasi partikel aerosol atmosferik berkurang dengan ketinggian
dari permukaan bumi. Konsentrasi partikel aerosol juga berkurang dengan bertambahnya jarak
horisontal dari pantai ke arah laut terbuka, karena daratan sumber partikel-partikel aerosol lebih
efisien dari pada osean (lautan).
Aerosol usul dan komposisi partikel-partikel aerosol atmosferik dapat diringkas sebagai berikut:
i. Proses pembakaran : kebakaran hutan, pembakaran dalam industri yang menghasilkan partikel
berbentuk garam, karbon dan jelaga.
4.1 Sumber Aerosol (Lanjt.)
ii. Reaksi fasa gas, termasuk fotokimia, misalnya pembentukan sulfat dan nitrat.
iii. Dispersi partikel-partikel padat. Reaksi kimia di dalam tanah yang diikuti oleh erosi air dan erosi
angin dapat menyebabkan pemasukan partikel-partikel dari batu-batuan mineral ke dalam udara :
garam sodium (Na), kalsium, potasium dan sebagainya.
iv. Dispersi larutan.
Diagram skematik yang menggambarkan cara
tetes berselaput (film droplets) dan tetes pancaran
(jet drops) terbentuk jika gelembung udara pecah
pada permukaan laut. Beberapa tetes akan
menguap dan meninggalkan partikel garam laut di
dalam udara.
v. Sumber lain dari aerosol atmosfer adalah dari gunung berapi (vulkanik).
4.2 Aerosol Garam Laut
Aerosol garam laut (AGL) sangat mempengaruhi pada mikrofisika awan dan hujan, terutama karena AGL
dapat bertindak sebagai inti kondensasi awan (IKA).
Aerosol garam laut (AGL) didefinisikan sebagai komponen aerosol yang terdiri dari tetes air laut dan
partikel garam laut kering (dry sea salt particles). Jejari partikel AGL berjangka dari kurang 0,1 m sampai
lebih besar 1000 m (1mm).
Partikel aerosol garam laut sangat penting untuk berbagai alasan partikel AGL (aerosol garam laut)
bertindak sebagai inti kondensasi awan (IKA) untuk membentuk tetes awan, pertukaran gas dengan
atmosfer dan mengikutsertakan reaksi kimia, menghamburkan cahaya, pertukaran kebasahan (moisture)
dengan atmosfer, dan berpartisipasi dalam daur geokimia unsur-unsur.
Pentingnya partikel AGL dalam proses-proses di atmosfer bergantung pada ukuran, konsentrasi dan waktu
tinggal partikel, dan bergantung pada sejauh mana partikelpartikel ini dapat bercampur secara vertikal di
atmosfer. Hal ini dikendalikan oleh faktor-faktor meteorologis dan lingkungan yang mempengaruhi
pembentukan dan pemecahan gelombang-gelombang laut; sifat dan cakupan areal puncak ombak putih;
produksi, dinamika, dan ledakan pecah gelembung-gelembung; pembentukan tetes, kelakuan atmosfer,
dan angkutan (transport); proses-proses yang bertindak untuk memindahkan tetes-tetes ini.
4.2 Aerosol Garam Laut (Lanjt.)
Partikel aerosol garam laut sangat berpengaruh pada awan dalam atmosfer laut karena bertindak
sebagai inti kondensasi awan dalam pembentukan tetes-tetes awan. Distribusi ukuran konsentrasi
jumlah aerosol garam laut (AGL) mempengaruhi distribusi ukuran konsentrasi jumlah tetes awan-
awan maritim yang mempengaruhi pembentukan hujan dan kemungkinan memainkan peranan
dalam pencucian udara unsur-unsur antropogenik.
Kemampuan partikel AGL untuk membentuk sebuah tetes awan ditentukan oleh ukurannya, oleh
kondisi meteorologis terutama kecepatan arus udara keatas yang mempengaruhi kelewat jenuh
lingkungan (kelembapan relatif lebih besar dari 100%) serta oleh komposisi dan distribusi ukuran
konsentrasi kehadiran partikel aerosol lain.
Indonesia sebagai benua maritim yang mempunyai luas laut sekitar 70% dan darat 30%, peranan
aerosol garam laut sangat penting dalam pembentukan tetes awan.
Pertumbuhan Awan
Awan terbentuk jika udara menjadi kelewat jenuh terhadap air cair atau dalam beberapa kasus
terhadap es. Kebanyakan kelewat jenuh terjadi di atmosfer akibat kenaikan parsel udara melalui
konveksi, konvergensi, orografi atau front yang menyebabkan ekspansi udara dan pendinginan
adiabatik. Di bawah kondisi ini, uap air mengondensasi pada beberapa aerosol di udara untuk
membentuk sebuah awan dengan butiran-butiran air.
Kelewat jenuh diartikan sebagai kelebihan kelembapan relatif di atas nilai keseimbangannya (100%).
Jadi udara dengan RH = 101,5% mempunyai kelewat jenuh 1,5%. Karena awan terus naik, maka
puncaknya menjadi dingin di bawah temperatur 0oC. Tetes-tetes air yang kelewat dingin di dalam
awan mungkin membeku atau mungkin tidak, bergantung pada ada atau tidaknya inti pembeku (inti
es).
Awan adalah sekumpulan tetes yang mempunyai konsentrasi berorde 100 per cm dan mempunyai
jejari sekitar 10 m. Tetes hujan akan tumbuh jika populasi awan menjadi tidak stabil. Pertama
tumbukan langsung dan penangkapan tetes-tetes air. Kedua interaksi antara tetes air dan kristal
es yang terbatas pada awan yang puncaknya di atas paras 0 oC.
Tinggi awan (dasar dan puncak awan) adalah jarak vertikal dari lokasi pengamatan sampai dengan
ketinggian awan. Ketinggian awan adalah faktor penting untuk menentukan jenis awan.
Pengintian Air Cair
Tetes akan stabil jika ukurannya melampaui nilai kritis tertentu. Tetes yang lebih besar ukuran kritis
akan tumbuh dan tetes yang lebih kecil akan melenyap (meluruh).
Proses peluruhan, penguapan, sangat bergantung pada temperatur butiran dan tegangan
permukaannya. Molekul-molekul pada permukaan tetes harus memperoleh energi cukup untuk
mengatasi gaya ikat agar tidak lepas.
Jika keseimbangan terjadi antara cair dan uapnya maka kecepatan kondensasi dan penguapan
seimbang dan tekanan uap sama dengan tekanan uap jenuh atau tekanan uap keseimbangan.
Tekanan uap jenuh di atas permukaan tetes bergantung pada kelengkungannya.
Dalam atmosfer, tetes awan terbentuk pada aerosol yang disebut inti kondensasi. Menurut gaya
gabungnya untuk air maka aerosol diklasifikasikan menjadi higroskopis, netral atau hidrofobik.
Pengintian pada aerosol netral memerlukan kelewat jenuh kira-kira sama seperti pengintian
homogen. Pada aerosol hidrofobik yang tahan basah (air) pengintian menjadi sulit karena
memerlukan kelewat jenuh tinggi. Tetapi pada aerosol higroskopis yang dapat larut dan mempunyai
gaya gabung untuk air maka pembentukan tetes hanya memerlukan kelewat jenuh lebih rendah dari
pada nilai pengintian homogen.
Pertumbuhan
4
Tetes Hujan dan
Partikel Es dalam
Awan
Pertumbuhan Tetes Hujan dalam Awan Panas

Awan yang terletak di bawah isotherm 10 C disebut awan panas.


Dalam awan panas hampir seluruhnya terdiri dari butiran-butiran 0 air
cair (liquid water droplets) karena sampai temperatur 10 C butiran
awan tidak spontan membeku. Butiran-butiran awan panas dapat
tumbuh melalui kondensasi dalam lingkungan kelewat jenuh,
kemudian melalui tumbukan tangkapan dengan butiran-butiran awan
lain.
Pertumbuhan Tetes Hujan dalam Awan Panas (lanjt.)

Mekanisme yang bertanggung jawab pada pembentukan presipitasi


dalam awan panas (awan yang temperaturnya > 10 C) ini adalah
koalisensi (coalescence) di antara butiran awan.
Tugas pokok dari mikrofisika awan dan hujan adalah menjelaskan
bagaimana tetes-tetes hujan (raindrops) dapat terbentuk oleh
kondensasi dan koalisensi (tangkapan) dalam waktu sependek 20
menit. Waktu ini merupakan interval yang diamati pada awan
cumulus antara pertumbuhan awan dan muncul pertama kali sebagai
hujan.
Pertumbuhan Tetes Hujan dalam Awan Panas (lanjt.)

Kolisi (tumbukan) bukan jaminan terjadinya koalisensi. Jika sepasang


tetes bertumbukan maka beberapa tipe interaksi mungkin terjadi:
a. sepasang tetes mungkin melambung terpisah,
b. sepasang tetes mungkin bergabung (coalesce) secara permanen
dan menjadi satu,
c. sepasang tetes mungkin bergabung secara temporer kemudian
berpisah dengan mempertahankan masing-masing identitas
awalnya,
d. sepasang tetes mungkin bergabung secara temporer kemudian
pecah menjadi tetes-tetes kecil (small drops).
Pertumbuhan Tetes Hujan dalam Awan Panas (lanjt.)

Pertumbuhan tetes awan melalui kondensasi tidak dapat


menjelaskan terbentuknya tetes hujan. Di dalam awan panas
tetestetes berukuran heterogen sehingga awan menjadi labil akibat
beda kecepatan jatuh terminal diantara tetes. Pertumbuhan tetes
dalam awan panas melalui mekanisme BowenLudlam atau
mekanisme kolisikoalisensi yang melibatkan fasa cair.
Tetes akan mempunyai kecepatan jatuh lebih besar dari pada butiran
awan sehingga terjadi proses tumbukantangkapan atau proses
koleksi, dan tetes tumbuh menjadi ukuran tetes hujan (R > 100 m).
Pertumbuhan Tetes Hujan dalam Awan Panas (lanjt.)

Jadi pertumbuhan tetes dalam awan panas adalah pertumbuhan


gabungan, pertama oleh kondensasi kemudian dengan koleksi.
Dalam mekanisme kolisi koalisensi tetes tumbuh menjadi tetes
hujan sedangkan butiranbutiran awan terkoleksi oleh tetes. Untuk
membentuk satu tetes hujan diperlukan puluhan ribu sampai satu
juta butiran awan melalui mekanisme Bowen Ludlam.
Pertumbuhan Partikel Es dalam Awan Dingin

Jika sebuah awan tumbuh di atas paras isoterm 0C dan temperatur


mencapai 10 C atau lebih rendah disebut awan dingin. Meskipun
temperaturnya di bawah 0 C, tetapi butiran-butiran air masih dapat berada
dalam awan disebut butiran kelewat dingin, butiran yang menemukan inti
pembeku akan menjadi partikel es. Awan dingin yang mengandung partikel
es dan butiran kelewat dingin disebut awan campuran, jika awan dingin
terdiri seluruhnya es dikatakan awan es
Dua fasa transisi dapat mengarah pada pembentukan es yaitu pembekuan
butiran air kelewat dingin atau deposisi langsung dari uap air menjadi fasa
es. Pengintian spontan dari uap air menjadi butiran-butiran air tidak akan
terjadi di atmosfer, demikian juga tidak akan terjadi penginian spontan
menjadi kristal es tanpa kehadiran partikel asing yang disebut inti
kondensasi awan (IKA) dan inti es (IES).
Pertumbuhan Partikel Es dalam Awan Dingin (lanjt.)

Pengintian spontan air menjadi es dapat terjadi jika butiran-


butiran awan mencapai temperatur sekitar 40oC. Jadi,
ketika parsel awan naik, maka awan akan mengandung
seluruhnya partikel es pada temperatur 40oC. Lapisan awan
antara 0oC dan 40oC tidak terjadi pengintian spontan,
sehingga pada lapisan awan ini terdapat campuran kristal es
dan tetes kelewat dingin, disebut awan campuran. Pada
lapisan awan antar 0oC dan 40oC tetes dapat membeku jika
Mikrofisika Awan dan Hujan menemukan IES atau inti
pembeku yang mempunyai sifat memudahkan inisiasi fasa es
dalam air
Pertumbuhan Partikel Es dalam Awan Dingin (lanjt.)

Pertumbuhan partikel es dalam awan dingin atau awan campuran


melalui tiga cara :
i) melalui fasa uap air.
Faktor yang mengendalikan pertumbuhan massa kristal es oleh
deposisi uap air serupa dengan pertumbuhan butiran awan oleh
kondensasi. Tetapi masalah pertumbuhan kristal es lebih rumit karena
kristal es tidak berbentuk bola (bulat), sehingga titik-titik dengan
densitas uap air sama tidak terletak pada pusat kristal es, sedangkan
pada butiran awan (berbentuk bola) terletak pada pusatnya.
ii) melalui pembekuan tetes
Dalam awan campuran, partikel es tumbuh oleh pembekuan tetes
kelewat dingin pada waktu terjadi tumbukan antara partikel es dan
tetes. Pertumbuhan partikel es dengan pembekuan tetes dapat
menghasilkan batu es hujan (hailstone). Batu es dengan diameter 1 cm
lebih sering dijumpai, tetapi pernah diamati batu es yang mempunyai
diameter sebesar 13 cm dengan massa lebih dari 0,5 kg.
iii) melalui penggabungan
Partikel es tumbuh melalui tumbukan dan penggabungan satu sama
lain. Tumbukan dapat terjadi jika ada beda kecepatan jatuh terminal
diantara partikel-partikel es. Kemungkinan pelekatan ditentukan oleh
dua faktor yaitu jenis partikel dan temperatur es. Pelekatan terjadi
terutama pada 0 temperatur di atas sekitar 5 C ketika permukaan es
menjadi sangat lengket. Pertumbuhan partikel es melalui pembekuan
dan penggabungan meningkat jika ukuran kristal es juga meningkat.
5
Proses
Presipitasi
Presipitasi
Dalam meteorologi, presipitasi menyatakan endapan air (aqueous)
berbentuk cair atau padat (es) yang berasal dari atmosfer dan jatuh
ke permukaan bumi. Masalah utama dalam proses presipitasi adalah
penjelasan cara pertumbuhan tetes dari ukuran partikel awan (jejari
sekitar 10 m) menjadi bentuk-bentuk presipitasi melalui
pertumbuhan langsung kondensasi dan deposisi pada inti yang
memerlukan waktu lama atau sangat lambat.
Bentuk-bentuk presipitasi adalah : Gerimis, biasanya berasal dari
awan stratus yang terdiri dari tetes-tetes air kecil dengan diameter
0,2 sampai 0,5 mm dan intensitas hujannya kurang dari 1mm/jam.
Hujan, biasanya jatuh dari awan nimbostratus dan cumulonimbus,
diameter tetesnya lebih dari 0,5 mm dan intesitas hujannya lebih dari
1,25 mm/jam.
Presipitasi (Lanjt.)

Salju, gumpalan kristal-kristal es dalam bentuk serpih-serpih. Ukuran


serpihan bergantung pada kadar air dan kelembapan disekitar kristal.
Pelet es (ice pellet), biasanya disebut sleet yaitu tetes hujan yang
membeku dengan diameter 5 mm atau kurang. Batu es (hail) terdiri
dari bongkahan es bulat atau bergerigi, sering ditandai oleh lapisan
konsentris menyerupai struktur bawang, dan mempunyai diameter
lebih dari 5 mm.
Proses Kristal Es Lawan Koalisensi

Proses Kristal Es Lawan Koalisensi Agar tetes hujan atau keping salju
(partikel presipitasi) mencapai ukuran yang cukup besar, maka
diperlukan agregasi (penggabungan) dan akresi (pertambahan)
dalam kasus pertumbuhan fasa es atau koalisensi dalam proses fasa
air.
Banyak awan cumulus yang awalnya tumbuh pada temperatur 0
lebih panas dari pada 0oC atau cukup panas sehingga butiran-butiran
tidak memungkinkan membeku, kemudian tumbuh secara vertikal
Mikrofisika Awan dan Hujan sampai paras (level) yang cukup tinggi di
atas isoterm 0oC dimana pembentukan kristal es memungkinkan
terjadi.
Proses Kristal Es Lawan Koalisensi (Lanjt.)

Dalam awan-awan demikian dapat terjadi kedua mekanisme


presipitasi, mula-mula proses koalisensi diantara butiran air,
kemudian proses kristal es. Proses mana yang dominan, bergantung
terutama pada temperatur puncak awan, kadar air cair awan, dan
tingkat konsentrasi butiran. Proses koalisensi cenderung akan
menonjol dalam awan yang relatif panas dengan kadar air cair tinggi
dan konsentrasi butiran rendah.
Distribusi Ukuran Tetes

Presipitasi dapat dimulai melalui proses koalisensi atau proses kristal


es. Koalisensi lebih didukung dalam awan-awan yang relatif panas
dengan kadar air cair tinggi. Setelah partikel-partikel presipitasi
terbentuk, kemudian partikel tumbuh terutama oleh penyapuan
butiran-butiran awan (akresi) atau oleh penggabungan satu sama
lain. Pertumbuhan lanjutan menghasilkan tetes hujan, keping salju,
atau batu es hujan.
Deskripsi hujan yang lebih lengkap diberikan dalam bentuk fungsi
distribusi ukuran tetes yang menyatakan jumlah tetes per satuan
interval ukuran (biasanya diameter) per satuan volume ruang
Distribusi Ukuran Tetes

Distribusi demikian telah diukur dengan berbagai metode


dikebanyakan daerah iklim dunia. Meskipun distribusi ini
berubah terhadap waktu dan ruang, tetapi biasanya
menunjukkan penurunan cepat konsentrasi tetes dengan
bertambahnya ukuran, sekurang-kurangnya untuk
diameter melampau sekitar 1 mm. Juga distribusi tersebut
biasanya menunjukkan variasi sistematik dengan intensitas
hujan, jumlah relatif tetes besar cenderung meningkat
dengan intensitas hujan.
Distribusi Ukuran Keping Salju

Karena keping-keping salju adalah agregasi (penggabungan) kristal-


kristal atau keping-keping salju yang lebih kecil, maka tidak mudah
untuk mengukur dimensi liniernya. Akibatnya, data ukuran keping-
keping salju pada umumnya dinyatakan dalam suku-suku massa
partikel atau diameter tetes air yang terbentuk jika keping salju
meleleh.
Distribusi ukuran keping salju, seperti halnya tetes-tetes hujan
ditentukan oleh proses pertumbuhan dan patahan, pertumbuhan
populasi keping salju adalah lebih sulit untuk menganalisa secara
teoritis. Bentuk kristal adalah signifikan dalam menentukan
kecepatan pertumbuhan difusional, dan dapat mempengaruhi
kecenderungan untuk menggumpal (clumping). Patahan keping-
keping salju (snowflakes) mungkin karena induksi kolisi yang
bergantung pada tipe dan temperatur kristal.
5
Modifikasi Cuaca
[Awan dan Hujan]
Prinsip Dasar Modifikasi Awan

Modifikasi cuaca dimaksudkan sebagai modifikasi awan dan


presipitasi secara buatan atas usaha manusia, dengan tujuan
; meningkatkan jumlah curah hujan, melenyapkan awan,
menindas batu es dan mereda siklon tropis. Salah satu tujuan
modifikasi cuaca di Indonesia adalah hujan buatan yaitu
usaha membantu proses yang ada di atmosfer sehingga
pembentukan butiran awan dan tetes hujan dipercepat.
Prinsip Dasar Modifikasi Awan

Proses curah hujan bergantung pada uap air yang masuk


kedalam sistem awan dan bergantung pada efisiensi
bagaimana uap air dapat diubah menjadi tetes hujan. Secara
fisis, setiap kondensasi dan konversi tetes kelewat dingin
menjadi partikel es akan meningkatkan gaya apung awan
akibat pelepasan panas laten ketika uap berubah fasa
menjadi tetes atau air menjadi partikel es awan. Teknologi
modifikasi cuaca (TMC) sangat diperlukan di Indonesia
mengingat variasi curah hujan secara temporal dan spasial
sangat besar.
Manfaat Teknologi Modifikasi Cuaca

Manfaat teknologi modifikasi cuaca di Indonesia adalah


memperpanjang musim hujan atau memperpendek musim
kemarau, meningkatkan pembangkit listrik tenaga air untuk
kelangsungan produksi listrik yang disalurkan ke masyarakat
luas dan meningkatkan suplai irigasi untuk persawahan.
Dalam pertanian, teknologi modifikasi cuaca diperlukan
untuk memperpanjang periode jumlah curah hujan sehinga
jmlah panenan meningkat. Dalam irigasi, teknologi
modifikasi cuaca diperlukan untuk mengisi waduk ketika
menjelang atau akhir musim hujan sehingga periode
pengairan untuk persawahan menjadi lama, dengan
demikian hasil panenan meningkat.
Sejarah Singkat Modifikasi Cuaca

Modifikasi cuaca dimulai pada tahun 1946 oleh Vincent


Schaefer dan Irving Langmuir dengan pembenihan es kering.
Kemudian Vonnegut pada tahun 1947 menemukan perak
iodida AgI sebagai inti es (IES) buatan. Modifikasi cuaca di
Indonesia baru dimulai pada tahun 1977 dengan status uji
coba hujan buatan di wilayah Bogor, Jawa Barat. Operasi
percobaan hujan buatan dilakukan pada tahun 1979 oleh
instansi BPPT. Modifikasi awan buatan dilaksanakan dengan
penyemaian partikel aerosol higroskopis yang bertindak
sebagai inti kondensasi awan (IKA).
Teknologi Modifikasi Cuaca

Dari jumlah curah hujan tahunan yang secara rata-rata


sekitar 2000 mm atau lebih, terutama dikawasan Indonesia
bagian barat, maka kesediaan sumber daya air berlimpah.
Tetapi mengingat variasi curah hujan secara temporal dan
spasial sangat besar, maka teknologi modifikasi cuaca di
Indonesia sangat dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah
curah hujan sehingga sumber daya air yang dipakai pertanian
mencukupi. Dalam pembangkit listrik tenaga air dan irigasi
teknologi modifikasi cuaca diperlukan untuk mengisi waduk.
Kecepatan Terminal Partikel Awan dan
Presipitasi

Awan konvektif jenis cumulus (Cu) dan cumulonimbus (Cb)


banyak dijumpai di Indonesia. Awan jenis ini mempunyai
pertumbuhan vertikal mencapai paras yang tinggi. Di bagian
atas awan Cb yang temperaturnya sangat rendah terdiri dari
kristal-kristal es, didekat dasar awan terdiri dari butiran-
butiran air, sedangkan dibagian diantaranya terdiri dari
campuran butiran-butiran air kelewat dingin dengan
kristalkristal es. Akibat tekanan uap jenuh di atas air lebih
besar dari pada di atas es, maka kristal-kristal es akan
tumbuh dengan mengorbankan butiran-butiran air kelewat
dingin.
Kecepatan Terminal Partikel Awan dan
Presipitasi

Jika kristal es tumbuh lebih besar, kecepatan terminalnya


meningkat, kemudian menumbuk butiran air kelewat dingin
dan kristal es yang lebih kecil (lebih lambat) dalam
lintasannya. Beberapa kristal es menjadi begitu besar dan
berat, sehingga jatuh keluar dari dasar awan. Jika temperaur
udara di bawah awan sampai ketanah di bawah titik beku
maka kristal es mencapai permukaan tanah sebagai serpih
salju, sebaliknya jika temperatur di bawah awan di atas titik
beku maka serpih salju meleleh dan jatuh sebagai hujan.
Kecepatan Terminal Partikel Awan dan
Presipitasi (Lanjt.)

Kecepatan jatuh terminal tetes bergantung pada ukuran tetes awan.


Untuk tetes awan dengan jejari sampai sekitar 40 \m, kecepatan
jatuh terminalnya mengikuti hukum Stokes. Untuk tetes hujan
berjejari antara 0,6 dan 2 mm, kecepatan jatuh terminalnya
mengikuti hukum akar kuadrat. Untuk tetes berukuran menengah
antara 40 \m dan 0,6 mm, kecepatan jatuh terminalnya berbanding
lurus dengan jejarinya. Gun and Kinzer (1949) telah menghitung
kecepatan jatuh terminal tetes -0,6D hujan (u) sebagai fungsi
diameter tetes (D) yaitu u = 9,65 10,3 e-0,6D .
Tujuan Pelaksanaan Modifikasi Cuaca

Modifikasi cuaca dimaksudkan sebagai modifikasi awan secara buatan


atas usaha manusia, dengan tujuan :
i. meningkatkan jumlah curah hujan. Dilakukan oleh banyak negara
untuk mengatasi masalah air hujan yang distribusinya secara
temporal dan local tidak merata, terutama dalam sistem monsun
benua maritim Indonesia
ii. melenyapkan awan. Awan rendah seperti stratus dan kabut
mengandung resiko di lingkungan bandara. Konsep
menghilangkan awan atau kabut yaitu dengan menginjeksikan inti
kondensasi atau inti es. Kabut panas lebih sulit dihilangkan
Tujuan Pelaksanaan Modifikasi Cuaca
(Lanjt.)

iii. menindas batu es hujan. Tetes kelewat dingin dalam awan


cumulonimbus (Cb) dibekukan dengan partikel AgI, sehingga
pembentukan batu es yang besar dapat dihindari. Dalam awan 0
campuran di bawah 0 C, maka tekanan uap di atas air e lebih besar s
dari pada di atas es ei .
iv. melerai siklon tropis. Projek modifikasi siklon untuk mereda banjir
dan angin belum menunjukkan hasil yang signifikan. Prinsipnya
adalah menurunkan gradien temperatur dengan demikian gradien
tekanan dan angin melemah.
Teknologi Modifikasi Awan

Mikrostruktur awan dipengaruhi oleh konsentrasi inti kondensasi dan


inti es, sedangkan pertumbuhan partikel presipitasi dipengaruhi oleh
kelabilan di dalam mikrostruktur awan. Ada dua jenis kelabilan :
i. Dalam awan panas, tetes besar tumbuh dengan menangkap tetes
kecil oleh mekanisme benturantangkapan. Kelabilan awan
disebabkan oleh heterogenitas ukuran tetes.
ii. Jika ada partikel es dalam awan campuran, maka partikel es akan
tumbuh oleh deposisi dengan mengorbankan tetes air kelewat
dingin, kemudian dengan pembekuan (riming) dan koleksi
(aggregation). Kelabilan awan disebabkan tekanan uap di atas air
kelewat dingin lebih besar ketimbang di atas es pada temperatur di
bawah 0oC yang sama
Teknologi Modifikasi Awan (Lanjt.)
Dari gagasan di atas, disarankan teknik modifikasi awan dan presipitasi
sebagai berikut :
i. Dengan menginjeksikan (membenih) partikel higroskopis besar atau
tetes air kedalam awan panas, agar dapat merangsang pertumbuhan
tetes hujan oleh mekanisme benturan tangkapan.
ii. Dengan membenih inti-inti es buatan kedalam awan dingin (yang
mungkin kekurangan inti es alam) dalam konsentrasi sekitar satu per liter,
agar dapat merangsang produksi presipitasi oleh mekanisme kristal es.
iii. Dengan menginjeksikan konsentrasi yang tinggi dari inti es buatan
kedalam awan dingin agar dapat mengurangi secara drastis konsentrasi
tetes kelewat dingin, karenanya menghalangi pertumbuhan partikel es
oleh deposisi dari embun beku (riming). Hal ini cenderung melenyapkan
awan dan menindas pertumbuhan partikel presipitasi.
Teknologi Modifikasi Cumulus

Ada dua cara untuk memodifikasi awan cumulus yaitu meningkatkan


proses koalisensi dan meningkatkan proses kristal es. Untuk
meningkatkan proses koalisensi dipakai embrio presipitasi buatan,
misalnya dengan menyemprotkan air dan tepung atau larutan bahan
higroskopis. Salah satu bahan utama yang dipakai dalam awan cumulus
adalah tepung garam NaCl. Untuk awan cumulus yang tumbuh jauh di
atas paras beku dipakai cara meningkatkan proses kristal es. Es kering
atau CO padat diinjeksikan dari puncak awan. Cara lain untuk
meningkatkan proses kristal es pada cumulus dingin adalah dengan
menginjeksikan inti es buatan, biasanya perak iodida.
Aplikasi Modifikasi Cuaca

Kabut dapat mengurangi visibilitas sehingga mengganggu lalu lintas


darat, laut dan udara bahkan dapat menyebabkan kecelakaan akibat
tabrakan antar kendaraan. Pesawat terbang tertunda mendarat atau
tinggal landas jika di atas bandara terjadi kabut.
Batu es besar dapat menimbulkan kerusakan dalam pertanian
maupun dalam komunikasi Mikrofisika Awan Dan Hujan 230 dan
pemadaman listrik akibat putusnya saluran (kawat) telekomunikasi
dan listrik.
Siklon tropis menyebabkan kerusakan terutama yang disebabkan
oleh angin kencang, hujan lebat dan gelombang badai.
Gelombang badai adalah meningkatnya permukaan laut sepanjang
pantai secara cepat karena angin siklon menggerakannya kepantai.
Pembuyaran Kabut Panas

Ada 3 teknik untuk membuyarkan kabut panas yaitu:


(i) percampuran mekanis antara kabut dengan udara kering dan panas
dari atas kabut,
(ii) pengeringan udara dengan bahan kimia higroskopis, dan
(iii) pemanasan udara. Cara tertua untuk membuyarkan kabut panas
adalah melalui pembakaran bahan bakar dari permukaan tanah.
Modifikasi cuaca yang paling mudah adalah membuyarkan kabut
kelewat dingin. Perak iodida dan es kering telah banyak dipakai
dengan berhasil untuk mencerahkan mendung dan membuyarkan
kabut kelewat dingin.
Kabut kelewat Dingin
Dua teknik dapat dipakai agar terbentuk kristal-kristal es yang diperlukan untuk mengawali
proses pembuyaran kabut buatan :
(i) didasarkan pada penyemaian partikel sangat kecil berdiameter sekitar 1 mikrometer yang
mempunyai struktur kristal sangat mirip dengan kristal es. Partikel-partikel ini bertindak
sebagai embrio pada mana es dapat tumbuh, disebut inti pembeku atau inti es (IES) dan
inisiasi proses pertumbuhan es disebut pengintian heterogen. Perak iodida (AgI) sangat
sering dipakai sebagai IES buatan. Timah iodida dan beberapa bahan organik juga agen
pengintian efektif, partikel ini aktif pada temperatur lebih dingin 5oC
(ii) dengan memasukkan kristal-kristal es kedalam kabut kelewat dingin yang melibatkan
pengintian homogen. Kristal es dibentuk oleh pendinginan udara lokal 0 sampai di bawah
40oC, temperatur kritis dimana terjadi pengintian es secara spontan tanpa bantuan IES.
Pendinginan yang diperlukan untuk mengawali pengintian homogen dihasilkan oleh
penyemaian dengan es kering yaitu karbon dioksida padat yang berada pada temperatur
serendah 78oC atau oleh penguapan dan ekspansi pendinginan (refrigerant) seketika,
seperti propane (semacam methane) cair yang disemprotkan kedalam kabut. Teknik ini
efektif dalam pembentukan kristal-kristal es pada temperatur sepanas 1oC.
Aplikasi Modifikasi Cuaca
Aplikasi modifikasi cuaca yang lain, yaitu :
i. Menindas batu es, prinsipnya adalah mencegah pembentukan batu
es agar tidak tumbuh menjadi besar melalui pembekuan semua
tetes awan kelewat dingin, sehingga batu es tidak mempunyai
kesempatan tumbuh membesar.
ii. Mereda siklon tropis, prinsipnya melemahkan gaya gradien
tekanan melalui pembenihan perak iodida sehingga terjadi
pelepasan panas laten perubahan fasa air yang akan menaikan
temperatur dengan demikian menurunkan gradien temperatur
dalam radius pembenihan. Projek modifikasi siklon untuk mereda
banjir dan angin belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Prinsipnya adalah menurunkan gradien temperatur dengan
demikian gradien tekanan dan angin melemah.
Thank you for Your attention!!
Study of atmospheric conditions during the heavy rain event in
Bintaro using Weather Research and Forecasting (WRF) model and
Himawari-8 satellite imagery (case study: 12 November 2017)

Building Mindset as A Meteorologist

immanuel.saragih@bmkg.go.id
Authors Profile

Study of atmospheric conditions during the heavy rain event in


Bintaro using Weather Research and Forecasting (WRF) model and
Himawari-8 satellite imagery (case study: 12 November 2017)

IJA Saragih1*) and PA Abner2

School of Meteorology Climatology and Geophysics (STMKG)


Jl. Perhubungan I No. 5, Komplek Meteo DEPHUB, Pondok Betung, Tangerang Selatan,
Indonesia 15221

*)E-mail: immanuel.saragih@bmkg.go.id

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 69


Introduction
Bintaro is an area in South Tangerang City
bordering with South Jakarta City. To support
the development of Bintaro as a supporting areas
of the capital, the accurate weather information
is required. Therefore, studies and innovations in
weather forecasts in Bintaro are highly
recommended.

Weather Research Forecasting (WRF) is a


mesoscale weather model created for the
purposes of analysis and forecasts of atmospheric
conditions. WRF can model atmospheric conditions
in a region so as to assist in better studying a
meteorological event [Hadi et al., 2011].

The purpose of this research is to simulate the


atmospheric dynamic conditions using the WRF-
Floods that inundated Bintaro area on 12 November 2017 Advanced Reseach WRF (WRF-ARW) model
(Source:http://bintaronline.id/2017/11/12/diguyur-hujan-angin-bintaro-sektor-1-dan-2- during the heavy rain event as a reference to
banjir/ and https://www.youtube.com/watch?v=A71zF4eehUU ) support the extreme weather early warning system
and flood mitigation in Bintaro.

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 70


Data and Methods

Map of South Tangerang City TIME AND LOCATION


(Source: https://www.petajakarta.com ) The Bintaro and its surrounding areas which the
center point located in 106.751150oE -6.261173oN.
And the heavy rain event selected to simulated in this
study is on 12 November 2017.

DATA
1. FNL (Final Analysis) data accesed from
https://rda.ucar.edu.site
2. GSMaP (Global Satellite Mapping of
Precipitation) rainfall data accessed from
ftp://hokusai.eorc.jaxa.jp
3. Himawari-8 satellite imagery data from BMKG.

[time range of data: from 12:00UTC on 11 November


2017 (FNL data) to 00:00UTC on 13 November 2017]

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 71


WRF-ARW Model Configuration

WRF-ARW model configuration*


*this study use the best parameterization based on Gustari, 2012

3rd Domain
Configuration 1st Domain 2nd Domain

Start Date 2017-Nov-11_12:00:00UTC


End Date 2017-Nov-13_00:00:00UTtC
Grid-Point Distance 27km 9km 3km
Microphysics Option WSM3 scheme
Cumulus Parameterization
Kain-Fritch scheme
Option
Shortwave Radiation Option Dudhia scheme
Projection of domains area of WRF- Longwave Radiation Option RRTM scheme
ARW model used in this study [1st
Boundary-Layer Option YSU scheme
Domain (27km), 2nd Domain (9km),
and 3rd Domain (3km)]

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 72


Result and Discussion
Infrared channel of Himawari-8 satellite imagery

Cloud Animation Time series of top cloud temperature

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 73


Result and Discussion
Infrared channel of Himawari-8 satellite imagery

MATURE

DISSIPATE

GROW

Stages of Cumulonimbus cloud development

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 74


Result and Discussion
Cumulonimbus cloud grow phase viewed infrared channel of Himawari-8 satellite imagery

X X X

GROW MATURE DISSIPATE


immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 75
Result and Discussion
Cumulonimbus cloud grow phase viewed in modified infrared channel of Himawari-8 satellite imagery

X X X

GROW MATURE DISSIPATE


immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 76
Result and Discussion
Relative Humidity (RH)

In general, the air conditions that support the occurrence of heavy rain in layers of 850hPa (RH> 80%) are present at 7: 00-23: 00UTC, at layers
750hPa and 500hPa (RH> 60%) are present throughout the day. This indicates the availability of air masses in wet conditions that support for
convective activity.
immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 77
Result and Discussion
Vorticity

In general, when the Cumulonimbus cloud enters the growing phase, the vorticity values are negative. This indicates a strong rising air currents
[negative vortices in the Southern Hemisphere (BBS)].

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 78


Result and Discussion
500hPa streamline (wind)

In general, the wind velocity when Cumulonimbus cloud enters the growing period decreases to the mature phase, and the stream is convergent.
When in the mature phase, the wind flow pattern starts to be irregular in the Cumulonimbus cloud coverage area. This indicates the influence of
the downburst of the Cumulonimbus cloud, and this situation occurs to the dissipation phase.

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 79


Result and Discussion
500hPa streamline (wind)

Generally, the wind velocity when Cumulonimbus cloud enters the growing period decreases to the mature phase, and the stream is convergent.
When in the mature phase, the wind flow pattern starts to be irregular in the Cumulonimbus cloud coverage area. This indicates the influence of
the downburst of the Cumulonimbus cloud, and this situation occurs to the dissipation phase.

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 80


Result and Discussion
500hPa streamline (wind)

Generally the wind velocity when Cumulonimbus cloud enters the growing period decreases to the mature phase, and the stream is convergent.
When in the mature phase, the wind flow pattern starts to be irregular in the Cumulonimbus cloud coverage area. This indicates the influence of
the downburst of the Cumulonimbus cloud, and this situation occurs to the dissipation phase. Observed the vortex pattern formed in the
Cumulonimbus cloud concentration area.
immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 81
Result and Discussion
Divergency

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 82


Result and Discussion
Spatial Precipitation Measurement (Rainfall)

Rainfall measurement by WRF-ARW model (left) and GSMaP (right) at 15.00 LT (08.00 UTC)

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 83


Result and Discussion
Spatial Precipitation Measurement (Rainfall)

Rainfall measurement by WRF-ARW model (left) and GSMaP (right) at 16.00 LT (09.00 UTC)

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 84


Result and Discussion
Spatial Precipitation Measurement (Rainfall)

Rainfall measurement by WRF-ARW model (left) and GSMaP (right) at 17.00 LT (10.00 UTC)

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 85


Result and Discussion
Spatial Precipitation Measurement (Rainfall)

Rainfall measurement by WRF-ARW model (left) and GSMaP (right) at 18.00 LT (11.00 UTC)

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 86


Result and Discussion
Spatial Precipitation Measurement (Rainfall)

Rainfall measurement by WRF-ARW model (left) and GSMaP (right) at 19.00 LT (12.00 UTC)

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 87


Conclusions

Based on the results of this study concluded several things are as follows.
The WRF-ARW model (according to the parameterization scheme used in this study) is
considered less able to simulate the incidence of heavy rains on the island of Bali in
detail.
The WRF-ARW model has been able to simulate atmospheric conditions before, during,
and after heavy rainfall, especially after being assimilated using the assimilation of
AMSU-A satellites (The Advanced Microwave Sounding Unit-A). This is important and
useful as a consideration for weather forecasting. However, it should be anticipated that
the over-forecast generated by the WRF-ARW model of the acylmylation of these
AMSU-A satellites.
New complete parameterization scheme testing is needed to determine the scheme that
should be used in the WRF-ARW model on the Island of Bali to improve the accuracy of
the WRF-ARW output.

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 88


Selected References
Endarwin. (2012)..Prosiding Cuaca Ekstrim Vol.1 No.19 Nov 2012 Analisis Objektif Terhadap Kejadian Cuaca Ekstrim Di Indonesia Memanfaatkan Data
Satelit Cuaca, Jakarta:Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Fadholi, A., Sari, F. P., Aji, P., & Dewi, R. (2014). Pemanfaatan model Weather Research and Forecasting (WRF) dalam analisis cuaca terkait hujan lebat Batam
30-31 Januari 2011. Jurnal Fisika dan Aplikasinya, 10(1), 24-30.

Fadholi, A. (2017). PERBANDINGAN PROFIL VERTIKAL DIVERGENSI DAN VORTISITAS MODEL WRF DENGAN LUARAN SATAID KEJADIAN
HUJAN LEBAT BATAM TANGGAL 3031 JANUARI 2013. Jurnal Fisika FLUX, 11(1), 1-17.

Fatkhuroyan, F. (2015). SIMULASI BANJIR JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL NUMERIK WRF v3. 5.1 (Studi Kasus: 17 Januari
2013). SEMNASTEKNOMEDIA ONLINE, 3(1), 4-2.

Pahlevi, A. R., & Zulfiani, A. ANALISIS KONDISI ATMOSFER SAAT TERJADINYA BANJIR BANDANG DI GARUT.

Puspitasari, Fitria. (2014). Skripsi Pemanfaatan Model Weather Research Forecasting (Wrf) Untuk Penentuan Nilai Ambang Batas Parameter Cuaca Dalam
Proses Pertumbuhan Awan Cumulonimbus.Tangerang Selatan: Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sari, F. P. (2015). Sensitivitas Skema Mikrofisik Awan pada Model WRF untuk Simulasi Hujan Deras di Purworejo Jawa Tengah 20 Desember 2013. Jurnal
Fisika dan Aplikasinya, 11(2), 51-59.

Tambunan, Nency Nindi. (2014) .Skripsi Verifikasi Pemanfaatan Model Wrf-Arw Untuk Prediksi Hujan Harian di Sumatera Utara.Tangerang Selatan. Sekolah
Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Tjasyono, Bayong. (2007). GM-322 Meteorologi Fisis.Bandung. ITB.

Zakir, Achmad et al. (2010). Perspektif Operasional Cuaca Tropis.Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

immanuel.saragih@bmkg.go.id Building Mindset as A Meteorologist 89


THANK YOU

IJA Saragih1*) and PA Abner2

School of Meteorology Climatology and Geophysics (STMKG)


Jl. Perhubungan I No. 5, Komplek Meteo DEPHUB, Pondok Betung, Tangerang Selatan,
Indonesia 15221

*)E-mail: immanuel.saragih@bmkg.go.id

immanuel.saragih@bmkg.go.id LKTI Dalam Rangka HMKGN Ke-70 @Balai Besar MKG Wilayah I Medan 90